4/19/2014

DI JALAN MENUJU EMAUS (1)


(The Pilgrimage of Faith, oleh John O’Donnel SJ)
Kisah dua murid di jalan menuju Emaus merupakan topik permulaan suatu seri meditasi iman Kristiani, karena pokok meditasi ini adalah imajinasi kehidupan iman suatu perjalanan ziarah, suatu perjalanan dalam persahabatan dengan Kristus.

Kisah Injil ini lebih dari sekedar kenang-kenangan sejarah, jalan menuju Emaus adalah suatu jalan yang setiap orang harus lalui. Dua murid ini mewakili kita dalam perjalanan hidup kita. Kristus ada bersama kita, jika kita mempunyai “mata” untuk melihat Dia.
Pada meditasi, pertama, kita akan mengkonsentrasikan pemikiran bahwa perjalanan hidup tidak kita lakukan sendirian, melainkan merupakan suatu perjalanan dalam persahabatan dengan Kristus dan dengan sesama kita.
Kadang-kadang orang bertanya, hal apakah yang menyebabkan seseorang memutuskan untuk menjadi orang Kristen ? apa bedanya antara kehidupan seorang Kristen dan kehidupan orang yang tak beriman ? bukankah banyak orang yang tidak beriman menjalani hidup yang baik dan sering lebih baik dari pada mereka yang beriman. Jawabannya terletak pada “persahabatan”. Memang bisa juga menjadi seorang yang baik tanpa percaya kepada Allah ataupun Kristus, namun kehidupan yang demikian dijalani tanpa bersama seseorang yang kasih-Nya setia tanpa batas, yaitu Dia yang selalu mempertahankan kita pada keadaan yang baik maupun keadaan buruk, yang berjalan bersama kita hingga saat kematian dan malahan menyambut kita setelah kematian.
St. Lukas menggambarkan bagaimana kedua murid Kristus dalam perjalanan mereka menuju ke Emaus dibimbing dari keadaan tidak percaya hingga menjadi percaya. Tuhan membuka mata mereka, sehingga mereka mengenali Dia, kitapun dapat mengenali Dia dengan cara yang sama.
St. Lukas menekankan dua hal, pertama ia menceritakan kepada kita, bahwa Yesus menginterpretasikan kepada mereka seluruh isi Kitab Suci, mulai dari kisah Musa sampai pada kisah para nabi adalah menyangkut hal-hal yang berkenaan dengan Diri-Nya (Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. – Luk 24:27). Dengan perkataan lain Yesus menunjukkan kepada mereka, bahwa seluruh Kitab Perjanjian Lama berhubungan dengan Diri-Nya.
Kedua, Lukas menghendaki supaya kita mengerti bahwa Kristus sungguh-sungguh dapat ditemukan di dalam Kitab Suci. Ia sungguh-sungguh berbicara kepada kita di sana, sama halnya ketika Ia berbicara kepada kedua murid ini di dalam perjalanan ke Emaus, Yesus juga berbicara kepada kita semua melalui Sabda-Nya di dalam Kitab Suci.
Sejak Konsili Vatikan II, kita telah mulai mendapatkan kembali kehadiran Allah yang baru melalui Sabda di dalam Kitab Suci, kita telah lama terbiasa berbicara dengan Kristus yang nyata hadir dalam Ekaristi. Sekarang kita mulai menghargai dan mengenali kehadiran-Nya dalam Sabda-Nya juga.
Iman kita berkisar sekitar misteri, bahwa Allah kita adalah Allah yang berbicara, Dia telah berbicara kepada kita ketika Sabda-Nya menjadi manusia, yaitu Yesus dari Nazareth. Yesus adalah pengungkapan Allah bagi kita. Ketika Ia berkata kepada para rasul, bahwa mereka yang telah melihat Dia, juga telah melihat Bapa (Kata Yesus kepadanya: "Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. – Yoh 14:9)
Dalam penyaliban Yesus dan kematian-Nya di kayu salib, Sabda menjadi hening. Jika itu merupakan akhir dari Yesus, maka iman kitapun menjadi tidak ada gunanya. Tetapi Ia telah bangkit dan kemudian mengutus murid-murid-Nya untuk memberikan kesaksian atas kebenaran kebangkitan ini, yang kemudian diabadikan dalam Injil. Iman muncul ketika kita mendengar Sabda ini, bukan suatu teks yang mati atau tanda-tanda cetakan di atas halaman Kitab Suci, melainkan sungguh-sungguh hidup seperti ketika Kristus berbicara kepada hati kita.
Kehadiran Kristus dalam Sabda dari Kitab Suci, sungguh dapat membimbing kita pada pertemuan dengan Dia dalam Sakramen Gereja, terutama Ekaristi. Karena itu, pertemuan murid-murid di jalan menuju ke Emaus ini mencapai puncaknya pada pengenalan mereka atas diri Yesus, ketika Dia memecah-mecahkan roti (Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. – Luk 24:30-31). Bahasa “pemecahan roti” ini, selalu mengenai Perjanjian Baru berkenaan dengan misteri Ekaristi.
Dalam meditasi kita sebelumnya, kita bicarakan kehadiran Allah bersama umat-Nya pada perjalanan hidup mereka. Dan tentunya juga dalam Ekaristi, yang disebut Viaticum, makanan untuk perjalanan. Melalui Ekaristi sungguh sangat membantu kita dalam merefleksikan hubungan kehadiran Kristus dalam Ekaristi dengan kehadiran-Nya dalam Gereja.
Kadang-kadang kita membayangkan bahwa urapan dari Persembahan dalam Misa menghasilkan suatu transisi kehadiran Kristus dari sama sekali tidak hadir menjadi hadir sepenuhnya. Pengertian seperti ini tidak cukup untuk mengamati misteri-Nya. Sebagaimana sudah kita lihat, Kristus juga hadir melalui Sabda dalam Kitab Suci, namun lebih lanjut Kristus sudah hadir dan ada di antara kita sebagai komunitas Kristiani, Ia ada di antara kita setiap hari yaitu ketika kita berusaha hidup sesuai dengan perintah-Nya yang baru untuk mengasihi. Tiap hari kita berusaha menanggulangi ego kita dan menyerahkan hidup kita pada-Nya dan kepada sesama. Kita berusaha untuk melihat di dalam diri komunitas kita, juga saudara-saudari seiman, di mana Kristus rela wafat bagi siapa saja. Demikian jauh kita lakukan hal ini, maka Kristus sungguh-sungguh hadir dalam diri kita dan komunitas kita menjadi seperti yang dikatakan Konsili Vatikan II, suatu sakramen yang dalam kehidupannya membuat Kristus nampak jelas pada dunia.
Lalu, di dalam Ekaristi, Dia malahan sudah hadir di tengah-tengah kita, memperdalam kehadiran-Nya di antara kita semakin nyata, kita bergabung dengan Dia dalam pengurbanan-Nya dan menerima-Nya sebagai makanan. Sakramen adalah kejadian-kejadian ketika Kristus hadir secara khusus dan dengan cara yang lebih intensif, tetapi Dia tidak pernah absen dari kita.
Misteri hidup kita di dalam Kristus adalah bahwa kehadiran-Nya dalam komunitas Gereja, kehadiran-Nya dalam Sabda dari Kitab Suci dan kehadiran-Nya dalam Sakramen Ekaristi, semuanya saling berhubungan erat satu sama lain. Dalam hidup kita sehari-hari, kita mengenali kehadiran-Nya ketika kita mematikan ego dalam diri kita dan menjalani kehidupan cinta kasih-Nya. Dalam Kitab Suci, Sabda yang menjadi daging pada saat kematian-Nya tetap berlanjut dalam Sabda permakluman-Nya, yang hingga sekarang kita dengarkan. Dalam Sakremen Ekaristi, ingatan akan wafat-Nya dan kebangkitan-Nya, merupakan suatu anugerah yang nyata dalam hidup komunitas.
Setelah bangkit dari mati, Kristus mengirim Roh Kehidupan-Nya kepada para murid-Nya dan kepada kita semua, dan melalui Roh yang sama Ia mendirikan tubuh dan mistik-Nya, yaitu Gereja, sebagai Sakramen Penyelamatan seluruh umat manusia.

Read more .....

DI JALAN MENUJU EMAUS (2)


Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka (Luk 24:31). Kita memperhatikan di halaman Injil ini, betapa cermatnya Lukas secara bergantian mempergunakan kata kerja : melihat dan mengenal.

Penginjil Lukas, sesungguhnya ingin memperlihatkan kepada kita, bahwa sesudah kebangkitan-Nya Yesus tidak lagi dapat dilihat oleh mata badaniah, tetapi harus dilihat dengan mata rohani kita, Ia telah pergi dari dunia ini kepada Bapa, dan dunia yang baru ini luput dari kemampuan indrawi kita. Hanya dengan penglihatan barulah, yaitu mata rohani dalam terang iman membuat kita “mengenal-Nya” sebagai pribadi yang hadir dan aktif dalam diri kita dan di sekeliling kita. Jika sejarah Gereja mencatat sejumlah penampakan luar biasa dari Yesus yang bangkit, maka orang-orang beriman diundang untuk “mengenal” Dia melalui iman.
Kedua murid ini kembali ke rumah untuk kembali ke pekerjaan mereka yang semula, setelah harapan mereka hancur. Kita terbiasa menyebut mereka peziarah Emaus. Orang-orang Yahudi atau bangsa Israel adalah kaum peziarah karena mereka tidak pernah mempunyai kesempatan untuk berlama-lama di jalan. Keberangkatan dari Mesir, penaklukan Tanah Terjanji, pertempuran melawan penyerbu, pengembangan kebudayaan religius merupakan banyak tahapan sepanjang jalan. Setiap kali mereka berpikir bahwa dengan mencapai sasaran, masalah mereka akan terselesaikan, tetapi setiap kali pula mereka harus menyadari bahwa jalan yang mereka tempuh masih panjang.
Kleofas dan pengiringnya adalah peziarah sejak mereka mengikuti Yesus, karena mereka berpikir bahwa Dia akan menebus Israel. Pada akhirnya yang ada hanya kematian Yesus.
Inilah saat ketika Yesus benar-benar hadir dan mengajar mereka, bahwa tak seorangpun dapat memasuki Kerajaan Allah tanpa melewati kamatian.
Mereka mengenal-Nya (Luk 24:31). Barangkali Yesus tampak berbeda seperti yang kita lihat dalam Yohanes 20:14 (Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus). Inilah yang dikatakan dalam Markus 16:12 (Sesudah itu Ia menampakkan diri dalam rupa yang lain kepada dua orang dari mereka, ketika keduanya dalam perjalanan ke luar kota). Lukas juga menginginkan agar kita mengerti, bahwa orang-orang yang tidak dapat mengenal Yesus, akan melihat Dia ketika mereka menjadi percaya.
Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi (Luk 24:27). Ingatlah bahwa kitab “Musa dan para nabi” adalah salah satu cara menyebut Kitab Suci. Yesus mengundang mereka untuk beralih dari iman dan harapan Israel menuju masa depan yang bahagia bagi seluruh bangsa, yaitu kepada iman dalam tiap-tiap pribadi yang menerima misteri penolakan dan Kesengsaraan-Nya.
Dalam pelajaran Kitab Suci-Nya yang pertama, Yesus mengajarkan mereka bahwa Mesias harus menderita (Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?" – Luk 24:26). Yesus tidak hanya membeberkan semua teks yang menubuatkan Kesengsaraan dan Kebangkitan-Nya seperti Yes 50:6 (Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi) ; Yes 52:13 (Sesungguhnya, hamba-Ku akan berhasil, ia akan ditinggikan, disanjung dan dimuliakan), tetapi juga teks-teks yang menunjukkan bahwa rencana Allah menyaring sejarah manusia (Sebab Allah akan menyelamatkan Sion dan membangun kota-kota Yehuda, supaya orang-orang diam di sana dan memilikinya – Mzm 69:36).
Sesuatu yang mirip terjadi dengan kaum beriman sekarang, ketika kita selalu mengeluh dan menunjukkan ketidak-sabaran kita. Namun Yesus tidak meninggalkan kita sendirian, Ia tidak bangkit untuk duduk-duduk saja di Surga, Ia mendahului kemanusiaan dalam ziarah-Nya dan menarik kita kepada hari terakhir ketika Ia datang menemui kita.
Pada saat yang sama Ia berjalan bersama kita, dan ketika harapan kita hancur, itulah saatnya kia menemukan makna Kebangkitan.
Jadi yang dilakukan Gereja bagi kita sama dengan yang dilakukan Yesus bagi kedua murid-Nya. Pertama, Gereja memberikan kita “penafsiran atas Kitab Suci”: yang menjadi persoalan dalam usaha kita mengerti Kitab Suci bukanlah menghafal perikop demi perikop, melainkan menemukan benang merah yang menghubungkan berbagai peristiwa dan mengerti rencana Allah terhadap manusia. Kedua, gereja merayakan Ekaristi. Perhatikan bagaimana Lukas menuliskan, Ia mengambil roti, mengucap berkat, membagi-bagi-Nya dan memberikan-Nya (Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. – Luk 24:30), empat kata yang sama digunakan oleh kaum beriman dalam perayaan Ekaristi. Kita bisa datang mendekati Yesus lewat percakapan dengan Dia dan merenungkan sabda-Nya, kita juga mendapati Dia hadir dalam pertemuan-pertemuan persaudaran kita, namun Ia memperkenalkan diri-Nya dengan cara yang berbeda ketika kita membagi-bagikan roti yang adalah Tubuh-Nya (Lalu kedua orang itu pun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti. – Luk 24:35)
(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pastoral Katolik)

Read more .....

HARI RAYA PASKAH


Mengapa disebut demikian dan kapan diangkat menjadi Liturgi Gereja?
Beberapa kata yang menunjuk pada kata Paskah adalah : Pesach (Ibr) atau Pasover (Ing) atau Pascha (Yun) berarti “lalu”. Kata lain untuk Pasover adalah Easter, namun arti kata Easter tidak menentu. Pandangan umum pada abad ke 8, kata Easter dikaitkan dengan pemujaan dewi musim semi orang-orang Anglo-Saxon (Ing) yang bernama Eostre. Dalam bahasa Romawi dan beberapa bahasa lain, kata Easter (Ing) lebih menunjuk pada kata Pesach (Ibr) atau Pasover.

Secara teologis dan liturgis, Paskah berakar pada kitab Perjanjian lama. Dalam Kitab Keluaran (Exodus) kata Paskah menunjuk tidak hanya “berlalunya” bencana dari orang-orang Yahudi di Mesir, tetapi juga “bebasnya” Israel dari perbudakan Mesir menuju tanah terjanji (Kanaan). Paskah Yahudi berarti perayaan syukur atas pembebasan (tulah dan perbudakan) dan persembahan hasil pertama dalam tahun. (Paskah Yahudi lihat Kel 12).
Paskah Yahudi selalu dirayakan berdasarkan kalender (penanggalan) yang berdasarkan siklus bulan (moon) yaitu pada hari ke 14 Nisan atau Abib (bulan pertama) dalam penanggalan Yahudi yang jatuh antara bulan Maret dan April. Sehingga dapat jatuh pada hari apa saja dalam pekan.
Paskah orang Kristen pertama dirayakan sebagai peringatan akan wafat (dan kebangkitan) Kristus yang disalib. Mereka merayakan Paskah pada hari Minggu pertama sesudah bulan purnama atau sesudah waktu siang dan malam sama lamanya atau siklus musim yang berkisar antara tanggal 22 Maret sampai 25 April (setelah 21 Maret).
Pada abad ke 2, karena adanya dua kalender yang digunakan untuk menentukan perayaan Paskah, maka timbul pertentangan dan Konsili Nicaea (tahun 325) menentukan perayaan Paskah yaitu pada hari Minggu sesudah hari ke 14 Nisan dan sesudah waktu siang dan malam sama lamanya, sebagai jalan tengah. Namun kesulitan muncul dengan harus diperhitungkannya kalender Yulianus yang berdasarkan siklus Matahari. Hingga abad ke 9 pertentangan tetap timbul, dan mulai teratasi dengan adanya kalender Gregorius pada tahun 1582, beberapa daerah lain mulai menyesuaikan.
Pengertian Paskah secara Teologis-Liturgis :
Tema pokok Paskah adalah perayaan wafat, kebangkitan, kenaikan dan turunnya Roh Kudus bagi Gereja. Paskah dipersiapkan dengan masa persiapan (Pra-Paskah / Puasa) dan diikuti 50 hari sesudahnya (masa Paskah) yang berakhir pada hari Pentakosta.
Paskah bukan hanya mengenangkan peristiwa masa lalu saja, tetapi sebagai ungkapan kematian dan kebangkitan Kristus dengan hidup baru yang dibagikan kepada umat yang percaya kepada-Nya.
Di dalam liturgi Paskah diikuti dengan pembaptisan, ini mengungkapkan bahwa orang yang dibaptis bebas dari dosa dan bangkit dengan hidup baru dalam Kristus. Pakaian putih para baptisan sebagai simbol, bahwa mereka terbebas dari kegelapan dosa oleh Terang Kristus yang bangkit.
Liturgi sekarang diawali dengan perarakan Lilin Paskah dalam kegelapan sebagai simbol Kristus yang bangkit adalah terang dunia yang menghalau kematian dan kegelapan dosa, kemudian menyusul Exultet yang mengingatkan kita akan Allah yang membebaskan umat-Nya di masa lampau.
Upacara liturgi ini hanya diadakan seandainya tidak ada upacara liturgi pada Malam Paskah atau banyak umat yang belum mengikuti upacara liturgi Vigili Paskah.
Warna Liturgis adalah Putih, lambang Kemuliaan dan Kegembiraan. Perayaan Ekaristi sama dengan Hari Minggu.
Untuk kita renungkan :
Yesus bangkit untuk apa dan bagi siapa? Selamat bangkit bersama Kristus Jaya, seraya bernyanyi “Alleluia”.

Read more .....

YESUS YANG BANGKIT DAN MULIA


Kata Yesus kepadanya: "Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu." (Yoh 20:17). Sebelum kematian-Nya, Yesus tidak menolak perasaan-perasaan dan tindakan-tindakan Maria Magdalena yang penuh antusias. Sekarang tindakan tersebut yang ingin memiliki Gurunya yang tercinta sudah tidak pantas lagi.

Yesus sekarang adalah Dia yang telah bangkit, dan sekalipun Ia membiarkan dapat dilihat oleh murid-murid-Nya selama beberapa hari, murid-Nya harus melepaskan kehadiran fisik Yesus yang sudah membuat mereka betah. Sejak saat itu para pengikut-Nya atau saudara-saudara dan pencinta-pencinta Yesus akan memeluk Dia dengan cara yang rahasia dan lebih mengagumkan, ketika mereka diberi karunia-karunia doa dan iman. Pada saat itu roh yang kontemplatif, yang dilambangkan oleh Maria, boleh menikmati seluruh pribadi Kristus (Baru saja aku meninggalkan mereka, kutemui jantung hatiku; kupegang dan tak kulepaskan dia, sampai kubawa dia ke rumah ibuku, ke kamar orang yang melahirkan aku - Kid 3:4)
Aku belum pergi ke Bapa. Yesus menyatakan keinginan besar yang memenuhi seluruh hidup-Nya. Ia berasal dari Allah dan harus kembali kepada Bapa. Inilah “kasih terbesar di dunia”. Segala kasih yang Yesus tunjukkan kepada kita hanyalah suatu manifestasi dari kasih yang lain, karena Allah Bapa adalah sumber dan tujuan segala kasih itu.
Bukan kebetulan bahwa kata Tuhan sekali lagi diulang tujuh kali, yang terakhir kali oleh Thomas, ("Ya Tuhanku dan Allahku!" – Yoh 20:28) hal ini adalah ungkapan iman Gereja.
Mari kita perhatikan bahwa orang-orang yang telibat dalam peristiwa ini dahulu menyebut Yesus “Guru”, tetapi sekarang Yohanes membuat mereka menyebut-Nya Tuhan. Mengapa ? sejak awal mula Gereja, para orang beriman perlu mencari kata-kata untuk mengungkapkan iman mereka kepada Yesus, Putra Allah. Karena Yesus adalah Putra, Ia bukanlah pribadi yang sama dengan Allah, tetapi Ia satu dengan Allah. Bagaimana mengungkapkan situasi Ilahi ini ?
Dalam Kitab Suci, Allah diberi dua nama : Allah dan Yahweh. Pada waktu itu orang-orang Yahudi sudah tidak lagi menyebut nama Yahweh melainkan menyebut-Nya “Tuhan”, lagi pula dalam Kitab Suci yang berbahasa Yunani yang dipakai oleh para rasul dan Gereja, Yahweh diterjemahkan juga dengan istilah ”Tuhan”. Maka para rasul segera memutuskan mempertahankan istilah Allah apabila berbicara tentang Allah Bapa, dan menggunakan istilah “Tuhan” bagi Yesus, sehingga ditegaskan bahwa Yesus setara dengan Bapa.
Penampakan-penampakan Yesus yang telah bangkit kepada para murid-Nya selain membina harapan dan menjadikan mereka saksi-saksi yang layak tentang kebangkitan-Nya, juga diperlukan untuk pembinaan rohani mereka. Murid-murid itu perlu belajar mengenal Yesus tidak hanya lewat panca indera mereka, tetapi juga lewat iman. Demikian pula kita harus belajar mengenal dan mengikuti Yesus dalam terang iman yang diberikan kepada kita, yang meskipun dalam situasi suram pada saat kita mengalami kesepian dan kekeringan, maupun pada saat kita mengalami penghiburan, sehingga kita juga akan menjadi salah satu dari mereka yang terberkati oleh Yesus. Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” ( Yoh 20:29).
(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pastoral Katolik)

Read more .....

KEBANGKITAN YESUS DAN KAIN KAFAN


Pada hari kedua sesudah penguburan tampaknya Yesus hidup dan telah keluar dari kuburan. Kebangkitan terjadi pada hari pertama dalam pekan yang selanjutnya akan disebut Hari Tuhan atau Minggu.

Dalam Injil Lukas, setelah kebangkitan-Nya Yesus menolong murid-murid-Nya membaharui iman dan harapan mereka. Sebaliknya, di sini kita melihat orang-orang beriman yang dalam kesunyian mengkontemplasikan Tuhan yang telah bangkit. Kristus menampakkan Diri kepada Maria yang tidak mengenal Dia. Ketika Ia berdiri di tengah-tengah para murid-Nya, Yesus harus menunjukkan luka-luka-Nya untuk membuktikan bahwa Dialah sesungguhnya Yesus, Dia yang telah mati dan sekarang hidup lagi. Yesus berada di tengah-tengah mereka, tetapi penampilan-Nya seperti seorang yang tidak dikenal, dan tubuh-Nya yang telah diubah secara rohani memancarkan sinar kemenangan atas dosa dan maut.
Beberapa teks mencatat, Petrus adalah kepala para rasul sekaligus seorang saksi bahwa kubur sungguh kosong dan bahwa Yesus telah bangkit dari antara orang mati (Sungguhpun demikian Petrus bangun, lalu cepat-cepat pergi ke kubur itu. Ketika ia menjenguk ke dalam, ia melihat hanya kain kafan saja. Lalu ia pergi, dan ia bertanya dalam hatinya apa yang kiranya telah terjadi. – Luk 24:12)
Iman kita didukung pertama-tama oleh kesaksian para rasul dan khususnya oleh kesaksian KEPALA para rasul, yaitu Kefas yang disebut Petrus. (bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. – 1 Kor 15:5)
Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat dari pada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur. Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kafan terletak di tanah; akan tetapi ia tidak masuk ke dalam. Maka datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kafan terletak di tanah, sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kafan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung. Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya. (Yoh 20, 4-8)
Kain kafan adalah kain sepanjang empat meter yang diletakkan di bawah jenasah mulai dari kaki sampai ke kepala, lalu dilipat ke atas jenasah dari kepala sampai ke kaki lagi.
Kain yang mengikat kedua ujung kain kafan disebut juga kain kafan.
Muka orang yang mati dibungkus dengan kain tersendiri, yaitu kain peluh yang diikat di bawah dagu dan di atas kepala.
Kain kafan dan kain pengikat terletak di tempat jenasah dibaringkan, dan kain-kain itu terbentang rata, karena jenasah di dalamnya telah menghilang tanpa dibuka pengikatnya, kain peluh yang diikat tinggal seperti biasa di tempat lain. Tubuh duniawi itu telah menghilang, alias sudah bangkit berubah menjadi tubuh yang mulia. (Ada tubuh sorgawi dan ada tubuh duniawi, tetapi kemuliaan tubuh sorgawi lain dari pada kemuliaan tubuh duniawi. Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah. Jika ada tubuh alamiah, maka ada pula tubuh rohaniah. – 1 Kor 15:40-44)
Yesus tidak kembali kepada hidup di bumi ini dengan tubuh-Nya yang duniawi, maka apabila kita berbicara tentang tubuh Yesus yang bangkit, kita mengacu kepada sesuatu yang belum pernah kita alami di bumi ini.
Mereka yang telah bermimpi melihat Yesus sebenarnya hanya melihat gambaran Yesus dan tidak sungguh-sungguh melihat Dia, kecuali beberapa orang kudus yang agung.
(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pastoral Katolik)

Read more .....

ANAK DOMBA PASKAH


Para leluhur Ibrani, ketika mereka masih mengembara dengan kawanan-kawanan mereka sebelum mereka tinggal di Mesir, mereka merayakan Paskah Anak Domba, yang merupakan pesta tradisional para gembala. Mereka mengorbankannya pada bulan pertama pada musim semi, suatu masa kritis bagi biri-biri betina yang baru beranak.

Anak domba yang dipisahkan untuk pesta disimpan selama beberapa hari di tempat orang tinggal, supaya anak domba itu lebih bersatu dengan keluarga dan membawa dosa-dosa dari semua anggota keluarga. Kemudian, kemah-kemah direciki dengan darahnya untuk menghalau roh-roh jahat yang mengancam manusia dan hewan.
Arti pesta kuno ini telah berubah, Allah menghendaki Paskah dirayakan pada peristiwa bangsa Israel keluar dari Mesir, pesta itu akan selalu ada untuk mengingatkan Israel akan pembebasannya.
Dengan menyelamatkan anak-anak sulung dari Israel, Allah sekali lagi menyatakan secara resmi penolakan-Nya terhadap kurban manusia (Lalu Ia berfirman: "Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku." - Kej 22:12), karena pada jaman dulu di Timur Tengah ada kebiasaan mengorbankan manusia (Kemudian ia mengambil anaknya yang sulung yang akan menjadi raja menggantikan dia, lalu mempersembahkannya sebagai korban bakaran di atas pagar tembok. - 2 Raj 3:27) & (Ia menajiskan juga Tofet yang ada di lembah Ben-Hinom, supaya jangan orang mempersembahkan anak-anaknya sebagai korban dalam api untuk dewa Molokh - 2 Raj 23:10)
Anak sulung dari umat-Nya adalah milik-Nya ("Kuduskanlah bagi-Ku semua anak sulung, semua yang lahir terdahulu dari kandungan pada orang Israel, baik pada manusia maupun pada hewan; Akulah yang empunya mereka." - Kel 13:2) demikian juga anak sulung dari binatang-binatang dan hasil pertama dari bumi (maka haruslah engkau membawa hasil pertama dari bumi yang telah kaukumpulkan dari tanahmu yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, dan haruslah engkau menaruhnya dalam bakul, kemudian pergi ke tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, untuk membuat nama-Nya diam di sana. - Ul 26:2), tetapi berhubung Allah telah menyelamatkan anak-anak sulung Israel ketika mereka meninggalkan Mesir, setiap anak sulung di Israel haruslah “ditebus”, bukannya dikurbankan (Tetapi mengenai manusia, setiap anak sulung di antara anak-anakmu lelaki, haruslah kautebus - Kel 13:13).
Sejak saat itu keluarga-keluarga Israel akan menganggap anak sulung mereka sebagai milik Tuhan dan dipersembahkan kepada-Nya (Kel 13:2) karena mereka telah diselamatkan dari bencana.
Menurut hukum ini, Yesus anak sulung Maria, juga dipersembahkan di Bait Allah kemudian ditebus kembali dengan sepasang burung merpati (Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah", dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati. - Luk 2:22-24).
Pesta yang berasal dari suatu pesta kafir “diubah” menjadi suatu pesta yang mempunyai “arti baru”, darah anak domba memeteraikan perjanjian Tuhan dengan umat yang telah dipilih-Nya dari bangsa-bangsa lain. Mulai saat itu, Paskah akan menjadi pesta kemerdekaan bangsa Israel.
Pada pesta Paskah, Allah membiarkan Yesus mati dan bangkit dalam hari-hari Paskah. Kematian Yesus memeteraikan Perjanjian Baru antara Allah dan umat manusia (Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan sesudah makan; Ia berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu. - Luk 22:20), setiap Perayaan Misa berakar pada kematian dan kebangkitan Kristus “Anak Domba Allah.
(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pastoral Katholik)

Read more .....

3/26/2014

PEMBASUHAN KAKI RITUS PERTOBATAN


Kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu. (Yoh 13:5)

Yohanes tidak menceritakan tentang penetapan Ekaristi, tetapi ia menceritakan Pembasuhan Kaki dan apa yang menyusul dalam Yoh 13:26-30 dapat dilihat sebagai acuan samar-samar pada Ekaristi.
Ia mulai membasuhi kaki murid-murid-Nya, karena orang-orang miskin di antara orang-orang Yahudi berjalan kaki dengan tanpa alas, sementara orang lain memakai sandal. Satu tanda tradisional untuk menerima tamu ialah menyuruh seorang hamba untuk membasuh kaki para pejalan kaki yang masuk rumah (Biarlah diambil air sedikit, basuhlah kakimu dan duduklah beristirahat di bawah pohon ini – Kej 18:4).
Rasul-rasul tidak mempunyai hamba-hamba, tetapi pada malam itu Yesus mau menjadi hamba bagi mereka.
Yesus tidak hanya bermaksud untuk membuat para rasul-Nya merasa bersih dan nyaman, pembasuhan kaki mereka adalah suatu perbuatan kudus yang melambangkan penyucian mereka, sama seperti pada waktu permandian. Para rasul sudah berada dalam rahmat Allah, sabda Yesus yang mereka terima dengan iman telah memurnikan mereka (Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu. - Yoh 15:3). Tetapi mereka perlu persiapan lebih lanjut sebelum mengambil bagian dalam roti kehidupan pada meja Tuhan. Semua agama memiliki ritus-ritus persiapan atan penyucian sebelum memberikan apa yang kudus kepada para anggota mereka. Orang-orang Yahudi mempunyai ritus-ritus penyucian sebelum mengambil bagian dalam perjamuan Paskah.
Yesus juga menuntut yang sama, Ia sendiri membasuh kaki para rasul-Nya, Ia tidak meminta mereka untuk mengakui dosa-dosa mereka, Ia hanya minta supaya mereka dengan rendah hati mengizinkan Dia, yang mereka sebut Tuhan untuk membasuh kaki mereka.
Perbuatan ini segera mengingatkan kita akan sakramen Pembaptisan dan Pertobatan. Dalam kedua sakremen ini kerendahan hati dan belas kasihan dilebur baik bagi Dia yang menyucikan maupun bagi mereka yang disucikan.
Sejak saat itu para rasul melakukan apa yang pernah dilakukan Tuhan sebagai teladan, karena Ia akan mengutus mereka atas nama-Nya untuk mengampuni dosa-dosa. Mereka tidak boleh bertindak sebagai petugas-petugas hirarki atau hakim-hakim yang memberikan pengampunan kepada para pendosa, sebaliknya mereka harus mengambil langkah pertama dalam kerendahan hati dan belas kasihan, supaya selanjutnya menyucikan mereka yang mendekati Perjamuan Tuhan.
Kata Tuhan muncul tujuh kali dalam bab ini, dengan demikian kita mengerti bahwa dengan membasuh kaki para rasul-Nya, Yesus melakukan suatu perbuatan yang penting yang menunjukkan kepada kita, dengan cara yang sangat mengagumkan, siapakah Tuhan dan Allah kita dan bagaimana Ia bertindak.
(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Eisi Pastoral Katolik)

Read more .....

PERUMPAMAAN ANAK YANG HILANG



Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. (Luk 15:18-19).

Perikop Anak yang hilang (Luk 15:11-32), adalah lanjutan dari perikop sebelumnya, di mana Yesus berbicara kepada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang tidak senang dengan Dia, yang menerima dan bahkan makan bersama dengan para pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Ada tiga tokoh dalam perumpamaan ini, yaitu bapa, yang mewakili Allahanak sulung, yang mewakili orang Farisi, dan anak bungsu. Siapakah anak bungsu ini ? barangkali pendosa atau manusia.
Manusia menginginkan kebebasan dan sering kali berpikir, bahwa Allah mengambil kebebasan itu dari dirinya. Ia mulai dengan meninggalkan sang ayah, yang mana, cinta bapanya tidak dia pahami, dan yang kehadirannya telah menjadi beban baginya. Setelah si bungsu memperoleh harta bagiannya, ia menjual semua miliknya dan kemudian ia pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia hidup berfoya-foya memboroskan harta miliknya, kemudian ia jatuh miskin tidak punya apa-apa lagi.
Saat timbul bencana kelaparan di negeri itu, si bungsupun hidup melarat. Lalu ia pergi bekerja pada seorang majikan, yang menyuruhnya menjaga babi, dan ketika ia ingin makan dari ampas yang merupakan makanan babi, tidak ada seorangpun yang memberikannya. Pada saat itulah ia sadar, betapa orang upahan bapanya hidup penuh kelimpahan, sedangkan ia di situ bisa mati kelaparan, ia telah kehilangan kehormatannya, ia menjadi budak orang lain dan perbuatan-perbuatannya yang memalukan (Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun yang memberikannya kepadanya. – Luk 15:16) - babi adalah binatang najis bagi orang Yahudi.
Anak itu ingin kembali, setelah sadar akan perbudakannya, ia menyakinkan dirinya, bahwa Allah mempunyai rencana yang lebih baik bagi dirinya, dan iapun mulai berpikir menempuh jalan pulang. Pada saat itu ia ingin bangkit dan kembali kepada bapanya, ingin memohon pengampunan atas kesalahannya, agar ia diperbolehkan bekerja sebagai upahan bapanya, karena ia menganggap dirinya tidak layak lagi menjadi anaknya.
Kemudian ia bangkit dan kembali kepada bapanya, ketika ia masih jauh, bapanya sudah melihatnya, lalu tergerak oleh belas kasihanbapanya berlari mendapatkannya, merangkulnya dan menciumnya (Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. - Luk 15:20). Kata anak itu kepada bapanya : ”Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa, ........” (Luk 15:21)
Belum sempat ia melanjutkan kata-katanya, bapanya sudah berteriak memanggil hamba-hambanya : “Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya, dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dan marilah kita makan dan bersukacita.” (Luk 15:22-23)
Sungguh pertobatan yang mengharukan, karena anak bungsu itu menyadari kesalahannya dan mau berbalik kepada bapanya. Adalah kenyataan, bahwa orang yang hidup menjauh dari Allah Bapa, maka ia akan hidup dalam kekacauan, tidak ada kedamaian, tidak ada kasih, tidak ada sukacita, miskin rohani, dsb dan bahkan bisa sampai melakukan dosa-dosa berat.
Ketika ia tiba, ia menemukan bahwa sang Bapa sangat berbeda dengan apa yang dia pikirkan sebelumnya, bapanya tengah menantikan dia dan berlari menemui diaia memulihkan martabat anaknya dengan memakaikan jubah, cincin dan sepatu kepada anaknya, dan menghapus ingatan akan warisan yang hilang. Ada perayaan pesta yang banyak kali disebut oleh Yesus.
Bahwa ketika ia masih jauh, bapanya telah melihatnya, Allah senantiasa menanti dan mengharapkan kita yang berdosa untuk bertobat (metanoia), bila kita bertobat dan mohon pengampunan, maka Allah begitu bersukacita dan Bapa di sorga akan mengampuni kita. Dikatakan bapanya berlari mendapatkannya, merangkulnya dan menciumnya, padahal ia begitu kotor dan najis, seperti juga kita yang berdosa memohon pengampunan, Allah tidak mau melihat kesalahan-kesalahan kita lagi, seolah-olah tidak pernah terjadi suatu dosa, karena Allah begitu mengasihi kita (“Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju ; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” (Yes 1:18).
Pada akhirnya kita mengerti, bahwa Allah adalah Bapa. Ia tidak menaruh kita di bumi untuk mengumpulkan bintang jasa dan tanda penghargaan, tetapi untuk menemukan bahwa kita adalah anak-anak-Nya. Kita dilahirkan sebagai pendosa, sejak permulaan hidup kita, kita dibimbing oleh perasaan-perasaan kita dan contoh-contoh yang buruk dari masyarakat tempat kita dibesarkan. Dan yang lebih penting : sepanjang Allah tidak mengambil prakarsa dan menyatakan Diri-Nya kepada kita, maka kita tidak dapat berpikir tentang kebebasan selain dalam pengertian bebas dari Dia.
Allah tidak terkejut oleh kejahatan kita, karena dengan menciptakan kita sebagai mahluk yang bebas, Ia menerima risiko bahwa kita akan jatuh. Allah bersama kita dalam seluruh pengalaman hidup kita akan baik dan buruk, sampai Ia dapat memanggil kita putra-putri-Nya berkat jasa Putra Tunggal-Nya, Yesus Kristus. Yesus mau berkorban bagi kita yang berdosa, supaya kita yang berdosa mau bertobat, bersatu lagi dengan Dia dalam kasih, karena Allah begitu mengasihi kita, bukan karena kita baik, bukan karena kita penuh kebajikan, tetapi Ia mengasihi, karena Dia adalah kasih, Allah mengampuni karena Kasih, “sebab Allah adalah Kasih” (1 Yoh 4:8). Allah ingin kita bersatu dengan-Nya, Allah tidak mau kita terpisah dengan-Nya, karena jika terpisah dengan-Nya, maka kita akan celaka seperti yang terjadi dengan si bungsu. Yesus berkata : ”Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yoh 15:5).
Dosa berarti menentang Surga, yang berarti menentang Allah yang adalah kebenaran dan kekudusan. Tetapi Allah adalah juga Bapa yang prihatin terhadap putranya, putra telah berdosa di hadapan Dia yang menarik kebaikan keluar dari dalam kejahatan. Dia yang menciptakan kita hari demi hari, tanpa kita menyadarinya, sementara kita terus berjalan pada jalan kita, Dia mencari pendosa yang dapat dilimpahi-Nya dengan kekayaan.
Bahwa si sulung yang baru pulang dari ladang marah-marah kepada bapanya, karena mengadakan pesta untuk adiknya yang baru kembali, sedangkan ia sendiri belum pernah dirayakan pesta untuknya, padahal ia senantiasa mengabdi dan setia pada bapanya. Namun bapanya berkata : ”Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.” (Luk 15:31-32)
Banyak orang iri hati kepada sesamanya seperti si sulung, meskipun sudah hidup dalam Tuhan, ini karena kita adalah manusia yang lemah, tetapi hal ini tidak boleh berlarut-larut, kita harus menyadari bahwa kita semua adalah anak-anak Allah dan Allah mengasihi kita semua melebihi segala-galanya.
Anak sulung, yaitu anak yang taat, karena mempunyai hati yang tertutup, tidak mengerti semuanya ini. Ia telah melayani dengan harapan mendapat ganjaran, atau sekurang-kurangnya harapan untuk dilihat sebagai yang lebih tinggi dari yang lain, dan ia tidak sanggup menyambut para pendosa atau mengambil bagian dalam pesta Kristus, karena sesungguhnya ia tidak tahu bagaimana mengasihi (Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. – 1 Yoh 4:8).

-       Kisah racun
-       Pengampunan
-       Allah dan Bapa kita

Read more .....

PEREMPUAN YANG BERZINAH

Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." (Yoh 8:7).

Dalam upaya menjebak-Nya, para ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berzinah. Mereka mencobainya supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya (Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?" – Yoh 8:4-5).
Kalau seseorang kedapatan berbuat zinah, maka Hukum Musa jelas, ia akan dibawa ke tembok Yerusalem dan dirajam sampai mati, itupun sebelumnya harus menanggung malu yang luar biasa dihakimi di depan umum.
Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah (Yoh 8:6), banyak penafsir percaya bahwa Ia menuliskan dosa-dosa orang-orang yang menuduhnya, tetapi orang-orang itu bertahan dan terus mendesak-Nya dengan bertanya. Kemudian Yesus berdiri dan berkata, barangsiapa di antara kamu yang tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu (Yoh 8:7). Lalu Yesus membungkuk dan menulis lagi.
Bisa dibayangkan, kalau kita membaca tulisan di tanah, dan tulisan itu berisi dosa-dosa kita yang lebih parah, maka kita akan menyadari betapa kita lebih berdosa dari orang lain yang kita tuduh, karena di mata Yesus tidak ada yang tersembunyi di hadapan-Nya.
Lalu pergilah mereka satu persatu, mulai dari yang tertua (kata orang makin tua makin banyak dosanya), dan tinggallah Yesus sendiri dan perempuan itu. Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?" (Yoh 8:10).
Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang." (Yoh 8:11). Jika Yesus menunjukkan hormat besar terhadap orang berdosa dan menolak untuk menghukum perempuan itu, sebagaimana lazim dilakukan oleh manusia, apakah itu karena Yesus menganggap perbuatan perempuan itu bukan dosa yang berat ? tidak, Yesus mengampuninya, karena Allah menggunakan cara-cara yang berbeda dengan cara manusia untuk mempertobatkan orang-orang berdosa dan untuk memurnikan mereka lewat penderitaan. Dapat dibayangkan betapa menyesalnya perempuan itu atas perbuatannya, karena dia diselamatkan dari hukuman rajam, dan malahan dosanya diampuni karena belas kasih Yesus, tentunya perempuan itu merasa lega luar biasa. Yesus memberikan apa yang sangat dibutuhkan perempuan itu, yaitu cinta kasih sejati, dengan pengampunan atas dosa-dosanya. Yesus menyembuhkan perempuan itu dari kebencian terhadap dirinya, dan menyembuhkan rasa malunya.
Ada perbedaan besar antara mengatakan kepada orang, bahwa gagasannya atau perbuatannya salah atau dosa, dan menghukumnya. Biasanya kita menghukum orangnya, dan kita tidak memberi ruang kepada yang berdosa untuk perubahan dan belas kasihan. Dalam perikop injil ini Yesus adalah orang yang menuntut dan sekaligus yang berbelas-kasihan terhadap perempuan itu.
Perikop Yoh 8:1-11 tidak ditemukan dalam kebanyakan naskah kuno dari injil Yohanes. Banyak orang mengira bahwa perikop ini berasal dari sumber lain. Mungkin dahulu merupakan bagian dari injil Lukas, bandingkan Yoh 8:2 (Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka) dan Luk 21:38 (Dan pagi-pagi semua orang banyak datang kepada-Nya di dalam Bait Allah untuk mendengarkan Dia), tetapi kemudian disisipkan ke dalam teks Yohanes.
Tampaknya beberapa halaman dari injil Yohanes telah tertukar tempat, bahwa  wejangan dalam Yoh 8:12-19 (Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup." – Yoh 8:12), tampaknya adalah sambungan dari kisah mukjizat yang diceritakan dalam Yohanes bab 9 tentang orang yang buta sejak lahir (Jawab Yesus kepada mereka: "Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata: Kami melihat, maka tetaplah dosamu." – Yoh 9:41). Sesudah menyembuhkan orang buta dan membuktikan bahwa oran-orang Farisi itu buta, Yesus menyatakan : Akulah terang dunia.
Juga perikop Yoh 7:19-24 (Bukankah Musa yang telah memberikan hukum Taurat kepadamu? Namun tidak seorang pun di antara kamu yang melakukan hukum Taurat itu. Mengapa kamu berusaha membunuh Aku?" – Yoh 7:19) adalah sesungguhnya lanjutan dari Yohanes bab 5 tentang penyembuhan di kolam Betesda, (Sebab jikalau kamu percaya kepada Musa, tentu kamu akan percaya juga kepada-Ku, sebab ia telah menulis tentang Aku. Tetapi jikalau kamu tidak percaya akan apa yang ditulisnya, bagaimanakah kamu akan percaya akan apa yang Kukatakan?" – Yoh 5:46-47).
Pernyataan Yesus, maka Aku telah mengatakan kepadamu bahwa kamu akan mati dalam dosa-dosamu (Karena itu tadi Aku berkata kepadamu, bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu." – Yoh 8:24), mengingatkan kita akan ucapan pada Yoh 9:41 (Jawab Yesus kepada mereka: "Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata: Kami melihat, maka tetaplah dosamu.").
(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pastoral Katolik)
-       Para pemungut cukai

Read more .....

ORANG LUMPUH DI KOLAM BETESDA

Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda; ada lima serambinya dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit: orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh. [Mereka menantikan guncangan air kolam itu. Sebab sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan mengguncangkan air itu; siapa saja yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah guncangan air itu, menjadi sembuh, apa pun penyakitnya.] – (Yoh 5:2-4).

Mengapa Yesus pergi ke kolam Betesda ? Konon kolam itu adalah tempat kafir yang dipersembahkan kepada Aesculapius, dewa kesehatan.
Ada banyak cerita yang mengatakan bahwa sesewaktu orang-orang sakit memperoleh kesembuhan di kolam itu. Orang-orang Yahudi yang saleh, tersinggung karena penyembuhan terjadi di tempat orang kafir, namun menegaskan bahwa orang-orang disembuhkan bukan oleh Aesculapius, tetapi oleh malaikat Tuhan.
Orang-orang Yahudi yang tidak terlalu religius pergi ke sana untuk memperoleh penyembuhan dari dewa-dewa kafir. Yesus juga pergi ke sana, tetapi Ia pergi untuk mencari orang-orang berdosa yang ingin diselamatkan.
Perhatikan jawaban dari orang sakit itu, di tempat yang ajaib ini banyak orang berharap memperoleh kesembuhan, tetapi hanya sedikit yang disembuhkan, Jawab orang sakit itu kepada-Nya: "Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku." (Yoh 5, 7)
Orang sakit ini tidak mempunyai orang untuk menurunkan dia supaya disembuhkan. Kita juga tidak bisa diselamatkan oleh kekuatan kita sendiri, kita butuh seorang Penyelamat.

Yesus menghilang setelah mengerjakan mukjijat itu. Beberapa orang mungkin akan mengatakan bahwa Yesus merasa kerasan di tempat kudus orang-orang kafir, atau berpikir bahwa Ia menyembuhkan orang sakit atas nama dewa-dewa mereka. Yesus sendiri akan memperkenalkan Diri-Nya di Bait Allah yang benar, yaitu tempat Bapa-Nya.
Orang-orang Yahudi menyerang Yesus karena Ia “bekerja” pada hari Sabat.
Mari kita lihat jawaban Yesus secara lebih dekat. Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga." (Yoh 5, 17) Bapa-Ku terus bekerja, ada baiknya kalau orang mengadakan hari istirahat untuk menghormati Allah, namun Allah sendiri tidak beristirahat, dan Ia bukan tidak hadir di dunia ini, Ia memberikan hidup kepada manusia, karena Dia adalah Putera Allah, Yesus lebih baik mengikuti teladan Allah Bapa-Nya dari pada beristirahat seperti orang lain.
Musuh-musuh-Nya ketika mendengar Dia, tidak keliru tentang apa yang dimaksudkan-Nya, mereka ingin membunuh Dia karena Ia menganggap Diri-Nya sama dengan Allah (Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah. Yoh 5, 18)

Kemudian Yesus bertemu dengan dia dalam Bait Allah lalu berkata kepadanya: "Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk." (Yoh 5, 14)
Yesus mengingatkan orang sakit itu akan kekurangan IMANnya, yang menghantar dia ke tempat kudus orang-orang kafir di mana ia sia-sia menanti selama 38 tahun, sama seperti orang-orang Israel tinggal terpisah dari orang lain selama 38 tahun di wahah Kadesy di padang gurun, dan tidak masuk Tanah Terjanji. (Demikianlah kamu lama tinggal di Kadesh, yakni sepanjang waktu kamu tinggal di sana." - Ul 1, 46)
Penginjil Yohanes memperhatikan persamaan ini. Ia juga mengerti bahwa penyembuhan di kolam melambangkan pembaptisan, perkataan Yesus kepada orang yang disembuhkan ditujukan kepada orang yang telah bertobat dan telah dibaptis, “JANGAN BERBUAT DOSA LAGI”.

Dalam ‘wejangan-wejangannya” Penginjil Yohanes suka mengulang kata-kata kunci sebanyak tujuh kali. Di sini umpamanya, kita melihat kata Sabat, Yesus dan Musa diulang masing-masing sebanyak tujuh kali dan Bapa sebanyak empat belas kali. Yohanes bermaksud membuat perbandingan antara agama Yahudi yang ditetapkan oleh Musa, yang di dalamnya tercantum ketentuan tentang hukum istirahat pada hari Sabat dan zaman baru yang dibuka oleh Yesus di mana Ia memampukan kita mengenal Bapa.
(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pastoral Katolik)

-       Berilah Aku minum

Read more .....