3/30/2015

DI JALAN MENUJU EMAUS (2)


Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka (Luk 24:31). Kita memperhatikan di halaman Injil ini, betapa cermatnya Lukas secara bergantian mempergunakan kata kerja : melihat dan mengenal.

Penginjil Lukas, sesungguhnya ingin memperlihatkan kepada kita, bahwa sesudah kebangkitan-Nya Yesus tidak lagi dapat dilihat oleh mata badaniah, tetapi harus dilihat dengan mata rohani kita, Ia telah pergi dari dunia ini kepada Bapa, dan dunia yang baru ini luput dari kemampuan indrawi kita. Hanya dengan penglihatan barulah, yaitu mata rohani dalam terang iman membuat kita “mengenal-Nya” sebagai pribadi yang hadir dan aktif dalam diri kita dan di sekeliling kita. Jika sejarah Gereja mencatat sejumlah penampakan luar biasa dari Yesus yang bangkit, maka orang-orang beriman diundang untuk “mengenal” Dia melalui iman.
Kedua murid ini kembali ke rumah untuk kembali ke pekerjaan mereka yang semula, setelah harapan mereka hancur. Kita terbiasa menyebut mereka peziarah Emaus. Orang-orang Yahudi atau bangsa Israel adalah kaum peziarah karena mereka tidak pernah mempunyai kesempatan untuk berlama-lama di jalan. Keberangkatan dari Mesir, penaklukan Tanah Terjanji, pertempuran melawan penyerbu, pengembangan kebudayaan religius merupakan banyak tahapan sepanjang jalan. Setiap kali mereka berpikir bahwa dengan mencapai sasaran, masalah mereka akan terselesaikan, tetapi setiap kali pula mereka harus menyadari bahwa jalan yang mereka tempuh masih panjang.
Kleofas dan pengiringnya adalah peziarah sejak mereka mengikuti Yesus, karena mereka berpikir bahwa Dia akan menebus Israel. Pada akhirnya yang ada hanya kematian Yesus.
Inilah saat ketika Yesus benar-benar hadir dan mengajar mereka, bahwa tak seorangpun dapat memasuki Kerajaan Allah tanpa melewati kamatian.
Mereka mengenal-Nya (Luk 24:31). Barangkali Yesus tampak berbeda seperti yang kita lihat dalam Yohanes 20:14 (Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus). Inilah yang dikatakan dalam Markus 16:12 (Sesudah itu Ia menampakkan diri dalam rupa yang lain kepada dua orang dari mereka, ketika keduanya dalam perjalanan ke luar kota). Lukas juga menginginkan agar kita mengerti, bahwa orang-orang yang tidak dapat mengenal Yesus, akan melihat Dia ketika mereka menjadi percaya.
Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi (Luk 24:27). Ingatlah bahwa kitab “Musa dan para nabi” adalah salah satu cara menyebut Kitab Suci. Yesus mengundang mereka untuk beralih dari iman dan harapan Israel menuju masa depan yang bahagia bagi seluruh bangsa, yaitu kepada iman dalam tiap-tiap pribadi yang menerima misteri penolakan dan Kesengsaraan-Nya.
Dalam pelajaran Kitab Suci-Nya yang pertama, Yesus mengajarkan mereka bahwa Mesias harus menderita (Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?" – Luk 24:26). Yesus tidak hanya membeberkan semua teks yang menubuatkan Kesengsaraan dan Kebangkitan-Nya seperti Yes 50:6 (Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi) ; Yes 52:13 (Sesungguhnya, hamba-Ku akan berhasil, ia akan ditinggikan, disanjung dan dimuliakan), tetapi juga teks-teks yang menunjukkan bahwa rencana Allah menyaring sejarah manusia (Sebab Allah akan menyelamatkan Sion dan membangun kota-kota Yehuda, supaya orang-orang diam di sana dan memilikinya – Mzm 69:36).
Sesuatu yang mirip terjadi dengan kaum beriman sekarang, ketika kita selalu mengeluh dan menunjukkan ketidak-sabaran kita. Namun Yesus tidak meninggalkan kita sendirian, Ia tidak bangkit untuk duduk-duduk saja di Surga, Ia mendahului kemanusiaan dalam ziarah-Nya dan menarik kita kepada hari terakhir ketika Ia datang menemui kita.
Pada saat yang sama Ia berjalan bersama kita, dan ketika harapan kita hancur, itulah saatnya kia menemukan makna Kebangkitan.
Jadi yang dilakukan Gereja bagi kita sama dengan yang dilakukan Yesus bagi kedua murid-Nya. Pertama, Gereja memberikan kita “penafsiran atas Kitab Suci”: yang menjadi persoalan dalam usaha kita mengerti Kitab Suci bukanlah menghafal perikop demi perikop, melainkan menemukan benang merah yang menghubungkan berbagai peristiwa dan mengerti rencana Allah terhadap manusia. Kedua, gereja merayakan Ekaristi. Perhatikan bagaimana Lukas menuliskan, Ia mengambil roti, mengucap berkat, membagi-bagi-Nya dan memberikan-Nya (Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. – Luk 24:30), empat kata yang sama digunakan oleh kaum beriman dalam perayaan Ekaristi. Kita bisa datang mendekati Yesus lewat percakapan dengan Dia dan merenungkan sabda-Nya, kita juga mendapati Dia hadir dalam pertemuan-pertemuan persaudaran kita, namun Ia memperkenalkan diri-Nya dengan cara yang berbeda ketika kita membagi-bagikan roti yang adalah Tubuh-Nya (Lalu kedua orang itu pun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti. – Luk 24:35)
(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pastoral Katolik)

Read more .....

DI JALAN MENUJU EMAUS (1)


(The Pilgrimage of Faith, oleh John O’Donnel SJ)
Kisah dua murid di jalan menuju Emaus merupakan topik permulaan suatu seri meditasi iman Kristiani, karena pokok meditasi ini adalah imajinasi kehidupan iman suatu perjalanan ziarah, suatu perjalanan dalam persahabatan dengan Kristus.

Kisah Injil ini lebih dari sekedar kenang-kenangan sejarah, jalan menuju Emaus adalah suatu jalan yang setiap orang harus lalui. Dua murid ini mewakili kita dalam perjalanan hidup kita. Kristus ada bersama kita, jika kita mempunyai “mata” untuk melihat Dia.
Pada meditasi, pertama, kita akan mengkonsentrasikan pemikiran bahwa perjalanan hidup tidak kita lakukan sendirian, melainkan merupakan suatu perjalanan dalam persahabatan dengan Kristus dan dengan sesama kita.
Kadang-kadang orang bertanya, hal apakah yang menyebabkan seseorang memutuskan untuk menjadi orang Kristen ? apa bedanya antara kehidupan seorang Kristen dan kehidupan orang yang tak beriman ? bukankah banyak orang yang tidak beriman menjalani hidup yang baik dan sering lebih baik dari pada mereka yang beriman. Jawabannya terletak pada “persahabatan”. Memang bisa juga menjadi seorang yang baik tanpa percaya kepada Allah ataupun Kristus, namun kehidupan yang demikian dijalani tanpa bersama seseorang yang kasih-Nya setia tanpa batas, yaitu Dia yang selalu mempertahankan kita pada keadaan yang baik maupun keadaan buruk, yang berjalan bersama kita hingga saat kematian dan malahan menyambut kita setelah kematian.
St. Lukas menggambarkan bagaimana kedua murid Kristus dalam perjalanan mereka menuju ke Emaus dibimbing dari keadaan tidak percaya hingga menjadi percaya. Tuhan membuka mata mereka, sehingga mereka mengenali Dia, kitapun dapat mengenali Dia dengan cara yang sama.
St. Lukas menekankan dua hal, pertama ia menceritakan kepada kita, bahwa Yesus menginterpretasikan kepada mereka seluruh isi Kitab Suci, mulai dari kisah Musa sampai pada kisah para nabi adalah menyangkut hal-hal yang berkenaan dengan Diri-Nya (Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. – Luk 24:27). Dengan perkataan lain Yesus menunjukkan kepada mereka, bahwa seluruh Kitab Perjanjian Lama berhubungan dengan Diri-Nya.
Kedua, Lukas menghendaki supaya kita mengerti bahwa Kristus sungguh-sungguh dapat ditemukan di dalam Kitab Suci. Ia sungguh-sungguh berbicara kepada kita di sana, sama halnya ketika Ia berbicara kepada kedua murid ini di dalam perjalanan ke Emaus, Yesus juga berbicara kepada kita semua melalui Sabda-Nya di dalam Kitab Suci.
Sejak Konsili Vatikan II, kita telah mulai mendapatkan kembali kehadiran Allah yang baru melalui Sabda di dalam Kitab Suci, kita telah lama terbiasa berbicara dengan Kristus yang nyata hadir dalam Ekaristi. Sekarang kita mulai menghargai dan mengenali kehadiran-Nya dalam Sabda-Nya juga.
Iman kita berkisar sekitar misteri, bahwa Allah kita adalah Allah yang berbicara, Dia telah berbicara kepada kita ketika Sabda-Nya menjadi manusia, yaitu Yesus dari Nazareth. Yesus adalah pengungkapan Allah bagi kita. Ketika Ia berkata kepada para rasul, bahwa mereka yang telah melihat Dia, juga telah melihat Bapa (Kata Yesus kepadanya: "Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. – Yoh 14:9)
Dalam penyaliban Yesus dan kematian-Nya di kayu salib, Sabda menjadi hening. Jika itu merupakan akhir dari Yesus, maka iman kitapun menjadi tidak ada gunanya. Tetapi Ia telah bangkit dan kemudian mengutus murid-murid-Nya untuk memberikan kesaksian atas kebenaran kebangkitan ini, yang kemudian diabadikan dalam Injil. Iman muncul ketika kita mendengar Sabda ini, bukan suatu teks yang mati atau tanda-tanda cetakan di atas halaman Kitab Suci, melainkan sungguh-sungguh hidup seperti ketika Kristus berbicara kepada hati kita.
Kehadiran Kristus dalam Sabda dari Kitab Suci, sungguh dapat membimbing kita pada pertemuan dengan Dia dalam Sakramen Gereja, terutama Ekaristi. Karena itu, pertemuan murid-murid di jalan menuju ke Emaus ini mencapai puncaknya pada pengenalan mereka atas diri Yesus, ketika Dia memecah-mecahkan roti (Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. – Luk 24:30-31). Bahasa “pemecahan roti” ini, selalu mengenai Perjanjian Baru berkenaan dengan misteri Ekaristi.
Dalam meditasi kita sebelumnya, kita bicarakan kehadiran Allah bersama umat-Nya pada perjalanan hidup mereka. Dan tentunya juga dalam Ekaristi, yang disebut Viaticum, makanan untuk perjalanan. Melalui Ekaristi sungguh sangat membantu kita dalam merefleksikan hubungan kehadiran Kristus dalam Ekaristi dengan kehadiran-Nya dalam Gereja.
Kadang-kadang kita membayangkan bahwa urapan dari Persembahan dalam Misa menghasilkan suatu transisi kehadiran Kristus dari sama sekali tidak hadir menjadi hadir sepenuhnya. Pengertian seperti ini tidak cukup untuk mengamati misteri-Nya. Sebagaimana sudah kita lihat, Kristus juga hadir melalui Sabda dalam Kitab Suci, namun lebih lanjut Kristus sudah hadir dan ada di antara kita sebagai komunitas Kristiani, Ia ada di antara kita setiap hari yaitu ketika kita berusaha hidup sesuai dengan perintah-Nya yang baru untuk mengasihi. Tiap hari kita berusaha menanggulangi ego kita dan menyerahkan hidup kita pada-Nya dan kepada sesama. Kita berusaha untuk melihat di dalam diri komunitas kita, juga saudara-saudari seiman, di mana Kristus rela wafat bagi siapa saja. Demikian jauh kita lakukan hal ini, maka Kristus sungguh-sungguh hadir dalam diri kita dan komunitas kita menjadi seperti yang dikatakan Konsili Vatikan II, suatu sakramen yang dalam kehidupannya membuat Kristus nampak jelas pada dunia.
Lalu, di dalam Ekaristi, Dia malahan sudah hadir di tengah-tengah kita, memperdalam kehadiran-Nya di antara kita semakin nyata, kita bergabung dengan Dia dalam pengurbanan-Nya dan menerima-Nya sebagai makanan. Sakramen adalah kejadian-kejadian ketika Kristus hadir secara khusus dan dengan cara yang lebih intensif, tetapi Dia tidak pernah absen dari kita.
Misteri hidup kita di dalam Kristus adalah bahwa kehadiran-Nya dalam komunitas Gereja, kehadiran-Nya dalam Sabda dari Kitab Suci dan kehadiran-Nya dalam Sakramen Ekaristi, semuanya saling berhubungan erat satu sama lain. Dalam hidup kita sehari-hari, kita mengenali kehadiran-Nya ketika kita mematikan ego dalam diri kita dan menjalani kehidupan cinta kasih-Nya. Dalam Kitab Suci, Sabda yang menjadi daging pada saat kematian-Nya tetap berlanjut dalam Sabda permakluman-Nya, yang hingga sekarang kita dengarkan. Dalam Sakremen Ekaristi, ingatan akan wafat-Nya dan kebangkitan-Nya, merupakan suatu anugerah yang nyata dalam hidup komunitas.
Setelah bangkit dari mati, Kristus mengirim Roh Kehidupan-Nya kepada para murid-Nya dan kepada kita semua, dan melalui Roh yang sama Ia mendirikan tubuh dan mistik-Nya, yaitu Gereja, sebagai Sakramen Penyelamatan seluruh umat manusia.

Read more .....

HARI RAYA PASKAH


Mengapa disebut demikian dan kapan diangkat menjadi Liturgi Gereja?
Beberapa kata yang menunjuk pada kata Paskah adalah : Pesach (Ibr) atau Pasover (Ing) atau Pascha (Yun) berarti “lalu”. Kata lain untuk Pasover adalah Easter, namun arti kata Easter tidak menentu. Pandangan umum pada abad ke 8, kata Easter dikaitkan dengan pemujaan dewi musim semi orang-orang Anglo-Saxon (Ing) yang bernama Eostre. Dalam bahasa Romawi dan beberapa bahasa lain, kata Easter (Ing) lebih menunjuk pada kata Pesach (Ibr) atau Pasover.

Secara teologis dan liturgis, Paskah berakar pada kitab Perjanjian lama. Dalam Kitab Keluaran (Exodus) kata Paskah menunjuk tidak hanya “berlalunya” bencana dari orang-orang Yahudi di Mesir, tetapi juga “bebasnya” Israel dari perbudakan Mesir menuju tanah terjanji (Kanaan). Paskah Yahudi berarti perayaan syukur atas pembebasan (tulah dan perbudakan) dan persembahan hasil pertama dalam tahun. (Paskah Yahudi lihat Kel 12).
Paskah Yahudi selalu dirayakan berdasarkan kalender (penanggalan) yang berdasarkan siklus bulan (moon) yaitu pada hari ke 14 Nisan atau Abib (bulan pertama) dalam penanggalan Yahudi yang jatuh antara bulan Maret dan April. Sehingga dapat jatuh pada hari apa saja dalam pekan.
Paskah orang Kristen pertama dirayakan sebagai peringatan akan wafat (dan kebangkitan) Kristus yang disalib. Mereka merayakan Paskah pada hari Minggu pertama sesudah bulan purnama atau sesudah waktu siang dan malam sama lamanya atau siklus musim yang berkisar antara tanggal 22 Maret sampai 25 April (setelah 21 Maret).
Pada abad ke 2, karena adanya dua kalender yang digunakan untuk menentukan perayaan Paskah, maka timbul pertentangan dan Konsili Nicaea (tahun 325) menentukan perayaan Paskah yaitu pada hari Minggu sesudah hari ke 14 Nisan dan sesudah waktu siang dan malam sama lamanya, sebagai jalan tengah. Namun kesulitan muncul dengan harus diperhitungkannya kalender Yulianus yang berdasarkan siklus Matahari. Hingga abad ke 9 pertentangan tetap timbul, dan mulai teratasi dengan adanya kalender Gregorius pada tahun 1582, beberapa daerah lain mulai menyesuaikan.
Pengertian Paskah secara Teologis-Liturgis :
Tema pokok Paskah adalah perayaan wafat, kebangkitan, kenaikan dan turunnya Roh Kudus bagi Gereja. Paskah dipersiapkan dengan masa persiapan (Pra-Paskah / Puasa) dan diikuti 50 hari sesudahnya (masa Paskah) yang berakhir pada hari Pentakosta.
Paskah bukan hanya mengenangkan peristiwa masa lalu saja, tetapi sebagai ungkapan kematian dan kebangkitan Kristus dengan hidup baru yang dibagikan kepada umat yang percaya kepada-Nya.
Di dalam liturgi Paskah diikuti dengan pembaptisan, ini mengungkapkan bahwa orang yang dibaptis bebas dari dosa dan bangkit dengan hidup baru dalam Kristus. Pakaian putih para baptisan sebagai simbol, bahwa mereka terbebas dari kegelapan dosa oleh Terang Kristus yang bangkit.
Liturgi sekarang diawali dengan perarakan Lilin Paskah dalam kegelapan sebagai simbol Kristus yang bangkit adalah terang dunia yang menghalau kematian dan kegelapan dosa, kemudian menyusul Exultet yang mengingatkan kita akan Allah yang membebaskan umat-Nya di masa lampau.
Upacara liturgi ini hanya diadakan seandainya tidak ada upacara liturgi pada Malam Paskah atau banyak umat yang belum mengikuti upacara liturgi Vigili Paskah.
Warna Liturgis adalah Putih, lambang Kemuliaan dan Kegembiraan. Perayaan Ekaristi sama dengan Hari Minggu.
Untuk kita renungkan :
Yesus bangkit untuk apa dan bagi siapa? Selamat bangkit bersama Kristus Jaya, seraya bernyanyi “Alleluia”.

Read more .....

YESUS YANG BANGKIT DAN MULIA


Kata Yesus kepadanya: "Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu." (Yoh 20:17). Sebelum kematian-Nya, Yesus tidak menolak perasaan-perasaan dan tindakan-tindakan Maria Magdalena yang penuh antusias. Sekarang tindakan tersebut yang ingin memiliki Gurunya yang tercinta sudah tidak pantas lagi.

Yesus sekarang adalah Dia yang telah bangkit, dan sekalipun Ia membiarkan dapat dilihat oleh murid-murid-Nya selama beberapa hari, murid-Nya harus melepaskan kehadiran fisik Yesus yang sudah membuat mereka betah. Sejak saat itu para pengikut-Nya atau saudara-saudara dan pencinta-pencinta Yesus akan memeluk Dia dengan cara yang rahasia dan lebih mengagumkan, ketika mereka diberi karunia-karunia doa dan iman. Pada saat itu roh yang kontemplatif, yang dilambangkan oleh Maria, boleh menikmati seluruh pribadi Kristus (Baru saja aku meninggalkan mereka, kutemui jantung hatiku; kupegang dan tak kulepaskan dia, sampai kubawa dia ke rumah ibuku, ke kamar orang yang melahirkan aku - Kid 3:4)
Aku belum pergi ke Bapa. Yesus menyatakan keinginan besar yang memenuhi seluruh hidup-Nya. Ia berasal dari Allah dan harus kembali kepada Bapa. Inilah “kasih terbesar di dunia”. Segala kasih yang Yesus tunjukkan kepada kita hanyalah suatu manifestasi dari kasih yang lain, karena Allah Bapa adalah sumber dan tujuan segala kasih itu.
Bukan kebetulan bahwa kata Tuhan sekali lagi diulang tujuh kali, yang terakhir kali oleh Thomas, ("Ya Tuhanku dan Allahku!" – Yoh 20:28) hal ini adalah ungkapan iman Gereja.
Mari kita perhatikan bahwa orang-orang yang telibat dalam peristiwa ini dahulu menyebut Yesus “Guru”, tetapi sekarang Yohanes membuat mereka menyebut-Nya Tuhan. Mengapa ? sejak awal mula Gereja, para orang beriman perlu mencari kata-kata untuk mengungkapkan iman mereka kepada Yesus, Putra Allah. Karena Yesus adalah Putra, Ia bukanlah pribadi yang sama dengan Allah, tetapi Ia satu dengan Allah. Bagaimana mengungkapkan situasi Ilahi ini ?
Dalam Kitab Suci, Allah diberi dua nama : Allah dan Yahweh. Pada waktu itu orang-orang Yahudi sudah tidak lagi menyebut nama Yahweh melainkan menyebut-Nya “Tuhan”, lagi pula dalam Kitab Suci yang berbahasa Yunani yang dipakai oleh para rasul dan Gereja, Yahweh diterjemahkan juga dengan istilah ”Tuhan”. Maka para rasul segera memutuskan mempertahankan istilah Allah apabila berbicara tentang Allah Bapa, dan menggunakan istilah “Tuhan” bagi Yesus, sehingga ditegaskan bahwa Yesus setara dengan Bapa.
Penampakan-penampakan Yesus yang telah bangkit kepada para murid-Nya selain membina harapan dan menjadikan mereka saksi-saksi yang layak tentang kebangkitan-Nya, juga diperlukan untuk pembinaan rohani mereka. Murid-murid itu perlu belajar mengenal Yesus tidak hanya lewat panca indera mereka, tetapi juga lewat iman. Demikian pula kita harus belajar mengenal dan mengikuti Yesus dalam terang iman yang diberikan kepada kita, yang meskipun dalam situasi suram pada saat kita mengalami kesepian dan kekeringan, maupun pada saat kita mengalami penghiburan, sehingga kita juga akan menjadi salah satu dari mereka yang terberkati oleh Yesus. Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” ( Yoh 20:29).
(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pastoral Katolik)

Read more .....

KEBANGKITAN YESUS DAN KAIN KAFAN


Pada hari kedua sesudah penguburan tampaknya Yesus hidup dan telah keluar dari kuburan. Kebangkitan terjadi pada hari pertama dalam pekan yang selanjutnya akan disebut Hari Tuhan atau Minggu.

Dalam Injil Lukas, setelah kebangkitan-Nya Yesus menolong murid-murid-Nya membaharui iman dan harapan mereka. Sebaliknya, di sini kita melihat orang-orang beriman yang dalam kesunyian mengkontemplasikan Tuhan yang telah bangkit. Kristus menampakkan Diri kepada Maria yang tidak mengenal Dia. Ketika Ia berdiri di tengah-tengah para murid-Nya, Yesus harus menunjukkan luka-luka-Nya untuk membuktikan bahwa Dialah sesungguhnya Yesus, Dia yang telah mati dan sekarang hidup lagi. Yesus berada di tengah-tengah mereka, tetapi penampilan-Nya seperti seorang yang tidak dikenal, dan tubuh-Nya yang telah diubah secara rohani memancarkan sinar kemenangan atas dosa dan maut.
Beberapa teks mencatat, Petrus adalah kepala para rasul sekaligus seorang saksi bahwa kubur sungguh kosong dan bahwa Yesus telah bangkit dari antara orang mati (Sungguhpun demikian Petrus bangun, lalu cepat-cepat pergi ke kubur itu. Ketika ia menjenguk ke dalam, ia melihat hanya kain kafan saja. Lalu ia pergi, dan ia bertanya dalam hatinya apa yang kiranya telah terjadi. – Luk 24:12)
Iman kita didukung pertama-tama oleh kesaksian para rasul dan khususnya oleh kesaksian KEPALA para rasul, yaitu Kefas yang disebut Petrus. (bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. – 1 Kor 15:5)
Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat dari pada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur. Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kafan terletak di tanah; akan tetapi ia tidak masuk ke dalam. Maka datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kafan terletak di tanah, sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kafan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung. Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya. (Yoh 20, 4-8)
Kain kafan adalah kain sepanjang empat meter yang diletakkan di bawah jenasah mulai dari kaki sampai ke kepala, lalu dilipat ke atas jenasah dari kepala sampai ke kaki lagi.
Kain yang mengikat kedua ujung kain kafan disebut juga kain kafan.
Muka orang yang mati dibungkus dengan kain tersendiri, yaitu kain peluh yang diikat di bawah dagu dan di atas kepala.
Kain kafan dan kain pengikat terletak di tempat jenasah dibaringkan, dan kain-kain itu terbentang rata, karena jenasah di dalamnya telah menghilang tanpa dibuka pengikatnya, kain peluh yang diikat tinggal seperti biasa di tempat lain. Tubuh duniawi itu telah menghilang, alias sudah bangkit berubah menjadi tubuh yang mulia. (Ada tubuh sorgawi dan ada tubuh duniawi, tetapi kemuliaan tubuh sorgawi lain dari pada kemuliaan tubuh duniawi. Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah. Jika ada tubuh alamiah, maka ada pula tubuh rohaniah. – 1 Kor 15:40-44)
Yesus tidak kembali kepada hidup di bumi ini dengan tubuh-Nya yang duniawi, maka apabila kita berbicara tentang tubuh Yesus yang bangkit, kita mengacu kepada sesuatu yang belum pernah kita alami di bumi ini.
Mereka yang telah bermimpi melihat Yesus sebenarnya hanya melihat gambaran Yesus dan tidak sungguh-sungguh melihat Dia, kecuali beberapa orang kudus yang agung.
(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pastoral Katolik)

Read more .....

MALAM PASKAH


Mengapa disebut demikian? Bagaimanakah data sejarah penunjang liturgi tersebut hingga kini dalam Gereja?
Malam Paskah berarti malam menjelang Hari Raya Paskah, tepatnya malam Minggu. Hari Sabtu itu dalam liturgi Gereja disebut “Sabtu Suci”. Malam Paskah disebut juga “Vigili Paskah”. Istilah “vigili” berasal dari bahasa Latin “Vigilis”, yang berarti “Berjaga-jaga, siap siaga”. Oleh karena itu, Vigili Paskah berarti berjaga bersama Yesus Kristus yang yang beralih dari kematian menuju kebangkitan.

Sesuai dengan penghayatan iman kristiani, maka peringatan akan kemenangan Kristus atas dosa dan maut, telah dimulai pada upacara liturgi Malam Paskah.
Pada abad ke 2, peringatan sengsara maupun kebangkitan Kristus dirayakan atas cara yang sederhana. Menurut penghayatan Gereja pada waktu itu, pada Malam Paskah, Yesus melewati pintu gerbang kematian menuju kehidupan.
Bacaan Kitab Suci yang diwartakan dan direnungkan adalah antara lain pernyataan Paulus : “Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebab kamu memang tidak beragi. Sebab Anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus” (1 Kor 5, 7)
Pada abad ke 3 ibadat Malam Paskah berlangsung pada malam hari. Pada malam itu pula diadakan upacara pembaptisan bagi para katekumen. Teks Injil Rom 6 tentang makna “mati dan bangkit bersama Kristus dan dua jenis perhambaan”, diwartakan dan direnungkan. Menurut data buku “Traditio Apostolica” (Sejarah Tradisi Para Rasul), yang dikarang oleh Hippolitus, maka Malam Paskah dan upacara pembaptisan berlangsung sampai ayam berkokok, dilanjutkan dengan perayaan ekaristi pada pagi hari.
Sejak abad ke 4, upacara Jumat Agung telah dipisahkan dari liturgi Malam Paskah dan Hari Raya Paskah. Malam Paskah merupakan rangkuman dari Triduum hari ketiga, berakhirnya masa puasa, namun tercipta saat rekonsiliasi, yang memuncak pada Hari Raya Paskah. Pada waktu itu, telah ditata bentuk litrugi Malam Paskah yang dikenal dengan upacara “Lilin Paskah” sebagai simbol Cahaya Kristus yang mengalahkan dosa dan maut. Tradisi tersebut berlangsung sampai abad ke 14, namun upacara cahaya diadakan pada pagi hari, sehingga simboliknya menghilang dari penghayatan iman umat.
Pada tahun 1951, abad ke 20, Paus Pius XII melalui dekritnya “Ad Vigiliam Paschalem” (tentang Vigili Paskah), tepatnya 9-Februari-1951, menetapkan bentuk upacara liturgi Malam Paskah yang dikenal hingga saat ini dalam liturgi Gereja.
Upacara liturgi terdiri dari 4 bagian, yaitu upacara cahaya, liturgi sabda, upacara pembatisan dan liturgi ekaristi. Dalam upacara cahaya, imam memberkati Api Baru di luar Gereja di depan pintu gerbang utama, menandai Lilin Paskah dengan tanda salib angka tahun yang bersangkutan, menancapkan 5 biji dupa simbol luka-luka Kristus, melingkari dua abjad Yunani yakni Alpha dan Omega (Awal dan Akhir). Lilin Paskah dinyalakan dari Api Baru. Diakon membawa Lilin Paskah tersebut (jika tidak ada diakon, berarti imam itu sendiri), tiga kali berhenti seraya menyanyikan “Lumen Christi” (Cahaya Kristus) di tengah kegelapan ruangan gereja, maka umat serentak menjawab “Deo Gratias” (Syukur kepada Allah), seraya menyalakan lilin-lilin yang dipegang dan berlutut tanda hormat ke arah lilin utama tersebut.
Jika sudah tiba di panti imam, maka lampu-lampu dinyalakan, dilanjutkan dengan “Exultet” (Madah Pujian Paskah) oleh diakon atau oleh imam. Menyusul liturgi sabda dengan sembilan kutipan teks Kitab Suci Perjanjian Lama dan Baru. Setiap bacaan diselingi dengan lagu dan doa singkat dalam suasana hening. Tersedia tujuh bacaan Kitab Suci Perjanjian Lama, tiga kutipan wajib yakni Kisah Penciptaan, Kisah Pengorbanan Ishak dan Penyeberangan Laut Merah. Sedangkan empat bacaan lainnya diambil dari kutipan Kitab Para Nabi, namun sifatnya fakultatif.
Bacaan Kitab Suci Perjanjian Baru, diambil dari Rom 6, 3-11, menyusul madah pujian “Alleluia”, dilanjutkan dengan kutipan Injil mengenai peristiwa Kebangkitan menurut kalender tahun liturgi yang bersangkutan.
Sesudah homili singkat, dilanjutkan dengan upacara pemberkatan air baptis dan air suci, yang diawali dengan “Litani Para Kudus”. Jika ada katekumen yang telah siap untuk dibaptis, maka diterimakan “Sakramen Permandian” dan Krisma jika upacara liturgi dipimpin oleh seorang Uskup.
Sesudah pembaharuan janji baptis dalam bentuk tanya jawab antara imam dan umat, maka umat diperciki dengan Air Suci, sesudahnya dilanjutkan dengan liturgi ekaristi. Jika ada neobaptis, maka akan menerima Komuni Pertama.
Ternyatalah bahwa liturgi Malam Paskah mengandung unsur-unsur yang sama dengan tradisi yang hidup dan berkembang dari jaman ke jaman, dari generasi ke generasi hingga kini. Teristimewa setelah adanya penataan kembali “Upacara Vigili Paskah” pada tahun 1951, masih terlihat dan terasa dampaknya terhadap upacara liturgi Malam Paskah sebagaimana terdapat dalam “Missale Romanum”, dengan struktur dasarnya yang tebagi atas :
· Upacara Cahaya : Pemberkatan Api, pemberkatan lilin, perarakan dan pujian Paskah.
· Liturgi Sabda : Bacaan Kitab Suci Perjanjian Lama dan Baru
· Liturgi Pembaptisan : Pemberkatan Air Baptis, pembaptisan, pemberkatan Air Suci, pembaharuan janji baptis.
· Liturgi Ekaristi : warna liturgi adalah putih, upacara liturgi berlangsung sore atau malam hari.
(Bacaan 1 : Kej 1:1,26-31a Bacaan 2 : Kej 22:1-2,9a,10-13,15-18 Bacaan 3 : Kel 14:15–15:1 Bacaan 4 : Yes 54:5-14 Bacaan 5 : 55:1-11 Bacaan 6 : Bar 3:9-15,32-4:4 Bacaan 7 : Yeh 36:16-17a,18-28 Epistola : Rm 6:3-11
Injil A : Mat 28:1-10 Injil B : Mrk 16:1-7 Injil C : Luk 24:1-12)
Untuk kita renungkan :
Pada Malam Paskah, Yesus Kristus Tuhan kita beralih dari kematian menuju kepada hidup. Kita memperoleh hidup baru lewat Air Sakramen Permandian atau Baptisan. Kita memperoleh pemahaman baru mengenai hidup lewat Terang Kristus melalui simbolik Lilin Paskah.

Read more .....

YESUS KRISTUS RAJA DI HADAPAN PILATUS


Jawab Yesus: "Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini." (Yoh 18:36). Dalam Injil kata kerajaan, yaitu negeri yang dikuasai oleh seorang raja; kekuasaan, yaitu pemerintahan raja; Kerajaan, yaitu martabat dan kuasa seorang raja.

Dalam jawaban Yesus kepada Pilatus, arti yang diberikan kepada kata itu bukan kerajaan, melainkan Kerajaan, yaitu kuasa seorang raja.
Apapun juga artinya, kelirulah kalau kita mengartikan kata-kata Yesus sebagai berikut : “Kerajaan-Ku berada di dunia lain, maka soal-soal sosial dan politik di dunia ini tidak penting bagi-Ku” dan mengira bahwa Yesus datang untuk memberikan keselamatan rohani, secara individu kepada jiwa-jiwa yang percaya.
Demikian pula, kelirulah kalau kita mengartikan kata-kata : Engkau tidak mempunyai kuasa apapun terhadap Aku, jikalau kuasa itu tidak diberikan kepadamu dari atas, bahwa seolah-olah para penguasa menerima kuasa mereka langsung dari Allah dan tak seorangpun boleh mengambil langkah-langkah untuk menggantikan mereka dengan orang lain yang tidak begitu korup, atau dengan orang yang lebih adil, atau juga dengan orang yang lebih mampu. (Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah. - Rm 13:1)
Yesus dengan tangan terikat, “bertindak” sebagai raja di hadapan gubernur Pilatus yang menjadi tawanan dari jabatan dan ambisinya sendiri. Yesus bukanlah seorang raja yang sama seperti mereka yang berasal dari dunia ini, karena Ia tidak memperlihatkan kuasa seperti yang sudah biasa ditaati oleh banyak orang. Yesus raja orang-orang Yahudi, tidak datang untuk menghidupkan kembali kerajaan Yahudi, tetapi untuk mendirikan Kerajaan Kebenaran, yang dijanjikan Allah kepada mereka selama berabad-abad.
Namun kebenaran tidak menang dengan menggunakan senjata, tetapi dengan kesaksian mereka yang hidup menurut kebenaran. Saksi-saksi kebenaran sering dianiaya, tetapi mereka sendiri tidak menganiaya orang lain.
Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini. Yesus berbeda dengan penguasa-penguasa lain yang telah memperoleh kedudukan mereka lewat kekerasan atau telah memenangkannya dalam suatu pemilihan, Yesus beda karena Ia telah diutus dan diurapi oleh Bapa.
Pilatus, di lain pihak telah diangkat oleh Kaisar Roma dan karirnya tergantung pada ambisinya maupun pada beberapa pelindung kekuasaannya. Bagaimana orang seperti dia bisa memiliki kuasa atas Putra Allah dan menyuruh orang untuk menyalibkan Dia karena takut kepada rakyat, kalau bukan untuk memenuhi suatu dekrit dari Atas ? Sesungguhnya, bahkan tidak seekorpun burung pipit yang jatuh ke tanah tanpa diijinkan olah Bapa.
Allah tidak akan mengijinkan manusia untuk menghancurkan nasib Putra-Nya. Ia sungguh menaruh perhatian kepada kita masing-masing sehingga ketidak-adilan pun yang diperbuat terhadap kita, dapat berguna untuk rencana-rencana-Nya bagi kepentingan kita. Karena nasib kita tergantung sekaligus pada Allah dan penguasa-penguasa duniawi, kita harus percaya bahwa Ia memanfaatkan keputusan-keputusan duniawi mereka untuk melaksanakan rencana-rencana-Nya, sekalipun kuasa mereka itu dari dunia, yang berarti dapat dipertanyakan keabsahan kuasa mereka.
Pilatus terpaksa menghukum Yesus, karena ia telah menindas dan tanpa malu mengeksploitasi orang-orang Yahudi, ia takut nanti mereka mengadukan dia kepada Kaisar mengenai segala perbuatannya. Tetap baginya menghukum Yesus tidak lebih dari pada menghukum mati seorang Yahudi lagi, ia tidak memikul seluruh kesalahan, karena pengadilan seperti itu adalah buah dari sistem kolonial Roma.
Kayafas, Imam Agung Allah yang terurapi, sebaliknya tidak bisa menghukum Yesus tanpa dengan tahu dan mau memfitnah perbuatan-perbuatan-Nya dan perkataan-Nya, maka dosanya lebih besar (Yesus menjawab: "Engkau tidak mempunyai kuasa apa pun terhadap Aku, jikalau kuasa itu tidak diberikan kepadamu dari atas. Sebab itu: dia, yang menyerahkan Aku kepadamu, lebih besar dosanya." – Yoh 19:11)
Maka berteriaklah mereka: "Enyahkan Dia! Enyahkan Dia! Salibkan Dia!" Kata Pilatus kepada mereka: "Haruskah aku menyalibkan rajamu?" Jawab imam-imam kepala: "Kami tidak mempunyai raja selain dari pada Kaisar!" (Yoh 19:15). Demikianlah teriakan dari masa yang disulut oleh pemimpin-pemimpin mereka, sekalipun mereka membenci orang-orang Romawi dan Kaisar mereka. Sesungguhnya, beberapa tahun kemudian orang-orang Yahudi tidak memiliki raja lain selain Kaisar, dan raja ini akan menghancurkan mereka.
Pilatus sebenarnya ingin menyelamatkan hidup dari tahanannya ketika ia mempertontonkan Dia dalam kondisi-Nya yang terluka dan tersiksa. Namun siasatnya membuahkan kebalikannya (Sejak itu Pilatus berusaha untuk membebaskan Dia, tetapi orang-orang Yahudi berteriak: "Jikalau engkau membebaskan Dia, engkau bukanlah sahabat Kaisar. Setiap orang yang menganggap dirinya sebagai raja, ia melawan Kaisar." – Yoh 19:12)
(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pastoral Katolik)

Read more .....

ANAK DOMBA PASKAH


Para leluhur Ibrani, ketika mereka masih mengembara dengan kawanan-kawanan mereka sebelum mereka tinggal di Mesir, mereka merayakan Paskah Anak Domba, yang merupakan pesta tradisional para gembala. Mereka mengorbankannya pada bulan pertama pada musim semi, suatu masa kritis bagi biri-biri betina yang baru beranak.

Anak domba yang dipisahkan untuk pesta disimpan selama beberapa hari di tempat orang tinggal, supaya anak domba itu lebih bersatu dengan keluarga dan membawa dosa-dosa dari semua anggota keluarga. Kemudian, kemah-kemah direciki dengan darahnya untuk menghalau roh-roh jahat yang mengancam manusia dan hewan.
Arti pesta kuno ini telah berubah, Allah menghendaki Paskah dirayakan pada peristiwa bangsa Israel keluar dari Mesir, pesta itu akan selalu ada untuk mengingatkan Israel akan pembebasannya.
Dengan menyelamatkan anak-anak sulung dari Israel, Allah sekali lagi menyatakan secara resmi penolakan-Nya terhadap kurban manusia (Lalu Ia berfirman: "Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku." - Kej 22:12), karena pada jaman dulu di Timur Tengah ada kebiasaan mengorbankan manusia (Kemudian ia mengambil anaknya yang sulung yang akan menjadi raja menggantikan dia, lalu mempersembahkannya sebagai korban bakaran di atas pagar tembok. - 2 Raj 3:27) & (Ia menajiskan juga Tofet yang ada di lembah Ben-Hinom, supaya jangan orang mempersembahkan anak-anaknya sebagai korban dalam api untuk dewa Molokh - 2 Raj 23:10)
Anak sulung dari umat-Nya adalah milik-Nya ("Kuduskanlah bagi-Ku semua anak sulung, semua yang lahir terdahulu dari kandungan pada orang Israel, baik pada manusia maupun pada hewan; Akulah yang empunya mereka." - Kel 13:2) demikian juga anak sulung dari binatang-binatang dan hasil pertama dari bumi (maka haruslah engkau membawa hasil pertama dari bumi yang telah kaukumpulkan dari tanahmu yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, dan haruslah engkau menaruhnya dalam bakul, kemudian pergi ke tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, untuk membuat nama-Nya diam di sana. - Ul 26:2), tetapi berhubung Allah telah menyelamatkan anak-anak sulung Israel ketika mereka meninggalkan Mesir, setiap anak sulung di Israel haruslah “ditebus”, bukannya dikurbankan (Tetapi mengenai manusia, setiap anak sulung di antara anak-anakmu lelaki, haruslah kautebus - Kel 13:13).
Sejak saat itu keluarga-keluarga Israel akan menganggap anak sulung mereka sebagai milik Tuhan dan dipersembahkan kepada-Nya (Kel 13:2) karena mereka telah diselamatkan dari bencana.
Menurut hukum ini, Yesus anak sulung Maria, juga dipersembahkan di Bait Allah kemudian ditebus kembali dengan sepasang burung merpati (Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah", dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati. - Luk 2:22-24).
Pesta yang berasal dari suatu pesta kafir “diubah” menjadi suatu pesta yang mempunyai “arti baru”, darah anak domba memeteraikan perjanjian Tuhan dengan umat yang telah dipilih-Nya dari bangsa-bangsa lain. Mulai saat itu, Paskah akan menjadi pesta kemerdekaan bangsa Israel.
Pada pesta Paskah, Allah membiarkan Yesus mati dan bangkit dalam hari-hari Paskah. Kematian Yesus memeteraikan Perjanjian Baru antara Allah dan umat manusia (Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan sesudah makan; Ia berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu. - Luk 22:20), setiap Perayaan Misa berakar pada kematian dan kebangkitan Kristus “Anak Domba Allah.
(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pastoral Katholik)

Read more .....

JUMAT AGUNG


Mengapa disebut demikian ? Sejak kapan dirayakan dalam Liturgi Gereja ?
Pada awal kekristenan, khususnya pada abad pertama perhatian umat terarah kepada misteri Paska, bukan tertuju kepada misteri sengsara pada wafat Yesus. Namun demikian sejak abad ke 2 telah hidup tradisi “Menjaga Makam Yesus” selama 40 jam.

Pada abad ke 3, kemudian berlangsung hingga abad ke 6, ibadat Jumat Agung di Roma sangat sederhana, hanya terdiri dari bacaan-bacaan Kitab Suci dan doa-doa. Namun pada waktu itu Gereja telah menetapkan peraturan pantang dan puasa untuk umat, sehingga umat dapat mengambil bagian dari Sengsara Yesus.
Liturgi Jumat Agung yang antara lain terdiri dari “penyembahan salib” adalah tradisi umat kristiani di Yerusalem sejak abad ke 4. Pada hari itu, sejak pagi hari umat sudah berangkat menuju bukit Kalvari untuk mendengarkan Kisah Sengsara dan untuk mencium relikwi, yang diyakini sebagai salah satu bagian kecil Salib Yesus. Pada pukul 3 sore, mereka berkumpul kembali untuk mendengarkan nubuat-nubuat para nabi Perjanjian Lama, sebagaimana tercantum dalam Kitab Suci dan mendaraskan Mazmur-mazmur yang ada kaitannya dengan kisah sengsara.
Pada abad ke 7 tradisi tersebut mulai dipraktekkan di Roma. Sementara Mazmur 118 dinyanyikan, relikwi salib suci diarak dalam suatu prosesi dalam Basilik “Salib Suci”. Pada saat itu pula dinyanyikan “Ecce Lignum” (lihatlah Kayu Salib). Inti upacara Jumat Agung adalah perarakan salib suci dan penghormatan terhadap Salib Yesus.
Sejak semula tidak ada perayaan ekaristi, namun demikian imam dan umat yang hadir dapat menerima komuni kudus yang berasal dari sisa komuni kudus pada hari Kamis Putih sehari sebelumnya.
Liturgi Jumat Agung pada abad pertengahan terdiri dari liturgi sabda, yakni bacaan Kitab Suci dan doa, upacara penyembahan salib dan upacara komuni kudus tanpa misa.
Pada abad ke 16, muncul praktek ‘meditasi terhadap Jalab Salib’ dengan merenungkan kata-kata terakhir Yesus di atas kayu salib, “Bapa, kedalam tangan-Mu, Kuserahkan Roh-Ku”. Upacara liturginya berlangsung selama kurang lebih 3 jam yang terdiri dari liturgi sabda, penyembahan salib, dan komuni kudus. Liturgi sabda terbagi atas bagian bacaan Kitab Suci, doa umat meriah, dan diselingi dengan madah pujian. Kurang lebih empat abad lamanya, model liturgi dalam gereja berlangsung demikian.
Pada abad ke 20, sejak tahun 1955, dengan adanya pembaharauan dan penataan liturgi gerejani oleh Paus Pius XII, maka litrugi Jumat Agung meliputi liturgi sabda, doa umat meriah, penyembahan salib, dan komuni kudus. Pada bagian liturgi sabda, dikutip dua teks Kitab Suci Perjanjian Lama, masing-masing Hos 6:1-6 dan Kel 12:1-11 , demikian pula dibacakan atau bila perlu dinyanyikan “Kisah Sengsara Tuhan”, menurut penginjil Yohanes. Doa umat meriah dinyanyikan dengan intensi demi kepentingan seluruh Gereja yang kudus. Pada upacara penyembahan salib, kain penutup salib yang berwarna ungu dibuka dalam tiga tahap dan setiap kali imam menyanyikan “Ecce Lignum”, sedangkan umat menjawab “Venite Adoremus” lalu berlutut menghadap salib. Sementara umat dengan tertib mencium salib, koor menyanyikan “Improperia” dan “Pange Lingua Gloriosi”. Dilanjutkan dengan komuni kudus yang diiringi dengan nyanyian Mazmur 22.
Pada tahun 1970, dikeluarkan instruksi tentang Liturgi Jumat Agung, terbagi atas 3 baigan utama, yakni Ibadat Sabda yang didahului saat hening di mana imam meniarap, Penyembahan Salib dan Komuni Kudus, Warna Liturgi adalah merah. Upacara liturgi berlangsung sesudah siang hari. Pada umumnya tepat pukul 15.00. Bacaan I : Yes 52:13 – 53:12 Bacaan II : Ibr 4:14-16 ; 5:7-9 Bacaan Injil : Yoh 18:1 – 19:42
Untuk kita renungkan :
Di kayu salib, Yesus merelakan hidup-Nya agar kita selamat. Bersediakah kita umat-Nya mengorbankan diri agar orang lain selamat ? Semoga Yesus tidak disalibkan lagi setiap hari, karena setiap saat kita menyalibkan sesama kita. Dalam Jumat Agung, kita mengucapkan “Selamat Bersama Kristus”.

Read more .....

SEBELUM AYAM BERKOKOK, PETRUS MENYANGKAL YESUS


Sesudah mereka menyanyikan nyanyian pujian, pergilah mereka ke Bukit Zaitun. Lalu Yesus berkata kepada mereka: "Kamu semua akan tergoncang imanmu. Sebab ada tertulis: Aku akan memukul gembala dan domba-domba itu akan tercerai-berai. Akan tetapi sesudah Aku bangkit, Aku akan mendahului kamu ke Galilea." Kata Petrus kepada-Nya: "Biarpun mereka semua tergoncang imannya, aku tidak."

Lalu kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada hari ini, malam ini juga, sebelum ayam berkokok dua kali, engkau telah menyangkal Aku tiga kali." Tetapi dengan lebih bersungguh-sungguh Petrus berkata: "Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau." Semua yang lain pun berkata demikian juga. (Mrk 14:26-31)
Para rasul bukanlah orang yang tidak berkepribadian atau berkeberanian, seandainya tidak, Yesus tidak akan memilih mereka. Petrus tulus ikhlas ketika ia mengatakan : “Sekalipun semua mereka meninggalkan Engkau, aku tidak.” Mereka semua rela mati bagi Yesus, seperti juga dikatakan oleh orang-orang yang penuh antusiasme dalam peperangan, tetapi apa yang sesungguhnya terjadi lain sama sekali. Ketika Yesus ditangkap, para rasul menjadi bingung, karena Yesus tidak menunjukkan kuasa Ilahi-Nya dan tidak melawan sama sekali. Kita keliru kalau kita mengatakan bahwa para rasul adalah pengecut sebelum mereka menerima Roh Kudus.
Reaksi mereka terhadap penangkapan Yesus adalah reaksi yang biasa sekali, melarikan diri, tetapi melarikan diri itu mengguncang seluruh dasar iman mereka karena mereka sudah hidup dengan Yesus setiap hari selama dua tahun. Petrus sendiri menyangkal Yesus bukan hanya karena ia takut, melainkan karena ia belum mengenal siapakah Yesus itu sesungguhnya.
Penyangkalan Petrus, juga adalah kejatuhan yang sungguh serius, sekalipun Allah mengampuni dosanya pada saat mata Petrus bertemu mata Yesus, dan Petrus langsung bertobat (Lalu berpalinglah Tuhan memandang Petrus. Maka teringatlah Petrus bahwa Tuhan telah berkata kepadanya: "Sebelum ayam berkokok pada hari ini, engkau telah tiga kali menyangkal Aku." Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya. - Luk 22:61-62). Tetapi kegagalan ini akan memaksa dia, sampai akhir hayatnya, untuk tidak lagi mengandalkan kekuatannya sendiri. Petrus, yang adalah batu wadas dan penanggung jawab atas Gereja Universal, akan selalu sadar dengan kelemahan pribadinya dan tidak akan menemukan kedamaian sampai ia mengikuti Yesus dengan menyerahkan nyawanya demi Dia (Aku berkata kepadamu: “Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki." Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: "Ikutlah Aku." - Yoh 21:18-19)
Penyangkalan Petrus ini, juga sangat mengherankan. Sahabatnya Yohanes dikenal baik di rumah Imam Agung, dan Petrus diperkenalkan sebagai sahabatnya (tetapi Petrus tinggal di luar dekat pintu. Maka murid lain tadi, yang mengenal Imam Besar, kembali ke luar, bercakap-cakap dengan perempuan penjaga pintu lalu membawa Petrus masuk. - Yoh 18:16). Gadis itu tahu dengan baik siapakah Yohanes dan tidak berkata apa-apa selain suatu kata ironis kepada Petrus. Tak seorangpun mengancam Petrus (Sementara itu hamba-hamba dan penjaga-penjaga Bait Allah telah memasang api arang, sebab hawa dingin waktu itu, dan mereka berdiri berdiang di situ. Juga Petrus berdiri berdiang bersama-sama dengan mereka. – Yoh 18:18), apa lagi laki-laki yang ada di sana, mereka hanya mengolok-olok dia karena lafalnya menunjukkan dengan jelas sekali bahwa ia seorang yang berasal dari Galilea, aksennya sama dengan aksen Yesus (Tidak lama kemudian orang-orang yang ada di situ datang kepada Petrus dan berkata: "Pasti engkau juga salah seorang dari mereka, itu nyata dari bahasamu." – Mat 26:73). Tetapi olokan mereka cukup menggoncangkan hati Petrus sehingga ia kehilangan kontrol diri. (Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah: "Aku tidak kenal orang itu." Dan pada saat itu berkokoklah ayam. – Mat 26:74).
Petrus percaya bahwa karena ia adalah kepala, ia akan lebih kuat dari pada yang lain. Yesus, di pihak lain, melihat misi Petrus yang akan datang, meskipun Petrus pernah jatuh, Yesus memberikan kepadanya rahmat khusus supaya ia dapat memperkuat yang lain (Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu. - Luk 22:31-32). Demikianlah cara Yesus mengerjakan segala sesuatu, Ia menyelamatkan apa yang hilang dan sesudah melihat kelemahan yang tak tersembuhkan dalam kodrat manusia Petrus, Ia menggunakan Petrus untuk memberikan kepada Gereja-Nya suatu stabilitas yang tak pernah dipikirkan oleh masyarakat manapun. Memang, kelangsungan hidup Gereja selama berabad-abad, sebagian besar, karena jasa para paus, yaitu pengganti-pengganti Petrus.
(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pastoral Katolik)

Read more .....

PEMBASUHAN KAKI RITUS PERTOBATAN


Kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu. (Yoh 13:5)

Yohanes tidak menceritakan tentang penetapan Ekaristi, tetapi ia menceritakan Pembasuhan Kaki dan apa yang menyusul dalam Yoh 13:26-30 dapat dilihat sebagai acuan samar-samar pada Ekaristi.
Ia mulai membasuhi kaki murid-murid-Nya, karena orang-orang miskin di antara orang-orang Yahudi berjalan kaki dengan tanpa alas, sementara orang lain memakai sandal. Satu tanda tradisional untuk menerima tamu ialah menyuruh seorang hamba untuk membasuh kaki para pejalan kaki yang masuk rumah (Biarlah diambil air sedikit, basuhlah kakimu dan duduklah beristirahat di bawah pohon ini – Kej 18:4).
Rasul-rasul tidak mempunyai hamba-hamba, tetapi pada malam itu Yesus mau menjadi hamba bagi mereka.
Yesus tidak hanya bermaksud untuk membuat para rasul-Nya merasa bersih dan nyaman, pembasuhan kaki mereka adalah suatu perbuatan kudus yang melambangkan penyucian mereka, sama seperti pada waktu permandian. Para rasul sudah berada dalam rahmat Allah, sabda Yesus yang mereka terima dengan iman telah memurnikan mereka (Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu. - Yoh 15:3). Tetapi mereka perlu persiapan lebih lanjut sebelum mengambil bagian dalam roti kehidupan pada meja Tuhan. Semua agama memiliki ritus-ritus persiapan atan penyucian sebelum memberikan apa yang kudus kepada para anggota mereka. Orang-orang Yahudi mempunyai ritus-ritus penyucian sebelum mengambil bagian dalam perjamuan Paskah.
Yesus juga menuntut yang sama, Ia sendiri membasuh kaki para rasul-Nya, Ia tidak meminta mereka untuk mengakui dosa-dosa mereka, Ia hanya minta supaya mereka dengan rendah hati mengizinkan Dia, yang mereka sebut Tuhan untuk membasuh kaki mereka.
Perbuatan ini segera mengingatkan kita akan sakramen Pembaptisan dan Pertobatan. Dalam kedua sakremen ini kerendahan hati dan belas kasihan dilebur baik bagi Dia yang menyucikan maupun bagi mereka yang disucikan.
Sejak saat itu para rasul melakukan apa yang pernah dilakukan Tuhan sebagai teladan, karena Ia akan mengutus mereka atas nama-Nya untuk mengampuni dosa-dosa. Mereka tidak boleh bertindak sebagai petugas-petugas hirarki atau hakim-hakim yang memberikan pengampunan kepada para pendosa, sebaliknya mereka harus mengambil langkah pertama dalam kerendahan hati dan belas kasihan, supaya selanjutnya menyucikan mereka yang mendekati Perjamuan Tuhan.
Kata Tuhan muncul tujuh kali dalam bab ini, dengan demikian kita mengerti bahwa dengan membasuh kaki para rasul-Nya, Yesus melakukan suatu perbuatan yang penting yang menunjukkan kepada kita, dengan cara yang sangat mengagumkan, siapakah Tuhan dan Allah kita dan bagaimana Ia bertindak.
(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Eisi Pastoral Katolik)

Read more .....

PERJAMUAN SEBELUM PASKAH


Enam hari sebelum Paskah Yesus datang ke Betania, tempat tinggal Lazarus yang dibangkitkan Yesus dari antara orang mati. (Yoh 12, 1)

Markus dan Matius memberi kesan seakan-akan perjamuan di Betania ini terjadi dua hari sebelum pesta Paskah, bukan enam hari
"Kamu tahu, bahwa dua hari lagi akan dirayakan Paskah, maka Anak Manusia akan diserahkan untuk disalibkan." (Mat 26, 2)
Hari raya Paskah dan hari raya Roti Tidak Beragi akan mulai dua hari lagi. (Mrk 14, 1).
Para penginjil juga tidak sepakat tentang tanggal pesta Paskah. Ketika Yohanes menyatakan bahwa Yesus mati pada malam sebelum pesta Paskah (Hari itu ialah hari persiapan Paskah, kira-kira jam dua belas. Kata Pilatus kepada orang-orang Yahudi itu: "Inilah rajamu!" - Yoh 19, 14), ketiga penginjil lain mengatakan bahwa Perjamuan Terakhir terjadi tepat pada hari orang-orang Yahudi merayakan pesta Paskah (Pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi, pada waktu orang menyembelih domba Paskah, murid-murid Yesus berkata kepada-Nya: "Ke tempat mana Engkau kehendaki kami pergi untuk mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?”. – Mrk 14, 12)
Menurut satu tradisi yang sangat kuno yang masih dipertahankan oleh banyak gereja timur, bisa jadi Yesus merayakan Perjamuan Akhir bukan pada hari Kamis, melainkan pada hari Selasa. Maka sidang pengadilan-Nya berlangsung selama dua hari, yaitu hari Rabu dan Kamis. Skenario ini lebih masuk akal dari pada membayangkan bahwa semua sesi sidang pengadilan Yesus terjadi pada satu hari Jumat pagi. Yesus mati pada hari Jumat, seperti ditegaskan oleh semua teks.
Ketidak-cocokan ini bisa dijelaskan sebagai berikut :
Pesta Paskah dirayakan sesuai dengan terbitnya bulan baru yang tidak dapat ditentukan tanggalnya, dan tidak juga ditetapkan menurut kriteria yang sama oleh setiap orang. Maka, pada tahun-tahun tertentu beberapa kelompok agama merayakannya tiga hari sebelum yang lain. Yesus bisa saja merayakan pesta Paskah pada malam Rabu, sementara mayoritas orang Yahudi merayakannya pada malam Sabtu.
(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pastoral Katolik)

Read more .....

KAMIS PUTIH


Kamis Putih, adalah hari Kamis dalam Minggu Suci atau hari pertama dalam TRI HARI SUCI. Pada hari ini dirayakan hari Ulang Tahun Perjamuan Malam Yesus, di mana Yesus membasuh kaki murid-muridNya dan menetapkan Institusi Ekaristi. Disebut Kamis Putih karena warna liturgi pada hari itu didominasi oleh warna putih. Imam mengenakan pakaian misa putih, hiasan altar semuanya putih mau menunjukkan kemuliaan dan kesucian.

Dalam bahasa Inggris, tradisional hari ini disebut Maundy Thursday. Sebutan itu diambil dari antifon pertama upacara pembasuhan kaki yang dalam bahasa Latin berbunyi : “Mandatum Novum” atau perintah baru (Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. - Yoh 13, 34) yang menjadi salah satu pokok upacara pada hari itu. Sejak abad ke 4, hari itu ditetapkan oleh Konsili Hippo (tahun 393) sebagai perayaan khusus perjamuan Ekaristi yang diadakan oleh Tuhan Yesus pada Perjamuan Terakhir.
Selain kedua upacara itu, sejak dulu juga dilaksanakan upacara pemberkatan minyak-minyak (minyak katekumen, minyak krisma, dan minyak pengurapan orang sakit) serta penerimaan kembali para penitent (petobat) masal yang dikeluarkan dari persekutuan umat sejak hari Rabu Abu itu. Yang terakhir ini sudah lama tidak dibuat lagi.
Sejak tahun 1955 misa Kamis Putih biasa dilaksanakan pada sore hari, sedangkan upacara pemberkatan minyak-minyak itu dilaksanakan di dalam Misa Krisma yang dilaksanakan pada Pagi Hari (di Katedral). Dalam Misa Krisma itu, para imam bersama dan di hadapan Bapak Uskup membaharui janji imamatnya.
Komuni yang disambut pada hari Kamis Putih dan Jumat Agung dikonsekrir / disucikan pada hari ini (Kamis Putih). Oleh karena itu, sebelum misa, Tabernakel dikosongkan. Hosti yang masih tersedia di dalamnya (yang disediakan untuk orang sakit) dipindahkan ke tabernakel cadangan di luar upacara tanpa upacara.
Hari Kamis Putih dirayakan dengan meriah. Upacara ditandai dengan pembunyian bel / lonceng pada waktu mengidungkan lagu Kemuliaan / Gloria (sesudah itu lonceng tidak dibunyikan lagi sampai Malam Paska) dan juga dipakai Prefasi Konsekrasi Khusus. Sesudah khotbah diadakan upacara pembasuhan kaki (tanda pelayanan). Dan sesudah Misa, diadakan Perarakan Sakramen Maha Kudus yang disediakan untuk dibagi pada hari Jumat Agung dari altar menuju ke altar samping, di mana Sakramen itu akan disemayamkan, dilanjutkan dengan Upacara Tuguran / Berjaga Bersama Yesus.
Sesudah Misa, altar dibersihkan dari hiasan, kain altar dicabut. Tempat air suci juga dikosongkan untuk diisi dengan air baru yang akan diberkati pada Malam Paska. (Bacaan I : Kel 12, 1-8, 11-14 Bacaan II : 1 Kor 11, 23-26 Bacaan Injil : Yoh 13, 1-15)
Untuk kita renungkan :
Yesus membasuh kaki para murid-Nya. Bersediakah kita untuk melayani dalam semangat rendah hati seperti Kristus? Yesus memberikan hidupNya dalam rupa roti yang Ia pecahkan. Bersediakah kita membagi-bagikan roti kehidupan kita bagi sesama yang kelaparan ?

Read more .....

P E K A N S U C I


Mengapa disebut demikian dan kapan munculnya dalam liturgi Gereja ?
Pekan yang mendahului Hari Raya Paska. Pekan terakhir bagi umat beriman mempersiapkan diri untuk merayakan misteri iman kristiani, yakni sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus Kristus sebagai Tuhan.

Pekan Suci diawali dengan perayaan Minggu Palma dan berakhir dengan perayaan Paska. Hal ini berarti Pekan Suci meliputi Minggu Palma, Kamis Putih, Jumat Agung dan Sabtu Suci yang sering disebut juga Malam Paska atau Vigili Paska. Trihari Suci tersebut merupakan “Triduum Suci” secara massal menjelang Paska.
Selama Pekan Suci, seluruh umat Allah dalam Gereja, mengarahkan seluruh perhatiannya kepada misteri sengsara, wafat dan kebangkitan Tuhan melalui rangkaian upacara liturgis gerejani. Dalam pekan suci, terdapat “Tri Hari Suci”, yakni Kamis Putih, Jumat Agung dan Malam Paska. Dimaksudkan agar umat kristiani semakin memahami dan mendalami penghayatan imannya akan Kristus, sekaligus pula memberi daya dorong dan semangat juang untuk tetap mengikuti Kristus dengan setia dalam hidup sehari-hari.
Upacara tradisional Pekan Suci berasal dari parktek ziarah dan devosi umat beriman sejak abad ke 4 di Tanah Suci yang berpusat di Yerusalem. Para peziarah dari berbagai tempat mendatangi kota Yerusalem untuk merenungkan kembali kisah Yesus memasuki kota Yerusalem, Perjamuan Malam Terakhir dan drama Penyaliban-Nya. Peristiwa-peristiwa tersebut biasanya didramatisir dalam suasana upacara liturgis.
Dokumen lengkap tentang praktek ziarah dan devosi tersebut, ditulis oleh Egerius. Dokumen yang berisi laporan lengkap tentang “Pekan Suci”, disebut “Peziarahan Etheria” pada abad ke 4 sampai abad ke 6. Upacara liturgi PekanSuci berlangsung dari abad ke abad mengalami pelbagai perubahan dan variasi, sesuai dengan keadaan jaman dan latar belakang budaya di mana Gereja hidup dan berkembang, khususnya Gereja Barat (Romawi) dan Gereja Timur (Yunani). Keadaan tersebut sampai abad ke 20 Paus Pius XII (1939-1958 jadi Paus) mengadakan pembaruan dan penataan seluruh upacara liturgis “Pekan Suci”, melalui Dekritnya “Maxima Redemptionis Nostrae Mysteria”, yang dikeluarkan pada tanggal 16-November-1955.
Selanjutnya, Gereja menyadari betapa pentingnya kedudukan liturgi dalam Gereja. Oleh sebab itu, dokumen pertama yang dihasilkan Konsili Vatikan II (1962-1965), adalah “Konstitusi tentang Liturgi” (4-Desember-1963). Refleksi theologis-liturgis tentang hakekat litrugi bagi seluruh Umat Allah, terutama di dalamnya, termasuk pula “kedudukan pekan suci” yang harus dihayati oleh seluruh Gereja.
Pada tahun 1970, Vatikan mengeluarkan “Instruksi tentang liturgis” secara lengkap dan terpadu menurut “Missale Romanum”, antara lain tentang Perayaan Pekan Suci dan Trihari Suci yang berlaku dalam Gereja hingga kini.

Read more .....

1/14/2015

AKU DATANG MEMBAWA PEDANG

Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan. (Luk 12:51).

Dalam injil Matius, Yesus mengatakan bahwa Ia datang membawa pedang ("Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. – Mat 10:34). Tentu yang dimaksud Yesus adalah dalam arti kiasan, dan kita juga tidak pernah menemukan dalam Injil bahwa Yesus membawa pedang dalam karya pewartaannya di dunia. Namun dalam Injil Lukas, bahwa Yesus pernah menyuruh murid-murid-Nya untuk membeli pedang (Kata-Nya kepada mereka: "Tetapi sekarang ini, siapa yang mempunyai pundi-pundi, hendaklah ia membawanya, demikian juga yang mempunyai bekal; dan siapa yang tidak mempunyainya hendaklah ia menjual jubahnya dan membeli pedang. – Luk 22:36), dan inipun juga bukan maksud Yesus menyuruh murid-murid-Nya sungguh-sungguh membeli pedang, tetapi dalam arti kiasan juga, karena waktu Yesus menyuruh membeli pedang, saat itu sudah menjelang penangkapan Yesus, sehingga maksud Yesus adalah supaya para murid-Nya harus “menjaga diri”.
Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya." (Luk 12:53). Pertentangan dan pemisahan tidak hanya di dalam keluarga, tetapi juga di dalam masyarakat, dan ini sudah dinubuatkan oleh Simeon ketika kanak-kanak Yesus dibawa oleh orang tua-Nya untuk dipersembahkan di bait Allah, bahwa Anak ini akan menimbulkan perbantahan (Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan – Luk 2:34).
Yesus tidak mengajarkan perpecahan atau pertentangan, tetapi itu adalah akibat dari kedatangan-Nya, jadi bukan tujuan kedatanganNya. Karena Yesus mengajarkan perdamaian. (Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah – Mat 5:9).
Dalam Injil Matius Yesus mengatakan bahwa Ia datang membawa pedang, pedang  macam apa yg dibawa Yesus ? Dalam surat Paulus kepada jemaat di Efesus disebutkan “pedang Roh” (dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah – Ef 6:17). Dan dikatakan dalam surat Ibrani, bahwa firman Allah lebih tajam dari pedang bermata dua manapun, yang menusuk sampai jiwa dan roh kita. (Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita. – Ibr 4:12). Efek dari pewartaan firman Allah adalah, bahwa Firman itu akan memisahkan orang yang beriman kepada Kristus, dari orang-orang berdosa dan dunia, yaitu memisahkan diri secara moral dan rohani, dari dosa dan dari segala sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Yesus Kristus. Tentu saja memisahkan diri dari perbuatan yang tidak berkenan di mata Tuhan, bukan membenci orangnya (Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. – 2 Kor 6:17).
Pemisahan atau pertentangan pertama-tama akan timbul dalam diri sendiri (batin/hati), manusia sulit melihat kelemahan atau dosa diri sendiri, orang lebih suka menunjuk kesalahan orang lain, maka ketika Firman Tuhan menyentuh hati kita, akan nyata terlihat antara yg baik dan jahat di dalam hati kita, seolah-olah hati kita terbagi dua, ada gelap ada terang, ada dosa ada kebenaran Ilahi yang kita langgar, misalnya dulunya iri hati, pemarah, benci dan tidak mau mengampuni, atau suka ke para normal atau dukun, maka oleh kuasa Ilahi yang menyentuh hati kita, kita akan bertobat dari segala perbuatan daging (Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu -- seperti yang telah kubuat dahulu -- bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. – Gal 5:19-21).
Lebih lanjut setelah pertentangan dalam pribadi, maka akan timbul juga  pertentangan dalam keluarga, karena memilih ikut jalan Yesus Kristus, yang mana dalam keluarga mungkin ada anggota keluarga yang tidak seiman atau yang belum percaya Yesus Kristus, misalnya suami atau isteri, ataupun saudara, maka timbullah pertentangan dalam keluarga karena tidak sepaham atau tidak setuju. Bahkan dalam satu keluarga yang seimanpun bisa timbul pertentangan atau perpecahan karena salah pengertian, perbedaan penafsiran, dsb.
Ada juga pemisahan dengan lingkungan atau masyarakat, misalnya di tempat kerja biasanya ikut-ikutan korupsi, maka setelah bertobat, dengan sendirinya berusaha menghindari perbuatan itu, yang mungkin dulunya ada kerja sama dengan kelompok tertentu, akhirnya berpisah atau dipisahkan oleh kelompok itu karena tidak mau bekerja sama dalam perbuatan tersebut, bahkan dimusuhi. (Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. – Mat 10:22).
Efek positif dari kehadiran pedang Roh atau firman Allah, adalah :  akan membawa “damai” dalam diri sendiri, keluarga dan masyarakat, karena orang yang percaya kepada Yesus Kristus akan lebih mendekatkan diri kepada Allah, antara lain akan berakibat :
-       takut akan Allah (takut akan  - melukai atau menyedihkan – Allah) karena mengasihi Allah
-       kasih yang tulus kepada sesama, tidak terkecuali kepada yang kita pisahkan diri
-       membenci dosa dan ketidak-benaran
-       mengejar kekudusan
Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan. (Ibr 12:14).

-       Pastor Bunus

Read more .....