Tampilkan postingan dengan label Seputar Paskah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seputar Paskah. Tampilkan semua postingan

5/20/2015

PENTAKOSTA


Pentakosta merupakan salah satu pesta terbesar dalam penanggalan Yahudi. Pesta ini asalinya adalah pesta pertanian, kemudian pada masa Perjanjian Lama menjadi perayaan syukur atas pemberian Hukum Musa di atas gunung Sinai. Pada kesempatan ini, sama seperti hari raya Paskah Yahudi, banyak orang Yahudi yang tinggal di sekitar Timur Tengah berziarah ke Yerusalem.

Selama Perayaan Paskah Yahudi itulah, yang memperingati pembebasan dari perbudakan Mesir, Yesus, melalui kematian dan kebangkitan-Nya memberi kebebasan kepada dunia dari kematian dan dosa. Inilah saat yang tepat untuk merayakan pemberian Hukum di Sinai, hari di mana Tuhan mengadakan perjanjian dengan umat pilihan-Nya, bahwa Allah sekarang mengaruniakan Roh-Nya kepada Israel yang baru, yaitu Gereja. (Dan semua orang, yang memberi dirinya dipimpin oleh patokan ini, turunlah kiranya damai sejahtera dan rahmat atas mereka dan atas Israel milik Allah. - Gal 6:16)
Pada saat yang sama pula, pembaptisan dengan api diwartakan oleh Yohanes (Yohanes menjawab dan berkata kepada semua orang itu: "Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa dari padaku akan datang dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api. - Luk 3:16). Allah mengutus Roh Putra-Nya dan dengan ini, lahirlah Gereja. Gereja bukanlah suatu lembaga manusiawi atau hasil karya dari sekelompok orang beriman, ia berasal dari inisiatif Allah, dan Allah berkehendak agar setiap orang dari setiap bangsa menjadi saksi atas peristiwa ini.
Tiupan angin keras adalah suatu tanda, karena Roh berarti napas dan angin dalam budaya Ibrani. Dijiwai oleh Roh Kudus, Petrus berbicara. Ia sekarang mengetahui kebenaran dan percaya, dan itulah sebabnya ia dengan berani mewartakannya (Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. - Yoh 15:26 ; Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Yoh 16:13)
Apa yang terjadi pada Pentakosta sama uniknya dengan peristiwa kebangkitan. Namun, peristiwa ini mengikuti pola campur tangan Allah dalam sejarah. Di satu pihak, Roh Kudus selalu membawa pembaruan bagi karya kerasulan kita, membangkitkan semangat keagamaan kita dan membangun komunitas Kristen yang dinamis yang menjadi darah baru bagi Gereja. Gereja menjadi semakin tua dan memerlukan pembaruan terus menerus.
Roh Kudus datang untuk memberikan kehidupan bagi Gereja. Ia juga datang untuk memberi peneguhan dan kekuatan bagi orang-orang beriman. Pembaptisan dengan api yang diterima para rasul, diberikan pula kepada kita melalui Sakramen Penguatan/Krisma (Luk 3:16).
“Setiap orang mendengar para rasul berbicara dengan bahasa mereka (orang yang mendengar) sendiri” Ayat ini diulang sebanyak tiga kali, (Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. - Kis 2:6 ; Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita: - Kis 2:8 ; baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah." - Kis 2:11), yang menunjukkan kepada kita, bahwa ini merupakan kunci untuk memahami teks ini. Mukjizat Pentakosta bukanlah suatu kenyataan bahwa para rasul, yang semua penduduk asli Palestina, mulai berbicara dalam bahasa asing, melainkan suatu kenyataan, bahwa semua orang asing mendengar pewartaan tentang perbuatan ajaib Allah dalam bahasa mereka sendiri, inilah mukjizat Pentakosta.
Banyak teks Perjanjian Baru yang lain, yang mengacu kepada “karunia lidah” (sebab mereka mendengar orang-orang itu berkata-kata dalam bahasa roh dan memuliakan Allah - Kis 10:46 ; Dan ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat. – Kis 19:6 ; 1 Kor 12; 14:2-19), tetapi dalam teks Pentakosta ini Allah menggariskan dasar bagi semua pewartaan, mereka yang dipanggil untuk beriman kepada Yesus, dipanggil untuk menjadi anggota Gereja, tidak diwajibkan untuk meninggalkan bahasa dan budaya mereka, seperti yang diharapkan orang Yahudi Proselit zaman dahulu. Di lain pihak Allah bahkan menghendaki agar umat manusia dari segala bangsa, bahasa dan kebudayaan turut memuji dan memuliakan-Nya melalui cara ini, dengan keaneka-ragaman dalam Tubuh Kristus (Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus. Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh. - 1 Kor 12:12-13), akan tampak bagi semua orang seperti berkumpulnya kembali anak-anak Allah yang tercerai-berai melalui Yesus dan Roh-Nya. (dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai. - Yoh 11:52).
Dalam sejarahnya, Gereja cenderung melupakan mukjizat Pentakosta ketika menekankan bahasa dan kebudayaannya saat mewartakan Injil kepada bangsa-bangsa yang baru. Melalui sejarahnya juga, Roh Kudus memperingatkan Gereja, agar melawan cobaan-cobaan seperti itu, sebagaimana yang ditunjukkan oleh para rasul yang hidup berdasarkan semangat Pentakosta pada waktu itu.
(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pastoral Katolik)

Read more .....

MARIA DAN PENTAKOSTA

Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.  (Luk 1:35).

Konsili Vatican II menyatakan bahwa Maria “seakan-akan dibentuk oleh Roh Kudus” (Lumen gentium 56). Siapa saja yang menghormati Maria, ia bersembah sujud kepada Roh Kudus, karena apa saja yang dimiliki Maria, dihasilkan oleh karya Roh Kudus.
Maria rendah hati dan bekerja secara sembunyi, seperti Roh Kudus. Bunda Maria bertumbuh dalam Roh Kudus semakin lama semakin mendalam mulai dari sejak Maria dikandung ibunya. Sejak awal Maria dikuasai penuh oleh Roh Kudus. Dia menyerahkan dirinya tanpa batas, maka Roh Kudus dengan bebas tanpa halangan dapat menguasainya untuk memikul tugas yang direncanakan Allah, yaitu menjadi Bunda Allah dan ibu seluruh umat manusia.
Roh Kudus menaunginya, sehingga ia menjadi penuh rahmat (Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau." – Luk 1:28). Hari Pentakosta mempunyai arti yang tiada taranya bagi mereka dan para murid Yesus. Ketika Yesus masih bersama para murid, mereka tidak dapat menerima Roh, sebab Roh belum diberikan. Namun di dalam diri Maria Roh sudah hadir. Maria sudah biasa bergaul dengan Roh. Terlebih lagi sekarang. Pada hari Pentakosta ia menjadi Bunda Gereja (Setelah mereka tiba di kota, naiklah mereka ke ruang atas, tempat mereka menumpang. Mereka itu ialah Petrus dan Yohanes, Yakobus dan Andreas, Filipus dan Tomas, Bartolomeus dan Matius, Yakobus bin Alfeus, dan Simon orang Zelot dan Yudas bin Yakobus. Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus. – Kis 1:13-14). Pada hari Pentakosta, lahirlah Gereja. Sebenarnya secara rahasia Gereja sudah lahir pada saat Yesus menyerahkan Maria kepada Yohanes dan menyerahkan Yohanes kepada Maria (Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!". Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya – Yoh 19:25-27).
Semua yang secara tersembunyi terjadi pada salib, menjadi nyata pada hari Pentakosta. Maria berdiri di tengah para murid yang penuh dengan Roh Kudus sambil berkata dalam bahasa lain. Ketika Maria menyanyikan lagu syukurnya - Magnificat, ia sudah memperlihatkan bahwa keheningannya dapat menjadi sorak suci. Maria-lah orang pertama yang mulai berkata-kata dalam Roh. Soraknya itu menular kepada para murid dan merekapun mulai berkata-kata, mabuk oleh Roh Kudus. Maria adalah pusat Gereja.
Pada hari Pentakosta, keibuan Maria menjadi jelas dan meluas. Yesus hadir di mana-mana, karena Roh-Nya dan sekaligus membuat Maria menjadi seluas dunia. Ia menjadi seluas Gereja, sehingga tiada seorangpun tinggal di luarnya.
(Sumber : Maria Dalam Kitab Suci & Dalam Hidup Kita)
-       Aku ini hamba Tuhan

Read more .....

PAULUS DI EFESUS

Dan ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat. (Kis 19:6).

Selama hampir tiga tahun Paulus mewartakan di Efesus. Efesus adalah salah satu kota terindah dan terbesar di Kekaisaran Romawi.
Lukas ingin menceritakan baptisan murid-murid Yohanes Pembaptis. Seperti telah dikatakan, bahwa mereka telah mengetahui ajaran Yesus, tetapi sebagai murid, mereka berkekurangan apa yang terpenting, yaitu mereka belum menerima Roh Kudus (Kata Paulus: "Baptisan Yohanes adalah pembaptisan orang yang telah bertobat, dan ia berkata kepada orang banyak, bahwa mereka harus percaya kepada Dia yang datang kemudian dari padanya, yaitu Yesus." – Kis 19:4).
Kita tidak boleh lupa bahwa bahasa orang Kristen saat itu sangat terbatas, Roh Kudus itu ‘lebih dari pada manifestasi’ yang diungkapkan lewat penumpangan tangan. Demikian kita membaca pernyataan, bahwa mereka tidak mendengar ada Roh Kudus dalam Kis 19:2 (Katanya kepada mereka: "Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu menjadi percaya?" Akan tetapi mereka menjawab dia: "Belum, bahkan kami belum pernah mendengar, bahwa ada Roh Kudus.") ; sementara ada teks lain menyatakan : Roh Kudus diterima, dan Roh Kudus turun atas mereka (ayt 6) bandingkan dengan Kis 8 (Ketika rasul-rasul di Yerusalem mendengar, bahwa tanah Samaria telah menerima firman Allah, mereka mengutus Petrus dan Yohanes ke situ. Setibanya di situ kedua rasul itu berdoa, supaya orang-orang Samaria itu beroleh Roh Kudus. Sebab Roh Kudus belum turun di atas seorang pun di antara mereka, karena mereka hanya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Kemudian keduanya menumpangkan tangan di atas mereka, lalu mereka menerima Roh Kudus. - Kis 8:14-17).
Penumpangan tangan berarti mengakui perubahan yang terjadi saat pembaptisan melalui pengalaman Karunia Roh (Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama - 1 Kor 12:7). Pada masa kini, banyak orang Kristen terkejut jika mereka tidak pernah mengalami kehadiran Allah secara nyata ini. Kita tidak boleh berkata, bahwa Karunia ini tak berguna, atau bahwa sesuatu tidak terjadi pada masa kini. Sesungguhnya yang terpenting adalah beriman dan menghayatinya dari pada merasakannya. Tetapi pengalaman demikian sering menumbuhkan “bunga-bunga” indah bagi iman kita, ia menunjukkan, bahwa Allah itu dekat dan menjadi tuan atas diri kita. Mungkin sikap rasional kita dan hidup Gereja tidak percaya akan semuanya itu yang adalah ungkapan-ungkapan pribadi, akhirnya sampai mematikan karunia-karunia Roh, mungkin inilah kekurangan kita (rasional) dalam pengabdian kepada Yesus.
“Mereka dibaptis dalam nama Tuhan Yesus.” Haruskah kita menyimpulkan bahwa pada awalnya pembaptisan dengan “dalam nama Yesus” dan bukan dalam “Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus” ? tidak jelas. Dalam nama berarti dengan kuasa. Rupanya pembaptisan dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus disebut pembaptisan dalam nama Yesus untuk membedakannya dari pembaptisan Yohanes dan dari agama lain. Bisa juga bahwa pada saat menerima air dalam nama tritunggal Kudus, orang yang dibaptis harus berdoa secara pribadi dalam Nama Yesus. Selain itu, pada awalnya mungkin yang diberikan “dalam nama Yesus” dan kelak disesuaikan oleh Gereja untuk membedakannya dengan kelompok-kelompok yang beriman kepada Yesus tetapi tanpa mengakuinya sebagai Putra Allah yang lahir dari Bapa. Kita tak perlu heran dengan perubahan ini, Gereja para rasul telah menyusun suatu rumusan baptisan pertama, lalu Gereja yang sama mengambil rumusan yang kedua yang dihubungkan dengan Yesus dalam Mat 28:19 (Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus).
(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pastoral Katolik)

-       Roh itu akan datang
-       Efesus

Read more .....

3/30/2015

DI JALAN MENUJU EMAUS (2)


Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka (Luk 24:31). Kita memperhatikan di halaman Injil ini, betapa cermatnya Lukas secara bergantian mempergunakan kata kerja : melihat dan mengenal.

Penginjil Lukas, sesungguhnya ingin memperlihatkan kepada kita, bahwa sesudah kebangkitan-Nya Yesus tidak lagi dapat dilihat oleh mata badaniah, tetapi harus dilihat dengan mata rohani kita, Ia telah pergi dari dunia ini kepada Bapa, dan dunia yang baru ini luput dari kemampuan indrawi kita. Hanya dengan penglihatan barulah, yaitu mata rohani dalam terang iman membuat kita “mengenal-Nya” sebagai pribadi yang hadir dan aktif dalam diri kita dan di sekeliling kita. Jika sejarah Gereja mencatat sejumlah penampakan luar biasa dari Yesus yang bangkit, maka orang-orang beriman diundang untuk “mengenal” Dia melalui iman.
Kedua murid ini kembali ke rumah untuk kembali ke pekerjaan mereka yang semula, setelah harapan mereka hancur. Kita terbiasa menyebut mereka peziarah Emaus. Orang-orang Yahudi atau bangsa Israel adalah kaum peziarah karena mereka tidak pernah mempunyai kesempatan untuk berlama-lama di jalan. Keberangkatan dari Mesir, penaklukan Tanah Terjanji, pertempuran melawan penyerbu, pengembangan kebudayaan religius merupakan banyak tahapan sepanjang jalan. Setiap kali mereka berpikir bahwa dengan mencapai sasaran, masalah mereka akan terselesaikan, tetapi setiap kali pula mereka harus menyadari bahwa jalan yang mereka tempuh masih panjang.
Kleofas dan pengiringnya adalah peziarah sejak mereka mengikuti Yesus, karena mereka berpikir bahwa Dia akan menebus Israel. Pada akhirnya yang ada hanya kematian Yesus.
Inilah saat ketika Yesus benar-benar hadir dan mengajar mereka, bahwa tak seorangpun dapat memasuki Kerajaan Allah tanpa melewati kamatian.
Mereka mengenal-Nya (Luk 24:31). Barangkali Yesus tampak berbeda seperti yang kita lihat dalam Yohanes 20:14 (Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus). Inilah yang dikatakan dalam Markus 16:12 (Sesudah itu Ia menampakkan diri dalam rupa yang lain kepada dua orang dari mereka, ketika keduanya dalam perjalanan ke luar kota). Lukas juga menginginkan agar kita mengerti, bahwa orang-orang yang tidak dapat mengenal Yesus, akan melihat Dia ketika mereka menjadi percaya.
Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi (Luk 24:27). Ingatlah bahwa kitab “Musa dan para nabi” adalah salah satu cara menyebut Kitab Suci. Yesus mengundang mereka untuk beralih dari iman dan harapan Israel menuju masa depan yang bahagia bagi seluruh bangsa, yaitu kepada iman dalam tiap-tiap pribadi yang menerima misteri penolakan dan Kesengsaraan-Nya.
Dalam pelajaran Kitab Suci-Nya yang pertama, Yesus mengajarkan mereka bahwa Mesias harus menderita (Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?" – Luk 24:26). Yesus tidak hanya membeberkan semua teks yang menubuatkan Kesengsaraan dan Kebangkitan-Nya seperti Yes 50:6 (Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi) ; Yes 52:13 (Sesungguhnya, hamba-Ku akan berhasil, ia akan ditinggikan, disanjung dan dimuliakan), tetapi juga teks-teks yang menunjukkan bahwa rencana Allah menyaring sejarah manusia (Sebab Allah akan menyelamatkan Sion dan membangun kota-kota Yehuda, supaya orang-orang diam di sana dan memilikinya – Mzm 69:36).
Sesuatu yang mirip terjadi dengan kaum beriman sekarang, ketika kita selalu mengeluh dan menunjukkan ketidak-sabaran kita. Namun Yesus tidak meninggalkan kita sendirian, Ia tidak bangkit untuk duduk-duduk saja di Surga, Ia mendahului kemanusiaan dalam ziarah-Nya dan menarik kita kepada hari terakhir ketika Ia datang menemui kita.
Pada saat yang sama Ia berjalan bersama kita, dan ketika harapan kita hancur, itulah saatnya kia menemukan makna Kebangkitan.
Jadi yang dilakukan Gereja bagi kita sama dengan yang dilakukan Yesus bagi kedua murid-Nya. Pertama, Gereja memberikan kita “penafsiran atas Kitab Suci”: yang menjadi persoalan dalam usaha kita mengerti Kitab Suci bukanlah menghafal perikop demi perikop, melainkan menemukan benang merah yang menghubungkan berbagai peristiwa dan mengerti rencana Allah terhadap manusia. Kedua, gereja merayakan Ekaristi. Perhatikan bagaimana Lukas menuliskan, Ia mengambil roti, mengucap berkat, membagi-bagi-Nya dan memberikan-Nya (Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. – Luk 24:30), empat kata yang sama digunakan oleh kaum beriman dalam perayaan Ekaristi. Kita bisa datang mendekati Yesus lewat percakapan dengan Dia dan merenungkan sabda-Nya, kita juga mendapati Dia hadir dalam pertemuan-pertemuan persaudaran kita, namun Ia memperkenalkan diri-Nya dengan cara yang berbeda ketika kita membagi-bagikan roti yang adalah Tubuh-Nya (Lalu kedua orang itu pun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti. – Luk 24:35)
(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pastoral Katolik)

Read more .....

DI JALAN MENUJU EMAUS (1)


(The Pilgrimage of Faith, oleh John O’Donnel SJ)
Kisah dua murid di jalan menuju Emaus merupakan topik permulaan suatu seri meditasi iman Kristiani, karena pokok meditasi ini adalah imajinasi kehidupan iman suatu perjalanan ziarah, suatu perjalanan dalam persahabatan dengan Kristus.

Kisah Injil ini lebih dari sekedar kenang-kenangan sejarah, jalan menuju Emaus adalah suatu jalan yang setiap orang harus lalui. Dua murid ini mewakili kita dalam perjalanan hidup kita. Kristus ada bersama kita, jika kita mempunyai “mata” untuk melihat Dia.
Pada meditasi, pertama, kita akan mengkonsentrasikan pemikiran bahwa perjalanan hidup tidak kita lakukan sendirian, melainkan merupakan suatu perjalanan dalam persahabatan dengan Kristus dan dengan sesama kita.
Kadang-kadang orang bertanya, hal apakah yang menyebabkan seseorang memutuskan untuk menjadi orang Kristen ? apa bedanya antara kehidupan seorang Kristen dan kehidupan orang yang tak beriman ? bukankah banyak orang yang tidak beriman menjalani hidup yang baik dan sering lebih baik dari pada mereka yang beriman. Jawabannya terletak pada “persahabatan”. Memang bisa juga menjadi seorang yang baik tanpa percaya kepada Allah ataupun Kristus, namun kehidupan yang demikian dijalani tanpa bersama seseorang yang kasih-Nya setia tanpa batas, yaitu Dia yang selalu mempertahankan kita pada keadaan yang baik maupun keadaan buruk, yang berjalan bersama kita hingga saat kematian dan malahan menyambut kita setelah kematian.
St. Lukas menggambarkan bagaimana kedua murid Kristus dalam perjalanan mereka menuju ke Emaus dibimbing dari keadaan tidak percaya hingga menjadi percaya. Tuhan membuka mata mereka, sehingga mereka mengenali Dia, kitapun dapat mengenali Dia dengan cara yang sama.
St. Lukas menekankan dua hal, pertama ia menceritakan kepada kita, bahwa Yesus menginterpretasikan kepada mereka seluruh isi Kitab Suci, mulai dari kisah Musa sampai pada kisah para nabi adalah menyangkut hal-hal yang berkenaan dengan Diri-Nya (Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. – Luk 24:27). Dengan perkataan lain Yesus menunjukkan kepada mereka, bahwa seluruh Kitab Perjanjian Lama berhubungan dengan Diri-Nya.
Kedua, Lukas menghendaki supaya kita mengerti bahwa Kristus sungguh-sungguh dapat ditemukan di dalam Kitab Suci. Ia sungguh-sungguh berbicara kepada kita di sana, sama halnya ketika Ia berbicara kepada kedua murid ini di dalam perjalanan ke Emaus, Yesus juga berbicara kepada kita semua melalui Sabda-Nya di dalam Kitab Suci.
Sejak Konsili Vatikan II, kita telah mulai mendapatkan kembali kehadiran Allah yang baru melalui Sabda di dalam Kitab Suci, kita telah lama terbiasa berbicara dengan Kristus yang nyata hadir dalam Ekaristi. Sekarang kita mulai menghargai dan mengenali kehadiran-Nya dalam Sabda-Nya juga.
Iman kita berkisar sekitar misteri, bahwa Allah kita adalah Allah yang berbicara, Dia telah berbicara kepada kita ketika Sabda-Nya menjadi manusia, yaitu Yesus dari Nazareth. Yesus adalah pengungkapan Allah bagi kita. Ketika Ia berkata kepada para rasul, bahwa mereka yang telah melihat Dia, juga telah melihat Bapa (Kata Yesus kepadanya: "Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. – Yoh 14:9)
Dalam penyaliban Yesus dan kematian-Nya di kayu salib, Sabda menjadi hening. Jika itu merupakan akhir dari Yesus, maka iman kitapun menjadi tidak ada gunanya. Tetapi Ia telah bangkit dan kemudian mengutus murid-murid-Nya untuk memberikan kesaksian atas kebenaran kebangkitan ini, yang kemudian diabadikan dalam Injil. Iman muncul ketika kita mendengar Sabda ini, bukan suatu teks yang mati atau tanda-tanda cetakan di atas halaman Kitab Suci, melainkan sungguh-sungguh hidup seperti ketika Kristus berbicara kepada hati kita.
Kehadiran Kristus dalam Sabda dari Kitab Suci, sungguh dapat membimbing kita pada pertemuan dengan Dia dalam Sakramen Gereja, terutama Ekaristi. Karena itu, pertemuan murid-murid di jalan menuju ke Emaus ini mencapai puncaknya pada pengenalan mereka atas diri Yesus, ketika Dia memecah-mecahkan roti (Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. – Luk 24:30-31). Bahasa “pemecahan roti” ini, selalu mengenai Perjanjian Baru berkenaan dengan misteri Ekaristi.
Dalam meditasi kita sebelumnya, kita bicarakan kehadiran Allah bersama umat-Nya pada perjalanan hidup mereka. Dan tentunya juga dalam Ekaristi, yang disebut Viaticum, makanan untuk perjalanan. Melalui Ekaristi sungguh sangat membantu kita dalam merefleksikan hubungan kehadiran Kristus dalam Ekaristi dengan kehadiran-Nya dalam Gereja.
Kadang-kadang kita membayangkan bahwa urapan dari Persembahan dalam Misa menghasilkan suatu transisi kehadiran Kristus dari sama sekali tidak hadir menjadi hadir sepenuhnya. Pengertian seperti ini tidak cukup untuk mengamati misteri-Nya. Sebagaimana sudah kita lihat, Kristus juga hadir melalui Sabda dalam Kitab Suci, namun lebih lanjut Kristus sudah hadir dan ada di antara kita sebagai komunitas Kristiani, Ia ada di antara kita setiap hari yaitu ketika kita berusaha hidup sesuai dengan perintah-Nya yang baru untuk mengasihi. Tiap hari kita berusaha menanggulangi ego kita dan menyerahkan hidup kita pada-Nya dan kepada sesama. Kita berusaha untuk melihat di dalam diri komunitas kita, juga saudara-saudari seiman, di mana Kristus rela wafat bagi siapa saja. Demikian jauh kita lakukan hal ini, maka Kristus sungguh-sungguh hadir dalam diri kita dan komunitas kita menjadi seperti yang dikatakan Konsili Vatikan II, suatu sakramen yang dalam kehidupannya membuat Kristus nampak jelas pada dunia.
Lalu, di dalam Ekaristi, Dia malahan sudah hadir di tengah-tengah kita, memperdalam kehadiran-Nya di antara kita semakin nyata, kita bergabung dengan Dia dalam pengurbanan-Nya dan menerima-Nya sebagai makanan. Sakramen adalah kejadian-kejadian ketika Kristus hadir secara khusus dan dengan cara yang lebih intensif, tetapi Dia tidak pernah absen dari kita.
Misteri hidup kita di dalam Kristus adalah bahwa kehadiran-Nya dalam komunitas Gereja, kehadiran-Nya dalam Sabda dari Kitab Suci dan kehadiran-Nya dalam Sakramen Ekaristi, semuanya saling berhubungan erat satu sama lain. Dalam hidup kita sehari-hari, kita mengenali kehadiran-Nya ketika kita mematikan ego dalam diri kita dan menjalani kehidupan cinta kasih-Nya. Dalam Kitab Suci, Sabda yang menjadi daging pada saat kematian-Nya tetap berlanjut dalam Sabda permakluman-Nya, yang hingga sekarang kita dengarkan. Dalam Sakremen Ekaristi, ingatan akan wafat-Nya dan kebangkitan-Nya, merupakan suatu anugerah yang nyata dalam hidup komunitas.
Setelah bangkit dari mati, Kristus mengirim Roh Kehidupan-Nya kepada para murid-Nya dan kepada kita semua, dan melalui Roh yang sama Ia mendirikan tubuh dan mistik-Nya, yaitu Gereja, sebagai Sakramen Penyelamatan seluruh umat manusia.

Read more .....

HARI RAYA PASKAH


Mengapa disebut demikian dan kapan diangkat menjadi Liturgi Gereja?
Beberapa kata yang menunjuk pada kata Paskah adalah : Pesach (Ibr) atau Pasover (Ing) atau Pascha (Yun) berarti “lalu”. Kata lain untuk Pasover adalah Easter, namun arti kata Easter tidak menentu. Pandangan umum pada abad ke 8, kata Easter dikaitkan dengan pemujaan dewi musim semi orang-orang Anglo-Saxon (Ing) yang bernama Eostre. Dalam bahasa Romawi dan beberapa bahasa lain, kata Easter (Ing) lebih menunjuk pada kata Pesach (Ibr) atau Pasover.

Secara teologis dan liturgis, Paskah berakar pada kitab Perjanjian lama. Dalam Kitab Keluaran (Exodus) kata Paskah menunjuk tidak hanya “berlalunya” bencana dari orang-orang Yahudi di Mesir, tetapi juga “bebasnya” Israel dari perbudakan Mesir menuju tanah terjanji (Kanaan). Paskah Yahudi berarti perayaan syukur atas pembebasan (tulah dan perbudakan) dan persembahan hasil pertama dalam tahun. (Paskah Yahudi lihat Kel 12).
Paskah Yahudi selalu dirayakan berdasarkan kalender (penanggalan) yang berdasarkan siklus bulan (moon) yaitu pada hari ke 14 Nisan atau Abib (bulan pertama) dalam penanggalan Yahudi yang jatuh antara bulan Maret dan April. Sehingga dapat jatuh pada hari apa saja dalam pekan.
Paskah orang Kristen pertama dirayakan sebagai peringatan akan wafat (dan kebangkitan) Kristus yang disalib. Mereka merayakan Paskah pada hari Minggu pertama sesudah bulan purnama atau sesudah waktu siang dan malam sama lamanya atau siklus musim yang berkisar antara tanggal 22 Maret sampai 25 April (setelah 21 Maret).
Pada abad ke 2, karena adanya dua kalender yang digunakan untuk menentukan perayaan Paskah, maka timbul pertentangan dan Konsili Nicaea (tahun 325) menentukan perayaan Paskah yaitu pada hari Minggu sesudah hari ke 14 Nisan dan sesudah waktu siang dan malam sama lamanya, sebagai jalan tengah. Namun kesulitan muncul dengan harus diperhitungkannya kalender Yulianus yang berdasarkan siklus Matahari. Hingga abad ke 9 pertentangan tetap timbul, dan mulai teratasi dengan adanya kalender Gregorius pada tahun 1582, beberapa daerah lain mulai menyesuaikan.
Pengertian Paskah secara Teologis-Liturgis :
Tema pokok Paskah adalah perayaan wafat, kebangkitan, kenaikan dan turunnya Roh Kudus bagi Gereja. Paskah dipersiapkan dengan masa persiapan (Pra-Paskah / Puasa) dan diikuti 50 hari sesudahnya (masa Paskah) yang berakhir pada hari Pentakosta.
Paskah bukan hanya mengenangkan peristiwa masa lalu saja, tetapi sebagai ungkapan kematian dan kebangkitan Kristus dengan hidup baru yang dibagikan kepada umat yang percaya kepada-Nya.
Di dalam liturgi Paskah diikuti dengan pembaptisan, ini mengungkapkan bahwa orang yang dibaptis bebas dari dosa dan bangkit dengan hidup baru dalam Kristus. Pakaian putih para baptisan sebagai simbol, bahwa mereka terbebas dari kegelapan dosa oleh Terang Kristus yang bangkit.
Liturgi sekarang diawali dengan perarakan Lilin Paskah dalam kegelapan sebagai simbol Kristus yang bangkit adalah terang dunia yang menghalau kematian dan kegelapan dosa, kemudian menyusul Exultet yang mengingatkan kita akan Allah yang membebaskan umat-Nya di masa lampau.
Upacara liturgi ini hanya diadakan seandainya tidak ada upacara liturgi pada Malam Paskah atau banyak umat yang belum mengikuti upacara liturgi Vigili Paskah.
Warna Liturgis adalah Putih, lambang Kemuliaan dan Kegembiraan. Perayaan Ekaristi sama dengan Hari Minggu.
Untuk kita renungkan :
Yesus bangkit untuk apa dan bagi siapa? Selamat bangkit bersama Kristus Jaya, seraya bernyanyi “Alleluia”.

Read more .....

YESUS YANG BANGKIT DAN MULIA


Kata Yesus kepadanya: "Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu." (Yoh 20:17). Sebelum kematian-Nya, Yesus tidak menolak perasaan-perasaan dan tindakan-tindakan Maria Magdalena yang penuh antusias. Sekarang tindakan tersebut yang ingin memiliki Gurunya yang tercinta sudah tidak pantas lagi.

Yesus sekarang adalah Dia yang telah bangkit, dan sekalipun Ia membiarkan dapat dilihat oleh murid-murid-Nya selama beberapa hari, murid-Nya harus melepaskan kehadiran fisik Yesus yang sudah membuat mereka betah. Sejak saat itu para pengikut-Nya atau saudara-saudara dan pencinta-pencinta Yesus akan memeluk Dia dengan cara yang rahasia dan lebih mengagumkan, ketika mereka diberi karunia-karunia doa dan iman. Pada saat itu roh yang kontemplatif, yang dilambangkan oleh Maria, boleh menikmati seluruh pribadi Kristus (Baru saja aku meninggalkan mereka, kutemui jantung hatiku; kupegang dan tak kulepaskan dia, sampai kubawa dia ke rumah ibuku, ke kamar orang yang melahirkan aku - Kid 3:4)
Aku belum pergi ke Bapa. Yesus menyatakan keinginan besar yang memenuhi seluruh hidup-Nya. Ia berasal dari Allah dan harus kembali kepada Bapa. Inilah “kasih terbesar di dunia”. Segala kasih yang Yesus tunjukkan kepada kita hanyalah suatu manifestasi dari kasih yang lain, karena Allah Bapa adalah sumber dan tujuan segala kasih itu.
Bukan kebetulan bahwa kata Tuhan sekali lagi diulang tujuh kali, yang terakhir kali oleh Thomas, ("Ya Tuhanku dan Allahku!" – Yoh 20:28) hal ini adalah ungkapan iman Gereja.
Mari kita perhatikan bahwa orang-orang yang telibat dalam peristiwa ini dahulu menyebut Yesus “Guru”, tetapi sekarang Yohanes membuat mereka menyebut-Nya Tuhan. Mengapa ? sejak awal mula Gereja, para orang beriman perlu mencari kata-kata untuk mengungkapkan iman mereka kepada Yesus, Putra Allah. Karena Yesus adalah Putra, Ia bukanlah pribadi yang sama dengan Allah, tetapi Ia satu dengan Allah. Bagaimana mengungkapkan situasi Ilahi ini ?
Dalam Kitab Suci, Allah diberi dua nama : Allah dan Yahweh. Pada waktu itu orang-orang Yahudi sudah tidak lagi menyebut nama Yahweh melainkan menyebut-Nya “Tuhan”, lagi pula dalam Kitab Suci yang berbahasa Yunani yang dipakai oleh para rasul dan Gereja, Yahweh diterjemahkan juga dengan istilah ”Tuhan”. Maka para rasul segera memutuskan mempertahankan istilah Allah apabila berbicara tentang Allah Bapa, dan menggunakan istilah “Tuhan” bagi Yesus, sehingga ditegaskan bahwa Yesus setara dengan Bapa.
Penampakan-penampakan Yesus yang telah bangkit kepada para murid-Nya selain membina harapan dan menjadikan mereka saksi-saksi yang layak tentang kebangkitan-Nya, juga diperlukan untuk pembinaan rohani mereka. Murid-murid itu perlu belajar mengenal Yesus tidak hanya lewat panca indera mereka, tetapi juga lewat iman. Demikian pula kita harus belajar mengenal dan mengikuti Yesus dalam terang iman yang diberikan kepada kita, yang meskipun dalam situasi suram pada saat kita mengalami kesepian dan kekeringan, maupun pada saat kita mengalami penghiburan, sehingga kita juga akan menjadi salah satu dari mereka yang terberkati oleh Yesus. Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” ( Yoh 20:29).
(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pastoral Katolik)

Read more .....

KEBANGKITAN YESUS DAN KAIN KAFAN


Pada hari kedua sesudah penguburan tampaknya Yesus hidup dan telah keluar dari kuburan. Kebangkitan terjadi pada hari pertama dalam pekan yang selanjutnya akan disebut Hari Tuhan atau Minggu.

Dalam Injil Lukas, setelah kebangkitan-Nya Yesus menolong murid-murid-Nya membaharui iman dan harapan mereka. Sebaliknya, di sini kita melihat orang-orang beriman yang dalam kesunyian mengkontemplasikan Tuhan yang telah bangkit. Kristus menampakkan Diri kepada Maria yang tidak mengenal Dia. Ketika Ia berdiri di tengah-tengah para murid-Nya, Yesus harus menunjukkan luka-luka-Nya untuk membuktikan bahwa Dialah sesungguhnya Yesus, Dia yang telah mati dan sekarang hidup lagi. Yesus berada di tengah-tengah mereka, tetapi penampilan-Nya seperti seorang yang tidak dikenal, dan tubuh-Nya yang telah diubah secara rohani memancarkan sinar kemenangan atas dosa dan maut.
Beberapa teks mencatat, Petrus adalah kepala para rasul sekaligus seorang saksi bahwa kubur sungguh kosong dan bahwa Yesus telah bangkit dari antara orang mati (Sungguhpun demikian Petrus bangun, lalu cepat-cepat pergi ke kubur itu. Ketika ia menjenguk ke dalam, ia melihat hanya kain kafan saja. Lalu ia pergi, dan ia bertanya dalam hatinya apa yang kiranya telah terjadi. – Luk 24:12)
Iman kita didukung pertama-tama oleh kesaksian para rasul dan khususnya oleh kesaksian KEPALA para rasul, yaitu Kefas yang disebut Petrus. (bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. – 1 Kor 15:5)
Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat dari pada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur. Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kafan terletak di tanah; akan tetapi ia tidak masuk ke dalam. Maka datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kafan terletak di tanah, sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kafan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung. Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya. (Yoh 20, 4-8)
Kain kafan adalah kain sepanjang empat meter yang diletakkan di bawah jenasah mulai dari kaki sampai ke kepala, lalu dilipat ke atas jenasah dari kepala sampai ke kaki lagi.
Kain yang mengikat kedua ujung kain kafan disebut juga kain kafan.
Muka orang yang mati dibungkus dengan kain tersendiri, yaitu kain peluh yang diikat di bawah dagu dan di atas kepala.
Kain kafan dan kain pengikat terletak di tempat jenasah dibaringkan, dan kain-kain itu terbentang rata, karena jenasah di dalamnya telah menghilang tanpa dibuka pengikatnya, kain peluh yang diikat tinggal seperti biasa di tempat lain. Tubuh duniawi itu telah menghilang, alias sudah bangkit berubah menjadi tubuh yang mulia. (Ada tubuh sorgawi dan ada tubuh duniawi, tetapi kemuliaan tubuh sorgawi lain dari pada kemuliaan tubuh duniawi. Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah. Jika ada tubuh alamiah, maka ada pula tubuh rohaniah. – 1 Kor 15:40-44)
Yesus tidak kembali kepada hidup di bumi ini dengan tubuh-Nya yang duniawi, maka apabila kita berbicara tentang tubuh Yesus yang bangkit, kita mengacu kepada sesuatu yang belum pernah kita alami di bumi ini.
Mereka yang telah bermimpi melihat Yesus sebenarnya hanya melihat gambaran Yesus dan tidak sungguh-sungguh melihat Dia, kecuali beberapa orang kudus yang agung.
(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pastoral Katolik)

Read more .....

MALAM PASKAH


Mengapa disebut demikian? Bagaimanakah data sejarah penunjang liturgi tersebut hingga kini dalam Gereja?
Malam Paskah berarti malam menjelang Hari Raya Paskah, tepatnya malam Minggu. Hari Sabtu itu dalam liturgi Gereja disebut “Sabtu Suci”. Malam Paskah disebut juga “Vigili Paskah”. Istilah “vigili” berasal dari bahasa Latin “Vigilis”, yang berarti “Berjaga-jaga, siap siaga”. Oleh karena itu, Vigili Paskah berarti berjaga bersama Yesus Kristus yang yang beralih dari kematian menuju kebangkitan.

Sesuai dengan penghayatan iman kristiani, maka peringatan akan kemenangan Kristus atas dosa dan maut, telah dimulai pada upacara liturgi Malam Paskah.
Pada abad ke 2, peringatan sengsara maupun kebangkitan Kristus dirayakan atas cara yang sederhana. Menurut penghayatan Gereja pada waktu itu, pada Malam Paskah, Yesus melewati pintu gerbang kematian menuju kehidupan.
Bacaan Kitab Suci yang diwartakan dan direnungkan adalah antara lain pernyataan Paulus : “Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebab kamu memang tidak beragi. Sebab Anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus” (1 Kor 5, 7)
Pada abad ke 3 ibadat Malam Paskah berlangsung pada malam hari. Pada malam itu pula diadakan upacara pembaptisan bagi para katekumen. Teks Injil Rom 6 tentang makna “mati dan bangkit bersama Kristus dan dua jenis perhambaan”, diwartakan dan direnungkan. Menurut data buku “Traditio Apostolica” (Sejarah Tradisi Para Rasul), yang dikarang oleh Hippolitus, maka Malam Paskah dan upacara pembaptisan berlangsung sampai ayam berkokok, dilanjutkan dengan perayaan ekaristi pada pagi hari.
Sejak abad ke 4, upacara Jumat Agung telah dipisahkan dari liturgi Malam Paskah dan Hari Raya Paskah. Malam Paskah merupakan rangkuman dari Triduum hari ketiga, berakhirnya masa puasa, namun tercipta saat rekonsiliasi, yang memuncak pada Hari Raya Paskah. Pada waktu itu, telah ditata bentuk litrugi Malam Paskah yang dikenal dengan upacara “Lilin Paskah” sebagai simbol Cahaya Kristus yang mengalahkan dosa dan maut. Tradisi tersebut berlangsung sampai abad ke 14, namun upacara cahaya diadakan pada pagi hari, sehingga simboliknya menghilang dari penghayatan iman umat.
Pada tahun 1951, abad ke 20, Paus Pius XII melalui dekritnya “Ad Vigiliam Paschalem” (tentang Vigili Paskah), tepatnya 9-Februari-1951, menetapkan bentuk upacara liturgi Malam Paskah yang dikenal hingga saat ini dalam liturgi Gereja.
Upacara liturgi terdiri dari 4 bagian, yaitu upacara cahaya, liturgi sabda, upacara pembatisan dan liturgi ekaristi. Dalam upacara cahaya, imam memberkati Api Baru di luar Gereja di depan pintu gerbang utama, menandai Lilin Paskah dengan tanda salib angka tahun yang bersangkutan, menancapkan 5 biji dupa simbol luka-luka Kristus, melingkari dua abjad Yunani yakni Alpha dan Omega (Awal dan Akhir). Lilin Paskah dinyalakan dari Api Baru. Diakon membawa Lilin Paskah tersebut (jika tidak ada diakon, berarti imam itu sendiri), tiga kali berhenti seraya menyanyikan “Lumen Christi” (Cahaya Kristus) di tengah kegelapan ruangan gereja, maka umat serentak menjawab “Deo Gratias” (Syukur kepada Allah), seraya menyalakan lilin-lilin yang dipegang dan berlutut tanda hormat ke arah lilin utama tersebut.
Jika sudah tiba di panti imam, maka lampu-lampu dinyalakan, dilanjutkan dengan “Exultet” (Madah Pujian Paskah) oleh diakon atau oleh imam. Menyusul liturgi sabda dengan sembilan kutipan teks Kitab Suci Perjanjian Lama dan Baru. Setiap bacaan diselingi dengan lagu dan doa singkat dalam suasana hening. Tersedia tujuh bacaan Kitab Suci Perjanjian Lama, tiga kutipan wajib yakni Kisah Penciptaan, Kisah Pengorbanan Ishak dan Penyeberangan Laut Merah. Sedangkan empat bacaan lainnya diambil dari kutipan Kitab Para Nabi, namun sifatnya fakultatif.
Bacaan Kitab Suci Perjanjian Baru, diambil dari Rom 6, 3-11, menyusul madah pujian “Alleluia”, dilanjutkan dengan kutipan Injil mengenai peristiwa Kebangkitan menurut kalender tahun liturgi yang bersangkutan.
Sesudah homili singkat, dilanjutkan dengan upacara pemberkatan air baptis dan air suci, yang diawali dengan “Litani Para Kudus”. Jika ada katekumen yang telah siap untuk dibaptis, maka diterimakan “Sakramen Permandian” dan Krisma jika upacara liturgi dipimpin oleh seorang Uskup.
Sesudah pembaharuan janji baptis dalam bentuk tanya jawab antara imam dan umat, maka umat diperciki dengan Air Suci, sesudahnya dilanjutkan dengan liturgi ekaristi. Jika ada neobaptis, maka akan menerima Komuni Pertama.
Ternyatalah bahwa liturgi Malam Paskah mengandung unsur-unsur yang sama dengan tradisi yang hidup dan berkembang dari jaman ke jaman, dari generasi ke generasi hingga kini. Teristimewa setelah adanya penataan kembali “Upacara Vigili Paskah” pada tahun 1951, masih terlihat dan terasa dampaknya terhadap upacara liturgi Malam Paskah sebagaimana terdapat dalam “Missale Romanum”, dengan struktur dasarnya yang tebagi atas :
· Upacara Cahaya : Pemberkatan Api, pemberkatan lilin, perarakan dan pujian Paskah.
· Liturgi Sabda : Bacaan Kitab Suci Perjanjian Lama dan Baru
· Liturgi Pembaptisan : Pemberkatan Air Baptis, pembaptisan, pemberkatan Air Suci, pembaharuan janji baptis.
· Liturgi Ekaristi : warna liturgi adalah putih, upacara liturgi berlangsung sore atau malam hari.
(Bacaan 1 : Kej 1:1,26-31a Bacaan 2 : Kej 22:1-2,9a,10-13,15-18 Bacaan 3 : Kel 14:15–15:1 Bacaan 4 : Yes 54:5-14 Bacaan 5 : 55:1-11 Bacaan 6 : Bar 3:9-15,32-4:4 Bacaan 7 : Yeh 36:16-17a,18-28 Epistola : Rm 6:3-11
Injil A : Mat 28:1-10 Injil B : Mrk 16:1-7 Injil C : Luk 24:1-12)
Untuk kita renungkan :
Pada Malam Paskah, Yesus Kristus Tuhan kita beralih dari kematian menuju kepada hidup. Kita memperoleh hidup baru lewat Air Sakramen Permandian atau Baptisan. Kita memperoleh pemahaman baru mengenai hidup lewat Terang Kristus melalui simbolik Lilin Paskah.

Read more .....

YESUS KRISTUS RAJA DI HADAPAN PILATUS


Jawab Yesus: "Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini." (Yoh 18:36). Dalam Injil kata kerajaan, yaitu negeri yang dikuasai oleh seorang raja; kekuasaan, yaitu pemerintahan raja; Kerajaan, yaitu martabat dan kuasa seorang raja.

Dalam jawaban Yesus kepada Pilatus, arti yang diberikan kepada kata itu bukan kerajaan, melainkan Kerajaan, yaitu kuasa seorang raja.
Apapun juga artinya, kelirulah kalau kita mengartikan kata-kata Yesus sebagai berikut : “Kerajaan-Ku berada di dunia lain, maka soal-soal sosial dan politik di dunia ini tidak penting bagi-Ku” dan mengira bahwa Yesus datang untuk memberikan keselamatan rohani, secara individu kepada jiwa-jiwa yang percaya.
Demikian pula, kelirulah kalau kita mengartikan kata-kata : Engkau tidak mempunyai kuasa apapun terhadap Aku, jikalau kuasa itu tidak diberikan kepadamu dari atas, bahwa seolah-olah para penguasa menerima kuasa mereka langsung dari Allah dan tak seorangpun boleh mengambil langkah-langkah untuk menggantikan mereka dengan orang lain yang tidak begitu korup, atau dengan orang yang lebih adil, atau juga dengan orang yang lebih mampu. (Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah. - Rm 13:1)
Yesus dengan tangan terikat, “bertindak” sebagai raja di hadapan gubernur Pilatus yang menjadi tawanan dari jabatan dan ambisinya sendiri. Yesus bukanlah seorang raja yang sama seperti mereka yang berasal dari dunia ini, karena Ia tidak memperlihatkan kuasa seperti yang sudah biasa ditaati oleh banyak orang. Yesus raja orang-orang Yahudi, tidak datang untuk menghidupkan kembali kerajaan Yahudi, tetapi untuk mendirikan Kerajaan Kebenaran, yang dijanjikan Allah kepada mereka selama berabad-abad.
Namun kebenaran tidak menang dengan menggunakan senjata, tetapi dengan kesaksian mereka yang hidup menurut kebenaran. Saksi-saksi kebenaran sering dianiaya, tetapi mereka sendiri tidak menganiaya orang lain.
Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini. Yesus berbeda dengan penguasa-penguasa lain yang telah memperoleh kedudukan mereka lewat kekerasan atau telah memenangkannya dalam suatu pemilihan, Yesus beda karena Ia telah diutus dan diurapi oleh Bapa.
Pilatus, di lain pihak telah diangkat oleh Kaisar Roma dan karirnya tergantung pada ambisinya maupun pada beberapa pelindung kekuasaannya. Bagaimana orang seperti dia bisa memiliki kuasa atas Putra Allah dan menyuruh orang untuk menyalibkan Dia karena takut kepada rakyat, kalau bukan untuk memenuhi suatu dekrit dari Atas ? Sesungguhnya, bahkan tidak seekorpun burung pipit yang jatuh ke tanah tanpa diijinkan olah Bapa.
Allah tidak akan mengijinkan manusia untuk menghancurkan nasib Putra-Nya. Ia sungguh menaruh perhatian kepada kita masing-masing sehingga ketidak-adilan pun yang diperbuat terhadap kita, dapat berguna untuk rencana-rencana-Nya bagi kepentingan kita. Karena nasib kita tergantung sekaligus pada Allah dan penguasa-penguasa duniawi, kita harus percaya bahwa Ia memanfaatkan keputusan-keputusan duniawi mereka untuk melaksanakan rencana-rencana-Nya, sekalipun kuasa mereka itu dari dunia, yang berarti dapat dipertanyakan keabsahan kuasa mereka.
Pilatus terpaksa menghukum Yesus, karena ia telah menindas dan tanpa malu mengeksploitasi orang-orang Yahudi, ia takut nanti mereka mengadukan dia kepada Kaisar mengenai segala perbuatannya. Tetap baginya menghukum Yesus tidak lebih dari pada menghukum mati seorang Yahudi lagi, ia tidak memikul seluruh kesalahan, karena pengadilan seperti itu adalah buah dari sistem kolonial Roma.
Kayafas, Imam Agung Allah yang terurapi, sebaliknya tidak bisa menghukum Yesus tanpa dengan tahu dan mau memfitnah perbuatan-perbuatan-Nya dan perkataan-Nya, maka dosanya lebih besar (Yesus menjawab: "Engkau tidak mempunyai kuasa apa pun terhadap Aku, jikalau kuasa itu tidak diberikan kepadamu dari atas. Sebab itu: dia, yang menyerahkan Aku kepadamu, lebih besar dosanya." – Yoh 19:11)
Maka berteriaklah mereka: "Enyahkan Dia! Enyahkan Dia! Salibkan Dia!" Kata Pilatus kepada mereka: "Haruskah aku menyalibkan rajamu?" Jawab imam-imam kepala: "Kami tidak mempunyai raja selain dari pada Kaisar!" (Yoh 19:15). Demikianlah teriakan dari masa yang disulut oleh pemimpin-pemimpin mereka, sekalipun mereka membenci orang-orang Romawi dan Kaisar mereka. Sesungguhnya, beberapa tahun kemudian orang-orang Yahudi tidak memiliki raja lain selain Kaisar, dan raja ini akan menghancurkan mereka.
Pilatus sebenarnya ingin menyelamatkan hidup dari tahanannya ketika ia mempertontonkan Dia dalam kondisi-Nya yang terluka dan tersiksa. Namun siasatnya membuahkan kebalikannya (Sejak itu Pilatus berusaha untuk membebaskan Dia, tetapi orang-orang Yahudi berteriak: "Jikalau engkau membebaskan Dia, engkau bukanlah sahabat Kaisar. Setiap orang yang menganggap dirinya sebagai raja, ia melawan Kaisar." – Yoh 19:12)
(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pastoral Katolik)

Read more .....

ANAK DOMBA PASKAH


Para leluhur Ibrani, ketika mereka masih mengembara dengan kawanan-kawanan mereka sebelum mereka tinggal di Mesir, mereka merayakan Paskah Anak Domba, yang merupakan pesta tradisional para gembala. Mereka mengorbankannya pada bulan pertama pada musim semi, suatu masa kritis bagi biri-biri betina yang baru beranak.

Anak domba yang dipisahkan untuk pesta disimpan selama beberapa hari di tempat orang tinggal, supaya anak domba itu lebih bersatu dengan keluarga dan membawa dosa-dosa dari semua anggota keluarga. Kemudian, kemah-kemah direciki dengan darahnya untuk menghalau roh-roh jahat yang mengancam manusia dan hewan.
Arti pesta kuno ini telah berubah, Allah menghendaki Paskah dirayakan pada peristiwa bangsa Israel keluar dari Mesir, pesta itu akan selalu ada untuk mengingatkan Israel akan pembebasannya.
Dengan menyelamatkan anak-anak sulung dari Israel, Allah sekali lagi menyatakan secara resmi penolakan-Nya terhadap kurban manusia (Lalu Ia berfirman: "Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku." - Kej 22:12), karena pada jaman dulu di Timur Tengah ada kebiasaan mengorbankan manusia (Kemudian ia mengambil anaknya yang sulung yang akan menjadi raja menggantikan dia, lalu mempersembahkannya sebagai korban bakaran di atas pagar tembok. - 2 Raj 3:27) & (Ia menajiskan juga Tofet yang ada di lembah Ben-Hinom, supaya jangan orang mempersembahkan anak-anaknya sebagai korban dalam api untuk dewa Molokh - 2 Raj 23:10)
Anak sulung dari umat-Nya adalah milik-Nya ("Kuduskanlah bagi-Ku semua anak sulung, semua yang lahir terdahulu dari kandungan pada orang Israel, baik pada manusia maupun pada hewan; Akulah yang empunya mereka." - Kel 13:2) demikian juga anak sulung dari binatang-binatang dan hasil pertama dari bumi (maka haruslah engkau membawa hasil pertama dari bumi yang telah kaukumpulkan dari tanahmu yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, dan haruslah engkau menaruhnya dalam bakul, kemudian pergi ke tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, untuk membuat nama-Nya diam di sana. - Ul 26:2), tetapi berhubung Allah telah menyelamatkan anak-anak sulung Israel ketika mereka meninggalkan Mesir, setiap anak sulung di Israel haruslah “ditebus”, bukannya dikurbankan (Tetapi mengenai manusia, setiap anak sulung di antara anak-anakmu lelaki, haruslah kautebus - Kel 13:13).
Sejak saat itu keluarga-keluarga Israel akan menganggap anak sulung mereka sebagai milik Tuhan dan dipersembahkan kepada-Nya (Kel 13:2) karena mereka telah diselamatkan dari bencana.
Menurut hukum ini, Yesus anak sulung Maria, juga dipersembahkan di Bait Allah kemudian ditebus kembali dengan sepasang burung merpati (Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah", dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati. - Luk 2:22-24).
Pesta yang berasal dari suatu pesta kafir “diubah” menjadi suatu pesta yang mempunyai “arti baru”, darah anak domba memeteraikan perjanjian Tuhan dengan umat yang telah dipilih-Nya dari bangsa-bangsa lain. Mulai saat itu, Paskah akan menjadi pesta kemerdekaan bangsa Israel.
Pada pesta Paskah, Allah membiarkan Yesus mati dan bangkit dalam hari-hari Paskah. Kematian Yesus memeteraikan Perjanjian Baru antara Allah dan umat manusia (Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan sesudah makan; Ia berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu. - Luk 22:20), setiap Perayaan Misa berakar pada kematian dan kebangkitan Kristus “Anak Domba Allah.
(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pastoral Katholik)

Read more .....

JUMAT AGUNG


Mengapa disebut demikian ? Sejak kapan dirayakan dalam Liturgi Gereja ?
Pada awal kekristenan, khususnya pada abad pertama perhatian umat terarah kepada misteri Paska, bukan tertuju kepada misteri sengsara pada wafat Yesus. Namun demikian sejak abad ke 2 telah hidup tradisi “Menjaga Makam Yesus” selama 40 jam.

Pada abad ke 3, kemudian berlangsung hingga abad ke 6, ibadat Jumat Agung di Roma sangat sederhana, hanya terdiri dari bacaan-bacaan Kitab Suci dan doa-doa. Namun pada waktu itu Gereja telah menetapkan peraturan pantang dan puasa untuk umat, sehingga umat dapat mengambil bagian dari Sengsara Yesus.
Liturgi Jumat Agung yang antara lain terdiri dari “penyembahan salib” adalah tradisi umat kristiani di Yerusalem sejak abad ke 4. Pada hari itu, sejak pagi hari umat sudah berangkat menuju bukit Kalvari untuk mendengarkan Kisah Sengsara dan untuk mencium relikwi, yang diyakini sebagai salah satu bagian kecil Salib Yesus. Pada pukul 3 sore, mereka berkumpul kembali untuk mendengarkan nubuat-nubuat para nabi Perjanjian Lama, sebagaimana tercantum dalam Kitab Suci dan mendaraskan Mazmur-mazmur yang ada kaitannya dengan kisah sengsara.
Pada abad ke 7 tradisi tersebut mulai dipraktekkan di Roma. Sementara Mazmur 118 dinyanyikan, relikwi salib suci diarak dalam suatu prosesi dalam Basilik “Salib Suci”. Pada saat itu pula dinyanyikan “Ecce Lignum” (lihatlah Kayu Salib). Inti upacara Jumat Agung adalah perarakan salib suci dan penghormatan terhadap Salib Yesus.
Sejak semula tidak ada perayaan ekaristi, namun demikian imam dan umat yang hadir dapat menerima komuni kudus yang berasal dari sisa komuni kudus pada hari Kamis Putih sehari sebelumnya.
Liturgi Jumat Agung pada abad pertengahan terdiri dari liturgi sabda, yakni bacaan Kitab Suci dan doa, upacara penyembahan salib dan upacara komuni kudus tanpa misa.
Pada abad ke 16, muncul praktek ‘meditasi terhadap Jalab Salib’ dengan merenungkan kata-kata terakhir Yesus di atas kayu salib, “Bapa, kedalam tangan-Mu, Kuserahkan Roh-Ku”. Upacara liturginya berlangsung selama kurang lebih 3 jam yang terdiri dari liturgi sabda, penyembahan salib, dan komuni kudus. Liturgi sabda terbagi atas bagian bacaan Kitab Suci, doa umat meriah, dan diselingi dengan madah pujian. Kurang lebih empat abad lamanya, model liturgi dalam gereja berlangsung demikian.
Pada abad ke 20, sejak tahun 1955, dengan adanya pembaharauan dan penataan liturgi gerejani oleh Paus Pius XII, maka litrugi Jumat Agung meliputi liturgi sabda, doa umat meriah, penyembahan salib, dan komuni kudus. Pada bagian liturgi sabda, dikutip dua teks Kitab Suci Perjanjian Lama, masing-masing Hos 6:1-6 dan Kel 12:1-11 , demikian pula dibacakan atau bila perlu dinyanyikan “Kisah Sengsara Tuhan”, menurut penginjil Yohanes. Doa umat meriah dinyanyikan dengan intensi demi kepentingan seluruh Gereja yang kudus. Pada upacara penyembahan salib, kain penutup salib yang berwarna ungu dibuka dalam tiga tahap dan setiap kali imam menyanyikan “Ecce Lignum”, sedangkan umat menjawab “Venite Adoremus” lalu berlutut menghadap salib. Sementara umat dengan tertib mencium salib, koor menyanyikan “Improperia” dan “Pange Lingua Gloriosi”. Dilanjutkan dengan komuni kudus yang diiringi dengan nyanyian Mazmur 22.
Pada tahun 1970, dikeluarkan instruksi tentang Liturgi Jumat Agung, terbagi atas 3 baigan utama, yakni Ibadat Sabda yang didahului saat hening di mana imam meniarap, Penyembahan Salib dan Komuni Kudus, Warna Liturgi adalah merah. Upacara liturgi berlangsung sesudah siang hari. Pada umumnya tepat pukul 15.00. Bacaan I : Yes 52:13 – 53:12 Bacaan II : Ibr 4:14-16 ; 5:7-9 Bacaan Injil : Yoh 18:1 – 19:42
Untuk kita renungkan :
Di kayu salib, Yesus merelakan hidup-Nya agar kita selamat. Bersediakah kita umat-Nya mengorbankan diri agar orang lain selamat ? Semoga Yesus tidak disalibkan lagi setiap hari, karena setiap saat kita menyalibkan sesama kita. Dalam Jumat Agung, kita mengucapkan “Selamat Bersama Kristus”.

Read more .....

SEBELUM AYAM BERKOKOK, PETRUS MENYANGKAL YESUS


Sesudah mereka menyanyikan nyanyian pujian, pergilah mereka ke Bukit Zaitun. Lalu Yesus berkata kepada mereka: "Kamu semua akan tergoncang imanmu. Sebab ada tertulis: Aku akan memukul gembala dan domba-domba itu akan tercerai-berai. Akan tetapi sesudah Aku bangkit, Aku akan mendahului kamu ke Galilea." Kata Petrus kepada-Nya: "Biarpun mereka semua tergoncang imannya, aku tidak."

Lalu kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada hari ini, malam ini juga, sebelum ayam berkokok dua kali, engkau telah menyangkal Aku tiga kali." Tetapi dengan lebih bersungguh-sungguh Petrus berkata: "Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau." Semua yang lain pun berkata demikian juga. (Mrk 14:26-31)
Para rasul bukanlah orang yang tidak berkepribadian atau berkeberanian, seandainya tidak, Yesus tidak akan memilih mereka. Petrus tulus ikhlas ketika ia mengatakan : “Sekalipun semua mereka meninggalkan Engkau, aku tidak.” Mereka semua rela mati bagi Yesus, seperti juga dikatakan oleh orang-orang yang penuh antusiasme dalam peperangan, tetapi apa yang sesungguhnya terjadi lain sama sekali. Ketika Yesus ditangkap, para rasul menjadi bingung, karena Yesus tidak menunjukkan kuasa Ilahi-Nya dan tidak melawan sama sekali. Kita keliru kalau kita mengatakan bahwa para rasul adalah pengecut sebelum mereka menerima Roh Kudus.
Reaksi mereka terhadap penangkapan Yesus adalah reaksi yang biasa sekali, melarikan diri, tetapi melarikan diri itu mengguncang seluruh dasar iman mereka karena mereka sudah hidup dengan Yesus setiap hari selama dua tahun. Petrus sendiri menyangkal Yesus bukan hanya karena ia takut, melainkan karena ia belum mengenal siapakah Yesus itu sesungguhnya.
Penyangkalan Petrus, juga adalah kejatuhan yang sungguh serius, sekalipun Allah mengampuni dosanya pada saat mata Petrus bertemu mata Yesus, dan Petrus langsung bertobat (Lalu berpalinglah Tuhan memandang Petrus. Maka teringatlah Petrus bahwa Tuhan telah berkata kepadanya: "Sebelum ayam berkokok pada hari ini, engkau telah tiga kali menyangkal Aku." Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya. - Luk 22:61-62). Tetapi kegagalan ini akan memaksa dia, sampai akhir hayatnya, untuk tidak lagi mengandalkan kekuatannya sendiri. Petrus, yang adalah batu wadas dan penanggung jawab atas Gereja Universal, akan selalu sadar dengan kelemahan pribadinya dan tidak akan menemukan kedamaian sampai ia mengikuti Yesus dengan menyerahkan nyawanya demi Dia (Aku berkata kepadamu: “Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki." Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: "Ikutlah Aku." - Yoh 21:18-19)
Penyangkalan Petrus ini, juga sangat mengherankan. Sahabatnya Yohanes dikenal baik di rumah Imam Agung, dan Petrus diperkenalkan sebagai sahabatnya (tetapi Petrus tinggal di luar dekat pintu. Maka murid lain tadi, yang mengenal Imam Besar, kembali ke luar, bercakap-cakap dengan perempuan penjaga pintu lalu membawa Petrus masuk. - Yoh 18:16). Gadis itu tahu dengan baik siapakah Yohanes dan tidak berkata apa-apa selain suatu kata ironis kepada Petrus. Tak seorangpun mengancam Petrus (Sementara itu hamba-hamba dan penjaga-penjaga Bait Allah telah memasang api arang, sebab hawa dingin waktu itu, dan mereka berdiri berdiang di situ. Juga Petrus berdiri berdiang bersama-sama dengan mereka. – Yoh 18:18), apa lagi laki-laki yang ada di sana, mereka hanya mengolok-olok dia karena lafalnya menunjukkan dengan jelas sekali bahwa ia seorang yang berasal dari Galilea, aksennya sama dengan aksen Yesus (Tidak lama kemudian orang-orang yang ada di situ datang kepada Petrus dan berkata: "Pasti engkau juga salah seorang dari mereka, itu nyata dari bahasamu." – Mat 26:73). Tetapi olokan mereka cukup menggoncangkan hati Petrus sehingga ia kehilangan kontrol diri. (Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah: "Aku tidak kenal orang itu." Dan pada saat itu berkokoklah ayam. – Mat 26:74).
Petrus percaya bahwa karena ia adalah kepala, ia akan lebih kuat dari pada yang lain. Yesus, di pihak lain, melihat misi Petrus yang akan datang, meskipun Petrus pernah jatuh, Yesus memberikan kepadanya rahmat khusus supaya ia dapat memperkuat yang lain (Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu. - Luk 22:31-32). Demikianlah cara Yesus mengerjakan segala sesuatu, Ia menyelamatkan apa yang hilang dan sesudah melihat kelemahan yang tak tersembuhkan dalam kodrat manusia Petrus, Ia menggunakan Petrus untuk memberikan kepada Gereja-Nya suatu stabilitas yang tak pernah dipikirkan oleh masyarakat manapun. Memang, kelangsungan hidup Gereja selama berabad-abad, sebagian besar, karena jasa para paus, yaitu pengganti-pengganti Petrus.
(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pastoral Katolik)

Read more .....