7/24/2015

PERUMPAMAAN TENTANG PERJAMUAN KAWIN


Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang – Mat 22:2-3).

Sama seperti perumpamaan tentang orang-orang yang berdalih yang ada di dalam Injil Lukas, perumpamaan tentang perjamuan kawin ini hanya ada di dalam Injil Matius.

Yesus menceritakan kisah seorang raja yang menyiapkan pesta pernikahan bagi anaknya, raja merencanakan sebuah pesta yang besar. Dia mengharapkan semua orang yang mempunyai kedudukan tinggi dan penting di istananya menghadiri pesta pernikahan tersebut. Sebagaimana kebiasaan pada waktu itu, undangan diberikan langsung kepada tamu dan tamu-tamu itu adalah para bangsawan, mereka diingatkan akan hari pernikahan tersebut. Namun mereka menolak menghadiri pesta pernikahan itu dengan berbagai alasan. Meskipun demikian, raja tersebut tetap membuat persiapan untuk pesta pernikahan. Ketika hari pernikahan anaknya tiba, dia mengutus hamba-hambanya untuk mengingatkan orang-orang penting itu, bahwa mereka diundang ke pesta

Hamba-hamba tersebut pergi dengan membawa pesan raja: " Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya hidangan, telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini (Mat 22:4). Tetapi tamu-tamu yang diundang tidak menanggapi, malahan bersikap menantang : ada yang pergi ke ladang, yang lain pergi mengurus usahanya, malahan hamba-hamba itu dianiaya, bahkan beberapa dari mereka dibunuh (Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya – Mat 22:5-6).

Di dunia Timur sebagaimana sudah menjadi kebiasaan, menerima undangan kerajaan merupakan sebagai suatu kewajiban. Menolak undangan untuk menghadiri pesta pernikahan tentu mempunyai implikasi yang bisa menimbulkan kesulitan dan permusuhan. Dengan murka Raja mengirim pasukannya untuk menghukum pembunuh-pembunuh tersebut dan membakar kota mereka. Dia melepaskan kemarahannya dengan mengambil tindakan menghukum; tetapi pada saat yang sama dia juga ingin ada orang datang dan merayakan pesta pernikahan anaknya bersama-sama dengan dia. Jadi dia menyuruh hamba-hambanya ke persimpangan-persimpangan jalan untuk mengundang mereka yang mau datang ke pesta tersebut. Tidak peduli apakah itu orang baik ataupun jahat, supaya mereka datang dalam jumlah yang besar, sehingga ruangan perjamuan pesta itu dipenuhi oleh tamu-tamu  (Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu  – Mat 22:10).
Raja merupakan gambaran kebajikan Allah, dan dengan demikian menggambarkan belas kasihan dan kasih Allah yang meluas sampai kepada orang-orang berdosa sekalipun. Orang dari semua lapisan bisa menerima undangan itu dan memberi tanggapan atas panggilan Allah.
Allah mengundang kita ke suatu pesta di mana ada tempat untuk semua orang. Sepanjang sejarah, Allah selalu mengutus nabi-nabi-Nya untuk mewartakan keadilan, belas kasihan Allah dan supaya manusia percaya kepada-Nya. Tetapi bangsa Yahudi tidak mengindahkan panggilan Allah yang mengutus para nabi (Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu – Mat 22:8). Rencana Allah tidak akan gagal, Yesus mengutus rasul-rasul-Nya untuk mewartakan Injil di negeri-negeri asing supaya orang-orang yang bukan Yahudi juga boleh masuk Gereja. (Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu. – Mat 22:9).
Bagian kedua dari perumpamaan ini menunjukkan hal lain, bahwa ketika raja itu masuk dia menemukan sesuatu yang tidak berkenan kepadanya (Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta – Mat 22:11).
Seorang tamu terkejut, ia ditemukan tidak mengenakan pakaian pesta. Kita tidak perlu berargumen, bahwa karena orang tersebut adalah seorang yang miskin, maka tidak mungkin orang tersebut memiliki pakaian pesta dan mengenakannya pada pesta itu. Tidak sama sekali, karena sudah kebiasaan pada zaman itu, bahwa tuan pesta selalu menyiapkan  pakaian pesta bagi tamunya, yang akan dipakai oleh para tamu yang memang tidak mempunyai pakaian pesta (Kemudian berkatalah Yehu kepada orang yang mengepalai gudang pakaian: "Keluarkanlah pakaian untuk setiap orang yang beribadah kepada Baal!" Maka dikeluarkannyalah pakaian bagi mereka. 2 Raj 10:22).
Jadi sebetulnya orang tersebut bisa mengenakan pakaian pesta yang sudah disediakan, tetapi ia tidak melakukannya dengan kata lain ia menolaknya, maka ia tidak bisa menjawab apapun. (Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. – Mat 22:12). Karena tamu tersebut diam saja, maka raja memerintahkan hambanya untuk mengambil tamu yang keras kepala ini, mengikatnya, dan melemparkannya ke dalam kegelapan (Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi. – Mat 22:13).
Kita semua, orang-orang Kristen, yang sudah diundang dan sudah berada di dalam Gereja, apakah kita semua sudah memakai pakaian pesta ? yaitu pertobatan, menghayati hidup dengan keadilan, kejujuran dan kepercayaan ? Raja ingin tamunya menerima apa yang dia berikan, siapa yang menolak akan menanggung akibatnya.
Allah menyediakan dan memberikan pakaian kepada umat-Nya melambangkan kebenaran-Nya. Allah memberi kita pakaian kebenaran yang melambangkan, bahwa si pemakai telah diampuni, dosa-dosanya telah ditutupi, dan dia menjadi anggota rumah Allah melalui Kristus, mengenakan pakaian pesta melambangkan pertobatan, pengampunan, dan kebenaran. Ketika Bapa menyambut pulang anaknya yang telah hilang, dia mengenakan jubah yang terbaik bagi anaknya, dengan berbuat demikian ia menyatakan bahwa anaknya telah diampuni dan diterima kembali sebagai anak dalam keluarga Bapa (Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. - Luk 15:22). Tamu yang tidak mau memakai pakaian pesta melambangkan orang berdosa yang menolak kebenaran Allah dan yang membenarkan diri sendiri.
Perikop ini diakhiri dengan kalimat "Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih." (Mat 22:14). Orang yang menolak datang, dan yang tidak mau mengenakan pakaian pesta, tidak termasuk ke dalam orang yang dipilih. Panggilan Allah terutama kepada orang berdosa (Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa." – Mrk 2:17), dan Allah mengundang mereka untuk menikmati sukacita keselamatan (Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu – Mat 11:28). Alkitab menunjukkan bahwa manusia juga bebas untuk memilih  dan juga bertanggung jawab atas sikapnya yang tidak peduli, berontak dan angkuh. Maka, meskipun undangan itu bersifat universal dan meliputi semua orang, hanya beberapa orang yang menerimanya dalarn iman dan pertobatan yang ditentukan untuk kehidupan kekal (Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya - Kis 13:48).

-       Kasih Yesus

Tidak ada komentar: