11/11/2008

DOSA PRIBADI

Dalam hal ini ada dua teks yang perlu mendapatkan perhatian. “Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu -- seperti yang telah kubuat dahulu -- bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.” (Gal 5:19-21)

Di sini kita berada pada tingkat dosa perorangan dan pribadi, suatu daftar mengesankan yang menyebutkan empat belas sikap negatif manusia, diambil oleh Paulus dari pengalamannya sendiri dan pengalaman zamannya, suatu pandangan amat relistis, tetapi juga amat pesimis tentang manusia yang bergerak dalam lingkup kepentingan diri sendiri.

Itu merupakan pekerjaan daging, pekerjaan yang lahir dalam diri manusia yang hidup dalam lingkup keuntungan diri sendiri. Kalau bagitu, manusia tampil sebagai orang penuh “peracbulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan...” Memang suatu pandangan dramatis tentang masyarakat dan zaman itu.

Teks yang kedua memberikan lukisan lain tentang hal yang sama dan menyajikan daftar dua puluh satu sikap negatif. “Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas: penuh dengan rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan. Mereka adalah pengumpat, pemfitnah, pembenci Allah, kurang ajar, congkak, sombong, pandai dalam kejahatan, tidak taat kepada orang tua, tidak berakal, tidak setia, tidak penyayang, tidak mengenal belas kasihan.” (Rm 1:28-31) Itu suatu lukisan yang tampaknya retoris (bergaya pidato) dengan bahasa yang berlebihan, namun sebenarnya suatu lukisan realitas tentang keadaan masyarakat dewasa itu.

Marilah kita baca kembali teks itu sambil bertanya diri lukisan macam apa sebenarnya keduanya itu. Yang dilukiskan itu dosa sosial, artinya dosa dalam hal sikap terhadap sesama, semuanya menunjukkan cara keliru yang diikuti manusia dalam bertindak terhadap sesama. Itu dihasilkan oleh pengenalan sesat akan Allah dan akhirnya oleh pendangan keliru tentang hidup yang didasarkan atas egoisme.

Rasul mau membuktikan kepada orang zaman itu, yang sombong sama seperti orang zaman sekarang, mereka mengira mempunyai kebudayaan, kemajuan, hukum, undang-undang, dan jauh lebih unggul dari pada kaum barbar, bahwa mereka itu orang miskin yang menjadi mangsa setiap bentuk kebejatan karena mereka mencari keuntungan pribadi mereka sendiri.

Paulus melukiskan kenyataan seperti yang ia hayati dan ia lihat sendiri, tetapi ia tahu benar, bahwa hal yang dilukiskannya itu mempunyai akar dalam diri Paulus sendiri juga. Menurut firman dasar yang diucapkan Yesus seperti terdapat dalam Injil Markus, bab 7 ayat 21-22, (sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan). Bukan hanya dari hati seseorang yang kebetulan dilahirkan dalam keadaan malang, melainkan dari hati setiap orang.

Kalau daftar Paulus itu kita bandingkan dengan daftar yang diberikan oleh Yesus, maka kita dapati pengajaran dasar : semuanya itu ada di dalam diri kita.

Mengerti bahwa itu ada dalam diri kita, mendorong kita untuk melihatnya jauh lebih serius dan untuk memikirkannya penuh perhatian. Misalnya saja kita pikirkan suatu pokok yang terdapat dalam kedua daftar : iri hati, atau percideraan, roh pemecah, kedengkian. Betapa benarnya bahwa semuanya itu memang perasaan yang bercokol dalam hati kita. Clemens dari Roma menulis bahwa Paulus dibunuh oleh iri hati, bukan oleh penganiayaan atau kejahatan musuh, tetapi oleh iri hati beberapa orang saingannya yang melaporkan dia. Itu berarti, bahwa jemaat Kristen waktu itu menjadi mangsa perselisihan, persaingan, perpecahan, pertentangan yang dalam arti tertentu menggunakan kaum kafir untuk melakukan siasat dan melampiaskan dendam mereka sendiri. Memang benar, bahwa yang melancarkan penganiayaan itu penguasa kafir. Meskipun begitu, dalam hubungannya dengan Paulus, penganiayaan itu tidak akan menelan korban begitu benyak sekiranya umat Kristen waktu itu lebih bersatu.

Kematian Petrus sendiri juga dikatakan disebabkan oleh iri hati, oleh keterangan dan bantuan yang diperoleh dari lingkungan umat beriman Kristen-Yahudi atau oleh kelompok-kelompok saingan.

Kita teringat akan kata-kata lain dari daftar tersebut di atas : pengumpat dan pemfitnah. Kita menjadi sadar, bahwa kitapun sering begitu dalam cara kita bicara tentang orang lain. Kalau kita melanjutkan membaca kembali daftar di atas, kita mendapati betapa dekatnya daftar itu dengan pengalaman kita sehari-hari. Sering kali sikap-sikap itu timbul secara seru, sebab kita kurang waspada dan kurang perhatian untuk menyadari kejahatan yang ada dalam diri kita dan yang harus selalu kita ajukan di bawah terang Allah. Tidak ada hal yang lebih berbahaya dari pada mengurangi kewaspadaan Injili yang merupakan salah satu keutamaan dasar.

Ada imam yang tidak menjaga atau yang mulai tidak lagi menjaga diri sendiri, karena berpendapat atas dasar kebiasaan, bahwa telah menemukan suatu cara hidup. Imam seperti itu dapat jatuh terbebani oleh beberapa kekuatan negatif yang dilukiskan oleh Paulus, kekuatan-kekuatan negatif yang muncul dan bercokol dalam dirinya.

Pekerjaan-pekerjaan daging yang kita dapati dalam surat-surat rasul itu dipakai sebagai daftar tobat yang menjadi pegangan bagi para katekumen dalam mengadakan pemeriksaan batin. Umat Kristen juga memakainya sebagai bahan perbandingan dalam pengalaman tobat mereka.

Tingkat dosa pribadi itu menyangkut kita semua, sebab itu memang merupakan hal yang langsung dapat dilihat dalam ketidak-adilan yang diakibatkannya dan memang ada dalam diri kita bersama akar-akarnya, yaitu dalam kecenderungan-kecenderungan negatif yang kita miliki.

(Le Confessioni di Paulo, oleh Mgr.Carlo Maria Martini, Uskup Agung Milano, diterjemahkan oleh : Frans Harjawiyata OSCO)

Tidak ada komentar: