10/23/2008

YESUS MEMBAWA PEMISAHAN

Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala! (Luk 12:49) Haruskah kita berpikir tentang api sebagai cinta, Injil atau karunia Roh Kudus ? Lebih baik kita tetap dengan gambaran api yang memurnikan, membakar semua yang lapuk, memberikan kehangatan dan menunjang kehidupan, api pengadilan Allah menghancurkan semua yang tidak menyerahkan diri kepada daya pembaharunya.

Yesus datang untuk menjadikan kembali dunia dan mengeluarkan permata dari bebatuan yang akan bertahan sampai keabadian. Mereka yang mengikuti Yesus, harus mengambil bagian dalam karya penyelamatan ini, yang diarahkan pada suatu situasi yang menggabungkan kerja, kekerasan, penderitaan, serta berbagai khayalan baik yang masuk akal maupun yang mengawang-awang.

Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung! (Luk 12:50). Yesus adalah pemimpin dan akan menjadi orang pertama yang menghadapi kematian sebagai sarana memperoleh kebangkitan. Langkah ini, yang penuh penderitaan baik bagi Yesus maupun bagi kita adalah pembaptisan dengan api (Yohanes menjawab dan berkata kepada semua orang itu: "Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa dari padaku akan datang dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api. - Luk 3:16), yang mengantar kita masuk ke dalam hidup yang mulia dan abadi. Ini merupakan pembaptisan yang benar, sementara dua pembaptisan yang lain, yakni pembaptisan dengan air dan Roh Kudus, hanyalah persiapan. (Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya. - Rom 6:3-5)

Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan (Luk 12:51). Ini diikuti oleh kata-kata Yesus yang juga membingungkan mereka yang mengharapkan dari pada-Nya yaitu hidup yang damai. Yesus adalah sumber perpecahan di antara bangsa-bangsa dan kelompok-kelompok sosial ("Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok; tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba. - Yoh 10:1-2). Sering orang berusaha mempergunakan agama sebagai perekat bagi kesatuan nasional atau perdamaian keluarga. Benarlah bahwa iman kepercayaan merupakan salah satu faktor dalam perdamaian dan pengertian. Tetapi iman kepercayaan juga memisahkan mereka yang benar-benar menghayati agamanya dari mereka yang entah kerabat atau sahabat, yang tidak bisa memiliki apa yang bernilai paling penting bagi orang beriman sejati mereka. Sering kali luka dan skandal yang diakibatkan oleh perpisahan ini begitu menyakitkan sehingga mereka menjadi penganiaya.

Injil tidak menempatkan dunia ini pada jalan menuju taman firdaus duniawi, tetapi ia menantangnya untuk bertumbuh. Kematian Yesus membawa apa yang tersembunyi dalam hati manusia kepada terang yang sepenuh-penuhnya (Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan -- dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri --, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang." - Luk 2:34-35), demikian pula ia menyatakan dan menyingkap tipu daya dan kekerasan yang mendasari masyarakat kita, sama seperti ia menyingkap hal-hal ini yang mendasari masyarakat Yahudi pada waktu itu.

(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pastoral Katolik)

Tidak ada komentar: