7/24/2015

PERTOBATAN ST AUGUSTINUS DI MILANO (1)


Marilah kita mengikuti Augustinus menuju puncak batinnya yang bermuara pada pertobatannya. Kita akan melihat dia, seperti para sahabatnya melihat dia berjuang dan meronta-ronta. Kita mengikuti dia dalam perjalanannya yang sangat jauh, yaitu perjalanan batin yang harus ditempuhnya, dari pengertian intelek sampai kebenaran yang diterima oleh hati yang serasi, berikutnya sampai kebenaran itu dilaksanakan dengan kemauan yang keras.

Kita akan menyaksikan penderitaan jiwanya yang memuncak hampir sampai pada titik patah hatinya, tetapi justru pada saat dramatis itu jalan buntu menjadi jalan ke luar bagi Augustinus.

Lebih dahulu harus kita melihat pentas tempat berlangsungnya drama itu. Walaupun para pemeran di atas panggung itu hanya memainkan peranan yang sekunder, namun mereka juga amat penting. Makin tampaklah pada diri Augustinus ciri khas pembawaannya. Bagi dia, hidup hanya mungkin bersama dengan sahabat-sahabatnya. Dalam suka dan duka, dia tidak tahan sendirian. Bila kelak ia menjadi Uskup Hippo, di luar waktu studi, menulis atau membaca, ia senantiasa berada bersama kawan-kawan beserta keluarganya. Benih hidup berkomunitas sebagaimana dihanyatinya kemudian sudah ada sejak dari masa mudanya dan menjadi amat kentara setibanya di Milano.
Tidak lama kemudian, ibunya, Monica kembali dekat dengan Augustinus. Sebenarnya ia datang ke Milano untuk mengurus tanah warisan milik almarhum suaminya, Patrisius. Betapa amat tepat kedatangannya, akan tetapi ia tidak datang seorang diri. Dibawanya serta rombongan yang bakal masuk dalam keluarga guru besar Augustinus, yaitu anak Monica yang pertama, Navigius, dan dua kemenakan, Rustikus dan Lastidianus. Augustinus menghibur ibunya dengan kabar yang menyenangkan, bahwa ia memang belum seorang Kristen, tetapi sekurang-kurangnya tidak lagi seorang penganut Manikheisme (suatu agama gnostik Persia kuno yang pernah berkembang luas namun sekarang telah punah). Waktu itu umurnya 30 tahun. “Aku telah dibebaskan dari kebohongan, sekalipun belum memeluk kebenaran.” Walaupun demikian, Monica makin yakin, bahwa sebelum meninggal ia akan melihat anaknya, Augustinus, sebagai seorang Kristen yang setia. Semuanya itu menjadi perangsang kerinduan dan doanya, sehingga dengan lebih tabah lagi ia berkunjung ke Katedral dan tempat ziarah orang suci. Dalam rumah tangga Augustinus, ada gundiknya bersama anaknya, Adeodatus, yang usianya saat itu sudah dua belas tahun. Akan tetapi, keadaan itu tidak dapat dipertahankannya labih lama lagi. Ada kalanya Augustinus diundang ke istana kaisar untuk membawa pidato kenegaraan. Berhubung dengan itu, ia harus menempatkan diri pada tingkat masyarakat yang selaras dengan kedudukannya. Demi kariernya, ia memerlukan seorang istri yang sah. “Tak bosan-bosannya orang mendesak aku beristri, terutama ibuku, yang dengan demikian berharap supaya setalah aku beristri akan menerima pembasuhan oleh baptisan yang membawa keselamatan.” (Conf VI.XIII.23).
Ia memang sudah meminang seorang gadis, tetapi pernikahannya terpaksa harus ditunda, sebab umur calon istrinya baru 12 tahun, dua tahun di bawah umur yang sah. Namun persiapan untuk pernikahan itu berjalan terus. Syarat mutlaknya, Augustinus harus melepaskan perempuan yang telah empat belas tahun setia kepadanya, dan yang telah mengasuh anaknya. “Dia kembali ke Afrika”, diceritakan oleh Augustinus dengan nada malu “dan bersumpah tidak mau kawin kagi. Ia meninggalkan aku dan anak yang dilahirkannya bagiku.” Perpisahan itu amat menyedihkan Augustinus. Ia berkata, “Waktu teman hidupku direnggut dari sisiku, hatiku yang melekat padanya tercabik-cabik, terluka dan berdarah.” (Conf.VI.XV.25). Akan tetapi, tindakan ini jauh dari menyelesaikan masalah, malahan menambahkannya. Diakuinya agak terus terang, bahwa ia kurang sabar menantikan dua tahun. Oleh karena itu, diambilnya seorang gundik lain.
Selain mereka yang disebut di atas, terdapat juga dalam keluarga itu Alypius, seorang sahabat yang akrab, yang telah ikut Augustinus ke Roma untuk tinggal bersama dengan dia, juga dengan maksud mempraktekkan studi hukum. Juga ada Nebridius, yang telah melepaskan tanah miliknya lalu meninggalkan kota Karthago dan ibunya. Menurut Augustinus, “Ia datang ke Milano dengan satu tujuan saja, yaitu hidup bersamaku dengan hati berapi-api yang menggandrungkan kebenaran dan hikmat” (Conf.VI.X.17).
Demikianlah Milano menjadi kota pertemuan ketiga orang sahabat karib, tempat persimpangan jalan hidup mereka bertiga yang “seperti tiga mulut yang lapar” menantikan Allah memberi mereka rezeki kebenaran dan cinta kasih-Nya. Kelompok kecil orang Afrika itu hidup bersama dengan Monica selaku pemimpin rumah tangga. Sekalipun pada masa berjuang dan kurang stabil itu, secara inisiatif, Augustinus sudah mencari hidup berkomunitas. Yang pada hari-hari itu hanya merupakan impian, akan dijadikan suatu strategi pastoral di masa mendatang. Augustinus menceritakan, bahwa pada masa pergolakan di Milano, beberapa dari mereka, di antaranya Alypius dan Nebridius membenci keramaian dan kehidupan sehari-hari, sudah hampir mengambil keputusan untuk menghayati hidup bersama, penuh damai, jauh dari orang banyak.
“Kami telah membolak-balik suatu rencana dalam benak kami untuk menarik diri dari khalayak ramai dan hidup dengan kesenggangan yang tenang. Kesenggangan itu mau kami atur begini : segala sesuatu yang dapat kami miliki akan kami kumpulkan menjadi satu, melebur semua harta menjadi harta milik bersama yang satu saja. Berdasarkan persahabatan yang setia, tidak ada lagi yang ini untuk si A atau untuk si B, akan tetapi harta itu akan menjadi kesatuan yang satu, keseluruhannya akan dimiliki tiap-tiap orang dan semuanya itu dimiliki semua orang. Kami mengira dapat menjalankan hidup bersama sabagai kelompok yang terdiri kira-kira sepuluh orang. Beberapa di antara kami sangat kaya, terutama Romanianus warga kota kami. Pada waktu itu, ia datang ke istana lantaran kesusahan besar dalam urusannya. Ia merupakan salah seorang kawan yang paling akrab sejak masa kecil. Dialah yang paling banyak mendesak, supaya rencana kami dilaksanakan. Ia punya daya meyakinkan yang besar sebab harta kekayaannya besar sekali, jauh melebihi kekayaan anggota-anggota lain kelompok kami.” (Conf.VI.XIV.24).
Maka jelasnya, yang disebut di atas merupakan gagasan yang penting bagi Augustinus. Telah terbayang apa yang akan diwujudkan Augustinus dalam komunitasnya nanti sebagai imam dan Uskup selama hampir empat puluh tahun. Merupakan corak khusus dari Regula (Pedoman hidup membiara) Santo Augustinus yang termasyur itu, yang mengandung wawasan dan petunjuk praktis tentang hidup membiara.
(Sumber : Augustinus Tahanan Tuhan – Oleh Mgr.P.Van Diepen, OSA ; Editor N.Halsema, SJ - Diterbitkan dalam kerjasama Pusat Pastoral Yogyakarta & Penerbit Kanisius )

Read more .....

BUNDA RATU

Dalam kerajaan Daud, apabila seorang raja naik tahta, ibunya diberi gelar khusus sebagai “gebirah”, yang dalam bahasa Ibrani berarti “nyonya besar” atau “ratu”. Sebagai bunda ratu, ia memiliki kedudukan khusus kedua yang sangat berkuasa dalam kerajaan, yaitu kedua sesudah sang raja sendiri.

Bunda ratu adalah istri dari raja terdahulu dan sekaligus ibu dari raja yang sekarang bertahta. Maka bunda ratu menjadi simbol dari martabat rajawi sang raja, yang mengikat dia dengan darah rajawi ayahya. Dalam arti ini, bunda ratu menjamin keabsahan kedudukan sang raja dalam garis dinasti yang bersangkutan.
Sejumlah kutipan Perjanjian Lama memperlihatkan peran penting bunda ratu dalam kerajaan Daud. Misalnya, bisa kita baca Kitab Raja-raja ke 1 dan ke 2, kedua kitab ini menuturkan sejumlah raja yang memerintah atas Israel. Sangat mengesankan, hampir setiap kali cerita memperkenalkan seorang raja baru di Yehuda, ia selalu menyebut ibunda sang raja, sambil menggaris-bawahi perannya dalam suksesi dinasti kerajaan.
Dalam lingkungan Israel kuno, bunda ratu bukan hanya sosok utama, lebih tepat dikatakan bahwa ia menduduki jabatan dengan kekuasaan yang nyata dalam kerajaan. Barangkali contoh yang paling baik dari peran penting bunda ratu adalah Batsyeba, istri Daud dan ibunda Salomo.
Batsyeba masuk menghadap raja Salomo untuk membicarakan hal itu untuk Adonia, lalu bangkitlah raja mendapatkannya serta tunduk menyembah kepadanya; kemudian duduklah ia di atas takhtanya dan ia menyuruh meletakkan kursi untuk bunda raja, lalu perempuan itu duduk di sebelah kanannya. Berkatalah perempuan itu: "Suatu permintaan kecil saja yang kusampaikan kepadamu, janganlah tolak permintaanku." Jawab raja kepadanya: "Mintalah, ya ibu, sebab aku tidak akan menolak permintaanmu." (1 Raj 2 : 19-20)
Kisah ini mengungkapkan wibawa istimewa dari bunda ratu, dulu ketika ia seorang istri raja, ia harus bersujud kalau menghadap raja Daud, tetapi sekarang sebagai bunda ratu, sang rajalah yang bangkit dan bersujud ketika menyambutnya. Di sini Salomo memberikan tempat duduk kepada ibundanya, Batsyeba di sisi kanannya. Tindakan ini penuh dengan simbolisme rajawi, dalam Alkitab, sisi kanan adalah tempat yang paling terhormat, misalnya dalam Mazmur (Demikianlah firman TUHAN kepada tuanku: "Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu." - Mzm 110 : 1) melukiskan bagaimana Mesias akan duduk di sisi kanan Allah dan memerintah atas segala bangsa. Dengan cara yang sama surat Ibrani melukiskan Kristus duduk di sisi kanan Bapa, memerintah segala mahluk, ditinggikan di atas semua malaikat dan orang-orang kudus (Dan kepada siapakah di antara malaikat itu pernah Ia berkata: "Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu?" - Ibr 1 : 13)
Dalam 1 Raja-raja 2 : 17 kita jumpai seorang bernama Adonia, dimana ia dengan penuh keyakinan minta kepada Batsyeba (bunda ratu) untuk menyampaikan satu permintannya kepada raja Salomo, Adonia berkata kepada Batsyeba, Maka katanya: "Bicarakanlah kiranya dengan raja Salomo, sebab ia tidak akan menolak permintaanmu, supaya Abisag, gadis Sunem itu, diberikannya kepadaku menjadi isteriku." (1 Raj 2 : 17)
Ketika Batsyeba menyampaikan menyampaikan permintaan itu, maka raja Salomo menjawab : "Mintalah, ya ibu, sebab aku tidak akan menolak permintaanmu." (1 Raj 2 : 20) Kata-kata Salomo mengungkapkan komitmen total sang raja terhadap pemintaan itu.
Dalam injil Lukas banyak bicara tentang tugas “rajawi” Maria. Sungguh dalam peristiwa Kabar Suca-cita, Lukas menunjukkan kepada kita bahwa Maria diberi panggilan untuk menjadi bunda ratu dalam kerajaan Yesus.
Ketika Malaikat Gabriel menampakkan diri kepada Maria, Maria diberitahu bahwa dirinya akan menjadi ibu dari seorang Putra yang akan duduk sebagai raja, yang akan memulihkan kerajaan Daud. Anak ini akan menjadi penggenapan banyak nubuat yang mengatakan bagaimana Mesias akan mengokohkan kerajaan Allah dan akan meraja selama-lamanya. (Dialah yang akan mendirikan rumah bagi nama-Ku dan Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya untuk selama-lamanya - 2 sam 7 : 13)
Kemudian Malaikat berkata : “Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan." (Luk 1 : 31-33)
Kalau seorang Yahudi kuno mendengar tentang seorang perempuan dalam keluarga Daud melahirkan seorang raja baru dari dinasti Daud, ia akan dengan mudah menyimpulkan, bahwa dia itu bunda ratu. Dan inilah persis panggilan Maria yang disampaikan pada peristiwa Kabar Sukacita. Maria adalah bunda ratu dari seorang yang akan duduk diatas “tahta Daud, bapak leluhur-Nya” dan yang “kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan”.
Tugas “rajawi” Maria lebih explisit lagi dalam peristiwa kunjungannya ke Elisabet sanaknya yang sedang mengandung Yohanes Pembaptis. Injil Lukas menulis, bahwa “Elisebet pun penuh dengan Roh Kudus dan berseru”, berarti apa yang diserukan oleh Elisabet kepada Maria adalah ungkapan dari Roh Kudus sendiri yang ditujukan kepada Maria, melalui Elisabet. Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana." (Luk 1 : 41-45)
Jadi kalau orang-orang Katolik menghormati Maria ratu dan dalam doa Salam Maria menyebut Bunda Allah, sebenarnya kita hanya mengikuti teladan Elisabet yang dipenuhi Roh Kudus, yang adalah orang pertama dalam Alkitab yang secara explisit mengakui jabatan ratu yang disandang Maria sebagai “Ibu Tuhanku”, dan sesungguhnya adalah ungkapan dari Roh Kudus sendiri.
(Disari dari buku : Catholic for a Reason II, by Dr. Scott Hahn)

Read more .....

ULAR TEMBAGA


Mengenai ular tembaga ini, dua pertanyaan yang berbeda sekali bisa diajukan. Yang pertama, apa asal-usul historis dari kisah ini ? Jawaban yang mudah diberi ialah, dekat pertambangan Sinai dihormati seorang dewa pernyembuh dan ular-ular tembaga kecil dipersembahkan sebagai tanda terima kasih.

Kisah-kisah para musafir tentu mengilhami kisah ini. Tetapi pertanyaan yang lebih penting ialah pertanyaan yang kedua, apa yang hendak disampaikan oleh bagian kitab suci ini ?

Umat mengeluh, orang-orang Israel mengeluh sekali lagi. Keluhan ini adalah pemberontakan batin dari mereka yang tidak bersedia berkurban dan tidak mau berusaha untuk menjadi lebih baik, tetapi sebaliknya malahan mempersalahkan orang lain.

Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup." Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup. (Bil 21, 8-9).

Suatu perintah yang aneh bagi orang-orang Israel, tetapi ular tembaga itu akan menjadi tanda kenabian. Allah hendak menyembuhkan dosa dengan apa yang diperalat oleh dosa itu sendiri.
Barang siapa memandangnya akan hidup. Ini juga suatu pernyataan kenabian. Para pendosa tidak perlu mengikuti peraturan yang ketat, mereka cukup memandang tanda yang Allah berikan untuk penyembuhan mereka dengan IMAN.
Yesus akan mengatakan, “Sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan (di atas kayu salib) supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal (Yoh 3, 14).
Kisah tentang ular merupakan salah satu gambaran biblis yang artinya tersembunyi. Umat harus menanti hari ketika Kristus akan menyingkapkan artinya. Hal yang sama terdapat juga dalam kisah Melkisedek (Melkisedek, raja Salem, membawa roti dan anggur; ia seorang imam Allah Yang Mahatinggi.- Kej 14, 18) dan kisah Yusuf (Kej 37-50)
Hal demikian terjadi juga dalam kehidupan kita, ada kejadian-kejadian di masa lampau kita, yang tidak kita mengerti pada waktu itu, ada juga kejadian-kejadian yang tidak bisa kita mengerti sekarang, dan kita sering bertanya : “Mengapa hal init terjadi pada saya ?” Pada suatu waktu kelak, terang Kristus akan menyingkapkan artinya.
(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pastoral Katolik)

Read more .....

Air Dari Batu Karang

Allah menguji orang-orang Israel di padang gurun, berapa lama orang-orang biasa ini akan tetap rela mengikuti suatu tujuan hidup yang tidak biasa, sejauh mana iman mereka tetap bertahan.
Orang-orang Israel juga mencobai Allah, mereka meminta kepada-Nya tanda-tanda, karena mereka tidak percaya sepenuhnya kepada-Nya. Mereka menuntut mukjizat-mukjizat, mereka seolah-olah berseru kepada Allah, “Jika Engkau bersama kami, tunjukkanlah kepada kami di sini dan sekarang juga ! ”
Jadi mulailah mereka itu bertengkar dengan Musa, kata mereka: "Berikanlah air kepada kami, supaya kami dapat minum." Tetapi Musa berkata kepada mereka: "Mengapakah kamu bertengkar dengan aku? Mengapakah kamu mencobai TUHAN?" (Kel 17, 2)
Kitab suci mengenang peristiwa perlawanan ini dalam peristiwa air yang keluar dari batu karang, Musa juga diuji di tempat ini, Lalu berseru-serulah Musa kepada TUHAN, katanya: "Apakah yang akan kulakukan kepada bangsa ini? Sebentar lagi mereka akan melempari aku dengan batu!" (Kel 17, 4)
Kelak tradisi Yahudi melihat dalam batu karang itu suatu gambaran Allah, sumber kehidupan, yang hadir di tengah-tengah umat-Nya, batu ajaib yang mengikuti mereka dalam pengembaraan mereka, dan mereka semua minum minuman rohani yang sama, sebab mereka minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka, dan batu karang itu ialah Kristus. (1 Kor 10, 4)
Allah adalah batu karang yang tidak bisa diterobos dan yang menyimpan rahasia-rahasia-Nya sampai Ia mengijinkan diri-Nya dilukai dan dari luka yang terbuka itu mengalirlah kehidupan. (Maka Aku akan berdiri di sana di depanmu di atas gunung batu di Horeb; haruslah kaupukul gunung batu itu dan dari dalamnya akan keluar air, sehingga bangsa itu dapat minum." Demikianlah diperbuat Musa di depan mata tua-tua Israel - Kel 17, 6)
Hendaknya kita mengerti bahwa manusia karena berdosa, kehilangan pengetahuan akan Allah yang sejati, oleh karena itu manusia tidak akan dapat menemukan Allah, tetapi Allah menjadi lemah dalam diri Yesus, ketika Yesus wafat di atas salib, menyatakan rahasia kasih dan belas kasihan Allah kepada kita. Injil menekankan dengan jelas, bahwa dari hati Yesus, yang dilukai oleh tombak, mengalirlah darah dan air, (tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air. - Yoh 19, 34) suatu gambaran tentang Roh Kudus (Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru: "Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup." Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya - Yoh 7, 37-39)

Sumber : Kitab Suci Komunitas Kristiani, Edisi Pastoral Katolik

Read more .....

YESUS MENGAMPUNI DOSA DAN MENYEMBUHKAN SEORANG LUMPUH

Manakah lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalan? Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa" -- berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu -- : "Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!" (Mrk 2:9-11). Dengan mukjizat seorang lumpuh disembuhkan dan diampuni dosanya, Yesus memberikan tiga jawaban sekaligus : kepada orang sakit, kepada teman-temannya, dan kepada orang-orang farisi.

Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: "Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni! - (Mrk 2:5). Inilah sahabat-sahabat orang lumpuh itu dan Yesus segera mengganjar iman mereka. Tampaknya orang lumpuh itu tidak melakukan lebih dari pada setuju dengan nasihat teman-temannya. Yesus segera mengatakan kepadanya, “dosa-dosamu telah diampuni”.

Perkataan ini mengherankan ! bagaimana Yesus bisa mengampuni dosa-dosanya jika orang tersebut tidak sadar akan dosa apapun, sehingga ia juga tidak bertobat ataupun menantikan pengampunan ? Tentu selama bertahun-tahun di dalam penderitaan penyakitnya, orang itu bertanya kepada diri sendiri, mengapa Allah menyiksa dia dengan penderitaan itu ? (masyarakat waktu itu percaya bahwa penyakit itu adalah suatu siksaan dari Allah). Banyak teks dalam Perjanjian Lama menggaris bawahi hubungan yang kompleks antara dosa dan penyakit. Sering penyakit membuat kita sadar akan keadaan kedosaan kita, dan dari pihak Yesus, Ia tidak mau menyembuhkan kecuali ada pemulihan dengan Allah. Yesus bertindak seperti Allah : Ia memandang kepada orang berdosa, memperbaiki segala luka batin karena dosa dan mengampuninya sebelum melakukan penyembuhan.
Kemudian orang-orang Farisi datang, ketika Yesus mengampuni orang lumpuh, orang-orang sederhana tidak menyadari betapa perkataan Yesus itu menyebabkan sandungan. Mereka tidak mendapat pendidikan keagamaan yang cukup untuk segera menyadari, bahwa hanya Allah saja yang bisa memberi pengampunan. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat merasa telah terjadi skandal (Tetapi di situ ada juga duduk beberapa ahli Taurat, mereka berpikir dalam hatinya: "Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?" – Mrk 2:6-7), dan kemarahan mereka dapat dipahami karena mereka maupun orang-orang lain dan murid-murid belum mengerti, bahwa Yesus adalah Putera Allah yang sejati. Yesus membungkam mereka : Jika aku menyembuhkan orang sakit dengan cara Allah, tidakkah Aku juga harus mengampuni seperti Allah ? (Mrk 2:10-11).
Yesus menggelisahkan hati mereka yang bertanya, siapakah Dia ? Lebih baik Ia menunjukkan bahwa hanya Dia yang bisa menyelamatkan manusia seutuhnya, jiwa dan raga.
Berbahagialah orang yang diberi jaminan, bahwa dosa-dosanya telah diampuni lewat pandangan dan perkataan Yesus. Allah adalah Dia yang hidup dan mencintai dan kita perlu berjumpa dengan Dia, supaya pengampunan bisa menjadi asli – mata-Nya bertemu dengan mata kita. Oleh karena itu, Allah harus menjadi manusia – Yesus mengampuni dosa-dosa karena Dia adalah Putera Allah (Dan Ia telah memberikan kuasa kepada-Nya untuk menghakimi, karena Ia adalah Anak Manusia. - Yoh 5:27) dan dari Dia kita menerima pengampunan baik dari Allah maupun dari masyarakat dalam komunitas Kristiani.
(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pastoral Katolik)

Read more .....

YESUS DAN PEREMPUAN SAMARIA

Maka sampailah Ia ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar dekat tanah yang diberikan Yakub dahulu kepada anaknya, Yusuf. Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas. Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya: "Berilah Aku minum." (Yoh 4:5-7).

Orang-orang Yahudi membenci orang-orang Samaria. Menurut kebudayaan Yahudi pada zaman itu, tidak diperkenankan kalau seorang laki-laki berbicara dengan seorang perempuan di tempat umum. Yesus, yang telah mengatasi segala prasangka rasial dan sosial, mulai berbicara dengan perempuan Samaria. Dalam diri perempuan ini Ia berjumpa dengan masyarakat biasa dari Palestina.
Perempuan ini berasal dari provinsi lain dan adalah anggota ibadat yang berbeda, tetapi keduanya diberi janji-janji yang sama dari Allah dan keduanya menantikan seorang Penebus.
Tujuan utama perempuan ini adalah untuk melepaskan dahaganya. Para leluhur bangsa Yahudi berkelana dengan gembalaan mereka dari satu sumber air ke sumber air yang lain. Orang-orang Yahudi yang terkenal seperti Yakub, menggali sumur-sumur, dan sekeliling sumur-sumur itu padang gurun mulai hidup kembali. Kenyataan ini bagai sebuah perumpamaan : setiap orang mencari di segala tempat untuk menemukan sesuatu yang dapat melepaskan dahaga mereka. Yesus membawa air hidup yang adalah hadiah dari Allah bagi kita anak-anak-Nya, hadiah itu adalah Roh Kudus sendiri ("Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup." Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya – Yoh 7:37b-39a).
Apabila ada air di padang gurun, sekalipun air itu tidak muncul ke permukaan, tetapi akan tampak bahwa di tempat itu ada sumber air, karena tanaman hijau tumbuh segar di sekitarnya. Demikian pula dengan kita, apabila kita sungguh-sungguh hidup oleh Roh Kudus, maka kelakuan kita menjadi lebih baik, keputusan-keputusan kita lebih bebas, pikiran-pikiran kita lebih tertuju kepada hal-hal yang baik. Air hidup yang menjadi sumber semua hasil ini tidak dapat dilihat, yaitu kehidupan kekal, dan maut itu tidak dapat mengalahkannya (Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya." – Yoh 8:51).
Tujuan kedua dari permpuan ini ialah untuk mengetahui, di manakah dapat ditemukan kebenaran ? Yesus berkata kepadanya, engkau mempunyai lima suami. Pernyataan Yesus ini melambangkan nasib umum dari orang-orang yang tinggal di kota yang telah mengabdi kepada banyak tuan atau “suami-suami”, dan akhirnya tidak mengakui salah satu sebagai tuannya.
Orang-orang Samaria memiliki Kitab Suci sedikit berbeda dengan yang dimiliki orang-orang Yahudi, dan di kota itu sendiri, beberapa puluh kilometer dari Sumur di Sikhar, terletak Bait Allah mereka yang menandingi Bait Allah di Yerusalem. Yesus menegaskan, keselamatan datang dari bangsa Yahudi (Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi – Yoh 4:22). Mengenai hal ini Yesus tidak sependapat dengan mereka yang mengatakan, “Tidak jadi soal termasuk Gereja mana kita, sebab semua Gereja sama saja.” Sekalipun seseorang beruntung karena mengikuti agama yang benar, namun ia masih harus berjuang dan berusaha untuk mencapai pengetahuan rohani akan Allah (Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. – Yoh 4:23). Roh, yang kita terima, menolong kita menyembah Allah dalam kebenaran. Bapa mencari penyembah-penyembah seperti itu yang menjalin relasi personal dengan Dia.
Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran." (Yoh 4:24), Allah tidak membutuhkan kata-kata dalam doa-doa kita, tetapi Allah ingin melihat kesederhanaan, keindahan dan keagungan di dalam roh kita. Roh Allah tidak dapat berkomunikasi, kecuali dengan mereka yang mencari kebenaran dan hidup sesuai dengan kebenaran-Nya di dalam dunia yang penuh tipu daya ini.
Pada akhirnya, kisah tentang perempuan Samaria ini adalah suatu refleksi tentang kehidupan kita. Masing-masing kita dalam berbagai hal, sama dengan perempuan Samaria. Apa yang terjadi di sumur Yakub menggambarkan perjumpaan kita dengan Yesus, cara-cara yang dipakai Yesus untuk menuntun perempuan itu sampai mengakui dan mencintai Dia adalah cara-cara yang digunakan Yesus, langkah demi langkah, untuk mendatangkan pertobatan kita. Akhirnya, perempuan itu menjadi murid Yesus dan karena pengalaman itu ia menjadi juga rasul Yesus. Banyak orang di kota itu percaya kepada Yesus karena perempuan itu (Dan banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu, yang bersaksi: "Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat." – Yoh 4:39). Pengalaman akan Yesus ini adalah sumber kerasulan. Memberitakan Injil adalah membagikan pengalaman ini kepada orang lain.
Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai. (Yoh 4:35). Bagaikan panen, orang yang mengikuti Yesus juga menjadi matang. Orang yang menuai tuaian diberi upah untuk karya mereka, pepatah Yesus ini mempunyai banyak penjabaran. Ayat 36 (Sekarang juga penuai telah menerima upahnya dan ia mengumpulkan buah untuk hidup yang kekal, sehingga penabur dan penuai sama-sama bersukacita). mungkin mengacu pada kegembiraan bersama Bapa yang menabur dan Putra yang menuai. Dengan cara lain, dalam ayat 37 (Sebab dalam hal ini benarlah peribahasa: Yang seorang menabur dan yang lain menuai), Yesus dan murid-murid-Nya menyadari bahwa mereka tidak bekerja percuma. Orang lain telah bekerja, Yesus mengacu kepada mereka yang datang sebelum Dia, khususnya Yohanes Pembaptis.
(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pastoral Katolik)
-       Berilah aku minum

Read more .....

5/20/2015

Hidup Dalam Bimbingan Roh Kudus

Oleh : Rm. Yohanes Indrakusuma, O.Carm



1. Dasar-dasar bimbingan Roh Kudus

Inti agama Kristen adalah hubungan pribadi dengan Allah. Yesus datang ke dunia dengan tujuan "supaya barang siapa yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan memperoleh hidup yang kekal." (Yoh. 3:16) Hidup yang kekal ini bukan lain daripada "mengenal Bapa, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang diutus-Nya."(Yoh.17:3) Hubungan pribadi itu begitu eratnya, sehingga Yesus menggambarkannya sebagai hubungan antara pokok anggur dan ranting-rantingnya. "Akulah pokok anggur dan kamu ranting-rantingnya." (Yoh.15: 5)
Hubungan pribadi itu mengandaikan komunikasi dari dua pihak. Dari pihak Allah hal itu diungkapkan dalam perhatian dan penyelenggaraan terhadap manusia serta segala kebutuhannya. Allah memperhatikan manusia sampai hal yang sekecil-kecilnya, karena tiada sesuatu pun yang luput dari pandangan Allah, bahkan burung-burung di udara tidak lepas dari perhatian dan penyelenggaraan Allah. Itulah sebabnya Yesus dalam Injil Mat. 6:25-30 mengatakan, bahwa kita tidak usah kuatir akan apapun juga, baik itu tentang makanan maupun pakaian, karena Bapa yang memelihara burung-burung di udara dan bunga-bunga di ladang juga akan memenuhi segala keperluan kita.

Kemudian sebagai alasan yang lebih dalam dikatakan-Nya, "Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di surga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu." (Mat. 6:32) Ketika mengajar tentang doa, Yesus bersabda supaya kalau berdoa jangan bertele-tele memakai banyak kata seperti kebiasaan orang kafir, yang mengira, bahwa karena banyaknya kata-kata, doanya akan dikabulkan. Kemudian dikatakan-Nya, "Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui, apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya." (Mat. 6:8)

Dari pihak manusia hubungan itu diungkapkan dalam iman penuh penyerahan diri, seperti diungkapkan Santo Paulus, "Hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku." (Gal. 2:20) Iman ini diungkapkan dalam pelaksanaan kehendak Allah sebagai jawaban, "Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku." (Yoh. 14:23)

Dari semuanya itu kiranya jelas, bahwa agama Kristen bukanlah suatu rentetan hukum-hukum, peraturan-peraturan, dan perintah-perintah yang harus ditaati, melainkan pertama-tama adalah suatu relasi pribadi dengan Allah sendiri. Memang, hukum, peraturan, dan perintah diperlukan sebagai bantuan, supaya kita dapat mengerti apa yang dikehendaki Allah. Hal itu khususnya berlaku pada awal hidup rohani kita, sebab pada awalnya orang belum cukup mampu untuk mengikuti bimbingan Allah yang lebih langsung. Namun kemudian, kalau hubungan pribadi itu berkembang Allah akan membimbing kita secara lebih pribadi dan langsung.

Oleh karena itu pula, bila orang tidak memiliki hubungan pribadi yang nyata dengan Allah, hidupnya lebih dipimpin oleh peraturan-peraturan yang anonim. Banyak orang yang hidupnya dikuasai perintah-perintah yang negatif, jangan berdusta, jangan mencuri, jangan menipu, jangan berzinah, dan lain-lain, namun pada dasarnya hidupnya masih dikuasai oleh kehendak sendiri, keinginan sendiri. Kalaupun ia giat dalam kegiatan Gereja, semuanya itu masih sebagian besar demi kepentingan diri sendiri, bukan karena cinta kepada Allah. Ia tetap menentukan sendiri arah dan keputusan hidupnya, bukan Allah.

Dalam kenyataannya sedikit sekali orang yang sadar, bahwa hidupnya seharusnya diserahkan ke dalam bimbingan Allah yang telah lebih dahulu mengasihi dia. (Yoh. 4:10) Sedikit sekali yang berani menyerahkan hidupnya ke dalam bimbingan Allah dalam kepercayaan dan pasrah dari hari ke hari, dari saat ke saat.

Mengapa demikian? Karena ia tidak memiliki hubungan pribadi yang sadar dengan Allah, karena Allah jauh dan kurang hidup bagi dia, walaupun sebenarnya sangat dekat. Sebaliknya setelah orang mengalami pencurahan Roh Kudus, atau dibaptis dalam Roh, Allah menjadi begitu hidup bagi dia dan ia mengalami suatu relasi pribadi yang nyata dengan Allah. Karena pencurahan itu, Allah begitu hidup bagi dia dan ia jadi menggebu-gebu semangatnya dan seringkali menjadi berlebihan dalam banyak hal dan juga dalam menanggapi bimbingan Allah. Dalam hal ini dibutuhkan keseimbangan.

Bimbingan Allah itu dikerjakan oleh Allah Tritunggal Mahakudus Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Namun secara khusus bimbingan itu dilakukan oleh Roh Kudus, karena Dialah yang diberi tugas untuk itu oleh Bapa. Roh itulah yang dianugerahkan Allah kepada kita dan yang menjadikan kita anak-anak Allah, sehingga kita dapat berkata "ya Abba, ya Bapa" (Rm. 8:15). Oleh karena itu, Dia pulalah yang membimbing semua anak Allah. "Semua orang, yang dipimpin Roh Allah adalah anak Allah." (Rm. 8:14) Bahkan pada saat-saat yang sukar, dalam masa penganiayaan, Dia pula yang akan mendampingi para murid Kristus. "Sebab bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Kudus." (Mrk. 13:11) dan Injil Lukas 12:12 mengatakan, "Sebab pada saat itu juga Roh Kudus sendiri akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan."

2. Cara-cara Allah membimbing

2.1 Bimbingan umum

Allah membimbing umat-Nya dengan dua cara, yaitu bimbingan umum dan khusus. Pada permulaan biasanya Allah membimbing umat secara umum lewat sabda-Nya dalam Kitab Suci, lewat Gereja, lewat arah hidup yang umum.

a. Kitab Suci
Kitab Suci adalah sumber bimbingan yang pertama dan utama. Lewat sabda-Nya dalam Kitab Suci Allah mengajar, menerangi, menyatakan kehendak-Nya, menegur dan menguatkan kita. Namun Kitab Suci tidak dapat ditafsirkan sesuka hati. Yang terutama harus kita ketahui ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri (2 Ptr. 2:20), tetapi harus ditafsirkan sesuai dengan iman Gereja Universal, Gereja Katolik. Kita boleh dan harus membaca firman Tuhan, namun dalam menafsirkannya harus tunduk pada tafsiran Gereja.

b. Gereja
Gereja sebagai persekutuan umat beriman di bawah kepemimpinan Paus dan para uskup merupakan Umat Allah yang didirikan oleh Yesus Kristus sendiri. Oleh karena itu, Yesus secara istimewa memberikan Roh-Nya kepada Gereja itu, supaya ia selalu setia dan tidak sesat. Kehadiran Roh Kudus yang istimewa dalam Gereja menjadikannya mampu untuk mengerti kehendak dan bimbingan Roh sendiri dan menafsirkannya untuk tiap masa dan situasi bagi umat beriman. Gereja juga diberi karunia dan wewenang untuk menafsirkan Kitab Suci secara tepat. Itulah sebabnya kita harus mempelajari sabda Tuhan dan ajaran iman Gereja, supaya tahu apa yang dikehendaki Allah bagi kita.

c. Status hidup
Pada umumnya kehendak Allah tidak dapat bertentangan dengan status hidup yang telah dipilih oleh seseorang, biarpun kadang-kadang ada pengecualian juga. Misalnya seorang kepala keluarga harus bertanggungjawab atas kesejahteraan keluarganya. Oleh sebab itu, ia tidak dapat memberikan pelayanan dengan mengabaikan kewajiban tersebut.

2.2 Bimbingan khusus

Dalam Perjanjian Baru, Allah sering memberikan bimbingan secara khusus. Yesus telah mencurahkan Roh-Nya kepada semua orang yang percaya kepada-Nya, supaya mereka itu mengalami kehadiran, hiburan, kuasa, dan bimbingan Allah. Karena adanya hubungan pribadi, Allah ingin secara khusus berbicara kepada umat-Nya serta membimbing mereka, bukan hanya secara kolektif atau masal, melainkan juga secara pribadi. Inilah perbedaan yang menyolok dengan Perjanjian Lama, yaitu saat umat umumnya hanya dibimbing secara masal. Bimbingan khusus ini dapat berupa:

a. Inspirasi atau ilhamInspirasi ialah penerangan Roh Kudus yang diberikan kepada seseorang secara langsung untuk mengerti atau melakukan sesuatu. Roh dapat memberikan inspirasi tersebut kepada seseorang dan dengan demikian menyatakan kehendak-Nya kepada orang tersebut. Inspirasi dapat disertai dorongan Roh. Inspirasi dapat berlaku untuk suatu rencana jangka panjang.

b. Dorongan Roh
Ini merupakan rasa batin yang dialami oleh seseorang yang memberikan keyakinan, bahwa Allah ingin, agar dia melakukan atau mengatakan sesuatu. Ini biasanya ditujukan untuk suatu tindakan dalam jangka pendek. Dorongan ini merupakan suatu desakan batin dari Roh, tidak sama dengan perasaan, walaupun kadang-kadang juga bisa dirasakan. Ini merupakan suatu pengalaman pribadi dan subyektif dan karenanya dapat keliru. Namun hal itu adalah sesuatu yang amat berharga dan merupakan buah umum dari pencurahan Roh Kudus. Kemungkinan bahwa orang dapat keliru bukan alasan untuk membunuhnya, melainkan diperlukan kebijaksanaan untuk membeda-bedakan roh, untuk mengadakan discernment.

c. Tanda-tanda
Ini cara lain yang juga sering dipakai Allah untuk berbicara kepada kita. Tanda yang paling sering dipakai ialah teks Kitab Suci. Suatu saat teks Kitab Suci dapat tiba-tiba mencuat keluar dan menyentuh hati kita, kadang- kadang dapat dalam sekali, seolah-olah teks itu ditujukan kepada kita secara pribadi. Teks-teks seperti itu amat baik untuk meneguhkan dorongan Roh atau inspirasi. Kadang-kadang ada orang yang berdoa untuk suatu teks, mohon kepada Allah untuk menunjukkan kehendak-Nya melalui teks-teks Kitab Suci. Hal itu dapat dilakukan dengan dua cara:
- membuka Kitab Suci begitu saja
- memperhatikan teks yang muncul dalam pikiran setelah berdoa
Cara-cara ini, walaupun dapat berasal dari Tuhan, namun sangat berbahaya, khususnya dengan membuka Kitab Suci begitu saja. Dalam hal itu yang sering terjadi ialah, bahwa Kitab Suci berubah menjadi buku ramalan. Demikian pula memperhatikan teks yang muncul dalam pikiran, karena sukar sekali membedakan, mana yang dari pikiran sendiri, mana yang dari Allah. Dalam banyak hal yang muncul ialah pikiran sendiri. Oleh karena itu, cara- cara seperti ini hendaknya jangan dipakai.
Lain halnya kalau orang mendapat dorongan dari dalam untuk membuka Kitab Suci. Pada waktu itu teks tersebut akan mencuat dan memberikan keyakinan yang besar. Demikian pula bila teks itu tiba-tiba muncul sendiri dalam pikiran secara kuat dan konsisten. Kalau tidak, sebaiknya dihindari saja, karena mudah sekali orang keliru.
Kadang-kadang situasi atau keadaan yang menguntungkan dapat menjadi petunjuk kehendak Allah. Namun dalam hal ini pun kita harus hati-hati, karena setan juga dapat menciptakan suatu situasi tertentu. Dalam semuanya itu kita harus memakai akal yang sehat dan kita harus memperdalam pengertian kita tentang jalan-jalan Tuhan, khususnya dengan mempelajari tradisi Gereja lewat tokoh-tokohnya yang besar.
Dalam semuanya itu sikap dasar kita yang paling tepat ialah kerelaan untuk melaksanakan kehendak Allah. Bila kita sungguh-sungguh rela untuk melaksanakan kehendak-Nya, Tuhan akan menyatakannya kepada kita dengan cara yang tepat dan aman, tanpa keraguan.

d. Visiun dan sabda batin
Orang juga dapat menerima visiun, penglihatan, misalnya melihat Tuhan Yesus, Bunda Maria, orang kudus, atau sesuatu yang lain. Hal itu dapat terjadi lewat mata jasmani atau mata batin. Orang juga dapat mendengar sabda. Hal itu dapat terjadi lewat telinga jasmani maupun telinga batin. Namun, semuanya itu dapat berasal dari setan, dari diri sendiri atau dari Allah. Oleh karena itu, dalam hal ini kita harus sangat hati-hati.
Semakin jasmaniah, semakin berbahaya, karena semakin mudah ditiru oleh si jahat atau timbul dari fantasi sendiri. Oleh sebab itu dalam hal ini sikap kita ialah jangan mempedulikan. Mengapa? Kalau itu datangnya dari Allah, maka pada saat diberikan, buahnya sudah tertanam dalam hati kita, yaitu pertobatan, kerendahan hati, pertambahan iman dan cintakasih.
Tujuan Allah memberikan semuanya itu ialah untuk memperoleh buah-buah tersebut, bukan supaya orang dapat berbangga-bangga. Itu semua adalah pemberian Allah yang cuma-cuma dan diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan kapan dikehendaki-Nya menurut kebijaksanaan-Nya. Mendambakan hal itu berarti membuka diri bagi penipuan si jahat. Sikap yang paling tepat dalam hal ini ialah sikap lepas bebas dalam kepasrahan kepada kebijaksanaan Allah, karena Ia lebih tahu apa yang kita perlukan, apa yang paling baik bagi kita.

2.3 Bimbingan khusus lewat orang lain

Belajar dari orang lain yang berpengetahuan dan berpengalaman serta minta nasihat-nasihatnya adalah suatu cara untuk lebih dapat mengenal kehendak Allah. Namun, secara konkret kita menghadapi persoalan besar, yaitu di manakah kita dapat menemukan orang yang sedemikian itu. Di mana harus kita cari? Namun bila kita sungguh-sungguh mencari kehendak Allah dengan tulus ikhlas, Allah akan mengutus orang semacam itu kepada kita pada saat kita sungguh memerlukannya.
Catatan:
Untuk menerima bimbingan Allah dan mengenali kehendak-Nya, kita harus belajar untuk membeda-bedakan bermacam-macam roh atau mengadakan discernment. Di sini kita bedakan dengan karunia membeda-bedakan bermacam-macam roh, yang merupakan karunia yang tidak tetap, yang diberikan Allah secara cuma-cuma kepada orang- orang tertentu, pada saat-saat tertentu pula. Inilah karunia Roh Kudus yang disebutkan Santo Paulus dalam 1 Kor. 12:10. Namun, di samping itu ada suatu proses discernment yang dapat kita pelajari berdasarkan pengertian yang sehat dan pengalaman para kudus, seperti yang tersimpan dalam Tradisi Gereja.

3. Tumbuh dalam menerima bimbingan

Supaya dapat tumbuh dalam menerima bimbingan Allah ini kita harus:

* Memperdalam hubungan pribadi kita dengan Allah lewat doa-doa pribadi.

* Rajin mempelajari dan meresap-resapkan sabda Allah dalam Kitab Suci. Namun, terutama dengan memupuk kerinduan untuk melaksanakan kehendak Allah, apapun itu, karena kita tahu, bahwa Allah hanya menghendaki yang terbaik bagi kita, walaupun mungkin saat itu kita belum dapat mengertinya.

* Penyerahan diri kepada Allah akan membuat kita semakin peka terhadap bisikan Roh Kudus yang berbicara pada kedalaman lubuk jiwa kita.

* Sabar untuk tumbuh dalam hubungan pribadi dengan Tuhan dan dalam menerima bimbingan, karena hal itu makan waktu. Lewat pengalaman-pengalaman sedikit demi sedikit kita akan tumbuh dalam hal bimbingan Allah itu.

Sharing :

* Bagaimana pengalaman Anda selama ini, sudahkah Anda selalu berjalan dalam bimbingan Tuhan dan mengikuti setiap kehendak-Nya? Sulitkah menjalankan hidup dalam bimbingan Roh Tuhan itu? Sharingkanlah pengalaman Anda

* Menurut Anda kapan saja kita membutuhkan bimbingan Roh Kudus itu?


Sumber : Majalah Rohani Vacare Deo (Media Pengajaran Komunitas Tritunggal Mahakudus)

Read more .....

ROH ITU AKAN DATANG


Dengan mengangkat kita sebagai anak-anak Bapa, Yesus memampukan kita mengalami misteri kehidupan intim di dalam Allah. Dalam Allah ada persatuan di antara ketiga pribadi : Bapa, Putra dan Roh dari kedua-Nya

Kita berbicara tentang Roh dari kedua-Nya, karena Yesus mengatakan : Bapa akan memberikan kepadamu seorang Penolong (Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran – Yoh 14:16-17) dan Penolong yang Kuutus (Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. – Yoh 15:26). Sekarang Yesus mengatakan : Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari pada-Ku : segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya (Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari pada-Ku." Yoh 16:15)
“Roh” bukanlah suatu bahasa kiasan, Roh itu adalah seorang Pribadi (Tetapi di antara orang banyak itu ada banyak yang percaya kepada-Nya dan mereka berkata: "Apabila Kristus datang, mungkinkah Ia akan mengadakan lebih banyak mujizat dari pada yang telah diadakan oleh Dia ini?" – Yoh 7:31 ; "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. – Yoh 14:1).
Sejak hari Pentakosta, Roh mulai bertindak dalam Gereja, dan dengan demikian Ia menunjukkan, bahwa Ia adalah Roh Kristus. Orang-orang Yahudi yang tidak percaya mengira bahwa Allah beserta mereka, tetapi nyatanya Roh-Nya tidak bertindak di antara mereka. Maka jelas bahwa mereka telah berdosa, karena tidak percaya kepada Kristus (akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; - Yoh 16:9).
Apa itu jalan kebenaran (Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; Yoh 16:8) ? Orang Benar dengan huruf besar adalah Kristus sendiri dan orang-orang benar dengan huruf kecil adalah mereka yang percaya kepada-Nya tanpa melihat-Nya (akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi; - Yoh 16:10).
Kisah Para Rasul mencatat bagaimana Roh bekerja dalam diri murid-murid Yesus yang pertama. Sebelum memberikan kuasa-kuasa ajaib, Roh memberikan mereka kegembiraan, kedamaian dan kasih timbal balik, maupun kepastian dalam hati bahwa Yesus telah bangkit dan tinggal bersama mereka.
Roh menuntun para misionaris, Ia memberi mereka kuasa untuk mengerjakan mukjizat-mukjizat, Ia memberikan kepada para orang beriman pengetahuan akan Allah, kemampuan-kemampuan baru untuk berkarya, menyembuhkan, melayani dan menggoncangkan dunia orang berdosa. Sepanjang sejarah, Roh akan membangkitkan orang-orang beriman, martir-martir, nabi-nabi dan dengan perantaraan mereka, Roh akan mengubah dunia. Dengan demikian Sang Penebus, sekalipun tampaknya telah dikalahkan, akan dibenarkan, dan menjadi nyata bahwa yang kalah sebenarnya adalah iblis, yang telah dihukum (akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum. - Yoh 16:11). Roh jahat, sang sutradara dari pertunjukan dunia telah tergeser, dan pengaruhnya dikurangi. Suatu kekuatan baru, yaitu Roh Kudus, mengarahkan sejarah sekarang dan menuntun manusia kepada kebenaran sempurna.
(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pastoral Katolik)

Read more .....

PENTAKOSTA


Pentakosta merupakan salah satu pesta terbesar dalam penanggalan Yahudi. Pesta ini asalinya adalah pesta pertanian, kemudian pada masa Perjanjian Lama menjadi perayaan syukur atas pemberian Hukum Musa di atas gunung Sinai. Pada kesempatan ini, sama seperti hari raya Paskah Yahudi, banyak orang Yahudi yang tinggal di sekitar Timur Tengah berziarah ke Yerusalem.

Selama Perayaan Paskah Yahudi itulah, yang memperingati pembebasan dari perbudakan Mesir, Yesus, melalui kematian dan kebangkitan-Nya memberi kebebasan kepada dunia dari kematian dan dosa. Inilah saat yang tepat untuk merayakan pemberian Hukum di Sinai, hari di mana Tuhan mengadakan perjanjian dengan umat pilihan-Nya, bahwa Allah sekarang mengaruniakan Roh-Nya kepada Israel yang baru, yaitu Gereja. (Dan semua orang, yang memberi dirinya dipimpin oleh patokan ini, turunlah kiranya damai sejahtera dan rahmat atas mereka dan atas Israel milik Allah. - Gal 6:16)
Pada saat yang sama pula, pembaptisan dengan api diwartakan oleh Yohanes (Yohanes menjawab dan berkata kepada semua orang itu: "Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa dari padaku akan datang dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api. - Luk 3:16). Allah mengutus Roh Putra-Nya dan dengan ini, lahirlah Gereja. Gereja bukanlah suatu lembaga manusiawi atau hasil karya dari sekelompok orang beriman, ia berasal dari inisiatif Allah, dan Allah berkehendak agar setiap orang dari setiap bangsa menjadi saksi atas peristiwa ini.
Tiupan angin keras adalah suatu tanda, karena Roh berarti napas dan angin dalam budaya Ibrani. Dijiwai oleh Roh Kudus, Petrus berbicara. Ia sekarang mengetahui kebenaran dan percaya, dan itulah sebabnya ia dengan berani mewartakannya (Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. - Yoh 15:26 ; Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Yoh 16:13)
Apa yang terjadi pada Pentakosta sama uniknya dengan peristiwa kebangkitan. Namun, peristiwa ini mengikuti pola campur tangan Allah dalam sejarah. Di satu pihak, Roh Kudus selalu membawa pembaruan bagi karya kerasulan kita, membangkitkan semangat keagamaan kita dan membangun komunitas Kristen yang dinamis yang menjadi darah baru bagi Gereja. Gereja menjadi semakin tua dan memerlukan pembaruan terus menerus.
Roh Kudus datang untuk memberikan kehidupan bagi Gereja. Ia juga datang untuk memberi peneguhan dan kekuatan bagi orang-orang beriman. Pembaptisan dengan api yang diterima para rasul, diberikan pula kepada kita melalui Sakramen Penguatan/Krisma (Luk 3:16).
“Setiap orang mendengar para rasul berbicara dengan bahasa mereka (orang yang mendengar) sendiri” Ayat ini diulang sebanyak tiga kali, (Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. - Kis 2:6 ; Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita: - Kis 2:8 ; baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah." - Kis 2:11), yang menunjukkan kepada kita, bahwa ini merupakan kunci untuk memahami teks ini. Mukjizat Pentakosta bukanlah suatu kenyataan bahwa para rasul, yang semua penduduk asli Palestina, mulai berbicara dalam bahasa asing, melainkan suatu kenyataan, bahwa semua orang asing mendengar pewartaan tentang perbuatan ajaib Allah dalam bahasa mereka sendiri, inilah mukjizat Pentakosta.
Banyak teks Perjanjian Baru yang lain, yang mengacu kepada “karunia lidah” (sebab mereka mendengar orang-orang itu berkata-kata dalam bahasa roh dan memuliakan Allah - Kis 10:46 ; Dan ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat. – Kis 19:6 ; 1 Kor 12; 14:2-19), tetapi dalam teks Pentakosta ini Allah menggariskan dasar bagi semua pewartaan, mereka yang dipanggil untuk beriman kepada Yesus, dipanggil untuk menjadi anggota Gereja, tidak diwajibkan untuk meninggalkan bahasa dan budaya mereka, seperti yang diharapkan orang Yahudi Proselit zaman dahulu. Di lain pihak Allah bahkan menghendaki agar umat manusia dari segala bangsa, bahasa dan kebudayaan turut memuji dan memuliakan-Nya melalui cara ini, dengan keaneka-ragaman dalam Tubuh Kristus (Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus. Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh. - 1 Kor 12:12-13), akan tampak bagi semua orang seperti berkumpulnya kembali anak-anak Allah yang tercerai-berai melalui Yesus dan Roh-Nya. (dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai. - Yoh 11:52).
Dalam sejarahnya, Gereja cenderung melupakan mukjizat Pentakosta ketika menekankan bahasa dan kebudayaannya saat mewartakan Injil kepada bangsa-bangsa yang baru. Melalui sejarahnya juga, Roh Kudus memperingatkan Gereja, agar melawan cobaan-cobaan seperti itu, sebagaimana yang ditunjukkan oleh para rasul yang hidup berdasarkan semangat Pentakosta pada waktu itu.
(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pastoral Katolik)

Read more .....

MARIA DAN PENTAKOSTA

Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.  (Luk 1:35).

Konsili Vatican II menyatakan bahwa Maria “seakan-akan dibentuk oleh Roh Kudus” (Lumen gentium 56). Siapa saja yang menghormati Maria, ia bersembah sujud kepada Roh Kudus, karena apa saja yang dimiliki Maria, dihasilkan oleh karya Roh Kudus.
Maria rendah hati dan bekerja secara sembunyi, seperti Roh Kudus. Bunda Maria bertumbuh dalam Roh Kudus semakin lama semakin mendalam mulai dari sejak Maria dikandung ibunya. Sejak awal Maria dikuasai penuh oleh Roh Kudus. Dia menyerahkan dirinya tanpa batas, maka Roh Kudus dengan bebas tanpa halangan dapat menguasainya untuk memikul tugas yang direncanakan Allah, yaitu menjadi Bunda Allah dan ibu seluruh umat manusia.
Roh Kudus menaunginya, sehingga ia menjadi penuh rahmat (Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau." – Luk 1:28). Hari Pentakosta mempunyai arti yang tiada taranya bagi mereka dan para murid Yesus. Ketika Yesus masih bersama para murid, mereka tidak dapat menerima Roh, sebab Roh belum diberikan. Namun di dalam diri Maria Roh sudah hadir. Maria sudah biasa bergaul dengan Roh. Terlebih lagi sekarang. Pada hari Pentakosta ia menjadi Bunda Gereja (Setelah mereka tiba di kota, naiklah mereka ke ruang atas, tempat mereka menumpang. Mereka itu ialah Petrus dan Yohanes, Yakobus dan Andreas, Filipus dan Tomas, Bartolomeus dan Matius, Yakobus bin Alfeus, dan Simon orang Zelot dan Yudas bin Yakobus. Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus. – Kis 1:13-14). Pada hari Pentakosta, lahirlah Gereja. Sebenarnya secara rahasia Gereja sudah lahir pada saat Yesus menyerahkan Maria kepada Yohanes dan menyerahkan Yohanes kepada Maria (Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!". Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya – Yoh 19:25-27).
Semua yang secara tersembunyi terjadi pada salib, menjadi nyata pada hari Pentakosta. Maria berdiri di tengah para murid yang penuh dengan Roh Kudus sambil berkata dalam bahasa lain. Ketika Maria menyanyikan lagu syukurnya - Magnificat, ia sudah memperlihatkan bahwa keheningannya dapat menjadi sorak suci. Maria-lah orang pertama yang mulai berkata-kata dalam Roh. Soraknya itu menular kepada para murid dan merekapun mulai berkata-kata, mabuk oleh Roh Kudus. Maria adalah pusat Gereja.
Pada hari Pentakosta, keibuan Maria menjadi jelas dan meluas. Yesus hadir di mana-mana, karena Roh-Nya dan sekaligus membuat Maria menjadi seluas dunia. Ia menjadi seluas Gereja, sehingga tiada seorangpun tinggal di luarnya.
(Sumber : Maria Dalam Kitab Suci & Dalam Hidup Kita)
-       Aku ini hamba Tuhan

Read more .....

PAULUS DI EFESUS

Dan ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat. (Kis 19:6).

Selama hampir tiga tahun Paulus mewartakan di Efesus. Efesus adalah salah satu kota terindah dan terbesar di Kekaisaran Romawi.
Lukas ingin menceritakan baptisan murid-murid Yohanes Pembaptis. Seperti telah dikatakan, bahwa mereka telah mengetahui ajaran Yesus, tetapi sebagai murid, mereka berkekurangan apa yang terpenting, yaitu mereka belum menerima Roh Kudus (Kata Paulus: "Baptisan Yohanes adalah pembaptisan orang yang telah bertobat, dan ia berkata kepada orang banyak, bahwa mereka harus percaya kepada Dia yang datang kemudian dari padanya, yaitu Yesus." – Kis 19:4).
Kita tidak boleh lupa bahwa bahasa orang Kristen saat itu sangat terbatas, Roh Kudus itu ‘lebih dari pada manifestasi’ yang diungkapkan lewat penumpangan tangan. Demikian kita membaca pernyataan, bahwa mereka tidak mendengar ada Roh Kudus dalam Kis 19:2 (Katanya kepada mereka: "Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu menjadi percaya?" Akan tetapi mereka menjawab dia: "Belum, bahkan kami belum pernah mendengar, bahwa ada Roh Kudus.") ; sementara ada teks lain menyatakan : Roh Kudus diterima, dan Roh Kudus turun atas mereka (ayt 6) bandingkan dengan Kis 8 (Ketika rasul-rasul di Yerusalem mendengar, bahwa tanah Samaria telah menerima firman Allah, mereka mengutus Petrus dan Yohanes ke situ. Setibanya di situ kedua rasul itu berdoa, supaya orang-orang Samaria itu beroleh Roh Kudus. Sebab Roh Kudus belum turun di atas seorang pun di antara mereka, karena mereka hanya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Kemudian keduanya menumpangkan tangan di atas mereka, lalu mereka menerima Roh Kudus. - Kis 8:14-17).
Penumpangan tangan berarti mengakui perubahan yang terjadi saat pembaptisan melalui pengalaman Karunia Roh (Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama - 1 Kor 12:7). Pada masa kini, banyak orang Kristen terkejut jika mereka tidak pernah mengalami kehadiran Allah secara nyata ini. Kita tidak boleh berkata, bahwa Karunia ini tak berguna, atau bahwa sesuatu tidak terjadi pada masa kini. Sesungguhnya yang terpenting adalah beriman dan menghayatinya dari pada merasakannya. Tetapi pengalaman demikian sering menumbuhkan “bunga-bunga” indah bagi iman kita, ia menunjukkan, bahwa Allah itu dekat dan menjadi tuan atas diri kita. Mungkin sikap rasional kita dan hidup Gereja tidak percaya akan semuanya itu yang adalah ungkapan-ungkapan pribadi, akhirnya sampai mematikan karunia-karunia Roh, mungkin inilah kekurangan kita (rasional) dalam pengabdian kepada Yesus.
“Mereka dibaptis dalam nama Tuhan Yesus.” Haruskah kita menyimpulkan bahwa pada awalnya pembaptisan dengan “dalam nama Yesus” dan bukan dalam “Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus” ? tidak jelas. Dalam nama berarti dengan kuasa. Rupanya pembaptisan dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus disebut pembaptisan dalam nama Yesus untuk membedakannya dari pembaptisan Yohanes dan dari agama lain. Bisa juga bahwa pada saat menerima air dalam nama tritunggal Kudus, orang yang dibaptis harus berdoa secara pribadi dalam Nama Yesus. Selain itu, pada awalnya mungkin yang diberikan “dalam nama Yesus” dan kelak disesuaikan oleh Gereja untuk membedakannya dengan kelompok-kelompok yang beriman kepada Yesus tetapi tanpa mengakuinya sebagai Putra Allah yang lahir dari Bapa. Kita tak perlu heran dengan perubahan ini, Gereja para rasul telah menyusun suatu rumusan baptisan pertama, lalu Gereja yang sama mengambil rumusan yang kedua yang dihubungkan dengan Yesus dalam Mat 28:19 (Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus).
(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pastoral Katolik)

-       Roh itu akan datang
-       Efesus

Read more .....

3/30/2015

DI JALAN MENUJU EMAUS (2)


Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka (Luk 24:31). Kita memperhatikan di halaman Injil ini, betapa cermatnya Lukas secara bergantian mempergunakan kata kerja : melihat dan mengenal.

Penginjil Lukas, sesungguhnya ingin memperlihatkan kepada kita, bahwa sesudah kebangkitan-Nya Yesus tidak lagi dapat dilihat oleh mata badaniah, tetapi harus dilihat dengan mata rohani kita, Ia telah pergi dari dunia ini kepada Bapa, dan dunia yang baru ini luput dari kemampuan indrawi kita. Hanya dengan penglihatan barulah, yaitu mata rohani dalam terang iman membuat kita “mengenal-Nya” sebagai pribadi yang hadir dan aktif dalam diri kita dan di sekeliling kita. Jika sejarah Gereja mencatat sejumlah penampakan luar biasa dari Yesus yang bangkit, maka orang-orang beriman diundang untuk “mengenal” Dia melalui iman.
Kedua murid ini kembali ke rumah untuk kembali ke pekerjaan mereka yang semula, setelah harapan mereka hancur. Kita terbiasa menyebut mereka peziarah Emaus. Orang-orang Yahudi atau bangsa Israel adalah kaum peziarah karena mereka tidak pernah mempunyai kesempatan untuk berlama-lama di jalan. Keberangkatan dari Mesir, penaklukan Tanah Terjanji, pertempuran melawan penyerbu, pengembangan kebudayaan religius merupakan banyak tahapan sepanjang jalan. Setiap kali mereka berpikir bahwa dengan mencapai sasaran, masalah mereka akan terselesaikan, tetapi setiap kali pula mereka harus menyadari bahwa jalan yang mereka tempuh masih panjang.
Kleofas dan pengiringnya adalah peziarah sejak mereka mengikuti Yesus, karena mereka berpikir bahwa Dia akan menebus Israel. Pada akhirnya yang ada hanya kematian Yesus.
Inilah saat ketika Yesus benar-benar hadir dan mengajar mereka, bahwa tak seorangpun dapat memasuki Kerajaan Allah tanpa melewati kamatian.
Mereka mengenal-Nya (Luk 24:31). Barangkali Yesus tampak berbeda seperti yang kita lihat dalam Yohanes 20:14 (Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus). Inilah yang dikatakan dalam Markus 16:12 (Sesudah itu Ia menampakkan diri dalam rupa yang lain kepada dua orang dari mereka, ketika keduanya dalam perjalanan ke luar kota). Lukas juga menginginkan agar kita mengerti, bahwa orang-orang yang tidak dapat mengenal Yesus, akan melihat Dia ketika mereka menjadi percaya.
Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi (Luk 24:27). Ingatlah bahwa kitab “Musa dan para nabi” adalah salah satu cara menyebut Kitab Suci. Yesus mengundang mereka untuk beralih dari iman dan harapan Israel menuju masa depan yang bahagia bagi seluruh bangsa, yaitu kepada iman dalam tiap-tiap pribadi yang menerima misteri penolakan dan Kesengsaraan-Nya.
Dalam pelajaran Kitab Suci-Nya yang pertama, Yesus mengajarkan mereka bahwa Mesias harus menderita (Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?" – Luk 24:26). Yesus tidak hanya membeberkan semua teks yang menubuatkan Kesengsaraan dan Kebangkitan-Nya seperti Yes 50:6 (Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi) ; Yes 52:13 (Sesungguhnya, hamba-Ku akan berhasil, ia akan ditinggikan, disanjung dan dimuliakan), tetapi juga teks-teks yang menunjukkan bahwa rencana Allah menyaring sejarah manusia (Sebab Allah akan menyelamatkan Sion dan membangun kota-kota Yehuda, supaya orang-orang diam di sana dan memilikinya – Mzm 69:36).
Sesuatu yang mirip terjadi dengan kaum beriman sekarang, ketika kita selalu mengeluh dan menunjukkan ketidak-sabaran kita. Namun Yesus tidak meninggalkan kita sendirian, Ia tidak bangkit untuk duduk-duduk saja di Surga, Ia mendahului kemanusiaan dalam ziarah-Nya dan menarik kita kepada hari terakhir ketika Ia datang menemui kita.
Pada saat yang sama Ia berjalan bersama kita, dan ketika harapan kita hancur, itulah saatnya kia menemukan makna Kebangkitan.
Jadi yang dilakukan Gereja bagi kita sama dengan yang dilakukan Yesus bagi kedua murid-Nya. Pertama, Gereja memberikan kita “penafsiran atas Kitab Suci”: yang menjadi persoalan dalam usaha kita mengerti Kitab Suci bukanlah menghafal perikop demi perikop, melainkan menemukan benang merah yang menghubungkan berbagai peristiwa dan mengerti rencana Allah terhadap manusia. Kedua, gereja merayakan Ekaristi. Perhatikan bagaimana Lukas menuliskan, Ia mengambil roti, mengucap berkat, membagi-bagi-Nya dan memberikan-Nya (Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. – Luk 24:30), empat kata yang sama digunakan oleh kaum beriman dalam perayaan Ekaristi. Kita bisa datang mendekati Yesus lewat percakapan dengan Dia dan merenungkan sabda-Nya, kita juga mendapati Dia hadir dalam pertemuan-pertemuan persaudaran kita, namun Ia memperkenalkan diri-Nya dengan cara yang berbeda ketika kita membagi-bagikan roti yang adalah Tubuh-Nya (Lalu kedua orang itu pun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti. – Luk 24:35)
(Kitab Suci Komunitas Kristiani – Edisi Pastoral Katolik)

Read more .....