8/02/2011

PIKULLAH SALIBMU


Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku (Mrk 8:34). Yesus mengatakan kepada kita bahwa mengikuti Dia sama dengan mengikuti jalan yang sama yang diikuti-Nya menuju salib.

Untuk mencapai kematangan, kita perlu menyangkal kehidupan kita, dengan kata lain, kita harus berani mempertaruhkan diri kita untuk sesuatu yang mulia dari pada terlalu prihatin tentang masa depan kita sendiri, kita harus mencari suatu gaya hidup yang akan membantu kita mencapai kesempurnaan di dalam jalan KASIH, dan kita harus menerima bahwa kehidupan kita mungkin menjadi suatu kegagalan menurut pandangan orang-orang, tetapi tidak menurut pandangan Allah (Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal. - Yoh 12:24-25)
Dengan memikul salib, kita menerima secara sukarela pengorbanan-pengorbanan yang dituntut Bapa setiap hari, kita menerima dari saat itu sesuatu yang lebih bagus lagi dari pada apa yang kita kurbankan, yaitu kebebasan batin dan kebahagiaan yang lebih dalam (orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal. - Mrk 10:30)
Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya. (Mrk 8:35). Perlu kehilangan nyawa :
- Kehilangan nyawa seperti Abraham, yang pada umur tua pergi ke negeri yang tidak dia kenal.
- Kehilangan nyawa seperti Musa, yang setuju menjadi pemimpin suatu bangsa yang tidak bertanggung-jawab.
- Kehilangan nyawa seperti Maria, yang berani memasuki suatu jalan, di mana tak seorangpun bisa mengerti atau menolong dia.
- Kehilangan kehidupan yang fana ini supaya dilahirkan kembali dalam Allah seperti martir Ignatius, ia dihukum mati dengan cara dimakan oleh singa-singa, tetapi ia berkata “Aku adalah gandum Allah, semoga aku digiling oleh gigi-gigi binatang-binatang buas, supaya diubah menjadi roti murni Kristus. Segala nafsuku telah disalibkan dalam diriku, tidak ada keinginan jasmani lagi yang dapat membakar aku, suatu mata air telah timbul di dalam diriku yang berbisik-bisik dan berbicara dari dalam : datanglah kepada Bapa.”
Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusia pun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus." (Mrk 8:38). Orang beriman yang mengikuti sabda Kristus, tidak takut akan apa yang akan diminta dari padanya ketika diserang tanpa ampun oleh banyak orang yang menyebut dirinya orang Kristiani, karena kita hidup di tengah-tengah bangsa yang tidak setia, dengan kata lain, orang-orang yang tidak menyangkal Allah secara terus terang, namun sesungguhnya menyembah allah-allah lain (Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." - Mat 6:24).
Coba kita pikirkan apa yang dikatakan Yesus : dari Aku, untuk Aku, dan bukan : dari Allah, untuk Allah. Karena Allah telah datang dalam diri Yesus untuk mengetuk pintu hati kita, dan menawarkan kepada kita keterlibatan-keterlibatan yang sangat khusus. (Kata Yesus kepada mereka: "Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku. - Yoh 8:42)
(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pastoral Katholik)

Tidak ada komentar: