Tampilkan postingan dengan label Warna-warni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Warna-warni. Tampilkan semua postingan

1/16/2015

Pekerja Di Pelabuhan

Ada seorang lelaki muda yang bekerja di wilayah pelabuhan, ia bekerja sebagai pencatat barang-barang. Pada suatu ketika, ia sedang mengawasi barang-barang dibongkar dari kapal, tiba-tiba rantai kran putus dan setimbun barang jatuh menimpanya, tetapi orang itu tidak mati.
Sebuah ambulans dipanggil dan segera melarikannya ke rumah sakit, di sana seorang dokter meminta supaya orang itu bersama tandunya diletakkan di atas ranjang, tetapi mereka menolaknya, katanya tandu itu kepunyaan mereka, maka orangnya harus diangkat.
Ketika dokter menjelaskan bahwa orang itu tidak bisa digeser-geserkan, bahwa ia sudah cukup menderita tergoncang-goncang di jalan, petugas-petugas ambulans itu malah mulai bertengkar, mereka malah tidak mempedulikan dokter tadi.
Dalam situasi semacam itu, maka orang sakit itu memaksa diri, dia bangun dan mulai berjalan keluar, dia sungguh menderita, dia berteriak-teriak, melolong dan meraung terus. Orang-orang yang ada di situ tidak sanggup lagi menenangkannya, maka pergilah mereka menjemput ayah dari orang itu untuk menenangkan dia, tetapi usaha itupun tidak berhasil.
Kebetulan waktu itu, ibu Teresa mengirim dua susternya mengunjungi rumah sakit itu, suatu hal yang biasa dilakukannya. Kedua suster itu berdiri dekat orang sakit tadi, dan menyaksikan insiden tersebut. Ketika pasien itu melihat mereka, ia langsung berbicara kepada mereka dalam bahasa Bengali, mereka mengerti, lalu suster itu mendekat dan membantunya. Dan mereka berhasil membujuknya untuk berbaring.
Ketika suster itu mengunjunginya kemudian, ternyata luka-lukanya sudah membusuk. Begitu dia melihat suster-suster itu, ia langsung berteriak :”Perawat-perawat jangan berani dekat kesini lagi, mereka menutup hidungnya dan mulutnya, lalu lari. Awas, seorangpun tidak boleh mendekat, tak seorangpun........, tetapi, mengapa kalian mendekati aku tanpa menutup hidungmu ? tidakkah kalian mencium bau busuk ? “.
Suster-suster itu menjawab :”Memang baunya kami cium, tetapi yang kami pikirkan adalah penderitaanmu, penderitaanmu mestinya luar biasa. Dibandingkan dengan penderitaanmu, bau ini tidak ada artinya, tidak apa-apa.”Orang itu terkesan akan simpati suster-suster itu, ia bertanya, apakah dia boleh pergi ke rumah sakit mereka. Tetapi suster-suster itu menjawab bahwa mereka tidak punya rumah sakit, mereka hanya mempunyai sebuah rumah untuk orang-orang melarat yang menghadapi ajalnya. Mendengar itu, maka berkatalah orang itu, bahwa dia pun suka dibawa ke sana, ia akan berbahagia sekali kalau bisa mati di sana. Demikianlah, mereka membawanya ke Kalighat, ayahnya ikut juga.
Keesokan paginya, ibu Teresa menemukan lelaki tua itu sedang menangis, ibu Teresa bertanya, apa kiranya yang telah terjadi, apakah ada seseorang yang memperlakukannya tidak ramah ? Ia menjawab :”Tidak, saya merasa terharu, karena anak saya yang hanya meraung dan melolong selama beberapa hari belakangan ini, tiba-tiba menjadi tenang, saya mengira dia akan mati, karena itu saya menangis.”Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih! (1 Kor 16 : 14)
Sumber : Ibu Teresa, Karya dan Orang-Orangnya
oleh : Yohanes Bosko Beding SVD

Read more .....

9/25/2014

BUNDA PENOLONG ABADI

Oleh : Pastor Thomas Livius (1886)
Pada suatu hari, datang seorang wanita katolik yang baik kepada Pastor di Chili, dan menceritakan kepada imam Redemptoris itu, bahwa di dekat dia ada seorang gadis muda yang miskin, hidup dalam dosa dengan seorang bajingan yang telah menggoda dia.
Pastor itu lalu memberi dia sebuah medali Bunda Maria Penolong Abadi, dan menyuruh dia membawanya pada si pendosa yang malang itu, dan supaya berusaha sekuat tenaga untuk membawa si gadis yang malang itu kepadanya. Ia berharap agar Bunda Maria menarik jiwa itu dari jurang dos, namun ia tidak menjadi kecewa.
Keesokan harinya, wanita yang baik hati itu datang lagi dan mengatakan kepada Pastor itu suatu kemenangan, katanya : “Pastor, gadis muda itu mengambil medali yang Pastor berikan dan aku telah membawa dia kepadamu, inilah dia orangnya.”
Berbahagia atas kesuksesan pertama ini, Pastor itu mengetahui dari seorang perantau, bahwa orang tua gadis itu tinggal cukup jauh, di kota lain dan juga bahwa gadis muda ini digoda oleh seorang yang malang yang telah mengikuti dia untuk waktu yang lama. Gadis itu lari dari rumah dan hidup tanpa kendali dengan pria itu di suatu tempat di mana ia tak dikenal, supaya ibunya tidak dapat menemukannya.
Pastor itu lalu meminta gadis itu berjanji untuk memikirkan jiwanya, untuk merubah hidupnya dan menjelaskan kepadanya, bahwa ia dapat saja menghindari usaha pencarian ibunya, tetapi Allah dapat melihatnya di mana-mana dan dari mata Allah ia tidak dapat menghindar.
Pastor itu akhirnya membujuk gadis itu untuk meninggalkan kehidupannya yang penuh dosa dan sekali lagi kembali kepada Allah, karena Bunda Maria Penolong Abadi telah menyentuh hatinya.
Hanya satu kesulitan yang menghalangi dia, yaitu ketakutan untuk pulang ke rumah karena ia berpikir bahwa ibunya tidak akan mengampuni dia dan menerima dia kembali. Tetapi kesulitan ini menghilang, syukur atas ide bahagia yang diusulkan kepada Pastor itu oleh Bunda Maria Penolong Albadi kepada gadis itu.
Pastor lalu memanggil si ibu, sepertinya ia mempunyai sesuatu yang penting untuk disampaikan pada dia. Setelah menerima pesan, ibu itu datang pada pastor itu, dengan sangat sedih hati dan bingung.
Pastor menerangkan alasannya mengapa ia memanggilnya, pertama-tama si ibu yang malang itu hanya dapat menjawab dengan air mata saja dan sedu sedannya. Dan Pastor sangat terharu ketika ia mendengar si ibu berkata : “Pastor, ini benar-benar mukjizat dari Bunda Maria Penolong Abadi. Putriku meninggalkan rumah, aku telah berusaha mencarinya, tetapi sia-sia. Aku lalu memohon kepada Bunda Maria Penolong Abadi, ‘Bunda Penolong Abadi, hanya engkaulah yang harus membawa  anakku pulang. Engkau harus mengembalikannya kepadaku.’ Dan hari ini dia mengembalikanya kepadaku dan di sinilah, di tempat kudusnya.”
Apa yang dirasakan oleh Pastor yang baik ini ketika ia mendengar cerita itu ? Gadis malang itu lalu mempersiapkan diri untuk melakukan pengakuan dosa yang baik, kemudian pulang ke rumah bersama ibunya. Keduanya sekarang penuh suka cita, bersyukur dan memuji Bunda Maria Penolong Abadi yang dengan cara Ilahi telah mempersatukan mereka kembali.
(Sumber : Majalah Ave Maria)
-       Kuasa doa rosario
-       Rahmat Bunda Maria

Read more .....

8/15/2012

JANGANLAH MASUKKAN KAMI KE DALAM PENCOBAAN (DOA BAPA KAMI)


Tentara-tentara Kristus yang sejati, orang-orang kontemplatif dan yang menghayati doa, tidak pernah takut kepada musuh-musuh yang terang-terangan. Mereka yakin bahwa kekuatan musuh itu tidak sebesar kekuatan yang diberikan Tuhan kepada mereka. Maka mereka tidak akan pernah lari dari medan perang.

Yang mereka takuti adalah musuh-musuh yang berbahaya, yaitu setan-setan yang mengubah diri menjadi malaikat terang. Dari musuh-musuh inilah mereka selalu mohon untuk dibebaskan. Barulah bila setan-setan itu telah menimbulkan kerugian besar, mereka dapat mengenali bahwa itulah mereka.
Kerugian-kerugian yang mungkin ditimbulkan setan adalah :
·         Mencoba membujuk kita dengan mengatakan bahwa anugerah-anugerah yang kita terima berasal dari Allah, padahal sebenarnya telah dipalsukan oleh setan. Ini malah justru dapat membawa kebaikan, karena orang akan meluangkan lebih banyak waktu untuk berdoa, maka orang malah menjadi lebih maju. Ini akan dilakukan oleh orang-orang yang rendah hati dan yang menyadari, bahwa mereka tidak layak menerima anugerah-anugerah itu. Mereka hanya mau melayani-Nya, menyenangkan Dia, dan tinggal dekat pada-Nya dalam doa. Maka setan tidak dapat menimbulkan kerugian pada mereka.
·         Membuat kita percaya, bahwa kita memiliki kebajikan-kebajikan yang sebenarnya tidak kita miliki. Jika kita menerima anugerah-anugerah itu disertai kesadaran, bahwa kita tidak melakukan apa-apa untuk memperolehnya kecuali menerimanya saja, maka kita aman. Akan tetapi bila kita menerimanya dengan kesadaran, bahwa kita sudah memberi dan melayani, maka kita akan merasa Tuhan pantas memberi kita ganjaran. Ini akan menimbulkan kerugian pada kita, sebab bila demikian, kerendahan hati telah melemah dan kita lalai mengembangkan kebajikan karena percaya, bahwa kita telah mencapainya, sehingga kita terjatuh dalam godaan setan ini. Kerugiannya bukan hanya bagi diri kita sendiri saja, tetapi sesudah kita jatuh dan menimbulkan lobang di jalan, dan karena kita tidak bangun dan keluar dari lobang itu, maka mungkin orang-orang lain akan jatuh pada lobang yang sama.
·         Jadi tetaplah rendah hati dan mengakui, bahwa kita tidak mempunyai kebajikan-kebajikan itu. Seandainya kita merasa memiliki kebajikan-kebajikan itu, hendaklah kita sadar, bahwa itu hanya dipinjamkan saja oleh Tuhan. Dia dapat mengambilnya sewaktu-waktu.
·         Di lain pihak, kalau kita benar-benar mengabdi kepada Tuhan dengan rendah hati, maka pada saatnya Tuhan akan datang memberikan bantuan yang kita perlukan. Kalau kita tidak kuat dalam kebajikan, Tuhan akan datang menolong pada saatnya. Hendaknya ini menyadarkan kita, bahwa kita tidak punya apa-apa kecuali kalau itu diberikan oleh Tuhan.
Bentuk-bentuk godaan-godaan setan lainnya :
·         Membuat kita merasa mempunyai kebajikan-kebajikan tertentu, misalnya, kesabaran, kemiskinan roh, atau kemiskinan lahiriah yang disebabkan oleh pengucapan kaul kemiskinan. Yang benar : orang yang sungguh-sungguh rendah hati akan meragukan kebajikan-kebajikannya sendiri. Perhatikanlah pertanyaan-pertanyaan berikut :
-       Orang yang menganggap diri miskin : mengapa berusaha mencari keuntungan yang sebanyak-banyaknya ?
-       Orang yang rendah hati : mengapa bila harga diri kita dihina sedikit, perasaan dan perbuatan kita menunjukkan kehormatan kita telah sangat dihina ?
-       Orang yang rendah hati : mengapa bila ada kesempatan untuk mendapat kehormatan yang lebih besar, kita begitu bernafsu untuk memperolehnya ?
·         Kerendahan hati yang ditanamkan setan dalam diri kita membuat kita selalu gelisah mengenai  besarnya dosa-dosa kita di masa lalu, sehingga kita merasa tidak layak menyambut komuni, tidak layak untuk berhadapan dengan Tuhan dalam doa, waktu hadir dalam adorasi merasa tidak tenang karena tidak pasti apakah sudah mempersiapkan diri dengan baik atau tidak, semua pelayanan yang dilakukan rasanya tidak berguna, orang meragukan kerahiman Allah.
Kerendahan hati sejati disertai kedamaian, sukacita, dan ketenangan. Walaupun benar dia melihat, bahwa dia telah melakukan suatu kejahatan, dia akan merasa sedih, tetapi tetap disertai kedamaian batin, sukacita, dan rasa syukur yang tak dapat dihilangkan, karena juga sadar akan kerahiman Allah yang tidak terbatas. Ini mendorong jiwa untuk mengabdi Allah dengan lebih baik.
Yang perlu dilakukan untuk mengatasi godaan demikian itu ialah : berhenti memikirkan kehinaan diri sendiri, dan mulai memikirkan kerahiman dan kasih Allah serta penderitaan-Nya untuk kita. Adalah rahmat yang besar kalau orang dapat menyadari hal itu sebagai godaan, karena godaan itu akan segera dapat diatasi.
·         Godaan lain ialah : rasa aman bahwa kita tidak akan pernah lagi mengulangi kesalahan masa lampau maka lalu kembali kepada kesenangan duniawi. Orang merasa bahwa “saya sudah tahu semuanya itu, dan saya tahu bahwa semuanya akan berakhir dan saya akan dapat menikmati kesenangan-kesenangan yang lebih besar dari perkara-perkara Allah.” Bila godaan ini ada pada para pemula, maka bahayanya ialah bahwa dia merasa tidak apa-apa untuk melakukan dosa sekali lagi. Maka godaan ini harus segera dilawan supaya tidak makin jauh mundur ke belakang.
Cara-cara mengatasi godaan-godaan itu
·         Betapapun tingginya kontemplasi, harus diakhiri dengan pemeriksaan batin yang jujur dengan tetap menyadari ketidak-layakan kita untuk menerima segala anugerah itu.
·         Sesudah berhasil menghindari kejatuhan dalam godaan ataupun sesudah terbebas dari godaan, berlarilah kepada Bapa yang kekal dan mohon ampun serta perlindungan untuk tidak jatuh lagi dalam pencobaan-pencobaan.
·         Orang yang mendoakan “Bapa kami” dengan cara seperti yang sudah diterangkan itu, biasanya tidak akan jatuh dalam godaan setan dengan cara yang mengejutkan. Artinya, orang biasanya akan berdoa dan waspada, sehingga tidak akan jatuh dalam bahaya-bahaya atau dosa-dosa yang besar.
(Sumber : Doa Bapa Kami menurut St.Teresa Avila, oleh Sr. Marietta P.Karm, Vacare Deo IV/XIII/2011)

Read more .....

10/13/2011

PERINGATAN ARWAH ORANG BERIMAN



Liturgi Gereja Katolik memberi perhatian khusus selama bulan November khususnya tanggal 2 November, untuk memperingati ‘arwah semua orang beriman’.
Gereja Katolik dibagi menjadi tiga tahap persekutuan, yaitu Gereja Jaya, Gereja Menderita dan Gereja Peziarah.
Gereja Jaya, yaitu mereka yang sudah meninggal dan hidup kekal bersama Bapa di Surga. Gereja Menderita, yaitu mereka yang sudah meninggal dan berada di api penyucian, mereka belum masuk surga karena harus melunasi hutang dosa-dosanya. Gereja Peziarah, yaitu kita semua umat beriman yang masih berjuang di dunia ini.
Semua anggota Gereja dipanggil menjadi kudus, karena itu, kita yang masih berziarah di dunia ini bisa mendoakan para arwah yang sudah mendahului kita. Kita percaya bahwa ada di antara mereka yang sedang menderita dalam pembersihan, pemurnian, dan penyucian. Tiap kali terjadi kematian massal, akibat bencana alam misalnya, bisa dipastikan banyak jiwa yang sebenarnya tidak siap untuk mati. Kehidupan yang mereka jalani tiba-tiba sirna. Bagi orang Katolik, peristiwa kematian adalah saat yang dinantikan karena merupakan saat dimulainya hidup kekal bersatu dengan Allah. Tetapi bagaimana kalau jiwa mereka memang belum siap ? apa yang akan terjadi setelah kematian tanpa menerima Sakramen Minyak Suci (perminyakan) terlebih dahulu ? selamatkah jiwa mereka ?
Tugas kita adalah mendoakan mereka, orang tua, sahabat-sahabat, sanak keluarga dan orang-orang yang kita cintai. Kita berharap agar Tuhan segera mengampuni dosa-dosanya dan mengangkatnya dalam kebahagiaan di surga. Dilain pihak, kita juga boleh berdoa kepada Tuhan melalui para kudus. Kita percaya, hidup mereka selama di dunia sangat berkenan kepada Allah. Sekarang para kudus menikmati kebahagiaan kekal bersama Allah Bapa. Karena itu, Allah pasti akan mengabulkan segala permohonan para kudus untuk kebahagiaan kita dan arwah di api penyucian. Doa dan kurban kita yang bersatu dalam Ekaristi merupakan pembebasan bagi mereka.
Peringatan arwah orang beriman memiliki dasar Biblis dan Tradisi Gereja. Pertama, perlunya mendoakan arwah orang yang sudah meninggal untuk penghapusan dosa atau kesalahan mereka (Dari sebab itu maka disuruhnyalah mengadakan korban penebus salah untuk semua orang yang sudah mati itu, supaya mereka dilepaskan dari dosa mereka. - 2 Mak 12:45).
Kedua, manusia harus diuji dan dibersihkan dengan api agar dimurnikan, maka perlu dibantu atau didoakan agar cepat dibersihkan (sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu. Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah. - 1 Kor 3:13-14).
Ketiga, perlunya mendoakan atau menyerahkan semua arwah pada belas kasih, kerahiman dan pengampunan Allah, yang sabar dan berlimpah kasih setia-Nya (TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. - Mzm 103:8).
Tradisi Gereja memberikan perhatian khusus dalam bentuk devosi bagi jiwa-jiwa di Api Penyucian, doa-doa arwah, misa arwah, atau kirim bunga ke pusara makam para leluhur. Bunda Maria lewat para kudus juga mengajak kita untuk mendoakan, mengadakan misa, berpuasa dan berpantang bagi penghapusan dosa para arwah umat beriman yang masih berada di Api Penyucian. Misalnya lewat St. Margaretha Maria Alacoque, St. Faustina, St. Yohanes Maria Vianney dan lain-lain.
Kita sebagai anggota Gereja Katolik percaya, bahwa kematian bukanlah akhir segala-galanya. Kematian adalah pintu gerbang kepada hidup baru dalam kebahagiaan kekal bersama Bapa dan para kudus di Surga. Kita yang masih berziarah di dunia, arwah yang sudah meninggal dan para kudus masih punya hubungan yang erat. Kita bisa saling mendoakan satu sama lain demi kebahagiaan seluruh Gereja.
(Sumber ; Ruah 2009, Penerbit Karmelindo)

Read more .....

7/06/2010

VITTORIO MICHELI, PENYEMBUHAN AJAIB DARI LOURDES

Vittori Micheli, seorang mantan tentara dari Resimen Alpine berusia 57 tahun adalah salah satu dari penyembuhan ajaib di Lourdes yang paling terdengar suaranya. Ia terkena penyakit kanker ganas pada tulang panggulnya dan telah menyerang otot pada panggul kririnya. Kakinya dihubungkan dengan tubuhnya hanya oleh kulit dan tergantung seperti sosis.
Di Lourdes, tumor Micheli disembuhkan diikuti dengan rekonstruksi yang luar biasa dari tulang pinggulnya. Tak dapat dipercaya dari sudut pandang ilmiah, hal seperti ini tidak pernah terjadi dalam sejarah pengobatan.
Vittorio Micheli tinggal di Scurelle, dekat Trento di Valsugana dengan isterinya, Lidia. Pada tahun 1961, ia menceritakan dengan panjang lebar, ketika ia mendapat  rasa sakit yang teramat sangat pada panggulnya. Lalu ia dibawa ke rumah sakit militer di Verona, di mana ia menjalani test dan kedapatan menderita tumor pada tulang panggul. Dokter-dokter tidak mengatakan apa-apa padanya, tetapi mereka memberi informasi pada keluarganya.
Kondisinya makin parah, dari Verona ia pergi ke rumah sakit lainnya di Levico, dan lalu ke pusat kanker di Borgo Valsugana dan akhirnya kembali ke Trento. Tumor itu ganas, jadi tidak ada kemungkinan untuk sembuh. Ibunya menangis terus menerus, dan pada suatu hari ibunya minta agar ia pergi berziarah ke Lourdes. Dia adalah seorang Katolik, tetapi bukan seorang Katolik yang baik. Dia tidak ingin melakukan perjalanan itu, tetapi akhirnya ia melaksanakannya hanya untuk menyenangkan hati ibunya saja.
Cerita VittorioMicheli : “Peziarahanku ke Lourdes dari tanggal 24 Mei hingga 6 Juni 1963. Aku ditemani kakakku, kondisiku amat sangat serius, aku tidak makan dan aku harus minum obat terus menerus untuk menghilangkan rasa sakit yang menusuk-nusuk. Di Lourdes, aku dibawa ke Grotto, lalu dibawa untuk mandi di bak berisi air yang terkenal keajaibannya. Tidak terjadi apa-apa yang istimewa, hanya setelah merendam di bak itu, nafsu makanku kembali dan aku tidak ada apa-apa lagi.
Ketika aku kembali ke Italia, aku kembali ke rumah sakit militer di Trento di mana kesehatan badanku mulai berubah dengan dramatis. Aku merasa sehat dan aku ingin berjalan. Para dokter menemukan, bahwa tumornya ditahan dengan tiba-tiba dan terjadi kesembuhan yang tak diduga sedemikian, sehingga pada akhir bulan, meski kakiku masih di-gips, aku mulai berjalan. Test-test yang kemudian, analisa-analisa dan pemeriksaan-pemeriksaan menemukan, bahwa kanker sudah hilang dan bahwa puncak tulang paha dan panggul yang telah digerogoti oleh penyakit ini telah sembuh kembali.”
Ketika ia diperbolehkan keluar dari rumah sakit, Vittorio Micheli kembali kepada kehidupan normal dan kembali pada profesinya semula sebagai tukang bata. Selanjutnya ia selalu bekerja di tempat terbuka, di bawah terik matahari, kadang juga di tengah hujan, naik turun tangga steger membawa beban berat dan ia tidak pernah merasa kesakitan lagi.
Kesembuhannya bukan hanya seketika dan sempurna, dan bukan juga penyembuhan medikal, tetapi kesembuhan ajaib dengan rekonstruksi tulang yang luar biasa mengagumkan. Namun apa yang telah terjadi sebelumnya, masih merupakan percakapan-percakapan di antara para dokter.
Pada tanggal 26 Mei 1976, Gereja menyatakan bahwa penyembuhan ini mendapat persetujuan yang penuh, untuk diakui sebagai sebuah mukjizaat yang otentik.
(Sumber : Majalah Ave Maria)

Read more .....

5/17/2010

Hanya Untuk Hari Ini

(Puisi oleh St. Theresia Lisieux)
Hidupku adalah satu saat,
Satu jam yg berlalu
Hidupku adalah satu saat
yang tak terpegang
dan tak kukuasai
Engkau tahu, ya Tuhan,
untuk mencintai-Mu  di dunia ini
Aku hanya punya hari ini


Peduli amat Tuhan,
bila masa depan tampak kelabu
Berdoa untuk esok, tidak !
Aku tak mampu...
Jagalah hatiku murni
Tudungi aku dengan bayang-bayang-Mu
Hanya untuk hari ini

Jika aku berpikir tentang esok,
Aku takut goyah
Dalam hati kurasakan munculnya
kesedihan dan kebosanan,
Tapi aku rela menerimanya, Tuhan
Penderitaan, pencobaan,
Hanya untuk hari ini

Segera ku kan terbang
untuk memuji-Nya,
Bila hari tanpa malam,
akan bersinar atas jiwaku
Maka kan kunyanyikan
dengan kecapi para malaikat,
Hari ini yang abadi

Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari." (Mat 6:34)

Read more .....

3/24/2010

MEMBENARKAN KESALAHAN BERSAMA KRISTUS (2)



Oleh : T. Kelsey
Mengekang Kemarahan
Dalam keadaan demikian kiranya kesempatan untuk merasa panas hati, yaitu kemarahan yang jujur bahkan di antara umat Kristen dan meskipun hal ini menyebabkan perselisihan dan kesulitan.
Yesus tidak pernah mengatakan bahwa kita tidak boleh mempunyai perasaan yang negatif atau berselisih, hanya bahwa hal ini jangan dibiarkan tak terpecahkan atau menjadi buah bibir di balik orang itu. Kita hanya dapat mendamaikan pertentangan yang kita hadapi. Bagaimanapun kemarahan Kristus tidak menghalangi Dia untuk menyembuhkan si penderita kusta tersebut. Barang kali perasaan amarah-Nya justru menunjang kesembuhan.
Ada sebuah kisah menarik tentang seorang kudus dari abad permulaan Gereja yang mengurapi tenggorokan seorang laki-laki dengan minyak suci, untuk menyembuhkan daging tumbuh, tetapi tidak berhasil. Ia mengurapi orang itu untuk kedua kalinya dan ketiga kalinya tanpa hasil. Kemudian dengan marah ia menuangkan dengan paksa seluruh isi botol minyak suci itu ke dalam tenggorokan orang tersebut, dan daging itu hilang !
Tidak ada yang salah dengan kemarahan, sejauh masih ada dasar keinginan untuk menolong dan bukannya merintangi, selama itikad baik tetap ada. Sesungguhnya kemarahan, bahkan mungkin menunjang beberapa kejengkelan dan kemarahan mungkin juga tidak dapat mencintai, keduanya saling berkaitan.
Santo Paulus berkata dalam suratnya kepada umat di Efesus : “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa. Janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu. Janganlah memberi kesempatan kepada iblis.” (Ef 4:26-27). Ia tidak minta agar kita tidak pernah marah, tetapi bahwa kemarahan kita itu jangan sampai  timbul karena harga diri yang dilukai atau cepat tersinggung, sehingga menyebabkan hilangnya itikad baik kita terhadap sesama.
Meskipun Yesus tidak senang dengan si penderita kusta itu, Ia tetap menyembuhkan penyakitnya, kemudian Dia membebaskan orang itu dengan peringatan keras : ”Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapapun.” (Mrk 1:43-44). Penderita kusta tersebut mengabaikan peringatan Yesus dan menceritakan kepada setiap orang yang ia jumpai, sehingga Yesus dikerumuni oleh orang banyak dan tidak lagi mempunyai kesempatan untuk menyendiri.
Tentunya Yesus tahu, bahwa hal ini akan terjadi, tetapi agaknya seolah-olah Ia tidak dapat mencegah Diri-Nya. Ketika Ia berhadapan muka dengan setan, bahkan dalam diri orang itu – Ia tidak bisa berbuat lain, kecuali mengulurkan tangan-Nya dan mengalahkan setan. Sudah menjadi sifat-Nya untuk membenci setan dalam segala bentuknya dan berperang melawan mereka.
Seperti Guru, Demikian Juga Murid
Gagasan bahwa kita umat Kristen harus sekedar pasif belaka dan tidak terpengaruh oleh dunia, bahwa kita harus memberi perhatian hanya kepada jiwa sendiri, adalah sama sekali perbuatan yang tidak wajar menurut Yesus dan kekristenan. Puasa dan doa yang tidak mengarah pada suatu bentuk positif dan tindakan yang nyata, jelas tidak sesuai dengan gagasan Yesus, yang marah kepada setiap bentuk kejahatan dan mengulurkan tangan-Nya untuk menyembuhkan dan menyehatkan dan memperbaharui.
Beberapa dari kita mungkin mempunyai kekuatan untuk menyembuhkan dengan kata-kata seperti yang dilakukan oleh Yesus, tetapi masing-masing dari kita dapat melakukan sesuatu untuk membantu kelestarian karya cipta dan harapan dan kebahagiaan di dunia ini. Jika beberapa kejahatan di dunia ini tidak membuat kita cukup marah untuk memeranginya, maka dapat diragukan apakah kita sungguh-sungguh pengikut Yesus Kristus, murid sejati yang menyerupai Guru kita.
Apakah Yang Dapat Kita Lakukan ?
Kita semua dapat bersikap keras terhadap diri sendiri dan mulai mencabuti sifat-sifat buruk yang menjadi kesukaan kita.
Kita dapat menjadi ibu rumah tangga yang memadamkan gosip dan fitnah, sebab hal ini membuat kita terbakar dengan amarah.
Kita dapat menjadi buruh yang berjuang melawan buruh yang berlebihan dan waktu yang dibuang percuma, sebab hal ini menyakitkan hati nurani Kristiani kita.
Kita dapat menjadi remaja yang menolak ajakan terhadap minuman keras dan obat bius (narkoba).
Kita dapat menjadi pengusaha dan politikus yang menentang ketidak-jujuran dan korupsi, sebab kejahatan-kejahatan ini membuat kita naik darah.
Kita dapat menjadi perawat, guru dan pekerja sosial yang merawat orang-orang sebagai pribadi manusia dan tidak sebagai nomor atau kasus saja.
Kita dapat menjadi pengacara yang berjuang untuk hukum yang lebih baik, karena kita membenci ketidak-adilan dan menjadi dokter yang memberantas penyakit, sebab penderitaan membuat kita marah.
Kita dapat menjadi manager dan pengurus yang tidak tinggal diam melihat penyalah-gunaan kekuasaan dan kedudukan.
Lihatlah ke sekitar kita, lihat rumah kita sendiri, tetangga kita, gereja kita, kota kita, negera dan pemerintahan kita, kejahatan apa yang membuat kita marah ? Apa yang kita keluhkan, tetapi tidak pernah berbuat sedikitpun untuk membenarkannya ? Dalam doa, lihatlah apa yang diinginkan oleh Roh Kudus untuk kita kerjakan mengenai hal ini.
Cahaya kita, Cahaya Kristus dalam diri kita, harus menyinari dunia. Hanya dengan demikian, semua umat manusia di mana-mana akan melihat Tuhan sebagai sekutu mereka, yang memerangi setiap bentuk kejahatan. Hanya dengan demikian kita akan pecaya, bahwa Yesus menawarkan kehidupan yang utuh.
(Sumber : Majalah Ave Maria)
-       Pekerja di pelabuhan
-       Kisah racun

Read more .....

MEMBENARKAN KESALAHAN BERSAMA KRISTUS (1)

Oleh : T. Kelsey
Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya: "Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku." (Mrk 1:40).
Betapa jarang  kita melihat gambaran yang sejati tentang Yesus seperti yang dikisahkan di dalam Perjanjian Baru. Kecuali jika kita berhenti dan mendengarkan dengan sungguh-sungguh, namun sering kali kita hanyalah memperhatikan apa yang ingin kita baca dari yang tertera di sana. Kita manusia sangat ahli dalam menghindari dari apa yang tidak menyenangkan dan tidak memuaskan.
Pada umumnya Gereja Kristen dan umat Kristen melihat Kristus sebagai segala sesuatu, kecuali pribadi sejati-Nya seperti di dalam Injil. Kita sering menggambarkan-Nya sebagai seorang laki-laki dengan sifat yang manis dan cemerlang, selalu lemah-lembut dan ramah, penuh pengertian dan tidak menonjolkan diri. Ia hampir menyerupai seorang paman  yang dermawan.
Kita gagal mengamati dimensi kuasa dan kekuatan dari keyakianan dan ketegasan-Nya. Kita melupakan fakta bahwa Ia menghabiskan lebih banyak waktu untuk menyembuhkan orang-orang sakit dari pada dalam lingkungan masyarakat yang baik. Kristus yang sejati adalah pribadi yang begitu kuat dan penuh vitalitas, sehingga orang-orang menyebut Dia : Putera Allah.
Oleh karena setia kepada Yesus yang telah bangkit, maka para murid-Nya berani maju dan hidup tersisih dalam perjuangan dan mati pada jaman itu. Ini hampir tidak mungkin, kecuali apabila Kristus yang sudah bangkit itu adalah tokoh yang hebat. Yesus dari Nazareth memberi pengaruh sedemikian rupa, sehingga orang-orang biasa seperti kita  mampu menggerakkan Gereja, yang menaklukkan setiap kerajaan dan menerobos banyak perubahan.
Kristus Yang Marah
Sebuah kisah dalam bab pertama Injil St. Markus menggambarkan Kristus sejati dengan cara yang amat menarik, terutama dalam terjemahan The New English Bible (sebuah terjemahan yang oleh para sarjana terkemuka dianggap lebih sesuai dari pada yang sudah lazim).
Itulah kisah seorang kusta yang berlutut di hadapan Yesus dan berkata : “Jika saja engkau mau, Engkau dapat menyembuhkan aku.” (Mrk 1:40). The New English Bible menulis jawaban Yesus dalam kata-kata sebagai berikut – Dengan amat marah Yesus mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu dan berkata : “Memang Aku mau, jadilah sembuh.” Penyakit kusta orang tersebut langsung sembuh. Kemudian Yesus menyuruh orang itu pergi dengan ‘peringatan keras’ , agar jangan menceritakan kepada siapapun, kecuali kepada imam yang menurut hukum Musa harus meresmikan penyembuhan itu. Sebaliknya, orang itu menyebarkan-luaskan kesembuhannya kemana-mana.
Bila kita mendengarkan kisah ini, kita mendapatkan gambaran yang berbeda tentang Kristus dari pada versi tradisional. Di sini Anak Manusia berada dalam keadaan marah. Versi Yunani yang asli menyatakan dengan jelas bahwa Ia mendidih dan menjadi sangat marah. Sama sekali tidak tenang dan obyektif, Yesus menjadi terlibat secara dalam dan pribadi di dalam kehidupan. Yesus memperhatikan dan memperlihatkan keprihatinan-Nya dengan cara yang sangat dramatis dan khas.
Ini adalah salah satu dasar perbedaan di antara agama Kristen dan agama-agama dari Timur. Kebanyakan agama Timur mengajarkan agar kita jangan terlalu terlibat supaya kita mempunyai sudut pandang yang saleh, tidak memihak, sehingga kita tidak terganggu oleh apapun. Tak ada yang lebih baik dari pada kehidupan dan perbuatan Yesus.
Keterlibatan Yesus
Ia menjadi begitu terlibat dengan kehidupan, sehingga Ia mengambil cambuk dan mengusir para pembeli dan penjual dan ternak mereka, keluar dari Bait Allah. Ia begitu naik darah dengan kemunafikan para ahli Taurat dan kaum Farisi, sehingga Ia mencela mereka dengan kata-kata yang membawa-Nya kepada kematian. Yesus sangat marah kepada orang-orang yang tidak mau mengambil keputusan di antara cara hidup dan cara kematian, hingga Ia mengumumkan dengan ungkapan yang tegas, bahwa barang siapa pergi ke jalan besar, akan binasa dan masuk ke dalam neraka ;  barang siapa yang menolak untuk mengikuti cahaya hatinya yang baik dan bersiap-siap untuk kehidupan yang akan datang, akan mendapatkan tangisan dan kertakan gigi yang abadi sebagai upah mereka.
Perhatian Yesus adalah kunci ke arah pengertian tentang pertemuan-Nya dengan si penderita kusta. Ketika orang sakit tersebut minta disembuhkan, Yesus pada mulanya agak naik darah dan kemudian memberikan peringatan keras kepada orang tersebut. Mengapa ? mengapa Yesus naik darah dan marah ?
Musuh Dari Semua Kejahatan
Pertama-tama, Yesus selalu agak menentang kehadiran penyakit. Sebagai penjelmaan dari kreativitas dan kehidupan dan kesehatan, Dia sesungguhnya adalah lawan dari wabah dan penyakit. Hal-hal ini adalah perbuatan setan di semesta alam dan Kristus adalah musuh setan, dalam segala bentuknya.
Semua setan, Ia berperang melawan kejahatan, Ia membenci penyakit kusta. Faktanya, “Untuk inilah Putera Allah menyatakan Diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan iblis itu.” (1 Yoh 3:8). Yesus datang untuk mengusir setan dalam segala bentuknya. Tidak heran bila Ia menjadi marah ketika orang kusta itu menyatakan secara tidak langsung, bahwa Ia mungkin bukan musuh dari penyakit-penyakit, kusta gelap yang menyerang badan kita.
Sebab kedua, Yesus menjadi marah karena orang kusta itu meragukan keinginan-Nya untuk menolong dia. Orang tersebut mungkin menatap Yesus dan berkata dengan nada pesimis : ”Jika Engkau mau menolong, tentunya Engkau dapat, tapi mungkin engkau tidak mau.” Orang tersebut meragukan itikad baik Yesus, yaitu perhatian-Nya terhadap kemanusiaan, keinginan-Nya untuk melakukan kebenaran. Reaksi sedikit saja dapat melukai hati kita lebih dari pada itu. Yesus benar-benar manusia, Ia merasakan seperti kita, bila itikad baik-Nya diragukan.
 (Sumber : Majalah Ave Maria)
-       Pekerja di pelabuhan
-       Kisah racun

Read more .....

2/16/2010

JENAZAH ST.BERNADETTE SOUBIROUS TETAP UTUH

Pada tahun 1909, sehubungan dengan diajukannya permohonan beatifikasi Bernadette Soubirous, maka perlulah dilakukan identifikasi terhadap jenazah calon beata yang meninggal pada tahun 1879 itu.
Maka, pada tanggal 22 September 1909, Uskup Gauthey dari Nevers (Perancis), bersama dengan para wakil dan pejabat Gereja lainnya, masuk ke dalam kapel biara di mana jenazah Bernadette disemayamkan. Makam kemudian digali dan jenazah diangkat dari dalam tanah.
Semua yang hadir merasa takjub melihat jenazah Bernadette yang tampak persis sama seperti pada hari ia meninggal. Tubuhnya utuh sempurna, tak tercium bau busuk, pun tak didapati tanda-tanda kerusakan pada tubuh mungil yang terbaring dalam peti jenazah. Dokter Jourdan, dokter ahli bedah yang ikut serta dalam penggalian kembali makam, meninggalkan suatu catatan dalam arsip komunitas, menggambarkan apa yang terjadi pada waktu itu:
“Peti jenazah dibuka di hadapan Uskup Nevers, walikota, beberapa imam dan kami sendiri. Kami tak mencium adanya bau busuk. Jenazah terbalut rapat dalam jubah ordo biarawati di mana Bernadette tinggal. Jubah itu lembab. Hanya wajah, kedua tangan dan lengan bawahnya saja yang kelihatan. Kepalanya agak sedikit miring ke kiri. Rona wajahnya putih pucat. Mulutnya sedikit terbuka dan dari situ tampak bahwa giginya masih utuh. Kedua tangan, yang disilangkan di dada, utuh sempurna, juga kuku-kuku jemarinya. Kedua tangannya masih menggenggam seuntai rosario yang telah berkarat. Galur-galur urat darah halus di lengan bagian bawah tampak jelas.”
Setelah identifikasi jenazah, para biarawati membasuh tubuh Bernadette dan mengenakan jubah baru padanya. Jenazah lalu ditempatkan dalam suatu peti jenazah yang baru berlapis kain sutera putih, dan dikuburkan kembali.
Pada bulan Agustus 1913, Paus Pius X memaklumkan dimulainya penyelidikan untuk kanonisasi dan Bernadette Soubirous sekarang diberi gelar `venerabilis'. Itu berarti bahwa jenazahnya harus diangkat kembali dari kubur. Tetapi, proses ini tertunda akibat Perang Dunia Pertama dan makamnya tidak digali kembali hingga April 1919. Identifikasi jenazah kemudian dilangsungkan sama seperti sebelumnya - dengan hasil yang sama pula. Jenazah tetap utuh.
Pada bulan November 1923, Paus memaklumkan keotentikan keutamaan-keutamaan Bernadette Soubirous, dengan demikian, akhirnya proses beatifikasi dapat dimulai. Sebagai konsekwensi, makam harus digali kembali untuk ketiga kalinya. Kali ini, dari jenazah akan diambil relikwi untuk dikirim ke Roma, Lourdes dan Rumah Suster-suster Nevers di seluruh penjuru dunia.
Pada tanggal 18 April 1925, dilaksanakan penggalian makam untuk yang ketiga kalinya. Bernadette telah wafat lebih dari empatpuluh enam tahun. Namun demikian, tubuhnya tetap sepenuhnya utuh. Dr Talon, ahli bedah yang dipercaya untuk mengambil relikwi-relikwi dari jenazah Bernadette, kemudian menulis suatu laporan mengenai pengangkatan jenazah ini untuk suatu jurnal kedokteran, di mana ia melukiskan rasa takjubnya atas keutuhan sempurna kerangka dan khususnya otot-otot tubuh, juga hati yang - menurutnya - seharusnya rusak seluruhnya segera sesudah kematian. Dr Talon menyimpulkan bahwa “tampaknya hal ini bukan suatu fenomena biasa.”
Pada saat identifikasi jenazah, dicermati bahwa sebagian kecil kulit wajah sedikit pudar warnanya, kemungkinan akibat pembasuhan jenazah dan kontaminasi oleh organisme udara. Karenanya, diputuskan untuk melapisi wajah dan kedua tangan dengan lapisan lilin yang tipis. Perusahaan Pierre Imans di Paris dihubungi, dan mereka setuju untuk melakukan apa yang perlu.
Pada tanggal 14 Juni 1925, Paus Pius XI memaklumkan Bernadette Soubirous sebagai `Beata'. Itu berarti, jenazahnya sekarang dapat dipertontonkan untuk dihormati umat beriman. Suatu workshop di Lyons diserahi tugas membuat sebuah wadah relikwi yang indah, terbuat dari perak yang berkilau, dan juga kristal, tempat jenazah akan dibaringkan.
Pada bulan Juli 1925, suatu tempat ziarah selesai dipersiapkan. Sekali lagi jubah baru dikenakan pada jenazah yang kemudian dipindahkan ke sana. Pada wadah relikwi tampak gambar-gambar Penampakan di Lourdes, dan gambar bunga-bunga lili - simbol kemurnian Bernadette. Di atas wadah relikwi terdapat inisial `N.D. de L.' (Notre Dame de Lourdes), dengan seuntai rosario dililitkan sekelilingnya.
Pada bulan Agustus 1925, tempat ziarah dipindahkan ke kapel utama biara St. Gildard, Nevers, Perancis, di mana jenazah dapat dilihat hingga kini.

Sumber : “The Incorruptible Body” ; www.livingmiracles.net
Diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya

Read more .....