8/17/2008

MADONNA PERAK

Agung, dan sangat manis dalam tampilan Sang Perawan yang memeluk Putra Ilahi dalam lengannya. Ini adalah suatu karya besar seorang pandai emas, dan patung yang bagus ini adalah milik bapak Herman, seorang yang berubah menjadi atheis, seorang kolektor barang antik yang menghargainya hanya untuk peraknya dan keindahan artistiknya.

Lucille kecil, keponakan kolektor barang antik itu, menemukan patung ini di antara barang-barang antik di salah satu rak kaca di rumahnya. Kata Lucille kepada pamannya, “Katakanlah paman, kalau paman tidak mencintai Bunda suci, mengapa paman mau menyimpan patungnya ? dan karena paman memilikinya, mengapa tidak diletakkan di kamar paman dan berdoa di hadapannya setiap malam ?”

Kata si paman, “Hanya kanak-kanaklah yang berdoa, kalau kamu besar nanti, kamu akan melupakan doa-doamu.”

“Oh, tidak, aku tidak akan melupakannya, ibu berkata bahwa kita harus berdoa setiap hari sepanjang hidup kita. Tak pernahkah paman berdoa Bapa Kami dan Salam Maria ?”, sahut Lucille.

“Tidak, tidak pernah.”

“Kalau begitu aku tahu kesusahan apa yang akan menimpa paman,” kata anak itu dengan berlinang air mata, “kita harus menepati janji-janji Komuni Pertama kita, kalau kita ingin menghindari neraka dan masuk surga.”

Si Paman atheis itu menjadi tidak enak, “Diamlah nak, hanya anak-anak nakal di jalanan yang berbicara tentang neraka.”

“Tapi paman tak mau kesana ya kan ? itu akan sangat menyedihkan, tidakkah paman mempunyai seorang ibu yang mengajari paman berlutut dan mengatupkan kedua tanganmu dan bercakap-cakap dengan Tuhan ketika paman masih kecil ?”

Kolektor antik itu sangat tersentuh : “Pergilah tidur anakku, dan ingatlah apa yang kukatakan pada kamu, bahwa berdoa itu adalah omong kosong.”

“Paman, paman tidak mencintai Bunda Maria, karena paman tidak pernah bercakap-cakap dengannya, bolehkah aku memiliki patungnya ? bolehkah aku mendapatkannya sekarang ? Paman tak mungkin menginginkannya karena paman tak mencintainya, dan aku sangat menginginkannya karena aku sangat mencintainya.”

Si paman lalu membuka lemari kaca tersebut dan meletakkan patung itu di pelukkan anak itu, “Sekarang pergilah dan tidurlah dengan nyenyak sampai esok pagi, ya.”

Setelah satu jam kemudian si paman masih memikirkan kata-kata si keponakannya, kata-kata keponakannya tadi menimbulkan kenangan manis masa lalu dengan ibunya, kata-kata itu menyentuh hati sanubarinya.

Tiba-tiba ia bangkit lalu pergi ke kamar anak itu, membuka pintu kamar itu pelan-pelan, lalu sejenak ia terkejut dan tertegun melihat anak itu. Pada meja di sisi tempat tidur ada taplak putih bersih dan di sanalah patung yang cantik itu diletakkan, di sekelilingnya ada vas-vas bunga dan lilin-lilin yang menyala. Di hadapan patung itu, dalam pakaian tidur putihnya yang indah, Lucille sedang berlutut dengan kepala tertunduk sampai ke lengannya, ia telah tertidur di dalam doanya.

Orang tua itu dengan lembut mengangkat keponakannya ke tempat tidurnya. Anak yang setengah terjaga itu mengulang kembali doanya yang sedang ia ulang-ulangi itu pada saat ia tertidur, “Bunda Kudus yang tercinta, perolehkanlah bagi paman Herman rahmat pertobatan, Dalam Nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus.”“Amin.” Sambung si paman kolektor itu.

Dengan lembut sang paman menyelimuti keponakan tercintanya, lalu ia berlutut di hadapan patung Madonna Perak itu, menggantikan keponakannya.

Tidak ada komentar: