5/20/2015
PAULUS DI EFESUS
1/14/2015
MISTERI DAMSYIK
- Kasih Yesus
6/11/2014
MISI PERTAMA RASUL PAULUS
Karya pewartaan pertama ini dimulai dengan cara yang masih sederhana. Orang Yahudi dapat menjalajahi wilayah kekaisaran Roma, di setiap kota penting mereka menemukan orang-orang Yahudi yang berdagang dan hidup dalam persekutuan dalam sinagoga-sinagoga. Dari Antiokia, Barnabas dan Saulus berlayar ke pulau Siprus, ke kota kelahiran Barnabas (Oleh karena disuruh Roh Kudus, Barnabas dan Saulus berangkat ke Seleukia, dan dari situ mereka berlayar ke Siprus – Kis 13:4).
Pertemuan dengan Sergius Paulus mempunyai nilai penting (Ia-[Baryesus] adalah kawan gubernur pulau itu, Sergius Paulus, yang adalah orang cerdas. Gubernur itu memanggil Barnabas dan Saulus, karena ia ingin mendengar firman Allah – Kis 13:7), Injil tidak hanya meyakinkan orang-orang sederhana, melainkan juga mereka yang berkuasa. Paulus menyadari bahwa ia harus memberi kesaksian di hadapan “para raja dan penguasa” (Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan." - Luk 12:12). Karunia kenabian dari Saulus mulai tampak, ketika dia bertemu dengan Sergius Paulus (Sekarang, lihatlah, tangan Tuhan datang menimpa engkau, dan engkau menjadi buta, beberapa hari lamanya engkau tidak dapat melihat matahari." Dan seketika itu juga orang itu merasa diliputi kabut dan gelap, dan sambil meraba-raba ia harus mencari orang untuk menuntun dia. Melihat apa yang telah terjadi itu, percayalah gubernur itu; ia takjub oleh ajaran Tuhan – Kis 13:11-12). Mulai saat itu, Kitab Kisah Para Rasul tidak lagi berbicara mengenai Saulus, tetapi Paulus. Apakah gubernur memberi kuasa kepadanya untuk menggunakan nama keluarganya ? Bagi Paulus, yang sudah warga negara Roma (Kis 16:37), merupakan suatu langkah lebih jauh, untuk masuk dalam dunia bukan Yahudi.
Sekali tugas misi mulai, Paulus menjadi pemimpin. Mereka tidak menetap di Siprus, mereka meninggalkan kaum beriman di situ yang telah dibina secara singkat. Ketika mereka tiba di daratan Perga, wilayah yang tidak ramah, Yohanes Markus meninggalkan mereka. Rupanya rencana Paulus yang begitu berani menakutkan dia, mereka malalui rangkaian gunung dari Turki (sekarang) dan selanjutnya meneruskan perjalanan ke ibu kota Pisidia yakni Antiokia (berbeda dengan Antiokia yang lain). Lukas menguraikan secara rinci kejadian-kejadian di Antiokia – Pisidia, karena menggambarkan situasi yang khas yang akan dihadapi Paulus di berbagai bagian kekaisaran Roma.
Paulus berbicara pada pertemuan hari Sabat di dalam Sinagoga (rumah doa orang Yahudi). Dalam ibadat itu didaraskan mazmur dan dibacakan Kitab Suci (yang diambil dari Perjanjian Lama). Lalu seseorang atau beberapa pemimpin memberi penjelasan. Karena Paulus seorang tamu, maka untuk menghormatinya mereka minta dia untuk berbicara.
Khotbah Paulus, yang lebih banyak berhubungan dengan sejarah Israel, tidak begitu menarik bagi kita sekarang seperti halnya khotbah Petrus (Kis 2) dan Stefanus (Kis 7). Tetapi inilah cara berkhotbah menurut orang Yahudi dan bagi semua perantauan, tidak ada yang lebih menarik dari pada kaum perantauan, mereka diingatkan kembali tentang sejarah masa lalu yang telah mereka hafal untuk memberikan jati diri bagi mereka di antara orang lain. Demikian Paulus menampilkan kembali sejarah itu, menekankan kenyataan-kenyataan yang memberi arti dan secara jelas mengarah kepada Kristus. Paulus menunjukkan bahwa Injil Allah kepada Israel telah terpenuhi dalam kebangkitan Kristus (Dan kami sekarang memberitakan kabar kesukaan kepada kamu, yaitu bahwa janji yang diberikan kepada nenek moyang kita, telah digenapi Allah kepada kita, keturunan mereka, dengan membangkitkan Yesus, seperti yang ada tertulis dalam mazmur kedua: Anak-Ku Engkau! Aku telah memperanakkan Engkau pada hari ini – Kis 13:32-33).
Di sini kita mempunyai sebuah cara memahami Injil yang tidak boleh kita tinggalkan, perlu kita pahami bahwa iman Yahudi dan kemudian iman Kristiani berkaitan dengan ‘sejarah’. Ini berarti bahwa Allah telah diwahyukan melalui sejarah. Iman kita bukan sebuah doktrin yang dikembangkan oleh para pemikir, bukan pula muncul dari suatu legenda. Hal itu juga berarti bahwa kebangkitan Yesus menandakan suatu titik tolak baru untuk semua sejarah umat manusia dan setiap perjalanan waktu yang menunjuk kepada akhir, di mana akan ada penghakiman dan Kerajaan Allah. Kita tidak bisa mengatakan bahwa suatu doktrin itu selalu benar, tetapi kita harus menunjukkan bagaimana Injil itu merupakan suatu kekuatan yang hidup dan bagaimana Roh Allah itu berkarya dalam setiap peristiwa.
Para pendengar Paulus memberi reaksi dengan berbagai cara. Mereka yang mendengarkan bukan semuanya orang Yahudi, tetapi ada juga orang “yang takut akan Tuhan” atau “dari kepercayaan lain”, seperti yang telah kita jumpai dalam diri orang Etiopia (Adalah seorang Etiopia, seorang sida-sida, pembesar dan kepala perbendaharaan Sri Kandake, ratu negeri Etiopia, yang pergi ke Yerusalem untuk beribadah. Sekarang orang itu sedang dalam perjalanan pulang dan duduk dalam keretanya sambil membaca kitab nabi Yesaya. – Kis 8:27-28) dan Kornelius (Ketika Petrus masuk, datanglah Kornelius menyambutnya, dan sambil tersungkur di depan kakinya, ia menyembah Petrus – Kis 10:25), mereka ini dianggap kaum beriman kelas dua oleh orang Yahudi.
Pada kata-kata pendahuluannya Paulus menyapa mereka semua seperti ia menyapa orang-orang Yahudi. Selanjutnya dalam khotbahnya ia tidak menekankan ketaatan pada hukum Taurat yang hanya berlaku bagi orang-orang Yahudi yang membuat mereka merasa lebih tinggi dari orang lain, melainkan ia menegaskan bahwa hukum Taurat berada di bawahnya. Ia mengutamakan janji Allah kepada semua orang. Mereka ‘yang takut akan Tuhan’ merasa gembira oleh Injil yang menjadikan mereka anak-anak Allah sama seperti orang-orang Yahudi.
Mereka mengundang Paulus untuk berbicara mengenai pokok yang sama pada hari Sabat berikutnya. Pada saat itu Paulus membuat suatu keputusan penting, dari pada membatasi diri bertemu orang-orang Yahudi, selama minggu itu ia lebih suka pergi kepada mereka yang ‘takut kepada Tuhan’ , yakni mereka yang telah ia pengaruhi karena ia tidak pilih-pilih suku. Mereka inilah yang mengumpulkan orang-orang lain untuk pertemuan hari Sabat berikutnya, orang-orang kafir yang dulu tidak pernah bergabung dengan orang-orang Yahudi, sekarang mau bergabung dengannya.
Krisis mulai terjadi, pertemuan itu terbagi menjadi dua kelompok, kelompok Yahudi yang sangat tertutup dan angkuh merasa takut ketika dikelilingi oleh orang-orang kafir yang ‘tidak bersih’, mereka menentang Paulus dan berusaha mengusir Paulus keluar setiap ada kesempatan. Wanita-wanita yang kaya dan saleh berada di antara kelompok ini. Sejak dari itu terbentuklah sebuah jemaat Kristen yang memisahkan diri dari kelompok Yahudi (Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen – Kis 11:26).
Apakah peristiwa ini masih aktual untuk umat sekarang ? Jika Gereja kita kurang mengalami krisis, itu mungkin disebabkan rasul masih sedikit seperti pada masa Paulus dan kita belum memperoleh kunjungan dari seseorang yang akan didengar di balik tembok kita.
Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya (Kis 13:48). Ayat ini tidak bermaksud menghukum mereka yang tidak percaya, tetapi mau mengungkapkan bahwa beriman adalah suatu karunia bagi mereka yang percaya, Allah menyatu dengan hidup mereka dan menjadikan mereka pembawa berita mengenai hidup Ilahi yang akan mengubah dunia (Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. - Yoh 17:3)
Read more .....
PAULUS UTUSAN YESUS

SIAPAKAH BARNABAS BAGI PAULUS ?
Seorang yang penting sekali, sesudah Ananias, Barnabaslah orang yang paling berjasa bagi Paulus. Kepada Ananias Paulus berhutang budi bagi langkahnya yang pertama untuk masuk dan diterima dalam jamaah, tetapi sesudah itu Paulus berhutang budi kepada Barnabas untuk segalanya.
Bagi Paulus, Barnabas adalah tokoh yang mencarinya, yang mengertinya dan mendukungnya. Ia adalah sahabatnya, bapa rohaninya, gurunya dalam kerasulan, tokoh yang mengantarnya ke dalam pengalaman kerasulan.
Marilah kita melihat beberapa teks. Sesudah lari dari Damsyik, Saulus pergi ke Yerusalem, ia “mencoba menggabungkan diri kepada murid-murid, tetapi semuanya takut kepadanya, karena mereka tidak dapat percaya, bahwa ia juga seorang murid”. (Kis 9: 26)
Kecurigaan, yang tadinya ada antara Yerusalem dan Antiokhia, waktu itu di Yerusalem ditujukan kepada pendatang baru, itu yang tidak diketahui apa maunya.
Teksnya dilanjutkan : “Tetapi Barnabas menerima dia dan membawanya kepada rasul-rasul dan menceritakan kepada mereka, bagaimana Saulus melihat Tuhan di tengah jalan dan bahwa Tuhan berbicara dengan dia dan bagaimana keberaniannya mengajar di Damsyik dalam nama Yesus”. (Kis 9: 27)
Betapa bagusnya jika kita dapat menafsirkan teks tersebut kata demi kata, “Barnabas menerima dia”. Kata kerja Yunani yang dipakai berbunyi “epilabomenos”, sama dengan kata kerja yang dipakai untuk melukiskan Yesus yang memegang tangan Petrus yang nyaris tenggelam di danau karena tiupan angin (Mat 14: 31). Kita dapat menggambarkan Paulus sedang kebingungan di Yerusalem, semua orang menutup pintu terhadapnya, tak ada tempat, bahkan hanya untuk tidurpun tidak ada. Barnabas mengulurkan tangan dan berkata kepadanya : ”Datanglah bersamaku, aku menemani engkau, aku memperkenalkan engkau”.
Melalui Barnabas, terbukalah pintu-pintunya bagi Paulus, diceritakan dalam Kisah : “Dan Saulus tetap bersama-sama dengan mereka di Yerusalem, dan dengan keberanian mengajar dalam nama Tuhan”. (Kis 9: 28)
Juga selanjutnya, ketika dibicarakan hal jemaah di Antiokhia, Barnabas disebutkan sebagai yang pertama di antara para nabi. “Pada waktu itu dalam jamaah di Antiokhia ada beberapa nabi dan penajar, yaitu : Barnabas dan Simeon yang disebut Niger, dan Lukius orang Kirene, dan Menahem yang diasuh bersama dengan raja wilayah Herodes, dan Saulus” (Kis 13: 1). Jadi umat di Antiokhia mengakui para nabi, yang disebutkan pertama adalah Barnabas dan Saulus disebutkan yang terakhir. Kita memang tahu mengapa begitu, “Lalu pergilah Barnabas ke Tarsus untuk mencari Saulus; dan setelah bertemu dengan dia, ia membawanya ke Antiokhia. Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaah itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen” (Kis 11: 25-26)
Di balik ayat itu tampaklah adanya kerja sama yang mengagumkan antara Barnabas dan Paulus. Barnabas adalah yang pertama di antara para nabi, Paulus adalah pendatang terakhir. Tetapi Barnabas mampu menilai mutu Paulus, Barnabas mengantarnya memasuki kegiatan yang akan menjadi paling berbuah dalam seluruh Gereja kuno; kegiatan yang melahirkan kekristenan yang begitu besar dampaknya, sehingga menyebabkan timbulnya sebutan “Kristen”. Sungguh suatu jemaah yang mulai dikenal benar-benar di dalam sejarah. Itulah semua arti Barnabas bagi Paulus.
Barnabas juga orang yang pertama yang dipilih oleh Roh untuk perutusan, dilukiskan permulaan perutusan yang kemudian akan menjadi perutusan besar kepada kaum kafir : “Pada suatu hari ketika berpuasa, berkatalah Roh Kudus : Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka” (Kis 13: 2) Barnabas adalah orang yang pertama dan Saulus digabungkan padanya, Barnabas adalah kepala perutusan baru itu. Dalam melukiskan hal itu, penulis selalu menyebutkan nama Barnabas yang pertama. Urutan tersebut bukannya tanpa arti, Barnabas tokoh yang diakui secara resmi sebagai kepala perutusan. Pada ayat 7 dikatakan, bahwa mereka datang pada gubernur, seorang cerdas, yang “memanggil Barnabas dan Saulus, karena ia ingin mendengar firman Allah”. (Kis 13: 7)
Namun dalam perutusan itu pribadi Paulus mulai tampil secara cepat, beberapa ayat sesudahnya kita melihat bahwa Saulus menjadi pelaku utama, yaitu ketika tukang sihir Elimas menjadi buta. “Saulus, yang disebut juga Paulus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap dia dan berkata : Hai anak iblis, engkau penuh dengan rupa-rupa tipu muslihat dan kejahatan” (Kis 13: 9). Sesudah itu dikatakan : “Lalu Paulus dan kawan-kawannya meninggalkan Pafos dan berlayar ke Perga di Pamfilia” (Kis 13: 13). Dengan demikian Barnabas telah tergeser ke tingkat “kawan”.
Di sini kita dapat menyaksikan perlahan-lahan adanya perubahan psikologis dan pergantian peranan dalam perutusan awal itu. Sedikit demi sedikit perubahan-perubahan itu menjadi kenyataan. Pidato pertama dalam perutusan yang dilukiskan oleh Kisah Para Rasul bab 15 diucapkan bukannya oleh Barnabas, melainkan oleh Paulus, “Maka bangkitlah Paulus. Ia memberi isyarat dengan tangannya, lalu berkata : Hai orang-orang Israel...” (Kis 13: 16). Sayang bahwa justru pada waktu itu Yohanes Markus pergi, sehingga jumlah anggota perutusan itu berkurang.
Dalam seluruh perutusan pertama, kita menyaksikan peralihan peranan pertama dari Barnabas ke Paulus. Dalam peristiwa di Listra, ketika kaum kafir menyaksikan penyembuhan orang lumpuh dan mengira kedua rasul itu dewa, teksnya berbunyi : “Barnabas mereka sebut Zeus dan Paulus mereka sebut Hermes” (Kis 14: 12). Di situ Barnabas dipandang sebagai yang tua, pria berjanggut panjang yang mengesankan sebagai tokoh berusia lanjut, sedangkan Paulus dilihat sebagai tokoh aktif, berprakarsa dan mampu berbicara. Jadi peranannya dibagi dan orang berganti-ganti pendapat dalam menentukan mana yang bertindak sebagai tokoh utama. “Mendengar itu Barnabas dan Paulus mengoyakkan pakaian mereka, lalu terjun ke tengah-tengah orang banyak itu sambil berkata : Hai kamu sekalian, mengapa kamu berbuat demikian ?” (Kis 14: 14-15). Barnabas ditempatkan dalam urutan pertama.
Tidak lama kemudian timbul perlawanan berat terhadap perutusan mereka dan – menurut teksnya – Paulus sampai dilempari batu dan diseret ke luar kota. Meskipun belum begitu jelas siapa yang dipandang sebagai kepala perutusan yang sebenarnya, namun jelas bahwa sedikit demi sedikit Paulus menjadi lebih penting di mata orang. Perutusan itu berakhir tanpa perpecahan, kecuali peristiwa perginya Markus yang memang membuat kedua rasul itu pahit, tetapi untuk sementara waktu tidak menimbulkan kesulitan.
Bab berikutnya, yaitu Kisah bab 15, melukiskan Paulus dan Barnabas bekerja sama erat sekali, namun selanjutnya Paulus selalu disebutkan terlebih dahulu, baru sesudah itu Barnabas. Keduanya sependapat secara penuh dan bekerja bersama-sama dengan tujuan yang sama dalam menentang kaum Yahudi yang mau memaksakan sunat pada kaum kafir yang bertobat. Seluruh bab 15 masih ditampilkan di bawah panji kerja sama yang berharga di antara keduanya.
Read more .....
SIAPAKAH BARNABAS ITU ?
Salah seorang tokoh besar Gereja purba, adalah salah seorang paling pertama yang menanggapi Injil secara serius. Barangkali ia tidak mengenal Tuhan, tetapi ia begitu berjasa, sehingga Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes yang tadinya ada bersama Tuhan, memberikan kepercayaan kepadanya.
Ia termasuk orang pertama yang percaya kepada kata-kata para rasul, salah seorang pertama yang menyerahkan diri, orang pertama yang menjual segalanya. Ia diperkenalkan oleh Kisah Para Rasul : “Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus. Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul” (Kis 4: 36-37)
Pada waktu jemaah belum berarti apa-apa sebagai kelompok kecil yang terdiri dari orang-orang yang barangkali tampaknya fanatik, Barnabas percaya, melepaskan segala-galanya dan menggabungkan diri secara penuh pada para rasul menjadi pengikut Kristus. Oleh sebab itu ia disebut “anak penghiburan”.
Sebagai pribadi, Barnabas itu seorang tokoh yang penuh hikmat, optimisme, memancarkan kepercayaan. Orang lain senang mengikuti dia dan menaruh kepercayaan kepadanya.
Dalam kenyataannya kita memang melihat dia dimanfaatkan untuk perutusan yang amat penting, namanya kembali lagi dalam bab 11 Kisah Para Rasul. Ketika harus diteliti apa yang sebenarnya terjadi di Antiokhia, Barnabas diutus dari Yerusalem. Ia pergi ke Antiokhia, “setelah datang dan melihat kasih karunia Allah, bersukacitalah ia. Ia menasehati mereka, supaya mereka semua tetap setia kepada Tuhan, karena Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman. Sejumlah orang dibawa kepada Tuhan” (Kis 11: 23-24)
Barnabas adalah seorang tokoh yang mampu mengenali keaslian Kristianisme di Antiokhia yang menjadi asal-usul Kristianisme Barat Yunani dan Kristianisme Asia Kecil.
Tanpa dia, Gereja akan tetap terbelenggu oleh pandangan kaum Kristiani-Yahudi Yerusalem, entah sampai berapa lama. Barnabas mempunyai intuisi mendalam, bebas dari prasangka dan ketakutan. Ia juga mampu menjadi penengah : menenangkan Yerusalem dan menyemangati Antiokhia, sehingga terhindarlah perpecahan. Jadi, ia sungguh seorang tokoh berharga bagi Kristianisme purba.
(Kesaksian Santo Paulus, “Le Confessioni di Paolo” karya Kardinal Mgr.Carlo Maria Martini, Uskup Agung Milano)
Read more .....



