8/22/2014

BUNDA RATU

Dalam kerajaan Daud, apabila seorang raja naik tahta, ibunya diberi gelar khusus sebagai “gebirah”, yang dalam bahasa Ibrani berarti “nyonya besar” atau “ratu”. Sebagai bunda ratu, ia memiliki kedudukan khusus kedua yang sangat berkuasa dalam kerajaan, yaitu kedua sesudah sang raja sendiri.

Bunda ratu adalah istri dari raja terdahulu dan sekaligus ibu dari raja yang sekarang bertahta. Maka bunda ratu menjadi simbol dari martabat rajawi sang raja, yang mengikat dia dengan darah rajawi ayahya. Dalam arti ini, bunda ratu menjamin keabsahan kedudukan sang raja dalam garis dinasti yang bersangkutan.
Sejumlah kutipan Perjanjian Lama memperlihatkan peran penting bunda ratu dalam kerajaan Daud. Misalnya, bisa kita baca Kitab Raja-raja ke 1 dan ke 2, kedua kitab ini menuturkan sejumlah raja yang memerintah atas Israel. Sangat mengesankan, hampir setiap kali cerita memperkenalkan seorang raja baru di Yehuda, ia selalu menyebut ibunda sang raja, sambil menggaris-bawahi perannya dalam suksesi dinasti kerajaan.
Dalam lingkungan Israel kuno, bunda ratu bukan hanya sosok utama, lebih tepat dikatakan bahwa ia menduduki jabatan dengan kekuasaan yang nyata dalam kerajaan. Barangkali contoh yang paling baik dari peran penting bunda ratu adalah Batsyeba, istri Daud dan ibunda Salomo.
Batsyeba masuk menghadap raja Salomo untuk membicarakan hal itu untuk Adonia, lalu bangkitlah raja mendapatkannya serta tunduk menyembah kepadanya; kemudian duduklah ia di atas takhtanya dan ia menyuruh meletakkan kursi untuk bunda raja, lalu perempuan itu duduk di sebelah kanannya. Berkatalah perempuan itu: "Suatu permintaan kecil saja yang kusampaikan kepadamu, janganlah tolak permintaanku." Jawab raja kepadanya: "Mintalah, ya ibu, sebab aku tidak akan menolak permintaanmu." (1 Raj 2 : 19-20)
Kisah ini mengungkapkan wibawa istimewa dari bunda ratu, dulu ketika ia seorang istri raja, ia harus bersujud kalau menghadap raja Daud, tetapi sekarang sebagai bunda ratu, sang rajalah yang bangkit dan bersujud ketika menyambutnya. Di sini Salomo memberikan tempat duduk kepada ibundanya, Batsyeba di sisi kanannya. Tindakan ini penuh dengan simbolisme rajawi, dalam Alkitab, sisi kanan adalah tempat yang paling terhormat, misalnya dalam Mazmur (Demikianlah firman TUHAN kepada tuanku: "Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu." - Mzm 110 : 1) melukiskan bagaimana Mesias akan duduk di sisi kanan Allah dan memerintah atas segala bangsa. Dengan cara yang sama surat Ibrani melukiskan Kristus duduk di sisi kanan Bapa, memerintah segala mahluk, ditinggikan di atas semua malaikat dan orang-orang kudus (Dan kepada siapakah di antara malaikat itu pernah Ia berkata: "Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu?" - Ibr 1 : 13)
Dalam 1 Raja-raja 2 : 17 kita jumpai seorang bernama Adonia, dimana ia dengan penuh keyakinan minta kepada Batsyeba (bunda ratu) untuk menyampaikan satu permintannya kepada raja Salomo, Adonia berkata kepada Batsyeba, Maka katanya: "Bicarakanlah kiranya dengan raja Salomo, sebab ia tidak akan menolak permintaanmu, supaya Abisag, gadis Sunem itu, diberikannya kepadaku menjadi isteriku." (1 Raj 2 : 17)
Ketika Batsyeba menyampaikan menyampaikan permintaan itu, maka raja Salomo menjawab : "Mintalah, ya ibu, sebab aku tidak akan menolak permintaanmu." (1 Raj 2 : 20) Kata-kata Salomo mengungkapkan komitmen total sang raja terhadap pemintaan itu.
Dalam injil Lukas banyak bicara tentang tugas “rajawi” Maria. Sungguh dalam peristiwa Kabar Suca-cita, Lukas menunjukkan kepada kita bahwa Maria diberi panggilan untuk menjadi bunda ratu dalam kerajaan Yesus.
Ketika Malaikat Gabriel menampakkan diri kepada Maria, Maria diberitahu bahwa dirinya akan menjadi ibu dari seorang Putra yang akan duduk sebagai raja, yang akan memulihkan kerajaan Daud. Anak ini akan menjadi penggenapan banyak nubuat yang mengatakan bagaimana Mesias akan mengokohkan kerajaan Allah dan akan meraja selama-lamanya. (Dialah yang akan mendirikan rumah bagi nama-Ku dan Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya untuk selama-lamanya - 2 sam 7 : 13)
Kemudian Malaikat berkata : “Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan." (Luk 1 : 31-33)
Kalau seorang Yahudi kuno mendengar tentang seorang perempuan dalam keluarga Daud melahirkan seorang raja baru dari dinasti Daud, ia akan dengan mudah menyimpulkan, bahwa dia itu bunda ratu. Dan inilah persis panggilan Maria yang disampaikan pada peristiwa Kabar Sukacita. Maria adalah bunda ratu dari seorang yang akan duduk diatas “tahta Daud, bapak leluhur-Nya” dan yang “kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan”.
Tugas “rajawi” Maria lebih explisit lagi dalam peristiwa kunjungannya ke Elisabet sanaknya yang sedang mengandung Yohanes Pembaptis. Injil Lukas menulis, bahwa “Elisebet pun penuh dengan Roh Kudus dan berseru”, berarti apa yang diserukan oleh Elisabet kepada Maria adalah ungkapan dari Roh Kudus sendiri yang ditujukan kepada Maria, melalui Elisabet. Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana." (Luk 1 : 41-45)
Jadi kalau orang-orang Katolik menghormati Maria ratu dan dalam doa Salam Maria menyebut Bunda Allah, sebenarnya kita hanya mengikuti teladan Elisabet yang dipenuhi Roh Kudus, yang adalah orang pertama dalam Alkitab yang secara explisit mengakui jabatan ratu yang disandang Maria sebagai “Ibu Tuhanku”, dan sesungguhnya adalah ungkapan dari Roh Kudus sendiri.
(Disari dari buku : Catholic for a Reason II, by Dr. Scott Hahn)

Read more .....

6/11/2014

MISI PERTAMA RASUL PAULUS


Karya pewartaan pertama ini dimulai dengan cara yang masih sederhana. Orang Yahudi dapat menjalajahi wilayah kekaisaran Roma, di setiap kota penting mereka menemukan orang-orang Yahudi yang berdagang dan hidup dalam persekutuan dalam sinagoga-sinagoga. Dari Antiokia, Barnabas dan Saulus berlayar ke pulau Siprus, ke kota kelahiran Barnabas (Oleh karena disuruh Roh Kudus, Barnabas dan Saulus berangkat ke Seleukia, dan dari situ mereka berlayar ke Siprus – Kis 13:4).

Pertemuan dengan Sergius Paulus mempunyai nilai penting (Ia-[Baryesus] adalah kawan gubernur pulau itu, Sergius Paulus, yang adalah orang cerdas. Gubernur itu memanggil Barnabas dan Saulus, karena ia ingin mendengar firman Allah – Kis 13:7), Injil tidak hanya meyakinkan orang-orang sederhana, melainkan juga mereka yang berkuasa. Paulus menyadari bahwa ia harus memberi kesaksian di hadapan “para raja dan penguasa” (Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan." - Luk 12:12). Karunia kenabian dari Saulus mulai tampak, ketika dia bertemu dengan Sergius Paulus (Sekarang, lihatlah, tangan Tuhan datang menimpa engkau, dan engkau menjadi buta, beberapa hari lamanya engkau tidak dapat melihat matahari." Dan seketika itu juga orang itu merasa diliputi kabut dan gelap, dan sambil meraba-raba ia harus mencari orang untuk menuntun dia. Melihat apa yang telah terjadi itu, percayalah gubernur itu; ia takjub oleh ajaran Tuhan – Kis 13:11-12). Mulai saat itu, Kitab Kisah Para Rasul tidak lagi berbicara mengenai Saulus, tetapi Paulus. Apakah gubernur memberi kuasa kepadanya untuk menggunakan nama keluarganya ? Bagi Paulus, yang sudah warga negara Roma (Kis 16:37), merupakan suatu langkah lebih jauh, untuk masuk dalam dunia bukan Yahudi.

Sekali tugas misi mulai, Paulus menjadi pemimpin. Mereka tidak menetap di Siprus, mereka meninggalkan kaum beriman di situ yang telah dibina secara singkat. Ketika mereka tiba di daratan Perga, wilayah yang tidak ramah, Yohanes Markus meninggalkan mereka. Rupanya rencana Paulus yang begitu berani menakutkan dia, mereka malalui rangkaian gunung dari Turki (sekarang) dan selanjutnya meneruskan perjalanan ke ibu kota Pisidia yakni Antiokia (berbeda dengan Antiokia yang lain). Lukas menguraikan secara rinci kejadian-kejadian di Antiokia – Pisidia, karena menggambarkan situasi yang khas yang akan dihadapi Paulus di berbagai bagian kekaisaran Roma.

Paulus berbicara pada pertemuan hari Sabat di dalam Sinagoga (rumah doa orang Yahudi). Dalam ibadat itu didaraskan mazmur dan dibacakan Kitab Suci (yang diambil dari Perjanjian Lama). Lalu seseorang atau beberapa pemimpin memberi penjelasan. Karena Paulus seorang tamu, maka untuk menghormatinya mereka minta dia untuk berbicara.

Khotbah Paulus, yang lebih banyak berhubungan dengan sejarah Israel, tidak begitu menarik bagi kita sekarang seperti halnya khotbah Petrus (Kis 2) dan Stefanus (Kis 7). Tetapi inilah cara berkhotbah menurut orang Yahudi dan bagi semua perantauan, tidak ada yang lebih menarik dari pada kaum perantauan, mereka diingatkan kembali tentang sejarah masa lalu yang telah mereka hafal untuk memberikan jati diri bagi mereka di antara orang lain. Demikian Paulus menampilkan kembali sejarah itu, menekankan kenyataan-kenyataan yang memberi arti dan secara jelas mengarah kepada Kristus. Paulus menunjukkan bahwa Injil Allah kepada Israel telah terpenuhi dalam kebangkitan Kristus (Dan kami sekarang memberitakan kabar kesukaan kepada kamu, yaitu bahwa janji yang diberikan kepada nenek moyang kita, telah digenapi Allah kepada kita, keturunan mereka, dengan membangkitkan Yesus, seperti yang ada tertulis dalam mazmur kedua: Anak-Ku Engkau! Aku telah memperanakkan Engkau pada hari ini – Kis 13:32-33).

Di sini kita mempunyai sebuah cara memahami Injil yang tidak boleh kita tinggalkan, perlu kita pahami bahwa iman Yahudi dan kemudian iman Kristiani berkaitan dengan ‘sejarah’. Ini berarti bahwa Allah telah diwahyukan melalui sejarah. Iman kita bukan sebuah doktrin yang dikembangkan oleh para pemikir, bukan pula muncul dari suatu legenda. Hal itu juga berarti bahwa kebangkitan Yesus menandakan suatu titik tolak baru untuk semua sejarah umat manusia dan setiap perjalanan waktu yang menunjuk kepada akhir, di mana akan ada penghakiman dan Kerajaan Allah. Kita tidak bisa mengatakan bahwa suatu doktrin itu selalu benar, tetapi kita harus menunjukkan bagaimana Injil itu merupakan suatu kekuatan yang hidup dan bagaimana Roh Allah itu berkarya dalam setiap peristiwa.

Para pendengar Paulus memberi reaksi dengan berbagai cara. Mereka yang mendengarkan bukan semuanya orang Yahudi, tetapi ada juga orang “yang takut akan Tuhan” atau “dari kepercayaan lain”, seperti yang telah kita jumpai dalam diri orang Etiopia (Adalah seorang Etiopia, seorang sida-sida, pembesar dan kepala perbendaharaan Sri Kandake, ratu negeri Etiopia, yang pergi ke Yerusalem untuk beribadah. Sekarang orang itu sedang dalam perjalanan pulang dan duduk dalam keretanya sambil membaca kitab nabi Yesaya. – Kis 8:27-28) dan Kornelius (Ketika Petrus masuk, datanglah Kornelius menyambutnya, dan sambil tersungkur di depan kakinya, ia menyembah Petrus – Kis 10:25), mereka ini dianggap kaum beriman kelas dua oleh orang Yahudi.

Pada kata-kata pendahuluannya Paulus menyapa mereka semua seperti ia menyapa orang-orang Yahudi. Selanjutnya dalam khotbahnya ia tidak menekankan ketaatan pada hukum Taurat yang hanya berlaku bagi orang-orang Yahudi yang membuat mereka merasa lebih tinggi dari orang lain, melainkan ia menegaskan bahwa hukum Taurat berada di bawahnya. Ia mengutamakan janji Allah kepada semua orang. Mereka ‘yang takut akan Tuhan’ merasa gembira oleh Injil yang menjadikan mereka anak-anak Allah sama seperti orang-orang Yahudi.

Mereka mengundang Paulus untuk berbicara mengenai pokok yang sama pada hari Sabat berikutnya. Pada saat itu Paulus membuat suatu keputusan penting, dari pada membatasi diri bertemu orang-orang Yahudi, selama minggu itu ia lebih suka pergi kepada mereka yang ‘takut kepada Tuhan’ , yakni mereka yang telah ia pengaruhi karena ia tidak pilih-pilih suku. Mereka inilah yang mengumpulkan orang-orang lain untuk pertemuan hari Sabat berikutnya, orang-orang kafir yang dulu tidak pernah bergabung dengan orang-orang Yahudi, sekarang mau bergabung dengannya.

Krisis mulai terjadi, pertemuan itu terbagi menjadi dua kelompok, kelompok Yahudi yang sangat tertutup dan angkuh merasa takut ketika dikelilingi oleh orang-orang kafir yang ‘tidak bersih’, mereka menentang Paulus dan berusaha mengusir Paulus keluar setiap ada kesempatan. Wanita-wanita yang kaya dan saleh berada di antara kelompok ini. Sejak dari itu terbentuklah sebuah jemaat Kristen yang memisahkan diri dari kelompok Yahudi (Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen – Kis 11:26).

Apakah peristiwa ini masih aktual untuk umat sekarang ? Jika Gereja kita kurang mengalami krisis, itu mungkin disebabkan rasul masih sedikit seperti pada masa Paulus dan kita belum memperoleh kunjungan dari seseorang yang akan didengar di balik tembok kita.

Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya (Kis 13:48). Ayat ini tidak bermaksud menghukum mereka yang tidak percaya, tetapi mau mengungkapkan bahwa beriman adalah suatu karunia bagi mereka yang percaya, Allah menyatu dengan hidup mereka dan menjadikan mereka pembawa berita mengenai hidup Ilahi yang akan mengubah dunia (Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. - Yoh 17:3)

(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pstoral Katolik)

Read more .....

PAULUS UTUSAN YESUS


Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: "Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?" (Kis 9:3-4)

Inilah peristiwa yang menentukan dalam permulaan Gereja, Kristus datang secara pribadi untuk mengalahkan penganiaya orang-orang Kristen yang paling bengis. Pertobatan Saulus yang kemudian menjadi Paulus, rasul para bangsa, terdapat juga dalam Kis 22 dan 26.
Sungguh salah melukiskan Paulus sebagai seorang jahat yang akhirnya menemukan jalan yang benar. Seperti dalam Kis 22:3-4 ("Aku adalah orang Yahudi, lahir di Tarsus di tanah Kilikia, tetapi dibesarkan di kota ini; dididik dengan teliti di bawah pimpinan Gamaliel dalam hukum nenek moyang kita, sehingga aku menjadi seorang yang giat bekerja bagi Allah sama seperti kamu semua pada waktu ini. Dan aku telah menganiaya pengikut-pengikut Jalan Tuhan sampai mereka mati; laki-laki dan perempuan kutangkap dan kuserahkan ke dalam penjara), di sini Paulus memberi kesaksian pribadi, ia menegaskan bahwa ia masih setia kepada agama yang diwariskan oleh nenek moyangnya, sama seperti Gamaliel (Tetapi seorang Farisi dalam Mahkamah Agama itu, yang bernama Gamaliel, seorang ahli Taurat yang sangat dihormati seluruh orang banyak, bangkit dan meminta, supaya orang-orang itu disuruh keluar sebentar. - Kis 5:34) dan Ananias seorang Kristen Yahudi yang sangat taat kepada Hukum Taurat (Di situ ada seorang bernama Ananias, seorang saleh yang menurut hukum Taurat dan terkenal baik di antara semua orang Yahudi yang ada di situ. - Kis 22:12), tetapi ia tidak mampu memisahkan diri dari Kristus dalam hidupnya.
Reaksi keras timbul dari orang-orang Yahudi, ketika Paulus berkata bahwa orang-orang kafir musuh-musuh orang Yahudi, orang yang tidak suci dan menjadi musuh Allah, akan turut ambil bagian dalam keistimewaan orang-orang Yahudi (Tetapi kata Tuhan kepadaku: Pergilah, sebab Aku akan mengutus engkau jauh dari sini kepada bangsa-bangsa lain." Rakyat mendengarkan Paulus sampai kepada perkataan itu; tetapi sesudah itu, mereka mulai berteriak, katanya: "Enyahkan orang ini dari muka bumi! Ia tidak layak hidup!" – Kis 22:21-22). Hal yang sama juga dikenakan pada Yesus (Kata Yesus kepada mereka: "Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita. - Mat 21:42)
Musuh-musuh Paulus juga mengkritik otoritasnya, bahwa ia bukan seorang rasul seperti rasul lain yang dipilih oleh Yesus sendiri, tetapi dalam pembelaannya dalam surat kepada umat di Galatia, Paulus mengatakan bahwa ia sendiri dipilih oleh Allah sendiri sejak dalam kandungan (Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya, berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, maka sesaat pun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia – Gal 1:15-16). Apa yang dikatakan Paulus di sini sama dengan apa yang ditulis dalam Kis 9 (Tetapi firman Tuhan kepadanya: "Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel. Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku." – Kis 9:15-16).
Paulus bukan saja melihat Kristus, ia juga menemukan kehadiran intim Kristus dalam dirinya. Tepat waktu ia dipanggil, ia juga memahami hal ini secara total dari iman. Kasus Paulus, yang dipanggil oleh Kristus secara langsung, adalah sesuatu yang istimewa. Namun demikian, kita melihat bahwa Paulus tidak memaksakan dirinya dalam Gereja. Kirstus mengutusnya menemui Ananias untuk minta dibaptis (Lalu pergilah Ananias ke situ dan masuk ke rumah itu. Ia menumpangkan tangannya ke atas Saulus, katanya: "Saulus, saudaraku, Tuhan Yesus, yang telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui, telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus." Dan seketika itu juga seolah-olah selaput gugur dari matanya, sehingga ia dapat melihat lagi. Ia bangun lalu dibaptis. – Kis 9:17-18).
Setelah itu, ia bergabung dengan Petrus, yang diakui sebagai kepala Gereja, dan Yakobus, pemimpin gereja Yerusalem (Lalu, tiga tahun kemudian, aku pergi ke Yerusalem untuk mengunjungi Kefas, dan aku menumpang lima belas hari di rumahnya. – Gal 1:18). Persekutuan ini sangat penting untuk bertindak atas nama Gereja, tetapi hal ini tidak sama dengan ketaatan yang terdapat dalam militer atau antara seorang bos dan bawahan. Paulus mengatakan : “Mereka mengakui rahmat-rahmat yang diberikan Tuhan kepadaku.” – (Dan setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus, Kefas dan Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru jemaat, berjabat tangan dengan aku dan dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang yang tidak bersunat dan mereka kepada orang-orang yang bersunat - Gal2:9) – yaitu mereka mengakui bahwa Roh Kudus bekerja dalam diri Paulus juga. Para pemimpin Gereja tidak membuat keputusan sendiri, mereka berusaha menjawab Roh Kudus yang berbicara lewat peristiwa-peristiwa.
Paulus sejak masa mudanya merasa perlu mengabdikan diri dalam pelayanan Tuhan. Itulah sebabnya ia pergi ke Yerusalem untuk mempelajari Hukum Taurat, yaitu agama yang memiliki guru-guru yang terbaik pada zaman itu (Kis 22:3). Perhatiannya terhadap sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan, menjadikannya seorang yang tidak berkeinginan untuk berkeluarga. Ia seorang muda yang dapat dipercaya dan bertanggung-jawab, karena itu orang-orang Yahudi mempercayakan kepadanya tugas yang sulit, yakni membasmi ajaran-ajaran yang baru dan menyesatkan yang berasal dari orang-orang Kristen dari kalangan mereka. Paulus diberi tugas untuk menghalangi para pengikut Kristus dan itu dilakukannya dengan cara kejam demi kepentingan agamanya (tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat. – Flp 3:6).
Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: "Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?" (Kis 9:4) ‘Siapakah Tuhan ini yang menyebut aku penganiaya, padahal ambisiku hanya melayani Allah ?’ Sampai saat itu Paulus merasa baik-baik saja seperti kaum Farisi yang menganggap dirinya benar dalam perumpamaan tentang orang Farisi dan pemungut cukai dalam Luk 18:9-14. Dan ia juga bersyukur kepada Allah karena telah membuat dia menjadi seorang yang bertanggung jawab, dipercaya dan seorang beriman yang aktif. Tetapi sekarang, berhadapan dengan terang Kristus, ia menjadi sadar bahwa apa yang telah dilakukannya, terutama tugas-tugas perlayanannya tidak berguna bagi Allah, imannya itu hanyalah suatu kebanggaan semu (Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus – Flp 3:7-8).
Paulus menyadari diri sebagai seorang yang berdosa, kejam, dan penganiaya, tetapi bersama dengan itu iapun menyadarai bahwa Allah menyambutnya, memilihnya, dan mengampuninya, “orang ini akan menjadi alat pilihan-Ku” (Kis 9:15). Paulus bukan lagi orang Farisi dalam perumpamaan, tetapi ia lebih menempatkan dirinya di tempat pemungut cukai. “Allahku, ampunilah aku, orang berdosa !” Inilah pertobatan khas dari seorang Kristen yang militan (Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini – Luk 18:13). Betapapun aktifnya kita, kita tidak akan mampu tampil sebagai saksi-saksi Kristus, jika tidak mengakui diri sebagai seorang pendosa yang diampuni, itulah sebabnya orang-orang Kristen prihatin akan rekonsialisi semesta.
Mulai saat itu Saulus, yang kemudian menjadi Paulus, akan menjadi alat pilihan Kristus, untuk menyebarkan Gereja ke negara-negara lain. Sampai saat itu Gereja yang dipimpin dan terdiri dari orang-orang Yahudi tidak keluar dari bangsa Yahudi.
Paulus juga adalah seorang Yahudi, tetapi ia dididik di luar negaranya, Ia menyukai budaya Yunani sama seperti ia menyukai budayanya sendiri. Karena hal itu dan karena kepribadiannya yang khas, ia menjadi rasul dari orang-orang Yunani. Gereja harus terus menerus memperbarui diri, dan diperbarui dengan menobatkan kaum muda. Jamaat Kristen, bahkan ketika mereka mau membuka diri kepada orang-orang yang tidak ambil bagian dalam masalah-masalah jemaat (contoh kaum pekerja, kadang-kadang kaum muda), biasanya tidak mampu untuk benar-benar membuka diri. Dengan demikian Allah memanggil orang-orang tertentu dari latar belakang yang berbeda, yang begitu menerima iman Gereja, mampu mewartakan dalam lingkungan mereka sendiri dan tetap mempertahankan kebebasan mereka dalam kelompok tradisonilnya.
Pada masa-masa gawat dalam perjalanan sejarah, Krsitus selalu memanggil pria maupun wanita untuk melayani Gereja di manapun dibutuhkan, antara lain Fransiskus dari Asisi, dan yang lebih dekat dengan kita, Paus Yohanes XXIII.
Jalan, inilah sebutan agama Kristen, kata itu mengungkapkan kenyataan bahwa itu bukan hanya masalah ajaran keagamaan, tetapi terlebih suatu cara hidup baru, yang dijiwai oleh iman, harapan dan kasih.
(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pastoral Katolik)

Read more .....

SIAPAKAH BARNABAS BAGI PAULUS ?

Seorang yang penting sekali, sesudah Ananias, Barnabaslah orang yang paling berjasa bagi Paulus. Kepada Ananias Paulus berhutang budi bagi langkahnya yang pertama untuk masuk dan diterima dalam jamaah, tetapi sesudah itu Paulus berhutang budi kepada Barnabas untuk segalanya.

Bagi Paulus, Barnabas adalah tokoh yang mencarinya, yang mengertinya dan mendukungnya. Ia adalah sahabatnya, bapa rohaninya, gurunya dalam kerasulan, tokoh yang mengantarnya ke dalam pengalaman kerasulan.

Marilah kita melihat beberapa teks. Sesudah lari dari Damsyik, Saulus pergi ke Yerusalem, ia “mencoba menggabungkan diri kepada murid-murid, tetapi semuanya takut kepadanya, karena mereka tidak dapat percaya, bahwa ia juga seorang murid”. (Kis 9: 26)

Kecurigaan, yang tadinya ada antara Yerusalem dan Antiokhia, waktu itu di Yerusalem ditujukan kepada pendatang baru, itu yang tidak diketahui apa maunya.

Teksnya dilanjutkan : “Tetapi Barnabas menerima dia dan membawanya kepada rasul-rasul dan menceritakan kepada mereka, bagaimana Saulus melihat Tuhan di tengah jalan dan bahwa Tuhan berbicara dengan dia dan bagaimana keberaniannya mengajar di Damsyik dalam nama Yesus”. (Kis 9: 27)

Betapa bagusnya jika kita dapat menafsirkan teks tersebut kata demi kata, “Barnabas menerima dia”. Kata kerja Yunani yang dipakai berbunyi “epilabomenos”, sama dengan kata kerja yang dipakai untuk melukiskan Yesus yang memegang tangan Petrus yang nyaris tenggelam di danau karena tiupan angin (Mat 14: 31). Kita dapat menggambarkan Paulus sedang kebingungan di Yerusalem, semua orang menutup pintu terhadapnya, tak ada tempat, bahkan hanya untuk tidurpun tidak ada. Barnabas mengulurkan tangan dan berkata kepadanya : ”Datanglah bersamaku, aku menemani engkau, aku memperkenalkan engkau”.

Melalui Barnabas, terbukalah pintu-pintunya bagi Paulus, diceritakan dalam Kisah : “Dan Saulus tetap bersama-sama dengan mereka di Yerusalem, dan dengan keberanian mengajar dalam nama Tuhan”. (Kis 9: 28)

Juga selanjutnya, ketika dibicarakan hal jemaah di Antiokhia, Barnabas disebutkan sebagai yang pertama di antara para nabi. “Pada waktu itu dalam jamaah di Antiokhia ada beberapa nabi dan penajar, yaitu : Barnabas dan Simeon yang disebut Niger, dan Lukius orang Kirene, dan Menahem yang diasuh bersama dengan raja wilayah Herodes, dan Saulus” (Kis 13: 1). Jadi umat di Antiokhia mengakui para nabi, yang disebutkan pertama adalah Barnabas dan Saulus disebutkan yang terakhir. Kita memang tahu mengapa begitu, “Lalu pergilah Barnabas ke Tarsus untuk mencari Saulus; dan setelah bertemu dengan dia, ia membawanya ke Antiokhia. Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaah itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen” (Kis 11: 25-26)

Di balik ayat itu tampaklah adanya kerja sama yang mengagumkan antara Barnabas dan Paulus. Barnabas adalah yang pertama di antara para nabi, Paulus adalah pendatang terakhir. Tetapi Barnabas mampu menilai mutu Paulus, Barnabas mengantarnya memasuki kegiatan yang akan menjadi paling berbuah dalam seluruh Gereja kuno; kegiatan yang melahirkan kekristenan yang begitu besar dampaknya, sehingga menyebabkan timbulnya sebutan “Kristen”. Sungguh suatu jemaah yang mulai dikenal benar-benar di dalam sejarah. Itulah semua arti Barnabas bagi Paulus.

Barnabas juga orang yang pertama yang dipilih oleh Roh untuk perutusan, dilukiskan permulaan perutusan yang kemudian akan menjadi perutusan besar kepada kaum kafir : “Pada suatu hari ketika berpuasa, berkatalah Roh Kudus : Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka” (Kis 13: 2) Barnabas adalah orang yang pertama dan Saulus digabungkan padanya, Barnabas adalah kepala perutusan baru itu. Dalam melukiskan hal itu, penulis selalu menyebutkan nama Barnabas yang pertama. Urutan tersebut bukannya tanpa arti, Barnabas tokoh yang diakui secara resmi sebagai kepala perutusan. Pada ayat 7 dikatakan, bahwa mereka datang pada gubernur, seorang cerdas, yang “memanggil Barnabas dan Saulus, karena ia ingin mendengar firman Allah”. (Kis 13: 7)

Namun dalam perutusan itu pribadi Paulus mulai tampil secara cepat, beberapa ayat sesudahnya kita melihat bahwa Saulus menjadi pelaku utama, yaitu ketika tukang sihir Elimas menjadi buta. “Saulus, yang disebut juga Paulus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap dia dan berkata : Hai anak iblis, engkau penuh dengan rupa-rupa tipu muslihat dan kejahatan” (Kis 13: 9). Sesudah itu dikatakan : “Lalu Paulus dan kawan-kawannya meninggalkan Pafos dan berlayar ke Perga di Pamfilia” (Kis 13: 13). Dengan demikian Barnabas telah tergeser ke tingkat “kawan”.

Di sini kita dapat menyaksikan perlahan-lahan adanya perubahan psikologis dan pergantian peranan dalam perutusan awal itu. Sedikit demi sedikit perubahan-perubahan itu menjadi kenyataan. Pidato pertama dalam perutusan yang dilukiskan oleh Kisah Para Rasul bab 15 diucapkan bukannya oleh Barnabas, melainkan oleh Paulus, “Maka bangkitlah Paulus. Ia memberi isyarat dengan tangannya, lalu berkata : Hai orang-orang Israel...” (Kis 13: 16). Sayang bahwa justru pada waktu itu Yohanes Markus pergi, sehingga jumlah anggota perutusan itu berkurang.

Dalam seluruh perutusan pertama, kita menyaksikan peralihan peranan pertama dari Barnabas ke Paulus. Dalam peristiwa di Listra, ketika kaum kafir menyaksikan penyembuhan orang lumpuh dan mengira kedua rasul itu dewa, teksnya berbunyi : “Barnabas mereka sebut Zeus dan Paulus mereka sebut Hermes” (Kis 14: 12). Di situ Barnabas dipandang sebagai yang tua, pria berjanggut panjang yang mengesankan sebagai tokoh berusia lanjut, sedangkan Paulus dilihat sebagai tokoh aktif, berprakarsa dan mampu berbicara. Jadi peranannya dibagi dan orang berganti-ganti pendapat dalam menentukan mana yang bertindak sebagai tokoh utama. “Mendengar itu Barnabas dan Paulus mengoyakkan pakaian mereka, lalu terjun ke tengah-tengah orang banyak itu sambil berkata : Hai kamu sekalian, mengapa kamu berbuat demikian ?” (Kis 14: 14-15). Barnabas ditempatkan dalam urutan pertama.

Tidak lama kemudian timbul perlawanan berat terhadap perutusan mereka dan – menurut teksnya – Paulus sampai dilempari batu dan diseret ke luar kota. Meskipun belum begitu jelas siapa yang dipandang sebagai kepala perutusan yang sebenarnya, namun jelas bahwa sedikit demi sedikit Paulus menjadi lebih penting di mata orang. Perutusan itu berakhir tanpa perpecahan, kecuali peristiwa perginya Markus yang memang membuat kedua rasul itu pahit, tetapi untuk sementara waktu tidak menimbulkan kesulitan.

Bab berikutnya, yaitu Kisah bab 15, melukiskan Paulus dan Barnabas bekerja sama erat sekali, namun selanjutnya Paulus selalu disebutkan terlebih dahulu, baru sesudah itu Barnabas. Keduanya sependapat secara penuh dan bekerja bersama-sama dengan tujuan yang sama dalam menentang kaum Yahudi yang mau memaksakan sunat pada kaum kafir yang bertobat. Seluruh bab 15 masih ditampilkan di bawah panji kerja sama yang berharga di antara keduanya.

(Kesaksian Santo Paulus, “Le Confessioni di Paolo” karya Kardinal Mgr.Carlo Maria Martini, Uskup Agung Milano)

Read more .....

SIAPAKAH BARNABAS ITU ?

Salah seorang tokoh besar Gereja purba, adalah salah seorang paling pertama yang menanggapi Injil secara serius. Barangkali ia tidak mengenal Tuhan, tetapi ia begitu berjasa, sehingga Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes yang tadinya ada bersama Tuhan, memberikan kepercayaan kepadanya.

Ia termasuk orang pertama yang percaya kepada kata-kata para rasul, salah seorang pertama yang menyerahkan diri, orang pertama yang menjual segalanya. Ia diperkenalkan oleh Kisah Para Rasul : “Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus. Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul” (Kis 4: 36-37)

Pada waktu jemaah belum berarti apa-apa sebagai kelompok kecil yang terdiri dari orang-orang yang barangkali tampaknya fanatik, Barnabas percaya, melepaskan segala-galanya dan menggabungkan diri secara penuh pada para rasul menjadi pengikut Kristus. Oleh sebab itu ia disebut “anak penghiburan”.

Sebagai pribadi, Barnabas itu seorang tokoh yang penuh hikmat, optimisme, memancarkan kepercayaan. Orang lain senang mengikuti dia dan menaruh kepercayaan kepadanya.

Dalam kenyataannya kita memang melihat dia dimanfaatkan untuk perutusan yang amat penting, namanya kembali lagi dalam bab 11 Kisah Para Rasul. Ketika harus diteliti apa yang sebenarnya terjadi di Antiokhia, Barnabas diutus dari Yerusalem. Ia pergi ke Antiokhia, “setelah datang dan melihat kasih karunia Allah, bersukacitalah ia. Ia menasehati mereka, supaya mereka semua tetap setia kepada Tuhan, karena Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman. Sejumlah orang dibawa kepada Tuhan” (Kis 11: 23-24)

Barnabas adalah seorang tokoh yang mampu mengenali keaslian Kristianisme di Antiokhia yang menjadi asal-usul Kristianisme Barat Yunani dan Kristianisme Asia Kecil.

Tanpa dia, Gereja akan tetap terbelenggu oleh pandangan kaum Kristiani-Yahudi Yerusalem, entah sampai berapa lama. Barnabas mempunyai intuisi mendalam, bebas dari prasangka dan ketakutan. Ia juga mampu menjadi penengah : menenangkan Yerusalem dan menyemangati Antiokhia, sehingga terhindarlah perpecahan. Jadi, ia sungguh seorang tokoh berharga bagi Kristianisme purba.

(Kesaksian Santo Paulus, “Le Confessioni di Paolo” karya Kardinal Mgr.Carlo Maria Martini, Uskup Agung Milano)


Read more .....

5/28/2014

ROH ITU AKAN DATANG


Dengan mengangkat kita sebagai anak-anak Bapa, Yesus memampukan kita mengalami misteri kehidupan intim di dalam Allah. Dalam Allah ada persatuan di antara ketiga pribadi : Bapa, Putra dan Roh dari kedua-Nya

Kita berbicara tentang Roh dari kedua-Nya, karena Yesus mengatakan : Bapa akan memberikan kepadamu seorang Penolong (Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran – Yoh 14:16-17) dan Penolong yang Kuutus (Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. – Yoh 15:26). Sekarang Yesus mengatakan : Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari pada-Ku : segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya (Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari pada-Ku." Yoh 16:15)

“Roh” bukanlah suatu bahasa kiasan, Roh itu adalah seorang Pribadi (Tetapi di antara orang banyak itu ada banyak yang percaya kepada-Nya dan mereka berkata: "Apabila Kristus datang, mungkinkah Ia akan mengadakan lebih banyak mujizat dari pada yang telah diadakan oleh Dia ini?" – Yoh 7:31 ; "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. – Yoh 14:1).

Sejak hari Pentakosta, Roh mulai bertindak dalam Gereja, dan dengan demikian Ia menunjukkan, bahwa Ia adalah Roh Kristus. Orang-orang Yahudi yang tidak percaya mengira bahwa Allah beserta mereka, tetapi nyatanya Roh-Nya tidak bertindak di antara mereka. Maka jelas bahwa mereka telah berdosa, karena tidak percaya kepada Kristus (akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; - Yoh 16:9).

Apa itu jalan kebenaran (Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; Yoh 16:8) ? Orang Benar dengan huruf besar adalah Kristus sendiri dan orang-orang benar dengan huruf kecil adalah mereka yang percaya kepada-Nya tanpa melihat-Nya (akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi; - Yoh 16:10).

Kisah Para Rasul mencatat bagaimana Roh bekerja dalam diri murid-murid Yesus yang pertama. Sebelum memberikan kuasa-kuasa ajaib, Roh memberikan mereka kegembiraan, kedamaian dan kasih timbal balik, maupun kepastian dalam hati bahwa Yesus telah bangkit dan tinggal bersama mereka.

Roh menuntun para misionaris, Ia memberi mereka kuasa untuk mengerjakan mukjizat-mukjizat, Ia memberikan kepada para orang beriman pengetahuan akan Allah, kemampuan-kemampuan baru untuk berkarya, menyembuhkan, melayani dan menggoncangkan dunia orang berdosa. Sepanjang sejarah, Roh akan membangkitkan orang-orang beriman, martir-martir, nabi-nabi dan dengan perantaraan mereka, Roh akan mengubah dunia. Dengan demikian Sang Penebus, sekalipun tampaknya telah dikalahkan, akan dibenarkan, dan menjadi nyata bahwa yang kalah sebenarnya adalah iblis, yang telah dihukum (akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum. - Yoh 16:11). Roh jahat, sang sutradara dari pertunjukan dunia telah tergeser, dan pengaruhnya dikurangi. Suatu kekuatan baru, yaitu Roh Kudus, mengarahkan sejarah sekarang dan menuntun manusia kepada kebenaran sempurna.

(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pastoral Katolik)

Read more .....

Hidup Dalam Bimbingan Roh Kudus

Oleh : Rm. Yohanes Indrakusuma, O.Carm

1. Dasar-dasar bimbingan Roh Kudus

Inti agama Kristen adalah hubungan pribadi dengan Allah. Yesus datang ke dunia dengan tujuan "supaya barang siapa yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan memperoleh hidup yang kekal." (Yoh. 3:16) Hidup yang kekal ini bukan lain daripada "mengenal Bapa, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang diutus-Nya."(Yoh.17:3) Hubungan pribadi itu begitu eratnya, sehingga Yesus menggambarkannya sebagai hubungan antara pokok anggur dan ranting-rantingnya. "Akulah pokok anggur dan kamu ranting-rantingnya." (Yoh.15: 5)
Hubungan pribadi itu mengandaikan komunikasi dari dua pihak. Dari pihak Allah hal itu diungkapkan dalam perhatian dan penyelenggaraan terhadap manusia serta segala kebutuhannya. Allah memperhatikan manusia sampai hal yang sekecil-kecilnya, karena tiada sesuatu pun yang luput dari pandangan Allah, bahkan burung-burung di udara tidak lepas dari perhatian dan penyelenggaraan Allah. Itulah sebabnya Yesus dalam Injil Mat. 6:25-30 mengatakan, bahwa kita tidak usah kuatir akan apapun juga, baik itu tentang makanan maupun pakaian, karena Bapa yang memelihara burung-burung di udara dan bunga-bunga di ladang juga akan memenuhi segala keperluan kita.

Kemudian sebagai alasan yang lebih dalam dikatakan-Nya, "Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di surga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu." (Mat. 6:32) Ketika mengajar tentang doa, Yesus bersabda supaya kalau berdoa jangan bertele-tele memakai banyak kata seperti kebiasaan orang kafir, yang mengira, bahwa karena banyaknya kata-kata, doanya akan dikabulkan. Kemudian dikatakan-Nya, "Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui, apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya." (Mat. 6:8)

Dari pihak manusia hubungan itu diungkapkan dalam iman penuh penyerahan diri, seperti diungkapkan Santo Paulus, "Hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku." (Gal. 2:20) Iman ini diungkapkan dalam pelaksanaan kehendak Allah sebagai jawaban, "Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku." (Yoh. 14:23)

Dari semuanya itu kiranya jelas, bahwa agama Kristen bukanlah suatu rentetan hukum-hukum, peraturan-peraturan, dan perintah-perintah yang harus ditaati, melainkan pertama-tama adalah suatu relasi pribadi dengan Allah sendiri. Memang, hukum, peraturan, dan perintah diperlukan sebagai bantuan, supaya kita dapat mengerti apa yang dikehendaki Allah. Hal itu khususnya berlaku pada awal hidup rohani kita, sebab pada awalnya orang belum cukup mampu untuk mengikuti bimbingan Allah yang lebih langsung. Namun kemudian, kalau hubungan pribadi itu berkembang Allah akan membimbing kita secara lebih pribadi dan langsung.

Oleh karena itu pula, bila orang tidak memiliki hubungan pribadi yang nyata dengan Allah, hidupnya lebih dipimpin oleh peraturan-peraturan yang anonim. Banyak orang yang hidupnya dikuasai perintah-perintah yang negatif, jangan berdusta, jangan mencuri, jangan menipu, jangan berzinah, dan lain-lain, namun pada dasarnya hidupnya masih dikuasai oleh kehendak sendiri, keinginan sendiri. Kalaupun ia giat dalam kegiatan Gereja, semuanya itu masih sebagian besar demi kepentingan diri sendiri, bukan karena cinta kepada Allah. Ia tetap menentukan sendiri arah dan keputusan hidupnya, bukan Allah.

Dalam kenyataannya sedikit sekali orang yang sadar, bahwa hidupnya seharusnya diserahkan ke dalam bimbingan Allah yang telah lebih dahulu mengasihi dia. (Yoh. 4:10) Sedikit sekali yang berani menyerahkan hidupnya ke dalam bimbingan Allah dalam kepercayaan dan pasrah dari hari ke hari, dari saat ke saat.

Mengapa demikian? Karena ia tidak memiliki hubungan pribadi yang sadar dengan Allah, karena Allah jauh dan kurang hidup bagi dia, walaupun sebenarnya sangat dekat. Sebaliknya setelah orang mengalami pencurahan Roh Kudus, atau dibaptis dalam Roh, Allah menjadi begitu hidup bagi dia dan ia mengalami suatu relasi pribadi yang nyata dengan Allah. Karena pencurahan itu, Allah begitu hidup bagi dia dan ia jadi menggebu-gebu semangatnya dan seringkali menjadi berlebihan dalam banyak hal dan juga dalam menanggapi bimbingan Allah. Dalam hal ini dibutuhkan keseimbangan.

Bimbingan Allah itu dikerjakan oleh Allah Tritunggal Mahakudus Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Namun secara khusus bimbingan itu dilakukan oleh Roh Kudus, karena Dialah yang diberi tugas untuk itu oleh Bapa. Roh itulah yang dianugerahkan Allah kepada kita dan yang menjadikan kita anak-anak Allah, sehingga kita dapat berkata "ya Abba, ya Bapa" (Rm. 8:15). Oleh karena itu, Dia pulalah yang membimbing semua anak Allah. "Semua orang, yang dipimpin Roh Allah adalah anak Allah." (Rm. 8:14) Bahkan pada saat-saat yang sukar, dalam masa penganiayaan, Dia pula yang akan mendampingi para murid Kristus. "Sebab bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Kudus." (Mrk. 13:11) dan Injil Lukas 12:12 mengatakan, "Sebab pada saat itu juga Roh Kudus sendiri akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan."

2. Cara-cara Allah membimbing

2.1 Bimbingan umum

Allah membimbing umat-Nya dengan dua cara, yaitu bimbingan umum dan khusus. Pada permulaan biasanya Allah membimbing umat secara umum lewat sabda-Nya dalam Kitab Suci, lewat Gereja, lewat arah hidup yang umum.

a. Kitab Suci
Kitab Suci adalah sumber bimbingan yang pertama dan utama. Lewat sabda-Nya dalam Kitab Suci Allah mengajar, menerangi, menyatakan kehendak-Nya, menegur dan menguatkan kita. Namun Kitab Suci tidak dapat ditafsirkan sesuka hati. Yang terutama harus kita ketahui ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri (2 Ptr. 2:20), tetapi harus ditafsirkan sesuai dengan iman Gereja Universal, Gereja Katolik. Kita boleh dan harus membaca firman Tuhan, namun dalam menafsirkannya harus tunduk pada tafsiran Gereja.

b. Gereja
Gereja sebagai persekutuan umat beriman di bawah kepemimpinan Paus dan para uskup merupakan Umat Allah yang didirikan oleh Yesus Kristus sendiri. Oleh karena itu, Yesus secara istimewa memberikan Roh-Nya kepada Gereja itu, supaya ia selalu setia dan tidak sesat. Kehadiran Roh Kudus yang istimewa dalam Gereja menjadikannya mampu untuk mengerti kehendak dan bimbingan Roh sendiri dan menafsirkannya untuk tiap masa dan situasi bagi umat beriman. Gereja juga diberi karunia dan wewenang untuk menafsirkan Kitab Suci secara tepat. Itulah sebabnya kita harus mempelajari sabda Tuhan dan ajaran iman Gereja, supaya tahu apa yang dikehendaki Allah bagi kita.

c. Status hidup
Pada umumnya kehendak Allah tidak dapat bertentangan dengan status hidup yang telah dipilih oleh seseorang, biarpun kadang-kadang ada pengecualian juga. Misalnya seorang kepala keluarga harus bertanggungjawab atas kesejahteraan keluarganya. Oleh sebab itu, ia tidak dapat memberikan pelayanan dengan mengabaikan kewajiban tersebut.

2.2 Bimbingan khusus

Dalam Perjanjian Baru, Allah sering memberikan bimbingan secara khusus. Yesus telah mencurahkan Roh-Nya kepada semua orang yang percaya kepada-Nya, supaya mereka itu mengalami kehadiran, hiburan, kuasa, dan bimbingan Allah. Karena adanya hubungan pribadi, Allah ingin secara khusus berbicara kepada umat-Nya serta membimbing mereka, bukan hanya secara kolektif atau masal, melainkan juga secara pribadi. Inilah perbedaan yang menyolok dengan Perjanjian Lama, yaitu saat umat umumnya hanya dibimbing secara masal. Bimbingan khusus ini dapat berupa:

a. Inspirasi atau ilhamInspirasi ialah penerangan Roh Kudus yang diberikan kepada seseorang secara langsung untuk mengerti atau melakukan sesuatu. Roh dapat memberikan inspirasi tersebut kepada seseorang dan dengan demikian menyatakan kehendak-Nya kepada orang tersebut. Inspirasi dapat disertai dorongan Roh. Inspirasi dapat berlaku untuk suatu rencana jangka panjang.

b. Dorongan Roh
Ini merupakan rasa batin yang dialami oleh seseorang yang memberikan keyakinan, bahwa Allah ingin, agar dia melakukan atau mengatakan sesuatu. Ini biasanya ditujukan untuk suatu tindakan dalam jangka pendek. Dorongan ini merupakan suatu desakan batin dari Roh, tidak sama dengan perasaan, walaupun kadang-kadang juga bisa dirasakan. Ini merupakan suatu pengalaman pribadi dan subyektif dan karenanya dapat keliru. Namun hal itu adalah sesuatu yang amat berharga dan merupakan buah umum dari pencurahan Roh Kudus. Kemungkinan bahwa orang dapat keliru bukan alasan untuk membunuhnya, melainkan diperlukan kebijaksanaan untuk membeda-bedakan roh, untuk mengadakan discernment.

c. Tanda-tanda
Ini cara lain yang juga sering dipakai Allah untuk berbicara kepada kita. Tanda yang paling sering dipakai ialah teks Kitab Suci. Suatu saat teks Kitab Suci dapat tiba-tiba mencuat keluar dan menyentuh hati kita, kadang- kadang dapat dalam sekali, seolah-olah teks itu ditujukan kepada kita secara pribadi. Teks-teks seperti itu amat baik untuk meneguhkan dorongan Roh atau inspirasi. Kadang-kadang ada orang yang berdoa untuk suatu teks, mohon kepada Allah untuk menunjukkan kehendak-Nya melalui teks-teks Kitab Suci. Hal itu dapat dilakukan dengan dua cara:
- membuka Kitab Suci begitu saja
- memperhatikan teks yang muncul dalam pikiran setelah berdoa
Cara-cara ini, walaupun dapat berasal dari Tuhan, namun sangat berbahaya, khususnya dengan membuka Kitab Suci begitu saja. Dalam hal itu yang sering terjadi ialah, bahwa Kitab Suci berubah menjadi buku ramalan. Demikian pula memperhatikan teks yang muncul dalam pikiran, karena sukar sekali membedakan, mana yang dari pikiran sendiri, mana yang dari Allah. Dalam banyak hal yang muncul ialah pikiran sendiri. Oleh karena itu, cara- cara seperti ini hendaknya jangan dipakai.
Lain halnya kalau orang mendapat dorongan dari dalam untuk membuka Kitab Suci. Pada waktu itu teks tersebut akan mencuat dan memberikan keyakinan yang besar. Demikian pula bila teks itu tiba-tiba muncul sendiri dalam pikiran secara kuat dan konsisten. Kalau tidak, sebaiknya dihindari saja, karena mudah sekali orang keliru.
Kadang-kadang situasi atau keadaan yang menguntungkan dapat menjadi petunjuk kehendak Allah. Namun dalam hal ini pun kita harus hati-hati, karena setan juga dapat menciptakan suatu situasi tertentu. Dalam semuanya itu kita harus memakai akal yang sehat dan kita harus memperdalam pengertian kita tentang jalan-jalan Tuhan, khususnya dengan mempelajari tradisi Gereja lewat tokoh-tokohnya yang besar.
Dalam semuanya itu sikap dasar kita yang paling tepat ialah kerelaan untuk melaksanakan kehendak Allah. Bila kita sungguh-sungguh rela untuk melaksanakan kehendak-Nya, Tuhan akan menyatakannya kepada kita dengan cara yang tepat dan aman, tanpa keraguan.

d. Visiun dan sabda batin
Orang juga dapat menerima visiun, penglihatan, misalnya melihat Tuhan Yesus, Bunda Maria, orang kudus, atau sesuatu yang lain. Hal itu dapat terjadi lewat mata jasmani atau mata batin. Orang juga dapat mendengar sabda. Hal itu dapat terjadi lewat telinga jasmani maupun telinga batin. Namun, semuanya itu dapat berasal dari setan, dari diri sendiri atau dari Allah. Oleh karena itu, dalam hal ini kita harus sangat hati-hati.
Semakin jasmaniah, semakin berbahaya, karena semakin mudah ditiru oleh si jahat atau timbul dari fantasi sendiri. Oleh sebab itu dalam hal ini sikap kita ialah jangan mempedulikan. Mengapa? Kalau itu datangnya dari Allah, maka pada saat diberikan, buahnya sudah tertanam dalam hati kita, yaitu pertobatan, kerendahan hati, pertambahan iman dan cintakasih.
Tujuan Allah memberikan semuanya itu ialah untuk memperoleh buah-buah tersebut, bukan supaya orang dapat berbangga-bangga. Itu semua adalah pemberian Allah yang cuma-cuma dan diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan kapan dikehendaki-Nya menurut kebijaksanaan-Nya. Mendambakan hal itu berarti membuka diri bagi penipuan si jahat. Sikap yang paling tepat dalam hal ini ialah sikap lepas bebas dalam kepasrahan kepada kebijaksanaan Allah, karena Ia lebih tahu apa yang kita perlukan, apa yang paling baik bagi kita.

2.3 Bimbingan khusus lewat orang lain

Belajar dari orang lain yang berpengetahuan dan berpengalaman serta minta nasihat-nasihatnya adalah suatu cara untuk lebih dapat mengenal kehendak Allah. Namun, secara konkret kita menghadapi persoalan besar, yaitu di manakah kita dapat menemukan orang yang sedemikian itu. Di mana harus kita cari? Namun bila kita sungguh-sungguh mencari kehendak Allah dengan tulus ikhlas, Allah akan mengutus orang semacam itu kepada kita pada saat kita sungguh memerlukannya.
Catatan:
Untuk menerima bimbingan Allah dan mengenali kehendak-Nya, kita harus belajar untuk membeda-bedakan bermacam-macam roh atau mengadakan discernment. Di sini kita bedakan dengan karunia membeda-bedakan bermacam-macam roh, yang merupakan karunia yang tidak tetap, yang diberikan Allah secara cuma-cuma kepada orang- orang tertentu, pada saat-saat tertentu pula. Inilah karunia Roh Kudus yang disebutkan Santo Paulus dalam 1 Kor. 12:10. Namun, di samping itu ada suatu proses discernment yang dapat kita pelajari berdasarkan pengertian yang sehat dan pengalaman para kudus, seperti yang tersimpan dalam Tradisi Gereja.

3. Tumbuh dalam menerima bimbingan

Supaya dapat tumbuh dalam menerima bimbingan Allah ini kita harus:

* Memperdalam hubungan pribadi kita dengan Allah lewat doa-doa pribadi.

* Rajin mempelajari dan meresap-resapkan sabda Allah dalam Kitab Suci. Namun, terutama dengan memupuk kerinduan untuk melaksanakan kehendak Allah, apapun itu, karena kita tahu, bahwa Allah hanya menghendaki yang terbaik bagi kita, walaupun mungkin saat itu kita belum dapat mengertinya.

* Penyerahan diri kepada Allah akan membuat kita semakin peka terhadap bisikan Roh Kudus yang berbicara pada kedalaman lubuk jiwa kita.

* Sabar untuk tumbuh dalam hubungan pribadi dengan Tuhan dan dalam menerima bimbingan, karena hal itu makan waktu. Lewat pengalaman-pengalaman sedikit demi sedikit kita akan tumbuh dalam hal bimbingan Allah itu.

Sharing :

* Bagaimana pengalaman Anda selama ini, sudahkah Anda selalu berjalan dalam bimbingan Tuhan dan mengikuti setiap kehendak-Nya? Sulitkah menjalankan hidup dalam bimbingan Roh Tuhan itu? Sharingkanlah pengalaman Anda

* Menurut Anda kapan saja kita membutuhkan bimbingan Roh Kudus itu?


Sumber : Majalah Rohani Vacare Deo (Media Pengajaran Komunitas Tritunggal Mahakudus)

Read more .....

5/09/2014

MISTERI DAMSYIK

Marilah kita melihat bagaimana Rasul Paulus sendiri melukiskan kejadian di Damsyik. Yang mengherankan kita pertama-tama ialah, bahwa ia melukiskannya sedikit saja. Kejadian yang memang mendasar baginya dan yang diolahnya dalam semua suratnya seakan-akan tidak ia bicarakan. Itu memang suatu kejadian yang di saat kematiannya diingatnya dengan jelas. Meskipun begitu, ia hampir tidak pernah membicarakannya secara langsung, padahal ia termasuk orang yang banyak bicara tentang riwayat hidupnya.

Manakah teks yang membicarakan hal itu ?
Di antara surat-surat besar, satu-satunya teks dasar yang melukiskan pertemuan di Damsyik adalah surat kepada jemaat di Galatia : “Tetapi waktu Ia yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya, berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi...” (Gal 1:15-16). Ada empat kata kerja yang dipakai untuk membicarakannya : memilih aku... memanggil aku... berkenan menyatakan... supaya aku memberitakan. Di antara keempatnya itu hanya yang ketiga saja menunjuk secara langsung pada pertobatan. Lain-lainnya menempatkan pertobatan dalam rangka penyelenggaraan Ilahi : memilih aku, berkenan, artinya berkeputusan, berkemauan menyatakan kepadaku. Jadi pengalaman tersebut dilukiskan pada hakikatnya sebagai pernyataan Anak kepadanya (menurut teks Yunani : “dalam” dia) dan sebagai perutusan.
Dalam suatu kalimat di surat kepada jemaat di Roma, Paulus mengalihkan hal yang dialaminya sendiri ke lingkup lukisan yang berlaku secara umum : “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” (Rm 8:29-30).
Dalam surat pertama kepada jemaat di Korintus, ada singgungan singkat sekali dalam suatu konteks polemik. “Bukankah aku rasul? Bukankah aku orang bebas? Bukankah aku telah melihat Yesus, Tuhan kita?” (1 Kor 9:1) .Kejadian di Damsyik dilukiskan sebagai “melihat Tuhan”. Lebih lanjut dalam surat yang sama ia menulis, “Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya. Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, bahkan tidak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah.” (1 Kor 15:8-9). Oleh Paulus yang tadinya menganiaya jemaat, kejadian di Damsyik dilukiskan sebagai penampakan “kepadaku yang paling hina”. Memang ada pertobatan moral, tetapi kejadiannya ialah : Yesus menampakkan Diri.
Masih ada nas lain yang penting, meskipun tidak membicarakan kejadiannya, nas itu melukiskan cara Paulus menghayatinya. “Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi: disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi, tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat. Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan. (Flp 3:4-9).
Keadaan sebelumnya dan keadaan sesudahnya dilukiskan sebagai milik dan kemiskinan, Kristus dilihat sebagai milik baru. Tetapi lukisan tentang semua yang dimilikinya sebelumnya mengajak kita berpikir. Dalam surat kepada umat di Korintus ia menulis, “Aku yang paling hina” (menurut bahasa kita, itu berarti “aku orang berdosa”). Sekarang ia melihat dirinya sebagai orang yang “dalam mentaati hukum Taurat......tidak bercacat.” (Flp 3:6). Jadi tidaklah mudah untuk menggunakan pengertian “orang berdosa” atau “pemfitnah” bila kita bicara tentang Paulus.
Jika ia tidak bercacat, lalu apanya yang berubah ? “Apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus.” (Flp 3:7). Dalam diri Paulus terjadi perubahan mutlak dalam cara menilai seluruh dunianya. Yang tadinya dianggapnya penting, sekarang menjadi nol dan tidak penting sama sekali. Yang tadinya tak mungkin dilepaskannya, sekarang menjadi sampah, sebab pengenalan akan Kristus mendapatkan prioritas mutlak dan mampu memenuhi segalanya. Pertemuan dengan Kristus, pengenalan akan Kristus dan kepenuhan Kristus mengubah sama sekali cara penilaiannya.
Teks lain juga penting, Sebab Allah yang telah berfirman: "Dari dalam gelap akan terbit terang!", Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus. (2 Kor 4:6). Sebenarnya kalimat itu diberlakukan bagi tiap rasul, tetapi kalau diterapkan pada pertobatan Paulus, kalimat itu mempunyai suatu kekuatan khusus. Allah pencinta bercahaya dalam hatinya dan meneranginya untuk membuatnya memahami kekayaan Kristus, kehidupan-Nya.
Kalimat terakhir di bawah ini memang merupakan suatu kalimat yang paling mudah mengundang kita untuk menafsirkan pertobatan Paulus secara moral. Tidaklah tepat jika kita mengesampingkannya, meskipun dari segi bahasa ada berbagai problem. “Aku bersyukur kepada Dia, yang menguatkan aku, yaitu Kristus Yesus, Tuhan kita, karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku -- aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas.” (1 Tim 1:12-13a).
Kalau begitu, apakah tadinya ia seorang penghujat dan seorang yang ganas ? Ia seorang yang tak bercacat, seperti ditulisnya kepada umat di Filipi, ataukah seorang berdosa, juga secara moral ?
Ia melanjutkan, “tetapi aku telah dikasihani-Nya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman. Malah kasih karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus. Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: "Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa," dan di antara mereka akulah yang paling berdosa. Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal. (1 Tim 1:13b-16). Jelaslah bahwa pertobatan tersebut memang suatu misteri yang amat kaya yang seluruhnya tidak terpahami.
Jadi, kejadian di Damsyik adalah jauh lebih kompleks dari pada suatu pertobatan moral belaka atau suatu perubahan mentalitas melulu. Kejadian itu demikian kaya, sehingga kita harus mendekatinya dangan rendah hati dan penuh hormat, karena kita yakin, bahwa kita hanya memahaminya sedikit saja, kita hanya mengertinya sedikit saja, tetapi kita akan dapat mengetahuinya jauh lebih banyak berkat rahmat Allah. Kalau begitu, kita juga akan lebih memahami diri kita sendiri, perjalanan hidup kita dan pertobatan kita.
Sekarang pertanyaan bagi kita, dengan mengajukan suatu pertanyaan mendasar yang sejalan dengan renungan kita : kapankah aku sendiri bertobat ?
Adakah dalam hidupku suatu “saat” pertobatan yang dapat kupandang sebagai suatu saat bersejarah ? Kalaupun tidak ada suatu “saat” dalam waktu, tentunya telah kualami sata-saat perubahan, pergolakan, krisis, yang membawa aku ke permahaman baru akan misteri Allah.
Jika kita tidak pernah menyadari sampai mendasar perubahan mentalitas yang sungguh hakiki bagi hidup kristen itu, sesungguhnya kita belum menangkap apa sebenarnya kebaharuan perjalanan kristen itu, yaitu kembali mengambil arah yang bertolak belakang.
Jika aku tidak mengerti baik hal-hal yang dikatakan tentang Paulus, barangkali aku juga sulit memahami apa yang terjadi dalam diriku. Kalau begitu, aku harus mempercayakan diriku kepada Allah melalui doa sebagai berikut :
“Tuhan, buatlah aku mengenal jalan-Mu. Semoga, seperti dikatakan oleh Yeremia, aku dapat menaruh tonggak-tonggak di masa lampauku. ‘Lihatlah kembali masa lampau, tempatkanlah tonggak-tonggak penunjuk’. Tolonglah aku memahami tahap-tahap rencana-Mu, saat-saat terang dan saat-saat gelap, saat-saat cobaan, bahkan sampai pada batas ketahananku. Perkenankan daku mengetahui pada titik mana aku berada dalam perjalanan itu, dan di mana seharusnya aku berada. Aku mohon ini demi Kristus Tuhan kami. Amin.
(“Le Confessioni di Paulo”, karya Kardinal Mgr. Carlo Maria Martini, Uskup Agung Milano – Kesaksian Santo Paulus, diterjemahkan oleh Frans Harjawiyata OSCO)

 - Kasih Yesus

Read more .....

5/07/2014

PAULUS DI EFESUS

Dan ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat. (Kis 19:6).

Selama hampir tiga tahun Paulus mewartakan di Efesus. Efesus adalah salah satu kota terindah dan terbesar di Kekaisaran Romawi.
Lukas ingin menceritakan baptisan murid-murid Yohanes Pembaptis. Seperti telah dikatakan, bahwa mereka telah mengetahui ajaran Yesus, tetapi sebagai murid, mereka berkekurangan apa yang terpenting, yaitu mereka belum menerima Roh Kudus (Kata Paulus: "Baptisan Yohanes adalah pembaptisan orang yang telah bertobat, dan ia berkata kepada orang banyak, bahwa mereka harus percaya kepada Dia yang datang kemudian dari padanya, yaitu Yesus." – Kis 19:4).
Kita tidak boleh lupa bahwa bahasa orang Kristen saat itu sangat terbatas, Roh Kudus itu ‘lebih dari pada manifestasi’ yang diungkapkan lewat penumpangan tangan. Demikian kita membaca pernyataan, bahwa mereka tidak mendengar ada Roh Kudus dalam Kis 19:2 (Katanya kepada mereka: "Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu menjadi percaya?" Akan tetapi mereka menjawab dia: "Belum, bahkan kami belum pernah mendengar, bahwa ada Roh Kudus.") ; sementara ada teks lain menyatakan : Roh Kudus diterima, dan Roh Kudus turun atas mereka (ayt 6) bandingkan dengan Kis 8 (Ketika rasul-rasul di Yerusalem mendengar, bahwa tanah Samaria telah menerima firman Allah, mereka mengutus Petrus dan Yohanes ke situ. Setibanya di situ kedua rasul itu berdoa, supaya orang-orang Samaria itu beroleh Roh Kudus. Sebab Roh Kudus belum turun di atas seorang pun di antara mereka, karena mereka hanya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Kemudian keduanya menumpangkan tangan di atas mereka, lalu mereka menerima Roh Kudus. - Kis 8:14-17).
Penumpangan tangan berarti mengakui perubahan yang terjadi saat pembaptisan melalui pengalaman Karunia Roh (Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama - 1 Kor 12:7). Pada masa kini, banyak orang Kristen terkejut jika mereka tidak pernah mengalami kehadiran Allah secara nyata ini. Kita tidak boleh berkata, bahwa Karunia ini tak berguna, atau bahwa sesuatu tidak terjadi pada masa kini. Sesungguhnya yang terpenting adalah beriman dan menghayatinya dari pada merasakannya. Tetapi pengalaman demikian sering menumbuhkan “bunga-bunga” indah bagi iman kita, ia menunjukkan, bahwa Allah itu dekat dan menjadi tuan atas diri kita. Mungkin sikap rasional kita dan hidup Gereja tidak percaya akan semuanya itu yang adalah ungkapan-ungkapan pribadi, akhirnya sampai mematikan karunia-karunia Roh, mungkin inilah kekurangan kita (rasional) dalam pengabdian kepada Yesus.
“Mereka dibaptis dalam nama Tuhan Yesus.” Haruskah kita menyimpulkan bahwa pada awalnya pembaptisan dengan “dalam nama Yesus” dan bukan dalam “Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus” ? tidak jelas. Dalam nama berarti dengan kuasa. Rupanya pembaptisan dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus disebut pembaptisan dalam nama Yesus untuk membedakannya dari pembaptisan Yohanes dan dari agama lain. Bisa juga bahwa pada saat menerima air dalam nama tritunggal Kudus, orang yang dibaptis harus berdoa secara pribadi dalam Nama Yesus. Selain itu, pada awalnya mungkin yang diberikan “dalam nama Yesus” dan kelak disesuaikan oleh Gereja untuk membedakannya dengan kelompok-kelompok yang beriman kepada Yesus tetapi tanpa mengakuinya sebagai Putra Allah yang lahir dari Bapa. Kita tak perlu heran dengan perubahan ini, Gereja para rasul telah menyusun suatu rumusan baptisan pertama, lalu Gereja yang sama mengambil rumusan yang kedua yang dihubungkan dengan Yesus dalam Mat 28:19 (Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus).
(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pastoral Katolik)

-       Roh itu akan datang
-       Efesus

Read more .....

MARIA DAN PENTAKOSTA

Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.  (Luk 1:35).

Konsili Vatican II menyatakan bahwa Maria “seakan-akan dibentuk oleh Roh Kudus” (Lumen gentium 56). Siapa saja yang menghormati Maria, ia bersembah sujud kepada Roh Kudus, karena apa saja yang dimiliki Maria, dihasilkan oleh karya Roh Kudus.
Maria rendah hati dan bekerja secara sembunyi, seperti Roh Kudus. Bunda Maria bertumbuh dalam Roh Kudus semakin lama semakin mendalam mulai dari sejak Maria dikandung ibunya. Sejak awal Maria dikuasai penuh oleh Roh Kudus. Dia menyerahkan dirinya tanpa batas, maka Roh Kudus dengan bebas tanpa halangan dapat menguasainya untuk memikul tugas yang direncanakan Allah, yaitu menjadi Bunda Allah dan ibu seluruh umat manusia.
Roh Kudus menaunginya, sehingga ia menjadi penuh rahmat (Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau." – Luk 1:28). Hari Pentakosta mempunyai arti yang tiada taranya bagi mereka dan para murid Yesus. Ketika Yesus masih bersama para murid, mereka tidak dapat menerima Roh, sebab Roh belum diberikan. Namun di dalam diri Maria Roh sudah hadir. Maria sudah biasa bergaul dengan Roh. Terlebih lagi sekarang. Pada hari Pentakosta ia menjadi Bunda Gereja (Setelah mereka tiba di kota, naiklah mereka ke ruang atas, tempat mereka menumpang. Mereka itu ialah Petrus dan Yohanes, Yakobus dan Andreas, Filipus dan Tomas, Bartolomeus dan Matius, Yakobus bin Alfeus, dan Simon orang Zelot dan Yudas bin Yakobus. Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus. – Kis 1:13-14). Pada hari Pentakosta, lahirlah Gereja. Sebenarnya secara rahasia Gereja sudah lahir pada saat Yesus menyerahkan Maria kepada Yohanes dan menyerahkan Yohanes kepada Maria (Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!". Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya – Yoh 19:25-27).
Semua yang secara tersembunyi terjadi pada salib, menjadi nyata pada hari Pentakosta. Maria berdiri di tengah para murid yang penuh dengan Roh Kudus sambil berkata dalam bahasa lain. Ketika Maria menyanyikan lagu syukurnya - Magnificat, ia sudah memperlihatkan bahwa keheningannya dapat menjadi sorak suci. Maria-lah orang pertama yang mulai berkata-kata dalam Roh. Soraknya itu menular kepada para murid dan merekapun mulai berkata-kata, mabuk oleh Roh Kudus. Maria adalah pusat Gereja.
Pada hari Pentakosta, keibuan Maria menjadi jelas dan meluas. Yesus hadir di mana-mana, karena Roh-Nya dan sekaligus membuat Maria menjadi seluas dunia. Ia menjadi seluas Gereja, sehingga tiada seorangpun tinggal di luarnya.
(Sumber : Maria Dalam Kitab Suci & Dalam Hidup Kita)
-       Aku ini hamba Tuhan

Read more .....

PENTAKOSTA


Pentakosta merupakan salah satu pesta terbesar dalam penanggalan Yahudi. Pesta ini asalinya adalah pesta pertanian, kemudian pada masa Perjanjian Lama menjadi perayaan syukur atas pemberian Hukum Musa di atas gunung Sinai. Pada kesempatan ini, sama seperti hari raya Paskah Yahudi, banyak orang Yahudi yang tinggal di sekitar Timur Tengah berziarah ke Yerusalem.

Selama Perayaan Paskah Yahudi itulah, yang memperingati pembebasan dari perbudakan Mesir, Yesus, melalui kematian dan kebangkitan-Nya memberi kebebasan kepada dunia dari kematian dan dosa. Inilah saat yang tepat untuk merayakan pemberian Hukum di Sinai, hari di mana Tuhan mengadakan perjanjian dengan umat pilihan-Nya, bahwa Allah sekarang mengaruniakan Roh-Nya kepada Israel yang baru, yaitu Gereja. (Dan semua orang, yang memberi dirinya dipimpin oleh patokan ini, turunlah kiranya damai sejahtera dan rahmat atas mereka dan atas Israel milik Allah. - Gal 6:16)
Pada saat yang sama pula, pembaptisan dengan api diwartakan oleh Yohanes (Yohanes menjawab dan berkata kepada semua orang itu: "Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa dari padaku akan datang dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api. - Luk 3:16). Allah mengutus Roh Putra-Nya dan dengan ini, lahirlah Gereja. Gereja bukanlah suatu lembaga manusiawi atau hasil karya dari sekelompok orang beriman, ia berasal dari inisiatif Allah, dan Allah berkehendak agar setiap orang dari setiap bangsa menjadi saksi atas peristiwa ini.
Tiupan angin keras adalah suatu tanda, karena Roh berarti napas dan angin dalam budaya Ibrani. Dijiwai oleh Roh Kudus, Petrus berbicara. Ia sekarang mengetahui kebenaran dan percaya, dan itulah sebabnya ia dengan berani mewartakannya (Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. - Yoh 15:26 ; Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Yoh 16:13)
Apa yang terjadi pada Pentakosta sama uniknya dengan peristiwa kebangkitan. Namun, peristiwa ini mengikuti pola campur tangan Allah dalam sejarah. Di satu pihak, Roh Kudus selalu membawa pembaruan bagi karya kerasulan kita, membangkitkan semangat keagamaan kita dan membangun komunitas Kristen yang dinamis yang menjadi darah baru bagi Gereja. Gereja menjadi semakin tua dan memerlukan pembaruan terus menerus.
Roh Kudus datang untuk memberikan kehidupan bagi Gereja. Ia juga datang untuk memberi peneguhan dan kekuatan bagi orang-orang beriman. Pembaptisan dengan api yang diterima para rasul, diberikan pula kepada kita melalui Sakramen Penguatan/Krisma (Luk 3:16).
“Setiap orang mendengar para rasul berbicara dengan bahasa mereka (orang yang mendengar) sendiri” Ayat ini diulang sebanyak tiga kali, (Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. - Kis 2:6 ; Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita: - Kis 2:8 ; baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah." - Kis 2:11), yang menunjukkan kepada kita, bahwa ini merupakan kunci untuk memahami teks ini. Mukjizat Pentakosta bukanlah suatu kenyataan bahwa para rasul, yang semua penduduk asli Palestina, mulai berbicara dalam bahasa asing, melainkan suatu kenyataan, bahwa semua orang asing mendengar pewartaan tentang perbuatan ajaib Allah dalam bahasa mereka sendiri, inilah mukjizat Pentakosta.
Banyak teks Perjanjian Baru yang lain, yang mengacu kepada “karunia lidah” (sebab mereka mendengar orang-orang itu berkata-kata dalam bahasa roh dan memuliakan Allah - Kis 10:46 ; Dan ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat. – Kis 19:6 ; 1 Kor 12; 14:2-19), tetapi dalam teks Pentakosta ini Allah menggariskan dasar bagi semua pewartaan, mereka yang dipanggil untuk beriman kepada Yesus, dipanggil untuk menjadi anggota Gereja, tidak diwajibkan untuk meninggalkan bahasa dan budaya mereka, seperti yang diharapkan orang Yahudi Proselit zaman dahulu. Di lain pihak Allah bahkan menghendaki agar umat manusia dari segala bangsa, bahasa dan kebudayaan turut memuji dan memuliakan-Nya melalui cara ini, dengan keaneka-ragaman dalam Tubuh Kristus (Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus. Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh. - 1 Kor 12:12-13), akan tampak bagi semua orang seperti berkumpulnya kembali anak-anak Allah yang tercerai-berai melalui Yesus dan Roh-Nya. (dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai. - Yoh 11:52).
Dalam sejarahnya, Gereja cenderung melupakan mukjizat Pentakosta ketika menekankan bahasa dan kebudayaannya saat mewartakan Injil kepada bangsa-bangsa yang baru. Melalui sejarahnya juga, Roh Kudus memperingatkan Gereja, agar melawan cobaan-cobaan seperti itu, sebagaimana yang ditunjukkan oleh para rasul yang hidup berdasarkan semangat Pentakosta pada waktu itu.
(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pastoral Katolik)

Read more .....