6/25/2013

YESUS DAN PEREMPUAN SAMARIA

Maka sampailah Ia ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar dekat tanah yang diberikan Yakub dahulu kepada anaknya, Yusuf. Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas. Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya: "Berilah Aku minum." (Yoh 4:5-7).
Orang-orang Yahudi membenci orang-orang Samaria. Menurut kebudayaan Yahudi pada zaman itu, tidak diperkenankan kalau seorang laki-laki berbicara dengan seorang perempuan di tempat umum. Yesus, yang telah mengatasi segala prasangka rasial dan sosial, mulai berbicara dengan perempuan Samaria. Dalam diri perempuan ini Ia berjumpa dengan masyarakat biasa dari Palestina.
Perempuan ini berasal dari provinsi lain dan adalah anggota ibadat yang berbeda, tetapi keduanya diberi janji-janji yang sama dari Allah dan keduanya menantikan seorang Penebus.
Tujuan utama perempuan ini adalah untuk melepaskan dahaganya. Para leluhur bangsa Yahudi berkelana dengan gembalaan mereka dari satu sumber air ke sumber air yang lain. Orang-orang Yahudi yang terkenal seperti Yakub, menggali sumur-sumur, dan sekeliling sumur-sumur itu padang gurun mulai hidup kembali. Kenyataan ini bagai sebuah perumpamaan : setiap orang mencari di segala tempat untuk menemukan sesuatu yang dapat melepaskan dahaga mereka. Yesus membawa air hidup yang adalah hadiah dari Allah bagi kita anak-anak-Nya, hadiah itu adalah Roh Kudus sendiri ("Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup." Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya – Yoh 7:37b-39a).
Apabila ada air di padang gurun, sekalipun air itu tidak muncul ke permukaan, tetapi akan tampak bahwa di tempat itu ada sumber air, karena tanaman hijau tumbuh segar di sekitarnya. Demikian pula dengan kita, apabila kita sungguh-sungguh hidup oleh Roh Kudus, maka kelakuan kita menjadi lebih baik, keputusan-keputusan kita lebih bebas, pikiran-pikiran kita lebih tertuju kepada hal-hal yang baik. Air hidup yang menjadi sumber semua hasil ini tidak dapat dilihat, yaitu kehidupan kekal, dan maut itu tidak dapat mengalahkannya (Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya." – Yoh 8:51).
Tujuan kedua dari permpuan ini ialah untuk mengetahui, di manakah dapat ditemukan kebenaran ? Yesus berkata kepadanya, engkau mempunyai lima suami. Pernyataan Yesus ini melambangkan nasib umum dari orang-orang yang tinggal di kota yang telah mengabdi kepada banyak tuan atau “suami-suami”, dan akhirnya tidak mengakui salah satu sebagai tuannya.
Orang-orang Samaria memiliki Kitab Suci sedikit berbeda dengan yang dimiliki orang-orang Yahudi, dan di kota itu sendiri, beberapa puluh kilometer dari Sumur di Sikhar, terletak Bait Allah mereka yang menandingi Bait Allah di Yerusalem. Yesus menegaskan, keselamatan datang dari bangsa Yahudi (Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi – Yoh 4:22). Mengenai hal ini Yesus tidak sependapat dengan mereka yang mengatakan, “Tidak jadi soal termasuk Gereja mana kita, sebab semua Gereja sama saja.” Sekalipun seseorang beruntung karena mengikuti agama yang benar, namun ia masih harus berjuang dan berusaha untuk mencapai pengetahuan rohani akan Allah (Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. – Yoh 4:23). Roh, yang kita terima, menolong kita menyembah Allah dalam kebenaran. Bapa mencari penyembah-penyembah seperti itu yang menjalin relasi personal dengan Dia.
Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran." (Yoh 4:24), Allah tidak membutuhkan kata-kata dalam doa-doa kita, tetapi Allah ingin melihat kesederhanaan, keindahan dan keagungan di dalam roh kita. Roh Allah tidak dapat berkomunikasi, kecuali dengan mereka yang mencari kebenaran dan hidup sesuai dengan kebenaran-Nya di dalam dunia yang penuh tipu daya ini.
Pada akhirnya, kisah tentang perempuan Samaria ini adalah suatu refleksi tentang kehidupan kita. Masing-masing kita dalam berbagai hal, sama dengan perempuan Samaria. Apa yang terjadi di sumur Yakub menggambarkan perjumpaan kita dengan Yesus, cara-cara yang dipakai Yesus untuk menuntun perempuan itu sampai mengakui dan mencintai Dia adalah cara-cara yang digunakan Yesus, langkah demi langkah, untuk mendatangkan pertobatan kita. Akhirnya, perempuan itu menjadi murid Yesus dan karena pengalaman itu ia menjadi juga rasul Yesus. Banyak orang di kota itu percaya kepada Yesus karena perempuan itu (Dan banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu, yang bersaksi: "Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat." – Yoh 4:39). Pengalaman akan Yesus ini adalah sumber kerasulan. Memberitakan Injil adalah membagikan pengalaman ini kepada orang lain.
Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai. (Yoh 4:35). Bagaikan panen, orang yang mengikuti Yesus juga menjadi matang. Orang yang menuai tuaian diberi upah untuk karya mereka, pepatah Yesus ini mempunyai banyak penjabaran. Ayat 36 (Sekarang juga penuai telah menerima upahnya dan ia mengumpulkan buah untuk hidup yang kekal, sehingga penabur dan penuai sama-sama bersukacita). mungkin mengacu pada kegembiraan bersama Bapa yang menabur dan Putra yang menuai. Dengan cara lain, dalam ayat 37 (Sebab dalam hal ini benarlah peribahasa: Yang seorang menabur dan yang lain menuai), Yesus dan murid-murid-Nya menyadari bahwa mereka tidak bekerja percuma. Orang lain telah bekerja, Yesus mengacu kepada mereka yang datang sebelum Dia, khususnya Yohanes Pembaptis.
(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pastoral Katolik)
-       Berilah aku minum

Tidak ada komentar: