9/25/2014

MARIA ORANG YANG PEKA DAN TANGGAP TERHADAP BIMBINGAN ROH KUDUS

Oleh : Rm Yohanes Indrakusuma, O.Carm
Berbeda dengan Zakharia yang harus mengalami kebisuan karena kurang tanggap terhadap rencana Allah, tetapi Maria sangat peka terhadap bimbingan Roh Kudus. Dalam terang Roh Kudus itu Maria dengan cepat mengerti rencana Allah dan tanggap terhadap kehendak Allah. Oleh karena itulah, setelah mengerti dan tanggap terhadap rencana dan kehendak Allah, dengan tiada ragu Maria dapat berkata : "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Luk 1:38).
Kita mengetahui bahwa Roh Kudus menjadi jiwa setiap orang beriman seperti yang diungkapkan oleh St. Paulus, bahwa : “Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah” (Rm 8:14), juga ungkapan yang paling tepat kepada umatnya di Galatia : “Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh” (Gal 5:25). Ini berarti peka terhadap bimbingan, di mana Roh membimbing kita dan Roh memberikan inspirasi yang kita kenal dengan ketujuh karunia Roh Kudus. Roh itu mendorong, membimbing dan menguasai orang lewat karunia-karunia-Nya. Jika dibandingkan, karunia-karunia Roh Kudus itu ibarat antena-antena yang sangat peka. Melalui antena-antena ini, orang mampu menangkap gelombang-gelombang Roh Kudus. Hal ini menjadi berbahaya jika kita hanya mengandalkan kemampuan dan pengalaman kita sendiri. Karena itu kita perlu berada dalam ketaatan. Kadang-kadang orang mengira suatu saat Roh Allah yang berbicaa, tetapi ternyata ini berasal dari roh neraka atau roh jahat, sehingga banyak orang tertipu.
Salah satu ciri jika seseorang dikuasai oleh Roh Allah ialah jika ia tumbuh dalam kerendahan hati yang sejati. Orang yang dikuasai oleh Roh Allah tidak mungkin menjadi sombong, karena Allah menentang orang yang sombong, tetapi mengasihi orang yang setia dan rendah hati. Salah satu ciri yang jelas dari karunia-karunia Roh Kudus diketahui dari kerendahan hati.
Bunda Maria adalah seorang yang sangat rendah hati. Ini terungkap dalam perkataannya : Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus.” (Luk 1:46-49). St. Teresa dari Avila mengatakan “Kerendahan hati tidak lain adalah kebenaran”, karena dalam terang Roh Kudus kita akan melihat siapakah aku ini ? Seperti yang dikatakan Tuhan Yesus kepada St. Katarina dari Siena “Aku adalah yang Ada, engkau bukan yang apa-apa”.
Semakin orang diterangi dan dibimbing oleh Roh Kudus, semakin ia menyadari kekecilannya, tetapi sekaligus dalam paradoksnya, walaupun ia kecil dan tidak berdaya, ia mengharapkan segala-galanya dari Allah. Seperti yang dikatakan Paulus : “Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.” (2 Kor 12:10) Karena kita berada dalam kuasa Allah yang tidak terbatas, maka bagi orang yang percaya ‘bagi Allah tiada yang mustahil’ (Luk 1:37).
Bunda Maria tanggap terhadap bimbingan Roh Kudus dan dia tidak menjadi takut terhadap seluruh konsekuensi yang timbul dari penyerahan dirinya “Aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Oleh karena itu Maria dapat melihat, mengerti dan menangkap apa yang menjadi kehendak Allah lewat inspirasi dan bimbingan Roh Kudus, seperti yang dikatakan Yesus : “Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh." (Yoh 3:8). Orang yang hidup dalam Roh, sering kali tidak dapat diduga-duga, karena ia tanggap dan peka terhadap inspirasi dan bimbingan Roh Kudus.
(Sumber : Majalah Hidup Dalam Roh)

Read more .....

KUASA DOA ROSARIO



Ketika Suster Theresa Gasparoto, FMA (Filiae Mariae Auxiliatricis / Suster Putri Maria Penolong Umat Kristiani) sedang berjalan kembali ke biaranya, jari-jarinya secara tulus bergerak melalui biji-biji rosario. Ia terserap kedalam misteri-misterinya.
Ketika ia menyadari bahwa ada seorang laki-laki yang mengarahkan langkahnya menuju padanya. Ia merubah arahnya, tetapi orang itu tetap berusaha mengarah padanya, maka ia mulai cemas, karena ia sedang sendirian. Tak seorangpun dapat menduga, bagaimana seseorang dapat berbuat jahat pada sesamanya.
Ia menekankan manik-manik itu lebih keras lagi, memohon pertolongan Bunda Maria pada setiap Salam Maria untuk perlindungannya. Ketika pada akhirnya ia sampai di samping laki-laki itu, orang itu bertanya, “Suster, apakah anda sedang berdoa ?”, “Ya”  jawab suster itu.
“Untuk siapa anda berdoa ?” tanyanya lagi, “untuk semua orang, juga untukmu, yang baru kutemui saat ini.” Tetapi orang itu diam saja.
Ketika tiba di biara, orang yang aneh itu minta ijin untuk memasuki ruangan dan berkata, bahwa ia mau menceritakan sesuatu yang mengganggunya, iapun duduk dan mulai menceritakan persoalannya.
“Suster”, katanya setelah agak lama merasa ragu-ragu, “ketika aku melihat suster di jalan, aku sedang dalam perjalananku untuk melakukan bunuh diri. Aku telah meninggalkan rumah dengan diam-diam, agar istriku tidak mengetahui dan aku sudah nekad untuk mengakhiri hidupku dengan menabrakkan diriku pada kendaraan yang sedang melaju kencang. Tetapi pada saat melihat rosario, terdengar suara yang jelas di dalam diriku yang berkata, ‘Jangan merendahkan intensi surgawi Maria dengan rosarionya, dan kembalilah pada akal sehatmu, kamu adalah kepala keluarga, kau memiliki istri yang patuh dan anak-anak yang masih kecil, janganlah kesulitan-kesulitan sementara ini menyusahkanmu lebih jauh lagi. Sekarang, bawalah permasalahan ini dalam doa’, tiba-tiba saja aku berubah pikiran, dan aku pikir bahwa aku harus menjalani hidup doaku sekali lagi. Doakanlah aku sungguh-sungguh, suster.”
Terima kasih kepada Surga, karena ia telah diselamatkan pada waktunya, suster menyakinkan padanya bahwa ia akan didoakan setiap hari, lalu ia memberikan alamatnya dan suster itu melihat bahwa rumah orang itu tidak terlalu jauh dari biara.
Karena tidak ada kabar sejak waktu itu, suster lalu pergi menanyakan pada tetangganya apa saja yang mereka ketahui tentang orang itu. Suster diberitahu bahwa orang itu sakit parah. Bersama suster lainnya lalu ia datang berkunjung ke rumah orang itu dan diterima dengan sukacita. Berita yang ia dapatkan sungguh memuaskan, bahwa ia telah menjadi penerima Komuni Kudus setiap hari. Pembantu Pastor paroki selalu datang ke rumahnya memberikan Komuni Kudus setiap hari.
Tiga hari setelah kunjungan suster itu, istrinya datang ke biara menceritakan pada suster Theresa, bahwa suaminya telah meninggal setelah memperlihatkan betapa besar keinginan jiwanya untuk pulang kembali kepada Penciptanya. Ia mengatakan pada suster bahwa ia meninggal dalam keadaan yang paling damai dan tenang.
Bunda Maria telah menyelamatkan jiwanya pada saat-saat yang paling berbahaya dari keputusan nasibnya itu, yaitu ketika ia melihat Rosario Suci itu. Dia pasti hadir di saat kematiannya, ketika rosario dalam genggaman tangannya.
“Rosario adalah doa utama bagi keluarga,” kata Albino Luciani, yang kemudian menjadi Paus Yohanes I. “Paling sedikitnya lima belas menit dengan rosario di tanganku dan merenungkan berbagai misteri dari Hidup Tuhan kita, selalu membantuku untuk menghidupkan kembali hari-hari indah dari masa mudaku. Suatu masa yang merindukan untuk mencitai Allah dan merasakan suatu keinginan untuk menangis bagi Kerahiman-Nya. Semua ini telah membantuku untuk berdoa dan merasa muda kembali.”
Rosario Suci didoakan oleh orang tua bersama keluarga merupakan liturgi domestik yang paling utama.
(by Pastor Peter Gatti, SDB -  Majalah Ave Maria)

Read more .....

BUNDA MARIA BUNDA CAHAYA

Pada tahun 1676, di Mexico ada suatu cahaya aneh yang timbul hampir setiap malam di sebuah ruangan dari rumah yang sudah ditinggalkan, di desa orang-orang Indian yang bernama Guatzindeo. Desa itu merupakan bagian dari Hacienda San Buenaventura, dan si pemilik tanah yang bernama Don Antonio Martin Tamayo merasa berkewajiban untuk mencari penyebabnya.

Mula-mula ia mengirim para pelayannya, tetapi mereka selalu pulang dengan tangan kosong, dan selalu mengatakan bahwa di sana tidak ada cahaya maupun api. Lalu ia sendiri pergi bersama dengan seorang imam Fransiskan untuk menyelidikinya.

Dalam gubuk itu ia menemukan banyak sampah-sampah, tetapi di bawah sampah-sampah itu mereka menemukan sepuah patung Bunda Maria yang menggendong Kanak-Kanak Yesus yang sudah sangat rusak. Don Antonio membawa patung itu ke Hacienda dan kemudian mengirim patung itu kepada Patzcuaro untuk diperbaiki.

Setelah selesai dan dikembalikan, tampak keindahan yang luar biasa dari patung itu, sehingga keluarga Tamayo itu mendirikan sebuah kapel, dan menempatkan patung itu di situ. Kapel itu terbuka untuk umum bagi yang ingin berdoa dan menghormatinya di situ. Karena cahaya aneh yang menyebabkan patung itu ditemukan, maka patung itu dinamakan “Bunda Maria Bunda Cahaya”.

Setiap tahun pada musim hujan, patung wasiat tersebut dibawa dari kapel ke Salvatierra, di mana orang-orang memohon hujan yang cukup agar dapat menghasilkan panen yang berlimpah-limpah. Bunda Maria Bunda Cahaya juga dimohon pertolongannya pada saat penyakit epidemi mewabah, dan selalu ada hasilnya.

Ketika Uskup Don Juan de Ortega Montanes dari Valladolid, Spanyol, datang berkunjung ke Mexico, ia sedang sakit ketika lewat Salvatierra. Karena ia seorang yang sangat berdevosi kepada Bunda Maria, Uskup itu lalu mempersembahkan Misa di altar Bunda Maria di Gereja Maria Bunda Karmel, di mana patung wasiat itu diletakkan. Selama misa, Uskup yang sakit ini berjuang melawan kelemahannya, tetapi ketika misa selesai, ia merasakan suatu dorongan kekuatan yang menjamahnya sehingga ia merasakan kesehatan dan pemulihan tenaga. Ia menikmati atas kesembuhannya yang cepat itu dan memberikan kesaksian bahwa kesembuhannya itu adalah merupakan keprihatinan Bunda Maria Bunda Cahaya. Banyak mukjizat yang terjadi sehubungan dengan patung wasiat suci tersebut.

Patung itu pernah satu kali rusak berat ketika di bawa ke Salvatierra untuk novena sembilan hari. Ketika patung itu dibawa dengan usungannya melalui pintu masuk, kepala patung itu terbentur pada kusen pintu dan terlihat cacat yang dalam pada bagian wajahnya.

Setelah mempelajari kerusakan itu, banyak yang mengatakan dengan sedih bahwa kerusakan itu tidak dapat diperbaiki lagi. Tetapi tiba-tiba ada seorang laki-laki maju dari kerumunan orang banyak itu dan menawarkan diri untuk memperbaiki kerusakan patung itu, dan ia mengatakan bahwa ia adalah seorang pemahat yang cukup berpengalaman.

Si pemahat itu tiba pagi-pagi di keesokan-harinya dan segera mulai bekerja. Pada saat pagi menjelang siang hari, ia ditawari makanan dan minuman, tetapi ia menolak. Pada siang hari, ia lagi-lagi menolak untuk makan, sore harinya ia mengumumkan bahwa ia telah selesai memperbaiki patung itu, tetapi patung itu tidak boleh disentuh sampai catnya kering. Ia lalu pergi tanpa dibayar, dan ia tak pernah datang kembali.

Meskipun sudah dengan beberapa penyelidikan, identitas si pemahat tersebut tidak pernah diketahui. Karena patung itu tidak menunjukkan sedikitpun tanda-tanda bekas kerusakannya, maka identitas si pemahat yang misterius itu menjadi bahan pembicaraan banyak orang, siapakah dia itu sebenarnya.

Pada tahun 1743, sebuah petisi untuk sebuah tempat pemujaan bagi Bunda Maria Bunda Cahaya disetujui oleh Duta Conde de Fuenclara, dan sejak 1808 patung wasiat itu dihormati dan ditempatkan di dalam kapel di Salvatierra. Patung Bunda Maria ini adalah sebuah patung yang sangat indah, Bunda Maria menggendong Kanak-Kanak Yesus di lengan kirinya. Ia memegang ranting dan sebuah tongkat di tangan kanannya, kepalanya agak miring sedikit ke arah Kanak-Kanak Yesus. Patung Bunda Maria dan Putranya, menggunakan pakaian yang penuh dengan sulaman-sulaman indah, berdiri di atas sebuah bintang dirangkai dengan bulan sabit, dengan rambut yang tergerai di atas pundaknya. Ia memakai kerudung renda dan mahkota keratuannya. Kanak-Kanak Yesus juga sama indahnya, karena ia memegang bola dunia dan memakai sebuah mahkota yang hampir sama seperti Bunda-Nya.

Read more .....

SALAM YA RATU


“Salam ya Ratu, Bunda Kerahiman, Kehidupan, Penghibur, dan Pengharapan kami......” Berapa kali kita mendoakannya pada akhir Doa Rosario, doa ini berasal dari abad pertengahan dan ada legenda tentang asal-usul doa tersebut.

Pada suatu pagi, seorang rahib membuka pintu biara pada waktu subuh, ia melihat keluar dan gembira atas hari yang baru. Lalu matanya tertuju pada depan pintu, di sana tergeletak sesuatu. Ketika ia mau mengambilnya, ia mendengar ada suara bayi, “Apakah ini seorang bayi ?” pikirnya. Ketika ia membuka tutupnya, benar ia melihat seorang bayi, cepat-cepat ia membawa masuk ke dalam rumah biara. Ia merasa sangat kasihan kepada sang ibu yang terpaksa harus meninggalkan bayinya dengan cara demikian, dan si rahib berdoa dalam hatinya bagi sang ibu tersebut. Ketika selimut dan pakaiannya dibuka, ternyata bayi itu laki-laki, dan kemudian hari ternyata anak laki-laki itu lumpuh.

Rahib itu kemudian memanggil teman-temannya yang lain dan mereka mengambil keputusan untuk menjaga anak itu sampai ada orang yang mencarinya nanti. Tetapi hal ini tidak pernah terjadi, tidak pernah ada orang yang datang mencari anak bayi itu. Para rahib memberi nama anak itu Herman dan lambat laun ia dikenal dengan sebutan Herman si Lumpuh.

Tahun demi tahun berlalu dan anak itu menjadi besar di biara, para rahib mengajar dan mendidik dia dengan baik. Ia dididik untuk menjadi seorang guru matematika dan ternyata ia sangat pintar. Ia juga tidak pernah merasa menderita atau merasa malu karena kelumpuhan yang dideritanya, padahal ini merupakan sumber rasa sakit yang luar biasa pada tulang belakangnya sepanjang hidupnya. Ia selalu merasa gembira, sukacita dan ramah terhadap sesamanya, bekerja keras, dan sangat produktif. Semua rahib di biara sangat mengaguminya, sedemikian mengaguminya, sehingga pada saat menjelang akhir hidupnya, mereka membicarakan hidup spiritualitasnya yang tinggi itu dan mereka bertanya-tanya apa rahasia yang mendorong dia bisa hidup dengan spiritualitas yang demikian tinggi itu. Lalu ia mengambil pena dan kertas, kemudian menuliskannya : “Salam ya Ratu, Bunda Kerahiman, kehidupan, penghibur dan pengharapan kamil. Kepadamu kami memohon, kami berkabung dan menangis dalam lembah air mata ini. Pembicara kami yang manis, matamu yang penuh kerahiman menatap kepadaku. Setelah peziarahan ini, tunjukkanlah kepadaku, Yesus Buah Tubuhmu Yang Terpuji itu, oh ibu yang murah hati, yang penuh cinta kasih, oh Perawan Maria yang manis.”

Itulah legenda tentang Herman si lumpuh dan asal-usul doa yang indah itu, tak heran mengapa doa ini dipilih sebagai penutup Doa Rosario. Ini mengandung semua permohonan, penghiburan, rasa syukur dan harapan yang Herman alami melalui Bunda Maria. Ia telah memulai hidupnya tanpa keluarga, dan tanpa rumah serta kesehatannya dalam kelumpuhannya. Tetapi ia mempunyai iman untuk memohon pertolongan pada Bunda Maria. Ketika ia memberinya tanpa batas, ia bersyukur sekali dengan hidupnya yang penuh suka cita yang menggambarkan rasa syukurnya itu. Devosinya yang besar kepada Bunda Maria dibalas ketika ia menghembuskan nafasnya yang terakhir dari peziarahannya di dunia ini berakhir.

Bunda Maria, ingatlah pada kami, kami tidak mengklaim kemuliaan seperti kepunyaanmu, tetapi tinggallah bersama kami, ketika kami berjuang hingga pada harinya ketika rahmat membebaskan kami dari hidup kedosaan ini, yang akan membawa kami kepadamu dan kepada Tuhan kita. Berkatilah kami, oh Bunda, bawalah kami kepadamu dan kepada Tuhan kita, berkatilah kami ya Bunda, Amin.

(Don Bosco’s Madonna)

Read more .....

BUNDA PENOLONG ABADI

Oleh : Pastor Thomas Livius (1886)
Pada suatu hari, datang seorang wanita katolik yang baik kepada Pastor di Chili, dan menceritakan kepada imam Redemptoris itu, bahwa di dekat dia ada seorang gadis muda yang miskin, hidup dalam dosa dengan seorang bajingan yang telah menggoda dia.
Pastor itu lalu memberi dia sebuah medali Bunda Maria Penolong Abadi, dan menyuruh dia membawanya pada si pendosa yang malang itu, dan supaya berusaha sekuat tenaga untuk membawa si gadis yang malang itu kepadanya. Ia berharap agar Bunda Maria menarik jiwa itu dari jurang dos, namun ia tidak menjadi kecewa.
Keesokan harinya, wanita yang baik hati itu datang lagi dan mengatakan kepada Pastor itu suatu kemenangan, katanya : “Pastor, gadis muda itu mengambil medali yang Pastor berikan dan aku telah membawa dia kepadamu, inilah dia orangnya.”
Berbahagia atas kesuksesan pertama ini, Pastor itu mengetahui dari seorang perantau, bahwa orang tua gadis itu tinggal cukup jauh, di kota lain dan juga bahwa gadis muda ini digoda oleh seorang yang malang yang telah mengikuti dia untuk waktu yang lama. Gadis itu lari dari rumah dan hidup tanpa kendali dengan pria itu di suatu tempat di mana ia tak dikenal, supaya ibunya tidak dapat menemukannya.
Pastor itu lalu meminta gadis itu berjanji untuk memikirkan jiwanya, untuk merubah hidupnya dan menjelaskan kepadanya, bahwa ia dapat saja menghindari usaha pencarian ibunya, tetapi Allah dapat melihatnya di mana-mana dan dari mata Allah ia tidak dapat menghindar.
Pastor itu akhirnya membujuk gadis itu untuk meninggalkan kehidupannya yang penuh dosa dan sekali lagi kembali kepada Allah, karena Bunda Maria Penolong Abadi telah menyentuh hatinya.
Hanya satu kesulitan yang menghalangi dia, yaitu ketakutan untuk pulang ke rumah karena ia berpikir bahwa ibunya tidak akan mengampuni dia dan menerima dia kembali. Tetapi kesulitan ini menghilang, syukur atas ide bahagia yang diusulkan kepada Pastor itu oleh Bunda Maria Penolong Albadi kepada gadis itu.
Pastor lalu memanggil si ibu, sepertinya ia mempunyai sesuatu yang penting untuk disampaikan pada dia. Setelah menerima pesan, ibu itu datang pada pastor itu, dengan sangat sedih hati dan bingung.
Pastor menerangkan alasannya mengapa ia memanggilnya, pertama-tama si ibu yang malang itu hanya dapat menjawab dengan air mata saja dan sedu sedannya. Dan Pastor sangat terharu ketika ia mendengar si ibu berkata : “Pastor, ini benar-benar mukjizat dari Bunda Maria Penolong Abadi. Putriku meninggalkan rumah, aku telah berusaha mencarinya, tetapi sia-sia. Aku lalu memohon kepada Bunda Maria Penolong Abadi, ‘Bunda Penolong Abadi, hanya engkaulah yang harus membawa  anakku pulang. Engkau harus mengembalikannya kepadaku.’ Dan hari ini dia mengembalikanya kepadaku dan di sinilah, di tempat kudusnya.”
Apa yang dirasakan oleh Pastor yang baik ini ketika ia mendengar cerita itu ? Gadis malang itu lalu mempersiapkan diri untuk melakukan pengakuan dosa yang baik, kemudian pulang ke rumah bersama ibunya. Keduanya sekarang penuh suka cita, bersyukur dan memuji Bunda Maria Penolong Abadi yang dengan cara Ilahi telah mempersatukan mereka kembali.
(Sumber : Majalah Ave Maria)
-       Kuasa doa rosario
-       Rahmat Bunda Maria

Read more .....

ROSARIO DOA KEMENANGAN



Kita semua ingin menang, kemenangan dalam lomba ynag diperjuangkan secara mati-matian sangatlah menyenangkan. Terlebih lagi, pencapaian kemenangan dengan tujuan yang baik. Memenangkan peperangan, di mana kekalahan berarti kehilangan kemerdekaan kita, dapat menjadi kemenangan terbesar dari semuanya.
Ketika sepasukan kecil Kristen menang perang di Teluk Lepanto pada tanggal 7-October-1571, hal itu merupakan sebuah kemenangan besar untuk iman kepercayaan dan kemerdekaan. Kemenangan itu bisa didapat adalah karena beribu-ribu orang yang berdoa Rosario untuk melindungi orang-orang Kristiani yang terancam saat itu. Pada saat syukuran, Paus Pius V menetapkan apa yang kemudian dikenal sebagai Pesta Rosario Suci.
Satu abad kemudian, tahun 1683, umat Kristiani diselamatkan dari penyerbuan Turki yang menduduki kota Wina dan mengancam untuk menindas umat Kristiani di Eropa. Tetapi pasukan Turki menghentikan perjalanan mereka setelah ribuan orang di Wina berdoa Rosario untuk kebebasan.
Pada masa kini, tahun 1955, setelah komunis mengambil alih Austria, Pastor Peter Pavlicek memulai mendorong umat untuk Doa Rosario di seluruh negeri. Mengapa komunis lalu menghilang dari Austria ? hal ini selalu membingungkan para sejarahwan, tetapi kita tahu mengapa, karena Bunda Maria dan rosarionya telah menggerakkan orang-orang Rusia keluar dari Austria.
Brasil juga diselamatkan secara lebih menyolok lagi pada tahun 1964, ketika Presiden Komunis Joao Goulart muncul beberapa kali di televisi, dia sesumbar mengatakan bahwa Rosario tidak akan dapat menahan komunisnya untuk memerintah rakyat. Tetapi Rosario berhasil, karena ada Tuhan kita dan Bunda Maria di belakangnya. Apa yang terjadi kemudian dengan sang presiden ? dia hanya berkuasa bahkan tidak sampai 30 hari.

Sepuluh tahun kemudian, pada tahun 1974, komunis mengambil alih Portugal. Alianza de Santa Maria, perkumpulan Bunda Maria, merasa Portugal terancam karena rakyatnya tidak memberi perhatian yang cukup pada pesan-pesan Bunda Maria di Fatima untuk ‘berdoa rosario’. Maka perkumpulan itu memulai Rosario di seluruh Paroki Portugal. Mereka membagikan kartu ikrar Rosario pada semua orang untuk ditanda-tangani, berjanji untuk berdoa Rosario untuk mengusir komunis yang atheis. Mereka mengumpulkan lebih dari sejuta ikrar, dan hasilnya ? pada Pesta Kristus Raja di tahun berikutnya, tahun 1975 pemerintah Komunis jatuh. Para pemimpin perkumpulan mengatakan, “Bunda Maria telah menyelamatkan kami.”
Pada tahun 1988, Perkumpulan Bunda Maria mengatur ‘perang’ lagi, kali ini berdoa untuk mengalahkan Rancangan Undang-Undang di Lisbon yang akan melegalisir aborsi di Portogal. Semua data statistik mengindikasikan bahwa RUU tersebut akan dengan mudah disahkan. Angela Coelha, seorang pemimpin perkumpulan itu berkata, “Kami memohon bersama orang-orang untuk berusaha lebih keras dalam berdoa Rosario.” Lalu apa yang terjadi selanjutnya ? “Ini merupakan keajaiban,” katanya, “pada saat-saat terakhir RUU tersebut dikalahkan dengan sedikit perbedaan suara.”
Pada tanggal 7 October 2000, Paus Yohanes II memimpin ribuan orang termasuk ratusan Uskup di Vatican dan banyak penghubung dari seluruh dunia, termasuk Suster Lucia (visoner Fatima), berdoa bersama dalam sebuah doa Rosario. Ternyata Paus mendoakan seluruh lima belas peristiwa setiap hari. Dia selalu punya waktu untuk ini, “Rosario adalah doa favorit saya” kata Paus. Paus berjanji untuk memperbaharui  devosi Rosario, terutama dalam keluarga, mengulangi apa yang dikatakan Pastor Peyton, “Keluarga yang berdoa Rosario bersama, akan selalu bersama.”
Paus juga meminta kita untuk berdoa Rosario, “Doa yang sederhana dan dalam ini dicintai oleh semua orang, terutama dalam keluarga-keluarga. Alangkah indahnya jika doa ini kembali ditemukan dalam keluarga-keluarga.”
Mengapa Rosario sangat penting ? Melalui misteri tiap peristiwa, kita difokuskan pada apa yang terjadi dalam hidup Kristus selama di dunia ini, dan selama kehidupan Maria, demikian pula peristiwa Pentakosta, Maria diangkat ke Surga dan dimahkotai. Doa ini membawa kita kepada Yesus melalui Maria (Per Mariam ad Jesum). Rosario adalah doa lisan, tetapi juga dikombinasikan dengan doa batin, doa ini mengajar kita kepada doa permenungan yang lebih tinggi.
Kita ingin terbebas dari gangguan sehari-hari, tentu ! tetapi kita tidak perlu lagi mengasingkan diri ke tempat yang terpencil dan jauh untuk hal itu. Kita cukup berlutut atau duduk di gereja atau di rumah, atau ketika kita mengendarai mobil, kita bisa berdoa. Kalau kita berdoa Rosario dengan tekun, kita akan masuk dalam keheningan yang indah, bersama Yesus, Maria dan kita sendiri.
Begabunglah dengan anggota keluarga lainnya sedapat mungkin, misalnya saat setelah makan malam atau sebagai doa malam sebelum tidur. Sudah berapa banyakkah orang-orang yang telah ditolong karena berdoa Rosario ? tidak ada yang tahu, hanya Tuhan yang tahu.
(Sumber : Dan Lyons, Majalah Ave Maria)

Read more .....

DIPERCAYAKAN KEPADA BUNDA MARIA

Semasa perang, aku adalah seorang imam bagi angkatan bersenjata. Pada suatu hari, pada saat serangan kilat atas sebua kota di mana kami bermarkas, setiap gedung rata dengan tanah, tak sebuah rumahpun yang masih berdiri.

Ketika serangan berhenti, aku dan dua orang prajurit lainnya, keduanya bukan orang Katolik, berjalan di desa sekitarnya untuk melihat seberapa berat kerusakan yang disebabkan oleh serangan tersebut. Tak ada yang tersisa, di sekitar kami tak ada apa-apa kecuali puing-puing. Lalu kira-kira dua mil di luar kota, kami melihat sebuah rumah berlantai dua yang masih dalam kondisi sempurna, dii samping kerusakan-kerusakan di sekeliling rumah itu, sebuah kaca jendelapun tidak ada yang pecah, sungguh aneh.

Kedua prajurit itu berseru : ”Ini luar biasa ! Mari kita masuk menyelidikinya !”

Lalu kami membuka pintu rumah itu, dan kamipun masuk ke dalam, kecuali debu yang bertebaran di mana-mana, segala sesuatu yang ada di situ masih tetap seperti pada tempatnya, seperti baru saja ditinggalkan penghuninya.

Kami lalu memeriksa dari satu ruangan ke ruangan lainnya, memasuki setiap ruangan, segalanya tetap pada tempatnya. Lalu di salah satu ruangan, kami menemukan sebuah patung Bunda Maria dengan vas bunga berisi bunga-bunga yang sudah layu di kedua sisinya, dan sebuah surat di depannya.

Aku lalu membuka surat itu dan membacanya, isi surat itu berbunyi : “Bunda Maria yang tercinta, kami terpaksa meninggalkan rumah kami ini, tetapi kami mempercayakannya ke dalam tanganmu ya Bunda, kami mohon jagailah dan jagalah untuk kami.”

Kedua prajurit itu terheran-heran dan berkata : “Ini suatu mukjizat !” Lalu kami bertiga berlutut di hadapan patung Bunda Maria dan bersama-sama berdoa mohon perlindungan dari Bunda Maria.

Salah satu dari prajurit itu begitu terkesan dengan peristiwa itu, sehingga ia minta untuk diajari tentang agama Katolik, yang kelak kemudian hari aku sangat berbahagia menerimanya dan membaptisnya dalam Gereja Katolik.

(Kesaksian seorang imam)

Read more .....

TIGA KALI SALAM MARIA


Betapa akrab dan manisnya nada kata-kata itu di telinga kita semua, “O Maria, dengan kesucian dan kemuliaanmu, buatlah tubuhku bersih dan jiwaku suci.”
Bahwa kalimat tersebut memberikan banyak efek dan keyakinan atas kehadiran Bunda Maria dalam hati kita, dan betapa manis serta banyak pengaruh yang baik bila kita sanggup mempertahankannya terus menerus.
Banyak cerita yang kita dengar bagaimana orang-orang dibawa kembali kepada kehidupan yang baik setelah bertahun-tahun hidup dalam dosa, dan bagaimana dengan sebuah keyakinan yang ‘aneh’ tetap bertahan di tengah-tengah kehidupan dosa dengan satu kebiasaan berdoa ‘Tiga Kali Salam Maria’ yang setiap kali diakhiri oleh kalimat “O Maria, dengan kesucian dan kemuliaanmu, buatlah tubuhku bersih dan jiwaku suci.”
Mendiang Pastor Ryan, admistrator Wagga Wagga, suka menceritakan kejadian berikut ini yang terjadi di kala beliau masih seorang pastor muda di Temora.
Pada suatu senja setelah minum teh, ada perasaan yang mendorongnya untuk pergi ke gereja, untuk melihat barangkali ada orang yang membutuhkan bantuannya. Ketika sampai di pintu masuk gereja, ia melihat ada seorang pria yang duduk di belakang gereja, kemudian ia menyapa pria itu dan mengajaknya berbincang-bincang.
Kemudian diketahuinya bahwa pria tersebut telah bertahun-tahun lamanya tidak datang ke tempat pengakuan dosa. Menimbang atas dorongan serta janji-janji Pastor Ryan untuk menolong, maka pria itupun segera masuk ke tempat pengakuan dosa.
Sebelum berpisah, Pastor Ryan bertanya kepadanya tentang kesetiaan apakah yang telah dianutnya, sehingga ia dapat meraih anugerah yang baru saja didapatnya. Pria tersebut, yang bermata-pencaharian sebagai seorang penangkap ikan mengatakan, bahwa ketika pertama kali ia mulai pekerjaannya yang berbahaya itu, ibunya memintanya berjanji untuk selalu mengucapkan doa ‘Tiga Kali Salam Maria’ setiap hari, dan ternyata ia setia mengucapkan doa tersebut dan tidak pernah meninggalkannya.
Pastor Ryan dan pria tersebut berpisah, dengan janji untuk bertemu lagi di sisi altar keesokan harinya. Tetapi sewaktu pria itu berjalan pulang, ia tertabrak oleh sebuah kereta api dan meninggal dunia.
Oleh kesetiaannya berlatih secara sederhana untuk mengucapkan doa ‘Tiga Kali Salam Maria’ setiap hari, Bunda Maria telah membimbingnya ke pengakuan di tengah perjalanan pulangnya.
(Sumber : Mater Dei – Majalah Ave Maria)

Read more .....

8/22/2014

BUNDA RATU

Dalam kerajaan Daud, apabila seorang raja naik tahta, ibunya diberi gelar khusus sebagai “gebirah”, yang dalam bahasa Ibrani berarti “nyonya besar” atau “ratu”. Sebagai bunda ratu, ia memiliki kedudukan khusus kedua yang sangat berkuasa dalam kerajaan, yaitu kedua sesudah sang raja sendiri.

Bunda ratu adalah istri dari raja terdahulu dan sekaligus ibu dari raja yang sekarang bertahta. Maka bunda ratu menjadi simbol dari martabat rajawi sang raja, yang mengikat dia dengan darah rajawi ayahya. Dalam arti ini, bunda ratu menjamin keabsahan kedudukan sang raja dalam garis dinasti yang bersangkutan.
Sejumlah kutipan Perjanjian Lama memperlihatkan peran penting bunda ratu dalam kerajaan Daud. Misalnya, bisa kita baca Kitab Raja-raja ke 1 dan ke 2, kedua kitab ini menuturkan sejumlah raja yang memerintah atas Israel. Sangat mengesankan, hampir setiap kali cerita memperkenalkan seorang raja baru di Yehuda, ia selalu menyebut ibunda sang raja, sambil menggaris-bawahi perannya dalam suksesi dinasti kerajaan.
Dalam lingkungan Israel kuno, bunda ratu bukan hanya sosok utama, lebih tepat dikatakan bahwa ia menduduki jabatan dengan kekuasaan yang nyata dalam kerajaan. Barangkali contoh yang paling baik dari peran penting bunda ratu adalah Batsyeba, istri Daud dan ibunda Salomo.
Batsyeba masuk menghadap raja Salomo untuk membicarakan hal itu untuk Adonia, lalu bangkitlah raja mendapatkannya serta tunduk menyembah kepadanya; kemudian duduklah ia di atas takhtanya dan ia menyuruh meletakkan kursi untuk bunda raja, lalu perempuan itu duduk di sebelah kanannya. Berkatalah perempuan itu: "Suatu permintaan kecil saja yang kusampaikan kepadamu, janganlah tolak permintaanku." Jawab raja kepadanya: "Mintalah, ya ibu, sebab aku tidak akan menolak permintaanmu." (1 Raj 2 : 19-20)
Kisah ini mengungkapkan wibawa istimewa dari bunda ratu, dulu ketika ia seorang istri raja, ia harus bersujud kalau menghadap raja Daud, tetapi sekarang sebagai bunda ratu, sang rajalah yang bangkit dan bersujud ketika menyambutnya. Di sini Salomo memberikan tempat duduk kepada ibundanya, Batsyeba di sisi kanannya. Tindakan ini penuh dengan simbolisme rajawi, dalam Alkitab, sisi kanan adalah tempat yang paling terhormat, misalnya dalam Mazmur (Demikianlah firman TUHAN kepada tuanku: "Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu." - Mzm 110 : 1) melukiskan bagaimana Mesias akan duduk di sisi kanan Allah dan memerintah atas segala bangsa. Dengan cara yang sama surat Ibrani melukiskan Kristus duduk di sisi kanan Bapa, memerintah segala mahluk, ditinggikan di atas semua malaikat dan orang-orang kudus (Dan kepada siapakah di antara malaikat itu pernah Ia berkata: "Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu?" - Ibr 1 : 13)
Dalam 1 Raja-raja 2 : 17 kita jumpai seorang bernama Adonia, dimana ia dengan penuh keyakinan minta kepada Batsyeba (bunda ratu) untuk menyampaikan satu permintannya kepada raja Salomo, Adonia berkata kepada Batsyeba, Maka katanya: "Bicarakanlah kiranya dengan raja Salomo, sebab ia tidak akan menolak permintaanmu, supaya Abisag, gadis Sunem itu, diberikannya kepadaku menjadi isteriku." (1 Raj 2 : 17)
Ketika Batsyeba menyampaikan menyampaikan permintaan itu, maka raja Salomo menjawab : "Mintalah, ya ibu, sebab aku tidak akan menolak permintaanmu." (1 Raj 2 : 20) Kata-kata Salomo mengungkapkan komitmen total sang raja terhadap pemintaan itu.
Dalam injil Lukas banyak bicara tentang tugas “rajawi” Maria. Sungguh dalam peristiwa Kabar Suca-cita, Lukas menunjukkan kepada kita bahwa Maria diberi panggilan untuk menjadi bunda ratu dalam kerajaan Yesus.
Ketika Malaikat Gabriel menampakkan diri kepada Maria, Maria diberitahu bahwa dirinya akan menjadi ibu dari seorang Putra yang akan duduk sebagai raja, yang akan memulihkan kerajaan Daud. Anak ini akan menjadi penggenapan banyak nubuat yang mengatakan bagaimana Mesias akan mengokohkan kerajaan Allah dan akan meraja selama-lamanya. (Dialah yang akan mendirikan rumah bagi nama-Ku dan Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya untuk selama-lamanya - 2 sam 7 : 13)
Kemudian Malaikat berkata : “Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan." (Luk 1 : 31-33)
Kalau seorang Yahudi kuno mendengar tentang seorang perempuan dalam keluarga Daud melahirkan seorang raja baru dari dinasti Daud, ia akan dengan mudah menyimpulkan, bahwa dia itu bunda ratu. Dan inilah persis panggilan Maria yang disampaikan pada peristiwa Kabar Sukacita. Maria adalah bunda ratu dari seorang yang akan duduk diatas “tahta Daud, bapak leluhur-Nya” dan yang “kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan”.
Tugas “rajawi” Maria lebih explisit lagi dalam peristiwa kunjungannya ke Elisabet sanaknya yang sedang mengandung Yohanes Pembaptis. Injil Lukas menulis, bahwa “Elisebet pun penuh dengan Roh Kudus dan berseru”, berarti apa yang diserukan oleh Elisabet kepada Maria adalah ungkapan dari Roh Kudus sendiri yang ditujukan kepada Maria, melalui Elisabet. Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana." (Luk 1 : 41-45)
Jadi kalau orang-orang Katolik menghormati Maria ratu dan dalam doa Salam Maria menyebut Bunda Allah, sebenarnya kita hanya mengikuti teladan Elisabet yang dipenuhi Roh Kudus, yang adalah orang pertama dalam Alkitab yang secara explisit mengakui jabatan ratu yang disandang Maria sebagai “Ibu Tuhanku”, dan sesungguhnya adalah ungkapan dari Roh Kudus sendiri.
(Disari dari buku : Catholic for a Reason II, by Dr. Scott Hahn)

Read more .....

6/11/2014

MISI PERTAMA RASUL PAULUS


Karya pewartaan pertama ini dimulai dengan cara yang masih sederhana. Orang Yahudi dapat menjalajahi wilayah kekaisaran Roma, di setiap kota penting mereka menemukan orang-orang Yahudi yang berdagang dan hidup dalam persekutuan dalam sinagoga-sinagoga. Dari Antiokia, Barnabas dan Saulus berlayar ke pulau Siprus, ke kota kelahiran Barnabas (Oleh karena disuruh Roh Kudus, Barnabas dan Saulus berangkat ke Seleukia, dan dari situ mereka berlayar ke Siprus – Kis 13:4).

Pertemuan dengan Sergius Paulus mempunyai nilai penting (Ia-[Baryesus] adalah kawan gubernur pulau itu, Sergius Paulus, yang adalah orang cerdas. Gubernur itu memanggil Barnabas dan Saulus, karena ia ingin mendengar firman Allah – Kis 13:7), Injil tidak hanya meyakinkan orang-orang sederhana, melainkan juga mereka yang berkuasa. Paulus menyadari bahwa ia harus memberi kesaksian di hadapan “para raja dan penguasa” (Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan." - Luk 12:12). Karunia kenabian dari Saulus mulai tampak, ketika dia bertemu dengan Sergius Paulus (Sekarang, lihatlah, tangan Tuhan datang menimpa engkau, dan engkau menjadi buta, beberapa hari lamanya engkau tidak dapat melihat matahari." Dan seketika itu juga orang itu merasa diliputi kabut dan gelap, dan sambil meraba-raba ia harus mencari orang untuk menuntun dia. Melihat apa yang telah terjadi itu, percayalah gubernur itu; ia takjub oleh ajaran Tuhan – Kis 13:11-12). Mulai saat itu, Kitab Kisah Para Rasul tidak lagi berbicara mengenai Saulus, tetapi Paulus. Apakah gubernur memberi kuasa kepadanya untuk menggunakan nama keluarganya ? Bagi Paulus, yang sudah warga negara Roma (Kis 16:37), merupakan suatu langkah lebih jauh, untuk masuk dalam dunia bukan Yahudi.

Sekali tugas misi mulai, Paulus menjadi pemimpin. Mereka tidak menetap di Siprus, mereka meninggalkan kaum beriman di situ yang telah dibina secara singkat. Ketika mereka tiba di daratan Perga, wilayah yang tidak ramah, Yohanes Markus meninggalkan mereka. Rupanya rencana Paulus yang begitu berani menakutkan dia, mereka malalui rangkaian gunung dari Turki (sekarang) dan selanjutnya meneruskan perjalanan ke ibu kota Pisidia yakni Antiokia (berbeda dengan Antiokia yang lain). Lukas menguraikan secara rinci kejadian-kejadian di Antiokia – Pisidia, karena menggambarkan situasi yang khas yang akan dihadapi Paulus di berbagai bagian kekaisaran Roma.

Paulus berbicara pada pertemuan hari Sabat di dalam Sinagoga (rumah doa orang Yahudi). Dalam ibadat itu didaraskan mazmur dan dibacakan Kitab Suci (yang diambil dari Perjanjian Lama). Lalu seseorang atau beberapa pemimpin memberi penjelasan. Karena Paulus seorang tamu, maka untuk menghormatinya mereka minta dia untuk berbicara.

Khotbah Paulus, yang lebih banyak berhubungan dengan sejarah Israel, tidak begitu menarik bagi kita sekarang seperti halnya khotbah Petrus (Kis 2) dan Stefanus (Kis 7). Tetapi inilah cara berkhotbah menurut orang Yahudi dan bagi semua perantauan, tidak ada yang lebih menarik dari pada kaum perantauan, mereka diingatkan kembali tentang sejarah masa lalu yang telah mereka hafal untuk memberikan jati diri bagi mereka di antara orang lain. Demikian Paulus menampilkan kembali sejarah itu, menekankan kenyataan-kenyataan yang memberi arti dan secara jelas mengarah kepada Kristus. Paulus menunjukkan bahwa Injil Allah kepada Israel telah terpenuhi dalam kebangkitan Kristus (Dan kami sekarang memberitakan kabar kesukaan kepada kamu, yaitu bahwa janji yang diberikan kepada nenek moyang kita, telah digenapi Allah kepada kita, keturunan mereka, dengan membangkitkan Yesus, seperti yang ada tertulis dalam mazmur kedua: Anak-Ku Engkau! Aku telah memperanakkan Engkau pada hari ini – Kis 13:32-33).

Di sini kita mempunyai sebuah cara memahami Injil yang tidak boleh kita tinggalkan, perlu kita pahami bahwa iman Yahudi dan kemudian iman Kristiani berkaitan dengan ‘sejarah’. Ini berarti bahwa Allah telah diwahyukan melalui sejarah. Iman kita bukan sebuah doktrin yang dikembangkan oleh para pemikir, bukan pula muncul dari suatu legenda. Hal itu juga berarti bahwa kebangkitan Yesus menandakan suatu titik tolak baru untuk semua sejarah umat manusia dan setiap perjalanan waktu yang menunjuk kepada akhir, di mana akan ada penghakiman dan Kerajaan Allah. Kita tidak bisa mengatakan bahwa suatu doktrin itu selalu benar, tetapi kita harus menunjukkan bagaimana Injil itu merupakan suatu kekuatan yang hidup dan bagaimana Roh Allah itu berkarya dalam setiap peristiwa.

Para pendengar Paulus memberi reaksi dengan berbagai cara. Mereka yang mendengarkan bukan semuanya orang Yahudi, tetapi ada juga orang “yang takut akan Tuhan” atau “dari kepercayaan lain”, seperti yang telah kita jumpai dalam diri orang Etiopia (Adalah seorang Etiopia, seorang sida-sida, pembesar dan kepala perbendaharaan Sri Kandake, ratu negeri Etiopia, yang pergi ke Yerusalem untuk beribadah. Sekarang orang itu sedang dalam perjalanan pulang dan duduk dalam keretanya sambil membaca kitab nabi Yesaya. – Kis 8:27-28) dan Kornelius (Ketika Petrus masuk, datanglah Kornelius menyambutnya, dan sambil tersungkur di depan kakinya, ia menyembah Petrus – Kis 10:25), mereka ini dianggap kaum beriman kelas dua oleh orang Yahudi.

Pada kata-kata pendahuluannya Paulus menyapa mereka semua seperti ia menyapa orang-orang Yahudi. Selanjutnya dalam khotbahnya ia tidak menekankan ketaatan pada hukum Taurat yang hanya berlaku bagi orang-orang Yahudi yang membuat mereka merasa lebih tinggi dari orang lain, melainkan ia menegaskan bahwa hukum Taurat berada di bawahnya. Ia mengutamakan janji Allah kepada semua orang. Mereka ‘yang takut akan Tuhan’ merasa gembira oleh Injil yang menjadikan mereka anak-anak Allah sama seperti orang-orang Yahudi.

Mereka mengundang Paulus untuk berbicara mengenai pokok yang sama pada hari Sabat berikutnya. Pada saat itu Paulus membuat suatu keputusan penting, dari pada membatasi diri bertemu orang-orang Yahudi, selama minggu itu ia lebih suka pergi kepada mereka yang ‘takut kepada Tuhan’ , yakni mereka yang telah ia pengaruhi karena ia tidak pilih-pilih suku. Mereka inilah yang mengumpulkan orang-orang lain untuk pertemuan hari Sabat berikutnya, orang-orang kafir yang dulu tidak pernah bergabung dengan orang-orang Yahudi, sekarang mau bergabung dengannya.

Krisis mulai terjadi, pertemuan itu terbagi menjadi dua kelompok, kelompok Yahudi yang sangat tertutup dan angkuh merasa takut ketika dikelilingi oleh orang-orang kafir yang ‘tidak bersih’, mereka menentang Paulus dan berusaha mengusir Paulus keluar setiap ada kesempatan. Wanita-wanita yang kaya dan saleh berada di antara kelompok ini. Sejak dari itu terbentuklah sebuah jemaat Kristen yang memisahkan diri dari kelompok Yahudi (Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen – Kis 11:26).

Apakah peristiwa ini masih aktual untuk umat sekarang ? Jika Gereja kita kurang mengalami krisis, itu mungkin disebabkan rasul masih sedikit seperti pada masa Paulus dan kita belum memperoleh kunjungan dari seseorang yang akan didengar di balik tembok kita.

Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya (Kis 13:48). Ayat ini tidak bermaksud menghukum mereka yang tidak percaya, tetapi mau mengungkapkan bahwa beriman adalah suatu karunia bagi mereka yang percaya, Allah menyatu dengan hidup mereka dan menjadikan mereka pembawa berita mengenai hidup Ilahi yang akan mengubah dunia (Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. - Yoh 17:3)

(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pstoral Katolik)

Read more .....

PAULUS UTUSAN YESUS


Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: "Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?" (Kis 9:3-4)

Inilah peristiwa yang menentukan dalam permulaan Gereja, Kristus datang secara pribadi untuk mengalahkan penganiaya orang-orang Kristen yang paling bengis. Pertobatan Saulus yang kemudian menjadi Paulus, rasul para bangsa, terdapat juga dalam Kis 22 dan 26.
Sungguh salah melukiskan Paulus sebagai seorang jahat yang akhirnya menemukan jalan yang benar. Seperti dalam Kis 22:3-4 ("Aku adalah orang Yahudi, lahir di Tarsus di tanah Kilikia, tetapi dibesarkan di kota ini; dididik dengan teliti di bawah pimpinan Gamaliel dalam hukum nenek moyang kita, sehingga aku menjadi seorang yang giat bekerja bagi Allah sama seperti kamu semua pada waktu ini. Dan aku telah menganiaya pengikut-pengikut Jalan Tuhan sampai mereka mati; laki-laki dan perempuan kutangkap dan kuserahkan ke dalam penjara), di sini Paulus memberi kesaksian pribadi, ia menegaskan bahwa ia masih setia kepada agama yang diwariskan oleh nenek moyangnya, sama seperti Gamaliel (Tetapi seorang Farisi dalam Mahkamah Agama itu, yang bernama Gamaliel, seorang ahli Taurat yang sangat dihormati seluruh orang banyak, bangkit dan meminta, supaya orang-orang itu disuruh keluar sebentar. - Kis 5:34) dan Ananias seorang Kristen Yahudi yang sangat taat kepada Hukum Taurat (Di situ ada seorang bernama Ananias, seorang saleh yang menurut hukum Taurat dan terkenal baik di antara semua orang Yahudi yang ada di situ. - Kis 22:12), tetapi ia tidak mampu memisahkan diri dari Kristus dalam hidupnya.
Reaksi keras timbul dari orang-orang Yahudi, ketika Paulus berkata bahwa orang-orang kafir musuh-musuh orang Yahudi, orang yang tidak suci dan menjadi musuh Allah, akan turut ambil bagian dalam keistimewaan orang-orang Yahudi (Tetapi kata Tuhan kepadaku: Pergilah, sebab Aku akan mengutus engkau jauh dari sini kepada bangsa-bangsa lain." Rakyat mendengarkan Paulus sampai kepada perkataan itu; tetapi sesudah itu, mereka mulai berteriak, katanya: "Enyahkan orang ini dari muka bumi! Ia tidak layak hidup!" – Kis 22:21-22). Hal yang sama juga dikenakan pada Yesus (Kata Yesus kepada mereka: "Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita. - Mat 21:42)
Musuh-musuh Paulus juga mengkritik otoritasnya, bahwa ia bukan seorang rasul seperti rasul lain yang dipilih oleh Yesus sendiri, tetapi dalam pembelaannya dalam surat kepada umat di Galatia, Paulus mengatakan bahwa ia sendiri dipilih oleh Allah sendiri sejak dalam kandungan (Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya, berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, maka sesaat pun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia – Gal 1:15-16). Apa yang dikatakan Paulus di sini sama dengan apa yang ditulis dalam Kis 9 (Tetapi firman Tuhan kepadanya: "Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel. Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku." – Kis 9:15-16).
Paulus bukan saja melihat Kristus, ia juga menemukan kehadiran intim Kristus dalam dirinya. Tepat waktu ia dipanggil, ia juga memahami hal ini secara total dari iman. Kasus Paulus, yang dipanggil oleh Kristus secara langsung, adalah sesuatu yang istimewa. Namun demikian, kita melihat bahwa Paulus tidak memaksakan dirinya dalam Gereja. Kirstus mengutusnya menemui Ananias untuk minta dibaptis (Lalu pergilah Ananias ke situ dan masuk ke rumah itu. Ia menumpangkan tangannya ke atas Saulus, katanya: "Saulus, saudaraku, Tuhan Yesus, yang telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui, telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus." Dan seketika itu juga seolah-olah selaput gugur dari matanya, sehingga ia dapat melihat lagi. Ia bangun lalu dibaptis. – Kis 9:17-18).
Setelah itu, ia bergabung dengan Petrus, yang diakui sebagai kepala Gereja, dan Yakobus, pemimpin gereja Yerusalem (Lalu, tiga tahun kemudian, aku pergi ke Yerusalem untuk mengunjungi Kefas, dan aku menumpang lima belas hari di rumahnya. – Gal 1:18). Persekutuan ini sangat penting untuk bertindak atas nama Gereja, tetapi hal ini tidak sama dengan ketaatan yang terdapat dalam militer atau antara seorang bos dan bawahan. Paulus mengatakan : “Mereka mengakui rahmat-rahmat yang diberikan Tuhan kepadaku.” – (Dan setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus, Kefas dan Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru jemaat, berjabat tangan dengan aku dan dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang yang tidak bersunat dan mereka kepada orang-orang yang bersunat - Gal2:9) – yaitu mereka mengakui bahwa Roh Kudus bekerja dalam diri Paulus juga. Para pemimpin Gereja tidak membuat keputusan sendiri, mereka berusaha menjawab Roh Kudus yang berbicara lewat peristiwa-peristiwa.
Paulus sejak masa mudanya merasa perlu mengabdikan diri dalam pelayanan Tuhan. Itulah sebabnya ia pergi ke Yerusalem untuk mempelajari Hukum Taurat, yaitu agama yang memiliki guru-guru yang terbaik pada zaman itu (Kis 22:3). Perhatiannya terhadap sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan, menjadikannya seorang yang tidak berkeinginan untuk berkeluarga. Ia seorang muda yang dapat dipercaya dan bertanggung-jawab, karena itu orang-orang Yahudi mempercayakan kepadanya tugas yang sulit, yakni membasmi ajaran-ajaran yang baru dan menyesatkan yang berasal dari orang-orang Kristen dari kalangan mereka. Paulus diberi tugas untuk menghalangi para pengikut Kristus dan itu dilakukannya dengan cara kejam demi kepentingan agamanya (tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat. – Flp 3:6).
Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: "Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?" (Kis 9:4) ‘Siapakah Tuhan ini yang menyebut aku penganiaya, padahal ambisiku hanya melayani Allah ?’ Sampai saat itu Paulus merasa baik-baik saja seperti kaum Farisi yang menganggap dirinya benar dalam perumpamaan tentang orang Farisi dan pemungut cukai dalam Luk 18:9-14. Dan ia juga bersyukur kepada Allah karena telah membuat dia menjadi seorang yang bertanggung jawab, dipercaya dan seorang beriman yang aktif. Tetapi sekarang, berhadapan dengan terang Kristus, ia menjadi sadar bahwa apa yang telah dilakukannya, terutama tugas-tugas perlayanannya tidak berguna bagi Allah, imannya itu hanyalah suatu kebanggaan semu (Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus – Flp 3:7-8).
Paulus menyadari diri sebagai seorang yang berdosa, kejam, dan penganiaya, tetapi bersama dengan itu iapun menyadarai bahwa Allah menyambutnya, memilihnya, dan mengampuninya, “orang ini akan menjadi alat pilihan-Ku” (Kis 9:15). Paulus bukan lagi orang Farisi dalam perumpamaan, tetapi ia lebih menempatkan dirinya di tempat pemungut cukai. “Allahku, ampunilah aku, orang berdosa !” Inilah pertobatan khas dari seorang Kristen yang militan (Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini – Luk 18:13). Betapapun aktifnya kita, kita tidak akan mampu tampil sebagai saksi-saksi Kristus, jika tidak mengakui diri sebagai seorang pendosa yang diampuni, itulah sebabnya orang-orang Kristen prihatin akan rekonsialisi semesta.
Mulai saat itu Saulus, yang kemudian menjadi Paulus, akan menjadi alat pilihan Kristus, untuk menyebarkan Gereja ke negara-negara lain. Sampai saat itu Gereja yang dipimpin dan terdiri dari orang-orang Yahudi tidak keluar dari bangsa Yahudi.
Paulus juga adalah seorang Yahudi, tetapi ia dididik di luar negaranya, Ia menyukai budaya Yunani sama seperti ia menyukai budayanya sendiri. Karena hal itu dan karena kepribadiannya yang khas, ia menjadi rasul dari orang-orang Yunani. Gereja harus terus menerus memperbarui diri, dan diperbarui dengan menobatkan kaum muda. Jamaat Kristen, bahkan ketika mereka mau membuka diri kepada orang-orang yang tidak ambil bagian dalam masalah-masalah jemaat (contoh kaum pekerja, kadang-kadang kaum muda), biasanya tidak mampu untuk benar-benar membuka diri. Dengan demikian Allah memanggil orang-orang tertentu dari latar belakang yang berbeda, yang begitu menerima iman Gereja, mampu mewartakan dalam lingkungan mereka sendiri dan tetap mempertahankan kebebasan mereka dalam kelompok tradisonilnya.
Pada masa-masa gawat dalam perjalanan sejarah, Krsitus selalu memanggil pria maupun wanita untuk melayani Gereja di manapun dibutuhkan, antara lain Fransiskus dari Asisi, dan yang lebih dekat dengan kita, Paus Yohanes XXIII.
Jalan, inilah sebutan agama Kristen, kata itu mengungkapkan kenyataan bahwa itu bukan hanya masalah ajaran keagamaan, tetapi terlebih suatu cara hidup baru, yang dijiwai oleh iman, harapan dan kasih.
(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pastoral Katolik)

Read more .....

SIAPAKAH BARNABAS BAGI PAULUS ?

Seorang yang penting sekali, sesudah Ananias, Barnabaslah orang yang paling berjasa bagi Paulus. Kepada Ananias Paulus berhutang budi bagi langkahnya yang pertama untuk masuk dan diterima dalam jamaah, tetapi sesudah itu Paulus berhutang budi kepada Barnabas untuk segalanya.

Bagi Paulus, Barnabas adalah tokoh yang mencarinya, yang mengertinya dan mendukungnya. Ia adalah sahabatnya, bapa rohaninya, gurunya dalam kerasulan, tokoh yang mengantarnya ke dalam pengalaman kerasulan.

Marilah kita melihat beberapa teks. Sesudah lari dari Damsyik, Saulus pergi ke Yerusalem, ia “mencoba menggabungkan diri kepada murid-murid, tetapi semuanya takut kepadanya, karena mereka tidak dapat percaya, bahwa ia juga seorang murid”. (Kis 9: 26)

Kecurigaan, yang tadinya ada antara Yerusalem dan Antiokhia, waktu itu di Yerusalem ditujukan kepada pendatang baru, itu yang tidak diketahui apa maunya.

Teksnya dilanjutkan : “Tetapi Barnabas menerima dia dan membawanya kepada rasul-rasul dan menceritakan kepada mereka, bagaimana Saulus melihat Tuhan di tengah jalan dan bahwa Tuhan berbicara dengan dia dan bagaimana keberaniannya mengajar di Damsyik dalam nama Yesus”. (Kis 9: 27)

Betapa bagusnya jika kita dapat menafsirkan teks tersebut kata demi kata, “Barnabas menerima dia”. Kata kerja Yunani yang dipakai berbunyi “epilabomenos”, sama dengan kata kerja yang dipakai untuk melukiskan Yesus yang memegang tangan Petrus yang nyaris tenggelam di danau karena tiupan angin (Mat 14: 31). Kita dapat menggambarkan Paulus sedang kebingungan di Yerusalem, semua orang menutup pintu terhadapnya, tak ada tempat, bahkan hanya untuk tidurpun tidak ada. Barnabas mengulurkan tangan dan berkata kepadanya : ”Datanglah bersamaku, aku menemani engkau, aku memperkenalkan engkau”.

Melalui Barnabas, terbukalah pintu-pintunya bagi Paulus, diceritakan dalam Kisah : “Dan Saulus tetap bersama-sama dengan mereka di Yerusalem, dan dengan keberanian mengajar dalam nama Tuhan”. (Kis 9: 28)

Juga selanjutnya, ketika dibicarakan hal jemaah di Antiokhia, Barnabas disebutkan sebagai yang pertama di antara para nabi. “Pada waktu itu dalam jamaah di Antiokhia ada beberapa nabi dan penajar, yaitu : Barnabas dan Simeon yang disebut Niger, dan Lukius orang Kirene, dan Menahem yang diasuh bersama dengan raja wilayah Herodes, dan Saulus” (Kis 13: 1). Jadi umat di Antiokhia mengakui para nabi, yang disebutkan pertama adalah Barnabas dan Saulus disebutkan yang terakhir. Kita memang tahu mengapa begitu, “Lalu pergilah Barnabas ke Tarsus untuk mencari Saulus; dan setelah bertemu dengan dia, ia membawanya ke Antiokhia. Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaah itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen” (Kis 11: 25-26)

Di balik ayat itu tampaklah adanya kerja sama yang mengagumkan antara Barnabas dan Paulus. Barnabas adalah yang pertama di antara para nabi, Paulus adalah pendatang terakhir. Tetapi Barnabas mampu menilai mutu Paulus, Barnabas mengantarnya memasuki kegiatan yang akan menjadi paling berbuah dalam seluruh Gereja kuno; kegiatan yang melahirkan kekristenan yang begitu besar dampaknya, sehingga menyebabkan timbulnya sebutan “Kristen”. Sungguh suatu jemaah yang mulai dikenal benar-benar di dalam sejarah. Itulah semua arti Barnabas bagi Paulus.

Barnabas juga orang yang pertama yang dipilih oleh Roh untuk perutusan, dilukiskan permulaan perutusan yang kemudian akan menjadi perutusan besar kepada kaum kafir : “Pada suatu hari ketika berpuasa, berkatalah Roh Kudus : Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka” (Kis 13: 2) Barnabas adalah orang yang pertama dan Saulus digabungkan padanya, Barnabas adalah kepala perutusan baru itu. Dalam melukiskan hal itu, penulis selalu menyebutkan nama Barnabas yang pertama. Urutan tersebut bukannya tanpa arti, Barnabas tokoh yang diakui secara resmi sebagai kepala perutusan. Pada ayat 7 dikatakan, bahwa mereka datang pada gubernur, seorang cerdas, yang “memanggil Barnabas dan Saulus, karena ia ingin mendengar firman Allah”. (Kis 13: 7)

Namun dalam perutusan itu pribadi Paulus mulai tampil secara cepat, beberapa ayat sesudahnya kita melihat bahwa Saulus menjadi pelaku utama, yaitu ketika tukang sihir Elimas menjadi buta. “Saulus, yang disebut juga Paulus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap dia dan berkata : Hai anak iblis, engkau penuh dengan rupa-rupa tipu muslihat dan kejahatan” (Kis 13: 9). Sesudah itu dikatakan : “Lalu Paulus dan kawan-kawannya meninggalkan Pafos dan berlayar ke Perga di Pamfilia” (Kis 13: 13). Dengan demikian Barnabas telah tergeser ke tingkat “kawan”.

Di sini kita dapat menyaksikan perlahan-lahan adanya perubahan psikologis dan pergantian peranan dalam perutusan awal itu. Sedikit demi sedikit perubahan-perubahan itu menjadi kenyataan. Pidato pertama dalam perutusan yang dilukiskan oleh Kisah Para Rasul bab 15 diucapkan bukannya oleh Barnabas, melainkan oleh Paulus, “Maka bangkitlah Paulus. Ia memberi isyarat dengan tangannya, lalu berkata : Hai orang-orang Israel...” (Kis 13: 16). Sayang bahwa justru pada waktu itu Yohanes Markus pergi, sehingga jumlah anggota perutusan itu berkurang.

Dalam seluruh perutusan pertama, kita menyaksikan peralihan peranan pertama dari Barnabas ke Paulus. Dalam peristiwa di Listra, ketika kaum kafir menyaksikan penyembuhan orang lumpuh dan mengira kedua rasul itu dewa, teksnya berbunyi : “Barnabas mereka sebut Zeus dan Paulus mereka sebut Hermes” (Kis 14: 12). Di situ Barnabas dipandang sebagai yang tua, pria berjanggut panjang yang mengesankan sebagai tokoh berusia lanjut, sedangkan Paulus dilihat sebagai tokoh aktif, berprakarsa dan mampu berbicara. Jadi peranannya dibagi dan orang berganti-ganti pendapat dalam menentukan mana yang bertindak sebagai tokoh utama. “Mendengar itu Barnabas dan Paulus mengoyakkan pakaian mereka, lalu terjun ke tengah-tengah orang banyak itu sambil berkata : Hai kamu sekalian, mengapa kamu berbuat demikian ?” (Kis 14: 14-15). Barnabas ditempatkan dalam urutan pertama.

Tidak lama kemudian timbul perlawanan berat terhadap perutusan mereka dan – menurut teksnya – Paulus sampai dilempari batu dan diseret ke luar kota. Meskipun belum begitu jelas siapa yang dipandang sebagai kepala perutusan yang sebenarnya, namun jelas bahwa sedikit demi sedikit Paulus menjadi lebih penting di mata orang. Perutusan itu berakhir tanpa perpecahan, kecuali peristiwa perginya Markus yang memang membuat kedua rasul itu pahit, tetapi untuk sementara waktu tidak menimbulkan kesulitan.

Bab berikutnya, yaitu Kisah bab 15, melukiskan Paulus dan Barnabas bekerja sama erat sekali, namun selanjutnya Paulus selalu disebutkan terlebih dahulu, baru sesudah itu Barnabas. Keduanya sependapat secara penuh dan bekerja bersama-sama dengan tujuan yang sama dalam menentang kaum Yahudi yang mau memaksakan sunat pada kaum kafir yang bertobat. Seluruh bab 15 masih ditampilkan di bawah panji kerja sama yang berharga di antara keduanya.

(Kesaksian Santo Paulus, “Le Confessioni di Paolo” karya Kardinal Mgr.Carlo Maria Martini, Uskup Agung Milano)

Read more .....

SIAPAKAH BARNABAS ITU ?

Salah seorang tokoh besar Gereja purba, adalah salah seorang paling pertama yang menanggapi Injil secara serius. Barangkali ia tidak mengenal Tuhan, tetapi ia begitu berjasa, sehingga Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes yang tadinya ada bersama Tuhan, memberikan kepercayaan kepadanya.

Ia termasuk orang pertama yang percaya kepada kata-kata para rasul, salah seorang pertama yang menyerahkan diri, orang pertama yang menjual segalanya. Ia diperkenalkan oleh Kisah Para Rasul : “Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus. Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul” (Kis 4: 36-37)

Pada waktu jemaah belum berarti apa-apa sebagai kelompok kecil yang terdiri dari orang-orang yang barangkali tampaknya fanatik, Barnabas percaya, melepaskan segala-galanya dan menggabungkan diri secara penuh pada para rasul menjadi pengikut Kristus. Oleh sebab itu ia disebut “anak penghiburan”.

Sebagai pribadi, Barnabas itu seorang tokoh yang penuh hikmat, optimisme, memancarkan kepercayaan. Orang lain senang mengikuti dia dan menaruh kepercayaan kepadanya.

Dalam kenyataannya kita memang melihat dia dimanfaatkan untuk perutusan yang amat penting, namanya kembali lagi dalam bab 11 Kisah Para Rasul. Ketika harus diteliti apa yang sebenarnya terjadi di Antiokhia, Barnabas diutus dari Yerusalem. Ia pergi ke Antiokhia, “setelah datang dan melihat kasih karunia Allah, bersukacitalah ia. Ia menasehati mereka, supaya mereka semua tetap setia kepada Tuhan, karena Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman. Sejumlah orang dibawa kepada Tuhan” (Kis 11: 23-24)

Barnabas adalah seorang tokoh yang mampu mengenali keaslian Kristianisme di Antiokhia yang menjadi asal-usul Kristianisme Barat Yunani dan Kristianisme Asia Kecil.

Tanpa dia, Gereja akan tetap terbelenggu oleh pandangan kaum Kristiani-Yahudi Yerusalem, entah sampai berapa lama. Barnabas mempunyai intuisi mendalam, bebas dari prasangka dan ketakutan. Ia juga mampu menjadi penengah : menenangkan Yerusalem dan menyemangati Antiokhia, sehingga terhindarlah perpecahan. Jadi, ia sungguh seorang tokoh berharga bagi Kristianisme purba.

(Kesaksian Santo Paulus, “Le Confessioni di Paolo” karya Kardinal Mgr.Carlo Maria Martini, Uskup Agung Milano)


Read more .....