11/06/2009

PANCARAN TERANG ABADI


Kebijaksanaan adalah pernafasan kekuatan Allah, dan pancaran murni dari kemuliaan Yang Mahakuasa. Karena itu tidak ada sesuatupun yang bernoda masuk ke dalamnya. (Keb 7:25).
Sudah lama Kitab Suci memberi ketegasan, bahwa hanya ada satu Allah yang tidak ada hubungannya dengan dewa-dewa kaum kafir yang tak terbilang. Tetapi sekarang orang beriman sadar, bahwa ada suatu yang kurang dalam pemahaman mereka mengenai Tuhan. Bagaimana Allah dapat menjadi sumber hidup dan cinta, jika Ia tinggal jauh dari kita ? Berkat Kitab Suci, kaum beriman tahu, bahwa Allah itu selain Mahatinggi dan Mahakudus, Ia juga berada di antara umat-Nya, di kenisah, di awan-awan. Ia mewahyukan diri kepada para nabi, kepada mereka Ia memberikan Roh-Nya.
Dengan demikian dalam kitab-kitab terakhir Perjanjian Lama, pengarang berbicara mengenai roh, kebijaksanaan, kekuasaan dan penyelenggaraan Allah, seolah-olah berasal dari Allah, sekaligus berbeda dari Allah, bukan berasal dari pada-Nya, seperti orang-orang yang mengambil bagian dalam kehidupan Allah yang misterius, dan melaluinya Allah terlibat dalam kehidupan manusia.
Ini salah satu cara persiapan bagi pewahyuan yang lebih agung yang akan terjadi pada kedatangan Yesus. Allah adalah ‘esa’ dalam ‘tiga pribadi’ dan sejak semula Putra-Nya yang abadi, “oleh Dia segala sesuatu dijadikan”, bersatu dengan Bapa dan tinggal di antara kita (Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. - Yoh 1:1-4 ; Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan - kol 1:15 ; Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta. Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan - Ibr 1:2-3). Hikmat-hikmat kebijaksanaan adalah gambaran Kristus, tetapi orang Kristen melihat-Nya sabagai gambaran Ibu Maria. Lebih dari pada ciptaan yang lain, Maria sejak permulaan ada dalam rencana Allah dan layak disebut “Tahta Kebijaksanaan” karena ia dipersatukan secara erat dengan Putranya, Sang Kebijaksanaan Allah.


Kebijaksanaan berasal dari Allah. Kabijaksanaan itu mengatur dunia ini dan menghadirkan Allah dalam diri kita. Kehadiran-Nya selalu melalui Putra-Nya.
Sesuatu yang bernoda tidak mungkin masuk ke dalamnya. Perhatikan sikap optimis dalam uraian ini. Karena kebijaksanaan Allah itu bersifat ‘suci dan sempurna’, maka ia merasuk ke dalam segala sesuatu, bahkan ke hal-hal yang ‘tidak suci dan tidak sempurna’.
Ia menerangi langkah kita yang lamban dan mendorong orang-orang yang loyo. Orang-orang Yahudi pada masa itu belajar dari Hukum Taurat, bahwa mereka harus ‘bersih’ dan harus terus memeliharanya. Mereka berusaha menjauhkan diri dari segala sesuatu yang ‘tidak bersih’, contohnya : ada dua orang bersentuhan, orang yang tidak bersih akan menodai orang yang bersih (bila seseorang kena kepada sesuatu yang najis, baik bangkai binatang liar yang najis, atau bangkai hewan yang najis, atau bangkai binatang yang mengeriap yang najis, tanpa menyadari hal itu, maka ia menjadi najis dan bersalah. Atau apabila ia kena kepada kenajisan berasal dari manusia, dengan kenajisan apa pun juga ia menjadi najis, tanpa menyadari hal itu, tetapi kemudian ia mengetahuinya, maka ia bersalah. - Im 5:2-3).
Ditegaskan bahwa kebijaksanaan Allah mengalahkan segala kegelapan dan kenajisan (Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang. Itulah sebabnya dikatakan: "Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu - Ef 5:13-14). Tak ada sesuatu yang buruk secara mutlak. Sesuatu dikatakan buruk, artinya meskipun ia dapat menjadi lebih baik namun dalam kenyataannya tidak pernah baik.
Kejahatan tidak dapat menguasai kebijaksanaan. Seorang Kristen yang percaya kepada Kristus harus membawa terang di mana ada kegelapan. Ia harus hadir dan aktif tanpa takut terlibat dalam setiap persoalan yang muncul, baik di negaranya, di tempat kerjanya, dan dalam hidup hariannya. Terang dan keadilan akan menang dan membarui muka bumi.
Kebijaksanaan mengangkat manusia menjadi sahabat Allah. Dalam Keb 2:24 dikatakan, iblis telah merusak ciptaan dan membawa kematian, tetapi sekarang kebijaksanaan Allah telah mengalahkan kematian.
Kebijaksanaan adalah pancaran yang sempurna dari kemuliaan Allah. Bagi orang-orang Hibrani, ‘kemuliaan’ berarti sesuatu yang ‘berat’, sesuatu yang menjatuhkan dirinya pada kita, namun bukan penampakan murni. Dalam bahasa Yunani, ‘kemuliaan’ berarti ‘yang bersinar’, sinar dari Allah kepada seluruh jagat raya dan lebih bersinar lagi ‘pada wajah Kristus’ (Sebab Allah yang telah berfirman: "Dari dalam gelap akan terbit terang!", Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus. - 2 Kor 4:6). Kebijaksanaan, cermin kegiatan Allah dan gambaran kesempurnaan-Nya, adalah Kristus seperti dikatakan dalam Ibr 1:3-4 (Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi, jauh lebih tinggi dari pada malaikat-malaikat, sama seperti nama yang dikaruniakan kepada-Nya jauh lebih indah dari pada nama mereka), dan Rasul Yohanes menyebut Kristus adalah ‘Sabda Allah’ (Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. - Yoh 1:1).
(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pastoral Katolik)

-          Biara Trapis Notre Dame
-          Mr. Smith

Tidak ada komentar: