3/30/2015

DI JALAN MENUJU EMAUS (1)


(The Pilgrimage of Faith, oleh John O’Donnel SJ)
Kisah dua murid di jalan menuju Emaus merupakan topik permulaan suatu seri meditasi iman Kristiani, karena pokok meditasi ini adalah imajinasi kehidupan iman suatu perjalanan ziarah, suatu perjalanan dalam persahabatan dengan Kristus.

Kisah Injil ini lebih dari sekedar kenang-kenangan sejarah, jalan menuju Emaus adalah suatu jalan yang setiap orang harus lalui. Dua murid ini mewakili kita dalam perjalanan hidup kita. Kristus ada bersama kita, jika kita mempunyai “mata” untuk melihat Dia.
Pada meditasi, pertama, kita akan mengkonsentrasikan pemikiran bahwa perjalanan hidup tidak kita lakukan sendirian, melainkan merupakan suatu perjalanan dalam persahabatan dengan Kristus dan dengan sesama kita.
Kadang-kadang orang bertanya, hal apakah yang menyebabkan seseorang memutuskan untuk menjadi orang Kristen ? apa bedanya antara kehidupan seorang Kristen dan kehidupan orang yang tak beriman ? bukankah banyak orang yang tidak beriman menjalani hidup yang baik dan sering lebih baik dari pada mereka yang beriman. Jawabannya terletak pada “persahabatan”. Memang bisa juga menjadi seorang yang baik tanpa percaya kepada Allah ataupun Kristus, namun kehidupan yang demikian dijalani tanpa bersama seseorang yang kasih-Nya setia tanpa batas, yaitu Dia yang selalu mempertahankan kita pada keadaan yang baik maupun keadaan buruk, yang berjalan bersama kita hingga saat kematian dan malahan menyambut kita setelah kematian.
St. Lukas menggambarkan bagaimana kedua murid Kristus dalam perjalanan mereka menuju ke Emaus dibimbing dari keadaan tidak percaya hingga menjadi percaya. Tuhan membuka mata mereka, sehingga mereka mengenali Dia, kitapun dapat mengenali Dia dengan cara yang sama.
St. Lukas menekankan dua hal, pertama ia menceritakan kepada kita, bahwa Yesus menginterpretasikan kepada mereka seluruh isi Kitab Suci, mulai dari kisah Musa sampai pada kisah para nabi adalah menyangkut hal-hal yang berkenaan dengan Diri-Nya (Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. – Luk 24:27). Dengan perkataan lain Yesus menunjukkan kepada mereka, bahwa seluruh Kitab Perjanjian Lama berhubungan dengan Diri-Nya.
Kedua, Lukas menghendaki supaya kita mengerti bahwa Kristus sungguh-sungguh dapat ditemukan di dalam Kitab Suci. Ia sungguh-sungguh berbicara kepada kita di sana, sama halnya ketika Ia berbicara kepada kedua murid ini di dalam perjalanan ke Emaus, Yesus juga berbicara kepada kita semua melalui Sabda-Nya di dalam Kitab Suci.
Sejak Konsili Vatikan II, kita telah mulai mendapatkan kembali kehadiran Allah yang baru melalui Sabda di dalam Kitab Suci, kita telah lama terbiasa berbicara dengan Kristus yang nyata hadir dalam Ekaristi. Sekarang kita mulai menghargai dan mengenali kehadiran-Nya dalam Sabda-Nya juga.
Iman kita berkisar sekitar misteri, bahwa Allah kita adalah Allah yang berbicara, Dia telah berbicara kepada kita ketika Sabda-Nya menjadi manusia, yaitu Yesus dari Nazareth. Yesus adalah pengungkapan Allah bagi kita. Ketika Ia berkata kepada para rasul, bahwa mereka yang telah melihat Dia, juga telah melihat Bapa (Kata Yesus kepadanya: "Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. – Yoh 14:9)
Dalam penyaliban Yesus dan kematian-Nya di kayu salib, Sabda menjadi hening. Jika itu merupakan akhir dari Yesus, maka iman kitapun menjadi tidak ada gunanya. Tetapi Ia telah bangkit dan kemudian mengutus murid-murid-Nya untuk memberikan kesaksian atas kebenaran kebangkitan ini, yang kemudian diabadikan dalam Injil. Iman muncul ketika kita mendengar Sabda ini, bukan suatu teks yang mati atau tanda-tanda cetakan di atas halaman Kitab Suci, melainkan sungguh-sungguh hidup seperti ketika Kristus berbicara kepada hati kita.
Kehadiran Kristus dalam Sabda dari Kitab Suci, sungguh dapat membimbing kita pada pertemuan dengan Dia dalam Sakramen Gereja, terutama Ekaristi. Karena itu, pertemuan murid-murid di jalan menuju ke Emaus ini mencapai puncaknya pada pengenalan mereka atas diri Yesus, ketika Dia memecah-mecahkan roti (Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. – Luk 24:30-31). Bahasa “pemecahan roti” ini, selalu mengenai Perjanjian Baru berkenaan dengan misteri Ekaristi.
Dalam meditasi kita sebelumnya, kita bicarakan kehadiran Allah bersama umat-Nya pada perjalanan hidup mereka. Dan tentunya juga dalam Ekaristi, yang disebut Viaticum, makanan untuk perjalanan. Melalui Ekaristi sungguh sangat membantu kita dalam merefleksikan hubungan kehadiran Kristus dalam Ekaristi dengan kehadiran-Nya dalam Gereja.
Kadang-kadang kita membayangkan bahwa urapan dari Persembahan dalam Misa menghasilkan suatu transisi kehadiran Kristus dari sama sekali tidak hadir menjadi hadir sepenuhnya. Pengertian seperti ini tidak cukup untuk mengamati misteri-Nya. Sebagaimana sudah kita lihat, Kristus juga hadir melalui Sabda dalam Kitab Suci, namun lebih lanjut Kristus sudah hadir dan ada di antara kita sebagai komunitas Kristiani, Ia ada di antara kita setiap hari yaitu ketika kita berusaha hidup sesuai dengan perintah-Nya yang baru untuk mengasihi. Tiap hari kita berusaha menanggulangi ego kita dan menyerahkan hidup kita pada-Nya dan kepada sesama. Kita berusaha untuk melihat di dalam diri komunitas kita, juga saudara-saudari seiman, di mana Kristus rela wafat bagi siapa saja. Demikian jauh kita lakukan hal ini, maka Kristus sungguh-sungguh hadir dalam diri kita dan komunitas kita menjadi seperti yang dikatakan Konsili Vatikan II, suatu sakramen yang dalam kehidupannya membuat Kristus nampak jelas pada dunia.
Lalu, di dalam Ekaristi, Dia malahan sudah hadir di tengah-tengah kita, memperdalam kehadiran-Nya di antara kita semakin nyata, kita bergabung dengan Dia dalam pengurbanan-Nya dan menerima-Nya sebagai makanan. Sakramen adalah kejadian-kejadian ketika Kristus hadir secara khusus dan dengan cara yang lebih intensif, tetapi Dia tidak pernah absen dari kita.
Misteri hidup kita di dalam Kristus adalah bahwa kehadiran-Nya dalam komunitas Gereja, kehadiran-Nya dalam Sabda dari Kitab Suci dan kehadiran-Nya dalam Sakramen Ekaristi, semuanya saling berhubungan erat satu sama lain. Dalam hidup kita sehari-hari, kita mengenali kehadiran-Nya ketika kita mematikan ego dalam diri kita dan menjalani kehidupan cinta kasih-Nya. Dalam Kitab Suci, Sabda yang menjadi daging pada saat kematian-Nya tetap berlanjut dalam Sabda permakluman-Nya, yang hingga sekarang kita dengarkan. Dalam Sakremen Ekaristi, ingatan akan wafat-Nya dan kebangkitan-Nya, merupakan suatu anugerah yang nyata dalam hidup komunitas.
Setelah bangkit dari mati, Kristus mengirim Roh Kehidupan-Nya kepada para murid-Nya dan kepada kita semua, dan melalui Roh yang sama Ia mendirikan tubuh dan mistik-Nya, yaitu Gereja, sebagai Sakramen Penyelamatan seluruh umat manusia.

Tidak ada komentar: