Tampilkan postingan dengan label Kembang Maria. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kembang Maria. Tampilkan semua postingan

7/24/2015

BUNDA RATU

Dalam kerajaan Daud, apabila seorang raja naik tahta, ibunya diberi gelar khusus sebagai “gebirah”, yang dalam bahasa Ibrani berarti “nyonya besar” atau “ratu”. Sebagai bunda ratu, ia memiliki kedudukan khusus kedua yang sangat berkuasa dalam kerajaan, yaitu kedua sesudah sang raja sendiri.

Bunda ratu adalah istri dari raja terdahulu dan sekaligus ibu dari raja yang sekarang bertahta. Maka bunda ratu menjadi simbol dari martabat rajawi sang raja, yang mengikat dia dengan darah rajawi ayahya. Dalam arti ini, bunda ratu menjamin keabsahan kedudukan sang raja dalam garis dinasti yang bersangkutan.
Sejumlah kutipan Perjanjian Lama memperlihatkan peran penting bunda ratu dalam kerajaan Daud. Misalnya, bisa kita baca Kitab Raja-raja ke 1 dan ke 2, kedua kitab ini menuturkan sejumlah raja yang memerintah atas Israel. Sangat mengesankan, hampir setiap kali cerita memperkenalkan seorang raja baru di Yehuda, ia selalu menyebut ibunda sang raja, sambil menggaris-bawahi perannya dalam suksesi dinasti kerajaan.
Dalam lingkungan Israel kuno, bunda ratu bukan hanya sosok utama, lebih tepat dikatakan bahwa ia menduduki jabatan dengan kekuasaan yang nyata dalam kerajaan. Barangkali contoh yang paling baik dari peran penting bunda ratu adalah Batsyeba, istri Daud dan ibunda Salomo.
Batsyeba masuk menghadap raja Salomo untuk membicarakan hal itu untuk Adonia, lalu bangkitlah raja mendapatkannya serta tunduk menyembah kepadanya; kemudian duduklah ia di atas takhtanya dan ia menyuruh meletakkan kursi untuk bunda raja, lalu perempuan itu duduk di sebelah kanannya. Berkatalah perempuan itu: "Suatu permintaan kecil saja yang kusampaikan kepadamu, janganlah tolak permintaanku." Jawab raja kepadanya: "Mintalah, ya ibu, sebab aku tidak akan menolak permintaanmu." (1 Raj 2 : 19-20)
Kisah ini mengungkapkan wibawa istimewa dari bunda ratu, dulu ketika ia seorang istri raja, ia harus bersujud kalau menghadap raja Daud, tetapi sekarang sebagai bunda ratu, sang rajalah yang bangkit dan bersujud ketika menyambutnya. Di sini Salomo memberikan tempat duduk kepada ibundanya, Batsyeba di sisi kanannya. Tindakan ini penuh dengan simbolisme rajawi, dalam Alkitab, sisi kanan adalah tempat yang paling terhormat, misalnya dalam Mazmur (Demikianlah firman TUHAN kepada tuanku: "Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu." - Mzm 110 : 1) melukiskan bagaimana Mesias akan duduk di sisi kanan Allah dan memerintah atas segala bangsa. Dengan cara yang sama surat Ibrani melukiskan Kristus duduk di sisi kanan Bapa, memerintah segala mahluk, ditinggikan di atas semua malaikat dan orang-orang kudus (Dan kepada siapakah di antara malaikat itu pernah Ia berkata: "Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu?" - Ibr 1 : 13)
Dalam 1 Raja-raja 2 : 17 kita jumpai seorang bernama Adonia, dimana ia dengan penuh keyakinan minta kepada Batsyeba (bunda ratu) untuk menyampaikan satu permintannya kepada raja Salomo, Adonia berkata kepada Batsyeba, Maka katanya: "Bicarakanlah kiranya dengan raja Salomo, sebab ia tidak akan menolak permintaanmu, supaya Abisag, gadis Sunem itu, diberikannya kepadaku menjadi isteriku." (1 Raj 2 : 17)
Ketika Batsyeba menyampaikan menyampaikan permintaan itu, maka raja Salomo menjawab : "Mintalah, ya ibu, sebab aku tidak akan menolak permintaanmu." (1 Raj 2 : 20) Kata-kata Salomo mengungkapkan komitmen total sang raja terhadap pemintaan itu.
Dalam injil Lukas banyak bicara tentang tugas “rajawi” Maria. Sungguh dalam peristiwa Kabar Suca-cita, Lukas menunjukkan kepada kita bahwa Maria diberi panggilan untuk menjadi bunda ratu dalam kerajaan Yesus.
Ketika Malaikat Gabriel menampakkan diri kepada Maria, Maria diberitahu bahwa dirinya akan menjadi ibu dari seorang Putra yang akan duduk sebagai raja, yang akan memulihkan kerajaan Daud. Anak ini akan menjadi penggenapan banyak nubuat yang mengatakan bagaimana Mesias akan mengokohkan kerajaan Allah dan akan meraja selama-lamanya. (Dialah yang akan mendirikan rumah bagi nama-Ku dan Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya untuk selama-lamanya - 2 sam 7 : 13)
Kemudian Malaikat berkata : “Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan." (Luk 1 : 31-33)
Kalau seorang Yahudi kuno mendengar tentang seorang perempuan dalam keluarga Daud melahirkan seorang raja baru dari dinasti Daud, ia akan dengan mudah menyimpulkan, bahwa dia itu bunda ratu. Dan inilah persis panggilan Maria yang disampaikan pada peristiwa Kabar Sukacita. Maria adalah bunda ratu dari seorang yang akan duduk diatas “tahta Daud, bapak leluhur-Nya” dan yang “kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan”.
Tugas “rajawi” Maria lebih explisit lagi dalam peristiwa kunjungannya ke Elisabet sanaknya yang sedang mengandung Yohanes Pembaptis. Injil Lukas menulis, bahwa “Elisebet pun penuh dengan Roh Kudus dan berseru”, berarti apa yang diserukan oleh Elisabet kepada Maria adalah ungkapan dari Roh Kudus sendiri yang ditujukan kepada Maria, melalui Elisabet. Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana." (Luk 1 : 41-45)
Jadi kalau orang-orang Katolik menghormati Maria ratu dan dalam doa Salam Maria menyebut Bunda Allah, sebenarnya kita hanya mengikuti teladan Elisabet yang dipenuhi Roh Kudus, yang adalah orang pertama dalam Alkitab yang secara explisit mengakui jabatan ratu yang disandang Maria sebagai “Ibu Tuhanku”, dan sesungguhnya adalah ungkapan dari Roh Kudus sendiri.
(Disari dari buku : Catholic for a Reason II, by Dr. Scott Hahn)

Read more .....

5/20/2015

MARIA DAN PENTAKOSTA

Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.  (Luk 1:35).

Konsili Vatican II menyatakan bahwa Maria “seakan-akan dibentuk oleh Roh Kudus” (Lumen gentium 56). Siapa saja yang menghormati Maria, ia bersembah sujud kepada Roh Kudus, karena apa saja yang dimiliki Maria, dihasilkan oleh karya Roh Kudus.
Maria rendah hati dan bekerja secara sembunyi, seperti Roh Kudus. Bunda Maria bertumbuh dalam Roh Kudus semakin lama semakin mendalam mulai dari sejak Maria dikandung ibunya. Sejak awal Maria dikuasai penuh oleh Roh Kudus. Dia menyerahkan dirinya tanpa batas, maka Roh Kudus dengan bebas tanpa halangan dapat menguasainya untuk memikul tugas yang direncanakan Allah, yaitu menjadi Bunda Allah dan ibu seluruh umat manusia.
Roh Kudus menaunginya, sehingga ia menjadi penuh rahmat (Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau." – Luk 1:28). Hari Pentakosta mempunyai arti yang tiada taranya bagi mereka dan para murid Yesus. Ketika Yesus masih bersama para murid, mereka tidak dapat menerima Roh, sebab Roh belum diberikan. Namun di dalam diri Maria Roh sudah hadir. Maria sudah biasa bergaul dengan Roh. Terlebih lagi sekarang. Pada hari Pentakosta ia menjadi Bunda Gereja (Setelah mereka tiba di kota, naiklah mereka ke ruang atas, tempat mereka menumpang. Mereka itu ialah Petrus dan Yohanes, Yakobus dan Andreas, Filipus dan Tomas, Bartolomeus dan Matius, Yakobus bin Alfeus, dan Simon orang Zelot dan Yudas bin Yakobus. Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus. – Kis 1:13-14). Pada hari Pentakosta, lahirlah Gereja. Sebenarnya secara rahasia Gereja sudah lahir pada saat Yesus menyerahkan Maria kepada Yohanes dan menyerahkan Yohanes kepada Maria (Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!". Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya – Yoh 19:25-27).
Semua yang secara tersembunyi terjadi pada salib, menjadi nyata pada hari Pentakosta. Maria berdiri di tengah para murid yang penuh dengan Roh Kudus sambil berkata dalam bahasa lain. Ketika Maria menyanyikan lagu syukurnya - Magnificat, ia sudah memperlihatkan bahwa keheningannya dapat menjadi sorak suci. Maria-lah orang pertama yang mulai berkata-kata dalam Roh. Soraknya itu menular kepada para murid dan merekapun mulai berkata-kata, mabuk oleh Roh Kudus. Maria adalah pusat Gereja.
Pada hari Pentakosta, keibuan Maria menjadi jelas dan meluas. Yesus hadir di mana-mana, karena Roh-Nya dan sekaligus membuat Maria menjadi seluas dunia. Ia menjadi seluas Gereja, sehingga tiada seorangpun tinggal di luarnya.
(Sumber : Maria Dalam Kitab Suci & Dalam Hidup Kita)
-       Aku ini hamba Tuhan

Read more .....

9/25/2014

MARIA ORANG YANG PEKA DAN TANGGAP TERHADAP BIMBINGAN ROH KUDUS

Oleh : Rm Yohanes Indrakusuma, O.Carm
Berbeda dengan Zakharia yang harus mengalami kebisuan karena kurang tanggap terhadap rencana Allah, tetapi Maria sangat peka terhadap bimbingan Roh Kudus. Dalam terang Roh Kudus itu Maria dengan cepat mengerti rencana Allah dan tanggap terhadap kehendak Allah. Oleh karena itulah, setelah mengerti dan tanggap terhadap rencana dan kehendak Allah, dengan tiada ragu Maria dapat berkata : "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Luk 1:38).
Kita mengetahui bahwa Roh Kudus menjadi jiwa setiap orang beriman seperti yang diungkapkan oleh St. Paulus, bahwa : “Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah” (Rm 8:14), juga ungkapan yang paling tepat kepada umatnya di Galatia : “Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh” (Gal 5:25). Ini berarti peka terhadap bimbingan, di mana Roh membimbing kita dan Roh memberikan inspirasi yang kita kenal dengan ketujuh karunia Roh Kudus. Roh itu mendorong, membimbing dan menguasai orang lewat karunia-karunia-Nya. Jika dibandingkan, karunia-karunia Roh Kudus itu ibarat antena-antena yang sangat peka. Melalui antena-antena ini, orang mampu menangkap gelombang-gelombang Roh Kudus. Hal ini menjadi berbahaya jika kita hanya mengandalkan kemampuan dan pengalaman kita sendiri. Karena itu kita perlu berada dalam ketaatan. Kadang-kadang orang mengira suatu saat Roh Allah yang berbicaa, tetapi ternyata ini berasal dari roh neraka atau roh jahat, sehingga banyak orang tertipu.
Salah satu ciri jika seseorang dikuasai oleh Roh Allah ialah jika ia tumbuh dalam kerendahan hati yang sejati. Orang yang dikuasai oleh Roh Allah tidak mungkin menjadi sombong, karena Allah menentang orang yang sombong, tetapi mengasihi orang yang setia dan rendah hati. Salah satu ciri yang jelas dari karunia-karunia Roh Kudus diketahui dari kerendahan hati.
Bunda Maria adalah seorang yang sangat rendah hati. Ini terungkap dalam perkataannya : Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus.” (Luk 1:46-49). St. Teresa dari Avila mengatakan “Kerendahan hati tidak lain adalah kebenaran”, karena dalam terang Roh Kudus kita akan melihat siapakah aku ini ? Seperti yang dikatakan Tuhan Yesus kepada St. Katarina dari Siena “Aku adalah yang Ada, engkau bukan yang apa-apa”.
Semakin orang diterangi dan dibimbing oleh Roh Kudus, semakin ia menyadari kekecilannya, tetapi sekaligus dalam paradoksnya, walaupun ia kecil dan tidak berdaya, ia mengharapkan segala-galanya dari Allah. Seperti yang dikatakan Paulus : “Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.” (2 Kor 12:10) Karena kita berada dalam kuasa Allah yang tidak terbatas, maka bagi orang yang percaya ‘bagi Allah tiada yang mustahil’ (Luk 1:37).
Bunda Maria tanggap terhadap bimbingan Roh Kudus dan dia tidak menjadi takut terhadap seluruh konsekuensi yang timbul dari penyerahan dirinya “Aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Oleh karena itu Maria dapat melihat, mengerti dan menangkap apa yang menjadi kehendak Allah lewat inspirasi dan bimbingan Roh Kudus, seperti yang dikatakan Yesus : “Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh." (Yoh 3:8). Orang yang hidup dalam Roh, sering kali tidak dapat diduga-duga, karena ia tanggap dan peka terhadap inspirasi dan bimbingan Roh Kudus.
(Sumber : Majalah Hidup Dalam Roh)

Read more .....

KUASA DOA ROSARIO



Ketika Suster Theresa Gasparoto, FMA (Filiae Mariae Auxiliatricis / Suster Putri Maria Penolong Umat Kristiani) sedang berjalan kembali ke biaranya, jari-jarinya secara tulus bergerak melalui biji-biji rosario. Ia terserap kedalam misteri-misterinya.
Ketika ia menyadari bahwa ada seorang laki-laki yang mengarahkan langkahnya menuju padanya. Ia merubah arahnya, tetapi orang itu tetap berusaha mengarah padanya, maka ia mulai cemas, karena ia sedang sendirian. Tak seorangpun dapat menduga, bagaimana seseorang dapat berbuat jahat pada sesamanya.
Ia menekankan manik-manik itu lebih keras lagi, memohon pertolongan Bunda Maria pada setiap Salam Maria untuk perlindungannya. Ketika pada akhirnya ia sampai di samping laki-laki itu, orang itu bertanya, “Suster, apakah anda sedang berdoa ?”, “Ya”  jawab suster itu.
“Untuk siapa anda berdoa ?” tanyanya lagi, “untuk semua orang, juga untukmu, yang baru kutemui saat ini.” Tetapi orang itu diam saja.
Ketika tiba di biara, orang yang aneh itu minta ijin untuk memasuki ruangan dan berkata, bahwa ia mau menceritakan sesuatu yang mengganggunya, iapun duduk dan mulai menceritakan persoalannya.
“Suster”, katanya setelah agak lama merasa ragu-ragu, “ketika aku melihat suster di jalan, aku sedang dalam perjalananku untuk melakukan bunuh diri. Aku telah meninggalkan rumah dengan diam-diam, agar istriku tidak mengetahui dan aku sudah nekad untuk mengakhiri hidupku dengan menabrakkan diriku pada kendaraan yang sedang melaju kencang. Tetapi pada saat melihat rosario, terdengar suara yang jelas di dalam diriku yang berkata, ‘Jangan merendahkan intensi surgawi Maria dengan rosarionya, dan kembalilah pada akal sehatmu, kamu adalah kepala keluarga, kau memiliki istri yang patuh dan anak-anak yang masih kecil, janganlah kesulitan-kesulitan sementara ini menyusahkanmu lebih jauh lagi. Sekarang, bawalah permasalahan ini dalam doa’, tiba-tiba saja aku berubah pikiran, dan aku pikir bahwa aku harus menjalani hidup doaku sekali lagi. Doakanlah aku sungguh-sungguh, suster.”
Terima kasih kepada Surga, karena ia telah diselamatkan pada waktunya, suster menyakinkan padanya bahwa ia akan didoakan setiap hari, lalu ia memberikan alamatnya dan suster itu melihat bahwa rumah orang itu tidak terlalu jauh dari biara.
Karena tidak ada kabar sejak waktu itu, suster lalu pergi menanyakan pada tetangganya apa saja yang mereka ketahui tentang orang itu. Suster diberitahu bahwa orang itu sakit parah. Bersama suster lainnya lalu ia datang berkunjung ke rumah orang itu dan diterima dengan sukacita. Berita yang ia dapatkan sungguh memuaskan, bahwa ia telah menjadi penerima Komuni Kudus setiap hari. Pembantu Pastor paroki selalu datang ke rumahnya memberikan Komuni Kudus setiap hari.
Tiga hari setelah kunjungan suster itu, istrinya datang ke biara menceritakan pada suster Theresa, bahwa suaminya telah meninggal setelah memperlihatkan betapa besar keinginan jiwanya untuk pulang kembali kepada Penciptanya. Ia mengatakan pada suster bahwa ia meninggal dalam keadaan yang paling damai dan tenang.
Bunda Maria telah menyelamatkan jiwanya pada saat-saat yang paling berbahaya dari keputusan nasibnya itu, yaitu ketika ia melihat Rosario Suci itu. Dia pasti hadir di saat kematiannya, ketika rosario dalam genggaman tangannya.
“Rosario adalah doa utama bagi keluarga,” kata Albino Luciani, yang kemudian menjadi Paus Yohanes I. “Paling sedikitnya lima belas menit dengan rosario di tanganku dan merenungkan berbagai misteri dari Hidup Tuhan kita, selalu membantuku untuk menghidupkan kembali hari-hari indah dari masa mudaku. Suatu masa yang merindukan untuk mencitai Allah dan merasakan suatu keinginan untuk menangis bagi Kerahiman-Nya. Semua ini telah membantuku untuk berdoa dan merasa muda kembali.”
Rosario Suci didoakan oleh orang tua bersama keluarga merupakan liturgi domestik yang paling utama.
(by Pastor Peter Gatti, SDB -  Majalah Ave Maria)

Read more .....

BUNDA MARIA BUNDA CAHAYA

Pada tahun 1676, di Mexico ada suatu cahaya aneh yang timbul hampir setiap malam di sebuah ruangan dari rumah yang sudah ditinggalkan, di desa orang-orang Indian yang bernama Guatzindeo. Desa itu merupakan bagian dari Hacienda San Buenaventura, dan si pemilik tanah yang bernama Don Antonio Martin Tamayo merasa berkewajiban untuk mencari penyebabnya.

Mula-mula ia mengirim para pelayannya, tetapi mereka selalu pulang dengan tangan kosong, dan selalu mengatakan bahwa di sana tidak ada cahaya maupun api. Lalu ia sendiri pergi bersama dengan seorang imam Fransiskan untuk menyelidikinya.

Dalam gubuk itu ia menemukan banyak sampah-sampah, tetapi di bawah sampah-sampah itu mereka menemukan sepuah patung Bunda Maria yang menggendong Kanak-Kanak Yesus yang sudah sangat rusak. Don Antonio membawa patung itu ke Hacienda dan kemudian mengirim patung itu kepada Patzcuaro untuk diperbaiki.

Setelah selesai dan dikembalikan, tampak keindahan yang luar biasa dari patung itu, sehingga keluarga Tamayo itu mendirikan sebuah kapel, dan menempatkan patung itu di situ. Kapel itu terbuka untuk umum bagi yang ingin berdoa dan menghormatinya di situ. Karena cahaya aneh yang menyebabkan patung itu ditemukan, maka patung itu dinamakan “Bunda Maria Bunda Cahaya”.

Setiap tahun pada musim hujan, patung wasiat tersebut dibawa dari kapel ke Salvatierra, di mana orang-orang memohon hujan yang cukup agar dapat menghasilkan panen yang berlimpah-limpah. Bunda Maria Bunda Cahaya juga dimohon pertolongannya pada saat penyakit epidemi mewabah, dan selalu ada hasilnya.

Ketika Uskup Don Juan de Ortega Montanes dari Valladolid, Spanyol, datang berkunjung ke Mexico, ia sedang sakit ketika lewat Salvatierra. Karena ia seorang yang sangat berdevosi kepada Bunda Maria, Uskup itu lalu mempersembahkan Misa di altar Bunda Maria di Gereja Maria Bunda Karmel, di mana patung wasiat itu diletakkan. Selama misa, Uskup yang sakit ini berjuang melawan kelemahannya, tetapi ketika misa selesai, ia merasakan suatu dorongan kekuatan yang menjamahnya sehingga ia merasakan kesehatan dan pemulihan tenaga. Ia menikmati atas kesembuhannya yang cepat itu dan memberikan kesaksian bahwa kesembuhannya itu adalah merupakan keprihatinan Bunda Maria Bunda Cahaya. Banyak mukjizat yang terjadi sehubungan dengan patung wasiat suci tersebut.

Patung itu pernah satu kali rusak berat ketika di bawa ke Salvatierra untuk novena sembilan hari. Ketika patung itu dibawa dengan usungannya melalui pintu masuk, kepala patung itu terbentur pada kusen pintu dan terlihat cacat yang dalam pada bagian wajahnya.

Setelah mempelajari kerusakan itu, banyak yang mengatakan dengan sedih bahwa kerusakan itu tidak dapat diperbaiki lagi. Tetapi tiba-tiba ada seorang laki-laki maju dari kerumunan orang banyak itu dan menawarkan diri untuk memperbaiki kerusakan patung itu, dan ia mengatakan bahwa ia adalah seorang pemahat yang cukup berpengalaman.

Si pemahat itu tiba pagi-pagi di keesokan-harinya dan segera mulai bekerja. Pada saat pagi menjelang siang hari, ia ditawari makanan dan minuman, tetapi ia menolak. Pada siang hari, ia lagi-lagi menolak untuk makan, sore harinya ia mengumumkan bahwa ia telah selesai memperbaiki patung itu, tetapi patung itu tidak boleh disentuh sampai catnya kering. Ia lalu pergi tanpa dibayar, dan ia tak pernah datang kembali.

Meskipun sudah dengan beberapa penyelidikan, identitas si pemahat tersebut tidak pernah diketahui. Karena patung itu tidak menunjukkan sedikitpun tanda-tanda bekas kerusakannya, maka identitas si pemahat yang misterius itu menjadi bahan pembicaraan banyak orang, siapakah dia itu sebenarnya.

Pada tahun 1743, sebuah petisi untuk sebuah tempat pemujaan bagi Bunda Maria Bunda Cahaya disetujui oleh Duta Conde de Fuenclara, dan sejak 1808 patung wasiat itu dihormati dan ditempatkan di dalam kapel di Salvatierra. Patung Bunda Maria ini adalah sebuah patung yang sangat indah, Bunda Maria menggendong Kanak-Kanak Yesus di lengan kirinya. Ia memegang ranting dan sebuah tongkat di tangan kanannya, kepalanya agak miring sedikit ke arah Kanak-Kanak Yesus. Patung Bunda Maria dan Putranya, menggunakan pakaian yang penuh dengan sulaman-sulaman indah, berdiri di atas sebuah bintang dirangkai dengan bulan sabit, dengan rambut yang tergerai di atas pundaknya. Ia memakai kerudung renda dan mahkota keratuannya. Kanak-Kanak Yesus juga sama indahnya, karena ia memegang bola dunia dan memakai sebuah mahkota yang hampir sama seperti Bunda-Nya.

Read more .....

SALAM YA RATU


“Salam ya Ratu, Bunda Kerahiman, Kehidupan, Penghibur, dan Pengharapan kami......” Berapa kali kita mendoakannya pada akhir Doa Rosario, doa ini berasal dari abad pertengahan dan ada legenda tentang asal-usul doa tersebut.

Pada suatu pagi, seorang rahib membuka pintu biara pada waktu subuh, ia melihat keluar dan gembira atas hari yang baru. Lalu matanya tertuju pada depan pintu, di sana tergeletak sesuatu. Ketika ia mau mengambilnya, ia mendengar ada suara bayi, “Apakah ini seorang bayi ?” pikirnya. Ketika ia membuka tutupnya, benar ia melihat seorang bayi, cepat-cepat ia membawa masuk ke dalam rumah biara. Ia merasa sangat kasihan kepada sang ibu yang terpaksa harus meninggalkan bayinya dengan cara demikian, dan si rahib berdoa dalam hatinya bagi sang ibu tersebut. Ketika selimut dan pakaiannya dibuka, ternyata bayi itu laki-laki, dan kemudian hari ternyata anak laki-laki itu lumpuh.

Rahib itu kemudian memanggil teman-temannya yang lain dan mereka mengambil keputusan untuk menjaga anak itu sampai ada orang yang mencarinya nanti. Tetapi hal ini tidak pernah terjadi, tidak pernah ada orang yang datang mencari anak bayi itu. Para rahib memberi nama anak itu Herman dan lambat laun ia dikenal dengan sebutan Herman si Lumpuh.

Tahun demi tahun berlalu dan anak itu menjadi besar di biara, para rahib mengajar dan mendidik dia dengan baik. Ia dididik untuk menjadi seorang guru matematika dan ternyata ia sangat pintar. Ia juga tidak pernah merasa menderita atau merasa malu karena kelumpuhan yang dideritanya, padahal ini merupakan sumber rasa sakit yang luar biasa pada tulang belakangnya sepanjang hidupnya. Ia selalu merasa gembira, sukacita dan ramah terhadap sesamanya, bekerja keras, dan sangat produktif. Semua rahib di biara sangat mengaguminya, sedemikian mengaguminya, sehingga pada saat menjelang akhir hidupnya, mereka membicarakan hidup spiritualitasnya yang tinggi itu dan mereka bertanya-tanya apa rahasia yang mendorong dia bisa hidup dengan spiritualitas yang demikian tinggi itu. Lalu ia mengambil pena dan kertas, kemudian menuliskannya : “Salam ya Ratu, Bunda Kerahiman, kehidupan, penghibur dan pengharapan kamil. Kepadamu kami memohon, kami berkabung dan menangis dalam lembah air mata ini. Pembicara kami yang manis, matamu yang penuh kerahiman menatap kepadaku. Setelah peziarahan ini, tunjukkanlah kepadaku, Yesus Buah Tubuhmu Yang Terpuji itu, oh ibu yang murah hati, yang penuh cinta kasih, oh Perawan Maria yang manis.”

Itulah legenda tentang Herman si lumpuh dan asal-usul doa yang indah itu, tak heran mengapa doa ini dipilih sebagai penutup Doa Rosario. Ini mengandung semua permohonan, penghiburan, rasa syukur dan harapan yang Herman alami melalui Bunda Maria. Ia telah memulai hidupnya tanpa keluarga, dan tanpa rumah serta kesehatannya dalam kelumpuhannya. Tetapi ia mempunyai iman untuk memohon pertolongan pada Bunda Maria. Ketika ia memberinya tanpa batas, ia bersyukur sekali dengan hidupnya yang penuh suka cita yang menggambarkan rasa syukurnya itu. Devosinya yang besar kepada Bunda Maria dibalas ketika ia menghembuskan nafasnya yang terakhir dari peziarahannya di dunia ini berakhir.

Bunda Maria, ingatlah pada kami, kami tidak mengklaim kemuliaan seperti kepunyaanmu, tetapi tinggallah bersama kami, ketika kami berjuang hingga pada harinya ketika rahmat membebaskan kami dari hidup kedosaan ini, yang akan membawa kami kepadamu dan kepada Tuhan kita. Berkatilah kami, oh Bunda, bawalah kami kepadamu dan kepada Tuhan kita, berkatilah kami ya Bunda, Amin.

(Don Bosco’s Madonna)

Read more .....

BUNDA PENOLONG ABADI

Oleh : Pastor Thomas Livius (1886)
Pada suatu hari, datang seorang wanita katolik yang baik kepada Pastor di Chili, dan menceritakan kepada imam Redemptoris itu, bahwa di dekat dia ada seorang gadis muda yang miskin, hidup dalam dosa dengan seorang bajingan yang telah menggoda dia.
Pastor itu lalu memberi dia sebuah medali Bunda Maria Penolong Abadi, dan menyuruh dia membawanya pada si pendosa yang malang itu, dan supaya berusaha sekuat tenaga untuk membawa si gadis yang malang itu kepadanya. Ia berharap agar Bunda Maria menarik jiwa itu dari jurang dos, namun ia tidak menjadi kecewa.
Keesokan harinya, wanita yang baik hati itu datang lagi dan mengatakan kepada Pastor itu suatu kemenangan, katanya : “Pastor, gadis muda itu mengambil medali yang Pastor berikan dan aku telah membawa dia kepadamu, inilah dia orangnya.”
Berbahagia atas kesuksesan pertama ini, Pastor itu mengetahui dari seorang perantau, bahwa orang tua gadis itu tinggal cukup jauh, di kota lain dan juga bahwa gadis muda ini digoda oleh seorang yang malang yang telah mengikuti dia untuk waktu yang lama. Gadis itu lari dari rumah dan hidup tanpa kendali dengan pria itu di suatu tempat di mana ia tak dikenal, supaya ibunya tidak dapat menemukannya.
Pastor itu lalu meminta gadis itu berjanji untuk memikirkan jiwanya, untuk merubah hidupnya dan menjelaskan kepadanya, bahwa ia dapat saja menghindari usaha pencarian ibunya, tetapi Allah dapat melihatnya di mana-mana dan dari mata Allah ia tidak dapat menghindar.
Pastor itu akhirnya membujuk gadis itu untuk meninggalkan kehidupannya yang penuh dosa dan sekali lagi kembali kepada Allah, karena Bunda Maria Penolong Abadi telah menyentuh hatinya.
Hanya satu kesulitan yang menghalangi dia, yaitu ketakutan untuk pulang ke rumah karena ia berpikir bahwa ibunya tidak akan mengampuni dia dan menerima dia kembali. Tetapi kesulitan ini menghilang, syukur atas ide bahagia yang diusulkan kepada Pastor itu oleh Bunda Maria Penolong Albadi kepada gadis itu.
Pastor lalu memanggil si ibu, sepertinya ia mempunyai sesuatu yang penting untuk disampaikan pada dia. Setelah menerima pesan, ibu itu datang pada pastor itu, dengan sangat sedih hati dan bingung.
Pastor menerangkan alasannya mengapa ia memanggilnya, pertama-tama si ibu yang malang itu hanya dapat menjawab dengan air mata saja dan sedu sedannya. Dan Pastor sangat terharu ketika ia mendengar si ibu berkata : “Pastor, ini benar-benar mukjizat dari Bunda Maria Penolong Abadi. Putriku meninggalkan rumah, aku telah berusaha mencarinya, tetapi sia-sia. Aku lalu memohon kepada Bunda Maria Penolong Abadi, ‘Bunda Penolong Abadi, hanya engkaulah yang harus membawa  anakku pulang. Engkau harus mengembalikannya kepadaku.’ Dan hari ini dia mengembalikanya kepadaku dan di sinilah, di tempat kudusnya.”
Apa yang dirasakan oleh Pastor yang baik ini ketika ia mendengar cerita itu ? Gadis malang itu lalu mempersiapkan diri untuk melakukan pengakuan dosa yang baik, kemudian pulang ke rumah bersama ibunya. Keduanya sekarang penuh suka cita, bersyukur dan memuji Bunda Maria Penolong Abadi yang dengan cara Ilahi telah mempersatukan mereka kembali.
(Sumber : Majalah Ave Maria)
-       Kuasa doa rosario
-       Rahmat Bunda Maria

Read more .....

ROSARIO DOA KEMENANGAN



Kita semua ingin menang, kemenangan dalam lomba ynag diperjuangkan secara mati-matian sangatlah menyenangkan. Terlebih lagi, pencapaian kemenangan dengan tujuan yang baik. Memenangkan peperangan, di mana kekalahan berarti kehilangan kemerdekaan kita, dapat menjadi kemenangan terbesar dari semuanya.
Ketika sepasukan kecil Kristen menang perang di Teluk Lepanto pada tanggal 7-October-1571, hal itu merupakan sebuah kemenangan besar untuk iman kepercayaan dan kemerdekaan. Kemenangan itu bisa didapat adalah karena beribu-ribu orang yang berdoa Rosario untuk melindungi orang-orang Kristiani yang terancam saat itu. Pada saat syukuran, Paus Pius V menetapkan apa yang kemudian dikenal sebagai Pesta Rosario Suci.
Satu abad kemudian, tahun 1683, umat Kristiani diselamatkan dari penyerbuan Turki yang menduduki kota Wina dan mengancam untuk menindas umat Kristiani di Eropa. Tetapi pasukan Turki menghentikan perjalanan mereka setelah ribuan orang di Wina berdoa Rosario untuk kebebasan.
Pada masa kini, tahun 1955, setelah komunis mengambil alih Austria, Pastor Peter Pavlicek memulai mendorong umat untuk Doa Rosario di seluruh negeri. Mengapa komunis lalu menghilang dari Austria ? hal ini selalu membingungkan para sejarahwan, tetapi kita tahu mengapa, karena Bunda Maria dan rosarionya telah menggerakkan orang-orang Rusia keluar dari Austria.
Brasil juga diselamatkan secara lebih menyolok lagi pada tahun 1964, ketika Presiden Komunis Joao Goulart muncul beberapa kali di televisi, dia sesumbar mengatakan bahwa Rosario tidak akan dapat menahan komunisnya untuk memerintah rakyat. Tetapi Rosario berhasil, karena ada Tuhan kita dan Bunda Maria di belakangnya. Apa yang terjadi kemudian dengan sang presiden ? dia hanya berkuasa bahkan tidak sampai 30 hari.

Sepuluh tahun kemudian, pada tahun 1974, komunis mengambil alih Portugal. Alianza de Santa Maria, perkumpulan Bunda Maria, merasa Portugal terancam karena rakyatnya tidak memberi perhatian yang cukup pada pesan-pesan Bunda Maria di Fatima untuk ‘berdoa rosario’. Maka perkumpulan itu memulai Rosario di seluruh Paroki Portugal. Mereka membagikan kartu ikrar Rosario pada semua orang untuk ditanda-tangani, berjanji untuk berdoa Rosario untuk mengusir komunis yang atheis. Mereka mengumpulkan lebih dari sejuta ikrar, dan hasilnya ? pada Pesta Kristus Raja di tahun berikutnya, tahun 1975 pemerintah Komunis jatuh. Para pemimpin perkumpulan mengatakan, “Bunda Maria telah menyelamatkan kami.”
Pada tahun 1988, Perkumpulan Bunda Maria mengatur ‘perang’ lagi, kali ini berdoa untuk mengalahkan Rancangan Undang-Undang di Lisbon yang akan melegalisir aborsi di Portogal. Semua data statistik mengindikasikan bahwa RUU tersebut akan dengan mudah disahkan. Angela Coelha, seorang pemimpin perkumpulan itu berkata, “Kami memohon bersama orang-orang untuk berusaha lebih keras dalam berdoa Rosario.” Lalu apa yang terjadi selanjutnya ? “Ini merupakan keajaiban,” katanya, “pada saat-saat terakhir RUU tersebut dikalahkan dengan sedikit perbedaan suara.”
Pada tanggal 7 October 2000, Paus Yohanes II memimpin ribuan orang termasuk ratusan Uskup di Vatican dan banyak penghubung dari seluruh dunia, termasuk Suster Lucia (visoner Fatima), berdoa bersama dalam sebuah doa Rosario. Ternyata Paus mendoakan seluruh lima belas peristiwa setiap hari. Dia selalu punya waktu untuk ini, “Rosario adalah doa favorit saya” kata Paus. Paus berjanji untuk memperbaharui  devosi Rosario, terutama dalam keluarga, mengulangi apa yang dikatakan Pastor Peyton, “Keluarga yang berdoa Rosario bersama, akan selalu bersama.”
Paus juga meminta kita untuk berdoa Rosario, “Doa yang sederhana dan dalam ini dicintai oleh semua orang, terutama dalam keluarga-keluarga. Alangkah indahnya jika doa ini kembali ditemukan dalam keluarga-keluarga.”
Mengapa Rosario sangat penting ? Melalui misteri tiap peristiwa, kita difokuskan pada apa yang terjadi dalam hidup Kristus selama di dunia ini, dan selama kehidupan Maria, demikian pula peristiwa Pentakosta, Maria diangkat ke Surga dan dimahkotai. Doa ini membawa kita kepada Yesus melalui Maria (Per Mariam ad Jesum). Rosario adalah doa lisan, tetapi juga dikombinasikan dengan doa batin, doa ini mengajar kita kepada doa permenungan yang lebih tinggi.
Kita ingin terbebas dari gangguan sehari-hari, tentu ! tetapi kita tidak perlu lagi mengasingkan diri ke tempat yang terpencil dan jauh untuk hal itu. Kita cukup berlutut atau duduk di gereja atau di rumah, atau ketika kita mengendarai mobil, kita bisa berdoa. Kalau kita berdoa Rosario dengan tekun, kita akan masuk dalam keheningan yang indah, bersama Yesus, Maria dan kita sendiri.
Begabunglah dengan anggota keluarga lainnya sedapat mungkin, misalnya saat setelah makan malam atau sebagai doa malam sebelum tidur. Sudah berapa banyakkah orang-orang yang telah ditolong karena berdoa Rosario ? tidak ada yang tahu, hanya Tuhan yang tahu.
(Sumber : Dan Lyons, Majalah Ave Maria)

Read more .....

DIPERCAYAKAN KEPADA BUNDA MARIA

Semasa perang, aku adalah seorang imam bagi angkatan bersenjata. Pada suatu hari, pada saat serangan kilat atas sebua kota di mana kami bermarkas, setiap gedung rata dengan tanah, tak sebuah rumahpun yang masih berdiri.

Ketika serangan berhenti, aku dan dua orang prajurit lainnya, keduanya bukan orang Katolik, berjalan di desa sekitarnya untuk melihat seberapa berat kerusakan yang disebabkan oleh serangan tersebut. Tak ada yang tersisa, di sekitar kami tak ada apa-apa kecuali puing-puing. Lalu kira-kira dua mil di luar kota, kami melihat sebuah rumah berlantai dua yang masih dalam kondisi sempurna, dii samping kerusakan-kerusakan di sekeliling rumah itu, sebuah kaca jendelapun tidak ada yang pecah, sungguh aneh.

Kedua prajurit itu berseru : ”Ini luar biasa ! Mari kita masuk menyelidikinya !”

Lalu kami membuka pintu rumah itu, dan kamipun masuk ke dalam, kecuali debu yang bertebaran di mana-mana, segala sesuatu yang ada di situ masih tetap seperti pada tempatnya, seperti baru saja ditinggalkan penghuninya.

Kami lalu memeriksa dari satu ruangan ke ruangan lainnya, memasuki setiap ruangan, segalanya tetap pada tempatnya. Lalu di salah satu ruangan, kami menemukan sebuah patung Bunda Maria dengan vas bunga berisi bunga-bunga yang sudah layu di kedua sisinya, dan sebuah surat di depannya.

Aku lalu membuka surat itu dan membacanya, isi surat itu berbunyi : “Bunda Maria yang tercinta, kami terpaksa meninggalkan rumah kami ini, tetapi kami mempercayakannya ke dalam tanganmu ya Bunda, kami mohon jagailah dan jagalah untuk kami.”

Kedua prajurit itu terheran-heran dan berkata : “Ini suatu mukjizat !” Lalu kami bertiga berlutut di hadapan patung Bunda Maria dan bersama-sama berdoa mohon perlindungan dari Bunda Maria.

Salah satu dari prajurit itu begitu terkesan dengan peristiwa itu, sehingga ia minta untuk diajari tentang agama Katolik, yang kelak kemudian hari aku sangat berbahagia menerimanya dan membaptisnya dalam Gereja Katolik.

(Kesaksian seorang imam)

Read more .....

TIGA KALI SALAM MARIA


Betapa akrab dan manisnya nada kata-kata itu di telinga kita semua, “O Maria, dengan kesucian dan kemuliaanmu, buatlah tubuhku bersih dan jiwaku suci.”
Bahwa kalimat tersebut memberikan banyak efek dan keyakinan atas kehadiran Bunda Maria dalam hati kita, dan betapa manis serta banyak pengaruh yang baik bila kita sanggup mempertahankannya terus menerus.
Banyak cerita yang kita dengar bagaimana orang-orang dibawa kembali kepada kehidupan yang baik setelah bertahun-tahun hidup dalam dosa, dan bagaimana dengan sebuah keyakinan yang ‘aneh’ tetap bertahan di tengah-tengah kehidupan dosa dengan satu kebiasaan berdoa ‘Tiga Kali Salam Maria’ yang setiap kali diakhiri oleh kalimat “O Maria, dengan kesucian dan kemuliaanmu, buatlah tubuhku bersih dan jiwaku suci.”
Mendiang Pastor Ryan, admistrator Wagga Wagga, suka menceritakan kejadian berikut ini yang terjadi di kala beliau masih seorang pastor muda di Temora.
Pada suatu senja setelah minum teh, ada perasaan yang mendorongnya untuk pergi ke gereja, untuk melihat barangkali ada orang yang membutuhkan bantuannya. Ketika sampai di pintu masuk gereja, ia melihat ada seorang pria yang duduk di belakang gereja, kemudian ia menyapa pria itu dan mengajaknya berbincang-bincang.
Kemudian diketahuinya bahwa pria tersebut telah bertahun-tahun lamanya tidak datang ke tempat pengakuan dosa. Menimbang atas dorongan serta janji-janji Pastor Ryan untuk menolong, maka pria itupun segera masuk ke tempat pengakuan dosa.
Sebelum berpisah, Pastor Ryan bertanya kepadanya tentang kesetiaan apakah yang telah dianutnya, sehingga ia dapat meraih anugerah yang baru saja didapatnya. Pria tersebut, yang bermata-pencaharian sebagai seorang penangkap ikan mengatakan, bahwa ketika pertama kali ia mulai pekerjaannya yang berbahaya itu, ibunya memintanya berjanji untuk selalu mengucapkan doa ‘Tiga Kali Salam Maria’ setiap hari, dan ternyata ia setia mengucapkan doa tersebut dan tidak pernah meninggalkannya.
Pastor Ryan dan pria tersebut berpisah, dengan janji untuk bertemu lagi di sisi altar keesokan harinya. Tetapi sewaktu pria itu berjalan pulang, ia tertabrak oleh sebuah kereta api dan meninggal dunia.
Oleh kesetiaannya berlatih secara sederhana untuk mengucapkan doa ‘Tiga Kali Salam Maria’ setiap hari, Bunda Maria telah membimbingnya ke pengakuan di tengah perjalanan pulangnya.
(Sumber : Mater Dei – Majalah Ave Maria)

Read more .....

6/25/2013

LOUIS-MARIE GRIGNION DE MONTFORT



Bila kita diminta untuk menyebut seorang murid kesayangan Tuhan yang sewaktu hidupnya berdiri di bawah salib dan menerima Maria sebagai ibu di dalam rumahnya karena menaruh cinta kasih yang khusus kepada  Bunda Maria, maka perhatian kita mungkin akan terarah kepada Louis-Marie Grignion De Montfort, pendiri Serikat Maria Montfortan dan inspirator serta pelindung Legio Maria.
Tidak kebetulan ia dijuluki “Bentara Ulung Bunda Maria”. Seluruh hidupnya dibaktikan kepada Bundanya yang surgawi ini sambil menyebarkan bakti sejati kepadanya di tengah umat. Buku-buku yang ditulisnya menjadi klasik sebagai pedoman Spiritualitas Marial. Pengaruh besar misionaris dan penghormat Maria ini juga mempengaruhi Paus Yohanes II, hal ini kita tahu dari berbagai buku yang ditulis oleh Paus ataupun yang ditulis mengenai Paus ini. Kita juga menemukannya dalam dokumen resmi seperti ensiklik “Bunda Sang Penebus” yang ditulis untuk Tahun Maria 1987-1988. Paus dalam ensiklik “Bunda Sang Penebus” nomor 48 berbicara mengenai devosi marial, ia menonjolkan “tokoh St. Louis-Marie Grignion De Montfort, yang mengusulkan pembaktian diri kepada Kristus melalui tangan Maria sebagai sarana yang berdaya guna bagi umat Kristiani untuk menghayati janji-janji baptisnya dengan setia”. Paus sendiri menyatakan bahwa semboyan kepausannya “Totus Tuus”, Aku seluruhnya kepunyaanmu (ya Maria), diambilnya dari tulisan St. Montfort.
Devosi kepada Maria yang diwartakan Louis-Marie De Montfort, dulu dikenal dengan nama “Perhambaan Suci kepada Santa Perawan Maria”, yang mengundang umat Katolik untuk menyerahkan seluruh hidup dan karya tanpa pamrih kepada Maria, agar Maria sebagai Pengantara segala Rahmat dapat membagikan segala pahala karya itu kepada yang mau.
Apakah devosi ini masih cocok untuk manusia sekarang ? Paus malahan menambahkan dalam ensikliknya, “Kami suka mengamati, bahwa zaman kita ini juga mengenal ungkapan-ungkapan baru dari spiritualitas dan devosi ini.” Dalam dekrit yang diterbitkan oleh Vatican dikatakan bahwa “di seluruh dunia, dalam jumlah yang tak terbilang banyaknya ada imam-imam, biarawan dan biarawati, dan jangan lupa ada pula kaum awam, yang dididik dalam ajaran marial Louis-Marie Grignion De Montfort dan yang menemukan dalam ajaran itu suatu sumber kaya penuh petunjuk sebagai pedoman untuk menghayati hidup mereka. Tidak sedikit orang kudus dan beato-beata, di antaranya secara istimewa Beata Marie-Louis of Jesus, yang menemukan dalam spiritualitas montfortan suatu sumber yang menopang devosi mereka kepada Bunda Kristus dan Gereja. Juga ada gerakan dan kelompok marial, tersebar di seluruh dunia, yang secara khusus menggali inspirasi dalam ajaran St. Louis-Marie.
Setelah menimbang betapa segala tulisan dan teladan St. Louis-Marie telah dan akan terus membantu perkembangan Bakti Sejati kepada Bunda Allah di kalangan para imam, kaum biarawan-biarawati dan seluruh umat beriman, baik dalam ajaran maupun dalam praktek hidup Kristiani, maka pada peringatan 50 tahun Montfort dinyatakan Santo, Paus Yohanes Paulus II menetapkan, bahwa mulai tahun 1997 nama Santo Louis-Marie Grignion De Montfort, imam, ditambahkan pada Penanggalan Romawi universal dan bahwa pestanya selanjutnya dapat dirayakan setiap tahun pada tanggal 28 April sebagai peringatan fakultatif oleh seluruh Gereja.
Mari kita menyoroti St. Montfort ini dan cintanya kepada Bunda Maria dan juga hidupnya yang penuh pengorbanan, agar kita bisa menggali inpirasi padanya.
Louis Grignion lahir pada tahun 1673 di Montfort, sebuah kota kecil di Perancis Barat, sebagai anak sulung dari 18 bersaudara. Louis sangat sayang pada ibunya, terutama jika ayahnya yang mudah naik pitam dan hanya berpenghasilan kecil sebagai pengacara, yang melampiaskan frustasinya kepada isteri dan anak-anaknya. Sejak kecil Louis mencintai Bunda Maria dan menceritakan segalanya kepadanya untuk menenangkan hatinya.
Kita kagum bila membaca dalam buku-buku rohani bahwa cinta kepada Maria selalu disertai cinta kepada sesama manusia. Louis Grignion malahan mengemis untuk dapat membantu orang-orang miskin, padahal ia sendiri hidup luar biasa miskin. Ia misalnya berjalan kaki ke Paris untuk masuk seminari tinggi, hanya berbekal sebuah tongkat dan rosario. Pakaian dan uang yang diberikan orang tuanya ia bagikan kepada orang miskin di tengah jalan. Ia malahan menukar pakaiannya sendiri dengan seorang gelandangan. Ketika ia membaca buku mengenai Perhambaan kepada Maria, dengan persetujuan rektor seminari, ia mendirikan sebuah perkumpulan “Hamba-hamba Maria”.
Hatinya bernyala-nyala dalam berbuat baik. Setelah ia ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1700, ia sungguh ditandai oleh cintanya bagi orang-orang miskin. Perkataan Yesus seperti “Apa yang kamu lakukan terhadap saudaraku yang paling hina, kamu telah melakukannya untuk aku.” (Mat 25:40), ia praktekkan secara serius. Louis Grignion pernah menemukan seorang gelandangan penuh borok di pinggir jalan, ia mengangkat orang itu di atas bahunya, dan sesampainya di biara, tempat ia menginap, ia mengetuk pintu sambil berseru, “Bukakanlah pintu bagi Yesus Kristus.” Ia membaringkan orang malang itu di tempat tidurnya sendiri dan setelah merawatnya, sepanjang malam ia berlutut di depan tempat tidur itu dan berdoa seperti di depan tabernakel, karena ia percaya Tuhan hadir di situ. Pastor Montfort melayani Yesus sendiri ketika merawat dan memperhatikan orang-orang miskin. Tidak heren juga Ibu Teresa dari Kalkuta mempunyai devosi khusus untuk St. Montfort. Montfort juga mendirikan rumah penampungan untuk orang-orang miskin dan terlantar, menyelenggarakan dapur umum untuk yang lapar, membuka sekolah-sekolah dengan pendidikan gratis dan mendirikan tarekat-tarekat untuk melayani mereka.
Namun betapa banyak pertentangan dan fitnah diarahkan kepadanya. Uskup-uskup dan pemerintah pusing tujuh keliling dengan orang ini yang menghayati Injil secara radikal, sampai sembilan kali ia diusir oleh Uskup-uskup. Dan sebagai seorang yang terpesona oleh  Kristus yang menjelma menjadi manusia dan yang disalibkan, ia bertahun-tahun berkeliling di Perancis mewartakan kabar gembira dan mengajak orang untuk sungguh-sungguh hidup sebagai orang Kristen dengan bantuan Bunda Maria.
Grignion De Montfort mengajarkan, bahwa setiap devosi kepada Maria menjadi palsu dan menyesatkan jika olehnya kita tidak dihantar lebih dekat  pada Yesus. Yesus itu Alfa dan Omega, awal dan akhir dari segala-galanya. Dialah pokok anggur dan kita harus bersatu dengan Dia bagaikan ranting-ranting untuk dapat hidup. “Bakti kepada Maria merupakan pintu masuk kepada Yesus.” Dalam persatuan ini terletak seluruh kekuatan dan keindahan Maria. Maria tidak kalah dalam menunjukkan kemurahan hatinya terhadap bentaranya. Sekurang-kurangnya tiga kali Maria menampakkan diri kepada Louis De Montfrot menurut laporan orang sezaman itu.
Montfort menulis misalnya mengenai Maria, “Tidak ada malam dalam Maria, oleh karena dalam dia tidak pernah ada dosa, maupun bayangan  dosa apapun. Ia cantik dan lembut seperti bulan yang menerima terangnya dari matahari dan yang melembutkannya sehingga terangnya tidak menyilaukan mata kita. Maria adalah bintang yang menunjukkan jalan yang aman menuju kepada pelabuhan kepada abdi-abdinya yang setia. Marialah fajar yang mendahului dan mewartakan Matahari Keadilan, Yesus Kristus. Maria adalah taman firdaus bagi Adam baru.” dan Montfort berkata, “Apa yang kuminta kepada-Mu ya Tuhan Yesus. pelayan-pelayan sejati bagi ibu-Mu yang suci, yang dengan sabda Injil yang terang benderang di mulut, serta rosario di tangan, menyala bagaikan api dan menyinari kegelapan dunia bagaikan matahari.”
Per Mariam Ad Jesum. Semoga dengan bantuan doa St. Louis-Marie Grignion De Montfort, kita ‘melalui Maria menuju Yesus’. Kita berdiri di bawah salib kita masing-masing, marilah kita menjadi seperti murid kesayangan Yesus dan menerima Maria di rumah hati kita, agar bersama dia kita menjadi manusia penuh harapan dan iman akan kebangkitan dan agar melalui tangan Maria kita memperoleh rahmat yang perlu untuk kebahagiaan dan keselamatan kita.
(by : N.C. Schneiders, SMM – Majalah Ave Maria)

Read more .....

12/07/2012

AKU INI HAMBA TUHAN

Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia. (Luk 1:38). Ketika mengatakan hal ini, Maria tidak merendahkan dirinya dengan kerendahan hati yang palsu, sebaliknya ia menyatakan imannya dan penyerahan dirinya.

Akhirnya akan lahir seorang yang akan menjadi “hamba” yang dimaklumkan oleh para nabi dan Putra Tunggal (Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa. - Yes 42:1 ; Sesungguhnya, hamba-Ku akan berhasil, ia akan ditinggikan, disanjung dan dimuliakan. – Yes 52:13).
Banyak orang keliru dengan kata ‘hamba’ dalam arti bahwa mereka memandang Alah yang Mahakuasa sebagai ‘seorang’ yang mempergunakan hamba-hamba untuk kepentingan pribadi-Nya tanpa menyisihkan waktu untuk memperhatikan dan mencintai mereka. Bagi mereka, Allah akan kehilangan kebesaran-Nya jika ia memberikan Maria tanggung jawab yang otentik dalam inkarnasi Putra-Nya.
Ini persis bertentangan dengan semangat Alkitab, Allah mengasihi umat yang dikehendaki-Nya, agar Dia yang adalah Allah dapat mengalami persahabatan yang manusiawi (Sebab bangsa besar manakah yang mempunyai allah yang demikian dekat kepadanya seperti TUHAN, Allah kita, setiap kali kita memanggil kepada-Nya? - Ul 4:7). Allah tidak membutuhkan seorang perempuan untuk mengambil rupa seorang manusia, tetapi ia ingin Putra-Nya mempunyai seorang ibu, dan bagi Maria untuk benar-benar menjadi sang ibu, perlu kiranya bagi Allah untuk memperhatikan dia dengankasih yang lebih besar dari pada kasih-Nya terhadap ciptaan yang lain. Dengan demikian Maria disebut penuh rahmat.
Rahmat adalah sebutan kita untuk kuasa yang dimiliki Allah untuk menyembuhkan roh kita, untuk menanamkan dalam diri kita menggemakan kembali kebenaran ini, sehingga ungkapan kasih sejati datang dari kita secara spontan. Apa yang kita sebut rahmat adalah ‘benih’ yang datang dari Allah yang hidup, agar bertumbuh dan mekar di bumi ini (Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman - Mzm 85:11).
Maria sungguh-sungguh penuh rahmat, karena Yesus dilahirkan dari padanya sama seperti Ia sendiri dilahirkan dari Bapa. Itulah sebabnya mengapa Gereja percaya, bahwa Maria mempunyai peranan yang unik dalam karya keselamatan. Dialah keajaiban yang dicapai Allah pada permulaan transformasi umat manusia menjadi citra-Nya.
(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pastoral Katolik)

-       Bunda Ratu

Read more .....

KABAR MALAIKAT KEPADA MARIA

Hanya Maria yang dapat menyingkapkan misteri dikandungnya Yesus kepada Gereja purba. Bagaimana ia dapat mengungkapkan pengalaman batiniah semacam itu dan bagaimana itu disampaikan ?

Karena itu, di dalam menulis, Lukas harus mempergunakan kata-kata dan ungkapan Alkitabiah yang memungkinkan kita mengerti perjumpaan penuh misteri antara Maria dengan Allah.
Malaikat Gabriel (Luk 1:26), bagi orang Yahudi Gabriel adalah nama malaikat dari jenjang tertinggi yang muncul dalam Kitab Daniel untuk memaklumkan saat keselamatan (Dan 8:16) dan (sementara aku berbicara dalam doa, terbanglah dengan cepat ke arahku Gabriel, dia yang telah kulihat dalam penglihatan yang dahulu itu pada waktu persembahan korban petang hari. – Dan 9:21). Demikianlah, dalam berbicara tentang Gabriel, Injil menyiratkan suatu pemahaman, bahwa bagi Maria segala sesuatu mulai dengan kepastian, bahwa inilah saat di mana nasib seluruh dunia ditentukan.
Bersukacitalah, Inilah cara yang menyenangkan yang dipakai para nabi untuk menyampaikan amanat kepada putri Sion, yaitu jemaat orang yang rendah hati, yang menantikan kedatangan Juruselamat (Bersorak-sorailah, hai puteri Sion, bertempik-soraklah, hai Israel! Bersukacitalah dan beria-rialah dengan segenap hati, hai puteri Yerusalem ! - Zef 3:14).
Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau." (Luk 1:28). Kekharitomene (Yn), artinya “yang dikaruniai”, kata yang dipergunakan dalam Injil ini mempunyai makna khusus : yang terkasih dan yang paling disukai. Orang lain telah dikasihi, dipilih dan menjadi orang yang paling disukai, tetapi dalam hal ini semua atribut ini menjadi milik Maria.
Ia menjadi bingung oleh kata-kata ini. Teks tidak berbicara tentang ketakutan seperti yang terjadi pada Zakharia (Luk 1:12). Sejak saat pertama semangat Maria bangkit, ia sadar akan kehadiran Allah yang mengilhami setiap keputusannya, dan dengan demikian, wahyu Ilahi tidak menimbulkan ketakutan dalam dirinya. Kata-kata Ilahi yang menyatakan kepadanya panggilan unik, merisaukan dia.
Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. (Luk 1:13). Di sini Injil mempergunakan beberapa teks Kitab Suci, yang beberapa dari antaranya menubuatkan tentang masa depan seorang bayi, dan sebagiannya lagi merupakan ayat-ayat di mana Allah mempercayakan suatu misi. Kita telah menyebutkan nubuat Yesaya (Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel. – Yes 7:14), yang memaklumkan dia yang akan menjadi Imanuel, yang berarti Allah beserta kita. Maria akan memberinya nama Yesus yang berarti Juruselamat.
Ia akan memerintah atas bangsa Yakub selama-lamanya (yaitu bangsa Israel). Ini merupakan suatu ungkapan yang mau mengatakan, bahwa Yesus adalah Juruselamat, putra Daud, yang dimaklumkan oleh para nabi (Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya - Yes 9:6).
Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan." (Luk 1:32-33). Tetapi tidak seperti Yohanes Pembaptis menjadi besar di hadapan Alah, karena Yohanes hanyalah manusia biasa (Luk 1:15). Yesus harus menjadi Putra Yang Mahatinggi, dan putra Daud, kedua gelar ini menunjuk pada Mesias atau Juruselamat yang dinanti-nantikan (Aku mau menceritakan tentang ketetapan TUHAN; Ia berkata kepadaku: "Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini. - Mzm 2:7). Lihat juga Rom 1:3-4 (tentang Anak-Nya, yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud, dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita), inilah sebabnya mengapa dinyatakan dengan jelas bahwa Yusuf berasal dari keluarga Daud (Mat 1:20).
(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pastoral Katolik)

Read more .....