7/21/2008

MEMBERI DENGAN SUKACITA

Pernah saya menerima uang lima belas dollar dari seseorang yang sudah dua puluh tahun lamanya berbaring sakit, hanya tangan kanannya saja yang dapat ia gerakkan. Satu-satunya sahabat setia dan kawan yang digemarinya adalah merokok. Ia berkata kepada saya : “Sudah satu minggu lamanya saya tidak merokok, dan ini uang rokok saya, saya serahkan kepada suster.”

Tentu saja bagi orang itu, pemberian tersebut adalah hasil dari pengorbanannya yang hebat, tetapi betapa indahnya cara dia menyumbangkan uangnya. Dan dengan uang itu saya membeli roti, lalu saya berikan kepada orang miskin, terjadilah kegembiraan dua belah pihak, baik yang memberi maupun si miskin yang menerimanya.

Pada suatu ketika, kami mengalami kekurangan gula. Sulit sekali mendapat gula di Calcuta, saya tidak tahu lagi bagaimana mesti mengurusi anak-anak kami. Tidak terduga, ada seorang anak kecil Hindu, umurnya baru empat tahun. Ketika baru pulang dari sekolah, ia berkata kepada orang tuanya : “Saya tidak mau minum teh pakai gula selama tiga hari, agar saya dapat menyumbangkan gula itu kepada ibu Teresa, untuk anak-anaknya.”

Tiga hari kemudian, ayah dan ibunya mengantarkan anak itu ke rumah kami. Aku belum pernah berjumpa dengan mereka sebelumnya, tapi aneh, anak kecil itu dengan mantap memanggil dan menyebut nama saya. Ia tidak ragu-ragu, ia tahu persis, untuk apa ia datang kepada saya, ia datang untuk membagikan cintanya.

(Ibu Teresa, karya dan orang-orangnya ; oleh Bosko Beding)

Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. (2 Kor 9:7)


Tidak ada komentar: