3/30/2015

ANAK DOMBA PASKAH


Para leluhur Ibrani, ketika mereka masih mengembara dengan kawanan-kawanan mereka sebelum mereka tinggal di Mesir, mereka merayakan Paskah Anak Domba, yang merupakan pesta tradisional para gembala. Mereka mengorbankannya pada bulan pertama pada musim semi, suatu masa kritis bagi biri-biri betina yang baru beranak.

Anak domba yang dipisahkan untuk pesta disimpan selama beberapa hari di tempat orang tinggal, supaya anak domba itu lebih bersatu dengan keluarga dan membawa dosa-dosa dari semua anggota keluarga. Kemudian, kemah-kemah direciki dengan darahnya untuk menghalau roh-roh jahat yang mengancam manusia dan hewan.
Arti pesta kuno ini telah berubah, Allah menghendaki Paskah dirayakan pada peristiwa bangsa Israel keluar dari Mesir, pesta itu akan selalu ada untuk mengingatkan Israel akan pembebasannya.
Dengan menyelamatkan anak-anak sulung dari Israel, Allah sekali lagi menyatakan secara resmi penolakan-Nya terhadap kurban manusia (Lalu Ia berfirman: "Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku." - Kej 22:12), karena pada jaman dulu di Timur Tengah ada kebiasaan mengorbankan manusia (Kemudian ia mengambil anaknya yang sulung yang akan menjadi raja menggantikan dia, lalu mempersembahkannya sebagai korban bakaran di atas pagar tembok. - 2 Raj 3:27) & (Ia menajiskan juga Tofet yang ada di lembah Ben-Hinom, supaya jangan orang mempersembahkan anak-anaknya sebagai korban dalam api untuk dewa Molokh - 2 Raj 23:10)
Anak sulung dari umat-Nya adalah milik-Nya ("Kuduskanlah bagi-Ku semua anak sulung, semua yang lahir terdahulu dari kandungan pada orang Israel, baik pada manusia maupun pada hewan; Akulah yang empunya mereka." - Kel 13:2) demikian juga anak sulung dari binatang-binatang dan hasil pertama dari bumi (maka haruslah engkau membawa hasil pertama dari bumi yang telah kaukumpulkan dari tanahmu yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, dan haruslah engkau menaruhnya dalam bakul, kemudian pergi ke tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, untuk membuat nama-Nya diam di sana. - Ul 26:2), tetapi berhubung Allah telah menyelamatkan anak-anak sulung Israel ketika mereka meninggalkan Mesir, setiap anak sulung di Israel haruslah “ditebus”, bukannya dikurbankan (Tetapi mengenai manusia, setiap anak sulung di antara anak-anakmu lelaki, haruslah kautebus - Kel 13:13).
Sejak saat itu keluarga-keluarga Israel akan menganggap anak sulung mereka sebagai milik Tuhan dan dipersembahkan kepada-Nya (Kel 13:2) karena mereka telah diselamatkan dari bencana.
Menurut hukum ini, Yesus anak sulung Maria, juga dipersembahkan di Bait Allah kemudian ditebus kembali dengan sepasang burung merpati (Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah", dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati. - Luk 2:22-24).
Pesta yang berasal dari suatu pesta kafir “diubah” menjadi suatu pesta yang mempunyai “arti baru”, darah anak domba memeteraikan perjanjian Tuhan dengan umat yang telah dipilih-Nya dari bangsa-bangsa lain. Mulai saat itu, Paskah akan menjadi pesta kemerdekaan bangsa Israel.
Pada pesta Paskah, Allah membiarkan Yesus mati dan bangkit dalam hari-hari Paskah. Kematian Yesus memeteraikan Perjanjian Baru antara Allah dan umat manusia (Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan sesudah makan; Ia berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu. - Luk 22:20), setiap Perayaan Misa berakar pada kematian dan kebangkitan Kristus “Anak Domba Allah.
(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pastoral Katholik)

Tidak ada komentar: