12/15/2008

YESUS BERBICARA KEPADA KELUARGA (1)

Oleh : Morton T. Kelsey

Yesus Kristus hidup dalam suatu dunia yang memandang kehidupan keluarga jauh berbeda dengan pandangan kita. Di jaman-Nya manusia sedikit mempersoalkan tentang hubungan antara suami dan isteri dan antara orang tua dengan anak-anak.

Tetapi Yesus menegaskan, bahwa seluruh sikap manusia terhadap keluarga, telah berubah. Sesungguhnya, pemikiran modern tentang apa keluarga itu, akan bersumber dari ajaran serta tekanan-tekanan keras dari Yesus dari Nazareth ini. Sebagian besar dari kita yang telah memasuki hidup perkawinan, pada dasarnya berharap mendapatkan suatu kerja sama, suatu persekutuan dari anggota-anggota yang mempunyai derajat harga diri yang sama, memasuki kehidupan berkeluarga dengan bebas dan inilah kemungkinan dari tujuan utama itu, dari pada melahirkan dan membesarkan anak-anak. Keluarga adalah tempat di mana anak-anak menerima nafkah baik jasmani maupun rohani sampai mereka dapat menjadi orang-orang dewasa, yang kemudian masing-masing mereka dapat mandiri. Keluarga juga tempat di mana suami dan istri dapat tumbuh menjadi matang dan utuh.

Kenyataannya, keluarga tidak semata-mata dibangun untuk anak-anak maupun semata-mata untuk kepuasan ibu dan ayah, keluarga adalah suatu organisme yang sangat kompleks dan indah, karena keluarga adalah tempat di mana dua manusia tertentu bercinta dan merasakan keamanan dan kesejahteraan yang akan mereka cari di dunia ini. Keluarga adalah tempat pelajaran dasar kita sebagai anak, dan juga tempat di mana kita menemukan sisi lain dari diri kita sendiri dan belajar bertanggung-jawab sebagai orang dewasa.

Dari sudut pandang agama, keluarga ideal adalah tempat di mana kita belajar sesuatu tentang sifat Allah dan keterlibatan-Nya terhadap manusia. Keluarga adalah sekolah, di mana kita belajar mengenai keagamaan dan mengharapkan untuk dapat menemukan Allah.

Keluarga pada jaman Yesus

Tetapi dunia pada jaman kuno, di mana Yesus adalah suatu bagian dari padanya, percaya bahwa hanya laki-laki sajalah yang merupakan tokoh yang sangat penting di dalam keluarga. Kaum wanita hidup hanya untuk melahirkan anak, mereka secara jasmani, rohani, moral dan agama, tidak ada kesamaan kedudukan dengan kaum pria. Karena mereka lebih rendah dari kaum pria, maka terjadilah bahwa laki-lakilah yang mengatur keluarga dengan kekuasaan penuh. Anak-anak tidak begitu berharga dalam keluarga yang menganut sistim patriarkat ini, kecuali apabila mereka itu anak laki-laki. Bahkan kemudian, mereka hanya dianggap berharga apabila mereka sudah dewasa, anak-anak semata-mata hanya manusia yang berpotensi saja.

Yesus tidak dapat menerima dan tidak setuju dengan konsep keluarga semacam ini, karena hal itu tidak selaras dengan apa yang Dia ketahui mengenai manusia dan mengenai Allah sendiri. Yesus mungkin harus berbuat banyak untuk mengakhiri sikap kejantanan terhadap keluarga yang mutlak ini, lebih dari pada pengaruh-pengaruh sejarah yang lain. Persis seperti ajaran-Nya mengenai dasar kesamaan moral dari kaum pria dan nilai mereka yang sama di hadapan Allah, akhirnya telah menghasilkan pembatasan perbudakan, begitulah ajaran-Nya mengenai hubungan dalam keluarga, tuntutan-Nya adalah mengakhiri dominasi kaum pria di dalam kehidupan keluarga.

Marilah kita perhatikan dengan seksama apa yang dikatakan Yesus, mengenai kaum wanita dan tingkat keberanian maupun cara berpikir, kesadaran dan keterbatasan kaum pria.

Tidak ada komentar: