2/26/2009

PEMBERITAHUAN PERTAMA PENDERITAAN YESUS DAN SYARAT-SYARAT MENGIKUTI DIA


Yesus bertanya kepada mereka, "Menurut kamu, siapakah Aku ini?" Jawab Petrus, "Mesias dari Allah." (Luk 9:20) Mengapa Yesus bertanya kepada para rasul tentang siapa diri-Nya ? Injil menjawab dengan jelas : karena telah tiba saatnya bagi Yesus untuk memberitahukan kesengsaraan-Nya kepada mereka.

Yesus tidak hanya datang untuk mengajar orang banyak, tetapi juga membukakan bagi mereka pintu menuju Kebangkitan. Karena para rasul-Nya sekarang mengenal-Nya sebagai Juruselamat yang dijanjikan kepada Israel, maka mereka harus belajar bahwa tidak ada keselamatan jika kematian tidak dikalahkan (Karena Ia harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya. - 1 Kor 15:25).

Yesus akan memperoleh kemenangan ini, jika Ia dengan bebas memilih jalan salib : Putra Manusia harus menderita banyak dan ditolak oleh para penguasa (Kemudian Yesus berkata, "Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga." - Luk 9:22).

Segera sesudah itu Yesus menambahkan, bahwa kita harus mengambil bagian dalam kemenangan-Nya atas kematian : Kamu harus menyangkal dirimu, inilah orientasi hidup kita yang fundamental. Kita harus memilih antara melayani atau dilayani, mengorbankan diri untuk orang lain atau mengambil keuntungan dari mereka. Atau sebagaimana yang dikatakan oleh Santo Fransiskus : ”Biarlah aku tidak berusaha untuk dihibur melainkan menghibur, tidak untuk dimengerti melainkan mengerti, tidak untuk dikasihi melainkan mengasihi.”

Dalam tahun-tahun pertamanya seorang anak perlu dibantu melakukan pilihan ini. Dalam keluarga sejati, ia bukanlah pusat atau raja dengan orang tuanya sebagai budak, melainkan bagaimana ia harus belajar melayani dan memberikan dirinya, ia harus menerima saudara dan saudarinya, berbagi rasa dengan mereka dan kadang-kadang membatasi kepentingan masa depannya demi kebaikan mereka.

Kata-Nya kepada mereka semua: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. (Luk 9:23) Di sinilah penerimaan terhadap salib yang Tuhan berikan kepada masing-masing kita dan yang tidak perlu kita pilih, karena kita tahu bahwa itulah nasib kita. Kita tidak boleh memikulnya karena terpaksa, melainkan kita harus mencintainya karena Tuhan menghendakinya bagi kita. Dalam dunia, di mana kita sudah terbiasa dengan kehidupan sendiri-sendiri dan dengan demikian memboroskannya, banyak anak yang dalam keadaan sulit, bahkan cacat, akan tetapi membuat orang tua mereka menjadi pengikut Yesus yang sejati dengan memikul salib mereka.

Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya. (Luk 9:24) Yesus mengacu kepada orientasi hidup kita pada umumnya. Ia sedikitpun tidak mempunyai kesamaan dengan mereka yang selalu berpikir untuk menghindari “dosa” sambil mengejar ambis-ambisi mereka, keinginan mereka adalah mereguk kenikmatan hidup ini sehabis-habisnya. Mencari kenikmatan hidup tanpa mau mengambil risiko akan memisahkan kita dari jalan Allah. (Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri? – Luk 9:25)

Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku, Anak Manusia juga akan malu karena orang itu, apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan-Nya dan dalam kemuliaan Bapa dan malaikat-malaikat kudus. (Luk 9:26) Di samping salib yang diserahkan kepada kita setiap hari, Allah akan meminta kita menjadi saksi atas iman kita dan dalam kesaksian ini kita harus mengambil risiko, apapun risikonya, meskipun risikonya tidak lebih daripada ditertawakan oleh orang-orang, mungkin oleh teman-teman kita atau malahan juga oleh pimpinan kita. Selama ada masa kekerasan, dapatkah orang-orang Kristen tetap diam tenang, membatasi diri mereka hanya pada kegiatan (pertemuan) rohani, dan tidak menunjukkan tanda-tanda tentang apa yang mereka pikirkan dan hayati ?

(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pastoral Katholik)

Read more .....

2/24/2009

MENJADI PEMIMPIN, MINUM CAWAN DAN DIBAPTIS


Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan minta kepada-Nya, supaya Yesus mengabulkan suatu permintaan mereka.

Jawab Yesus kepada mereka : "Apa yang kamu kehendaki Aku perbuat bagimu (Mrk 10:36). Lalu kata mereka: "Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiri-Mu." (Mrk 10, 37)

Tetapi kata Yesus kepada mereka: "Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum dan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima?" (Mrk 10, 38)

Meminum cawan dan dibaptis adalah bahasa kiasan untuk menggambarkan penderitaan dan kematian Yesus.

Sebagai jawaban terhadap permohonan kedua bersaudara Yakobus dan Yohanes, Yesus berusaha meyakinkan para pengikut-Nya, bahwa sukses dalam kerajaan-Nya tidak tergantung pada prestise dan kuasa, melainkan dengan mengikuti jalan Yesus, pemimpin mereka.

Apa yang membuat seseorang bisa menjadi pemimpin ? Bagaimana seharusnya sikap seorang pemimpin ? Bagaimana seorang pemimpin bertindak di dalam memimpin dari suatu tim, atau sebagai kepala keluarga ?

Para pemimpin negara bisa tersenyum kepada rakyat yang berkumpul untuk menyaksikan mereka, lalu merangkul seorang anak yang memberi mereka penghormatan, tetapi sebetulnya siapakah yang melayani dan siapa yang dilayani ?

Yesus telah datang melayani dan pelayanan-Nya kepada manusia adalah : Ia mati dengan sukarela (Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. - Flp 2, 8)

Adalah suatu syair dari Lao Tse, seorang filsuf dari Cina mengatakan begini :

“Apa yang pernah dilakukan oleh sungai dan laut sehingga menjadi raja seratus lembah ?

Mereka menempatkan diri di bawah lembah-lembah itu, maka mereka berkuasa di atas seratus lembah

Jika orang kudus ingin berada di atas umatnya

Ia perlu lebih dahulu belajar berbicara dengan rendah hati

Jika ia ingin memimpin umatnya, Ia harus menjadi orang yang terakhir

Itulah caranya orang kudus berada di atas umatnya dan ia tidak membuat mereka menderita

Umatnya dengan senang hati mengangkat dia di atas mereka dan mereka tidak merasa lelah memikul dia

Karena ia tidak berkompetisi dengan siapapun, maka tidak seorangpun bisa berkompetisi dengan dia”

(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pastoral Katholik)

Read more .....

2/18/2009

MEDALI WASIAT MERUBAH HIDUP SAYA


By John A. Hardon S.J.

Salah satu pengalaman tak terlupakan yang saya alami adalah sebuah pengalaman dengan Medali Wasiat yang merubah hidup saya.

Waktu itu musim semi pada tahun 1948, setahun setelah pentahbisan saya. Dalam bulan October tahun itu, seorang imam Vincentius datang untuk berbincang-bincang dengan kami imam-imam muda dari ordo Jesuit. Dia menyarankan kepada kami untuk ikut bergabung menjadi anggota Kelompok Medali Wasiat. Di antaranya, dia mengatakan : “Pastor, Medali Wasiat sungguh-sungguh bekerja. Mukjizat oleh Bunda Maria betul-betul terjadi melalui Medali Wasiat ini.”

Saya tidak tertarik dengan apa yang diceritakan oleh imam Vincentius itu, saya bukan tipe orang yang suka memakai medali dan saya juga tidak mempunyai Medali Wasiat, tetapi saya berpikir, “saya tidak mengeluarkan uang sepeserpun, jadi saya menanda-tangani brosur dari imam Vincentius itu, dengan rumusan bahasa latin, dan dua minggu kemudian saya menjadi anggota, dan setelah itu melupakannya.”

Dalam bulan Februari setahun kemudian, saya ditugaskan untuk membantu para imam di rumah sakit Santo Alexis di Cleveland, Ohio. Saya berada di sana selama dua minggu untuk membantu. Tiap pagi, saya menerima daftar pasien yang masuk ke rumah sakit hari itu. Banyak sekali pasien yang beragama Katholik, sehingga saya tidak dapat mengunjungi mereka satu persatu sewaktu mereka masuk.

Di antara pasien itu ada seorang anak laki-laki yang berumur 9 tahun, dia bermain kereta salju dan sewaktu menuruni bukit, dia kehilangan keseimbangan dan kepalanya membentur pohon. Dia gegar otak dan hasil sinar-X menunjukkan bahwa dia mengalami kerusakan otak yang sangat serius.

Sewaktu saya mengunjunginya di kamar rumah sakit, dia sudah berada dalam keadaan koma selama 10 hari, tidak bisa bicara, tubuhnya juga tidak bisa bergerak sedikitpun. Pertanyaannya adalah, bisakah dia kembali hidup normal ?

Setelah memberkatinya dan menghibur orang tuanya, saya mau meninggalkan mereka, tetapi kemudian timbul dalam pikiran saya : “Seorang imam Vincentius pernah mengatakan bahwa Medali Wasiat sungguh-sungguh bekerja. Sekarang waktunya untuk membuktikan daya mukjizatnya.”

Saya sendiri tidak mempunyai Medali Wasiat, dan setiap orang yang saya mintai di rumah sakit itu mereka juga tidak punya. Saya berusaha terus dan akhirnya ada seorang perawat jaga dapat menemukan sebuah Medali Wasiat.

Saya harus memberkati Medali Wasiat itu dan menggantungkan di leher anak itu dengan suatu pita atau rantai. Akhirnya perawat itu menemukan pita biru untuk medali itu. Kelihatannya lucu apa yang saya lakukan dengan pita itu dan Medali Wasiat.

Akhirnya, saya memberkati medali itu dan sang ayah memegang brosur untuk menjadi anggotanya. Saya lalu melanjutkan dengan doa berkat saya. Lalu apa yang terjadi, segera setelah selesai berdoa dan menjadikan anak itu menjadi kelompok Medali Wasiat, anak itu lalu membuka matanya untuk pertama kali dalam sepuluh hari. Anak itu mulai melihat ibunya dan berkata : “Mami, saya ingin es krim.”

Selama ini anak itu hanya mendapat makanan dari infus saja. Dia mulai berbicara dengan ayah dan ibunya, dan setelah beberapa saat, seorang dokter dipanggil, lalu dokter itu memeriksa anak itu dan mengatakan bahwa anak itu sudah boleh makan.

Keesokan harinya, bermacam-macam tes dilakukan untuk mengetahui kondisi anak itu. Suatu tes dengan sinar-X menunjukkan bahwa kerusakan otak telah hilang, kemudian tes-tes lainpun dilakukan. Setelah tiga hari dites, anak itu boleh meninggalkan rumah sakit.

Pengalaman ini merubah seluruh hidup saya, saya menjadi lebih punya kepercayaan pada Tuhan, kepercayaan akan kuasa Tuhan untuk melakukan mukjizat bertambah luar biasa.

Setelah itu, tentu saja saya selalu menganjurkan untuk berdevosi kepada Bunda Maria melalui pemakaian Medali Wasiat. Keajaiban yang dia lakukan sungguh luar biasa.

Selama mengajar teologi bertahun-tahun, saya mengajar teologi mukjizat, dan saya sudah menulis buku tentang “Sejarah dan Teologi Mukjizat”

Read more .....

2/16/2009

HIDUP DI ANGIN


Beberapa “Perantau dan Musafir”, salama beberapa waktu berkelana di suatu daerah yang agak asing. Mereka pergi tanpa motivasi yang tinggi-tinggi. Mereka hanya mau menikmati kebebasan dan keleluasaan bergerak. Bebas dari jam dan bunyi weker, bebas dari dering telepon, bebas dari bunyi lonceng dan segala jenis tanda pengatur tata tertib acara. Malahan mereka mau bebas dari tembok, ubin dan kamar mandi.

Karena itu, mereka pergi tanpa arloji, penunjuk waktu mereka adalah matahari, bulan dan bintang-bintang serta binatang siang dan binatang malam. Pengatur acara lonceng-lonceng dalam tubuh sendiri. Misalnya kalau cacing-cacing mendendangkan lagu keroncong, para musafir itu tahu bahwa “kampung tengah” minta diisi. Kalau cacing-cacing itu meniup terompet dan sangkakala, sebaliknya kantong itu minta dikosongkan. Untuk berteduh pada malam hari, mereka membawa kain kemah yang bisa dipasang dan dibongkar setiap kali.

Selama pengembaraan itu, mereka memang bebas. Ah, istilah itu barangkali kurang tepat, bisa menimbulkan salah sangka. Mereka tidak bebas dari Tuhan dan hati nurani, tetapi mereka merasakan keleluasaan dan kelonggaran untuk bergerak. Hidup sehari-hari – yang rupanya menjadi padat dan beku dalam gerak-gerak rutin – terasa mencair dan meleleh. Acara harian yang tertib menjadi relatif dan longgar. Yang terasa akhirnya ialah kesegaran.

Mereka segar untuk masuk kembali ke dalam jaringan hidup rutin yang membatasi gerak mereka. Di situ semuanya mungkin akan kembali menjadi beku dan kaku, tetapi tidak bisa dihindari, hanya bisa dijalani begitu rupa agar tidak menjadi belenggu.

Fransiskus dan para pengikutnya yang pertama rupanya amat cepat dan leluasa dalam bergerak. Dengan kaki telanjang, tahu-tahu mereka sudah ada di Spanyol, Perancis, Inggris, Jerman, Maroko, dan Tanah Suci. Mereka lebih leluasa lagi karena tidak membawa kemah seperti para “perantau dan musafir” modern. Yang mereka bawa hanya buku Ibadat Harian yang diikat dengan tali dan digantungkan di leher, karena mereka tidak membawa tas dan kantong plastik dan saku jubah terlalu kecil untuk buku itu (kata-Nya kepada mereka: "Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat atau bekal, roti atau uang, atau dua helai baju. Dan apabila kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari situ. – Luk 9:3-4).

Mereka mengembara bukan agar mereka merasa lapang dan longgar untuk sesaat terhadap hidup rutin dalam rumah dan di proyek kerja. Yang dicari bukanlah bebas dari ini dan dari itu untuk sesaat, tetapi mereka memang betul-betul tidak diikat oleh apapun. Semuanya sudah mereka tinggalkan dan kini mereka seperti hidup di angin, ke arah mana angin (dan ANGIN) bertiup, ke sanalah mereka terbawa (Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh." – Yoh 3:8). Mereka sebetulnya tidak bergerak sendiri, tetapi mereka bebas UNTUK DIGERAKKAN ke mana saja sesuai dengan arah yang dikehendaki Si Penggerak (Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh – Gal 5:25).

Untuk itu mereka harus memenuhi satu syarat : jangan berakar dalam pekerjaan dan tempat tinggal dari beton, tetapi sebagai musafir dan perantau cukuplah sediakan kemah yang mudah dipasang dan dibongkar..

Kita perlu menjadwalkan kembali karya-karya kita agar lebih sesuai dengan tuntutan kharisma kita serta kebutuhan orang kecil, demikian bunyi laporan diskusi dalam suatu sidang tarekat. Lebih lanjut diberi contoh karya-karya tertentu yang seharusnya ditangani. Namun, kesimpulan pembicaraan sudah bisa diduga, para peserta sidang itu bagaikan satu koor besar, mengulangi refrein yang selalu terdengar. Kita tidak punya tenaga, ada peningkatan anggota, tetapi semua sudah diserap di sekolah-sekolah dan rumah-rumah sakit kita (yang selalu bertumbuh semakin besar dan megah sehingga tenaga tidak pernah mencukupi).

Rasanya, kita sebagai “Perantau dan Musafir”, bukan lagi sebagai orang-orang yang hidup di angin (dan di ANGIN). ANGIN memang berhembus, tetapi kita tidak terhembuskan. ANGIN bertiup keras, tetapi kita tetap berdiri kokoh kuat. Kita telah menancapkan akar dalam hidup dan karya kita yang mapan dan kita mengira bahwa itulah kesempurnaan, tetapi sementara itu kita tidak mau lagi digerakkan.

Nabi Elia memerlukan angin sepoi-sepoi untuk bisa bergerak lagi (1 Raj 19:12), yang kita perlukan adalah angin badai dan puting beliung yang mampu mencabut akar-akar kita, agar kita BEBAS UNTUK DIGERAKKAN.

(Kuntum-Kuntum Kecil, Butir-Butir Permenungan Saudara Kelana)

Read more .....

2/11/2009

SKAPULIR COKLAT PENYELAMAT DUA NYAWA


Batalionku adalah anggota dari brigade Irena. Kami baru saja bergerak meninggalkan Eindhoven, truk dan mobil tempur kami melaju menuju Eden. Pada malam harinya kami mendirikan kemah di sebuah pertanian tua dekat daerah Nijmegen.

Di belakang rumah pertanian tersebut ada sebuah pompa kayu tua yang dikelilingi batu bata. Ini memberi suatu kesempatan yang baik bagi kami untuk membasuh diri dari keringat dan debu setelah seharian berperang. Anda tentunya bisa membayangkan betapa segar dan beruntungnya kami mendapat kesempatan ini. Akupun segera melemparkan jaketku ke tanah dan menggantungkan skapulirku pada pompa kayu itu sewaktu mandi.

Satu jam kemudian, kami mendapat perintah untuk bergerak maju sekitar 1,5 mil dan menempati tempat perlindungan di sana. Kami memang memerlukan tempat yang aman untuk beristirahat malam. Aku baru saja merebahkan tubuhku dan membuka kancing bajuku, aku sangat terkejut ketika mendapatkan bahwa skapulirku tidak ada padaku.

Skapulir itu adalah pemberian ibuku, di mana aku senantiasa memakainya salama berperang, dan sekarang di saat berada dekat musuh, bagaimana aku harus mengatasinya ? Untuk mengambilnya kembali adalah suatu hal yang tidak mungkin. Jadi aku berusaha untuk tidak memikirkannya dan mencoba untuk tidur. Aku mencoba berbagai posisi supaya bisa tidur, namun tetap tidak dapat memejamkan mata. Aku lihat betapa teman-temanku semua telah tertidur nyenyak sekali, walaupun suara ledakan-ledakan bom yang berbahaya terdengar dekat sekali.

Akhirnya kuputuskan untuk mengambil skapulirku kembali, dan merangkaklah aku keluar dari antara teman-temanku yang masih tertidur lelap. Tidaklah mudah menembus intaian musuh, tetapi aku bertekad untuk melakukannya dan segera berlari ke arah rumah pertanian semula. Keadaan gelap gulita, namun beruntunglah aku dapat mencapai tempat pertanian tadi dan segera kuhampiri sumur tua itu. Kuraba-raba seluruh permukaan pompa kayu, tetapi skapulirku tidak ada di sana.

Aku baru saja akan menyalakan korekku ketika tiba-tiba terdengar ledakan yang dahsyat sekali. Apakah yang harus kuperbuat ? Apakah itu tanda-tanda serangan musuh ? Secepat mungkin aku berlari balik ke tempat perlindungan kami, barangkali aku dapat berbuat sesuatu untuk teman-temanku disana. Betapa terkejutnya ketika aku melihat beberapa pekerja sedang sibuk membersihkan puing-puing reruntuhan tempat perlindungan kami.

Di tempat perlindungan di mana teman-temanku tadi tidur, sekarang telah berubah menjadi sebuah liang besar yang menganga. Ternyata sebelum musuh meninggalkan tempat perlindungan tersebut, mereka meletakkan sebuah bom waktu yang tidak kami ketahui dan bom itu meledak di saat aku pergi. Tidak seorangpun selamat dalam ledakan itu. Seandainya tadi aku tidak pergi mencari skapulirku, maka aku pasti sudah ikut terkubur di bawah reruntuhan itu.

Keesokan harinya ketika aku melangkah ke dapur, aku bertemu dengan seorang kawan di sana. Ia sangat tercengang melihatku dan berkata : “Aku kira kamu berada di tempat perlindungan itu, kukira kau juga ikut terkubur di sana.”

“Dan kamu sendiri ? kenapa bisa berada di sini juga ?” tanyaku tak kalah tercengangnya.

“Aku memang berada di tempat perlindungan itu, tetapi sebelum tidur aku pergi mencarimu, namun aku tidak menemukanmu. Sang Kopral yang melihatku berkeliling lalu bertanya apa yang aku cari, aku bilang bahwa aku mencari kamu. Dia bilang lebih baik aku cari sebuah tempat penginapan dekat sini dan supaya aku membawakan sebotol air untuk dia, dan ketika aku pergi, terjadilah ledakan.”

“Yah, akupun telah diselamatkan oleh keberadaanku di luar tempat perlindungan itu, namun sebenarnya ada apa engkau mencari aku malam itu ?”

“Aku mau memberikan ini !” jawabnya sembari menyerahkan skapulir coklatku yang semula aku letakkan pada pompa kayu di sumur tua itu.

(Kisah nyata ini diterbitkan surat kabar berkala berbahasa Jerman dengan judul “Seine Mutter Meine Mutter” oleh A.M.Weigl)

Read more .....

2/04/2009

BUNDA MARIA DI TRE FONTANE


Berita tentang kejadian yang luar biasa terjadi di Tre Fontane menyebar dengan sangat cepat, dan groto (gua) menjadi tempat bagi banyak peziarah, termasuk para imam dan para religius dan masih tetap sama hingga saat ini.

Gereja belum memberi pernyataan resmi atas hal ini, tetapi para Fransiskan ditunjuk sebagai pelindung atau penjaga tempat ziarah ini. Bagi Bruno Cornacchiola, ini adalah tempat kenangan yang indah, sebuah tempat yang merubah seluruh jalan hidupnya.

Kira-kira dua tahun sesudah penampakan, Bruno mendapat kesempatan untuk mendekat kepada Paus Pius XII, di mana ia telah bersumpah untuk membunuhnya. Kesempatannya adalah pada saat audiensi dengan Paus yang diperuntukkan bagi para pekerja trem di Roma, Bruno adalah salah seorang dari antara mereka. Ia membawa sebilah pisau dan sebuah Injil, yang mana telah ia gunakan untuk bersumpah untuk membunuh Paus. Sebelum pertobatannya Bruno mempunyai kebencian yang sangat besar kepada Paus, dan dengan membunuh Paus, ia bermaksud untuk membebaskan dunia dari binatang dalam kitab Wahyu.

Pada akhir audiensi, Paus mengumumkan : “Di antara yang hadir di sini ada yang ingin bicara denganku.” Bruno lalu menjatuhkan diri berlutut dan berseru ; “Yang Mulia, akulah orang yang anda maksudkan.” Paus lalu mendekati dia dan menolongnya untuk berdiri, dan kemudian Bruno berkata : “Aku mohon pengampunanmu, Bapa Suci, karena aku telah bersumpah untuk membunuhmu. Aku adalah orang gila.” Sambil tersenyum, Paus berkata kepadanya : “Kau bermaksud membunuhku ? apa yang akan kau lakukan adalah akan menambah seorang martir lagi bagi Gereja.” Sekali lagi Bruno memohon : “Ampuni aku, Bapa Suci.”

Sebagai hasil dari pertobatannya, Bruno sejak itu mempersembahkan dirinya secara penuh untuk pekerjaan kerasulan. Pada tahun 1950, ia mendirikan sebuah asosiasi dari para awam yang disebut organisasi S.A.C.R.I. yang kantor pusatnya berada di Roma. Para anggotanya merenungkan Kitab Suci, mempelajari katekismus dan dokumen dari Vatican-II. Bantuan yang sangat berguna terutama untuk ilmu yang sejati tentang iman, yang didasarkan atas doa yang kuat, terutama doa Rosario, dan kesetiaan kepada Paus dan Gereja.

Ia diberitahu untuk menerima undangan-undangan dari negeri-negeri lain dan dia dihimbau untuk tidak menolak undangan itu. Di berbagai tempat Ia memberikan kesaksian “pengakuan dosa umum” atas kedosaannya, dan pengampunan yang luar biasa yang ia terima, dan cinta dari Bunda-Nya yang kudus yang mengubah hidupnya.

Ia telah memberi kesaksian kepada para imam dan para religius dan para awam, kepada semua orang yang bersedia mendengarkannya, ia menunjukkan bahwa cinta Bunda Maria yang telah dicurahkan padanya adalah cinta yang Bunda inginkan supaya disampaikan pada semua orang.

Pada tahun 1975 Bruno menerima undangan dari Australia, dan dalam bulan November tahun itu juga ia datang ke Perth, Australia Barat. Rencananya ia akan kembali pada akhir tahun 1985, tetapi itu dirubah menjadi tahun 1986.

Bunda Maria berjanji di Tre Fontane, bahwa ia telah memberi air di Lourdes dengan kekuatan penyembuhan yang ajaib, demikian juga ia akan memberi “tanah Tre Fontane” kekuatan yang sama.

Sebuah buku dengan judul “The Grotto of Tre Fontane” (gua dari Tre Fontane”) ditulis oleh Dr. Albert Alliney membuktikan pemenuhan janji itu. Penulis ini menyatakan dalam bukunya bahwa setelah 4 tahun pemeriksaan yang kaku dan sangat intens, ia dapat mengukuhkan bahwa penyembuhan-penyembuhan ajaib telah terjadi. Penyembuhan-penyembuhan ini semua tidak dapat dijelaskan oleh para dokter maupun oleh para ilmuwan.

Dalam bulan April 1947, orang-orang mengklaim bahwa mereka secara ajaib telah disembuhkan di groto (gua). Ini membangkitkan minat dari kelompok dokter yang menyiapkan suatu sistem penyelidikan yang agaknya serupa dengan penyelidikan di Lourdes. Dokter-dokter ini bertemu setiap dua minggu dan menyelidiki setiap kasus dengan penyelidikan yang teliti. Ini langsung menjadi nyata bahwa penyembuhan-penyembuhan itu ajaib.

Buku Dr. Albert Alliney mengemukakan serangkaian penyakit-penyakit yang telah disembuhkan, salah satunya adalah yang dialami seorang prajurit Neopolitan yang terbaring hampir mati di sebuah rumah sakit di Celio, dengan tumor otak yang tak dapat dioperasi dan para dokter telah menyatakan tidak ada harapan.

Dalam keputus-asaan itu, seorang suster kepala biara pergi kepada Perawan Wahyu (Tre Fontane). Malam itu juga, suster itu mengunjungi prajurit itu dan menghiburnya. Lalu ia menaburkan sedikit tanah yang diambil dari grotto Tre Fontane ke atas kepala prajurit itu, lalu suster itu pergi. Prajurit itu lalu tertidur dan bermimpi, bahwa ia melihat Perawan Wahyu dalam mantel hijaunya, dan Perawan itu mengatakan padanya, bahwa ia telah disembuhkan. Lalu ia terbangun dan berteriak : “Aku telah disembuhkan !” Akan tetapi ilmu kedokteran tidak dapat menjelaskannya bagaimana ia bisa disembuhkan.

Prajurit yang sangat bersyukur itu lalu dengan teman-temannya seresimen memberikan sebuah patung Perawan Wahyu, kemudian mengatur sebuah prosesi syukuran ke grotto dan menempatkan patung itu di situ. Patung ini sampai sekarang dihormati di groto itu, tidak diganti dengan patung lainnya.

Read more .....

MATAHARI MENJADI HIJAU DI TRE FONTANE


Di atas bukit penuh dengan pohon eucaliptus, di belakang jalan via Laurentia, telah dibangun Gereja Perdamaian. Di suatu tempat parkir yang luas, pada nomor 400, ada papan dengan anak panah yang menunjuk ke arah Gua Perawan Wahyu. Sebuah tempat untuk para peziarah pergi berdoa, karena sudah puluhan tahun, tanah ini menjadi tanah yang memberikan mukjizat-mukjizat.

Di atas bukit ini, di antara pepohonan yang menyebarkan keharuman, di sebuah gua (pada waktu itu merupakan tempat pembuangan sampah dan kotoran), seorang wanita dengan pakaian putih dan mantel hijau, dengan rambut hitam yang turun sampai ke tanah yang hitam (tufo), menampakkan diri kepada seorang pria yang tidak beriman, bahkan telah memusuhi Gereja Katolik, yang berprofesi sebagai supir trainway (trem) kota Roma, bernama Bruno Cornacchiola.

Pada suatu hari, di musim semi tanggal 12-April-1947, terjadi penampakkan di atas bukit kota Roma ini, tidak jauh dari tempat di mana Rasul Paulus, 2000 tahun silam, memberikan kesaksiannya yang terakhir, ketika kepalanya dipenggal di sana, Tre Fontane, yang artinya Tiga Sumber.

Pertama-tama, Bunda Maria menampakkan diri kepada tiga anak Bruno Cornacchiola, yaitu Isola, Carlo dan Fransesco, dan kemudian kepada bapaknya, yang pada waktu itu adalah seorang Protestan Adventis yang sangat fanatik.

“Akulah dia, yang ada dalam Allah Tri Tunggal Yang Ilahi,” demikianlah Bunda Maria memperkenalkan dirinya, kemudian bunda melanjutkan : “Akulah Perawan Wahyu ! engkau telah menganiaya aku, tetapi sekarang, cukuplah, kembalilah ke kandang domba, kandang yang suci, perkumpulan suci di dunia ini, taatilah yang dipegang oleh Sri Paus.”

Bunda Maria masih menyampaikan banyak hal lain, di tangannya ia memegang sebuah buku kecil yang berwarna abu-abu, Kitab Suci ! Ia berbicara dengan Bruno lebih dari satu setengah jam dan kemudian menyerahkan juga satu pesan untuk disampaikan kepada Paus Pius XII. Bruno Cornacchiola akhirnya meninggalkan ajaran Protestan dan masuk dalam gereja Katolik, juga atas kehendak Bunda Maria, ia mendirikan Persekutuan Kateketik S.A.C.R.I. Ia mulai menjalani kehidupan yang suci dan mentaati pesan Bunda Maria yang telah diterimanya.

Sejak penampakan pertama dalam tahun 1947, Bruno masih melihat Bunda Maria sampai 27 kali lagi, di mana Bunda Maria sering kali menyampaikan pesan-pesan untuk disampaikan kepada para pemimpin gereja. Pada tanggal 12-April-1980, waktu dirayakan Perayaan Ekaristi untuk memperingati HUT ke 30 sejak penampakan pertama, tiba-tiba matahari berubah warna dan menjadi amat hidup dengan menyebarkan warna putih, merah dan hijau, sehingga ribuan umat yang sedang berdoa pada saat itu menjadi sangat terkejut dan kagum. Koran-koran memuat berita-berita tentang peristiwa ini, namun yang lebih hebat lagi, yang terjadi dua tahun kemudian, tanggal 12-April-1982, di mana matahari mulai berputar dan warnanya menjadi hijau, kemudian berganti merah, sehingga semua umat dapat menyaksikan dan melihatnya secara jelas.

Pada 23-Februari sebelumnya, Bunda Maria juga menampakkan diri kepada pendiri S.A.C.R.I. sambil memohon, agar di atas bukit tersebut didirikan sebuah gereja yang disebut “Gereja Perdamaian Di Antara Bangsa-Bangsa”, yang dipersembahkan kepada Bunda Surgawi, karena “dari tempat inilah, dimana aku memperkenalkan diri, akan mengalir damai ke seluruh dunia.” Dan tahun itu juga, pada tanggal 12-April, ribuan peziarah datang sebagaimana biasanya, untuk merayakan Perayaan ekaristi, siang dan malam.

Seniman, Marcella Croce de Grandis, juga hadir dan merasa masih sangat terharu, semenjak ia menyaksikan mukjizat-mukjizat matahari dengan warna-warni. Kemudian ia berusaha untuk melukis gambar wajah Bunda Wahyu, dan setelah menyelesaikan gambar wajah Maria dalam bentuk grafis, ia mampir ke kantor S.A.C.R.I. dan memperlihatkan karyanya kepada Bruno sendiri, dan Bruno mengatakan : “Kecantikan Ilahi dari wajah Bunda Maria, tidak dapat dilukiskan oleh seniman manapun di dunia ini, karena kecantikan itu tidak berasal dari dunia ini. Namun dalam senyuman yang manis, di mana terlukis kelemah-lembutan dari gambar ini, aku melihat sesuatu yang mengingatkan aku akan wajah Bunda Maria yang pernah kulihat. Kecantikan yang melampaui segala kecantikan wanita.”

Marcella Croce de Grandis telah mencetak ribuan gambar Bunda Wahyu dan telah disebar di seluruh dunia. “Saya ingin agar karya seniman ini, menjadi suatu kesaksian juga,” demikian ia menjelaskan dan di belakang gambar telah ditulis riwayat singkat mengapa ia melukis Perawan Wahyu. “Saya akan mempersembahkan satu copy kepada Paus Yohanes Paulus II juga, yang semenjak lama sudah berjanji akan pergi berdoa ke Gua Tre Fontane, di mana Bunda Maria menampakkan diri di tanah yang hitam untuk berdoa memohon agar damai segera mengalir ke seluruh dunia. Wanita yang pernah mengatakan : “Akulah magnet Kasih Ilahi” juga berkata, bahwa kehancuran dunia oleh bom atom masih dapat ditahan dan diubah oleh kuasa doa.”

Para peziarah yang tiap hari naik ke gunung untuk berdoa, menunggu agar Bapa Suci juga datang untuk berdoa memohon damai dari Bunda yang disebut “Ratu Damai”.

(by : Guiseppina Sciascia)

Read more .....

THE APPARITION AT TRE FONTANE


The principal seer of Tre Fontane, Bruno Cornacchiola, was born on 9 May 1913, and thus he was 33 at the time of the apparition on 12 April 1947. He came from a poor background, and had received only rudimentary religious instruction. After military service, at the age of 23, he married Iolanda Lo Gatto, and to earn money decided to fight on the Nationalist side in the Spanish Civil War, although he was actually more inclined towards communism.

Once in Spain he came under the influence of a German Protestant, who managed to convince him that the papacy was the cause of all the world's ills. Bruno at once conceived a hatred for the Church and vowed that he would kill the Pope; nor was this an idle threat—he bought a dagger in Spain especially for this purpose, carving on it the words: "Death to the Pope."

His wife was not enthusiastic about his new Protestant beliefs and he began physically to abuse her. He also destroyed all the Catholic mementos and pictures around the house. Bruno then decided to join the Protestant Adventist church in Rome, and tried to persuade his wife: she agreed on one condition, that first he should make the Nine First Fridays devotion, and that, if at the end of this, he was still determined to become a Protestant, she would join him. Iolanda trusted that God would somehow convert her husband, but at the end of the nine months he was still set on joining the Adventists, and so she reluctantly followed suit.

From 1939 to 1947 he worked as a tram conductor in Rome, and by the latter date they had three children, two boys, Carlo, aged seven, and Gianfranco, aged four, and a girl, Isola, aged ten. Unfortunately, his physical abuse of his wife continued, causing much distress to both her and the children, while by now he was a convinced Communist, who still had plans to kill the Pope.

On the Saturday after Easter, 12 April 1947, he set off for the afternoon with his children—on the following day, Sunday, he was due to give an anti-Catholic, and indeed anti-Marian, talk, and he wanted a chance to plan out what he would say. Note that this Sunday is the date of the proposed feast of Divine Mercy, and thus the apparition to Bruno happened on its eve.

They took the bus to Tre Fontane, where the shop at the Trappist monastery was famed for its chocolate. Once there, while waiting for the shop to open at about four o'clock, after the siesta, he sat down in the shade to plan his talk, while the children played with a ball on some waste ground nearby.

At about three twenty he was disturbed by the children shouting for their lost ball, but as he helped with the search, the youngest, Gianfranco, promptly went missing himself. Bruno discovered him in a small cave or grotto, smiling, with hands joined as he knelt and repeated the words, "Beautiful Lady! Beautiful Lady!" Bruno could not make anything out, and so called first to Isola, and then to Carlo, who both came and saw the "Beautiful Lady." All three children were entranced, and oblivious of his shouts. He became frightened after he was unable to lift them, and called out angrily into the empty cave. Finally, in desperation, he cried out, "God help us!"

At this, Bruno saw two transparent hands which touched his face and wiped his eyes, causing him pain. Then, he saw a tiny light in the cave which grew more luminous, as he felt an interior sensation of great joy. Finally he saw a beautiful woman, with a motherly but sad expression, wearing a green mantle over a white dress, and with a rose-colored sash around her waist.

In her hands she held an ash-gray book close to her breast, while at her feet he could see a crucifix which had been smashed, on top of a black cloth. She called herself the "Virgin of the Revelation," and spoke to Bruno slowly and rhythmically for about an hour and twenty minutes; he could remember every word afterwards, it was like a recording he could replay time and time again. But the children only saw her lips move and heard nothing.

Our Lady revealed herself thus: "I am she who is related to the Divine Trinity. I am the Virgin of Revelation. You have persecuted me, now is the time to stop! Come and be part of the Holy Fold which is the Celestial Court on earth. God's promise is unchangeable and will remain so. The nine First Fridays in honor of the Sacred Heart, which your faithful wife persuaded you to observe before you walked down the road of lies, has saved you."

She counseled him: "Live the divine doctrine. Practise Christianity. Live the Faith," while also saying, "The Hail Marys that you pray with faith and love are like golden arrows that go straight to the heart of Jesus," and, "Pray much and recite the Rosary for the conversion of sinners, of unbelievers and of all Christians." She indicated future conversions and cures with these words: "I promise this special favour: With this sinful soil (the soil of the grotto) I shall perform great miracles for the conversion of unbelievers and of sinners."

The grotto actually had a bad reputation as a place of immorality. She also spoke of future problems: "Science will deny God and will refuse His calls." In particular, she spoke of her Assumption into heaven, outlining her life during her eighty minute talk: "My body could not and did not decay. I was assumed into Heaven by my Son and the angels."

She gave him, too, a secret message for the Pope: "You must go to the Holy Father, the Pope, the Supreme Pastor of Christianity, and personally tell him my message. Bring it to his attention. I shall tell you how to recognize the one who will accompany you to see the Pope."

Finally, it was over, and after smiling at Bruno and the children, Mary turned around, walked through the wall of the grotto and disappeared. Bruno was in a daze, although the children were excited as they all made their way to the Trappist Church to pray in thanksgiving.

Before going home they all went back to the cave, where they encountered a beautiful fragrance, all the more surprising because its floor was covered with filth. Bruno cleared a space and used his door key to scratch this message: "On 12th April 1947 the Virgin of Revelation appeared in this grotto to the Protestant Bruno Cornacchiola and his children and he was converted."

Bruno told the children to say nothing, but this was a forlorn request and as soon as they got to their apartment block they told everyone they met. Arriving home they were greeted by Iolanda who could smell a beautiful perfume emanating from them, and after the children were in bed, Bruno told his wife all that had happened. He begged forgiveness on his knees for the way he had treated her.

Following Mary's directions, Bruno eventually found a priest to advise him, so that he and Iolanda could rejoin the Church, as the story spread and the numbers of pilgrims grew, with articles on the apparition beginning to appear in the press. He and the children were even questioned separately, at length, by the police, but they were unable to find any significant differences in their accounts. Mary apparently appeared to Bruno on several other occasions at the grotto, but did not speak.

The local Church authorities also carried out an investigation, and the cult of the Virgin of Revelation was approved with unusual speed by the Vicariate of Rome. As the number of pilgrims grew the area around the grotto had to be altered to make it safer and more accessible. A special statue, representing Mary during the apparition, was blessed by Pope Pius XII on 5 October 1947, and then taken in procession, amidst huge crowds, from St Peter's Square to Tre Fontane.

Just over two years later, on 9 December 1949, Bruno was part of a group invited to pray the rosary with Pius XII in his private chapel, as part of the beginning of the 1950 Holy Year celebrations. After the rosary, the Pope asked if anyone wanted to speak to him. Bruno immediately came forward and knelt at his feet and, with tears in his eyes, showed the dagger with which he had intended to kill him, and his Protestant Bible. He begged forgiveness, which Pius XII unhesitatingly gave.

In fact, according to one account, it seems that Pius XII had an awareness of what was going to happen for at least ten years, since, in 1937, while still a cardinal, he had a meeting with a holy woman who had apparently seen Mary in a vision at Tre Fontane. She related how the Virgin had told her that she would return to the grotto and convert a man who wanted to assassinate the Pope, and moreover, that he, Cardinal Pacelli, would himself be Pope. His reply was cautious, and in effect he said he would wait and see, but in 1939 Eugenio Pacelli duly became Pope Pius XII. Given all this, it is understandable that the cult of the apparitions at Tre Fontane was approved so rapidly.

The Franciscan Conventual Friars Minor were given custody of the grotto in July 1956, and asked to construct a chapel at the site, in addition to administering the shrine. Since then, a prayer to the Virgin of Revelation has been given an imprimatur by the Vicariate of Rome, and the cult was so well recognized that, during Vatican II, numerous prelates went to Tre Fontane to pray. In 1987, on the fortieth anniversary of the apparition, Cardinal Poletti, the Cardinal Vicar of Rome, and thus the Pope's official episcopal representative for the diocese, came to the shrine to celebrate Mass. However, a definitive judgement, either positive or negative in regard of Tre Fontane, has not been made.

This is probably due, at least in part, to the character of Bruno Cornacchiola; it seems that he went on to claim a total of 28 further apparitions by 1986, with messages which became increasingly apocalyptic in tone, including predictions of various evils which have not materialized. It also seems that he has not been completely truthful in his biography. This is like the tragic history of Mélanie at La Salette; her initial experience was trustworthy, but she allowed events to go to her head in later years.

(http://www.theotokos.org.uk/)

Read more .....