Tampilkan postingan dengan label Rasul Paulus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rasul Paulus. Tampilkan semua postingan

5/20/2015

PAULUS DI EFESUS

Dan ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat. (Kis 19:6).

Selama hampir tiga tahun Paulus mewartakan di Efesus. Efesus adalah salah satu kota terindah dan terbesar di Kekaisaran Romawi.
Lukas ingin menceritakan baptisan murid-murid Yohanes Pembaptis. Seperti telah dikatakan, bahwa mereka telah mengetahui ajaran Yesus, tetapi sebagai murid, mereka berkekurangan apa yang terpenting, yaitu mereka belum menerima Roh Kudus (Kata Paulus: "Baptisan Yohanes adalah pembaptisan orang yang telah bertobat, dan ia berkata kepada orang banyak, bahwa mereka harus percaya kepada Dia yang datang kemudian dari padanya, yaitu Yesus." – Kis 19:4).
Kita tidak boleh lupa bahwa bahasa orang Kristen saat itu sangat terbatas, Roh Kudus itu ‘lebih dari pada manifestasi’ yang diungkapkan lewat penumpangan tangan. Demikian kita membaca pernyataan, bahwa mereka tidak mendengar ada Roh Kudus dalam Kis 19:2 (Katanya kepada mereka: "Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu menjadi percaya?" Akan tetapi mereka menjawab dia: "Belum, bahkan kami belum pernah mendengar, bahwa ada Roh Kudus.") ; sementara ada teks lain menyatakan : Roh Kudus diterima, dan Roh Kudus turun atas mereka (ayt 6) bandingkan dengan Kis 8 (Ketika rasul-rasul di Yerusalem mendengar, bahwa tanah Samaria telah menerima firman Allah, mereka mengutus Petrus dan Yohanes ke situ. Setibanya di situ kedua rasul itu berdoa, supaya orang-orang Samaria itu beroleh Roh Kudus. Sebab Roh Kudus belum turun di atas seorang pun di antara mereka, karena mereka hanya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Kemudian keduanya menumpangkan tangan di atas mereka, lalu mereka menerima Roh Kudus. - Kis 8:14-17).
Penumpangan tangan berarti mengakui perubahan yang terjadi saat pembaptisan melalui pengalaman Karunia Roh (Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama - 1 Kor 12:7). Pada masa kini, banyak orang Kristen terkejut jika mereka tidak pernah mengalami kehadiran Allah secara nyata ini. Kita tidak boleh berkata, bahwa Karunia ini tak berguna, atau bahwa sesuatu tidak terjadi pada masa kini. Sesungguhnya yang terpenting adalah beriman dan menghayatinya dari pada merasakannya. Tetapi pengalaman demikian sering menumbuhkan “bunga-bunga” indah bagi iman kita, ia menunjukkan, bahwa Allah itu dekat dan menjadi tuan atas diri kita. Mungkin sikap rasional kita dan hidup Gereja tidak percaya akan semuanya itu yang adalah ungkapan-ungkapan pribadi, akhirnya sampai mematikan karunia-karunia Roh, mungkin inilah kekurangan kita (rasional) dalam pengabdian kepada Yesus.
“Mereka dibaptis dalam nama Tuhan Yesus.” Haruskah kita menyimpulkan bahwa pada awalnya pembaptisan dengan “dalam nama Yesus” dan bukan dalam “Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus” ? tidak jelas. Dalam nama berarti dengan kuasa. Rupanya pembaptisan dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus disebut pembaptisan dalam nama Yesus untuk membedakannya dari pembaptisan Yohanes dan dari agama lain. Bisa juga bahwa pada saat menerima air dalam nama tritunggal Kudus, orang yang dibaptis harus berdoa secara pribadi dalam Nama Yesus. Selain itu, pada awalnya mungkin yang diberikan “dalam nama Yesus” dan kelak disesuaikan oleh Gereja untuk membedakannya dengan kelompok-kelompok yang beriman kepada Yesus tetapi tanpa mengakuinya sebagai Putra Allah yang lahir dari Bapa. Kita tak perlu heran dengan perubahan ini, Gereja para rasul telah menyusun suatu rumusan baptisan pertama, lalu Gereja yang sama mengambil rumusan yang kedua yang dihubungkan dengan Yesus dalam Mat 28:19 (Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus).
(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pastoral Katolik)

-       Roh itu akan datang
-       Efesus

Read more .....

1/14/2015

MISTERI DAMSYIK

Marilah kita melihat bagaimana Rasul Paulus sendiri melukiskan kejadian di Damsyik. Yang mengherankan kita pertama-tama ialah, bahwa ia melukiskannya sedikit saja. Kejadian yang memang mendasar baginya dan yang diolahnya dalam semua suratnya seakan-akan tidak ia bicarakan. Itu memang suatu kejadian yang di saat kematiannya diingatnya dengan jelas. Meskipun begitu, ia hampir tidak pernah membicarakannya secara langsung, padahal ia termasuk orang yang banyak bicara tentang riwayat hidupnya.

Manakah teks yang membicarakan hal itu ?
Di antara surat-surat besar, satu-satunya teks dasar yang melukiskan pertemuan di Damsyik adalah surat kepada jemaat di Galatia : “Tetapi waktu Ia yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya, berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi...” (Gal 1:15-16). Ada empat kata kerja yang dipakai untuk membicarakannya : memilih aku... memanggil aku... berkenan menyatakan... supaya aku memberitakan. Di antara keempatnya itu hanya yang ketiga saja menunjuk secara langsung pada pertobatan. Lain-lainnya menempatkan pertobatan dalam rangka penyelenggaraan Ilahi : memilih aku, berkenan, artinya berkeputusan, berkemauan menyatakan kepadaku. Jadi pengalaman tersebut dilukiskan pada hakikatnya sebagai pernyataan Anak kepadanya (menurut teks Yunani : “dalam” dia) dan sebagai perutusan.
Dalam suatu kalimat di surat kepada jemaat di Roma, Paulus mengalihkan hal yang dialaminya sendiri ke lingkup lukisan yang berlaku secara umum : “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” (Rm 8:29-30).
Dalam surat pertama kepada jemaat di Korintus, ada singgungan singkat sekali dalam suatu konteks polemik. “Bukankah aku rasul? Bukankah aku orang bebas? Bukankah aku telah melihat Yesus, Tuhan kita?” (1 Kor 9:1) .Kejadian di Damsyik dilukiskan sebagai “melihat Tuhan”. Lebih lanjut dalam surat yang sama ia menulis, “Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya. Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, bahkan tidak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah.” (1 Kor 15:8-9). Oleh Paulus yang tadinya menganiaya jemaat, kejadian di Damsyik dilukiskan sebagai penampakan “kepadaku yang paling hina”. Memang ada pertobatan moral, tetapi kejadiannya ialah : Yesus menampakkan Diri.
Masih ada nas lain yang penting, meskipun tidak membicarakan kejadiannya, nas itu melukiskan cara Paulus menghayatinya. “Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi: disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi, tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat. Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan. (Flp 3:4-9).
Keadaan sebelumnya dan keadaan sesudahnya dilukiskan sebagai milik dan kemiskinan, Kristus dilihat sebagai milik baru. Tetapi lukisan tentang semua yang dimilikinya sebelumnya mengajak kita berpikir. Dalam surat kepada umat di Korintus ia menulis, “Aku yang paling hina” (menurut bahasa kita, itu berarti “aku orang berdosa”). Sekarang ia melihat dirinya sebagai orang yang “dalam mentaati hukum Taurat......tidak bercacat.” (Flp 3:6). Jadi tidaklah mudah untuk menggunakan pengertian “orang berdosa” atau “pemfitnah” bila kita bicara tentang Paulus.
Jika ia tidak bercacat, lalu apanya yang berubah ? “Apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus.” (Flp 3:7). Dalam diri Paulus terjadi perubahan mutlak dalam cara menilai seluruh dunianya. Yang tadinya dianggapnya penting, sekarang menjadi nol dan tidak penting sama sekali. Yang tadinya tak mungkin dilepaskannya, sekarang menjadi sampah, sebab pengenalan akan Kristus mendapatkan prioritas mutlak dan mampu memenuhi segalanya. Pertemuan dengan Kristus, pengenalan akan Kristus dan kepenuhan Kristus mengubah sama sekali cara penilaiannya.
Teks lain juga penting, Sebab Allah yang telah berfirman: "Dari dalam gelap akan terbit terang!", Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus. (2 Kor 4:6). Sebenarnya kalimat itu diberlakukan bagi tiap rasul, tetapi kalau diterapkan pada pertobatan Paulus, kalimat itu mempunyai suatu kekuatan khusus. Allah pencinta bercahaya dalam hatinya dan meneranginya untuk membuatnya memahami kekayaan Kristus, kehidupan-Nya.
Kalimat terakhir di bawah ini memang merupakan suatu kalimat yang paling mudah mengundang kita untuk menafsirkan pertobatan Paulus secara moral. Tidaklah tepat jika kita mengesampingkannya, meskipun dari segi bahasa ada berbagai problem. “Aku bersyukur kepada Dia, yang menguatkan aku, yaitu Kristus Yesus, Tuhan kita, karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku -- aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas.” (1 Tim 1:12-13a).
Kalau begitu, apakah tadinya ia seorang penghujat dan seorang yang ganas ? Ia seorang yang tak bercacat, seperti ditulisnya kepada umat di Filipi, ataukah seorang berdosa, juga secara moral ?
Ia melanjutkan, “tetapi aku telah dikasihani-Nya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman. Malah kasih karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus. Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: "Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa," dan di antara mereka akulah yang paling berdosa. Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal. (1 Tim 1:13b-16). Jelaslah bahwa pertobatan tersebut memang suatu misteri yang amat kaya yang seluruhnya tidak terpahami.
Jadi, kejadian di Damsyik adalah jauh lebih kompleks dari pada suatu pertobatan moral belaka atau suatu perubahan mentalitas melulu. Kejadian itu demikian kaya, sehingga kita harus mendekatinya dangan rendah hati dan penuh hormat, karena kita yakin, bahwa kita hanya memahaminya sedikit saja, kita hanya mengertinya sedikit saja, tetapi kita akan dapat mengetahuinya jauh lebih banyak berkat rahmat Allah. Kalau begitu, kita juga akan lebih memahami diri kita sendiri, perjalanan hidup kita dan pertobatan kita.
Sekarang pertanyaan bagi kita, dengan mengajukan suatu pertanyaan mendasar yang sejalan dengan renungan kita : kapankah aku sendiri bertobat ?
Adakah dalam hidupku suatu “saat” pertobatan yang dapat kupandang sebagai suatu saat bersejarah ? Kalaupun tidak ada suatu “saat” dalam waktu, tentunya telah kualami sata-saat perubahan, pergolakan, krisis, yang membawa aku ke permahaman baru akan misteri Allah.
Jika kita tidak pernah menyadari sampai mendasar perubahan mentalitas yang sungguh hakiki bagi hidup kristen itu, sesungguhnya kita belum menangkap apa sebenarnya kebaharuan perjalanan kristen itu, yaitu kembali mengambil arah yang bertolak belakang.
Jika aku tidak mengerti baik hal-hal yang dikatakan tentang Paulus, barangkali aku juga sulit memahami apa yang terjadi dalam diriku. Kalau begitu, aku harus mempercayakan diriku kepada Allah melalui doa sebagai berikut :
“Tuhan, buatlah aku mengenal jalan-Mu. Semoga, seperti dikatakan oleh Yeremia, aku dapat menaruh tonggak-tonggak di masa lampauku. ‘Lihatlah kembali masa lampau, tempatkanlah tonggak-tonggak penunjuk’. Tolonglah aku memahami tahap-tahap rencana-Mu, saat-saat terang dan saat-saat gelap, saat-saat cobaan, bahkan sampai pada batas ketahananku. Perkenankan daku mengetahui pada titik mana aku berada dalam perjalanan itu, dan di mana seharusnya aku berada. Aku mohon ini demi Kristus Tuhan kami. Amin.
(“Le Confessioni di Paulo”, karya Kardinal Mgr. Carlo Maria Martini, Uskup Agung Milano – Kesaksian Santo Paulus, diterjemahkan oleh Frans Harjawiyata OSCO)

 - Kasih Yesus

Read more .....

6/11/2014

MISI PERTAMA RASUL PAULUS


Karya pewartaan pertama ini dimulai dengan cara yang masih sederhana. Orang Yahudi dapat menjalajahi wilayah kekaisaran Roma, di setiap kota penting mereka menemukan orang-orang Yahudi yang berdagang dan hidup dalam persekutuan dalam sinagoga-sinagoga. Dari Antiokia, Barnabas dan Saulus berlayar ke pulau Siprus, ke kota kelahiran Barnabas (Oleh karena disuruh Roh Kudus, Barnabas dan Saulus berangkat ke Seleukia, dan dari situ mereka berlayar ke Siprus – Kis 13:4).

Pertemuan dengan Sergius Paulus mempunyai nilai penting (Ia-[Baryesus] adalah kawan gubernur pulau itu, Sergius Paulus, yang adalah orang cerdas. Gubernur itu memanggil Barnabas dan Saulus, karena ia ingin mendengar firman Allah – Kis 13:7), Injil tidak hanya meyakinkan orang-orang sederhana, melainkan juga mereka yang berkuasa. Paulus menyadari bahwa ia harus memberi kesaksian di hadapan “para raja dan penguasa” (Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan." - Luk 12:12). Karunia kenabian dari Saulus mulai tampak, ketika dia bertemu dengan Sergius Paulus (Sekarang, lihatlah, tangan Tuhan datang menimpa engkau, dan engkau menjadi buta, beberapa hari lamanya engkau tidak dapat melihat matahari." Dan seketika itu juga orang itu merasa diliputi kabut dan gelap, dan sambil meraba-raba ia harus mencari orang untuk menuntun dia. Melihat apa yang telah terjadi itu, percayalah gubernur itu; ia takjub oleh ajaran Tuhan – Kis 13:11-12). Mulai saat itu, Kitab Kisah Para Rasul tidak lagi berbicara mengenai Saulus, tetapi Paulus. Apakah gubernur memberi kuasa kepadanya untuk menggunakan nama keluarganya ? Bagi Paulus, yang sudah warga negara Roma (Kis 16:37), merupakan suatu langkah lebih jauh, untuk masuk dalam dunia bukan Yahudi.

Sekali tugas misi mulai, Paulus menjadi pemimpin. Mereka tidak menetap di Siprus, mereka meninggalkan kaum beriman di situ yang telah dibina secara singkat. Ketika mereka tiba di daratan Perga, wilayah yang tidak ramah, Yohanes Markus meninggalkan mereka. Rupanya rencana Paulus yang begitu berani menakutkan dia, mereka malalui rangkaian gunung dari Turki (sekarang) dan selanjutnya meneruskan perjalanan ke ibu kota Pisidia yakni Antiokia (berbeda dengan Antiokia yang lain). Lukas menguraikan secara rinci kejadian-kejadian di Antiokia – Pisidia, karena menggambarkan situasi yang khas yang akan dihadapi Paulus di berbagai bagian kekaisaran Roma.

Paulus berbicara pada pertemuan hari Sabat di dalam Sinagoga (rumah doa orang Yahudi). Dalam ibadat itu didaraskan mazmur dan dibacakan Kitab Suci (yang diambil dari Perjanjian Lama). Lalu seseorang atau beberapa pemimpin memberi penjelasan. Karena Paulus seorang tamu, maka untuk menghormatinya mereka minta dia untuk berbicara.

Khotbah Paulus, yang lebih banyak berhubungan dengan sejarah Israel, tidak begitu menarik bagi kita sekarang seperti halnya khotbah Petrus (Kis 2) dan Stefanus (Kis 7). Tetapi inilah cara berkhotbah menurut orang Yahudi dan bagi semua perantauan, tidak ada yang lebih menarik dari pada kaum perantauan, mereka diingatkan kembali tentang sejarah masa lalu yang telah mereka hafal untuk memberikan jati diri bagi mereka di antara orang lain. Demikian Paulus menampilkan kembali sejarah itu, menekankan kenyataan-kenyataan yang memberi arti dan secara jelas mengarah kepada Kristus. Paulus menunjukkan bahwa Injil Allah kepada Israel telah terpenuhi dalam kebangkitan Kristus (Dan kami sekarang memberitakan kabar kesukaan kepada kamu, yaitu bahwa janji yang diberikan kepada nenek moyang kita, telah digenapi Allah kepada kita, keturunan mereka, dengan membangkitkan Yesus, seperti yang ada tertulis dalam mazmur kedua: Anak-Ku Engkau! Aku telah memperanakkan Engkau pada hari ini – Kis 13:32-33).

Di sini kita mempunyai sebuah cara memahami Injil yang tidak boleh kita tinggalkan, perlu kita pahami bahwa iman Yahudi dan kemudian iman Kristiani berkaitan dengan ‘sejarah’. Ini berarti bahwa Allah telah diwahyukan melalui sejarah. Iman kita bukan sebuah doktrin yang dikembangkan oleh para pemikir, bukan pula muncul dari suatu legenda. Hal itu juga berarti bahwa kebangkitan Yesus menandakan suatu titik tolak baru untuk semua sejarah umat manusia dan setiap perjalanan waktu yang menunjuk kepada akhir, di mana akan ada penghakiman dan Kerajaan Allah. Kita tidak bisa mengatakan bahwa suatu doktrin itu selalu benar, tetapi kita harus menunjukkan bagaimana Injil itu merupakan suatu kekuatan yang hidup dan bagaimana Roh Allah itu berkarya dalam setiap peristiwa.

Para pendengar Paulus memberi reaksi dengan berbagai cara. Mereka yang mendengarkan bukan semuanya orang Yahudi, tetapi ada juga orang “yang takut akan Tuhan” atau “dari kepercayaan lain”, seperti yang telah kita jumpai dalam diri orang Etiopia (Adalah seorang Etiopia, seorang sida-sida, pembesar dan kepala perbendaharaan Sri Kandake, ratu negeri Etiopia, yang pergi ke Yerusalem untuk beribadah. Sekarang orang itu sedang dalam perjalanan pulang dan duduk dalam keretanya sambil membaca kitab nabi Yesaya. – Kis 8:27-28) dan Kornelius (Ketika Petrus masuk, datanglah Kornelius menyambutnya, dan sambil tersungkur di depan kakinya, ia menyembah Petrus – Kis 10:25), mereka ini dianggap kaum beriman kelas dua oleh orang Yahudi.

Pada kata-kata pendahuluannya Paulus menyapa mereka semua seperti ia menyapa orang-orang Yahudi. Selanjutnya dalam khotbahnya ia tidak menekankan ketaatan pada hukum Taurat yang hanya berlaku bagi orang-orang Yahudi yang membuat mereka merasa lebih tinggi dari orang lain, melainkan ia menegaskan bahwa hukum Taurat berada di bawahnya. Ia mengutamakan janji Allah kepada semua orang. Mereka ‘yang takut akan Tuhan’ merasa gembira oleh Injil yang menjadikan mereka anak-anak Allah sama seperti orang-orang Yahudi.

Mereka mengundang Paulus untuk berbicara mengenai pokok yang sama pada hari Sabat berikutnya. Pada saat itu Paulus membuat suatu keputusan penting, dari pada membatasi diri bertemu orang-orang Yahudi, selama minggu itu ia lebih suka pergi kepada mereka yang ‘takut kepada Tuhan’ , yakni mereka yang telah ia pengaruhi karena ia tidak pilih-pilih suku. Mereka inilah yang mengumpulkan orang-orang lain untuk pertemuan hari Sabat berikutnya, orang-orang kafir yang dulu tidak pernah bergabung dengan orang-orang Yahudi, sekarang mau bergabung dengannya.

Krisis mulai terjadi, pertemuan itu terbagi menjadi dua kelompok, kelompok Yahudi yang sangat tertutup dan angkuh merasa takut ketika dikelilingi oleh orang-orang kafir yang ‘tidak bersih’, mereka menentang Paulus dan berusaha mengusir Paulus keluar setiap ada kesempatan. Wanita-wanita yang kaya dan saleh berada di antara kelompok ini. Sejak dari itu terbentuklah sebuah jemaat Kristen yang memisahkan diri dari kelompok Yahudi (Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen – Kis 11:26).

Apakah peristiwa ini masih aktual untuk umat sekarang ? Jika Gereja kita kurang mengalami krisis, itu mungkin disebabkan rasul masih sedikit seperti pada masa Paulus dan kita belum memperoleh kunjungan dari seseorang yang akan didengar di balik tembok kita.

Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya (Kis 13:48). Ayat ini tidak bermaksud menghukum mereka yang tidak percaya, tetapi mau mengungkapkan bahwa beriman adalah suatu karunia bagi mereka yang percaya, Allah menyatu dengan hidup mereka dan menjadikan mereka pembawa berita mengenai hidup Ilahi yang akan mengubah dunia (Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. - Yoh 17:3)

(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pstoral Katolik)

Read more .....

PAULUS UTUSAN YESUS


Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: "Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?" (Kis 9:3-4)

Inilah peristiwa yang menentukan dalam permulaan Gereja, Kristus datang secara pribadi untuk mengalahkan penganiaya orang-orang Kristen yang paling bengis. Pertobatan Saulus yang kemudian menjadi Paulus, rasul para bangsa, terdapat juga dalam Kis 22 dan 26.

Sungguh salah melukiskan Paulus sebagai seorang jahat yang akhirnya menemukan jalan yang benar. Seperti dalam Kis 22:3-4 ("Aku adalah orang Yahudi, lahir di Tarsus di tanah Kilikia, tetapi dibesarkan di kota ini; dididik dengan teliti di bawah pimpinan Gamaliel dalam hukum nenek moyang kita, sehingga aku menjadi seorang yang giat bekerja bagi Allah sama seperti kamu semua pada waktu ini. Dan aku telah menganiaya pengikut-pengikut Jalan Tuhan sampai mereka mati; laki-laki dan perempuan kutangkap dan kuserahkan ke dalam penjara), di sini Paulus memberi kesaksian pribadi, ia menegaskan bahwa ia masih setia kepada agama yang diwariskan oleh nenek moyangnya, sama seperti Gamaliel (Tetapi seorang Farisi dalam Mahkamah Agama itu, yang bernama Gamaliel, seorang ahli Taurat yang sangat dihormati seluruh orang banyak, bangkit dan meminta, supaya orang-orang itu disuruh keluar sebentar. - Kis 5:34) dan Ananias seorang Kristen Yahudi yang sangat taat kepada Hukum Taurat (Di situ ada seorang bernama Ananias, seorang saleh yang menurut hukum Taurat dan terkenal baik di antara semua orang Yahudi yang ada di situ. - Kis 22:12), tetapi ia tidak mampu memisahkan diri dari Kristus dalam hidupnya.
Reaksi keras timbul dari orang-orang Yahudi, ketika Paulus berkata bahwa orang-orang kafir musuh-musuh orang Yahudi, orang yang tidak suci dan menjadi musuh Allah, akan turut ambil bagian dalam keistimewaan orang-orang Yahudi (Tetapi kata Tuhan kepadaku: Pergilah, sebab Aku akan mengutus engkau jauh dari sini kepada bangsa-bangsa lain." Rakyat mendengarkan Paulus sampai kepada perkataan itu; tetapi sesudah itu, mereka mulai berteriak, katanya: "Enyahkan orang ini dari muka bumi! Ia tidak layak hidup!" – Kis 22:21-22). Hal yang sama juga dikenakan pada Yesus (Kata Yesus kepada mereka: "Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita. - Mat 21:42)
Musuh-musuh Paulus juga mengkritik otoritasnya, bahwa ia bukan seorang rasul seperti rasul lain yang dipilih oleh Yesus sendiri, tetapi dalam pembelaannya dalam surat kepada umat di Galatia, Paulus mengatakan bahwa ia sendiri dipilih oleh Allah sendiri sejak dalam kandungan (Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya, berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, maka sesaat pun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia – Gal 1:15-16). Apa yang dikatakan Paulus di sini sama dengan apa yang ditulis dalam Kis 9 (Tetapi firman Tuhan kepadanya: "Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel. Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku." – Kis 9:15-16).
Paulus bukan saja melihat Kristus, ia juga menemukan kehadiran intim Kristus dalam dirinya. Tepat waktu ia dipanggil, ia juga memahami hal ini secara total dari iman. Kasus Paulus, yang dipanggil oleh Kristus secara langsung, adalah sesuatu yang istimewa. Namun demikian, kita melihat bahwa Paulus tidak memaksakan dirinya dalam Gereja. Kirstus mengutusnya menemui Ananias untuk minta dibaptis (Lalu pergilah Ananias ke situ dan masuk ke rumah itu. Ia menumpangkan tangannya ke atas Saulus, katanya: "Saulus, saudaraku, Tuhan Yesus, yang telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui, telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus." Dan seketika itu juga seolah-olah selaput gugur dari matanya, sehingga ia dapat melihat lagi. Ia bangun lalu dibaptis. – Kis 9:17-18).
Setelah itu, ia bergabung dengan Petrus, yang diakui sebagai kepala Gereja, dan Yakobus, pemimpin gereja Yerusalem (Lalu, tiga tahun kemudian, aku pergi ke Yerusalem untuk mengunjungi Kefas, dan aku menumpang lima belas hari di rumahnya. – Gal 1:18). Persekutuan ini sangat penting untuk bertindak atas nama Gereja, tetapi hal ini tidak sama dengan ketaatan yang terdapat dalam militer atau antara seorang bos dan bawahan. Paulus mengatakan : “Mereka mengakui rahmat-rahmat yang diberikan Tuhan kepadaku.” – (Dan setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus, Kefas dan Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru jemaat, berjabat tangan dengan aku dan dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang yang tidak bersunat dan mereka kepada orang-orang yang bersunat - Gal2:9) – yaitu mereka mengakui bahwa Roh Kudus bekerja dalam diri Paulus juga. Para pemimpin Gereja tidak membuat keputusan sendiri, mereka berusaha menjawab Roh Kudus yang berbicara lewat peristiwa-peristiwa.
Paulus sejak masa mudanya merasa perlu mengabdikan diri dalam pelayanan Tuhan. Itulah sebabnya ia pergi ke Yerusalem untuk mempelajari Hukum Taurat, yaitu agama yang memiliki guru-guru yang terbaik pada zaman itu (Kis 22:3). Perhatiannya terhadap sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan, menjadikannya seorang yang tidak berkeinginan untuk berkeluarga. Ia seorang muda yang dapat dipercaya dan bertanggung-jawab, karena itu orang-orang Yahudi mempercayakan kepadanya tugas yang sulit, yakni membasmi ajaran-ajaran yang baru dan menyesatkan yang berasal dari orang-orang Kristen dari kalangan mereka. Paulus diberi tugas untuk menghalangi para pengikut Kristus dan itu dilakukannya dengan cara kejam demi kepentingan agamanya (tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat. – Flp 3:6).
Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: "Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?" (Kis 9:4) ‘Siapakah Tuhan ini yang menyebut aku penganiaya, padahal ambisiku hanya melayani Allah ?’ Sampai saat itu Paulus merasa baik-baik saja seperti kaum Farisi yang menganggap dirinya benar dalam perumpamaan tentang orang Farisi dan pemungut cukai dalam Luk 18:9-14. Dan ia juga bersyukur kepada Allah karena telah membuat dia menjadi seorang yang bertanggung jawab, dipercaya dan seorang beriman yang aktif. Tetapi sekarang, berhadapan dengan terang Kristus, ia menjadi sadar bahwa apa yang telah dilakukannya, terutama tugas-tugas perlayanannya tidak berguna bagi Allah, imannya itu hanyalah suatu kebanggaan semu (Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus – Flp 3:7-8).
Paulus menyadari diri sebagai seorang yang berdosa, kejam, dan penganiaya, tetapi bersama dengan itu iapun menyadarai bahwa Allah menyambutnya, memilihnya, dan mengampuninya, “orang ini akan menjadi alat pilihan-Ku” (Kis 9:15). Paulus bukan lagi orang Farisi dalam perumpamaan, tetapi ia lebih menempatkan dirinya di tempat pemungut cukai. “Allahku, ampunilah aku, orang berdosa !” Inilah pertobatan khas dari seorang Kristen yang militan (Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini – Luk 18:13). Betapapun aktifnya kita, kita tidak akan mampu tampil sebagai saksi-saksi Kristus, jika tidak mengakui diri sebagai seorang pendosa yang diampuni, itulah sebabnya orang-orang Kristen prihatin akan rekonsialisi semesta.
Mulai saat itu Saulus, yang kemudian menjadi Paulus, akan menjadi alat pilihan Kristus, untuk menyebarkan Gereja ke negara-negara lain. Sampai saat itu Gereja yang dipimpin dan terdiri dari orang-orang Yahudi tidak keluar dari bangsa Yahudi.
Paulus juga adalah seorang Yahudi, tetapi ia dididik di luar negaranya, Ia menyukai budaya Yunani sama seperti ia menyukai budayanya sendiri. Karena hal itu dan karena kepribadiannya yang khas, ia menjadi rasul dari orang-orang Yunani. Gereja harus terus menerus memperbarui diri, dan diperbarui dengan menobatkan kaum muda. Jamaat Kristen, bahkan ketika mereka mau membuka diri kepada orang-orang yang tidak ambil bagian dalam masalah-masalah jemaat (contoh kaum pekerja, kadang-kadang kaum muda), biasanya tidak mampu untuk benar-benar membuka diri. Dengan demikian Allah memanggil orang-orang tertentu dari latar belakang yang berbeda, yang begitu menerima iman Gereja, mampu mewartakan dalam lingkungan mereka sendiri dan tetap mempertahankan kebebasan mereka dalam kelompok tradisonilnya.
Pada masa-masa gawat dalam perjalanan sejarah, Krsitus selalu memanggil pria maupun wanita untuk melayani Gereja di manapun dibutuhkan, antara lain Fransiskus dari Asisi, dan yang lebih dekat dengan kita, Paus Yohanes XXIII.
Jalan, inilah sebutan agama Kristen, kata itu mengungkapkan kenyataan bahwa itu bukan hanya masalah ajaran keagamaan, tetapi terlebih suatu cara hidup baru, yang dijiwai oleh iman, harapan dan kasih.
(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pastoral Katolik)

Read more .....

SIAPAKAH BARNABAS BAGI PAULUS ?

Seorang yang penting sekali, sesudah Ananias, Barnabaslah orang yang paling berjasa bagi Paulus. Kepada Ananias Paulus berhutang budi bagi langkahnya yang pertama untuk masuk dan diterima dalam jamaah, tetapi sesudah itu Paulus berhutang budi kepada Barnabas untuk segalanya.

Bagi Paulus, Barnabas adalah tokoh yang mencarinya, yang mengertinya dan mendukungnya. Ia adalah sahabatnya, bapa rohaninya, gurunya dalam kerasulan, tokoh yang mengantarnya ke dalam pengalaman kerasulan.

Marilah kita melihat beberapa teks. Sesudah lari dari Damsyik, Saulus pergi ke Yerusalem, ia “mencoba menggabungkan diri kepada murid-murid, tetapi semuanya takut kepadanya, karena mereka tidak dapat percaya, bahwa ia juga seorang murid”. (Kis 9: 26)

Kecurigaan, yang tadinya ada antara Yerusalem dan Antiokhia, waktu itu di Yerusalem ditujukan kepada pendatang baru, itu yang tidak diketahui apa maunya.

Teksnya dilanjutkan : “Tetapi Barnabas menerima dia dan membawanya kepada rasul-rasul dan menceritakan kepada mereka, bagaimana Saulus melihat Tuhan di tengah jalan dan bahwa Tuhan berbicara dengan dia dan bagaimana keberaniannya mengajar di Damsyik dalam nama Yesus”. (Kis 9: 27)

Betapa bagusnya jika kita dapat menafsirkan teks tersebut kata demi kata, “Barnabas menerima dia”. Kata kerja Yunani yang dipakai berbunyi “epilabomenos”, sama dengan kata kerja yang dipakai untuk melukiskan Yesus yang memegang tangan Petrus yang nyaris tenggelam di danau karena tiupan angin (Mat 14: 31). Kita dapat menggambarkan Paulus sedang kebingungan di Yerusalem, semua orang menutup pintu terhadapnya, tak ada tempat, bahkan hanya untuk tidurpun tidak ada. Barnabas mengulurkan tangan dan berkata kepadanya : ”Datanglah bersamaku, aku menemani engkau, aku memperkenalkan engkau”.

Melalui Barnabas, terbukalah pintu-pintunya bagi Paulus, diceritakan dalam Kisah : “Dan Saulus tetap bersama-sama dengan mereka di Yerusalem, dan dengan keberanian mengajar dalam nama Tuhan”. (Kis 9: 28)

Juga selanjutnya, ketika dibicarakan hal jemaah di Antiokhia, Barnabas disebutkan sebagai yang pertama di antara para nabi. “Pada waktu itu dalam jamaah di Antiokhia ada beberapa nabi dan penajar, yaitu : Barnabas dan Simeon yang disebut Niger, dan Lukius orang Kirene, dan Menahem yang diasuh bersama dengan raja wilayah Herodes, dan Saulus” (Kis 13: 1). Jadi umat di Antiokhia mengakui para nabi, yang disebutkan pertama adalah Barnabas dan Saulus disebutkan yang terakhir. Kita memang tahu mengapa begitu, “Lalu pergilah Barnabas ke Tarsus untuk mencari Saulus; dan setelah bertemu dengan dia, ia membawanya ke Antiokhia. Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaah itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen” (Kis 11: 25-26)

Di balik ayat itu tampaklah adanya kerja sama yang mengagumkan antara Barnabas dan Paulus. Barnabas adalah yang pertama di antara para nabi, Paulus adalah pendatang terakhir. Tetapi Barnabas mampu menilai mutu Paulus, Barnabas mengantarnya memasuki kegiatan yang akan menjadi paling berbuah dalam seluruh Gereja kuno; kegiatan yang melahirkan kekristenan yang begitu besar dampaknya, sehingga menyebabkan timbulnya sebutan “Kristen”. Sungguh suatu jemaah yang mulai dikenal benar-benar di dalam sejarah. Itulah semua arti Barnabas bagi Paulus.

Barnabas juga orang yang pertama yang dipilih oleh Roh untuk perutusan, dilukiskan permulaan perutusan yang kemudian akan menjadi perutusan besar kepada kaum kafir : “Pada suatu hari ketika berpuasa, berkatalah Roh Kudus : Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka” (Kis 13: 2) Barnabas adalah orang yang pertama dan Saulus digabungkan padanya, Barnabas adalah kepala perutusan baru itu. Dalam melukiskan hal itu, penulis selalu menyebutkan nama Barnabas yang pertama. Urutan tersebut bukannya tanpa arti, Barnabas tokoh yang diakui secara resmi sebagai kepala perutusan. Pada ayat 7 dikatakan, bahwa mereka datang pada gubernur, seorang cerdas, yang “memanggil Barnabas dan Saulus, karena ia ingin mendengar firman Allah”. (Kis 13: 7)

Namun dalam perutusan itu pribadi Paulus mulai tampil secara cepat, beberapa ayat sesudahnya kita melihat bahwa Saulus menjadi pelaku utama, yaitu ketika tukang sihir Elimas menjadi buta. “Saulus, yang disebut juga Paulus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap dia dan berkata : Hai anak iblis, engkau penuh dengan rupa-rupa tipu muslihat dan kejahatan” (Kis 13: 9). Sesudah itu dikatakan : “Lalu Paulus dan kawan-kawannya meninggalkan Pafos dan berlayar ke Perga di Pamfilia” (Kis 13: 13). Dengan demikian Barnabas telah tergeser ke tingkat “kawan”.

Di sini kita dapat menyaksikan perlahan-lahan adanya perubahan psikologis dan pergantian peranan dalam perutusan awal itu. Sedikit demi sedikit perubahan-perubahan itu menjadi kenyataan. Pidato pertama dalam perutusan yang dilukiskan oleh Kisah Para Rasul bab 15 diucapkan bukannya oleh Barnabas, melainkan oleh Paulus, “Maka bangkitlah Paulus. Ia memberi isyarat dengan tangannya, lalu berkata : Hai orang-orang Israel...” (Kis 13: 16). Sayang bahwa justru pada waktu itu Yohanes Markus pergi, sehingga jumlah anggota perutusan itu berkurang.

Dalam seluruh perutusan pertama, kita menyaksikan peralihan peranan pertama dari Barnabas ke Paulus. Dalam peristiwa di Listra, ketika kaum kafir menyaksikan penyembuhan orang lumpuh dan mengira kedua rasul itu dewa, teksnya berbunyi : “Barnabas mereka sebut Zeus dan Paulus mereka sebut Hermes” (Kis 14: 12). Di situ Barnabas dipandang sebagai yang tua, pria berjanggut panjang yang mengesankan sebagai tokoh berusia lanjut, sedangkan Paulus dilihat sebagai tokoh aktif, berprakarsa dan mampu berbicara. Jadi peranannya dibagi dan orang berganti-ganti pendapat dalam menentukan mana yang bertindak sebagai tokoh utama. “Mendengar itu Barnabas dan Paulus mengoyakkan pakaian mereka, lalu terjun ke tengah-tengah orang banyak itu sambil berkata : Hai kamu sekalian, mengapa kamu berbuat demikian ?” (Kis 14: 14-15). Barnabas ditempatkan dalam urutan pertama.

Tidak lama kemudian timbul perlawanan berat terhadap perutusan mereka dan – menurut teksnya – Paulus sampai dilempari batu dan diseret ke luar kota. Meskipun belum begitu jelas siapa yang dipandang sebagai kepala perutusan yang sebenarnya, namun jelas bahwa sedikit demi sedikit Paulus menjadi lebih penting di mata orang. Perutusan itu berakhir tanpa perpecahan, kecuali peristiwa perginya Markus yang memang membuat kedua rasul itu pahit, tetapi untuk sementara waktu tidak menimbulkan kesulitan.

Bab berikutnya, yaitu Kisah bab 15, melukiskan Paulus dan Barnabas bekerja sama erat sekali, namun selanjutnya Paulus selalu disebutkan terlebih dahulu, baru sesudah itu Barnabas. Keduanya sependapat secara penuh dan bekerja bersama-sama dengan tujuan yang sama dalam menentang kaum Yahudi yang mau memaksakan sunat pada kaum kafir yang bertobat. Seluruh bab 15 masih ditampilkan di bawah panji kerja sama yang berharga di antara keduanya.

(Kesaksian Santo Paulus, “Le Confessioni di Paolo” karya Kardinal Mgr.Carlo Maria Martini, Uskup Agung Milano)

Read more .....

SIAPAKAH BARNABAS ITU ?

Salah seorang tokoh besar Gereja purba, adalah salah seorang paling pertama yang menanggapi Injil secara serius. Barangkali ia tidak mengenal Tuhan, tetapi ia begitu berjasa, sehingga Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes yang tadinya ada bersama Tuhan, memberikan kepercayaan kepadanya.

Ia termasuk orang pertama yang percaya kepada kata-kata para rasul, salah seorang pertama yang menyerahkan diri, orang pertama yang menjual segalanya. Ia diperkenalkan oleh Kisah Para Rasul : “Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus. Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul” (Kis 4: 36-37)

Pada waktu jemaah belum berarti apa-apa sebagai kelompok kecil yang terdiri dari orang-orang yang barangkali tampaknya fanatik, Barnabas percaya, melepaskan segala-galanya dan menggabungkan diri secara penuh pada para rasul menjadi pengikut Kristus. Oleh sebab itu ia disebut “anak penghiburan”.

Sebagai pribadi, Barnabas itu seorang tokoh yang penuh hikmat, optimisme, memancarkan kepercayaan. Orang lain senang mengikuti dia dan menaruh kepercayaan kepadanya.

Dalam kenyataannya kita memang melihat dia dimanfaatkan untuk perutusan yang amat penting, namanya kembali lagi dalam bab 11 Kisah Para Rasul. Ketika harus diteliti apa yang sebenarnya terjadi di Antiokhia, Barnabas diutus dari Yerusalem. Ia pergi ke Antiokhia, “setelah datang dan melihat kasih karunia Allah, bersukacitalah ia. Ia menasehati mereka, supaya mereka semua tetap setia kepada Tuhan, karena Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman. Sejumlah orang dibawa kepada Tuhan” (Kis 11: 23-24)

Barnabas adalah seorang tokoh yang mampu mengenali keaslian Kristianisme di Antiokhia yang menjadi asal-usul Kristianisme Barat Yunani dan Kristianisme Asia Kecil.

Tanpa dia, Gereja akan tetap terbelenggu oleh pandangan kaum Kristiani-Yahudi Yerusalem, entah sampai berapa lama. Barnabas mempunyai intuisi mendalam, bebas dari prasangka dan ketakutan. Ia juga mampu menjadi penengah : menenangkan Yerusalem dan menyemangati Antiokhia, sehingga terhindarlah perpecahan. Jadi, ia sungguh seorang tokoh berharga bagi Kristianisme purba.

(Kesaksian Santo Paulus, “Le Confessioni di Paolo” karya Kardinal Mgr.Carlo Maria Martini, Uskup Agung Milano)


Read more .....

1/11/2012

KEGELAPAN MANUSIA PAULUS

Dalam renungan ini kita akan mendalami suatu segi yang terdapat dalam kejadian di Damsyik, yaitu “kebutaan” yang terjadi langsung sesudah pertobatan. Kegelapan, bukan hanya kegelapan “Paulus sejarah”, melainkan kegelapan Paulus sebagai manusia yang menghayati saat kegelapan itu.

Tema ini sulit, sebab menyangkut kegelapan yang ada dalam diri kita masing-masing. Sebenarnya kita tidak pernah mau menghadapinya,. Tema ini memang tema tobat. Marilah kita memohon rahmat Roh Kudus untuk memasukinya dengan benar dan dengan hati terbuka :
“Ya Tuhan, Engkau menyelami dan mengenal kami. Engkau tahu betapa kami tidak mampu memahami misteri-Mu dan misteri kami. Engkau tahu bahwa kami tidak mampu membicarakan hal itu dengan benar. Kami mohon kepada-Mu ya Bapa, dalam nama Yesus, utuslah kepada kami Roh-Mu yang menyelami kedalaman manusia, yang tahu apa yang ada di dalam diri kami. Semoga Ia membuat kami mampu mengenal diri kami seperti diri kami Engkau kenal dalam kedalaman kejahatan kami, dengan cinta dan belas kasih. Semoga kami memandang dengan mata yang benar segala sesuatu dalam diri kami yang memberatkan, yang mengaburkan atau melawan Dikau. Semoga kami mampu memandangnya dalam terang belas kasih yang datang dari kamatian dan kebangkitan Putra-Mu, Yesus Kristus, Tuhan kami, yang bersama Roh Kudus hidup dan berkuasa sepanjang masa, Amin.”
Memang penting bahwa kita merumuskan pertobatan Paulus sebgai “pernyataan dan penerangan”. Sekarang kita bertanya diri bagaimana mungkin Paulus menjadi buta sesudah pertobatannya. Kenyataan itu digaris-bawahi dan ditekankan dalam cerita Kisah Para Rasul, “Saulus bangun dan berdiri, lalu membuka matanya, tetapi ia tidak dapat melihat apa-apa; mereka harus menuntun dia masuk ke Damsyik. Tiga hari lamanya ia tidak dapat melihat dan tiga hari lamanya ia tidak makan dan minum” (Kis 9:8-9). Dapat dikatakan bahwa penerangan Kristus bukannya memenuhi dia dengan kegembiraan, terang dan kejelasan, melainkan malahan memukulnya, seakan-akan ia ditimpa sakit keras, ia tidak dapat melihat, tidak dapat makan dan perlu dituntun.
Hal yang sama diceritakan lagi kemudian, “Dan karena aku tidak dapat melihat oleh karena cahaya yang menyilaukan mata itu, maka kawan-kawan seperjalananku memegang tanganku dan menuntun aku ke Damsyik.” (Kis 22:11). Ia baru dapat melihat lagi ketika Ananias mendatangi dia sambil berkata : ”Saulus, saudaraku, bukalah matamu dan melihatlah!” Dan seketika itu juga aku melihat kembali dan menatap dia. (Kis 22: 13).
Mengapa Paulus menjadi buta sesudah ia menerima pernyataan misteri Kristus yang gilang gemilang ? Di dalam Kitab Suci kebutaan dihubungkan secara jelas dengan dosa, kehilangan arah, sempoyongan tanpa mampu menemukan arah. Kebutaan merupakan suatu hukuman, Elimas dari Siprus menjadi buta sebagai hukuman. Tetapi Saulus, juga disebut Paulus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap dia, dan berkata: "Hai anak Iblis, engkau penuh dengan rupa-rupa tipu muslihat dan kejahatan, engkau musuh segala kebenaran, tidakkah engkau akan berhenti membelokkan Jalan Tuhan yang lurus itu? Sekarang, lihatlah, tangan Tuhan datang menimpa engkau, dan engkau menjadi buta, beberapa hari lamanya engkau tidak dapat melihat matahari. (Kis 13:9-11). Sehubungan dengan yang terjadi pada Elimas, itu arti lambang kebutaan diterangkan baik sekali. Ia harus berhenti membalikkan jalan yang diarahkan Oleh Tuhan, ia harus berhenti melawan gambar sejati Allah dengan caranya bertindak. Jadi kebutaannya itu melambangkan orang yang tidak mampu menemukan jalan benar, orang yang dibelenggu oleh kekuatan setan, “anak iblis, musuh tiap kebenaran”, “penuh dengan rupa-rupa tipu muslihat dan kejahatan”. Jelas itu gambaran dosa, itu menggambarkan “tipu muslihat dan kejahatan” yang dalam dosa datang dari dalam, itu menggambarkan “anak iblis” yang datang dari luar, dan sebagai akibatnya, “musuh tiap kebenaran”.
Sebaliknya, tentang kebutaan Paulus tidaklah mudah memberikan jawaban, sebab Kisah Para Rasul tidak menjelaskannya, tetapi hanya melukiskan kejadiannya saja, padahal tampaknya Rasul sendiri tidak pernah memberi tekanan pada kejadian itu dalam surat-suratnya. Dengan mencoba merefleksikan dan memasuki jiwanya, kita dapat melihat adanya dua motif.
Kebutaan sebagai pantulan kecemerlangan Allah.
Pertama, kita berhadapan dengan suatu motif yang sering dijumpai dalam Kitab Suci. “Manusia tidak dapat melihat Allah tanpa mati.” Melihat Allah memang merupakan terang, tetapi bagi manusia yang bersifat daging, melihat Allah menakutkan dan membuat manusia sadar akan seluruh kegelapan di mana ia berada. Berkontak dengan Allah sebagai terang, manusia mengakui dirinya sebagai kegelapan. Dengan demikian Paulus menghayati jalan pertobatan yang sebelumnya tak pernah ia mampu menghayatinya. Pengenalan akan kemuliaan Kristus terpantul dalam pengenalan akan kegelapannya sendiri. Paulus menghayatinya dengan lambang, suatu lambang yang nyata, sampai firman Gereja, firman Ananias memberi dia keyakinan bahwa dia diterima dalam Gereja dan bahwa dia dengan aman menempuh jalan Allah.
Kebutaan memantulkan secara negatif kemuliaan Allah yang baru saja dinyatakan kepadanya. Sungguh khas dalam pertobatan Kristen, bahwa orang berhasil mengenal diri sendiri jauh lebih banyak dan menjadi takut akan kegelapannya sendiri bila ia mengenal terang Allah dari pada bila ia mengadakan pemeriksaan ketat seperti mengadakan psikoanalisis atas kedalamannya sendiri. Manusia menyadari dirinya sebagai kegelapan oleh kontaknya dengan wajah Kristus.
Kebutaan jalan pertobatan
Motif kedua yang dapat menerangkan kebutaan Paulus adalah keikut-sertaan Paulus dalam dosa dunia, keterjalinannya dalam umat manusia yang berdosa.
Marilah kita bertanya diri, bagaimana ia menghayatinya dan bagaimana itu menampilkan diri kepadanya.
Kita tidak perlu bekerja dengan fantasi, sebab Paulus sendiri telah mendapatkan berbagai kesempatan untuk mengungkapkan pandangannya tentang tubir kegelapan yang selalu tersembunyi di dalam diri kita masing-masing. Itu hanya dapat dikalahkan oleh kekuatan Allah, tetapi ia masih dapat muncul lagi tiap saat jika Allah tidak terus menerus menang. Bila kekuatan Allah itu ditolak atau dikaburkan oleh kita, maka tampillah kembali apa yang oleh Paulus disebut “dosa yang dipribadikan”.
Mengadakan refleksi tentang kegelapan yang ada dalam hati manusia tidaklah semata-mata mengadakan meditasi yang melukiskan sesuatu yang jauh dari kita, tetapi itu adalah realitas yang ada dalam diri kita, atau yang tersembunyi di dalam hati kita. Berdasarkan pengalaman pahit yang ada pada kita masing-masing, kita tahu bahwa yang tersembunyi itu kadang-kadang secara mendadak dan tak terduga sebelumnya dapat berubah menjadi kenyataan. Itu memang suatu pokok tidak menyenangkan yang sulit diterjemahkan ke dalam bahasa sehari-hari.
Kita selalu diombang-ambingkan antara dua sikap. Di satu pihak kita sering meratapi kejahatan manusia, bila kita menyaksikan kejadian-kejadian yang menggoncangkan. Yang dimaksud misalnya tindak kekerasan, bentuk-bentuk kekejaman di penjara-penjara, pembunuhan di antara para tahanan, masih ditambah suasana neraka di mana orang saling membenci meskipun mereka sama-sama menjalani hukuman yang sama. Kita sendiri masih sangat digemparkan oleh pembunuhan liar yang terjadi di dekat kita, baik dalam waktu maupun dalam tempat. Di lain pihak kita menghibur diri dengan pikiran akan orang yang berkehendak baik, semua punya kehendak baik, semua cukup baik.
Kita tak pernah berhasil mencapai kedua pendapat itu sampai ke dasarnya dan menunjukkan keduanya. Kita terombang-ambingkan antara sikap moralitas yang meratapi dan sikap longgar yang mau memahami semua orang. Sering kali kita tidak memiliki pandangan yang mampu melihat kejahatan manusia dengan belas kasih, dan bukan hanya dengan ratapan pesimis.
Manakah sebenarnya tingkat-tingkat kegelapan yang dibicarakan oleh Paulus dalam surat-menyuratnya pada waktu ia memikirkan kembali apa yang dialaminya pada saat pertobatannya ?
Kita dapat mengungkapkannya menurut tiga tingkat yang berbeda-beda, yaitu :
· tingkat dosa pribadi
· tingkat dosa dasar
· tingkat dosa struktural
(Le Confessioni di Paulo, oleh Mgr.Carlo Maria Martini, Uskup Agung Milano, diterjemahkan oleh : Frans Harjawiyata OSCO)

Read more .....

6/18/2010

KEBEBASAN YANG BENAR MENURUT PAULUS

Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan. Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu. (Gal 5:1-2)
Paulus dan para musuhnya percaya akan kristus yang sama. Sepertinya mereka setuju dalam segala hal. Namun ada sesuatu yang tidak dapat mereka sepakati bersama dan hal ini yang merusak semuanya, yaitu bahwa Paulus tidak percaya pada kewajiban untuk disunat.
Bagi Paulus, tidak ada pewartaan yang otentik tanpa memajukan pendirian-pendirian yang mengejutkan. Karena injil adalah pesan demi kebebasan, para rasul harus memperoleh suatu sikap yang meruntuhkan cara hidup dan pemikiran yang biasa.
Begitulah ‘batu sandungan’ yang perlu dalam segala tindakan Kristen, tetapi hal ini tidak bisa melebihi ‘batusandungan’  yang ditimbulkan oleh kematian Yesus di salib (Sebab Kristus mengutus aku bukan untuk membaptis, tetapi untuk memberitakan Injil; dan itu pun bukan dengan hikmat perkataan, supaya salib Kristus jangan menjadi sia-sia. Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah. - 1 kor 1:17-18).
Menyelamatkan umat berarti membuat umat menemukan diri mereka di depan Tuhan, dan membuat mereka menghadapi kekuatan-kekuatan yang menjadikan mereka budak dan terasing diri sendiri. Ini adalah alasan mengapa Paulus sangat menentang usaha untuk mempertahankan praktek-praktek agama Yahudi.
Mengikuti Paulus, kita bisa bertanya pada zaman kita : Siapakah yang membiarkan diri dipengaruhi oleh prasangka-prasangka, kuasa yang mengasingkan, dan siapakah yang ditindas ? (Dan lagi aku ini, saudara-saudara, jikalau aku masih memberitakan sunat, mengapakah aku masih dianiaya juga? Sebab kalau demikian, salib bukan batu sandungan lagi. – Gal 5:11). Sering kali, Injil dihayati secara lebih otentik dalam kelompok-kelompok Kristen yang sadar akan politik dari pada kelompok yang hanya membatasi diri pada praktek-praktek liturgi.
Sekali lagi, umat Galatia memenjarakan diri dalam parktek agama, hanya karena mereka mau mengelakkan hukuman Allah, dan ini adalah bentuk egoisme (Mereka yang secara lahiriah suka menonjolkan diri, merekalah yang berusaha memaksa kamu untuk bersunat, hanya dengan maksud, supaya mereka tidak dianiaya karena salib Kristus. – Gal 6:12). Namun demikian, hidup Kristen bukanlah seperti itu. Saat kita memilki Roh Kudus, perhatian kita bukan tentang dosa, tetapi lebih tentang cinta. Apa yang penting bagi Tuhan adalah, bahwa kita melepaskan problem-problem kecil kita dan membiarkan Roh-Nya memberikan kita hidup, ini adalah pemikiran Paulus di sini (Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging -- karena keduanya bertentangan -- sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki. Akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat – Gal 5:16-18).
Paulus memberi kita daftar hal-hal dari daging dan juga daftar lain tentang buah-buah Roh. Kita haris ingat, bahwa daging dan roh tidak sama dengan tubuh dan jiwa (Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu -- seperti yang telah kubuat dahulu -- bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah-lembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. – Gal 5:19-23).
 Orang beriman yang sungguh bebas adalah seorang yang menganggap dirinya sebagai ‘hamba’ Kristus. Ini adalah jalan ‘iman kepercayaan’ dalam hidup sehari-hari : kita menyelesaikan semuanya dengan mengingat bahwa kita adalah milik Kristus dan kita adalah pelayan abadi bagi saudara-saudari kita. Dari sikap seperti ini kita memperoleh sukacita dan damai. Perhatikanlah aspek komunitas dari pesan moral ini : kita harus solider dengan saudara-saudari kita. (Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!" Tetapi jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan. – Gal 5:13-15).
(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pastoral Katolik)

-       Sunat
-       Apakah Taurat itu
-       Iman dan perbuatan

Read more .....