7/20/2011
MENJADI DUTA DAMAI
8/03/2009
ORANG KECIL
Para pengikut Il Poverello (Si Miskin Kecil) dari Asisi mungkin merasa diri tergolong orang kecil. Akan tetapi, kalau dengan teliti mengukur diri, ternyata tidak gampang menentukan posisi. Soalnya, memang tergantung pada ukuran yang dipakai.
Orang kecil ada kalau ada orang besar, seperti halnya ‘wong cilik’ dalam masyarakat Jawa ada kalau ada golongan bangsawan dan priyayi. Dalam masyarakat desa di pedalaman tidak ada orang kecil, baru ada kalau ada bangsawan kota datang ke sana, mereka mungkin mulai dimasukkan dalam golongan orang kecil.
Untuk tahu apakah kita ini kecil atau besar, kita perlu menempatkan diri di depan orang lain, entah orang maupun bukan orang. Si pemazmur dalam Mazmur 8, menempatkan diri di tengah alam raya, waktu malam, ketika langit dihiasi bulan dan bintang-bintang, sementara bumi diliputi kesunyian, dan dalam keheningan malam, ia menengadah memandang langit yang megah itu (Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan. Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? – Mzm 8:2,4-5). Waktu itu, ia merasa dirinya merinding dan menciut. Heran, kagum, dan mungkin gemetar, sehingga ia bertanya : “Siapakah aku ini ? Apakah manusia sehingga Engkau mengindahkannya ?” Ia menemukan kekecilannya justru di tengah Keagungan Alam.
Pertanyaan yang serupa pernah juga keluar dari mulut Fransiskus. Waktu itu ia berada di Gunung La Verna, di gua baru karang yang kokoh kuat. Fransiskus mengalami dirinya berada di dalam lingkup kebesaran Tuhan dan dengan heran dan kagum, iapun bertanya : “Siapakah Engkau, Tuhan, dan siapakah aku ini ?” Ya, siapakah aku ini ? Fransiskus menemukan jawabannya, “Cacing kecil yang tak berguna”, ia menemukan kekecilannya.
Untuk menemukan diri sebagai orang kecil, ada religius yang memilih tinggal di tengah-tengah orang kecil. Orang kecil, katanya, menjadi guru yang paling baik dalam bidang itu, yaitu hal menjadi orang kecil. Sebaliknya, ada yang justru lebih merasa diri sebagai orang kecil kalau tinggal di tengah-tengah orang-orang besar, yang besar menjadi bahan kontras untuk merasakan kekecilan diri sendiri.
Mana jalan yang lebih efektif ? Tergantung, memakai manusia atau mahluk ciptaan lain sebagai patokan untuk mengukur kekecilan atau kebesaran diri, memang sifatnya amat relatif. Di tengah orang kecil, misalnya, seorang bisa belajar menjadi kecil, tetapi bisa juga sebaliknya. Ia bisa saja bermain jadi orang besar justru karena yang ada di sekitarnya semuanya kecil. Demikian juga, di tengah orang besar, seorang bisa merasa dirinya kecil, tetapi bisa juga sebaliknya. Ia mungkin bisa ketularan, dan ikut-ikutan merasa diri orang besar.
Si Pemazmur yang disebut tadi juga mengalami dua sisi pengalaman itu, sewaktu memandang ke langit yang megah dihiasi bulan dan bintang-bintang, ia merasa diri kecil, tetapi begitu ia kembali menempatkan diri di tengah hewan gembalaannya, ia merasa diri besar, malahan “hampir seperti Allah”.
Dengan membandingkan diri kita dengan manusia atau mahluk lainnya, tidak ada jaminan bahwa kita bisa menentukan kekecilan kita. Mungkin kita memang bisa merendah-rendahkan diri sebagai orang yang rendah hati dengan kata-kata seperti : ‘kami orang kecil saja, kami tak punya arti’ dan sebagainya, tetapi diam-diam, dalam hati, mungkin kita justru sedang mengangkat diri, dan mengharapkan orang lain mengangkat diri kita ke taraf orang besar, alias “kerendahan hati palsu”.
Maka, paling efektir kalau kita mau menempatkan diri di hadapan kebesaran dan keagungan Allah sendiri. Di hadapan Dia , hanya ada satu kemungkinan untuk kita, mengalami diri kita sebagai mahluk yang rapuh, cacing kecil yang tidak berguna. Pengalaman itu menjadi ungkapan iman, kalau selanjutnya, secara sadar dan aktif, kita mau hidup seperti itu, sesuai dengan status kita di hadapan Allah. Sebab, kata si Miskin Kecil dari Asisi, “Seperti apa nilainya seseorang di hadapan Allah, begitulah nilai orang itu dan tidak lebih.”
Read more .....
6/10/2009
JEJAK LANGKAH TUHAN
Baru dua tahun Boneventura melayani seluruh Tarekat Saudara Dina dalam kedudukannya sebagai minister jenderal. Usianya pun baru 42 tahun. Dalam dua tahun itu ia dipusingkan oleh banyak masalah berat. Pendahulunya, saudara Yohanes dari Parma, lama menjadi ‘tahanan rumah’ di salah satu gua di Greccio. Ia dicurigai terlibat dalam aliran ‘karismatik’ yang memang mengembuskan gairah rohani yang tinggi, namun ajarannya agak menyimpang.
Bonaventura harus menjernihkan masalah ini kalau ia mau melepaskan tarekatnya dari bahaya pembubaran oleh hirarki gereja. Masih ada masalah lain, kehidupan para saudara belum tertata dengan baik, belum ada konstitusi atau statuta yang mengatur disiplin hidup. Masing-masing bergerak menuruti dorongan roh, entah itu Roh Tuhan atau selera pribadi yang oleh Fransiskus disebut ‘roh daging’.
Soal mengemis misalnya, mestinya saudara-saudara bekerja dan dari upah kerja itu menunjang hidupnya, baru kalau itu tidak mencukupi, mereka boleh ‘mengungsi ke meja Tuhan’, yang berarti mengetuk pintu rumah tetangga untuk minta makan. Akan tetapi banyak saudara tidak bekerja dan hanya mengemis, malah dengan bergerombol mereka mencegat orang di jalan-jalan dan dengan mendesak menyodorkan kap jubahnya yang kumal untuk diisi.
Saudara-saudara dina yang pada zaman Fransiskus mendapat simpati orang, berubah menjadi gerombolan peminta-minta yang ditakuti dan dihindari orang. Bonaventura harus membenahi semuanya itu kalau ia mau agar karisma Tarekat Saudara Dina tidak padam oleh roh kekacauan.
Di tengah berbagai masalah itu, minister jenderal yang muda itu merasa seperti sedang berjalan di tengah hutan rimba. Ia kehilangan arah, apa tujuan perjalanan hidup ini ? Memecahkan masalah yang tidak pernah akan habis ? Ia bingung dan kacau dan merasa perlu mengundurkan diri ke tempat sepi untuk mencari kedamaian.
Di gunung La Verna, di pinggir tebing termpat Fransiskus mendapat penglihatan tentang Seraf dan menerima stigmata tiga puluh lima tahun sebelumnya, Bonaventura berdoa dan merenung, “Tunjukkanlah kepadaku jalan-Mu ya Tuhan, supaya aku hidup menurut kebenaran-Mu” (Mzm 86:11)
Diterimanya begitu saja bahwa tujuan perjalanan hidup ialah Allah, tetapi bagaimana jalannya ke sana ? itulah yang dimintanya agar Tuhan sendiri menunjukkannya jalan-Nya kepadanya. Buah renungannya itu dituangkannya dalam buku Itinerarium Mentis in Deum (Perjalanan Manusia Rohani ke dalam Allah)
Jalan yang pertama ialah ‘alam raya’ dan yang kedua adalah ‘manusia’. Di dalam alam raya, Bonaventura melihat jejak langkah Tuhan ; sedangkan di dalam manusia, ia melihat gambaran Allah. Alam raya adalah tanda yang diberikan oleh Allah sendiri agar kita bisa melihat Dia melalui alam itu. Alam raya adalah kitab, yang di dalamnya kita membaca tentang Allah, alam raya adalah cermin besar yang memantulkan cahaya ilahi beraneka warna. Allah Pencipta yang mahakuasa, pengatur yang bijaksana dan sumber segala kebaikan dimaklumkan dan dipantulkan oleh alam raya itu. Bagi Bonaventura jejak langkah Allah dalam alam semesta itu begitu jelas sehingga ia heran kalau orang tidak bisa membaca hal ini.
Butalah orang yang tidak diterangi oleh cahaya yang memancar dari alam ciptaan.
Tulilah orang yang tidak terbangun oleh sorak-sorai alam raya.
Bisulah orang yang tidak memuji Allah karena semua yang dikerjakan-Nya.
Tolollah orang yang tidak menemukan Prinsip Pertama, dari tanda-tanda yang begitu jelas.
Karena itu, bukalah matamu, pasanglah telinga rohmu, bukalah bibirmu, berikanlah perhatianmu agar di dalam segala mahluk ciptaan, engkau dapat melihat, mendengar, memuji, mencintai dan menyembah, memuliakan dan menghormati Allahmu, biarpun seluruh dunia bangkit menentang engkau.
Apakah kita memang melihat jejak langkah Allah dalam alam raya, menelusuri bekas telapak kaki-Nya sampai akhirnya kita menemukan Dia ? Pasti bukan perkara gampang, kita lebih banyak berbicara tentang Tuhan yang ada di kampung kumuh di kota, di antara gelandangan dan anak jalanan dan di tengah orang miskin di desa-desa. Akan tetapi apakah betul kita menemukan Dia di sana dengan gampang ? Pasti tidak, alam dan manusia rupanya lebih sering menjadi tabir penghalang, kecuali bagi mistikus yang berani mengambil jarak terhadap alam dan manusia itu. Ia keluar dari kungkungan alam dan dirinya sendiri dan melangkah masuk ke dalam Allah. Itu bukan lagi usaha manusia, kata Bonaventura, tetapi pengurapan oleh Roh Kudus.
Read more .....
2/16/2009
HIDUP DI ANGIN
Beberapa “Perantau dan Musafir”, salama beberapa waktu berkelana di suatu daerah yang agak asing. Mereka pergi tanpa motivasi yang tinggi-tinggi. Mereka hanya mau menikmati kebebasan dan keleluasaan bergerak. Bebas dari jam dan bunyi weker, bebas dari dering telepon, bebas dari bunyi lonceng dan segala jenis tanda pengatur tata tertib acara. Malahan mereka mau bebas dari tembok, ubin dan kamar mandi.
Karena itu, mereka pergi tanpa arloji, penunjuk waktu mereka adalah matahari, bulan dan bintang-bintang serta binatang siang dan binatang malam. Pengatur acara lonceng-lonceng dalam tubuh sendiri. Misalnya kalau cacing-cacing mendendangkan lagu keroncong, para musafir itu tahu bahwa “kampung tengah” minta diisi. Kalau cacing-cacing itu meniup terompet dan sangkakala, sebaliknya kantong itu minta dikosongkan. Untuk berteduh pada malam hari, mereka membawa kain kemah yang bisa dipasang dan dibongkar setiap kali.
Selama pengembaraan itu, mereka memang bebas. Ah, istilah itu barangkali kurang tepat, bisa menimbulkan salah sangka. Mereka tidak bebas dari Tuhan dan hati nurani, tetapi mereka merasakan keleluasaan dan kelonggaran untuk bergerak. Hidup sehari-hari – yang rupanya menjadi padat dan beku dalam gerak-gerak rutin – terasa mencair dan meleleh. Acara harian yang tertib menjadi relatif dan longgar. Yang terasa akhirnya ialah kesegaran.
Mereka segar untuk masuk kembali ke dalam jaringan hidup rutin yang membatasi gerak mereka. Di situ semuanya mungkin akan kembali menjadi beku dan kaku, tetapi tidak bisa dihindari, hanya bisa dijalani begitu rupa agar tidak menjadi belenggu.
Fransiskus dan para pengikutnya yang pertama rupanya amat cepat dan leluasa dalam bergerak. Dengan kaki telanjang, tahu-tahu mereka sudah ada di Spanyol, Perancis, Inggris, Jerman, Maroko, dan Tanah Suci. Mereka lebih leluasa lagi karena tidak membawa kemah seperti para “perantau dan musafir” modern. Yang mereka bawa hanya buku Ibadat Harian yang diikat dengan tali dan digantungkan di leher, karena mereka tidak membawa tas dan kantong plastik dan saku jubah terlalu kecil untuk buku itu (kata-Nya kepada mereka: "Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat atau bekal, roti atau uang, atau dua helai baju. Dan apabila kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari situ. – Luk 9:3-4).
Mereka mengembara bukan agar mereka merasa lapang dan longgar untuk sesaat terhadap hidup rutin dalam rumah dan di proyek kerja. Yang dicari bukanlah bebas dari ini dan dari itu untuk sesaat, tetapi mereka memang betul-betul tidak diikat oleh apapun. Semuanya sudah mereka tinggalkan dan kini mereka seperti hidup di angin, ke arah mana angin (dan ANGIN) bertiup, ke sanalah mereka terbawa (Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh." – Yoh 3:8). Mereka sebetulnya tidak bergerak sendiri, tetapi mereka bebas UNTUK DIGERAKKAN ke mana saja sesuai dengan arah yang dikehendaki Si Penggerak (Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh – Gal 5:25).
Untuk itu mereka harus memenuhi satu syarat : jangan berakar dalam pekerjaan dan tempat tinggal dari beton, tetapi sebagai musafir dan perantau cukuplah sediakan kemah yang mudah dipasang dan dibongkar..
Kita perlu menjadwalkan kembali karya-karya kita agar lebih sesuai dengan tuntutan kharisma kita serta kebutuhan orang kecil, demikian bunyi laporan diskusi dalam suatu sidang tarekat. Lebih lanjut diberi contoh karya-karya tertentu yang seharusnya ditangani. Namun, kesimpulan pembicaraan sudah bisa diduga, para peserta sidang itu bagaikan satu koor besar, mengulangi refrein yang selalu terdengar. Kita tidak punya tenaga, ada peningkatan anggota, tetapi semua sudah diserap di sekolah-sekolah dan rumah-rumah sakit kita (yang selalu bertumbuh semakin besar dan megah sehingga tenaga tidak pernah mencukupi).
Rasanya, kita sebagai “Perantau dan Musafir”, bukan lagi sebagai orang-orang yang hidup di angin (dan di ANGIN). ANGIN memang berhembus, tetapi kita tidak terhembuskan. ANGIN bertiup keras, tetapi kita tetap berdiri kokoh kuat. Kita telah menancapkan akar dalam hidup dan karya kita yang mapan dan kita mengira bahwa itulah kesempurnaan, tetapi sementara itu kita tidak mau lagi digerakkan.
Nabi Elia memerlukan angin sepoi-sepoi untuk bisa bergerak lagi (1 Raj 19:12), yang kita perlukan adalah angin badai dan puting beliung yang mampu mencabut akar-akar kita, agar kita BEBAS UNTUK DIGERAKKAN.
Read more .....
11/27/2008
TELANJANG
Kekecilan, kedinaan, minoritas, semua punya hubungan erat dengan ketelanjangan. Paling tidak itulah yang tampak dalam hidup Fransiskus. Orang kudus itu suka main telanjang-talanjangan. Pada awal peristiwa pertobatannya yang menghebohkan ialah soal telanjang-telanjangan itu. Di depan Uskup Asisi, Bapak Pietro Bernardone menuntut agar anaknya mengembalikan harta miliknya yang diboroskan untuk orang miskin.
Tanpa banyak bicara, Fransiskus maju ke depan, lalu ia menanggalkan semua pakaiannya dan mengembalikannya kepada bapanya. Ia berdiri telanjang di depan semua orang. Uskup lalu merangkulnya dan menutupi tubuhnya dengan mantel yang dipakainya sendiri. “Tindakan itu mengandung misteri”, pikir Uskup. Fransiskus merasa bebas dari segalanya, juga dari Bapak Pietro Bernardone. Ia berdiri polos di hadapan Bapa Surgawi dan ia merasa cukup begitu. Semua bisa diurus Bapa di surga. “mulai sekarang aku dengan leluasa dapat berkata ‘Bapa kami yang ada di surga’, bukan ‘bapak Pietro Bernadone...’ aku mau melangkah telanjang menuju Tuhan.”
Peristiwa itu ternyata bukan hanya satu kejadian sesaat, tetapi langkah awal satu pgrogram hidup. Karena itu, Uskup merasa bahwa tindakan orang muda itu mengandung misteri.
Pada akhir hidupnya, ketika “Saudara Keledai” (yaitu tubuhnya) sudah kehabisan tenaga, Fransiskus masih dua kali bermain telanjang-telanjangan. Waktu itu, dia merasa makin bebas, makin lepas dari dunia ini. Ia mau mengungkapkan itu dengan tubuhnya, ia minta dibaringkan, telanjang, di tanah yang telanjang, karena katanya pada saat-saat terakhir itu, ia tetap mau bergulat dengan musuh bebuyutannya, yaitu si setan atau si ular yang selalu takut pada keluhuran kemiskinan dan tidak mau berkawan dengan orang-orang miskin. Ketelanjangan menjadi ungkapan kemiskinan luhur yang pasti membuat si musuh itu lari terbiri-birit.
Dua hari kemudian ia berpesan lagi kepada saudara-saudaranya demikian : Bila kamu melihat saat akhirku sudah tiba, baringkanlah aku, telanjang, di atas tanah, seperti kamu lihat kemarin dulu. Biarkanlah aku berbaring demikian sesudah kematianku, selama rentang waktu yang diperlukan orang untuk berjalan dengan santai sejauh satu mil. Program hidupnya dilaksanakan hingga akhir, sebagai orang telanjang ia mau melangkah menuju Tuhan.
Tidak hanya pada awal dan akhir Fransiskus mau menelanjangi diri. Ada banyak peristiwa lain dalam hidupnya di mana ia main telanjang-telanjangan. Ia pernah berkhotbah di depan umat dengan pakaian minim. Untuk mengalahkan godaan, ia pernah menanggalkan pakaiannya dan “menyerbu” masuk ke semak berduri, yang tentu saja melukainya. Pada kesempatan lain, waktu tergoda untuk berkeluarga, ia juga menanggalkan pakaiannya lalu merebahkan diri dalam salju yang tebal. Kemudian, ia membuat orang-orangan dari salju : satu istri, empat anak, dan dua pembantu. Lalu katanya kepada dirinya, “Berikanlah pakaian kepada mereka semua agar tidak mati kedinginan. Kalau ternyata hal itu saja sudah merepotkan dirimu, berusahalah melayani Allah saja.” dan setanpun lari.
Semua hal itu diceritakan dengan wajar saja, rupanya tidak ada pikiran bahwa bertelanjang badan bisa porno dan membahayakan kemurnian. Malahan waktu ada godaan kontra kemurnian, Fransiskus justru memeranginya dengan main telanjang. Seluruh hidupnya seperti satu rangkaian “tari telanjang”. Ia mau tetap kecil, mau terus menjadi sekecil-kecilnya. Oleh karena itu, ia terus menari di hadapan Tuhan sambil terus menerus menanggalkan lapisan-lapisan yang membungkus dirinya, sampai akhirnya ia berdiri telanjang dan polos di hadapan Bapa Surgawi, tidak munafik, tidak berpura-pura, sederhana, ya TELANJANG.
Read more .....
10/29/2008
MENGASIHI YANG SAKIT, MENGASIHI KRISTUS
Perempuan Eropa itu mengenakan kain sari, pakaian perempuan India, plus kerudung dengan salib kecil di dada sebelah kiri. Ia berjalan di sepanjang jalan daerah kumuh di Calcutta. Pemandangan di jalan itu memilukan, ia melihat seorang perumpuan yang sedang sekarat di tempat sampah. Tubuhnya sudah digerogoti tikus dan dikerubungi semut. Perempuan itu sudah lebih menyerupai “bangkai” dari pada manusia. Satu-satunya tanda kehidupan yang ada padanya hanyalah keluhan yang lemah dan hampir tidak terdengar. Ia berkata lirih, “Anak saya membuang saya di tempat ini.”
Perempuan Eropa dengan kain sari plus kerudung kebiaraan itu siapa lagi kalau bukan Ibu Teresa. Ia membungkuk dan mengangkat tubuh yang sudah setengah bangkai itu. Ia membopongnya dalam gendongannya dan mencari rumah sakit terdekat untuk minta bantuan. Ia memang sampai ke rumah sakit, tetapi jawabannya sudah bisa diduga, tidak ada tempat untuk mahluk malang itu, yang pasti tidak bisa melunasi ongkos perawatannya. Ibu Teresa bertahan, ia tidak mau beranjak mundur dari situ sebelum orang yang sedang sekarat itu diterima dan dirawat. Akhirnya, perempuan yang sedang sekarat itu diterima, meskipun nyawanya memang tidak bisa lagi diselamatkan.
Kejadian itu bukanlah satu-satunya, para gelandangan mati di jalan-jalan di Calcutta dan tidak ada satu hatipun yang terharu menyaksikannya. Akan tetapi, Ibu Teresa tak bisa tinggal diam, ia mengumpulkan mereke, tetapi di mana harus ditampung ? Rumah sakit tidak punya tempat untuk mereka itu yang betul-betul sakit. Ia pun menghadap Departemen Kesehatan Kota untuk meminta tempat penampungan. Pemerintah kota mengizinkan dia memakai satu ruangan kosong yang bergandengan dengan kuil Dewi Kali, dewi pelindung kota itu. Di situlah, orang-orang gelandangan yang sudah tidak mampu lagi yang hidupnya menggelandang ditampungnya. Ia memang yakin bahwa ia tidak mampu memulihkan nyawa semua orang itu, tetapi paling tidak, ia mau mendampingi mereka dengan “penuh kasih”, agar mereka dapat mati secara layak sebagai manusia dalam rangkulan seorang yang masih bisa terharu dan bergetar hatinya karena kasih akan mereka. Hanya itu yang mau diberikan oleh Ibu Teresa kepada mereka, yaitu “hati yang bergetar dan penuh kasih”.
Yang dikerjakan Ibu Teresa dari Calcutta bukanlah sekedar karya sosial kemanusiaan seperti yang bisa dikerjakan juga oleh pemerintah, atau oleh orang Hindu dan Budha, atau bahkan oleh para pembela hak-hak asasi manusia. Lebih dari itu, apa yang dibuatnya adalah “ibadat”, yaitu penghayatan iman.
“Waktu saya menyentuh anggota badan seorang kusta yang seluruhnya bernanah, saya yakin bahwa saya sedang menyentuh Tubuh Kristus, seperti ketika saya menyambut Sakramen Tubuh-Nya dalam Ekaristi. Saya yakin bahwa saya menyentuh Kristus dalam rupa seorang kusta, keyakinan itulah yang memberikan keberanian kepada saya.”
Kata-kata Ibu Teresa itu mengungkapkan “nilai” karyanya untuk orang sakit, sebagai pernyataan iman dan kasihnya kepada Kristus sendiri. Ia memilih orang yang paling miskin dan malang, yang tidak bisa diharapkan memberikan imbalan apapun. Dengan demikian, semakin nyatalah betapa ia membuat semuanya atas dasar kasih semata, bukan belas kasihan yang bisa amat egoistis, karena pihak yang memberi merasa diri jauh di atas pihak yang diberi. Yang diberikannya adalah kasih semata-mata, kasih Tuhan sendiri yang sifatnya selalu gratis, cuma-cuma. Ibu Teresa tampak bagaikan kasih Allah yang mempribadi, yang memberi hanya untuk memberi, melayani hanya untuk melayani, dan bukan memberi supaya diberi lagi, atau melayani untuk dilayani kembali.
Mungkin karena kasihnya yang total dan gratis, yang terungkap dalam menolong mereka yang paling malang di antara orang-orang malang, maka setiap kata dan perbuatannya terasa punya “daya kekuatan” yang “gaib”, setiap kata yang diucapkannya dan setiap perbuatan yang dilakukannya bergaung begitu kuat dan bergema begitu jauh. Getaran dan gaungnya melebihi getaran dan gaung yang dipancarkan dari semua rumah sakit “misi” yang serba lengkap dengan semua peralatan yang canggih sekalipun.
Pada abad XII, Fransiskus ditangkap oleh Kristus, ia menjawab panggilan itu antara lain dengan pergi ke tengah orang kusta dan membersihkan luka-luka mereka, dengan cuma-cuma, serta menyampaikan kasihnya untuk mereka, gratis !. Pada abad kita sekarang, Ibu Teresa ditangkap oleh Kristus yang sama, ia juga menjawab dengan membersihkan luka-luka orang kusta dan gelandangan, juga dengan cuma-cuma, dan membuat mereka semua merasa bahwa mereka dikasihi, dengan gratis !.
Banyak tarekat yang mempunyai berbagai klinik, bahkan rumah sakit yang cukup modern dan ternama. Memang baik, akan tetapi juga ada risiko, semakin hebat klinik dan rumah sakit kita, semakin banyak uang yang diperlukan untuk menjalankannya. Ekor selanjutnya adalah, semakin tinggi tarif untuk pasien, semakin jauhlah kita dari orang yang miskin. Dengan demikian, Wajah Yesus Kristus menjadi semakin kabur, meskipun mungkin di setiap sudut ada patung Hati Kudus Yesus dan di setiap ruangan bergantung salib Tuhan kita, Yesus Kristus.
Read more .....
10/08/2008
DIDORONG
Di lorong-lorong rumah sakit yang besar itu ada satu pemandangan yang biasa, yaitu orang didorong, ada yang duduk di kursi roda, ada yang terbujur di tempat tidur. Mereka sakit, dan perawat mendorong mereka, mungkin ke kamar bedah atau dari kamar bedah kembali ke ruang perawatan, mungkin ke baboratorium atau kembali dari sana.
Satu per satu didorong oleh orang lain karena mereka sakit dan lemah, dan tidak mampu berjalan sendiri ke tempat yang dituju, mereka tidak berdaya melangkah. Puncaknya ialah ketika seseorang didorong ke kamar mayat, waktu itu kita menyaksikan mungkin bukan sekedar kerapuhan manusia, tetapi satu jawaban terdalam atas pertanyaan siapakah manusia itu. Jawaban itu berbunyi “manusia adalah mahluk yang didorong”.
Dari sudut pandang tujuan dan asal usulnya, jawaban atas pertanyaan siapakah manusia pasti lain. Tetapi dari sudut pandang dinamika dan gerak langkahnya manusia adalah mahluk yang didorong. Ia bergerak maju karena didorong dari belakang. Masa awal hidupnya ketika ia masuk ke dunia dan saat akhir ketika dia meninggalkan dunia ini, mengungkapkan secara paling jelas bahwa manusia maju menuju sasaran karena didorong oleh kekuatan lain dan bukan oleh kekuatannya sendiri.
Ketika Fransiskus merenungkan dinamika gerak langkahnya sendiri, ia mulai mengambil jarak terhadap dirinya, dan mengamati bagaimana dirinya itu melangkah maju. Ia tidak melangkah kalau tidak didorong dengan kuat. Dengan rasa humor yang tinggi ia menyebut dirinya “Saudara Keledai”. Ia malas, tukang menggerutu dan berontak, maka perlu disepak dari belakang dan dicambuki dengan disiplin dan penitensi yang keras. Kemudian Fransiskus merasa perlu meminta maaf kepada “Saudara Keledai” karena ia telah memperlakukannya terlalu keras.
Apakah yang oleh Fransiskus dialami sabagai “keledai” yang malas dan manja itu seluruh diri Fransiskus ? atau hanya beban dan daging yang menjadi sarang dorongan-dorongan yang memusat pada diri sendiri ? Tentu saja Fransiskus tidak boleh dipenggal-penggal. Tetapi ketika dia berbicara tentang “Saudara Keledai”, kita melihat ada Fransiskus “kusir” yang memacu dan mendorong, dan ada Fransiskus “keledai” yang dipacu dan didorong. Roh memang kuat, tetapi daging itu lemah (Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan; roh memang penurut, tetapi daging lemah. – Mrk 14:38). Rupanya roh yang kuat itu menguasai Fransiskus dan menjadi daya dorong bagi si keledai.
Sabagai manusia sejati, Yesus sendiripun ditampilkan sebagai mahluk yang didorong untuk melangkah masuk ke peristiwa-peristiwa besar dalam hidup-Nya. Di sungai Yordan Ia dibaptis, Roh Kudus turun ke atas diri-Nya dan Ia dimaklumkan oleh Allah sebagai Anak-Nya yang terkasih dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit (dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit: "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan." – Luk 3:21-22).
Setelah peristiwa “pelantikan” itu, Roh yang mendorong Yesus ke padang gurun (Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun - Luk 4:1). Di sana Ia berdoa dan berpuasa dan mengalahkan godaan-godaan si jahat. Dari sana Roh mendorong Dia kembali ke Galilea (Dalam kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea – Luk 4:14). Di kampung halaman-Nya sendiri Roh Tuhan yang memenuhi diri-Nya mendorong Dia untuk memaklumkan program hidup dan karya-Nya, yang kemudian terlaksana dalam tiga tahun. Yesus bukan keledai yang rewel, tetapi yang jelas bahwa Ia pun perlu didorong oleh daya Ilahi yang disebut Roh Kudus.
Renungan ini membawa kita ke pertanyaan ini “apakah manusia bisa memimpin dirinya sendiri ? “ Pertanyaan itu bernada pesimistis, meragukan kemampuan manusia. Kalau dijawab “tidak bisa”, mungkin kita meremehkan dan merendahkan manusia, tetapi kalau dijawab “bisa”, kita berhadapan dengan seribu satu contoh kegagalan dan kesesatan yang dialami oleh mereka yang merasa diri mampu memimpin diri sendiri.
Fransiskus yang telah mengenal dirinya sedalam-dalamnya, yakin bahwa keledai yang malas harus didorong, dan kuda yang emosional harus terus dipacu dan dikendalikan dengan kekang. Dan daya pendorong itu hanya satu, yaitu “Roh Tuhan”. Maka kesimpulan dan pesan Fransiskus ialah : “Hendaknya saudara hanya ingin memiliki Roh Tuhan di atas segala-galanya, dan membiarkan Dia berkarya di dalam dirimu.” Dorongan Roh Tuhan dihayatinya melalui ketaatan, sampai matinya ia mau menjadi bawahan seorang guardian, malahan ingin menjadi bawahan semua orang dan semua mahluk. Suara mereka ditaatinya sebagai dorongan dari Roh Tuhan sendiri, Roh Tuhan itu disebut Fransiskus sebagai “minister jenderalnya.”
Read more .....
9/09/2008
GANDUM KRISTUS
Berbagai kelompok kecil sudah mencoba dengan bermacam cara untuk menghidupkan Perayaan Ekaristi. Ada kalanya mereka memakai bangku di ruang ibadat, ada kalanya hanya bantal dan tikar. Suatu kali mereka berderet di dalam barisan beberapa lapis. Kali lain mereka melingkar di sekitar altar. Hari-hari tertentu mereka berjabatan tangan sewaktu “Salam Damai” dan hari-hari lainnya mereka semua bergandengan tangan selama doa “Bapa Kami”.
Imam merasa perlu untuk setiap kali membuka perayaan dengan ucapan “Selamat Pagi” yang ditujukan secara pribadi kepada setiap orang dengan menyebut namanya satu demi satu. Cara menyambut komuni pun bervariasi, biasanya dicari cara yang paling menyentuh, misalnya si A memberikan roti dan anggur kepada si B sambil berkata, “Saudariku Bibiana, inilah Tubuh dan Darah Kristus.” B menjawab, “Amin, saudariku Adriana.”. Doa Syukur Agung seperti apa adanya dirasa tidak memuaskan, kurang personal, maka “prefasi” mesti dikarang sendiri dan alasan untuk bersyukur mesti konkret dan terinci, misalnya “Kami pantas bersyukur kepada-Mu Tuhan, karena senyuman Ibu Kepala Rumah yang amat menyejukkan suasana pagi ini” dan seterusnya. Setiap kali mesti diselipkan satu dua nama atau kalimat tambahan dalam “Doa Syukur Agung” yang resmi.
Juga mengenai berkat akhir ada variasi. Tidak cukup imam memberkati umat, tetapi orang yang berdekatan diminta saling berhadapan dan saling memberkati dengan menandai dahi sesamanya dengan salib. Nyanyian mesti ada, biasanya diselipkan tema lagu-lagu bermotif “persaudaraan” seperti “Marilah Saudara Melangkah Maju” dirasakan lebih mengena dari pada lagu-lagu yang mengarah langsung kepada Tuhan Allah.
Semua variasi itu bertujuan baik, yaitu mau menciptakan suasana persaudaraan di dalam Ekaristi. Persaudaraan itu mau diciptakan begitu rupa sehingga bisa disentuh dan diraba. Ekaristi yang berjalan secara kering mengikuti petunjuk dan doa-doa yang tertulis dirasakan sebagai upacara yang gaib, magis dan anonim yang tidak ambil pusing terhadap saudara-saudari yang bersama-sama merayakan Sakramen Persaudaraan dan cinta kasih itu. Ada penilaian bahwa perayaan Ekaristi yang baik adalah yang “menyentuh” dan “mengharukan” berkat adanya berbagai sapaan yang manusiawi dan tanda-tanda keramah-tamahan.
Nyanyian “Aku Gandum Kristus” menarik perhatian untuk segi lain yang diperlukan dalam persaudaraan dan perayaan dalam Ekaristi. “Aku Gandum Kristus bila aku digiling dalam sengsara”, “Aku Anggur Kristus bila aku diperas dalam sengsara”. Ekaristi tidak bisa dibatasi pada hal-hal yang menyentuh dan menggugah emosi saja, ada juga tuntutan yang tidak kepalang tanggung, yaitu digiling dan diperas dalam sengsara.
Persaudaran atau semangat persaudaraanpun sering dikaitkan dengan kelakar dan gelak tawa. Akan tetapi kita juga perlu tahu, bahwa untuk mewujudkan semangat persaudaraan yang sejati perlu juga semangat sukacita yang sejati dari Fransiskus. Kalau engkau tiba dipintu, lapar, haus dan engkau mengetuk pintu, tetapi saudaramu tidak mau membukakan pintu, malahan mengusirmu sebagai bajingan penipu, tetapi kalau waktu itu engkau tetap bersukacita dan menerima perlakuan saudaramu dengan sabar, maka semangat Ekaristi pasti sedang terlaksana. Yang dikenang dalam Ekaristi adalah wafat dan kebangkitan Tuhan yang mendamaikan kita dengan Allah dan membuat kita bersaudara. Biji gandum mesti hancur di dalam tanah agar bisa tumbuh tanamam gandum baru, yang menghasilkan biji berlipat ganda. Persaudaraan bisa bertumbuh dan berbuah subur kalau setiap orang yang menyebut diri “Saudara” juga berani berkorban dan hancur demi yang lain.
Nilai persaudaraan menjadi tanda tanya mana kala terdengar orang berkata begini “Saya tidak mau menghadiri pertemuan itu, karena saya tidak senang dan tidak melihat manfaatnya untuk diri saya. Saya tidak ke ruang santai karena saya tidak membutuhkan saat bersantai-santai. Saya mau menonton televisi karena saya suka, tidak peduli apakah yang lain terganggu atau tidak.”
Dalam pernyataan-pernyataan seperti itu, kepentingan pribadi jelas merupakan faktor utama yang menentukan, maka persaudaraan berarti yang lain harus berkorban dan mengalah demi “aku”. Persaudaraan dirayakan dalam Ekaristi arahnya terbalik, ia tidak hidup lagi bagi diri-Nya sendiri, melainkan bagi kita. Itulah yang diperbuat-Nya agar kitapun hidup bagi Dia dan bukan bagi diri kita sendiri.
Read more .....
7/31/2008
MENEMBUSI TANDA DAN LAMBANG
Beberapa tahun lalu, di salah satu pulau di Maluku ditemukan seorang serdadu Jepang yang masih bertahan hidup di situ sejak Perang Dunia II. Ia hidup di hutan makan dari hasil hutan dan hasil perburuannya. Ia masih menantikan kembalinya komandannya, karena ia belum tahu bahwa Jepang sudah lama menyerah dan perang sudah lama berakhir.
Yang menjadi masalah untuk tentara Indonesia ialah bagaimana membujuk atau memikat orang itu untuk menyerah. Mereka harus berhati-hati karena samurai si Jepang itu tidak pernah lepas dari badannya.
Akhirnya ada akal yang baik, dua tentara Indonesia menghampiri si Jepang itu, sewaktu serdadu Jepang itu kelihatan mulai mencium kehadiran mereka , salah satu dari mereka menyanyikan lagu “Kimigayo” lagu kebangsaan Jepang, dengan sikap hormat sempurna.
Mendengar lagu kebangsaan negaranya dan melihat bendera tanah airnya, si Jepang itu berdiri tegap memberi hormat kemiliteran. Menjelang berakhirnya lagu Kimigayo, sebelum dia sempat meraih samurainya, seorang serdadu Indonesia yang lain dengan sigap mencengkamnya dari belakang. Akhirnya mereka berhasil menjinakkannya dan kemudian meyakinkan dia bahwa perang sudah selesai dan Jepang sudah kaya raya, karena itu ia boleh kembali ke negerinya dengan tenang.
Yang menarik dari serdadu Jepang itu ialah kepekaannya yang amat tajam terhadap tanda dan lambang. Sudah puluhan tahun ia berhasil bertahan di hutan, karena itu setiap ada bahaya yang mengancam akan tercium olehnya. Akan tetapi, begitu ia mendengar lagu kebangsaan dan melihat bendera negaranya, ia terserap seluruhnya dalam tanda-tanda itu dan lupa akan semua bahaya yang mengancam.
Lagu “Kimigayo” dan bendera “Matahari Terbit” menggugah rasa kebangsaannya, ia langsung teringat pada Nippon, ia “melihat” Hirohito sang Kaisar. Karena itu, tanpa menimbang lagi ia segera memberi hormat dengan sikap sempurna seorang prajurit Nippon. Bagi dia, lagu kebangsaan dan bendera itu identik dengan Jepang, ia dengan telinga mendengar lagu dan dengan matanya melihat bendera, akan tetapi dengan hatinya, ia menembusi kedua tanda yang kecil dan terbatas itu dan menemukan kenyataan besar yang ditandakannya, yaitu Jepang, Dai Nippon, yang untuknya ia bersedia mati, dengan harakiri sekalipun.
Menembusi tanda dan lambang, itulah kiranya yang bisa dikatakan mengenai Fransiskus Asisi, juga dalam sikapnya terhadap Sakramen Ekaristi. Melihat “hosti”, benda kecil yang putih dan tipis, serta “anggur” di altar persembahan, Fransiskus bereaksi dan bergetar. Ia bersujud menyembah, bibirnya bergumam : “Kami menyembah Engkau, Tuhan Yesus Kristus”. Matanya memandang kagum, “O Keagungan, O Keluhuran, O Tuhan semesta alam, Allah dan Putra Allah.” Lalu, ia memejamkan mata, menggigit bibirnya menahan rasa haru dan membiarkan arimatanya mengalir dengan sendirinya sampai ke sudut-sudut bibirnya, ia mendesah penuh haru, “O Kedinaan, O Kerendahan, O Kemiskinan, O Kasih. Allah dan Putra Allah menanggalkan segala Keagungan-Nya dan memberikan diri seutuh-utuhnya kepadaku, Ia sudi merendahkan diri untuk mengangkat aku, cacing yang hina ini. O Kasih, O Kasih, Kasih...hanya karena Kasih, demi Kasih, untuk Kasih.”
Dalam tanda lambang yang sederhana itu Fransiskus melihat Kristus yang menghampakan diri mulai dari Bethlehem sampai Kalvari. Ia merasakan getaran kasih Allah yang mencintai sampai sehabis-habisnya, ia menyaksikan Tuhan yang tidak menahan sesuatupun bagi diri-Nya, tetapi mengorbankan diri habis-habisan untuk keselamatan manusia. Maka, tanda lambang yang sederhana itupun menggerakkan dia untuk bereaksi dan menentukan sikap.
Di altar ada penghampaan diri, maka tidak ada pilihan lain bagiku selain menanggalkan semua harta milik.
Di altar ada perendahan diri, maka tidak ada jalan lain bagiku selain terus menerus menjadi hina dan dina.
Di altar ada perdamaian dan persekutuan, maka tak ada pilihan bagiku selain berusaha menjadi saudara bagi semua mahluk.
Di altar ada kasih, maka tugasku hanyalah menjadi penyalur kasih bagi setiap insan dan mahluk yang tak berhayat sekalipun.
Di altar Ia memberikan diri seutuh-utuhnya bagiku, maka tidak ada jawaban lebih tepat selain bahwa akupun memberikan diriku seutuh-utuhnya bagi Dia dan bagi semua sudara-Nya yang terkecil di sekitarku.
Bagaimana Fransiskus mempu menembusi tanda dan lambang dan langsung menyentuh kenyataan ILAHI yang tak terhingga itu ? Kuncinya hanya satu, yaitu Roh Tuhan.
Tanpa Roh, orang-orang di sekitar Yesus hanya mengenal Dia sebagai “Orang Nazareth Bin Miryam” dan tidak mengenal Dia sebagai Anak Allah.
Tanpa Roh, orang di sekitar altar hanya melihat hosti dan anggur sebagai benda mati dan bukan Allah dan Putra Allah.
Tanpa memiliki Roh, kita tidak dapat dan tidak pantas menyambut, maka nasihatnya adalah, berusahalah untuk memiliki hanya satu, yaitu ROH TUHAN.
(“Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” - Luk 11 : 13)
Read more .....
7/24/2008
BINATANG KONTEMPLATIF
Anjing punya lebih banyak kelebihan, dia tidak hanya tahu makan, dia bisa menjadi teman manusia. Ia tahu bermain-main dan tahu memberi selamat datang dengan melolong, melompat dan melambaikan ekornya. Akan tetapi dia juga bukan binatang kontemplatif.
Pernah ada suster Klaris (kontemplatif) memaksa anjingnya untuk hidup dalam kerangkeng serupa dengan pagar biara kontemplatif mereka sendiri, akan tetapi mereka tidak berhasil membuat anjing itu hidup bahagia dalam keheningan ketemplatif, anjing malahan frustasi karena terkurung terus dan akhirnya mati.
Mungkin kucing lebih pantas disebut binatang kontemplatif, ia tenang, suka tinggal dalam rumah, gerak geriknya halus dan terukur sesuai dengan tata aturan hidup sejumlah rubiah kontemplatif. Suaranya bisa lembut memelas, seperti koor para Klaris kontemplatif bila sedang membawakan Mazmur 142. Dilihat dari cara membawa diri secara lahiriah, kucing rupanya punya banyak bakat kontemplatif. Namun, sebenarnya ia pemain sandiwara yang genial, ia halus, sopan dan tenang, tetapi begitu ada kesempatan, ia loncat ke atas meja makan, tanpa membikin ribut dan mencuri apa saja yang paling enak. Tingkahnya yang halus dan suaranya yang memelas lebih untuk menarik perhatian dan mohon belas kasihan untuk dirinya sendiri, ia sendiri tidak akan menyumbangkan satu kepala ikan kepada anjing secara cuma-cuma.
Ayam mempunyai variasi bakat yang lebih besar, ia bisa duduk sepanjang hari dalam kandang, ia bisa juga jalan-jalan atau bermain kejar-kejaran dengan temannya di tanah atau di dahan-dahan pohon. Yang betina berkotek mewartakan keajaiban Tuhan setiap ia berhasil mengeluarkan sebutir telur, yang jantan menyanyikan semua mazmur ibadat fajar, ia tidak mau hanya membacanya dengan irama kilat khusus atau sambil tidur-tiduran, ia bermazmur membangunkan fajar, sementara para biarawan masih mendengkur di alam mimpi. Kalau seekor ayam minum, setelah tiap teguk ia menengadah ke langit untuk memuji dan mengucapkan syukur kepada Yang Mahabaik atas Saudari Air yang menghilangkan dahaga. Akan tetapi ayam jelas bukan spesialis untuk gaya hidup kontemplatif, ia memilih gaya hidup campuran, “Vita Mixta” kata orang-orang tua. Ia menampilkan gambaran ideal yang diimpikan pimpinan Fransiskan dewasa ini : bisa berkumpul menyanyikan Mazmur bersama-sama, bisa hidup di pertapaan jauh dari keramaian dunia, bisa juga menyusup masuk di tengah masyarakat ramai, pokoknya dalam segalanya, juga untuk seteguk air tetap memuji dan memuliakan Tuhan Allah melampaui segala-galanya.
Akhirnya SAPI, ia binatang kontemplatif sejati, Ia suka di kandang, kalau keluar merumput ia tetap tidak cepat pindah tempat.
Pandangan matanya tenang, redup, tak membelalak, tak berkedip. Tampaknya seperti terus menerus sedang merenungi sesuatu yang jauh dan dalam sekali.
Setiap helai rumput yang dimakannya, betul-betul dinikmatinya sebagai anugerah yang amat berharga. Ia mengunyahnya perlahan-lahan, menyimpannya untuk sementara dalam kantong cairan pelumas, lalu ia memamahnya lagi perlahan-lahan sambil tidur-tiduran dan merenung dalam-dalam. Hasilnya mengagumkan, rumput hijau berubah menjadi susu putih yang disumbangkannya untuk kesejahteraan umat manusia. Orang India begitu terkesan dengan binatang kontemplatif ini dan menyeganinya sebagai mahluk yang suci.
Biarawan kontemplatif belajar banyak dari sapi, Lectio Divina misalnya, salah satu acara pokok dalam hidup membiara, dipelajarinya dari sapi. Si kontemplatif adalah sapi, Firman Tuhan itu rumputnya. Firman itu dibaca, dikunyah perlahan-lahan, ditelan, dikunyah kembali perlahan-lahan sambil merenung dalam-dalam, asal tidak tertidur, hasilnya adalah, firman itu menjadi daging dan darah si biarawan kontemplatif. Ia hidup dari firman Tuhan dan tanpa firman itu, ia tidak bisa hidup (Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." Mat 4: 4), karena Firman itu adalah Allah (Yoh 1:1)
Sapi, binatang kontemplatif itu, mengajar kita bahwa hidup kontemplatif, tidak berarti sekedar hidup tersembunyi di balik tirai tembok, tetapi hidup yang tak henti-hentinya memamah firman Tuhan hingga menjadi darah dagingnya sendiri.
Read more .....



