7/24/2015

BIARA TRAPIS NOTRE DAME

Oleh : P. Ian Daulton, SDB
Menjelang akhir masa kanak-kanakku, aku sangat tertarik kepada pesawat terbang dan ingin terbang. Untuk itu aku masuk pendidikan pilot. Tokoh idolaku adalah Rene Foin, penerbang Perancis yang paling terkenal ketika Perang Dunia I.
Ketika perang dunia II mulai, aku bergabung dengan angkatan Udara Inggris. Kaum Nazi menganggap aku sebagai pilot yang paling berbahaya dan aku merasa bangga. Setiap orang merasa iri melihat keadaanku dan aku merasa sombong juga, sampai pada suatu pagi bulan November-1944, ketika sedang memimpin skwadronku pulang dari misi pemboman. Kami sedang menuju pangkalan kami di luar kota Paris, melewati Belgia, ketika tiba-tiba bertemu dengan pesawat tempur Nazi. Kapalku tertembak dan jatuh berputar-putar menuju bangunan di desa kecil Chimay.
Yang pertama-tama kulihat ketika aku membuka mataku adalah kamar bercat putih dan aku terbaring di tempat tidur. Kupikir, pasti aku berada di kamp Jerman. Dua orang berpakaian putih sedang berdiri di samping tempat tidurku. Dalam bahasa Inggris dengan logat Perancis yang kuat, salah seorang dari mereka berkata kepadaku, “Jangan bergerak kapten, jangan bergerak”, kemudian ia bertanya kepada temannya, “ bagaimana dengan luka-lukanya ?”Dia diberitahu bahwa aku mengalami dua keretakan pada tulang lenganku dan empat tulang iga di sebelah kiri. Mereka memasang penahan pada lenganku dan dadaku dibalut. “Tapi, ia harus segera dirawat oleh dokter”, kata bruder Joaquim yang semula kukira seorang perawat. Jadi, aku tidak berada di penjara, aku berada di Biara Trapis Notre Dame de Forge, di Chimay Belgia. Pesawatku jatuh dan menerobos atap mereka.
Aku memaksa supaya ditolong bangkit untuk pulang kembali ke pangkalanku. Tapi tepat saat itu Bruder Jean masuk dengan membawa berita bahwa orang Jerman sudah menemukan pesawatku dan mulai memeriksanya. Dengan demikian, aku memang harus keluar sebelum mereka menemukan aku atau para rahib akan dihukum, mungkin ditembak karena menyembunyikan pilot musuh. Bruder Joaquim datang dengan idenya yang bukan-bukan yakni untuk tidak menyembunyikan aku, melainkan merawat aku sebagaimana wajarnya.
Setelah mereka menggedor-gedor pintu dengan keras, para tentara dipersilahkan masuk. Letnan orang Jerman mengatakan bahwa mereka harus memeriksa biara, mencari seorang pilot yang tidak diketemukan dalam pesawat.
Mereka berpencar dan si Letnan pergi ke bagian rumah sakit, lalu ke perpustakaan, di mana para rahib sedang berkumpul. Pemimpin biara mengatakan bahwa hanya dialah yang boleh bercakap-cakap atas nama mereka semua, karena peraturan mereka. Yang lain diharuskan berdiri di tembok dan Letnan memeriksa satu persatu. Akupun berada di sana juga, di sebelah Bruder Joaquim, dalam pakaian biara dan tudung kepala. Perwira itu lewat sambil menggerutu, ia ingin tahu di mana pilot itu berada.
Pada saat itu, yang lain sudah kembali dari tempat pencarian dengan sia-sia, seseorang mengusulkan untuk mencari di hutan dan merekapun berpencaran lagi.
Saat untuk membuat keputusan tiba, tak dapat ditunda lagi, Sang Abas kuatir akan apa yang mungkin terjadi kalau tentara-tentara itu tak dapat menemukan pilot di hutan. Kehadiranku di sana apabila ketahuan akan membahayakan kehidupan para rahib yang baik hati itu.
Bruder Joaquim mendapat akal lagi, ia akan mengantar aku ke pangkalan. Kalau ia tertangkap, ya masih ada 80 rahib lainnya di biara. Harus ada seorang yang mengambil resiko untuk menyelamatkan hidupku. Abas memberi izin dan Bruder Joaquim segera menjalankan tugasnya, aku tetap harus mengenakan jubah biara dan ia akan mengantar aku ke pangkalan, di atas motornya yang kekar. Karena aku terlalu lemah untuk menjaga diriku sendiri, Bruder menyuruh temannya mengikat aku ke punggungnya.
Dalam waktu 1 jam kami telah mencapai jarak 70 mil, ketika tiba-tiba mesin motor mulai gemuruh keras dan akhirnya berhenti, ada yang salah pada karburatornya dan bruder tidak mempunyai peralatan.
“Kamu berdoa”, ia memaksaku, “ dan sesuatu pasti akan terjadi”. Ketika aku berkata kepadanya bahwa sudah lama sekali aku melupakan doaku, iapun tersenyum, dan berkata : “ teruslah berkata-kata, Tuhan, tolonglah aku !”Kami melihat ke sekeliling dan menemukan sebuah rumah pertanian di atas bukit, tidak terlampau jauh. Aku mau tinggal, sementara ia mencari bantuan, tapi ia memaksa untuk menggendongku sepanjang jalan. Ketika kami mengetuk pintu, betapa terkejutnya kami, sekelompok serdadu Jerman sedang tertawa-tawa dan bercanda dengan sangat gembira setelah minum beberapa galon bir. Bruder Joaquim yang berbicara, memaksa mereka supaya menolong kami dan motor kami serta menjelaskan bagaimana aku terjatuh dari atap dan membutuhkan pertolongan segera. Karenanya, ia segera membawa aku ke dokter yang ia kenal. Kolonel menyuruh memeriksa dan memperbaiki motor itu dan membantu melepaskan aku, kemudian membawa aku sampai aku dapat berbaring dengan nyaman di tempat tidur.
Mengenali jubah rahib, ia terbawa suasana saleh dan menceriterakan bahwa ia pun kira-kira 20 tahun sebelumnya pernah menjalani retret di biara dan bagaimana ia masih terkenang pengalamannya itu “damai, damai…” katanya berulang-ulang.
Ia menawari kami roti dengan isi keju dan memaksa supaya kami menerima sebuah termos berisi susu coklat panas untuk perjalanan. “Tapi, apapun katamu, pemandangan seorang rahib menggendong rahib lainnya, benar-benar menyenangkan” katanya. Bruder Joaquim menyimpan lelocon ini bagi dirinya sendiri dan menjamin kepada sang kolonel bahwa semua ini memang menyenangkannya juga.
Demikianlah kami berangkat dan akhirnya tiba di pangkalan tanpa mengalami kesulitan. Ketika kami tiba di gerbang, yang pertama menemui kami adalah Bill Conover, teman karibku, ia tidak mengenali aku dalam jubah tapi ketika kupanggil, di terkejut. “Bill, ini aku George Cole!” Bill membantu melepaskan aku dan bersama-sama tertawa melihat dua rahib mengendarai motor seperti itu.
Bruder Joaquim memaksa untuk segera kembali, sepertinya ia baru saja melakukan suatu hal yang biasa saja, ia masih mengingatkan aku akan doa itu, kemudian ia berangkat dengan lambaian tangan yang hangat. Alangkah beraninya ! ia telah mengambil resiko kematian untuk menyelamatkan aku ! Rasanya jelas ia adalah orang paling hebat yang pernah kutemui.
Aku dirawat beberapa lama di rumah sakit, lalu kembali ke pangkalan di Inggris. Segera aku merasa putus asa untuk menceritakan pengalamanku ini, karena terlalu fantastis, sulit untuk dipercaya !
Pada suatu pagi ketika aku sedang bekerja di kantorku di pangkalan, Bill teman saya itu, datang membawa surat kabar. Ia bertanya apakah aku masih ingat akan penerbang Perancis Rene Foin, yang dulu selalu kusebut-sebut itu ? Ini adalah ceritanya di koran, tentang dia ! Dengarkan saja ! Letnan Kolonel Rene Foin, Pahlawan Penerbang yang terkenal dari Perang Dunia I, yang secara misterius telah menghilang beberapa tahun yang lalu, telah diketemukan minggu lalu, sebagai seorang rahib di Biara Trapis Notre Dame de Forge, di Chimay Belgia !Aku ingat tempat itu, di situlah pesawatku jatuh, lalu Bill datang dan menunjukkan gambarnya rahib tersebut. Aku terkejut : “Orang inilah yang menyelamatkan aku !” dialah Bruder Joaquim !”Rene Foin belum berlalu dari hidupku…. Dua tahun kemudian, ia berbuat sesuatu bagiku lagi, bahkan lebih hebat dari pada menyelamatkan jiwaku.Ketika perang berakhir, aku kembali ke Biara di Chimay, aku tinggal selama seminggu di situ. Di sana aku menemukan sesuatu yang belum pernah ku temui sebelumnya, yaitu : damai dalam pikiran dan hati. Aku menemukan apa yang menjadikan Rene Foin demikian berani dan kuat. Aku belajar percaya dan berdoa. Dua tahun kemudian, aku dibaptis dan Bapa Baptisku adalah Bruder Joaquim – Rene Foin – Pahlawan masa kanak-kanakku yang telah memberiku dua hadiah yang tak ternilai, yakni hidup dan Iman …….

Read more .....

PERUMPAMAAN TENTANG PERJAMUAN KAWIN


Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang – Mat 22:2-3).

Sama seperti perumpamaan tentang orang-orang yang berdalih yang ada di dalam Injil Lukas, perumpamaan tentang perjamuan kawin ini hanya ada di dalam Injil Matius.

Yesus menceritakan kisah seorang raja yang menyiapkan pesta pernikahan bagi anaknya, raja merencanakan sebuah pesta yang besar. Dia mengharapkan semua orang yang mempunyai kedudukan tinggi dan penting di istananya menghadiri pesta pernikahan tersebut. Sebagaimana kebiasaan pada waktu itu, undangan diberikan langsung kepada tamu dan tamu-tamu itu adalah para bangsawan, mereka diingatkan akan hari pernikahan tersebut. Namun mereka menolak menghadiri pesta pernikahan itu dengan berbagai alasan. Meskipun demikian, raja tersebut tetap membuat persiapan untuk pesta pernikahan. Ketika hari pernikahan anaknya tiba, dia mengutus hamba-hambanya untuk mengingatkan orang-orang penting itu, bahwa mereka diundang ke pesta

Hamba-hamba tersebut pergi dengan membawa pesan raja: " Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya hidangan, telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini (Mat 22:4). Tetapi tamu-tamu yang diundang tidak menanggapi, malahan bersikap menantang : ada yang pergi ke ladang, yang lain pergi mengurus usahanya, malahan hamba-hamba itu dianiaya, bahkan beberapa dari mereka dibunuh (Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya – Mat 22:5-6).

Di dunia Timur sebagaimana sudah menjadi kebiasaan, menerima undangan kerajaan merupakan sebagai suatu kewajiban. Menolak undangan untuk menghadiri pesta pernikahan tentu mempunyai implikasi yang bisa menimbulkan kesulitan dan permusuhan. Dengan murka Raja mengirim pasukannya untuk menghukum pembunuh-pembunuh tersebut dan membakar kota mereka. Dia melepaskan kemarahannya dengan mengambil tindakan menghukum; tetapi pada saat yang sama dia juga ingin ada orang datang dan merayakan pesta pernikahan anaknya bersama-sama dengan dia. Jadi dia menyuruh hamba-hambanya ke persimpangan-persimpangan jalan untuk mengundang mereka yang mau datang ke pesta tersebut. Tidak peduli apakah itu orang baik ataupun jahat, supaya mereka datang dalam jumlah yang besar, sehingga ruangan perjamuan pesta itu dipenuhi oleh tamu-tamu  (Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu  – Mat 22:10).
Raja merupakan gambaran kebajikan Allah, dan dengan demikian menggambarkan belas kasihan dan kasih Allah yang meluas sampai kepada orang-orang berdosa sekalipun. Orang dari semua lapisan bisa menerima undangan itu dan memberi tanggapan atas panggilan Allah.
Allah mengundang kita ke suatu pesta di mana ada tempat untuk semua orang. Sepanjang sejarah, Allah selalu mengutus nabi-nabi-Nya untuk mewartakan keadilan, belas kasihan Allah dan supaya manusia percaya kepada-Nya. Tetapi bangsa Yahudi tidak mengindahkan panggilan Allah yang mengutus para nabi (Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu – Mat 22:8). Rencana Allah tidak akan gagal, Yesus mengutus rasul-rasul-Nya untuk mewartakan Injil di negeri-negeri asing supaya orang-orang yang bukan Yahudi juga boleh masuk Gereja. (Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu. – Mat 22:9).
Bagian kedua dari perumpamaan ini menunjukkan hal lain, bahwa ketika raja itu masuk dia menemukan sesuatu yang tidak berkenan kepadanya (Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta – Mat 22:11).
Seorang tamu terkejut, ia ditemukan tidak mengenakan pakaian pesta. Kita tidak perlu berargumen, bahwa karena orang tersebut adalah seorang yang miskin, maka tidak mungkin orang tersebut memiliki pakaian pesta dan mengenakannya pada pesta itu. Tidak sama sekali, karena sudah kebiasaan pada zaman itu, bahwa tuan pesta selalu menyiapkan  pakaian pesta bagi tamunya, yang akan dipakai oleh para tamu yang memang tidak mempunyai pakaian pesta (Kemudian berkatalah Yehu kepada orang yang mengepalai gudang pakaian: "Keluarkanlah pakaian untuk setiap orang yang beribadah kepada Baal!" Maka dikeluarkannyalah pakaian bagi mereka. 2 Raj 10:22).
Jadi sebetulnya orang tersebut bisa mengenakan pakaian pesta yang sudah disediakan, tetapi ia tidak melakukannya dengan kata lain ia menolaknya, maka ia tidak bisa menjawab apapun. (Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. – Mat 22:12). Karena tamu tersebut diam saja, maka raja memerintahkan hambanya untuk mengambil tamu yang keras kepala ini, mengikatnya, dan melemparkannya ke dalam kegelapan (Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi. – Mat 22:13).
Kita semua, orang-orang Kristen, yang sudah diundang dan sudah berada di dalam Gereja, apakah kita semua sudah memakai pakaian pesta ? yaitu pertobatan, menghayati hidup dengan keadilan, kejujuran dan kepercayaan ? Raja ingin tamunya menerima apa yang dia berikan, siapa yang menolak akan menanggung akibatnya.
Allah menyediakan dan memberikan pakaian kepada umat-Nya melambangkan kebenaran-Nya. Allah memberi kita pakaian kebenaran yang melambangkan, bahwa si pemakai telah diampuni, dosa-dosanya telah ditutupi, dan dia menjadi anggota rumah Allah melalui Kristus, mengenakan pakaian pesta melambangkan pertobatan, pengampunan, dan kebenaran. Ketika Bapa menyambut pulang anaknya yang telah hilang, dia mengenakan jubah yang terbaik bagi anaknya, dengan berbuat demikian ia menyatakan bahwa anaknya telah diampuni dan diterima kembali sebagai anak dalam keluarga Bapa (Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. - Luk 15:22). Tamu yang tidak mau memakai pakaian pesta melambangkan orang berdosa yang menolak kebenaran Allah dan yang membenarkan diri sendiri.
Perikop ini diakhiri dengan kalimat "Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih." (Mat 22:14). Orang yang menolak datang, dan yang tidak mau mengenakan pakaian pesta, tidak termasuk ke dalam orang yang dipilih. Panggilan Allah terutama kepada orang berdosa (Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa." – Mrk 2:17), dan Allah mengundang mereka untuk menikmati sukacita keselamatan (Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu – Mat 11:28). Alkitab menunjukkan bahwa manusia juga bebas untuk memilih  dan juga bertanggung jawab atas sikapnya yang tidak peduli, berontak dan angkuh. Maka, meskipun undangan itu bersifat universal dan meliputi semua orang, hanya beberapa orang yang menerimanya dalarn iman dan pertobatan yang ditentukan untuk kehidupan kekal (Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya - Kis 13:48).

-       Kasih Yesus

Read more .....

DAUD MENGALAHKAN GOLIAT ( PERLENGKAPAN SENJATA ALLAH)


Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: "Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu. (1 Sam 17:45)

Kamu datang kepada saya dengan tombak dan pedang, tetapi saya datang untuk melawan kamu dalam nama Yahweh, bahwa peperangan Daud melawan Goliat melambangkan peperangan antara kebaikan dan kejahatan.  Goliat lambang kejahatan dan kesombongan, terlalu percaya diri, mengandalkan kekuatan sendiri, tidak percaya kepada Tuhan. Daud lambang kebaikan dan kerendahan hati, yang selalu mengandalkan Tuhan dalam setiap tindakannya.

Di dunia ini kemenangan tidak akan berpihak pada mereka yang lebih kuat dan lebih baik persenjataannya. Orang-orang seperti itu menghina Allah dengan kesombongan dan kepercayaan diri. Dan mereka tak akan bertahan apabila mereka menghina orang pilihan Allah, khususnya yang hina dina. Kemenangan akan berpihak kepada orang lemah yang percaya pada pertolongan Allah. Di sini pemenangnya seorang yang dalam hatinya selalu mempunyai suara hati yang benar.
Saul meminta Daud untuk melindungi diri dengan baju baja dan senjata miliknya (Lalu Saul mengenakan baju perangnya kepada Daud, ditaruhnya ketopong tembaga di kepalanya dan dikenakannya baju zirah kepadanya. Lalu Daud mengikatkan pedangnya di luar baju perangnya, kemudian ia berikhtiar berjalan, sebab belum pernah dicobanya. Maka berkatalah Daud kepada Saul: "Aku tidak dapat berjalan dengan memakai ini, sebab belum pernah aku mencobanya." Kemudian ia menanggalkannya. – 1 Sam 17:38-39). Akan tetapi Daud sadar, bahwa kalau ia memakai senjata tersebut, ia tak akan dapat menggunakannya dan orang Filistin akan mengalahkannya. Maka Daud menanggalkan semua senjata pengaman tersebut, lalu ia membuat dirinya menjadi lebih bebas. Daud, pergi ke medan perang dengan penuh kepercayaan “dalam nama Yahweh, Allah semesta alam.”
Lalu Daud mengambil tongkatnya di tangannya, dipilihnya dari dasar sungai lima batu yang licin dan ditaruhnya dalam kantung gembala yang dibawanya, yakni tempat batu-batu, sedang umbannya dipegangnya di tangannya. Demikianlah ia mendekati orang Filistin itu. (1 Sam 17:40). Daud mengambil 5 buah batu sebagai senjata melawan Goliat, dari ke lima batu tersebut, Daud hanya menggunakan satu batu saja, dan Daud mengalahkan Goliat.
Ke lima batu itu adalah lambang perlengkapan senjata Allah, seperti yang diuraikan Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, ke lima perlengkapan senjata Allah adalah :
-       Kebenaran
-       Keadilan
-       Kerelaan
-       Iman
-       Firman Allah
(Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah – Ef 6:13-17).
Dalam kitab Efesus 6 dijelaskan, bahwa konflik dengan Iblis adalah bersifat rohani, dan karena itu tidak ada senjata yang nyata yang dapat digunakan secara efektif untuk melawan iblis dan antek-anteknya. (karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. – Ef 6:12). Bahwa ketika kita mengikuti semua petunjuk dengan menggunakan perlengkapan senjata Allah, kita akan dapat bertahan, dan dapat memperoleh kemenangan tanpa memperdulikan strategi apapun dari Iblis.
Sebagaimana peperangan Daud melawan Goliat, peperangan kita sekarang ini adalah peperangan rohani dalam diri kita sendiri, yaitu melawan godaan-godaan, keinginan-keinginan kita yang jahat di mata Tuhan, dan kita sering jatuh dalam kelemahan-kelemahan maupun keinginan daging kita. Segala keinginan jahat yang bercokol dalam diri kita, yaitu kesombongan,  keserakahan, keinginan-keinginan yang tidak terkontrol, kemarahan, egoisme, kebencian, dusta, iri hati, pikiran kotor, gosip, dsb yang menyebabkan kita jatuh dalam dosa. Tidak hanya itu, kekuatan dari luar diri kita juga sering mengancam dengan segala pengaruh-pengaruh yang kelihatannya baik namun bisa membinasakan jiwa kita. Kita tidak berdaya, seperti Daud dibandingkan dengan Goliat, tetapi Daud maju dalam medan perang dalam Nama Yahweh, dan Daud mengalahkan Goliat hanya dengan satu buah batu. Kita juga dapat menang dalam peperangan rohani ini, sama seperti Daud, dengan mengikuti anjuran rasul Paulus mengenakan kelima perlengkapan senjata Allah, hanya satu yang kita pakai untuk memenangkan peperangan rohani, yaitu Firman Allah, keempat perlengkapan senjata Allah lainnya adalah  benteng yang kokoh dalam menahan serangan iblis.
Kita mengenakan kebenaran untuk melawan dusta, karena Iblis dikatakan sebagai “bapa dari segala dusta” (Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta - Yoh 8:44). Mengenakan baju zirah keadilan untuk melindungi hati kita dari segala tuduhan dan dakwaan Iblis. Berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera, sama seperti Daud rela untuk maju ke medan perang melawan Goliat. Untuk memberitakan Injil perlu kerelaan, namun musuh kita iblis selalu menebarkan ranjau yang berbahaya di jalan kita dalam mewartakan Injil untuk menghentikan pewartaan Injil. Iman adalah perisai yang kokoh dan penting untuk menghentikan panah api dari si jahat.
Firman Allah, adalah pedang Roh yang dapat dipakai bukan hanya untuk mempertahankan diri, tetapi juga untuk menyerang (Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita. Dan tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab – Ibr 4:12-13). Sementara senjata-senjata rohani lainnya bersifat mempertahankan diri, pedang roh adalah senjata penyerang dalam senjata Allah. Yesus, ketika dalam pencobaan di padang gurun, Firman Allah menjadi acuan-Nya dalam menangkal setiap godaan dan serangan Iblis, Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." – Mat 4:4, (bdk Mat 4:1-11 dan Luk 4:1-13). Sungguh suatu berkat bahwa Firman Allah yang sama tersedia untuk kita semua.

Read more .....

ORANG GALATIA YANG BODOH

Hai orang-orang Galatia yang bodoh, siapakah yang telah mempesona kamu? Bukankah Yesus Kristus yang disalibkan itu telah dilukiskan dengan terang di depanmu? Hanya ini yang hendak kuketahui dari pada kamu: Adakah kamu telah menerima Roh karena melakukan hukum Taurat atau karena percaya kepada pemberitaan Injil? (Gal 3:1-2).

Paulus tidak tahu argumen yang lebih kuat untuk mempertobatkan orang-orang kafir dari pada mewartakan Yesus yang disalibkan.
Adakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging? (Gal 3:3) Ayat ini memiliki makna ganda :
Pertama, umat di Galatia telah mengalami bagaimana Roh Kudus bekerja dan juga mukjizat-mukjizat-Nya, tetapi sekarang mereka mau menerima sunat dalam daging.
Kedua, mereka telah mulai dengan kebenaran Tuhan yang ada dalam Kristus, yaitu “Roh”. Sekarang mereka kembali pada adat istiadat Yahudi yang sekalipun dari Tuhan juga, tetapi disesuaikan dengan umat yang masih hidup menurut daging, yaitu mereka yang tidak terpelajar dalam iman dan mereka yang berdosa.
Mereka yang mengganggu umat Galatia mengatakan : “Kalian adalah milik Kristus, tetapi ia adalah keturunan Abraham dan buatlah seperti seorang Yahudi, dengan demikian bersama Kristus kalian akan menjadi putra-putra Abraham.”
Paulus menyatakan, bahwa seseorang adalah anak Abraham atau anak Allah bukan karena dari ras atau keturunan, tetapi bahwa mereka yang hidup dari iman, mereka itulah anak-anak Abraham. (Jadi kamu lihat, bahwa mereka yang hidup dari iman, mereka itulah anak-anak Abraham - Gal 3:7), dan mereka yang hidup dari iman, merekalah yang diberkati bersama-sama dengan Abraham yang beriman itu (Gal 3:9).
Hal ini juga yang ia kembangkan dalam surat kepada jemaat di Roma, Karena itulah kebenaran berdasarkan iman supaya merupakan kasih karunia, sehingga janji itu berlaku bagi semua keturunan Abraham, bukan hanya bagi mereka yang hidup dari hukum Taurat, tetapi juga bagi mereka yang hidup dari iman Abraham (Rm 4:16)
Kekudusan atau perdamaian dengan Tuhan,  inilah arti kata kebenaran sebagaimana yang sering digunakan oleh Paulus. (Bahwa Allah membenarkan orang-orang bukan Yahudi oleh karena iman, telah terlebih dahulu memberitakan Injil kepada Abraham: "Olehmu segala bangsa akan diberkati."  - Gal 3:8)
Janganlah berpikir bahwa hal seperti itu sudah hilang, masih ada banyak orang yang berpikir bahwa mereka adalah orang-orang Katolik, karena mereka merasa telah dilahirkan kembali setelah dibaptis, tetapi mereka lupa bahwa tanpa iman, pembaptisan itu tidak berarti sama sekali.
(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pastoral Katolik)
-       Transfigurasi Paulus
-       Kasih Yesus

Read more .....

PERTOBATAN ST AUGUSTINUS DI MILANO (1)


Marilah kita mengikuti Augustinus menuju puncak batinnya yang bermuara pada pertobatannya. Kita akan melihat dia, seperti para sahabatnya melihat dia berjuang dan meronta-ronta. Kita mengikuti dia dalam perjalanannya yang sangat jauh, yaitu perjalanan batin yang harus ditempuhnya, dari pengertian intelek sampai kebenaran yang diterima oleh hati yang serasi, berikutnya sampai kebenaran itu dilaksanakan dengan kemauan yang keras.

Kita akan menyaksikan penderitaan jiwanya yang memuncak hampir sampai pada titik patah hatinya, tetapi justru pada saat dramatis itu jalan buntu menjadi jalan ke luar bagi Augustinus.

Lebih dahulu harus kita melihat pentas tempat berlangsungnya drama itu. Walaupun para pemeran di atas panggung itu hanya memainkan peranan yang sekunder, namun mereka juga amat penting. Makin tampaklah pada diri Augustinus ciri khas pembawaannya. Bagi dia, hidup hanya mungkin bersama dengan sahabat-sahabatnya. Dalam suka dan duka, dia tidak tahan sendirian. Bila kelak ia menjadi Uskup Hippo, di luar waktu studi, menulis atau membaca, ia senantiasa berada bersama kawan-kawan beserta keluarganya. Benih hidup berkomunitas sebagaimana dihanyatinya kemudian sudah ada sejak dari masa mudanya dan menjadi amat kentara setibanya di Milano.
Tidak lama kemudian, ibunya, Monica kembali dekat dengan Augustinus. Sebenarnya ia datang ke Milano untuk mengurus tanah warisan milik almarhum suaminya, Patrisius. Betapa amat tepat kedatangannya, akan tetapi ia tidak datang seorang diri. Dibawanya serta rombongan yang bakal masuk dalam keluarga guru besar Augustinus, yaitu anak Monica yang pertama, Navigius, dan dua kemenakan, Rustikus dan Lastidianus. Augustinus menghibur ibunya dengan kabar yang menyenangkan, bahwa ia memang belum seorang Kristen, tetapi sekurang-kurangnya tidak lagi seorang penganut Manikheisme (suatu agama gnostik Persia kuno yang pernah berkembang luas namun sekarang telah punah). Waktu itu umurnya 30 tahun. “Aku telah dibebaskan dari kebohongan, sekalipun belum memeluk kebenaran.” Walaupun demikian, Monica makin yakin, bahwa sebelum meninggal ia akan melihat anaknya, Augustinus, sebagai seorang Kristen yang setia. Semuanya itu menjadi perangsang kerinduan dan doanya, sehingga dengan lebih tabah lagi ia berkunjung ke Katedral dan tempat ziarah orang suci. Dalam rumah tangga Augustinus, ada gundiknya bersama anaknya, Adeodatus, yang usianya saat itu sudah dua belas tahun. Akan tetapi, keadaan itu tidak dapat dipertahankannya labih lama lagi. Ada kalanya Augustinus diundang ke istana kaisar untuk membawa pidato kenegaraan. Berhubung dengan itu, ia harus menempatkan diri pada tingkat masyarakat yang selaras dengan kedudukannya. Demi kariernya, ia memerlukan seorang istri yang sah. “Tak bosan-bosannya orang mendesak aku beristri, terutama ibuku, yang dengan demikian berharap supaya setalah aku beristri akan menerima pembasuhan oleh baptisan yang membawa keselamatan.” (Conf VI.XIII.23).
Ia memang sudah meminang seorang gadis, tetapi pernikahannya terpaksa harus ditunda, sebab umur calon istrinya baru 12 tahun, dua tahun di bawah umur yang sah. Namun persiapan untuk pernikahan itu berjalan terus. Syarat mutlaknya, Augustinus harus melepaskan perempuan yang telah empat belas tahun setia kepadanya, dan yang telah mengasuh anaknya. “Dia kembali ke Afrika”, diceritakan oleh Augustinus dengan nada malu “dan bersumpah tidak mau kawin kagi. Ia meninggalkan aku dan anak yang dilahirkannya bagiku.” Perpisahan itu amat menyedihkan Augustinus. Ia berkata, “Waktu teman hidupku direnggut dari sisiku, hatiku yang melekat padanya tercabik-cabik, terluka dan berdarah.” (Conf.VI.XV.25). Akan tetapi, tindakan ini jauh dari menyelesaikan masalah, malahan menambahkannya. Diakuinya agak terus terang, bahwa ia kurang sabar menantikan dua tahun. Oleh karena itu, diambilnya seorang gundik lain.
Selain mereka yang disebut di atas, terdapat juga dalam keluarga itu Alypius, seorang sahabat yang akrab, yang telah ikut Augustinus ke Roma untuk tinggal bersama dengan dia, juga dengan maksud mempraktekkan studi hukum. Juga ada Nebridius, yang telah melepaskan tanah miliknya lalu meninggalkan kota Karthago dan ibunya. Menurut Augustinus, “Ia datang ke Milano dengan satu tujuan saja, yaitu hidup bersamaku dengan hati berapi-api yang menggandrungkan kebenaran dan hikmat” (Conf.VI.X.17).
Demikianlah Milano menjadi kota pertemuan ketiga orang sahabat karib, tempat persimpangan jalan hidup mereka bertiga yang “seperti tiga mulut yang lapar” menantikan Allah memberi mereka rezeki kebenaran dan cinta kasih-Nya. Kelompok kecil orang Afrika itu hidup bersama dengan Monica selaku pemimpin rumah tangga. Sekalipun pada masa berjuang dan kurang stabil itu, secara inisiatif, Augustinus sudah mencari hidup berkomunitas. Yang pada hari-hari itu hanya merupakan impian, akan dijadikan suatu strategi pastoral di masa mendatang. Augustinus menceritakan, bahwa pada masa pergolakan di Milano, beberapa dari mereka, di antaranya Alypius dan Nebridius membenci keramaian dan kehidupan sehari-hari, sudah hampir mengambil keputusan untuk menghayati hidup bersama, penuh damai, jauh dari orang banyak.
“Kami telah membolak-balik suatu rencana dalam benak kami untuk menarik diri dari khalayak ramai dan hidup dengan kesenggangan yang tenang. Kesenggangan itu mau kami atur begini : segala sesuatu yang dapat kami miliki akan kami kumpulkan menjadi satu, melebur semua harta menjadi harta milik bersama yang satu saja. Berdasarkan persahabatan yang setia, tidak ada lagi yang ini untuk si A atau untuk si B, akan tetapi harta itu akan menjadi kesatuan yang satu, keseluruhannya akan dimiliki tiap-tiap orang dan semuanya itu dimiliki semua orang. Kami mengira dapat menjalankan hidup bersama sabagai kelompok yang terdiri kira-kira sepuluh orang. Beberapa di antara kami sangat kaya, terutama Romanianus warga kota kami. Pada waktu itu, ia datang ke istana lantaran kesusahan besar dalam urusannya. Ia merupakan salah seorang kawan yang paling akrab sejak masa kecil. Dialah yang paling banyak mendesak, supaya rencana kami dilaksanakan. Ia punya daya meyakinkan yang besar sebab harta kekayaannya besar sekali, jauh melebihi kekayaan anggota-anggota lain kelompok kami.” (Conf.VI.XIV.24).
Maka jelasnya, yang disebut di atas merupakan gagasan yang penting bagi Augustinus. Telah terbayang apa yang akan diwujudkan Augustinus dalam komunitasnya nanti sebagai imam dan Uskup selama hampir empat puluh tahun. Merupakan corak khusus dari Regula (Pedoman hidup membiara) Santo Augustinus yang termasyur itu, yang mengandung wawasan dan petunjuk praktis tentang hidup membiara.
(Sumber : Augustinus Tahanan Tuhan – Oleh Mgr.P.Van Diepen, OSA ; Editor N.Halsema, SJ - Diterbitkan dalam kerjasama Pusat Pastoral Yogyakarta & Penerbit Kanisius )

Read more .....

BUNDA RATU

Dalam kerajaan Daud, apabila seorang raja naik tahta, ibunya diberi gelar khusus sebagai “gebirah”, yang dalam bahasa Ibrani berarti “nyonya besar” atau “ratu”. Sebagai bunda ratu, ia memiliki kedudukan khusus kedua yang sangat berkuasa dalam kerajaan, yaitu kedua sesudah sang raja sendiri.

Bunda ratu adalah istri dari raja terdahulu dan sekaligus ibu dari raja yang sekarang bertahta. Maka bunda ratu menjadi simbol dari martabat rajawi sang raja, yang mengikat dia dengan darah rajawi ayahya. Dalam arti ini, bunda ratu menjamin keabsahan kedudukan sang raja dalam garis dinasti yang bersangkutan.
Sejumlah kutipan Perjanjian Lama memperlihatkan peran penting bunda ratu dalam kerajaan Daud. Misalnya, bisa kita baca Kitab Raja-raja ke 1 dan ke 2, kedua kitab ini menuturkan sejumlah raja yang memerintah atas Israel. Sangat mengesankan, hampir setiap kali cerita memperkenalkan seorang raja baru di Yehuda, ia selalu menyebut ibunda sang raja, sambil menggaris-bawahi perannya dalam suksesi dinasti kerajaan.
Dalam lingkungan Israel kuno, bunda ratu bukan hanya sosok utama, lebih tepat dikatakan bahwa ia menduduki jabatan dengan kekuasaan yang nyata dalam kerajaan. Barangkali contoh yang paling baik dari peran penting bunda ratu adalah Batsyeba, istri Daud dan ibunda Salomo.
Batsyeba masuk menghadap raja Salomo untuk membicarakan hal itu untuk Adonia, lalu bangkitlah raja mendapatkannya serta tunduk menyembah kepadanya; kemudian duduklah ia di atas takhtanya dan ia menyuruh meletakkan kursi untuk bunda raja, lalu perempuan itu duduk di sebelah kanannya. Berkatalah perempuan itu: "Suatu permintaan kecil saja yang kusampaikan kepadamu, janganlah tolak permintaanku." Jawab raja kepadanya: "Mintalah, ya ibu, sebab aku tidak akan menolak permintaanmu." (1 Raj 2 : 19-20)
Kisah ini mengungkapkan wibawa istimewa dari bunda ratu, dulu ketika ia seorang istri raja, ia harus bersujud kalau menghadap raja Daud, tetapi sekarang sebagai bunda ratu, sang rajalah yang bangkit dan bersujud ketika menyambutnya. Di sini Salomo memberikan tempat duduk kepada ibundanya, Batsyeba di sisi kanannya. Tindakan ini penuh dengan simbolisme rajawi, dalam Alkitab, sisi kanan adalah tempat yang paling terhormat, misalnya dalam Mazmur (Demikianlah firman TUHAN kepada tuanku: "Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu." - Mzm 110 : 1) melukiskan bagaimana Mesias akan duduk di sisi kanan Allah dan memerintah atas segala bangsa. Dengan cara yang sama surat Ibrani melukiskan Kristus duduk di sisi kanan Bapa, memerintah segala mahluk, ditinggikan di atas semua malaikat dan orang-orang kudus (Dan kepada siapakah di antara malaikat itu pernah Ia berkata: "Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu?" - Ibr 1 : 13)
Dalam 1 Raja-raja 2 : 17 kita jumpai seorang bernama Adonia, dimana ia dengan penuh keyakinan minta kepada Batsyeba (bunda ratu) untuk menyampaikan satu permintannya kepada raja Salomo, Adonia berkata kepada Batsyeba, Maka katanya: "Bicarakanlah kiranya dengan raja Salomo, sebab ia tidak akan menolak permintaanmu, supaya Abisag, gadis Sunem itu, diberikannya kepadaku menjadi isteriku." (1 Raj 2 : 17)
Ketika Batsyeba menyampaikan menyampaikan permintaan itu, maka raja Salomo menjawab : "Mintalah, ya ibu, sebab aku tidak akan menolak permintaanmu." (1 Raj 2 : 20) Kata-kata Salomo mengungkapkan komitmen total sang raja terhadap pemintaan itu.
Dalam injil Lukas banyak bicara tentang tugas “rajawi” Maria. Sungguh dalam peristiwa Kabar Suca-cita, Lukas menunjukkan kepada kita bahwa Maria diberi panggilan untuk menjadi bunda ratu dalam kerajaan Yesus.
Ketika Malaikat Gabriel menampakkan diri kepada Maria, Maria diberitahu bahwa dirinya akan menjadi ibu dari seorang Putra yang akan duduk sebagai raja, yang akan memulihkan kerajaan Daud. Anak ini akan menjadi penggenapan banyak nubuat yang mengatakan bagaimana Mesias akan mengokohkan kerajaan Allah dan akan meraja selama-lamanya. (Dialah yang akan mendirikan rumah bagi nama-Ku dan Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya untuk selama-lamanya - 2 sam 7 : 13)
Kemudian Malaikat berkata : “Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan." (Luk 1 : 31-33)
Kalau seorang Yahudi kuno mendengar tentang seorang perempuan dalam keluarga Daud melahirkan seorang raja baru dari dinasti Daud, ia akan dengan mudah menyimpulkan, bahwa dia itu bunda ratu. Dan inilah persis panggilan Maria yang disampaikan pada peristiwa Kabar Sukacita. Maria adalah bunda ratu dari seorang yang akan duduk diatas “tahta Daud, bapak leluhur-Nya” dan yang “kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan”.
Tugas “rajawi” Maria lebih explisit lagi dalam peristiwa kunjungannya ke Elisabet sanaknya yang sedang mengandung Yohanes Pembaptis. Injil Lukas menulis, bahwa “Elisebet pun penuh dengan Roh Kudus dan berseru”, berarti apa yang diserukan oleh Elisabet kepada Maria adalah ungkapan dari Roh Kudus sendiri yang ditujukan kepada Maria, melalui Elisabet. Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana." (Luk 1 : 41-45)
Jadi kalau orang-orang Katolik menghormati Maria ratu dan dalam doa Salam Maria menyebut Bunda Allah, sebenarnya kita hanya mengikuti teladan Elisabet yang dipenuhi Roh Kudus, yang adalah orang pertama dalam Alkitab yang secara explisit mengakui jabatan ratu yang disandang Maria sebagai “Ibu Tuhanku”, dan sesungguhnya adalah ungkapan dari Roh Kudus sendiri.
(Disari dari buku : Catholic for a Reason II, by Dr. Scott Hahn)

Read more .....