3/16/2012

ULAR TEMBAGA


Mengenai ular tembaga ini, dua pertanyaan yang berbeda sekali bisa diajukan. Yang pertama, apa asal-usul historis dari kisah ini ? Jawaban yang mudah diberi ialah, dekat pertambangan Sinai dihormati seorang dewa pernyembuh dan ular-ular tembaga kecil dipersembahkan sebagai tanda terima kasih.

Kisah-kisah para musafir tentu mengilhami kisah ini. Tetapi pertanyaan yang lebih penting ialah pertanyaan yang kedua, apa yang hendak disampaikan oleh bagian kitab suci ini ?
Umat mengeluh, orang-orang Israel mengeluh sekali lagi. Keluhan ini adalah pemberontakan batin dari mereka yang tidak bersedia berkurban dan tidak mau berusaha untuk menjadi lebih baik, tetapi sebaliknya malahan mempersalahkan orang lain.
Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup." Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup. (Bil 21, 8-9).
Suatu perintah yang aneh bagi orang-orang Israel, tetapi ular tembaga itu akan menjadi tanda kenabian. Allah hendak menyembuhkan dosa dengan apa yang diperalat oleh dosa itu sendiri.
Barang siapa memandangnya akan hidup. Ini juga suatu pernyataan kenabian. Para pendosa tidak perlu mengikuti peraturan yang ketat, mereka cukup memandang tanda yang Allah berikan untuk penyembuhan mereka dengan IMAN.
Yesus akan mengatakan, “Sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan (di atas kayu salib) supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal (Yoh 3, 14).
Kisah tentang ular merupakan salah satu gambaran biblis yang artinya tersembunyi. Umat harus menanti hari ketika Kristus akan menyingkapkan artinya. Hal yang sama terdapat juga dalam kisah Melkisedek (Melkisedek, raja Salem, membawa roti dan anggur; ia seorang imam Allah Yang Mahatinggi.- Kej 14, 18) dan kisah Yusuf (Kej 37-50)
Hal demikian terjadi juga dalam kehidupan kita, ada kejadian-kejadian di masa lampau kita, yang tidak kita mengerti pada waktu itu, ada juga kejadian-kejadian yang tidak bisa kita mengerti sekarang, dan kita sering bertanya : “Mengapa hal init terjadi pada saya ?” Pada suatu waktu kelak, terang Kristus akan menyingkapkan artinya.
(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pastoral Katolik)

Read more .....

3/09/2012

YESUS MEMBERSIHKAN BAIT ALLAH (KENISAH)


Ketika hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat, Yesus berangkat ke Yerusalem. Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ. Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya. (Yoh 2:13-15).
Yesus pergi ke Bait Allah di Yerusalem yang adalah pusat kehidupan bangsa Yahudi dan lambang agama mereka. Ketika itu Yesus melihat di sekitar Bait Allah penuh dengan pedagang atau penjual binatang kurban dan penukar uang. Lalu Yesus mengusir mereka dari sekitar Bait Allah. (Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerusalem. Sesudah Yesus masuk ke Bait Allah, mulailah Ia mengusir orang-orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dibalikkan-Nya, dan Ia tidak memperbolehkan orang membawa barang-barang melintasi halaman Bait Allah - Mrk 11:15-16).
Bagaimana di sekitar Bait Allah bisa seperti itu, karena di Bait Allah orang-orang Yahudi perlu menggunakan pelayanan para imam untuk mempersembahkan kurban-kurban mereka. Otoritas dan kuasa para imam berasal dari Bait Allah. (mereka akan Kubawa ke gunung-Ku yang kudus dan akan Kuberi kesukaan di rumah doa-Ku. Aku akan berkenan kepada korban-korban bakaran dan korban-korban sembelihan mereka yang dipersembahkan di atas mezbah-Ku, sebab rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa. - Yes 56:7).
Bait Allah adalah tempat orang-orang Yahudi datang membawa persembahan dan derma, yang diterima oleh para imam kepala. Bait Allah tidaklah bebas dari korupsi dan nafsu akan kuasa. Orang-orang Yahudi maupun bangsa lain yang juga penganut agama Yahudi harus mempersembahkan kurban sembelihan mereka, dan mereka atau peziarah yang datang dari jauh, satu-satunya jalan adalah membeli hewan kurban di Yerusalem, yang saat menjelang paskah itu banyak yang menjual hewan kurban di sekitar Bait Allah, yang juga dipenuhi oleh penukar-penukar uang (money changer), karena yang berlaku untuk persembahan maupun derma di Bait Allah adalah uang syikal. Konon pada jaman sebelumnya para pedagang hewan kurban itu berjualan di Lembah Kidron di lereng Bukit Zaitun, mungkin para imam kepala atau penguasa Bait Allah melihat potensi keuntungan dari penjualan hewan kurban, maka mereka mengijinkan para penjual hewan kurban menjualnya di sekitar Bait Allah, dan kalau demikian tentu bagi peziarah lebih mudah karena lebih dekat ke Bait Allah, sehingga tidak terlalu repot membawa hewan kurban dari tempat yang agak jauh, dan tentu saja para penjual harus membayar sewa tempat, dan mungkin juga sanak saudara dari para imam yang berkuasa yang berjualan di sekitar situ untuk mengeruk keuntungan.
Satu hal lain adalah karena permintaan yang banyak akan hewan kurban maka tentu harga hewan kurban ditetapkan oleh penjual dengan harga tinggi, dan juga kurs penukaran uang pasti jauh lebih dari nilai normal, mengingat banyak orang-orang Yahudi adalah para perantau tentu mereka datang dengan membawa uang dari tempat asal mereka, dan mereka harus menukar dengan uang yang diakui atau sah untuk persembahan di Bait Allah. Di sinilah terjadi penyimpangan dan penyalah-gunaan dari tujuan yang dimaksudkan untuk rumah doa bagi peziarah, menjadi sapi perah bagi pedagang maupun para penguasa Bait Allah. ("Bukankah ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!" - Mrk 11:17 ).
Para peziarah selain orang-orang Yahudi yang datang dari daerah Israel sendiri, mereka datang juga dari perantauan di negara-negara lain jajahan Romawi, juga ada bangsa-bangsa lain yang menganut agama Yahudi dan mereka juga wajib datang ke Bait Allah untuk beribadah dan mempersembahkan kurban bagi Allah. Mereka yang bukan bangsa Yahudi datang ke Bait Allah tidak diperkenankan beribadah di dalam Bait suci itu, mereka hanya diperbolehkan beribadah di pelataran luar saja., mereka tidak diijinkan masuk ke tempat-tempat tertentu dari Bait Allah. (Ketika masa tujuh hari itu sudah hampir berakhir, orang-orang Yahudi yang datang dari Asia, melihat Paulus di dalam Bait Allah, lalu mereka menghasut rakyat dan menangkap dia, sambil berteriak: "Hai orang-orang Israel, tolong! Inilah orang yang di mana-mana mengajar semua orang untuk menentang bangsa kita dan menentang hukum Taurat dan tempat ini! Dan sekarang ia membawa orang-orang Yunani pula ke dalam Bait Allah dan menajiskan tempat suci ini!" Sebab mereka telah melihat Trofimus dari Efesus sebelumnya bersama-sama dengan Paulus di kota, dan mereka menyangka, bahwa Paulus telah membawa dia ke dalam Bait Allah. Maka gemparlah seluruh kota, dan rakyat datang berkerumun, lalu menangkap Paulus dan menyeretnya keluar dari Bait Allah dan seketika itu juga semua pintu gerbang Bait Allah itu ditutup. - Kis 21:27-30). Di pelataran luar itulah orang-orang non Yahudi boleh beribadah, dan di situlah para penjual hewan dan penukar uang berada, jadi bisa dibayangkan bagaimana riuhnya suasana pasar bagi peziarah yang beribadah di situ.
Cinta akan rumah-Mu menghanguskan Aku bagai api dan kata-kata yang mencela Engkau telah menimpa Aku. Kutipan ini dari Mazmur (sebab cinta untuk rumah-Mu menghanguskan aku, dan kata-kata yang mencela Engkau telah menimpa aku. - Mzm 69:10). Sesungguhnya selain tindakan Yesus mengusir para pedagang dan penukar uang di Bait Allah, juga kata-kata Yesus semakin membuat kebencian para imam kepala terhadap Yesus yang kemudian akan mendatangkan kematian Yesus. (Orang-orang Yahudi menantang Yesus, katanya: "Tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami, bahwa Engkau berhak bertindak demikian?" Jawab Yesus kepada mereka: "Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali." – Yoh 2:18-19). Kata-kata Yesus inilah yang dipakai mereka untuk menuduh Yesus pada saat Yesus diadili di hadapan Imam Besar (Lalu beberapa orang naik saksi melawan Dia dengan tuduhan palsu ini: "Kami sudah mendengar orang ini berkata: Aku akan merubuhkan Bait Suci buatan tangan manusia ini dan dalam tiga hari akan Kudirikan yang lain, yang bukan buatan tangan manusia." – Mrk 14:57-58).
Para rasul tidak bisa mengerti perkataan tersebut, karena pada waktu itu tidak ada yang lebih suci bagi mereka selain dari pada Bait Allah dan Kitab Suci. Nanti, kemudian hari mereka baru akan mengerti, bahwa Sabda Yesus yang paling sederhana berbobot sama dengan seluruh Kitab Suci (Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri. Kemudian, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, barulah teringat oleh murid-murid-Nya bahwa hal itu telah dikatakan-Nya, dan mereka pun percayalah akan Kitab Suci dan akan perkataan yang telah diucapkan Yesus – Yoh 2:21-22). Mereka juga akan memahami, bahwa Yesus adalah Bait Allah sejati. Sampai saat itu, orang-orang Yahudi membangun kuil-kuil dan mencari tempat-tempat di mana mereka bisa berjumpa dengan Allah dan memperoleh kerahiman-Nya. Sesungguhnya sekarang Allah telah membuat Diri-Nya hadir dalam Diri Yesus, Dialah yang mendatangkan kekayaan Allah kepada kita.
-       Dengan kuasa manakah
-       Anak domba paskah

Read more .....

3/05/2012

DENGAN KUASA MANAKAH

Lalu Yesus masuk ke Bait Allah, dan ketika Ia mengajar di situ, datanglah imam-imam kepala serta tua-tua bangsa Yahudi kepada-Nya, dan bertanya: "Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu?" (Mat 21:23).
Peristiwa itu terjadi di halaman Bait Allah Yerusalem menjelang hari raya Paskah, di mana beberapa orang dari kelompok Sanhedrin (Mahkamah Agama Yahudi), yang terdiri dari para imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan tua-tua, yang mendatangi Yesus dan bertanya tentang kuasa Yesus dalam melakukan hal-hal itu.
Maksud mereka bukan ajaran-Nya di Bait Allah yang terjadi sehari sebelumnya, tetapi tindakan-Nya menyucikan Bait Allah yang terjadi sehari sebelumnya. Mereka mempermasalahkan, apa hak-Nya Yesus, sehingga Dia berani menjungkir-balikkan dagangan di halaman Bait Allah? , artinya Yesus melarang orang-orang menggunakan halaman Bait Allah sebagai tempat untuk berdagang. Tentunya yang berdagang di halaman Bait Allah adalah orang-orangnya para Imam, karena merekalah yang berkuasa atas Bait Allah, dan dengan demikian mereka mendapat tambahan “penghasilan” dari dagangan, penukaran uang, dsb. Biasanya ada “penjaga” Bait Allah yang ditempatkan di sana untuk menjaga kesucian Bait Allah. Karena itu mereka mempertanyakan, siapa yang memberi kuasa kepada Yesus sehingga Ia melakukan hal-hal itu? Yesus secara hierarki tidak punya jabatan apa-apa dalam area bangunan Bait Allah itu.
Tindakan Yesus itu dikenali sebagai tindakan penggenapan nubuat dalam zaman Perjanjian Lama, untuk memperteguh ucapan seorang nabi, supaya dimengerti oleh orang-orang sekitarnya, dan mengenali siapa Yesus itu.
Yesus memprotes, karena tujuan orang-orang datang ke Bait Allah adalah untuk beribadah, tetapi terhalangi oleh pedagang-pedagang di situ, dalam Yesaya 56:7 dikatakan "sebab rumahKu akan disebut rumah doa bagi segala bangsa". Orang yang bukan Yahudi dilarang memasuki ruang yang di dalam, di halaman luar mereka boleh beribadah (Di antara mereka yang berangkat untuk beribadah pada hari raya itu, terdapat beberapa orang Yunani. – Yoh 12:20). Karena itu halaman luar disebut "halaman non-Yahudi". Akan tetapi orang-orang luar ini hampir tidak bisa menggunakan tempat itu untuk beribadah, karena halaman itu dipenuhi dengan pedagang dan barang dagangannya. Seorang nabi dalam Perjanjian Lama telah menubuatkan "Dan tidak akan ada lagi pedagang di rumah TUHAN semesta alam pada waktu itu" (Zak 14:21).
Dengan kuasa apa Yesus melakukan tindakan nubuat itu ? tentu saja dengan kuasa Allah. Tetapi mengapa Yesus tidak menjawab demikian? Karena mereka yang bertanya tidak percaya kepada-Nya. Karena itu Yesus membuat pertanyaan lain untuk mengingatkan mereka akan aktivitas Yohanes Pembaptis, apakah kuasa Yohanes berasal 'dari Surga' (artinya Allah) atau 'dari manusia' supaya mata hati mereka “terbuka”. Tetapi mereka tetap tidak mau menjawab, meskipun mereka tahu dari mana (Lalu mereka menjawab Yesus: "Kami tidak tahu." – Mat 21:27).
Karena itu sesungguhnya mereka juga mengenali Yesus dalam tindakan nubuatan nabi Yesaya dan Zakharia itu, bahwa kuasa Yesus itu dari Allah, tetapi mereka tidak mau mempercayai Yesus, meskipun mereka sudah mengenal Yesus (kuasa-Nya) dari mukjizat yang dilakukan-Nya, yaitu orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, bahkan yg mati dibangkitkan, tetapi hati mereka “degil” (Mereka memperbincangkannya di antara mereka, dan berkata: "Jikalau kita katakan: Dari sorga, Ia akan berkata kepada kita: Kalau begitu, mengapakah kamu tidak percaya kepadanya? – Mat 21:25). Mereka tidak mau mengakuinya, karena kalau mereka mengakui, mereka akan kehilangan “kekuasaan dan nafkah”. Bila mereka mengenali tindakan Yohanes dari Allah, maka terlebih lagi mereka harus mengenali kuasa Yesus yang melebihi Yohanes. Mereka memilih “mengatakan tidak tahu, maka Yesus pun tidak mau menjawab pertanyaan mereka, karena sesungguhnya mereka tahu jawaban atas pertanyaan Yesus, tetapi mereka menolak untuk mengakuinya.
Zaman sekarang kita juga bisa “mengenali” tindakan Yesus dalam berbagai acara, misalnya dalam Kebangunan Rohani, Misa dan Doa Penyembuhan, devosi-devosi, dsb. Tetapi masih ada banyak orang tetap tidak percaya kepada Yesus, meskipun mereka sudah menyaksikan banyak “tanda” kehadiran Allah, baik kesembuhan maupun pertobatan, pengusiran roh jahat atau kuasa gelap, dsb, bahkan ada juga imam yang masih kurang percaya, apakah betul masih ada mukjizat sekarang ini.
Kalau dahulu Yesus mengusir mereka yang “berdagang atau bercokol” dalam bait Allah dan membuat Bait Allah menjadi penuh dengan dagangan dan menjadi kotor, sehingga  menghalangi orang untuk mendekat kepada Allah, maka Yesus pun juga akan mengusir segala yang bercokol dalam hati kita, yaitu segala dosa-dosa yang menghalangi kita untuk mendekat kepada Allah, dan dosa kita juga menjadi penghalang bagi rahmat Allah, mengapa ? Karena kita adalah bait Roh Kudus (Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, -- dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? – 1 Kor 6;19), jadi biarkanlah Yesus membersihkan hati kita, menjungkir balikkan dan mencabut segala yang bercokol dalam hati kita, kesombongan, dendam, sakit hati, kebencian, pikiran yang kotor, keserakahan, iri hati, niat yang jahat, dsb (Seandainya ada niat jahat dalam hatiku, tentulah Tuhan tidak mau mendengar. – Mzm 66:18).
Bagaimana sebenarnya kita bisa membiarkan Yesus membersihkan hati kita, yaitu melalui Ekaristi, berdoa, dan membaca Kitab Suci (Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran – 2 Tim 3:16).

-           Aku datang membawa pedang
-           Yesus ditolak di Nazareth
-           Devosi Ekaristi St.Thomas Aquinas

Read more .....

2/22/2012

YESUS DIMULIAKAN DI ATAS GUNUNG

Maka terdengarlah suara dari dalam awan itu, yang berkata: "Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia." (Luk 9:35). Pernyataan Ilahi yang diterima Yesus pada peristiwa Transfigurasi, merupakan awal dari suatu adegan baru, yaitu Kisah Sengsara Yesus.

Yesus sudah berkhotbah selama dua tahun, tetapi tidak ada harapan, bahwa Israel akan mengatasi kekerasan yang membawa kepada keruntuhannya. Sekalipun telah membuat mukjizat, Yesus tidak meyakinkan orang-orang sebangsa-Nya, Yesus harus menghadapi kekuatan-kekuatan jahat, melalui korban diri-Nya sendiri akan lebih efektif dari pada kata-kata-Nya dalam membangkitkan kasih dan semangat pengorbanan dalam diri semua orang yang akan melanjutkan karya penyelamatan-Nya di masa yang akan datang.
Kira-kira delapan hari sesudah segala pengajaran itu, Yesus membawa Petrus, Yohanes dan Yakobus, lalu naik ke atas gunung untuk berdoa. (Luk 9:28). Ia membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes bersama dengan Dia. Ketiga orang ini mempunyai tempat istimewa dalam kelompok dua belas. Sangat mungkin bahwa para ‘rasul’ yang lain terlalu pelan dalam bereaksi. Seluruh kesabaran dan pendidikan Yesus tidak membuat mereka bertumbuh lebih cepat dan mereka tidak siap memasuki awan bersama Dia.
Ketika Ia sedang berdoa, rupa wajah-Nya berubah dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilauan. Dan tampaklah dua orang berbicara dengan Dia, yaitu Musa dan Elia. (Luk 9:29-30). Ia naik ke gunung untuk berdoa. Sangat mungkin bahwa dalam doa-Nya sepanjang malam itulah Yesus mengharapkan terjadinya peristiwa ini. Perubahan rupa Yesus, pertama-tama mengandung makna bagi diri-Nya sendiri. Yesus tidak mengetahui segala sesuatu lebih dulu, Ia tidak dibebaskan dari kebimbangan dan kecemasan. Rupanya Bapa tidak menyatakan diri-Nya dengan kasih yang melimpah kepada Yesus, Yesus melayani tanpa mengharapkan ganjaran surgawi. Namun pada kesempatan ini Ia mendapatkan kepastian yang berhubungan dengan tujuan misi-Nya.
Bagi para rasul, ini merupakan kesaksian yang menentukan yang akan membantu mereka untuk percaya akan Kebangkitan, surat kedua Petrus sama sekali tidak keliru ketika menekankan pentingnya kesaksian Allah ini, meskipun dilakukan secara agak kikuk, karena surat ini diklaim sebagai ditulis oleh Petrus sendiri (Kami menyaksikan, bagaimana Ia menerima kehormatan dan kemuliaan dari Allah Bapa, ketika datang kepada-Nya suara dari Yang Mahamulia, yang mengatakan: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan." Suara itu kami dengar datang dari sorga, ketika kami bersama-sama dengan Dia di atas gunung yang kudus. - 2 Ptr 1:17-18). Adalah suatu kenyataan, bahwa banyak orang sepanjang sejarah telah dianggap sebagai nabi bahkan ‘sang’ nabi, tetapi tak seorangpun dari mereka yang berpretensi membawa suatu kesaksian dari Allah, bahwa Allah berkenan kepada mereka, selain keberhasilannya sendiri, Yesus mengandalkan kesaksian, yang dimulai dengan Yohanes Pembaptis. Dalam seluruh wahyu alkitabiah, iman disokong oleh kesaksian-kesaksian ini. Di sini Musa, sebagai bapa pendiri Israel, dan Elia sebagai bapa para nabi, memberi kesaksian tentang Yesus.
(Keduanya menampakkan diri dalam kemuliaan dan berbicara tentang tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusalem – Luk 9:31). Lukas mengisahkan, bahwa Musa dan Elia berbicara kepada Yesus tentang keberangkatan-Nya, dalam bahasa Yunani exodus. Yesus kemudian menjadi “Musa yang baru” yang membawa umat Allah dari dunia perbudakan ini kepada Tanah Terjanji.
Dialah PutraKu (Luk 9:35). Yesus adalah Putra Allah dalam arti satu-satunya Putra Allah, yang diperanakkan oleh Allah sejak perkandungan-Nya. Di sini, Yesus tampil sebagai Dia yang dinanti-nantikan oleh Musa dan Elia, Dia yang telah mereka persiapkan, meskipun untuk saat ini mereka dapat menghiburNya, karena Dia masih membawa kelemahan dari kemanusiaan kita.
(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pastoral Katolik)
-       Yesus berubah rupa

Read more .....

2/13/2012

YESUS MENGAMPUNI DOSA DAN MENYEMBUHKAN SEORANG LUMPUH

Manakah lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalan? Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa" -- berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu -- : "Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!" (Mrk 2:9-11). Dengan mukjizat seorang lumpuh disembuhkan dan diampuni dosanya, Yesus memberikan tiga jawaban sekaligus : kepada orang sakit, kepada teman-temannya, dan kepada orang-orang farisi.

Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: "Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni! - (Mrk 2:5). Inilah sahabat-sahabat orang lumpuh itu dan Yesus segera mengganjar iman mereka. Tampaknya orang lumpuh itu tidak melakukan lebih dari pada setuju dengan nasihat teman-temannya. Yesus segera mengatakan kepadanya, “dosa-dosamu telah diampuni”.
Perkataan ini mengherankan ! bagaimana Yesus bisa mengampuni dosa-dosanya jika orang tersebut tidak sadar akan dosa apapun, sehingga ia juga tidak bertobat ataupun menantikan pengampunan ? Tentu selama bertahun-tahun di dalam penderitaan penyakitnya, orang itu bertanya kepada diri sendiri, mengapa Allah menyiksa dia dengan penderitaan itu ? (masyarakat waktu itu percaya bahwa penyakit itu adalah suatu siksaan dari Allah). Banyak teks dalam Perjanjian Lama menggaris bawahi hubungan yang kompleks antara dosa dan penyakit. Sering penyakit membuat kita sadar akan keadaan kedosaan kita, dan dari pihak Yesus, Ia tidak mau menyembuhkan kecuali ada pemulihan dengan Allah. Yesus bertindak seperti Allah : Ia memandang kepada orang berdosa, memperbaiki segala luka batin karena dosa dan mengampuninya sebelum melakukan penyembuhan.
Kemudian orang-orang Farisi datang, ketika Yesus mengampuni orang lumpuh, orang-orang sederhana tidak menyadari betapa perkataan Yesus itu menyebabkan sandungan. Mereka tidak mendapat pendidikan keagamaan yang cukup untuk segera menyadari, bahwa hanya Allah saja yang bisa memberi pengampunan. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat merasa telah terjadi skandal (Tetapi di situ ada juga duduk beberapa ahli Taurat, mereka berpikir dalam hatinya: "Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?" – Mrk 2:6-7), dan kemarahan mereka dapat dipahami karena mereka maupun orang-orang lain dan murid-murid belum mengerti, bahwa Yesus adalah Putera Allah yang sejati. Yesus membungkam mereka : Jika aku menyembuhkan orang sakit dengan cara Allah, tidakkah Aku juga harus mengampuni seperti Allah ? (Mrk 2:10-11).
Yesus menggelisahkan hati mereka yang bertanya, siapakah Dia ? Lebih baik Ia menunjukkan bahwa hanya Dia yang bisa menyelamatkan manusia seutuhnya, jiwa dan raga.
Berbahagialah orang yang diberi jaminan, bahwa dosa-dosanya telah diampuni lewat pandangan dan perkataan Yesus. Allah adalah Dia yang hidup dan mencintai dan kita perlu berjumpa dengan Dia, supaya pengampunan bisa menjadi asli – mata-Nya bertemu dengan mata kita. Oleh karena itu, Allah harus menjadi manusia – Yesus mengampuni dosa-dosa karena Dia adalah Putera Allah (Dan Ia telah memberikan kuasa kepada-Nya untuk menghakimi, karena Ia adalah Anak Manusia. - Yoh 5:27) dan dari Dia kita menerima pengampunan baik dari Allah maupun dari masyarakat dalam komunitas Kristiani.
(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pastoral Katolik)

Read more .....

YESUS BERUBAH RUPA


Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendirian saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka (Mrk 9:2). Penampakan kemuliaan Yesus di atas gunung sesungguhnya merupakan salah satu peristiwa yang paling penting dalam Perjanjian Baru. Dalam Liturgi Gereja-Gereja Timur, pesta perubahan wajah Yesus diberi tempat paling utama.

Sekalipun peristiwa ini bukanlah puncak tertinggi, namun ia merupakan ringkasan dari segala wahyu. Musa dan Elia, pembicara dari hukum dan Para Nabi (singkat kata, seluruh Perjanjian Lama) memperkenalkan Kristus dari Injil kepada Rasul Petrus, Yakobus dan Yohanes, mereka yang akan bertanggung jawab atas pewartaan Injil.

Sebagaimana Musa dan Elia dituntun oleh Allah ke Gunung Kudus, untuk menyaksikan kemuliaan-Nya (Kel 33:19 ; 1 Raj 19:8), demikain pula para rasul dipimpin oleh Yesus untuk menyendiri, mereka juga mendaki gunung dan di atas gunung Yesus menampakkan kemuliaan-Nya kepada mereka.

Yesus baru saja memaklumkan sengsara dan kematian-Nya (Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari – Mrk 8:31) : hari telah tiba ketika Bapa mengukuhkan bagaimana Ia mengakhiri hidup-Nya. Saatnya sudah sangat dekat dan Bapa memberikan Dia suatu prarasa atas kebangkitan-Nya. Musa dan Elia adalah saksi-saksi itu, mereka yang dalam arti tertentu lolos dari pembusukan maut (Lalu matilah Musa, hamba TUHAN itu, di sana di tanah Moab, sesuai dengan firman TUHAN. Dan dikuburkan-Nyalah dia di suatu lembah di tanah Moab, di tentangan Bet-Peor, dan tidak ada orang yang tahu kuburnya sampai hari ini. - Ul 34:5-6 ; Sedang mereka berjalan terus sambil berkata-kata, tiba-tiba datanglah kereta berapi dengan kuda berapi memisahkan keduanya, lalu naiklah Elia ke sorga dalam angin badai. - 2 Raj 2:11).

Maka datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara: "Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia." (Mrk 9:7). Awan yang disebut disini adalah awan yang dalam beberapa peristiwa dalam Kitab Suci, yang menyatakan dan menyembunyikan kehadiran yang tak terselami dari Allah (Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Sesungguhnya Aku akan datang kepadamu dalam awan yang tebal, dengan maksud supaya dapat didengar oleh bangsa itu apabila Aku berbicara dengan engkau, dan juga supaya mereka senantiasa percaya kepadamu." Lalu Musa memberitahukan perkataan bangsa itu kepada TUHAN. - Kel 19:9 ; Ketika imam-imam keluar dari tempat kudus, datanglah awan memenuhi rumah TUHAN - 1 Raj 8:10)

Para rasul telah menemani Yesus lebih dari setahun, dan melihat terjadi salah pengertian antara Yesus dan para penguasa agama umat Allah. Bagi mereka timbullah suatu pertanyaan : mungkinkah Yesus keliru ? tidakkah kepastian umat Allah ada pada pihak para imam dan ahli Taurat ? Akhirnya Bapa sendiri campur tangan, sama seperti yang telah Ia lakukan di masa lampau untuk Yohanes Pembaptis : “Dengarkanlah Dia karena Dia adalah Sabda yang menjadi manusia” (Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. - Yoh 1:14). Dia adalah Sang Nabi dan mereka yang lain hanya berbicara atas nama-Nya (Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi – Ibr 1:1).

Ketika Yesus mengerjakan mukjizat atas oang-orang sakit dan atas kekuatan-kekuatan alam, Ia menunjukkan bahwa tatanan dunia sekarang tidaklah permanen. Sekarang tabir-tabir sudah mulai dibuka sedikit, mudah-mudahan para rasul mengerti bahwa Putra Manusia (sebutan yang dipakai Yesus untuk diri-Nya), sudah mendekati kebangkitan-Nya. Tidak lama lagi kawan senegara-Nya akan menggantungkan Dia di salib.

Dalam waktu yang singkat juga, Bapa akan memberikan Dia kemuliaan yang sudah menanti Dia. Awan yang bercahaya, pakaian putih yang gemerlapan adalah tanda-tanda lahiriah yang menyatakan sesuatu tentang misteri Yesus (dan pakaian-Nya sangat putih berkilat-kilat. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat mengelantang pakaian seperti itu – Mrk 9:3), nanti pada hari Ia bangkit dari antara orang mati, kodrat manusiawi-Nya akan diubah dan diperluas oleh daya-daya Ilahi sehingga Ia bisa memenuhi segala sesuatu dalam diri setiap orang.

(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pastoral Katholik)

Read more .....

KELAHIRAN BARU


Nikodemus adalah seorang yang saleh, dan ingin mengenal Allah dan jalan-jalan-Nya. Maka ia pergi kepada Yesus sebagai guru agama (Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi. Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata: "Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorang pun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya." Yoh 3:1-2).

Apa yang dibutuhkannya bukan menerima ajaran, melainkan untuk mengalami perubahan di dalam dirinya (Yesus menjawab, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah." – Yoh 3:3). Itu juga yang kita butuhkan, kita harus mengakui ketidak-berdayaan kita, yaitu kekuatan kita sendiri yang seolah-olah tanpa bantuan dari yang lain bisa melewati segala rintangan yang menghalangi kehidupan kita. Seperti juga Nikodemus, sekalipun kita sudah memiliki banyak pengalaman dan pengetahuan, kita adalah seperti orang tua yang tidak bisa apa-apa.

Yesus berkata, bahwa kita harus dilahirkan lagi dan lahir dari atas : Injil Yohanes menggunakan sebuah kata yang bisa ditafsir dengan dua arti tersebut (ay 3). Tak seorangpun melahirkan dirinya sendiri, dan sebagaimana kita telah menerima kehidupan kita dalam daging dari orang lain, demikian pula kita menerima kehidupan Putra Allah dari Roh.

Semua orang mengatakan bahwa mereka hidup, karena sesuatu bergerak di dalam diri mereka, pikiran datang kepada mereka, dan mereka membuat keputusan. Namun hal-hal ini bisa jadi tidak lebih dari pada kehidupan dalam daging, atau kehidupan seorang yang belum sadar.

Kehidupan lain (lahir baru), yaitu kehidupan dari Roh, bersifat lebih misterius karena terjadi pada kedalaman diri kita. Pada orang beriman yang telah sadar, yang hidupnya telah dipimpin oleh Roh, secara perlahan-lahan akan melihat perubahan-perubahan dalam dirinya, yang mendorong tindak-tanduknya dan ambisinya (Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri – Gal 5:22-23). Kita mungkin hanya melihat tampang luar saja, yaitu kita hanya melihat wajah seseorang dan tindak tanduknya, tetapi kita “lupa” melihat karya Allah di dalam dirinya. Tetapi Ia merasa betah dengan Allah dan tanpa takut, karena ia menyadari, bahwa bukan dirinya lagi yang mengarahkan hidupnya, melainkan sesuatu yang lain yang tinggal di dalam dirinya (Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh – Gal 5:25). Namun demikian sesungguhnya seseorang tidak bisa mengatakan secara persis apa yang dia rasakan dan telah terjadi dalam dirinya.

Maka Yesus membandingkan tindakan Roh dengan tiupan angin, yang bisa kita rasakan meskipun kita tidak bisa lihat atau menangkapnya. Kita perhatikan juga bahwa dalam bahasa Yesus kata yang sama bisa berarti roh maupun “angin”.

Kita perlu lahir lagi dari air dan Roh : hal ini mengacu pada pembaptisan. Jangan kita mengira bahwa dengan hanya menerima air pembaptisan seseorang menjadi sepanuhnya hidup dalam Roh. Sebaliknya kita perlu menyadari bahwa biasanya seseorang dibaptis supaya ia mulai hidup dalam Roh : sabda Injil mengacu kepada orang-orang dewasa yang bertobat dan menerima iman Kristiani. Pembaptisan anak-anak adalah soal lain. Pembaptisan bekerja di dalam mereka, namun mereka harus mendapat ajaran dalam iman untuk menghantar mereka kepada pertobatan personal.

Seperti kebanyakan orang-orang di Israel, Nikodemus adalah seorang yang saleh dan beriman. Mengapa ia datang pada waktu malam ? Mungkin ia tidak mau membahayakan kedudukan dan nama baiknya, atau mungkin juga ia tidak mau bergaul dengan orang-orang biasa yang sering mengelilingi Yesus. Kalau demikian, sikap ini menunjukkan bahwa ia masih perlu dilahirkan kembali, ia belum terbebas dari banyak hal yang melumpuhkan dia.

(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pastoral Katolik)

Read more .....

2/01/2012

DAUD MENGALAHKAN GOLIAT ( PERLENGKAPAN SENJATA ALLAH)


Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: "Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu. (1 Sam 17:45)
Kamu datang kepada saya dengan tombak dan pedang, tetapi saya datang untuk melawan kamu dalam nama Yahweh, bahwa peperangan Daud melawan Goliat melambangkan peperangan antara kebaikan dan kejahatan.  Goliat lambang kejahatan dan kesombongan, terlalu percaya diri, mengandalkan kekuatan sendiri, tidak percaya kepada Tuhan. Daud lambang kebaikan dan kerendahan hati, yang selalu mengandalkan Tuhan dalam setiap tindakannya.
Di dunia ini kemenangan tidak akan berpihak pada mereka yang lebih kuat dan lebih baik persenjataannya. Orang-orang seperti itu menghina Allah dengan kesombongan dan kepercayaan diri. Dan mereka tak akan bertahan apabila mereka menghina orang pilihan Allah, khususnya yang hina dina. Kemenangan akan berpihak kepada orang lemah yang percaya pada pertolongan Allah. Di sini pemenangnya seorang yang dalam hatinya selalu mempunyai suara hati yang benar.
Saul meminta Daud untuk melindungi diri dengan baju baja dan senjata miliknya (Lalu Saul mengenakan baju perangnya kepada Daud, ditaruhnya ketopong tembaga di kepalanya dan dikenakannya baju zirah kepadanya. Lalu Daud mengikatkan pedangnya di luar baju perangnya, kemudian ia berikhtiar berjalan, sebab belum pernah dicobanya. Maka berkatalah Daud kepada Saul: "Aku tidak dapat berjalan dengan memakai ini, sebab belum pernah aku mencobanya." Kemudian ia menanggalkannya. – 1 Sam 17:38-39). Akan tetapi Daud sadar, bahwa kalau ia memakai senjata tersebut, ia tak akan dapat menggunakannya dan orang Filistin akan mengalahkannya. Maka Daud menanggalkan semua senjata pengaman tersebut, lalu ia membuat dirinya menjadi lebih bebas. Daud, pergi ke medan perang dengan penuh kepercayaan “dalam nama Yahweh, Allah semesta alam.”
Lalu Daud mengambil tongkatnya di tangannya, dipilihnya dari dasar sungai lima batu yang licin dan ditaruhnya dalam kantung gembala yang dibawanya, yakni tempat batu-batu, sedang umbannya dipegangnya di tangannya. Demikianlah ia mendekati orang Filistin itu. (1 Sam 17:40). Daud mengambil 5 buah batu sebagai senjata melawan Goliat, dari ke lima batu tersebut, Daud hanya menggunakan satu batu saja, dan Daud mengalahkan Goliat.
Ke lima batu itu adalah lambang perlengkapan senjata Allah, seperti yang diuraikan Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, ke lima perlengkapan senjata Allah adalah :
-       Kebenaran
-       Keadilan
-       Kerelaan
-       Iman
-       Firman Allah
(Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah – Ef 6:13-17).
Dalam kitab Efesus 6 dijelaskan, bahwa konflik dengan Iblis adalah bersifat rohani, dan karena itu tidak ada senjata yang nyata yang dapat digunakan secara efektif untuk melawan iblis dan antek-anteknya. (karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. – Ef 6:12). Bahwa ketika kita mengikuti semua petunjuk dengan menggunakan perlengkapan senjata Allah, kita akan dapat bertahan, dan dapat memperoleh kemenangan tanpa memperdulikan strategi apapun dari Iblis.
Sebagaimana peperangan Daud melawan Goliat, peperangan kita sekarang ini adalah peperangan rohani dalam diri kita sendiri, yaitu melawan godaan-godaan, keinginan-keinginan kita yang jahat di mata Tuhan, dan kita sering jatuh dalam kelemahan-kelemahan maupun keinginan daging kita. Segala keinginan jahat yang bercokol dalam diri kita, yaitu kesombongan,  keserakahan, keinginan-keinginan yang tidak terkontrol, kemarahan, egoisme, kebencian, dusta, iri hati, pikiran kotor, gosip, dsb yang menyebabkan kita jatuh dalam dosa. Tidak hanya itu, kekuatan dari luar diri kita juga sering mengancam dengan segala pengaruh-pengaruh yang kelihatannya baik namun bisa membinasakan jiwa kita. Kita tidak berdaya, seperti Daud dibandingkan dengan Goliat, tetapi Daud maju dalam medan perang dalam Nama Yahweh, dan Daud mengalahkan Goliat hanya dengan satu buah batu. Kita juga dapat menang dalam peperangan rohani ini, sama seperti Daud, dengan mengikuti anjuran rasul Paulus mengenakan kelima perlengkapan senjata Allah, hanya satu yang kita pakai untuk memenangkan peperangan rohani, yaitu Firman Allah, keempat perlengkapan senjata Allah lainnya adalah  benteng yang kokoh dalam menahan serangan iblis.
Kita mengenakan kebenaran untuk melawan dusta, karena Iblis dikatakan sebagai “bapa dari segala dusta” (Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta - Yoh 8:44). Mengenakan baju zirah keadilan untuk melindungi hati kita dari segala tuduhan dan dakwaan Iblis. Berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera, sama seperti Daud rela untuk maju ke medan perang melawan Goliat. Untuk memberitakan Injil perlu kerelaan, namun musuh kita iblis selalu menebarkan ranjau yang berbahaya di jalan kita dalam mewartakan Injil untuk menghentikan pewartaan Injil. Iman adalah perisai yang kokoh dan penting untuk menghentikan panah api dari si jahat.
Firman Allah, adalah pedang Roh yang dapat dipakai bukan hanya untuk mempertahankan diri, tetapi juga untuk menyerang (Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita. Dan tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab – Ibr 4:12-13). Sementara senjata-senjata rohani lainnya bersifat mempertahankan diri, pedang roh adalah senjata penyerang dalam senjata Allah. Yesus, ketika dalam pencobaan di padang gurun, Firman Allah menjadi acuan-Nya dalam menangkal setiap godaan dan serangan Iblis, Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." – Mat 4:4, (bdk Mat 4:1-11 dan Luk 4:1-13). Sungguh suatu berkat bahwa Firman Allah yang sama tersedia untuk kita semua.

Read more .....

SIMEON DAN HANA

Kemudian datang Simeon dan Hana yang mencerminkan orang-orang saleh dan cerdas yang menyelidiki Alkitab, yang pada waktu itu mengharapkan kedatangan Mesias dan kemudian juga menjadi sebagian dari pengikut-pengikut-Nya yang paling setia.

Pada hari kedelapan sesudah kelahiran-Nya, Anak itu disunat, dengan demikian ‘dibesarkan sesuai dengan Taurat Tuhan, masuk ke dalam Perjanjian itu, dan menuliskan nama-Nya dalam darah-Nya sendiri di dalam sejarah bangsa itu. Segera setelah itu, ketika masa pentahiran Maria berakhir, mereka membawa Dia dari Bethlehem ke Yerusalem untuk menyerahkan Dia kepada Tuhan di Bait Allah. (Dan ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya. Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan – Luk 2:21-22).
Dia adalah Tuhan Bait Suci yang memasuki Bait Allah, tetapi Dia adalah seorang pengunjung yang sama sekali tidak menarik perhatian imam-imam, karena sebagai ganti persembahan yang biasa diberikan oleh orang-orang lain dalam kesempatan yang serupa, Maria hanya dapat mempersembahkan dua ekor burung merpati, yaitu persembahan orang-orang miskin (seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah", dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati – Luk 2:23-24). Namun ada yang melihat, yang tak terpesona oleh hal-hal duniawi, kemiskinan-Nya tidak dapat menyembunyikan-Nya, Simeon, orang kudus yang lanjut usia, sebagai jawaban terhadap banyak doanya, telah menerima satu janji rahasia, bahwa ia tidak akan meninggal sebelum dia melihat Mesias dengan menjumpai ibu bapa itu dan Anak mereka (Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. – Luk 2:25-26). Tiba-tiba menjadi jelas bagi Simeon, bahwa pada akhirnya inilah Dia yang dinanti-nantikannya dan sambil menatang-Nya ia memuji Allah, karena kedatangan Terang yang menerangi orang-orang bukan Yahudi dan kemuliaan umat-Nya bangsa Israel. (Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya: "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu – Luk 2:27-30).
Ketika ia sementara berbicara, seorang saksi lain bergabung dengan kelompok ini. Dialah Hana, seorang janda saleh yang siang malamnya benar-benar tinggal dalam Bait Allah (Luk 2:36-37), dan telah memurnikan mata rohaninya dengan ibadah dan doa, sehingga dengan mata tajam seorang nabiah, ia dapat menembus selubung yang menutupi pengertian. Hana menyatukan kesaksiannya dengan kesaksian Simeon itu, ia memuji Allah dan menegaskan rahasia agung itu kepada orang-orang lain yang dengan penuh pengharapan menanti-nantikan kelepasan di Israel.
(Sumber : Majalah Ave Maria)

-       Kelahiran Yesus

Read more .....

1/26/2012

PERUMPAMAAN PELITA

Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya. (Luk 8:16).

Yesus berbicara mengenai menyalakan pelita, bahwa pelita yang sudah nyala tidak boleh ditutupi, tetapi harus menjadi terang bagi sesama, supaya orang melihat cahayanya. Pelita dan cahaya yang dimaksud adalah semua perbuatan-perbuatan yang baik, dan semua karunia-karunia Roh yang Tuhan berikan, terutama kasih untuk membangun iman umat Tuhan, maupun sebagai saksi Kristus bagi orang yang belum mengenal Tuhan, supaya dengan melihat perbuatan-perbuatan mereka yang baik, orang menjadi mengenal Tuhan dan pada akhirnya mengasihi Tuhan.
Cahaya yang dimaksud adalah buah-buah Roh, seperti yang disebutkan rasul Paulus dalam Galatia 5 tentang buah Roh (Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. (Gal 5:22-23), juga a.l. kerendahan hati, kejujuran, kerelaan, dst.
Mengapa Yesus berbicara mengenai pelita yang ditutupi tempayan atau menempatkan di bawah tempat tidur ? Dalam injil Lukas, Yesus juga mengatakan : "Tidak seorang pun yang menyalakan pelita lalu meletakkannya di kolong rumah atau di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk, dapat melihat cahayanya.” (Luk 11:33).
Bagi orang Yahudi yang berpegang pada Hukum Taurat, maka pada hari Sabat mereka tidak boleh menyalakan lampu atau pelita, ataupun mematikan pelita, sehingga jika seseorang yang mau mematikan lampu atau pelita, maka dia menutupi pelita tersebut dengan tempayan, supaya lama-lama pelita tersebut mati sendiri, sehingga orang tersebut tidak melanggar Hukum Taurat. Atau jika orang tersebut tidak mau mematikan pelita tersebut, sementara dia tidak mau pelita tersebut menerangi, maka orang “menyingkirkan” pelita itu untuk sementara waktu, dia bisa meletakkannya di kolong rumah, supaya pelita tersebut tidak mati, dan kemudian pada hari Sabat, saat mau dipergunakan lagi, lampu atau pelita tersebut masih tetap nyala, namun orang tidak menyalahi hukum taurat, karena tidak melakukan pekerjaan menyalakan lampu atau pelita. Yang dimaksud dengan kolong rumah di sini, adalah ruang atau bagian rumah yang berada di bawah tanah, yang biasanya menjadi tempat penyimpanan sebagai gudang.
Sering dijumpai orang yang menjadi “tempayan” bagi sesamanya, artinya menutupi cahaya sesamanya yang mempunyai karunia Roh, terutama mereka yang bisa menumbuhkan kehidupan yang penuh kasih, yang menjadi contoh yang baik bagi sesamanya (Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." – Mat 5:16). Namun terang atau kebaikan tersebut ditutupi oleh sesamanya, karena persaingan, atau iri hati, egoisme, kesombongan, dsb, karena takut disaingi.
Bisa juga tanpa kita sadari, bahwa kita sendiri yang menyimpan “tempayan-tempayan” tersebut, yang menutup diri kita sendiri. Tempayan-tempayan yang dimaksud adalah segala dosa-dosa yang kita perbuat dan menyimpannya, antara lain kebencian, dendam, sakit hati, luka-luka batin, kemarahan, iri hati, kesombongan, percabulan, kerakusan rohani maupun materi, niat yang jahat, dan kemalasan. Semua itu menjadi “tempayan” yang menutupi cahaya dan menjadi penghalang bagi Rahmat yang akan Tuhan berikan kepada kita, sehingga kita sendiri tidak berkembang dalam rohani, malahan akhirnya jadi “mati rohani” karena kebodohan kita sendiri, egoisme, kemalasan, maupun karena ketakutan, dsb, yang seharusnya menjadi terang bagi sesama, seperti pelita yang ditempatkan di atas kaki dian. (Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu. – Yes 59:1-2).
Mother Theresa adalah contoh yang nyaris sempurna, dia menyerahkan dirinya ke dalam penyelenggaraan Ilahi, beliau dipakai Tuhan untuk pelayanan kasih, sehingga semua bangsa di dunia mengakuinya sebagai orang yang kudus, dan saat beliau masih hidup, orang menyebutnya sebagai Santa Yang Hidup, karena Cahaya Pelitanya menerangi dunia. (Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. – Mat 5:14).
-       Akulah terang dunia
-       Maria bunda cahaya
-       Kesetiaan

Read more .....