1/14/2015

AKU DATANG MEMBAWA PEDANG

Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan. (Luk 12:51).

Dalam injil Matius, Yesus mengatakan bahwa Ia datang membawa pedang ("Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. – Mat 10:34). Tentu yang dimaksud Yesus adalah dalam arti kiasan, dan kita juga tidak pernah menemukan dalam Injil bahwa Yesus membawa pedang dalam karya pewartaannya di dunia. Namun dalam Injil Lukas, bahwa Yesus pernah menyuruh murid-murid-Nya untuk membeli pedang (Kata-Nya kepada mereka: "Tetapi sekarang ini, siapa yang mempunyai pundi-pundi, hendaklah ia membawanya, demikian juga yang mempunyai bekal; dan siapa yang tidak mempunyainya hendaklah ia menjual jubahnya dan membeli pedang. – Luk 22:36), dan inipun juga bukan maksud Yesus menyuruh murid-murid-Nya sungguh-sungguh membeli pedang, tetapi dalam arti kiasan juga, karena waktu Yesus menyuruh membeli pedang, saat itu sudah menjelang penangkapan Yesus, sehingga maksud Yesus adalah supaya para murid-Nya harus “menjaga diri”.
Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya." (Luk 12:53). Pertentangan dan pemisahan tidak hanya di dalam keluarga, tetapi juga di dalam masyarakat, dan ini sudah dinubuatkan oleh Simeon ketika kanak-kanak Yesus dibawa oleh orang tua-Nya untuk dipersembahkan di bait Allah, bahwa Anak ini akan menimbulkan perbantahan (Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan – Luk 2:34).
Yesus tidak mengajarkan perpecahan atau pertentangan, tetapi itu adalah akibat dari kedatangan-Nya, jadi bukan tujuan kedatanganNya. Karena Yesus mengajarkan perdamaian. (Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah – Mat 5:9).
Dalam Injil Matius Yesus mengatakan bahwa Ia datang membawa pedang, pedang  macam apa yg dibawa Yesus ? Dalam surat Paulus kepada jemaat di Efesus disebutkan “pedang Roh” (dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah – Ef 6:17). Dan dikatakan dalam surat Ibrani, bahwa firman Allah lebih tajam dari pedang bermata dua manapun, yang menusuk sampai jiwa dan roh kita. (Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita. – Ibr 4:12). Efek dari pewartaan firman Allah adalah, bahwa Firman itu akan memisahkan orang yang beriman kepada Kristus, dari orang-orang berdosa dan dunia, yaitu memisahkan diri secara moral dan rohani, dari dosa dan dari segala sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Yesus Kristus. Tentu saja memisahkan diri dari perbuatan yang tidak berkenan di mata Tuhan, bukan membenci orangnya (Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. – 2 Kor 6:17).
Pemisahan atau pertentangan pertama-tama akan timbul dalam diri sendiri (batin/hati), manusia sulit melihat kelemahan atau dosa diri sendiri, orang lebih suka menunjuk kesalahan orang lain, maka ketika Firman Tuhan menyentuh hati kita, akan nyata terlihat antara yg baik dan jahat di dalam hati kita, seolah-olah hati kita terbagi dua, ada gelap ada terang, ada dosa ada kebenaran Ilahi yang kita langgar, misalnya dulunya iri hati, pemarah, benci dan tidak mau mengampuni, atau suka ke para normal atau dukun, maka oleh kuasa Ilahi yang menyentuh hati kita, kita akan bertobat dari segala perbuatan daging (Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu -- seperti yang telah kubuat dahulu -- bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. – Gal 5:19-21).
Lebih lanjut setelah pertentangan dalam pribadi, maka akan timbul juga  pertentangan dalam keluarga, karena memilih ikut jalan Yesus Kristus, yang mana dalam keluarga mungkin ada anggota keluarga yang tidak seiman atau yang belum percaya Yesus Kristus, misalnya suami atau isteri, ataupun saudara, maka timbullah pertentangan dalam keluarga karena tidak sepaham atau tidak setuju. Bahkan dalam satu keluarga yang seimanpun bisa timbul pertentangan atau perpecahan karena salah pengertian, perbedaan penafsiran, dsb.
Ada juga pemisahan dengan lingkungan atau masyarakat, misalnya di tempat kerja biasanya ikut-ikutan korupsi, maka setelah bertobat, dengan sendirinya berusaha menghindari perbuatan itu, yang mungkin dulunya ada kerja sama dengan kelompok tertentu, akhirnya berpisah atau dipisahkan oleh kelompok itu karena tidak mau bekerja sama dalam perbuatan tersebut, bahkan dimusuhi. (Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. – Mat 10:22).
Efek positif dari kehadiran pedang Roh atau firman Allah, adalah :  akan membawa “damai” dalam diri sendiri, keluarga dan masyarakat, karena orang yang percaya kepada Yesus Kristus akan lebih mendekatkan diri kepada Allah, antara lain akan berakibat :
-       takut akan Allah (takut akan  - melukai atau menyedihkan – Allah) karena mengasihi Allah
-       kasih yang tulus kepada sesama, tidak terkecuali kepada yang kita pisahkan diri
-       membenci dosa dan ketidak-benaran
-       mengejar kekudusan
Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan. (Ibr 12:14).

-       Pastor Bunus

Read more .....

KELAHIRAN BARU


Nikodemus adalah seorang yang saleh, dan ingin mengenal Allah dan jalan-jalan-Nya. Maka ia pergi kepada Yesus sebagai guru agama (Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi. Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata: "Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorang pun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya." Yoh 3:1-2).

Apa yang dibutuhkannya bukan menerima ajaran, melainkan untuk mengalami perubahan di dalam dirinya (Yesus menjawab, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah." – Yoh 3:3). Itu juga yang kita butuhkan, kita harus mengakui ketidak-berdayaan kita, yaitu kekuatan kita sendiri yang seolah-olah tanpa bantuan dari yang lain bisa melewati segala rintangan yang menghalangi kehidupan kita. Seperti juga Nikodemus, sekalipun kita sudah memiliki banyak pengalaman dan pengetahuan, kita adalah seperti orang tua yang tidak bisa apa-apa.
Yesus berkata, bahwa kita harus dilahirkan lagi dan lahir dari atas : Injil Yohanes menggunakan sebuah kata yang bisa ditafsir dengan dua arti tersebut (ay 3). Tak seorangpun melahirkan dirinya sendiri, dan sebagaimana kita telah menerima kehidupan kita dalam daging dari orang lain, demikian pula kita menerima kehidupan Putra Allah dari Roh.
Semua orang mengatakan bahwa mereka hidup, karena sesuatu bergerak di dalam diri mereka, pikiran datang kepada mereka, dan mereka membuat keputusan. Namun hal-hal ini bisa jadi tidak lebih dari pada kehidupan dalam daging, atau kehidupan seorang yang belum sadar.
Kehidupan lain (lahir baru), yaitu kehidupan dari Roh, bersifat lebih misterius karena terjadi pada kedalaman diri kita. Pada orang beriman yang telah sadar, yang hidupnya telah dipimpin oleh Roh, secara perlahan-lahan akan melihat perubahan-perubahan dalam dirinya, yang mendorong tindak-tanduknya dan ambisinya (Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri – Gal 5:22-23). Kita mungkin hanya melihat tampang luar saja, yaitu kita hanya melihat wajah seseorang dan tindak tanduknya, tetapi kita “lupa” melihat karya Allah di dalam dirinya. Tetapi Ia merasa betah dengan Allah dan tanpa takut, karena ia menyadari, bahwa bukan dirinya lagi yang mengarahkan hidupnya, melainkan sesuatu yang lain yang tinggal di dalam dirinya (Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh – Gal 5:25). Namun demikian sesungguhnya seseorang tidak bisa mengatakan secara persis apa yang dia rasakan dan telah terjadi dalam dirinya.
Maka Yesus membandingkan tindakan Roh dengan tiupan angin, yang bisa kita rasakan meskipun kita tidak bisa lihat atau menangkapnya. Kita perhatikan juga bahwa dalam bahasa Yesus kata yang sama bisa berarti roh maupun “angin”.
Kita perlu lahir lagi dari air dan Roh : hal ini mengacu pada pembaptisan. Jangan kita mengira bahwa dengan hanya menerima air pembaptisan seseorang menjadi sepanuhnya hidup dalam Roh. Sebaliknya kita perlu menyadari bahwa biasanya seseorang dibaptis supaya ia mulai hidup dalam Roh : sabda Injil mengacu kepada orang-orang dewasa yang bertobat dan menerima iman Kristiani. Pembaptisan anak-anak adalah soal lain. Pembaptisan bekerja di dalam mereka, namun mereka harus mendapat ajaran dalam iman untuk menghantar mereka kepada pertobatan personal.
Seperti kebanyakan orang-orang di Israel, Nikodemus adalah seorang yang saleh dan beriman. Mengapa ia datang pada waktu malam ? Mungkin ia tidak mau membahayakan kedudukan dan nama baiknya, atau mungkin juga ia tidak mau bergaul dengan orang-orang biasa yang sering mengelilingi Yesus. Kalau demikian, sikap ini menunjukkan bahwa ia masih perlu dilahirkan kembali, ia belum terbebas dari banyak hal yang melumpuhkan dia.
(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pastoral Katolik)

Read more .....

DAUD MENGALAHKAN GOLIAT ( PERLENGKAPAN SENJATA ALLAH)


Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: "Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu. (1 Sam 17:45)

Kamu datang kepada saya dengan tombak dan pedang, tetapi saya datang untuk melawan kamu dalam nama Yahweh, bahwa peperangan Daud melawan Goliat melambangkan peperangan antara kebaikan dan kejahatan.  Goliat lambang kejahatan dan kesombongan, terlalu percaya diri, mengandalkan kekuatan sendiri, tidak percaya kepada Tuhan. Daud lambang kebaikan dan kerendahan hati, yang selalu mengandalkan Tuhan dalam setiap tindakannya.
Di dunia ini kemenangan tidak akan berpihak pada mereka yang lebih kuat dan lebih baik persenjataannya. Orang-orang seperti itu menghina Allah dengan kesombongan dan kepercayaan diri. Dan mereka tak akan bertahan apabila mereka menghina orang pilihan Allah, khususnya yang hina dina. Kemenangan akan berpihak kepada orang lemah yang percaya pada pertolongan Allah. Di sini pemenangnya seorang yang dalam hatinya selalu mempunyai suara hati yang benar.
Saul meminta Daud untuk melindungi diri dengan baju baja dan senjata miliknya (Lalu Saul mengenakan baju perangnya kepada Daud, ditaruhnya ketopong tembaga di kepalanya dan dikenakannya baju zirah kepadanya. Lalu Daud mengikatkan pedangnya di luar baju perangnya, kemudian ia berikhtiar berjalan, sebab belum pernah dicobanya. Maka berkatalah Daud kepada Saul: "Aku tidak dapat berjalan dengan memakai ini, sebab belum pernah aku mencobanya." Kemudian ia menanggalkannya. – 1 Sam 17:38-39). Akan tetapi Daud sadar, bahwa kalau ia memakai senjata tersebut, ia tak akan dapat menggunakannya dan orang Filistin akan mengalahkannya. Maka Daud menanggalkan semua senjata pengaman tersebut, lalu ia membuat dirinya menjadi lebih bebas. Daud, pergi ke medan perang dengan penuh kepercayaan “dalam nama Yahweh, Allah semesta alam.”
Lalu Daud mengambil tongkatnya di tangannya, dipilihnya dari dasar sungai lima batu yang licin dan ditaruhnya dalam kantung gembala yang dibawanya, yakni tempat batu-batu, sedang umbannya dipegangnya di tangannya. Demikianlah ia mendekati orang Filistin itu. (1 Sam 17:40). Daud mengambil 5 buah batu sebagai senjata melawan Goliat, dari ke lima batu tersebut, Daud hanya menggunakan satu batu saja, dan Daud mengalahkan Goliat.
Ke lima batu itu adalah lambang perlengkapan senjata Allah, seperti yang diuraikan Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, ke lima perlengkapan senjata Allah adalah :
-       Kebenaran
-       Keadilan
-       Kerelaan
-       Iman
-       Firman Allah
(Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah – Ef 6:13-17).
Dalam kitab Efesus 6 dijelaskan, bahwa konflik dengan Iblis adalah bersifat rohani, dan karena itu tidak ada senjata yang nyata yang dapat digunakan secara efektif untuk melawan iblis dan antek-anteknya. (karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. – Ef 6:12). Bahwa ketika kita mengikuti semua petunjuk dengan menggunakan perlengkapan senjata Allah, kita akan dapat bertahan, dan dapat memperoleh kemenangan tanpa memperdulikan strategi apapun dari Iblis.
Sebagaimana peperangan Daud melawan Goliat, peperangan kita sekarang ini adalah peperangan rohani dalam diri kita sendiri, yaitu melawan godaan-godaan, keinginan-keinginan kita yang jahat di mata Tuhan, dan kita sering jatuh dalam kelemahan-kelemahan maupun keinginan daging kita. Segala keinginan jahat yang bercokol dalam diri kita, yaitu kesombongan,  keserakahan, keinginan-keinginan yang tidak terkontrol, kemarahan, egoisme, kebencian, dusta, iri hati, pikiran kotor, gosip, dsb yang menyebabkan kita jatuh dalam dosa. Tidak hanya itu, kekuatan dari luar diri kita juga sering mengancam dengan segala pengaruh-pengaruh yang kelihatannya baik namun bisa membinasakan jiwa kita. Kita tidak berdaya, seperti Daud dibandingkan dengan Goliat, tetapi Daud maju dalam medan perang dalam Nama Yahweh, dan Daud mengalahkan Goliat hanya dengan satu buah batu. Kita juga dapat menang dalam peperangan rohani ini, sama seperti Daud, dengan mengikuti anjuran rasul Paulus mengenakan kelima perlengkapan senjata Allah, hanya satu yang kita pakai untuk memenangkan peperangan rohani, yaitu Firman Allah, keempat perlengkapan senjata Allah lainnya adalah  benteng yang kokoh dalam menahan serangan iblis.
Kita mengenakan kebenaran untuk melawan dusta, karena Iblis dikatakan sebagai “bapa dari segala dusta” (Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta - Yoh 8:44). Mengenakan baju zirah keadilan untuk melindungi hati kita dari segala tuduhan dan dakwaan Iblis. Berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera, sama seperti Daud rela untuk maju ke medan perang melawan Goliat. Untuk memberitakan Injil perlu kerelaan, namun musuh kita iblis selalu menebarkan ranjau yang berbahaya di jalan kita dalam mewartakan Injil untuk menghentikan pewartaan Injil. Iman adalah perisai yang kokoh dan penting untuk menghentikan panah api dari si jahat.
Firman Allah, adalah pedang Roh yang dapat dipakai bukan hanya untuk mempertahankan diri, tetapi juga untuk menyerang (Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita. Dan tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab – Ibr 4:12-13). Sementara senjata-senjata rohani lainnya bersifat mempertahankan diri, pedang roh adalah senjata penyerang dalam senjata Allah. Yesus, ketika dalam pencobaan di padang gurun, Firman Allah menjadi acuan-Nya dalam menangkal setiap godaan dan serangan Iblis, Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." – Mat 4:4, (bdk Mat 4:1-11 dan Luk 4:1-13). Sungguh suatu berkat bahwa Firman Allah yang sama tersedia untuk kita semua.

Read more .....

Air Dari Batu Karang

Allah menguji orang-orang Israel di padang gurun, berapa lama orang-orang biasa ini akan tetap rela mengikuti suatu tujuan hidup yang tidak biasa, sejauh mana iman mereka tetap bertahan.
Orang-orang Israel juga mencobai Allah, mereka meminta kepada-Nya tanda-tanda, karena mereka tidak percaya sepenuhnya kepada-Nya. Mereka menuntut mukjizat-mukjizat, mereka seolah-olah berseru kepada Allah, “Jika Engkau bersama kami, tunjukkanlah kepada kami di sini dan sekarang juga ! ”
Jadi mulailah mereka itu bertengkar dengan Musa, kata mereka: "Berikanlah air kepada kami, supaya kami dapat minum." Tetapi Musa berkata kepada mereka: "Mengapakah kamu bertengkar dengan aku? Mengapakah kamu mencobai TUHAN?" (Kel 17, 2)
Kitab suci mengenang peristiwa perlawanan ini dalam peristiwa air yang keluar dari batu karang, Musa juga diuji di tempat ini, Lalu berseru-serulah Musa kepada TUHAN, katanya: "Apakah yang akan kulakukan kepada bangsa ini? Sebentar lagi mereka akan melempari aku dengan batu!" (Kel 17, 4)
Kelak tradisi Yahudi melihat dalam batu karang itu suatu gambaran Allah, sumber kehidupan, yang hadir di tengah-tengah umat-Nya, batu ajaib yang mengikuti mereka dalam pengembaraan mereka, dan mereka semua minum minuman rohani yang sama, sebab mereka minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka, dan batu karang itu ialah Kristus. (1 Kor 10, 4)
Allah adalah batu karang yang tidak bisa diterobos dan yang menyimpan rahasia-rahasia-Nya sampai Ia mengijinkan diri-Nya dilukai dan dari luka yang terbuka itu mengalirlah kehidupan. (Maka Aku akan berdiri di sana di depanmu di atas gunung batu di Horeb; haruslah kaupukul gunung batu itu dan dari dalamnya akan keluar air, sehingga bangsa itu dapat minum." Demikianlah diperbuat Musa di depan mata tua-tua Israel - Kel 17, 6)
Hendaknya kita mengerti bahwa manusia karena berdosa, kehilangan pengetahuan akan Allah yang sejati, oleh karena itu manusia tidak akan dapat menemukan Allah, tetapi Allah menjadi lemah dalam diri Yesus, ketika Yesus wafat di atas salib, menyatakan rahasia kasih dan belas kasihan Allah kepada kita. Injil menekankan dengan jelas, bahwa dari hati Yesus, yang dilukai oleh tombak, mengalirlah darah dan air, (tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air. - Yoh 19, 34) suatu gambaran tentang Roh Kudus (Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru: "Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup." Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya - Yoh 7, 37-39)

Sumber : Kitab Suci Komunitas Kristiani, Edisi Pastoral Katolik

Read more .....

PERUMPAMAAN TENTANG PERJAMUAN KAWIN


Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang – Mat 22:2-3).

Sama seperti perumpamaan tentang orang-orang yang berdalih yang ada di dalam Injil Lukas, perumpamaan tentang perjamuan kawin ini hanya ada di dalam Injil Matius.

Yesus menceritakan kisah seorang raja yang menyiapkan pesta pernikahan bagi anaknya, raja merencanakan sebuah pesta yang besar. Dia mengharapkan semua orang yang mempunyai kedudukan tinggi dan penting di istananya menghadiri pesta pernikahan tersebut. Sebagaimana kebiasaan pada waktu itu, undangan diberikan langsung kepada tamu dan tamu-tamu itu adalah para bangsawan, mereka diingatkan akan hari pernikahan tersebut. Namun mereka menolak menghadiri pesta pernikahan itu dengan berbagai alasan. Meskipun demikian, raja tersebut tetap membuat persiapan untuk pesta pernikahan. Ketika hari pernikahan anaknya tiba, dia mengutus hamba-hambanya untuk mengingatkan orang-orang penting itu, bahwa mereka diundang ke pesta

Hamba-hamba tersebut pergi dengan membawa pesan raja: " Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya hidangan, telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini (Mat 22:4). Tetapi tamu-tamu yang diundang tidak menanggapi, malahan bersikap menantang : ada yang pergi ke ladang, yang lain pergi mengurus usahanya, malahan hamba-hamba itu dianiaya, bahkan beberapa dari mereka dibunuh (Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya – Mat 22:5-6).
Di dunia Timur sebagaimana sudah menjadi kebiasaan, menerima undangan kerajaan merupakan sebagai suatu kewajiban. Menolak undangan untuk menghadiri pesta pernikahan tentu mempunyai implikasi yang bisa menimbulkan kesulitan dan permusuhan. Dengan murka Raja mengirim pasukannya untuk menghukum pembunuh-pembunuh tersebut dan membakar kota mereka. Dia melepaskan kemarahannya dengan mengambil tindakan menghukum; tetapi pada saat yang sama dia juga ingin ada orang datang dan merayakan pesta pernikahan anaknya bersama-sama dengan dia. Jadi dia menyuruh hamba-hambanya ke persimpangan-persimpangan jalan untuk mengundang mereka yang mau datang ke pesta tersebut. Tidak peduli apakah itu orang baik ataupun jahat, supaya mereka datang dalam jumlah yang besar, sehingga ruangan perjamuan pesta itu dipenuhi oleh tamu-tamu  (Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu  – Mat 22:10).
Raja merupakan gambaran kebajikan Allah, dan dengan demikian menggambarkan belas kasihan dan kasih Allah yang meluas sampai kepada orang-orang berdosa sekalipun. Orang dari semua lapisan bisa menerima undangan itu dan memberi tanggapan atas panggilan Allah.
Allah mengundang kita ke suatu pesta di mana ada tempat untuk semua orang. Sepanjang sejarah, Allah selalu mengutus nabi-nabi-Nya untuk mewartakan keadilan, belas kasihan Allah dan supaya manusia percaya kepada-Nya. Tetapi bangsa Yahudi tidak mengindahkan panggilan Allah yang mengutus para nabi (Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu – Mat 22:8). Rencana Allah tidak akan gagal, Yesus mengutus rasul-rasul-Nya untuk mewartakan Injil di negeri-negeri asing supaya orang-orang yang bukan Yahudi juga boleh masuk Gereja. (Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu. – Mat 22:9).
Bagian kedua dari perumpamaan ini menunjukkan hal lain, bahwa ketika raja itu masuk dia menemukan sesuatu yang tidak berkenan kepadanya (Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta – Mat 22:11).
Seorang tamu terkejut, ia ditemukan tidak mengenakan pakaian pesta. Kita tidak perlu berargumen, bahwa karena orang tersebut adalah seorang yang miskin, maka tidak mungkin orang tersebut memiliki pakaian pesta dan mengenakannya pada pesta itu. Tidak sama sekali, karena sudah kebiasaan pada zaman itu, bahwa tuan pesta selalu menyiapkan  pakaian pesta bagi tamunya, yang akan dipakai oleh para tamu yang memang tidak mempunyai pakaian pesta (Kemudian berkatalah Yehu kepada orang yang mengepalai gudang pakaian: "Keluarkanlah pakaian untuk setiap orang yang beribadah kepada Baal!" Maka dikeluarkannyalah pakaian bagi mereka. 2 Raj 10:22).
Jadi sebetulnya orang tersebut bisa mengenakan pakaian pesta yang sudah disediakan, tetapi ia tidak melakukannya dengan kata lain ia menolaknya, maka ia tidak bisa menjawab apapun. (Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. – Mat 22:12). Karena tamu tersebut diam saja, maka raja memerintahkan hambanya untuk mengambil tamu yang keras kepala ini, mengikatnya, dan melemparkannya ke dalam kegelapan (Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi. – Mat 22:13).
Kita semua, orang-orang Kristen, yang sudah diundang dan sudah berada di dalam Gereja, apakah kita semua sudah memakai pakaian pesta ? yaitu pertobatan, menghayati hidup dengan keadilan, kejujuran dan kepercayaan ? Raja ingin tamunya menerima apa yang dia berikan, siapa yang menolak akan menanggung akibatnya.
Allah menyediakan dan memberikan pakaian kepada umat-Nya melambangkan kebenaran-Nya. Allah memberi kita pakaian kebenaran yang melambangkan, bahwa si pemakai telah diampuni, dosa-dosanya telah ditutupi, dan dia menjadi anggota rumah Allah melalui Kristus, mengenakan pakaian pesta melambangkan pertobatan, pengampunan, dan kebenaran. Ketika Bapa menyambut pulang anaknya yang telah hilang, dia mengenakan jubah yang terbaik bagi anaknya, dengan berbuat demikian ia menyatakan bahwa anaknya telah diampuni dan diterima kembali sebagai anak dalam keluarga Bapa (Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. - Luk 15:22). Tamu yang tidak mau memakai pakaian pesta melambangkan orang berdosa yang menolak kebenaran Allah dan yang membenarkan diri sendiri.
Perikop ini diakhiri dengan kalimat "Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih." (Mat 22:14). Orang yang menolak datang, dan yang tidak mau mengenakan pakaian pesta, tidak termasuk ke dalam orang yang dipilih. Panggilan Allah terutama kepada orang berdosa (Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa." – Mrk 2:17), dan Allah mengundang mereka untuk menikmati sukacita keselamatan (Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu – Mat 11:28). Alkitab menunjukkan bahwa manusia juga bebas untuk memilih  dan juga bertanggung jawab atas sikapnya yang tidak peduli, berontak dan angkuh. Maka, meskipun undangan itu bersifat universal dan meliputi semua orang, hanya beberapa orang yang menerimanya dalarn iman dan pertobatan yang ditentukan untuk kehidupan kekal (Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya - Kis 13:48).

-       Kasih Yesus

Read more .....

MISTERI DAMSYIK

Marilah kita melihat bagaimana Rasul Paulus sendiri melukiskan kejadian di Damsyik. Yang mengherankan kita pertama-tama ialah, bahwa ia melukiskannya sedikit saja. Kejadian yang memang mendasar baginya dan yang diolahnya dalam semua suratnya seakan-akan tidak ia bicarakan. Itu memang suatu kejadian yang di saat kematiannya diingatnya dengan jelas. Meskipun begitu, ia hampir tidak pernah membicarakannya secara langsung, padahal ia termasuk orang yang banyak bicara tentang riwayat hidupnya.

Manakah teks yang membicarakan hal itu ?
Di antara surat-surat besar, satu-satunya teks dasar yang melukiskan pertemuan di Damsyik adalah surat kepada jemaat di Galatia : “Tetapi waktu Ia yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya, berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi...” (Gal 1:15-16). Ada empat kata kerja yang dipakai untuk membicarakannya : memilih aku... memanggil aku... berkenan menyatakan... supaya aku memberitakan. Di antara keempatnya itu hanya yang ketiga saja menunjuk secara langsung pada pertobatan. Lain-lainnya menempatkan pertobatan dalam rangka penyelenggaraan Ilahi : memilih aku, berkenan, artinya berkeputusan, berkemauan menyatakan kepadaku. Jadi pengalaman tersebut dilukiskan pada hakikatnya sebagai pernyataan Anak kepadanya (menurut teks Yunani : “dalam” dia) dan sebagai perutusan.
Dalam suatu kalimat di surat kepada jemaat di Roma, Paulus mengalihkan hal yang dialaminya sendiri ke lingkup lukisan yang berlaku secara umum : “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” (Rm 8:29-30).
Dalam surat pertama kepada jemaat di Korintus, ada singgungan singkat sekali dalam suatu konteks polemik. “Bukankah aku rasul? Bukankah aku orang bebas? Bukankah aku telah melihat Yesus, Tuhan kita?” (1 Kor 9:1) .Kejadian di Damsyik dilukiskan sebagai “melihat Tuhan”. Lebih lanjut dalam surat yang sama ia menulis, “Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya. Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, bahkan tidak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah.” (1 Kor 15:8-9). Oleh Paulus yang tadinya menganiaya jemaat, kejadian di Damsyik dilukiskan sebagai penampakan “kepadaku yang paling hina”. Memang ada pertobatan moral, tetapi kejadiannya ialah : Yesus menampakkan Diri.
Masih ada nas lain yang penting, meskipun tidak membicarakan kejadiannya, nas itu melukiskan cara Paulus menghayatinya. “Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi: disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi, tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat. Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan. (Flp 3:4-9).
Keadaan sebelumnya dan keadaan sesudahnya dilukiskan sebagai milik dan kemiskinan, Kristus dilihat sebagai milik baru. Tetapi lukisan tentang semua yang dimilikinya sebelumnya mengajak kita berpikir. Dalam surat kepada umat di Korintus ia menulis, “Aku yang paling hina” (menurut bahasa kita, itu berarti “aku orang berdosa”). Sekarang ia melihat dirinya sebagai orang yang “dalam mentaati hukum Taurat......tidak bercacat.” (Flp 3:6). Jadi tidaklah mudah untuk menggunakan pengertian “orang berdosa” atau “pemfitnah” bila kita bicara tentang Paulus.
Jika ia tidak bercacat, lalu apanya yang berubah ? “Apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus.” (Flp 3:7). Dalam diri Paulus terjadi perubahan mutlak dalam cara menilai seluruh dunianya. Yang tadinya dianggapnya penting, sekarang menjadi nol dan tidak penting sama sekali. Yang tadinya tak mungkin dilepaskannya, sekarang menjadi sampah, sebab pengenalan akan Kristus mendapatkan prioritas mutlak dan mampu memenuhi segalanya. Pertemuan dengan Kristus, pengenalan akan Kristus dan kepenuhan Kristus mengubah sama sekali cara penilaiannya.
Teks lain juga penting, Sebab Allah yang telah berfirman: "Dari dalam gelap akan terbit terang!", Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus. (2 Kor 4:6). Sebenarnya kalimat itu diberlakukan bagi tiap rasul, tetapi kalau diterapkan pada pertobatan Paulus, kalimat itu mempunyai suatu kekuatan khusus. Allah pencinta bercahaya dalam hatinya dan meneranginya untuk membuatnya memahami kekayaan Kristus, kehidupan-Nya.
Kalimat terakhir di bawah ini memang merupakan suatu kalimat yang paling mudah mengundang kita untuk menafsirkan pertobatan Paulus secara moral. Tidaklah tepat jika kita mengesampingkannya, meskipun dari segi bahasa ada berbagai problem. “Aku bersyukur kepada Dia, yang menguatkan aku, yaitu Kristus Yesus, Tuhan kita, karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku -- aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas.” (1 Tim 1:12-13a).
Kalau begitu, apakah tadinya ia seorang penghujat dan seorang yang ganas ? Ia seorang yang tak bercacat, seperti ditulisnya kepada umat di Filipi, ataukah seorang berdosa, juga secara moral ?
Ia melanjutkan, “tetapi aku telah dikasihani-Nya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman. Malah kasih karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus. Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: "Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa," dan di antara mereka akulah yang paling berdosa. Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal. (1 Tim 1:13b-16). Jelaslah bahwa pertobatan tersebut memang suatu misteri yang amat kaya yang seluruhnya tidak terpahami.
Jadi, kejadian di Damsyik adalah jauh lebih kompleks dari pada suatu pertobatan moral belaka atau suatu perubahan mentalitas melulu. Kejadian itu demikian kaya, sehingga kita harus mendekatinya dangan rendah hati dan penuh hormat, karena kita yakin, bahwa kita hanya memahaminya sedikit saja, kita hanya mengertinya sedikit saja, tetapi kita akan dapat mengetahuinya jauh lebih banyak berkat rahmat Allah. Kalau begitu, kita juga akan lebih memahami diri kita sendiri, perjalanan hidup kita dan pertobatan kita.
Sekarang pertanyaan bagi kita, dengan mengajukan suatu pertanyaan mendasar yang sejalan dengan renungan kita : kapankah aku sendiri bertobat ?
Adakah dalam hidupku suatu “saat” pertobatan yang dapat kupandang sebagai suatu saat bersejarah ? Kalaupun tidak ada suatu “saat” dalam waktu, tentunya telah kualami sata-saat perubahan, pergolakan, krisis, yang membawa aku ke permahaman baru akan misteri Allah.
Jika kita tidak pernah menyadari sampai mendasar perubahan mentalitas yang sungguh hakiki bagi hidup kristen itu, sesungguhnya kita belum menangkap apa sebenarnya kebaharuan perjalanan kristen itu, yaitu kembali mengambil arah yang bertolak belakang.
Jika aku tidak mengerti baik hal-hal yang dikatakan tentang Paulus, barangkali aku juga sulit memahami apa yang terjadi dalam diriku. Kalau begitu, aku harus mempercayakan diriku kepada Allah melalui doa sebagai berikut :
“Tuhan, buatlah aku mengenal jalan-Mu. Semoga, seperti dikatakan oleh Yeremia, aku dapat menaruh tonggak-tonggak di masa lampauku. ‘Lihatlah kembali masa lampau, tempatkanlah tonggak-tonggak penunjuk’. Tolonglah aku memahami tahap-tahap rencana-Mu, saat-saat terang dan saat-saat gelap, saat-saat cobaan, bahkan sampai pada batas ketahananku. Perkenankan daku mengetahui pada titik mana aku berada dalam perjalanan itu, dan di mana seharusnya aku berada. Aku mohon ini demi Kristus Tuhan kami. Amin.
(“Le Confessioni di Paulo”, karya Kardinal Mgr. Carlo Maria Martini, Uskup Agung Milano – Kesaksian Santo Paulus, diterjemahkan oleh Frans Harjawiyata OSCO)

 - Kasih Yesus

Read more .....